Elrick kembali mengumpat pelan, "Apa wanita tua itu masih saja berusaha menjodohkan saya dengan Gwen?" tanya Elrick kesal.
"Sepertinya begitu, Tuan," jawab Jack.
"Saya tidak mau tahu, tutupi keberadaan saya di sini, atau saya tidak akan membayar gajimu selama satu tahun penuh!" gertak Elrick lalu mematikan sambungan teleponnya.
"Sial! Masalah satu belum selesai, muncul lagi masalah lainnya!" desah Elrick pelan sambil mengurut keningnya.
Saat Elrick kembali ke ruang VIP, terdengar tangisan Leon dan Elrick bergegas memasuki ruangan itu, nampak Aliana yang berdiri membelakanginya sedang membujuk Leon untuk menghentikan tangisannya.
"Huhu, Om, Eon mo Om!" rengek Leon.
"Oma, aku bukan pria biasa saja, aku juga sama berkuasanya dengan mereka, Oma. Bahkan lebih.""Yang kau tidak tahu cucuku yang malang, mereka ahli menyembunyikan seseorang, hingga tidak ada satu orangpun yang akan menemukannya. Apa jadinya jika mereka tahu kau ayah dari cucunya? Bersiaplah kau tidak akan bisa bertemu dengan anakmu lagi seumur hidupmu!""Apa Oma pikir aku akan diam saja melihat mereka menyembunyikan anakku? Aku akan mencarinya sampai ke lubang semut sekalipun!" geram Elrick kesal, karena Omanya terlalu menganggap remeh dirinya."Kau memang berkuasa juga, Elrick. Tapi di Eropa sana, bukan di Asia. Kau juga harus tahu batasanmu! Jadi sebelum kedua pria itu kembali ke Jakarta, kau harus sudah bisa mengambil hati wanita itu dan anaknya, supaya kau bisa berterus terang pada wanita itu kalau kau adalah ayah dari anaknya.""Dan wanita itu akan langsung berlayar pergi dari hidupku bersama dengan anaknya," desah Elrick."Apa maksudmu?" tanya Oma."Wanita itu dengan tegas mengat
Elrick mengetuk pintu sesuai dengan kode yang Aliana berikan padanya, sebelum membuka pintu dan melangkah masuk."Proposal kita diterima, Nona. Tapi dengan satu syarat ... " info Elrick sumringah, dan mampu menarik perhatian Aliana dari layar laptopnya"Benarkah? Dan apa syarat itu?" tanya Aliana dengan nada tidak percaya."Benar, Nona. Anda bisa cek email anda sekarang."Dan senyum lebar seketika menghiasi wajah cantik Aliana saat membaca isi email dari PT. Rick Tech itu."Mereka meminta aku selaku Presdir AS Group dan Elrick CEO Rick Group, yang harus turun tangan langsung dalam menangani proyek ini? Ya Tuhan!" pekik Aliana, lalu menatap Elrick dengan sorot mata tidak percaya, 
Dengan enggan Elrick melepas kacamatanya, dan kembali menatap Aliana.'Ya, benar. Itu mata Leon. Mata yang terlihat indah yang dibungkus dengan bulu mata yang tebal dan lentik, juga alis tebalnya. Ya Tuhan, apa ini hanya kebetulan saja? Atau jangan-jangan ... ' menggelengkan kepalanya untuk menjernihkan kembali pikirannya."Apa kita pernah bertemu sebelumnya, Rick?" tanya Aliana."Hmm mungkin pernah. Saya sering menemani boss lama saya untuk menghadiri beberapa rapat penting perusahaan dengan berbagai Presdir dari perusahaan lain, mungkin anda salah satunya, Nona," elak Elrick sambil memakai lagi kacamatanya."Semenjak saya menjabat sebagai Presdir, kamu sudah bekerja pada saya.""Itu berarti kita belum pernah bertemu sebelumnya, Nona." Aliana kembali menatap Elrick dengan teliti, "Yah, mungkin saya yang salah mengenali," ralatnya.Pintu terketuk dengan nada yang Aliana tahu itu adalah sekretarisnya, jadi Aliana tidak perlu berteriak mempersilahkannya masuk, karena sekretarisnya itu
Night club itu berlokasi di kawasan distrik bisnis ibukota, klub malam yang menawarkan ambience yang berbeda. Baik itu desain interiornya, dinding-dinding batu di lorong, hingga ruang utama yang dirancang mewah, dengan tata cahaya yang sangat luar biasa.Klub yang memiliki ratusan variasi minuman beralkohol ini, terinspirasi oleh kisah Harry Potter untuk rancangan desain interiornya, dan sering mendatangkan DJ dari mancanegara, termasuk malam ini, DJ itu didatangkan langsung dari negeri kangguru.Berbeda dengan klub lainnya, karena bagian dalamnya terlihat lebih luas dan tidak terlalu banyak table, sehingga menyisakan space yang lebih luas dan leluasa bagi yang ingin berjoget.Saat Aliana dan Elrick tiba, Cintya masih dalam perjalanan menuju klub yang mampu menampung hingga delapan ratus orang itu, dan Aliana langsung
"Ayolah, Ricko! Temani aku joget," bujuknya."Maaf, saya harus menemani Nona Aliana di sini," tolak Elrick, tapi Cintya tetap bersikeras mengajak Elrick turun."Sudah ikut saja, Rick. Nikmatilah pestamu ini!" perintah Aliana dengan nada sedikit mengusir, ia pusing mendengar rengekan Cintya pada Elrick."Bagaimana dengan anda?" tanya Elrick."Saya di sini saja, lagipula dari dance floor itu juga kamu masih bisa memantau saja, Rick. Sudah sana bersenang-senanglah!" usir Aliana.Dan akhirnya Elrick tidak memiliki alasan kuat lagi untuk menolak ajakan Cintya itu, dengan malas-malasan ia berdiri dari sofanya, kemudian melangkah Pelan mengikuti langkah Cintya yang menarik tangannya dan baru melepasnya setelah mereka sampai d
Elrick panik saat melihat Aliana sudah tidak ada lagi di sofa yang tadi ia duduki, Elrick hanya lengah sebentar dan wanita itu sudah menghilang."Kau mau kemana, Rick?" tanya Cintya saat Elrick melangkah pergi meninggalkannya."Nona Aliana, dia tidak ada!" jawab Elrick sambil terus melangkah.Elrick berdiri dari samping tablenya dan mengedarkan pandangannya ke segala penjuru klub itu, mencari sosok Aliana tapi nihil. Lalu ia turun lagi ke dance floor, siapa tahu Aliana berubah pikiran dan memutuskan untuk joget, walau terlihat mustahil, seorang introvert seperti Aliana tidak akan mau membaur dan membuang waktunya untuk hal yang tidak bermanfaat.Lumayan lama Elrick mencarinya diantara kerumunan manusia itu, tapi tidak jua menemukan Aliana. Sambil mengumpat
Setelah mengunci pintu kamar Aliana, Elrick tidak langsung melihat tempat tidur, tapi ruangan dengan cat dinding warna putih, hingga ruangan itu terlihat semakin lapang, yang berisi satu set sofa warna hitam dengan pelapis kulit, dengan sarung bantal berwarna abu-abu, yang menghadap ke meja TV.Di tengah ruangan terdapat rak pajangan berwarna putih, dengan latar belakang hitam, hingga menciptakan ilusi mata seakan-akan panjangannya melayang. Ruangan ini bernuansa sederhana namun tetap terlihat estetik.Elrick terus melangkah melewati rak pajang itu yang menjadi pembatas antara ruangan ini dengan tempat tidur Aliana. Sama halnya dengan ruangan pertama, kamar tidur Aliana juga bernuansa monochrome.Desain kamar dengan kombinasi warna hitam dan putih pada dindingnya itu, serta furniture kayu dengan warna putih yang dominan memberikan kesan sederhana tapi modern.Fokus utama di kamar ini adalah pola unik yang menghias dinding di belakang tempat tidur Aliana, membuat kamar itu terlihat sem
"Tapi saat kita melakukannya tiga tahun lalu. Aku bisa langsung membuatmu hamil, Sayang," ujar Elrick dengan menekan kata sayang. Sudah saatnya Aliana mengetahui siapa Elrick sebenarnya.Lagipula Elrick sudah memberitahu Ekram dan Damar, dan Elrick yakin saat ini kedua bodyguard itu pasti sudah memberitahu Hardhan dan Alex, dan sudah pasti kedua pria yang sangat berkuasa di Asia itu, saat ini sedang dalam perjalanan kembali ke Jakarta. Jadi, daripada Aliana mengetahuinya dari orang lain, lebih baik Elrick sendiri lah yang memberitahunya. Apapun resikonya itu urusan nanti.Aliana langsung duduk dan menatap tajam Elrick, matanya mencari-cari kebenaran di dalam mata biru kehijauan Elrick, yang mengingatkan pada mata anaknya, Leon."Ya, saya ayahnya Leon, pria yang sudah anda manfaatkan untuk menghasilkan anak tanpa harus menikah," ungkap Elrick santai sambil menautkan tangannya di belakang kepalanya."Kamu! Kenapa baru memberitahuku sekarang? Dan aku tidak memanfaatkanmu!" geram Aliana l
Venesia sudah terlalu mainstream, terlalu banyak dikunjungi wisatawan karena kota itu merupakan salah satu destinasi terpopuler turis mancanegara. Jadi meski hari sudah malam, kawasan itu tetaplah terlihat ramai. Leuis merangkul pinggang Leia saat mereka dalam perjalanan kembali ke Apartment. Mereka lebih memilih jalan kaki mengingat perut Leia yang masih terasa mual. Meski jaraknya lumayan jauh, tapi tidak akan terasa dengan pemandangan kota itu yang terlihat cantik di malam hari. Bangunan tuanya terlihat lebih mewah dan elegan, dengan cahaya lampu yang terpantul ke kanalnya. "Sepertinya kita tidak akan bisa mengubah keputusan Daddy. Suka atau tidak Daddy pasti akan tetap menikahkan kita," ujar Leuis, ia menarik Leia merapat ke arahnya saat beberapa anak muda yang baru saja keluar dari sebuah bar, melangkah sempoyongan dari arah berlawanan. "Kamu hangat sekali ... " desah Leia saat berada di pelukan Leuis. Meski
"Daddy dan Om Keanu memang sudah meminta semua media untuk menarik turun berita itu, juga menghapus semua foto-foto kalian. Tidak adalagi c1uman viral kalian yang menjadi trending topik itu. Meski begitu, Daddy yakin ada beberapa kolega Daddy yang sudah melihat beritanya, yang pasti telah mengenali kalian berdua. Jadi tidak ada pilihan lain lagi, mau tidak mau, setuju tidak setuju, kalian berdua harus segera menikah!" tegas daddy Elrick, membuat semua yang ada di dalam ruangan itu tercengang."Menikah bukan sebuah permainan, Dad... Kami tidak bisa menikah begitu saja tanpa adanya perasaan cinta di antara kami. Yang menikah atas nama cintapun banyak yang berpisah, apalagi kami yang tidak saling mencintai, Aku tidak akan menikahi Leia!" tegas Leuis."Aku juga masih kuliah, aku belum mau menikah, Dad ... " rengek Leia."Daddy sudah tegaskan tadi, mau tidak mau, setuju tidak setuju, kalian harus menikah! Daddy tidak mau mendengar bantahan lagi dari mulut kalia
"Kalau kau sering memanfaatkan wanita, bukan berarti aku juga akan seperti itu!" geram Leuis, ia menghapus darah di sudut bibirnya."Tidak memanfaatkan apa? Leia mengenakan kemejamu, dan kau memegang pakaian pribadinya, belum lagi dadamu yang telanjang, apalagi yang kalian lakukan selain melakukan itu?!""Leon cukup!" suara dalam daddy Elrick menyentak mereka semua, hingga secara bersamaan mereka berpaling ke arah pintu, dimana daddy Elrick dan daddy Keanu berdiri.Leuis mengerang pelan, sudah pasti mereka juga akan berpikir kalau ia dan Leia telah melakukan itu. Siapa yang tidak akan berpikiran seperti itu ketika melihat kondisinya dan juga Leia saat ini."Duduk kalian semua!" seru daddy Elrick tajam.Tidak ada satupun dari mereka yang bisa membantahnya, jadi satu persatu mencari posisi duduknya sendiri. Hotel itu bukanlah hotel mewah berbintang lima, tapi hanya hotel biasa yang tidak terlalu besar, hingga terasa pengap dengan kehadiran
Setelah memasuki kamar hotel yang telah Leuis pesan, Leia segera menghambur ke arah kamar mandi dan mengeluarkan isi perutnya. Seharian ini ia menaiki water taxi, ditambah lagi gondola, membuat perutnya itu terasa diaduk-aduk."Perlu bantuanku?" tanya Leuis dari balik pintu."Tidak, terima kasih ... " jawab Leia dengan suara parau sebelum kembali muntah.Di balik pintu, Leuis sangat mengkhawatirkan wanita itu. Ia belum bisa tenang sebelum melihat Leia keluar dari kamar mandi tanpa kekurangan suatu apapun, karena sudah setengah jam lebih Leia di dalam, hingga ia kembali mengetuk pintu itu lagi,"Leia, boleh aku masuk?" tanyanya.Tidak adanya jawaban dari Leia membuat Leuis bertambah khawatir. Dengan cepat ia membuka pintu dan nampak Leia yang tengah terduduk lemas di lantai, Leuis segera menghampirinya,"Separah itukah? Mau ke dokter?" tanyanya sambil mengelap keringat di kening Leia."Aku mual sekali ... " erang Leia, "
Hingga akhirnya Leuis menunduk dan menempelkan bibirnya ke bibir Leia dengan lembut, takut wanita itu akan menolak dan mendorongnya. Tapi alih-alih mendorong Leuis, Leia malah melingkarkan lengannya di leher Leuis, sebelum akhirnya membuka bibirnya untuk membiarkan Leuis menguasai mulutnya itu.Tepat pada saat itu laju gondola berhenti, matahari mulai terbenam dan lonceng St. Mark Campanile berdentang kencang, sekencang detak jantung mereka berdua saat merasakan gejolak jiwa muda mereka yang begitu membara dengan gairah.Sementara dari jembatan satunya lagi, banyak wisatawan yang memotret mereka, sang gondolier juga mengabadikan momen romantis itu dengan ponselnya, hingga Leia pada akhirnya menyadari kalau gondola itu tidak bergerak.Ia membuka kedua matanya, lalu mendorong Leuis dan membersihkan bibirnya dengan lengannya,"kenapa kamu menciumku lagi?" tanyanya.Lalu metanya tertuju pada jembatan yang melengkung di atasnya. Jembatan yang terbu
Leuis segera berdiri, ia mencoba untuk menenangkan Leia, tapi Leia mendorongnya dengan sekuat tenaganya, "Jangan sentuh aku! Aku membencimu! Aku sungguh-sungguh membencimu!" geramnya sebelum lari keluar dari unitnya itu. "Leia!" Leuis menahan lengan Aletta yang berniat mengejar sahabatnya itu, "Tunggu di sini, biar aku saja!" serunya sebelum bergegas mengejar Leia dengan terlebih dahulu mengambil sepatu kets wanita itu. "Biarkan Leuis saja, dia yang paling bisa menenangkan Leia!" terdengar seruan Leon yang mungkin saja sedang mencegah Aletta untuk turut mengejar Leia. "Sial! Cepat juga larinya wanita itu!" geram Leuis, tatapannya tidak pernah lepas dari punggung Leia, hingga akhirnya ia bisa meraih lengan wanita itu, "Tunggu! Jangan pergi saat sedang marah seperti ini," cegahnya. "Lepaskan aku!" geram Leia sambil berusaha menarik lengannya, dan terus berontak saat
Keesokan harinya, saat Leia dan Aletta telah siap untuk berangkat ke lokasi proyek, Leuis memutuskan di detik-detik terakhir kalau para pria saja yang akan mengunjungi lokasi itu, mengingat letaknya di salah satu pulau yang belum terlalu ramai. Ia takut baik Leia maupun Aletta akan suntuk di pulau itu, karena masih terlihat kosong. Itu makanya mereka memulai proyek ini untuk menarik wisatawan ke pulau itu dan meramaikannya. Beruntung dari sekian banyaknya perusahaan raksasa yang mengikuti tender pembangunan itu, perusahaan Leuis lah yang keluar sebagai pemenangnya. "Selain itu, kasihan Aurora sendirian di Apartment ini," lanjut Leuis. Aahh ... Inilah masalah utamanya. Pria itu tidak mau meninggalkan kekasihnya sendirian. Juga tidak mau membuatnya kepanasan di pulau itu. Dan kenyataan itu membuat hati Leia benar-benar hancur. Lalu apa gunanya ia dan Aletta ikut ke kota ini? Untuk menemaninya bermesraan dengan
"Untung maps itu mengarahkanmu ke jalan yang tercepat, Aletta. Karena Jalan-jalan kecil menuju Rialto Bridge ini seperti labirin dengan berbagai cabang, yang jika salah arah kamu bisa saja sampai ke lorong yang makin mengecil yang ternyata mengarah ke jalan buntu," ujar Guzmán sesaat setelah berhasil menemukan Aletta. Ia yang mengarahkan Aletta menggunakan mapsnya menuju Rialto Bridge sebagai meeting point mereka. "Guzmán benar, Aletta. Sebenarnya tanpa maps pun banyak petunjuk jalan yang menunjukkan arah ke Jembatan Rialto. Tapi, kita tidak pernah tahu apakah arah tersebut adalah jalan yang tercepat atau justru membuat kita memutari labirin ‘toko’ ini," lanjut Leia. Mereka tengah melalui jalan sempit yang dipadati dengan pertokoan, baik yang menjual barang-barang branded internasional, maupun produk kerajinan dan oleh-oleh khas Venesia, untuk mencapai ke tengah Rialto Bridge itu. 'Bukan maps yang mengarahkanku ke jalur tercepat itu, tap
Tidak ada jalan besar di Venesia, hanya ada jalan kecil dan sempit. Gang yang hanya bisa dilewati oleh orang-orang bukan kendaraan. Satu-satunya alat transportasi di sana hanyalah gondola dan vaporetto, sejenis water bus atau taksi air sebagai transportasi publik. Meski bagunannya terlihat padat, tapi tetap terlihat bersih dan juga tertata rapi.Yang rencana awalnya mereka hanya ingin jalan bertiga saja, sekarang jadi berenam, karena Leuis yang lebih dulu memergoki mereka saat baru akan keluar dari unitnya.Mereka sudah menyebrangi beberapa kanal dan menelusuri sejumlah gang sempit, tapi Leia masih belum mau berhenti bahkan hanya untuk sekedar bersantai sejenak di kafe."Ini makanya aku tidak mau para pria ikut. Mereka akan rewel kalau diajak jalan!" sungut Leia saat Leuis memintanya untuk berhenti."Bukan aku, tapi Aurora sudah kelelahan, Leia," ralat Leuis.Leia beralih menatap Aurora, wajah wanita itu sudah memerah karena matahari, kul