Ketika Oma Rima tengah menegur Dewa, Arumi yang perlahan mulai siuman wanita cantik yang masih terbaring lemas dengan seragam pasiennya sejenak ia termenung. Memikirkan kondisi kandungannya yang semakin hari terasa semakin tidak nyaman saat berada di antara Dewa dan Laura. "Calon baby mommy, kamu tumbuh kembang yang baik ya nak. Jika Dady mu sibuk dengan urusannya lebih baik kita pergi saja, mommy hanya ingin melahirkan mu dengan tenang," Lirih Arumi dalam hati seraya mengelus lembut perutnya yang sudah mulai terlihat, dan sengaja mengajak komunikasi dengan calon baby-nya Ketika Arumi tengah larut dalam pikirannya, tiba-tiba aja pintu terbuka Oma Rima masuk dan menghampiri ingin memastikan jika keadaan cucu mantu dan calon cicitnya baik-baik saja. "Oma!" Pekik Arumi segera menyeka air matanya. Melihat Arumi yang seperti sedih dan menyembunyikan sesuatu darinya membuat Oma Rima semakin yakin, jika Dewa dan Laura yah sudah membuatnya sedih. "Arumi! Oma baru pulang dari rumah
Dewa menjawab enteng permintaan Arumi, asalkan dia mau kembali ke rumah dan bersikap seperti biasa seolah tidak terjadi apa-apa di antara mereka di depan Oma Rima. "Bagaimana kamu puaskan dengan tawaran ini?" Dewa melontarkan satu pertanyaan membuat Arumi tersadar dalam lamunannya. "Tentu, tapi rasanya jika belum melihat cara tuan menyelesaikan masalah mas Daniel aku belum terlalu percaya," Arumi mengutarakan pendapatnya. Dewa mendengus kesal, dia terlihat marah dan tidak suka saat mendengar Arumi memanggil mantan kekasihnya itu dengan panggilan yang masih sangat intim. "Mas kamu bilang? pria yang sudah mencampakkan mu masih kamu sanjung ya," Sindir Dewa yang semakin kesal. Kening Arumi berkerut dia tidak mengerti topik pembicaraan Dewa sama sekali tidak sesuai dengan kesepakatan mereka. "Maaf tuan, kenapa anda berbicara seperti itu?" Arumi terheran. "Kamu itu aneh Arumi, berhenti memanggil Daniel mas karena jika Oma tahu dia akan sangat marah sedangkan kamu memanggil k
Keesokan harinya di kediaman Wijaya. Semua para pelayan tengah sibuk dengan pekerjaannya yang sibuk menyambut kedatangan ibunya Dewa yang saat ini masih dalam perjalanan di bandara. Arumi yang baru sampai di rumah, dia di temani Dewa menuju ke arah kamar mereka yang ada di lantai atas. Lelaki tampan itu pun tak lupa mengingatkan jika nanti sang ibu akan datang. Arumi terlihat sangat gugup, dia lumayan penasaran dengan sosok ibu mertuanya. Berharap orangnya baik seperti Oma Rima. Namun Dewa yang tak ingin nanti Arumi kaget dia menceritakan tentang sosok ibunya yang tidak mudah dekat dengan orang asing, membuat ia meminta pada Arumi agar memiliki sikap toleransi. Barus saja Arumi ingin bertanya lebih jauh tentang sosok ibu Dewa, tiba-tiba saja seorang pelayan datang menghampiri dan memberitakan Jika ibunya ibunya Dewa datang lebih awal dari prediksi. Dewa berdehem, lalu menyuruh Arumi untuk bersiap menemui ibunya. Wanita cantik itu terlihat ragu apa lagi saat mendengar jik
Beberapa jam kemudian, setelah Arumi keluar dari dalam kamarnya. Dewa yang masih di sana membuat Arumi sangat tercengang. "Tu-tuan Dewa kenapa anda masih di sini?" tanya Arumi dengan nada lembut. Dewa tergugu, wajah tampannya dalam sekejap berubah menjadi salah tingkah, namun dia berusaha untuk menyembunyikan perasaan aneh yang akhir-akhir ini selalu Dewa rasakan. "Tuan Dewa!" panggilan Arumi membuyarkan lamunan Dewa. Lelaki tampan itu spontan menyahut. "Arumi! kamu sudah siap? cepat kita temui ibu ku," ajak Dewa yang sudah menunggu dari tadi. Arumi tertegun, dia sedikit kaget karena ternyata lelaki yang bergelar suaminya itu sudah menunggunya dari tadi. Dengan perasaan yang sedikit gugup, Arumi mengangguk patuh, lalu dia meraih dan melingkarkan tangannya di lengan Dewa. Entah kenapa hatinya sangat gugup karena ini kali pertamanya ia akan menemui ibu mertuanya. Dengan langkah yang pelan, Arumi sejenak menghentikan langkahnya. Kedua alis tebal Dewa mengerut lalu memastik
Laura berusaha mengambil hati nyonya Margaretha, dengan membawakan buah tangan berupa barang-barang mewah berupa tas branded dan beberapa makanan mahal. "Tante, aku harap Tante suka dengan semua ini," Laura sengaja mencari muka di depan semua orang. Nyonya Retha terlihat begitu antusias, saat melihat barang-barang kesukaannya. "Ya ampun, Laura kamu itu memang tipikal menantu yang begitu memahami mertua, tidak seperti yang lain selain kampungan dia juga sangat tidak pandai cara menatap mertua," Sindir Nyonya Margaretha sembari mendelik ke arah Arumi. Arumi terdiam saat mendengar perkataan pedas ibu mertuanya, membuat ia sedikit tidak nyaman saat di bandingkan dengan Laura. Nyonya Rima yang begitu menunggu kelahiran bayi Arumi, membuat ia menegur putrinya dengan tegas. "Retha! sudah cukup, Arumi adalah cucu mantu yang sah jadi cukup bagi mu untuk membahas gadis lain di rumah ini," perintah Oma Rima dengan nada tinggi. Laura mengerucutkan bibirnya, dia menatap tidak suka pada Om
"Cukup Retha! kamu jangan terus membahas masa lalu Dewa, ibu menyambut kepulangan mu untuk mengenalkan mu pada Arumi, sekarang berhenti berpikir Dewa akan kembali pada Laura, karena itu tidak akan mungkin," tegas Oma Rima. "Baiklah, aku akan melihat sikap cucu mantu yang ibu banggakan. Tapi jika dia malah membuat Dewa tidak lebih baik. Maka jangan harap aku akan mengakuinya sebagai menantu ku," balas Margaretha dengan nada ketus. Arumi mulai tidak nyaman, saat melihat perdebatan antara ibu dan nenek Dewa, terlebih saat melihat sikap pria yang bergelar suaminya itu tampak dingin tanpa ada sedikit pembelaan untuk statusnya. Malah terlihat begitu menikmati perhatian Laura. Dengan berat hati, Arumi perlahan beranjak dari tempat duduknya. Lalu meminta ijin pada Oma Rima untuk beristirahat lebih dulu dan tak lupa dia pamit pada ibu mertuanya. Oma Rima sedih kecewa, saat melihat Arumi malah ingin pergi. "Arumi, makan mu belum banyak nak. Jadi kenapa harus terburu-buru?" "Tidak a
"Please Laura, jangan bersikap seperti anak kecil aku sudah mengantar mu pulang, sekarang turun dan masuklah ke dalam," titah Dewa, dengan perasaan yang entah kenapa seperti gelisah. Laura mengerucutkan bibir, saat melihat sikap Dewa yang sangat berubah tidak seperti biasanya. Selalu manja dan posesif padanya. Hingga membuatnya tak terima. "Mas! kamu ini kenapa? aku ini pacar mu orang yang menyelamatkan mu, aku hanya ingin meminta mu untuk mengantarku sebentar saja tapi kamu sangat keterlaluan tidak mau," Protes Laura, sengaja berpura-pura menangis. Dewa berdecak kesal, dengan terpaksa dia mengabulkan permintaan Laura agar segera bis kembali. Melihat Dewa yang sudah berubah pikiran Laura terlihat begitu antusias dan segera mengajak pria yang sangat dia cintai masuk ke dalam apartemennya. Keduanya berjalan bersama menuju kamar Laura yang berada di lantai atas, Rani yang sudah di perintahkan oleh Laura agar merekam kebersamaan mereka berdua lalu mengirimkannya pada Arumi. "Ck
"Aku bilang jangan mendekat, kalau tidak aku tidak akan sungkan untuk menghubungi polisi," Ancam Arumi berharap kedua pria itu akan takut dan tidak berani untuk mendekatinya. Mendengar perkataan Arumi, membuat kedua pria bertopeng itu tertawa besar malam menjadikan peringatan Arumi sebagai lelucon. Arumi, menggelangkan kepala terlihat begitu ketakutan saat kedua pria asing itu terus berjalan ke arahnya. Tidak ingin sampai mereka mendekat membahayakan dirinya dengan calon bayi yang ada di dalam perutnya membuat Arumi sebisa mungkin berteriak meminta tolong berharap ada yang mendengar dan menolongnya. "Berteriak lah nona tapi aku pastikan tidak akan ada yang mendengar mu," pria itu menertawakan Arumi, dan malah lebih mendekat. Arumi tidak ingin terjadi apa-apa hingga ia berusaha menghubungi Dewa, namun nihil beberapa kali ia menelpon pria yang bergelar suaminya itu tidak ada jawaban membuat sangat sedih. "Kenapa nona, apa pahlawan mu tidak akan datang karena mungkin beliau s
"Arumi! aku tahu kamu masih belum bisa melupakan Dewa, tapi lebih baik kamu mencoba untuk membuka hati bagi pria lain yang lebih menghargai mu, termasuk aku. Aku sudah lama menyukai mu jadi maukah kamu menerima cinta ku," Adrian mengungkapkan perasaannya untuk yang kesekian kalinya. Arumi menarik nafas dalam-dalam lalu mengeluarkanya pelan. Sebenarnya dia merasa sangat risih setiap kali Adrian mengungkapkan perasaannya. Karena bagi Arumi kepercayaan bagi seorang pria untuk saat ini sangatlah sulit. "Arumi! bagaimana apakah kamu mau menjadi pacar ku. Aku tidak peduli jika kamu hanya memanfaatkan aku demi menghindari Dewa jika kalian bertemu suatu hari nanti," Celetuk Adrian yang berusaha meyakinkan Arumi agar mau menerima cintanya. Arumi terdiam merenung sejenak, saat mendengar Adrian yang terus memohon agar mau menerima ungkapan cintanya. "Kamu setuju kan?" Adrian memastikan lagi, Arumi merasa tidak enak hati padahal sudah beberapa kali dia menjelaskan jika dirinya tidak in
Disebuah kafe, Adrian mengajak Arumi masuk ke sana, setelah singgah ke restoran tempat favoritnya sudah tutup membuat mereka terpaksa memilih kafe yang masih buka di pusat kota. "Arumi, gimana kalau kita makan di sini saja apa tidak apa-apa?" tanya Adrian memastikan lebih dulu. Arumi yang masih mengedarkan pandangan di area luar kafe, dia merasa sedikit tidak enak hati berharap jika dirinya tidak akan bertemu Dengan orang-orang yang telah menjadi bagian dari masa lalunya. Melihat Arumi yang masih berdiri mematung seolah terlihat bimbang, membuat kedua alis Adrian terangkat penuh keheranan. Lalu memberanikan diri bertanya apa yang wanita cantik yang ada di depannya itu terlihat resah Arumi pun menyahut dan menyanggah pertanyaan Adrian. "Aku tidak apa hanya saja tempat ini amankan?" Arumi memastikan lagi. Adrian hanya menarik nafas dalam-dalam, lalu dia berusaha meyakinkan pada Arumi, jika dia tidak perlu sungkan lagi selama masih ada dirinya di samping. "Arumi! selama aku
Setelah menunggu sekitaran dua puluhan menitan, Adrian sangat terkejut saat Arumi mulai membuka pintu dan terlihat sudah siap untuk berangkat. "Mas Adrian! maafkan aku, pasti sudah menunggu lama ya?" Arumi merasa tidak enak hati. Tentu saja Adrian menjawab jika dia tidak keberatan sama sekali. Tak ingin rencananya gagal Adrian tanpa ragu segera mengajak Arumi pergi ke Resto yang sudah dia booking. "Sudah siap kan? sekarang lebih baik kita pergi keburu malam." "Iya, mas. Tapi aku tidak bisa lama-lama karena beberapa contoh desain untuk besok belum selesai," Arumi sengaja mewanti-wanti lebih dulu. Sebagai teman dan bos pun Adrian setuju, dan berjanji jika mereka tidak akan lama berada di luar. Setelah sepakat mereka berdua bergegas masuk ke dalam mobil saat supir pribadi Adrian membukakan pintu untuk sang tuan. "Tuan, nona silahkan," ujar sang supir sembari membungkukkan badan dengan penuh hormat. Adrian dan Arumi duduk di jok belakang. Suasana di antara mereka terlihat sa
Nyonya Retha menatap tajam Dewa, dia tidak pernah menyangka jika putranya begitu lancang melawan dirinya. Padahal selama ini selalu patuh dan selalu memprioritaskan dirinya. "Dewa! jangan membantah ibu, apa yang ibu pilihkan itu yang terbaik untuk mu," Bentaknya. Dewa yang saat ini tengah merasakan kekacauan di dalam hatinya, kini dia memilih untuk pergi keluar tanpa menghiraukan lagi perintah yang sudah membuatnya sangat muak. "Dewa! tunggu, ibu belum selesai berbicara," panggil nyonya Retha dengan nada tinggi dan menatap tajam pada putra sulungnya. Saat perkataan tidak di gubris. Nyonya Rima yang baru keluar dari kamarnya, wanita tua itu di dampingi kedua pelayan lalu menghampiri Margaretha dan menegurnya karena menurutnya sikapnya terlalu berlebihan. "Retha! lebih baik kamu jangan selalu menekan Dewa, bagaimana pun juga dia sudah dewasa dan tahu kebahagiaan untuk dirinya sendiri," Protes Nyonya Rima menatap kesal putrinya. Margaretha mendelik, dia merasa jika dirinya
Suster Rini mencoba untuk melihat sosok pria yang ada di dalam foto yang di pegang oleh Excel, terlihat sangat tampan dan gagah. "Pria ini kenapa terasa tidak asing ya?" gumam Suster Rini sembari memutar kedua bola matanya. Excel menatap suster Rini, lalu jagoan kecil itu bertanya karena penasaran. "Suster!" panggil Excel dengan nada gemasnya. Seketika suster Rini terbuyar dari lamunannya, lalu duduk dan jongkok. "Iya ada apa Excel?" sahut suster Rini sembari mengelus kepala jagoan kecil itu. "Suster kenal tidak sama om tampan ini? ko bisa ada di lemari mommy ya?" tanya Excel penasaran. Suster Rini tersenyum lalu dia menjawab, jika tidak mengenal pria itu akan tetapi wanita itu sedikit mulai menatap jelas foto sang pria dengan wajah Excel yang memiliki kemiripan. "Suster gak tahu anak manis, tapi nanti akan coba suster cari tahu ya, sekarang makan dulu biar cepat besar dan nanti bisa cari dady gimana?" bujuk suster Rini sembari menyodorkan makanan di atas sendok. Excel
"Cukup Laura! berhenti berteriak di depan ku!" Dewa menghardik Laura, di saat kekasih di masa kecilnya itu terus menuntut untuk menikah membuatnya semakin emosi sampai memegang kepala yang masih terasa sakit dan pusing karena pengaruh alkohol yang belum sepenuhnya hilang. Laura tergugu, baru kali ini dia melihat ekspresi Dewa yang sangat marah. Padahal selama mereka pacaran dulu tidak pernah membentak membuat wanita berprofesi sebagai model itu semakin tidak tenang. "Tidak bisa! jangan menyuruh aku untuk diam, kesabaran aku sudah habis mas. Aku kembali hanya untuk kami demi meneruskan impian masa depan kita," Ungkap Laura dengan keinginannya. Semakin di desak Dewa semakin emosi, apa lagi dia yang tidak suka di atur oleh seorang wanita membuatnya terpaksa mengucapkan peringatan untuk uang kedua kalinya di saat mereka berdua beradu argument. "Berhenti! atau aku tidak akan mengijinkan mu menemui ku di mana pun berada," Ancam Dewa terlihat serius. Seketika Laura terdiam dan
Arumi tercengang, saat melihat dan mendengar pertanyaan cinta Adrian yang membuatnya tak habis pikir dan sulit untuk di percaya, karena selama ini sosok lelaki yang ada di depannya itu telah ia anggap sebagai Kaka senior tidak lebih dari itu. "Arumi! apa kamu mendengar ku?" Adrian memegang erat tangan Arumi, sembari menatap dalam tanpa berkedip sedikit pun. Keduanya saling menatap satu sama lain, terutama Adrian, seolah tak ingin melepaskan pandanganya walaupun sebentar saja. Berbeda hal dengan Arumi. Wanita cantik itu berusaha memalingkan wajah ke samping. Rasanya begitu berat untuk menjawab tapi ia memberanikan diri walaupun tidak tahu jawabannya akan di terima atau tidak oleh Adrian. Setelah menarik nafas dalam-dalam lalu mengeluarkannya pelan, Arumi memberikan sebuah jawaban. "Mas Adrian! kamu adalah pria baik, rasanya sangat cocok jika mencari seorang gadis di luar sana yang masih single, tidak seperti aku." Lirih Arumi yang merasa sangat insecure. Namun yang jelas dalam
Adrian tidak yakin saat mendengar perkataan Arumi, yang sudah tidak peduli lagi pada Dewa. Karena terdengar dari nada suaranya yang penuh dengan keterpaksaan. "Benarkah seperti itu? apa kamu tidak marah melihat berita skandal tentang mereka?" Adrian memastikan kembali. Arumi rasanya sangat sesak setiap kali ada orang yang membahas tentang Dewa, yang sudah pelan dia lupakan meskipun ada luka hati yang sangat sulit untuk dia sembuhkan. "Cukup tuan, tolong jangan bahas tentang mereka lagi," Pinta Arumi dengan nada sedikit tinggi. Untuk yang pertama kalinya, Adrian sangat terkejut saat melihat Arumi sampai marah dan terlihat sangat serius. "Baiklah, maafkan aku. Aku tidak akan membahas tentang dia lagi," Sesal Adrian. Arumi tidak banyak bicara lagi, satu panggilan dari baby sisternya membuat dia begitu antusias, karena pasti jagoan kecilnya yang ingin menelpon. Setelah menjaga jarak di saat mengangkat telepon dari Excel, Arumi terlihat sangat senang mengingat beberapa jam y
Dewa menghela nafas jengah, saat Laura terus menuntut agar segera menikahinya. Tak ingin banyak bicara lelaki tampan itu pun keluar dari kamar tanpa bicara lagi. "Mas Dewa! tunggu," Laura tidak terima di tinggal begitu saja. Dia berjalan mengikuti Dewangga. Hingga terlihat beberapa kelompok paparazi yang sudah sigap mencari bahan berita terutama seorang Dewa, selain di kenal sebagai CEO muda yang tengah jadi perbincangan hangat di khalayak umum. Terutama sejak berita sang istri pergi. Dewa terkejut, saat melihat para wartawan itu menghadang dirinya dengan beberapa bidik kamera, dan mereka juga melontarkan beberapa pertanyaan padanya. "Tuan Dewa! kenapa anda dan nona keluar dari ruangan kamar yang sama? jangan bilang kalian berdua sudah merajut tali kasih kembali?" celetuk salah satu wartawan tanpa ragu. "Iya benar, apa kalian sudah bersama lagi? lalu bagaimana dengan nona Arumi?" sambung karyawan lainnya. Dewa semakin kesal saat melihat dan mendengar pertanyaan para war