“Nia,” panggilnya. “Kamu kenapa, Nia? Kenapa malam-malam ada di sini?” Pria di depanku memegang kedua bahu ini.
Aku menangis sejadi-jadinya. Merasa saat ini ada orang yang bisa menjadi tempat untuk berkeluh kesah, menyampaikan duka yang tengah merundung diri ini. Jika dirinya perempuan, pastilah aku sudah menghambur dalam pelukannya. Untung, pikiranku masih waras. Jadi bisa menahan untuk tidak melakukan hal memalukan itu.
“Ayo, duduk dulu,” ajaknya sembari membimbing tubuh ini untuk duduk di trotoar kembali.
Aku menceritakan semua yang terjadi malam ini. Termasuk kekhawatiranku bila meninggalkan Dinta dan Danis di rumah.
“Mas Agam pernah meminta Dinta menjadi pendonor ginjal Aira, keluarganya sampai memaksaku. Aku takut mereka akan menculik Dinta saat aku tidak ada.”
Lengan yang tertumpu pada lututnya terlihat mengepal. Lalu, mengusap pelan punggungku, walau sentuhan itu dilakukannya dengan rasa
“Nak Irsya,” panggil Ibu lirih.“Iya, Bu?”“Terima kasih sudah menolong kami. Maafkan atas sikap suami saya selama ini. Dinta dan Danis sedang dalam keadaan bahaya juga. Mereka harus selalu dijaga Nia.”“Jangan pikirkan apa pun, Bu. Yang penting, bapak bisa melewati masa kritisnya. Selama bapak di rumah sakit, saya dan Doni yang akan bolak-balik ke sini.”Ibu mengangguk pasrah.Kami berjalan beriringan menuju tempat parkir. Jarak tubuh yang sangat dekat, membuat beberapa kali lengan dan telapak tangan kami harus saling bergesekan. Akan tetapi, tidak ada yang berusaha merenggangkan jarak.Entah mengapa, aku menikmati kebersamaan ini, meskipun terjadi di saat suasana yang menegangkan. Kulirik lelaki tinggi di sampingku, meski harus mendongakkan kepala. Dia menoleh, menatapku lama, dan tersenyum.Ya Allah, ingin kuhentikan waktu, agar aku bisa berlama-lama dengannya.Sampai di
“Ya, Allah,” lirihku.Sebenarnya, aku tidak nyaman tetap di rumah dalam situasi seperti ini. Aku sangat ingin mendampingi bapak melewati masa kritisnya. Namun, apa daya? Ada anak-anak yang harus aku jaga juga.Begitu panggilan selesai, aku segera ke rumah ibu untuk mengambil barang-barang yang dibutuhkan selama di rumah sakit. Dinta kuminta menjaga Danis.“Pintu depan udah dicunci. Ibu lewat belakang. Pintunya langsung dikunci dari dalam, Kak. Bila ada yang datang, jangan buka!” Pesanku berhati-hati.Selesai mengemas barang, aku keluar rumah. Pick-up Kang Jono sudah parkir di halaman. Yang mau ikut juga sudah berdatangan.“Ada berapa orang?” tanya Kang Jono.“Tujuh belas, Kang. Sisanya nanti sore,” jawab salah satu dari mereka.Dari arah jalan, datang wanita berbaju gamis dengan lipstik merah merona. Maklum, hanya acara begini dan pengajian saja, mereka bepergian. Jadi, mereka berusaha m
Bu Diah semakin salah tingkah dengan seranganku. Mungkin, beliau tidak menyangka kalau aku berani membantah perkataannya sejauh ini. Karena selama kami bekerja bersama, aku terlalu menurut pada atasanku itu. Salahnya sendiri yang terlalu lancang mengatur perjodohanku dengan Ustaz Zaki.“Kan, ada baiknya bila berjaga-jaga.”Kulirik Mbak Santi yang berada di tengah-tengah bersama kami. Dia hanya menengok padaku saat berbicara, beralih pada Bu Diah saat berbicara. Seperti itu terus. Mulutnya juga tidak berhenti mengunyah.“Betul sekali, memang kita harus berjaga-jaga. Itu sebabnya, saya tidak serta merta menerima Ustaz Zaki. Saya belum tahu latar belakang dan kehidupan beliau. Saya berhati-hati saja, seperti ada yang mengganjal.”Aku sengaja mengulur jawaban, membuat wanita di hadapanku semakin tidak nyaman berbicara denganku. Biarlah, saat ini kutunjukkan sifatku yang sesungguhnya.“Ustaz Zaki itu, kan, ustaz. Pasti beda
Sosok ibu terlihat di sana, akan tetapi, beliau tidak sendiri. Ada laki-laki dan perempuan yang berdiri membelakangiku pintu masuk. Dari pakaiannya, mereka seperti tokoh agama. Pria memakai peci putih dan yang wanita bergamis syar’i.“Nia,” panggil ibu.Aku sudah sampai di ranjang bapak. Beliau terbaring dengan berbagai peralatan menempel pada badannya. Aku hampir menangis, saat perempuan bergamis syar’i berbalik dan mendekatiku.“Ukhti, yang sabar, ya?”Tubuhku langsung dipeluk erat. Di tengah kebingungan, aku segera membalas pelukannya meski ragu. Saat itulah, pria yang di sampingnya juga ikut menoleh. Ternyata, dia adalah ….Pria itu menatapku sambil tersenyum. Entah terlalu jujur dengan perasaan sendiri atau karena diriku terlalu jahat, bibir ini enggan membala. Aku juga refleks mendorong pelan tubuh wanita yang memelukku. Aku tidak butuh simpati siapa pun. Kedatanganku hanya ingin melihat kondisi bapa
“Maaf jika saya lancang. Tapi, saya penasaran akan sesuatu hal. Anda istri Ustaz Zaki apa bukan?” Aku bertanya dengan nada sedikit jengkel.“Nia, begini. Terkadang, ada sesuatu yang terjadi di luar keinginan kita. Apa yang baik menurut Allah, belum tentu baik menurut kita.”“Tolong Ibu jawab ke intinya saja. Ibu istrinya Ustaz Zaki, apa bukan?” Fani menggertak dengan nada tinggi. “Tidak usah banyak ceramah, Bu. Yang ingin kami tahu, Ibu istrinya apa bukan?”“Dek, jangan emosi dulu. Biar saya jelaskan.” Ustaz Zaki terlihat mengatur posisi duduknya.“Nia, bantulah kami untuk mendapatkan keturunan,” ucapan jujur meluncur begitu saja dari bibir istri Ustaz Zaki. “Aku pastikan, kita akan hisup dengan rukun,” lanjutnya lagi.“Apa Ibu pikir, mbak saya in tempat ternak anak?” Pertanyaan marah keluar dari bibir Fani.Jujur, aku juga merasa tersinggun
“Setelah ini, kamu boleh memilih lelaki mana pun, sesuai keinginan kamu sendiri. Asalkan, dia sayang sama Dinta dan Danis.”Aku mengangguk lagi. Sepertinya, ini waktu yang tidak tepat untuk membahas hal tersebut. Namun, aku bahagia mendengar ucapan Bapak barusan.“Kita pulang ya, Pak?” ajakku setelah semua barang sudah siap untuk dibawa.“Ajak Pak Irsya ke rumah. Bapak mau bilang sesuatu hal.”Derit pintu terdengar, kami semua menoleh. Entah kebetulan macam apa, Pak Irsya sudah berdiri di sana.“Sudah siap? Saya udah mengambil obat dan surat kontrol. Kalau sudah, kita turun. Maaf terlambat, tadi ada rapat,” ucapnya, terdengar agak canggung.“Nak Irsya, kemarilah,” panggil bapak dengan suara lemah.Pak Irsya berjalan pelan, dan ikut duduk di lantai bersamaku.“Titip Nia dan anak-anaknya, ya.” Kata-kata bapak terhenti, embun itu telah berubah menjadi te
“Terima kasih, ya?” Aku menatapnya dan tersenyum.Pria di sampingku menepikan mobilnya, aku kembali menatap dengan penuh tanya.“Ulangi lagi!” ujarnya, sambil memandang wajahku.“Yang mana? Kenapa musti diulang?” tanyaku, bingung.Pak Irsya tersenyum. “Ucapan terima kasih dari kamu tadi. Kamu mengatakan itu sambil menatapku penuh cinta, Nia. Aku bahagia melihatnya.”“Apaan sih? Udah, ah. Ayo lanjut. Atau, aku yang nyetir?” Kilahku sambil memalingkan wajah, memandang pada jalan di depan.“Beneran, kamu mau nyupir? Aku, sih, mau-mau saja. Untung malahan, bisa terus menatap wajah kamu sepanjang kebersamaan kita. Tapi, yakin kamu gak bakalan grogi?”Kenapa wajahnya manis sekali hari ini? Ditambah lagi, sorot matanya itu. Ah, kenapa aku sejenak melupakan, bahwa diriku pernah mengandung dua kali?“Kita mau tatap-tapapan atau lanjut jalan, Bapak Kepala Sekol
Jam tiga sore, tamu sudah berdatangan, Pak Irsya bangun, salat dan menemui mereka.“Calon suami Mbak Nia, ya?” Salah satu dari mereka memberanikan diri untuk bertanya.“Doakan lancar, ya, Pak.” Hanya itu jawaban yang diberikan Pak Irsya.Setelahnya, acara dimulai. Seperti permintaan bapak, pria itu memberi sambutan atas nama keluarga. Dia sudah biasa berpidato di depan umum, tentu hal ini tidak menyulitkannya. Selesai acara, satu per satu tamu pulang. Tersisa kami berdua yang duduk kelelahan di ruang tamu.“Nia, aku malas pulang. Kita nikah sekarang aja, ya?” Pertanyaan konyol keluar begitu saja dari mulutnya.“Jangan aneh-aneh! Nikah itu perlu daftar ke KUA,” jawabku sewot.“Tapi, aku gak mau jauh dari kamu, Nia.”“Gombal!”“Kamu janji, ya, jangan berubah pikiran.”Aku terkekeh. Saat bersamaan, terdengar deru mobil berhenti di halaman. L
Part 11 POV Dania (Ending) Lelah hati tatkala harus menghadapi banyak hal. Akhirnya aku menyerah pada keadaan. Aku tidak akan memaksakan takdir apapun sekarang. Selalu bertemu dengan orang-orang yang membuat hati ini sakit hati, membuatku semakin sadar kalau hanya keluarga Laura saja yang baik padaku. Melihat penghianatan Nindi dan juga sikap Cika yang masih dingin dan membenciku, membuat hati ini sudah memutuskan. Aku akan menghilang dari hidup orang-orang yang mengenalku. Untuk apa mempedulikan Cika yang sangat membenciku? Baginya, Ines adalah ibunya. Setelah Nindi keluar dari rumah, Laura menelpon malam-malam dan menangis. Ia mengatakan kalau pacarnya ternyata selingkuh dan dia seorang diri. Laura menanyakan perkembangan hubunganku dengan Cika, dan aku menjawab apa adanya. “Cika tidak akan pernah bisa menerimaku. Itu kenyataannya,” jawabku sudah pasrah dengan keadaan. “Dania, aku minta maaf, bisakah kamu kembali kesini? Hidup bersamaku dan aku menarik semua ucapanku kemarin,” p
Part 10Tiga hari tinggal bersama, dia tetap masih diam. Makananku tetap disiapkan, tetapi menunggu aku keluar untuk makan sendiri. Dia sama sekali tidak seperti dulu yang memanggilku, menyiapkan baju ganti dan segala keperluanku. Akhirnya, pagi ini kuberanikan diri untuk mengajaknya berbicara.“Apa aku akan diusir seperti Nindi?” tanyaku pelan. Dia yang lagi-lagi berkutat dengan laptop--mengangkat wajah.“Pilihlah mana dari milikku yang akan kamu ambil, Cika! Sisanya, bila kamu tidak mau, maka akan kujual. Kamu bisa gunakan untuk keperluan hidupmu. Itu jika kamu mau,” jawabnya tanpa ekspresi ramah.Aku memainkan jari jemariku. Bingung hendak menjawab apa. Ponselnya berdering dan dia langsung mengangkatnya. Aku masih berdiri mendengarkan dia berbicara dengan orang yang kukira ada di luar negeri.Meski sudah lama tidak pernah belajar bahasa asing lagi, tetapi aku tahu apa arti dari ucapan yang disampaikan seseorang dari seberang telepon sana. Speaker ponsel yang dihidupkan membuatku bi
Part 9“Mbak Dania, aku minta maaf, Mbak, aku akui memang salah dan aku akan meminta dia untuk keluar dari rumah Mbak Dania asalkan Mbak Dania masih mengizinkan aku untuk tetap di sini. Aku akan menjaga Cika, Mbak, aku janji,” kata Nindi sambil bersimpuh dan memegang kaki dia.“Aku sudah tidak butuh siapapun lagi, Nindi. Aku akan membiarkan orang-orang yang hanya memanfaatkanku dan juga orang-orang yang tidak menyukaiku untuk pergi dari hidupku. Aku tidak akan memaksakan takdir bahagia bersamaku, jadi, kamu tidak perlu bersimpuh meminta, karena aku sudah akan menghapusmu dari daftar orang-orang yang kukenal,” jawab dia santai.Seketika aku memandang wajah cantik itu. Ada sebuah perasaan terluka di sana. Jika dia benar-benar tidak mau lagi mengurusku, maka, siapa yang akan mengurusku lagi? Tiba-tiba saja ketakutan besar menguasai hati.Wajah itu, dia tidak mau melihat padaku. Padahal, aku berharap itu.Nindi masih bersimpuh sambil menangis.“Dimana mobilku, Nindi?” tanya dia datar.“Ee
Part 8POV CikaAku memilih masuk dan duduk di atas hamparan pasir meski terik matahari terasa sangat menyengat di kulit. Benar-benar bingung hendak minta tolong dan mengadu pada siapa, maka kuputuskan untuk menangis seorang diri.“Ya Allah, kirimkan bantuan untukku. Ya Allah, ampuni aku jika aku selama ini nakal dan banyak dosa. Ya Allah, aku janji, jika aku mendapatkan pertolongan untuk masalahku ini, aku akan kembali sholat seperti saat di pondok dulu. Jika ada orang yang menolongku, maka aku akan menjadikannya sahabat,” ucapku sambil menangis.Lama aku berada dalam posisi ini, hingga leher terasa pegal, lalu aku mengangkat kepala. Saat menoleh, ternyata ada seseorang yang duduk di sebelahku dan dia melakukan hal yang sama.Menatapku.Deg.Jantungku berpacu lebih cepat tatkala mendengar orang itu memanggil namaku. Dia sosok yang kurindu, tetapi juga kubenci.“Kenapa kamu berpanas-panasan sendirian di sini?” ucapnya sambil berteriak.Aku diam, enggan menjawab. Teringat olehku Nindi
Part 7POV DaniaAku menatap tubuh Nyonya dan Tuan yang terbujur kaku di rumah sakit dengan darah bersimbah di sekujur tubuh mereka–dengan hati yang sangat hancur.Baru sebentar kembali bekerja bersama mereka yang sudah kuanggap seperti keluarga sendiri, tetapi harus merasakan sakitnya kehilangan. Nyonya dan Tuan tewas dalam kecelakaan tunggal. Mobil yang mereka tumpangi menabrak sebuah pohon dan nyawa mereka langsung hilang di tempat itu juga.Tak tahu lagi harus berusaha tegar seperti apa. Karena mereka berdua adalah keluarga yang kumiliki saat ini dan kenapa takdir selalu tidak berpihak padaku?Mayat Nyonya dan Tuan dimakamkan dua hari kemudian setelah berbagai prosesi keagamaan mereka berdua berlangsung. Kini, saat semua pelayat pergi, aku hanya berdua saja dengan anak semata wayang Nyonya yang berusia dua puluh tahun.“Aku akan melanjutkan kuliah di negara sebelah. Kamu jika masih mau di sini, maka harus mencari pekerjaan lain. Karena aku sudah tidak bisa membayarmu. Rumahku aka
Part 6POV CIKAAku menatap rumah besar itu, mungkin untuk yang terakhir kalinya. Meski keberadaanku tidak diakui di sini, tetapi nyatanya, belasan tahun diriku hidup di sana.Walaupun tanpa kenangan indah, tetapi aku bisa melakukan apapun di rumah itu. Kini, aku harus melangkah pergi untuk yang terakhir kalinya. Hati benar-benar sadar, jika memang diri ini tiada lagi diharapkan oleh mereka. Kehadiranku di rumah itu hanya untuk mengukir kisah sedih.Hari ini aku pergi dengan naik taksi. Pulangnya, memilih berjalan menyusuri jalanan komplek perumahan elit yang semuanya memiliki pagar yang tinggi. Sengaja memilih berjalan kaki, hanya sekadar ingin menikmati rasa yang sangat menyesakkan dalam dada ini. Rencananya, nanti akan pulang dengan naik bus. Di dekat gerbang perumahan ini ada sebuah halte.Langkah kaki ini berjalan lambat. Aku sadar kini aku sudah benar-benar sendiri, dan sebentar lagi, bisa saja harus tiba-tiba hidup dengan sosok yangtidak kukenal sama sekali. Aku Cika, harus ber
Part 5Sebuah ketukan di luar pintu kamar membuat Cika beranjak dari tempat tidurnya. Ia yang sudah setengah mengantuk terpaksa bangun untuk menemui orang yang sudah pasti itu Nindi. Dengan memicingkan mata, Cika menatap perempuan yang masih lajang itu yang sudah siap dengan koper besar.“Mbak Nindi mau pergi?” Seketika mata Cika yang semula setengah mengantuk terbuka sempurna.“Iya,” jawab Nindi singkat dan ragu.Napas Cika mulai narik turun. Antara takut dan kaget.“Mbak Nindi, aku sama siapa di sini?” tanya Cika mulai menampakkan ketakutannya.“Sudah saatnya kamu belajar hidup mandiri , Cika. Tidak mungkin aku akan terus bersama dengan kamu. Ibu kamu saja sudah pergi. Dan keluarga kamu saja sudah tidak memperdulikan keberadaanmu lagi. Masa aku yang bukan siapa-siapa kamu harus bertahan di sini? Aku punya impian untuk menikah, aku punya keluarga yang harus aku rawat. Jadi, aku akan pergi sekarang dan mulai saat ini, kamu hidup di sini sendiri,” jelas Cika.“Mbak Nindi, tidak bisakah
Part 4 Cika merasa sangat kesepian dengan hidup yang dijalani saat ini. Bingung karena setiap hari yang dilakukan hanyalah makan dan tidur saja. Hendak keluar untuk sekadar mencari kesenangan bersama teman-temannya pun susah dilakukan karena rumah yang ditempatinya saat ini cukup jauh dengan rumah kawan semasa ia sekolah. Bermain ponsel juga membuat kepalanya pusing. Nindi juga lebih banyak menghabiskan waktu di kantor. Jika malam minggu tiba, gadis yang sudah dewasa itu akan keluar bersama dengan sang kekasih dan pulang jika sudah dini hari saat Cika sudah terlelap dalam mimpi. Dua bulan sudah dilalui Cika hidup seorang diri di rumah besar peninggalan Dania. Di suatu pagi, Cika yang baru saja bangun menemui Nindi yang tengah sarapan pagi. Dengan langkah berat dan kepala tertunduk berjalan pelan menghampiri Nindi yang sedang sarapan. “Kenapa?” tanya Nindi saat Cika sudah sampai di hadapannya. “Pembantu yang katanya mau datang itu, apa tidak ada kabarnya?” tanya Cika ragu. Sikap ke
Part 3Langit mulai gelap. Tidak ada bintang satupun di sana. Aku mulai menoleh ke kanan dan kiri mencari sebuah tumpangan yang bisa membawaku pulang. Entah pulang kemana. Dalam keadaan bimbang, aku membuka ponsel. Ternyata Rindi menelpon banyak ke nomorku. Ia juga berkirim pesan. Aku membukanya, tetapi hanya di bagian akhir yang kubaca.[Kamu kemana saja?][Kenapa belum pulang?][Cika, balas pesanku!][Cika, kamu kemana? Cepat pulang]Aku takut, tetapi tidak mungkin aku mengatakan kalau saat ini sedang di bandara. Akhirnya, aku memilih mencari taksi dengan berjalan keluar bandara. Tidak ada tempat lagi untuk pulang selain rumah Dania dan aku berharap Rindi sedang menungguku di sana. Aku sangat takut.Seketika bernapas lega saat kulihat Rindi tengah menungguku dengan cemas. “Dari mana saja kamu?” tanyanya cemas dengan wajah marah.Kali ini aku tidak akan melawannya. Dia satu-satunya orang yang masih peduli berada di sisiku. Aku diam sambil memainkan ujung kuku.“Cika, kamu dari mana?”