Dari Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai dengan menempuh penerbangan sekitar kurang lebih dua jam, hingga akhirnya tiba di Bandara Internasional Soekarno Hatta. Barra dan Jefri di jemput supir yang telah menunggu mereka, agar segera ke mobil. Barra menatap kotak beludru biru tua di tangannya, ada sebuah kalung cantik di dalamnya yang ia beli saat masih di Bali tadi, untuk di berikan pada Olivia istrinya yang mengatakan jika telah merindukannya. “Nyonya pasti senang Pak.” Sahut Jefri, ikut gembira melihat semangat Bosnya yang ia tahu sedang kasmaran. “Benarkah? Apa menurut kamu dia akan suka dengan kalungnya?” Barra deg-degan. Matanya tak bisa lepas dari menatap kagum kalung cantik itu. Terbayang saat kalung tersebut melingkar di leher jenjang istrinya. Pasti sangat indah dan cocok. “Sudah pasti. Anda memilih sebuah kalung berlian yang simpel tapi elegan, sama seperti Nyonya Olivia. Saya yakin beliau pasti suka Pak!” Ujar Jefri meyakinkan Barra. Barra tersenyum sumring
‘Benar kata Pak Barra. Mereka ini memang gak pantas menjadi keluargaku!’ Olivia membatin. Sekarang dirinya benar-benar sadar jika orang-orang toxic memang tak akan pernah bisa berubah. Tak perlu di anggap ada dalam hidup. “Mulai detik ini, aku tidak akan menganggap kalian sebagai keluargaku lagi. Jangan salahkan aku bertindak kasar. Aku muaaakkk!!” Olivia yang berjalan sambil menyeret Angelina dengan menarik rambut perempuan itu, kemudian melepaskan genggaman tangannya dari rambut Angelina yang terus berteriak kesakitan sembari mengumpat, ia dorong sekuat tenaga tubuh perempuan tak berhati itu hinggap jatuh terhempas ke tanah. Saatnya melarikan diri sebelum dirinya tak bisa lagi mengontrol diri. Aargh! Angelina mengerang kesakitan, namun lebih sakit lagi karena di permalukan oleh gadis yang selama ini ia intimidasi. “Sial*n lo Olivia!! Gue gak akan memaafkan apa yang lo lakukan ini!! Sebentar lagi Reyhan datang, di akan bawa lo! Tamat hidup lo!” Angelina terus mengumpat, Olivia su
Olivia tiba di penthouse. Dengan sekuat tenaga, tadi ia mengemudikan mobilnya sendiri menuju kediamannya dan Barra. Olivia tak mau menunggu Barra di mobil suaminya itu, di karenakan perasaannya sudah semakin tak terkontrol. Rasa panas dan gerah yang menyergap ini membuat Olivia ingin melucuti seluruh pakaiannya dari tubuhnya. Namun tak mungkin ia lakukan hal itu di depan semua orang, termasuk Barra suaminya. Olivia menekan kode pintu penthouse, tak tahan untuk segera masuk dan melepas semua yang ada di tubuhnya saat ini. Hijab dan baju panjangnya benar-benar membuat tubuhnya seakan dililit, sesak, semakin gerah. Pintu terbuka. Olivia dengan napas naik turun, masuk ke dalam dengan langkah cepat, setengah berlari. Ia masuk ke dalam kamar. Saat ini Olivia hanya ingin menenangkan diri agar reaksi obat itu sedikit demi sedikit berkurang dan hilang. “Panas... Ya Allah...” Olivia beristighfar berkali-kali, baru pertama kali ini ia merasakan sensasi aneh akibat obat perangsang. Di tam
Tak menghiraukan Barra, Olivia tetap saja berlari. Tak berhati-hati di saat tubuhnya masih basah dan lantai licin. Seet... Aww! Olivia terpekik. Kakinya terpeleset, tubuhnya tak kuasa menahan kaki tersebut agar tak terjatuh. “Olivia!!” Barra menangkap tubuh Olivia dengan sigap, ia tarik pinggang gadis itu ke dalam dekapannya. Hug! Olivia masuk ke dalam pelukan Barra. Kedua tangannya mencengkeram kuat lengan kemeja Barra, takut jatuh. Sedang Barra yang tangannya di kalungkan erat di pinggul Olivia, tak melepas tatapannya dari wajah cantik istrinya yang hanya tinggal berjarak beberapa centimeter saja dari wajahnya. Entah ke berapa kalinya mereka dalam posisi seperti ini. Lagi-lagi Olivia yang kadang ceroboh, terjatuh dan di selamatkan Barra dengan memeluk tubuhnya. Seperti drama percintaan ftv saja... Namun kali ini... Zzrrt! Tiba-tiba seakan ada aliran listrik yang menyengat sekujur tubuh Olivia akibat sentuhan dan pelukan Barra. Wangi maskulin parfum di tubuh atletis pria i
Olivia menggeleng-gelengkan kepalanya, berusaha mengontrol diri, “Aku gak boleh seperti ini...” Ucapnya melepaskan diri dari dekapan Barra. Barra terkesiap, Olivia menjauh dan gadis itu memeluk tubuhnya sendiri dengan kedua tangannya. Lagi-lagi Olivia berusaha mengendalikan diri daei pengaruh obat perangsang tersebut meski sekuat tenaga. “Olivia...” Barra meraih tangan Olivia, sangat menginginkan istrinya itu. “Jangan sentuh Pak Barra, aku gak kuat...” Olivia menepis tangan Barra, hasratnya naik saat di sentuh langsung oleh suaminya. “Kalau begitu, jangan di tahan. Lepaskan saja...” Barra tak membiarkan Olivia pergi ke kamarnya. “Gak mau... Aku bisa kok menahannya. Nanti reaksi obat ini juga akan hilang dengan sendirinya.” Olivia melepaskan tangan Barra yang memegang jemarinya. “Tidak semudah itu Olivia, kamu akan semakin tersiksa...” Barra tetap menahan kepergian Olivia dari hadapannya. “Kalau reaksi obatnya gak hilang juga, nanti aku akan periksa ke dokter. Aku mau ke kamar a
“Ya, kita akan bercinta! Tuntaskan semuanya sampai puas!” Jawab Barra, juga tak menahan lagi ucapannya. “Sebentar!” Olivia menangkup wajah Barra dengan kedua telapak tangannya, agar manik keduanya saling bertatapan. “Pake pengaman kan?” Langkah Barra seketika terhenti. Ia terperangah, masih saja istrinya ini ingat hal sedetail itu. “Saya tidak punya!” Jawab Barra apa adanya. Olivia diam, mengedip-ngedipkan matanya. Tampak menggemaskan di mata Barra. Tak mau meladeni kebawelan istrinya itu, ia lanjutkan langkah dengan cepat hingga tiba di depan kamar. Tingkah Olivia membuat hasratnya semakin mendesak, meminta untuk secepatnya di salurkan. Barra masuk ke dalam kamar setelah membuka gagang pintu dengan sikutnya. Ia tutup kembali pintu dengan kaki, berjalan menuju ranjang luxury di kamar itu dengan menggendong tubuh Olivia. Barra membaringkan Olivia di atas ranjang dengan penuh kelembutan. Ia kemudian ikut naik, langsung menindih tubuh istri menggairahkannya itu dengan b
Tubuh Barra ambruk di atas Olivia. Keduanya saling berpelukan dengan napas naik turun. Sepasang suami istri itu baru saja sama-sama mencapai pelepasan mereka. Seakan lepas semua beban. Barra membenamkan wajahnya di ceruk leher Olivia, menghirup dalam-dalam aroma harumnya, begitu menentramkan. Olivia ikut mengusap lembut punggung lebar Barra hingga ke pinggang pria itu dengan kedua tangannya, membuat Barra semakin nyaman memeluk gadis yang sekarang sudah menjadi miliknya seutuhnya. “Sayang... Berat...” Rengek Olivia manja, Barra terlalu lama di atasnya. Tubuh pria itu tinggi kekar, Olivia tak kuat lama-lama ditindih meski Barra tetap menumpu badannya dengan siku dan lutut. Barra tertawa kecil, bagaimana bisa dirinya senyaman itu dalam posisi seperti ini? Tetapi justru membuat istrinya merasa keberatan dengan beban tubuhnya. Barra merebahkan diri di samping Olivia, ia ambil kepala istrinya itu dengan penuh kelembutan, kemudian di letakkan di atas lengan berototnya. Olivia
Ada rasa tak suka saat Olivia memintanya untuk melupakan apa yang mereka lakukan tadi, memadu kasih dengan penuh semangat dan perasaan yang tak bisa digambarkan, benar-benar dahsyat. Baru ini Barra merasakan sesuatu yang luar biasa dalam hidupnya, bahkan tidak pernah ia dapatkan dari Azalea dulunya. Bersama seorang Olivia, istri menawannya yang belum sampai hitungan satu jam, berhasil ia ambil mahkota berharganya. Saat akan menyusul Olivia, mata Barra tak sengaja menangkap sesuatu di sprei. Ada bercak-bercak merah sisa penyatuan mereka, pertanda ia telah berhasil memiliki Olivia seutuhnya. Barra semakin bersemangat. Olivia tak boleh menyesali apa yang terjadi tadi. Ia susul keluar kamar, mungkin sekarang istrinya itu berada di kamarnya sendiri, di kolam renang, atau di ruangan lain. Mereka bisa bereksplorasi di setiap sudut ruangan yang ada di penthouse ini, jika harus. ••••• Pukul 21.00 wib. Vincent berjalan dengan wajah tenang, bergabung bersama teman-temannya di markas,
“Udah, Sayang. Oliv jangan terlalu banyak diajak bicara. Lihatlah dia masih pucat sama lemas gitu,” tegur Virendra, ingin menghentikan Syafira yang masih saja mengajak Olivia mengobrol. Virendra begitu iba melihat menantu perempuannya dalam keadaan lelah. Pasti sangat sangat capek dan inginnya tidur tenang untuk merehatkan badan setelah berjuang melahirkan bayi yang ditunggu-tunggu oleh kedua belah pihak keluarga. “Waduh, maafkan Mommy ya Sayang. Kamu jadi terganggu,” Ucap Syafira pada Olivia. “Enggak kok, Mom.” Olivia terkekeh, dirinya malah selalu senang jika ibu mertuanya itu ada. Membuat suasana semakin hidup dan ramai. Syafira mengusap lembut lengan menantunya, kemudian mendekati Amanda yang berdiri di samping box bayi Olivia. Virendra mengambil kesempatan. la dekati Olivia, lalu membelai dan mengecup pucuk kepala menantunya. “Istirahat yang cukup ya, Nak,” ucapnya lembut, tersenyum dengan sorot mata penuh kasih sayang. “Ya, Dad,” Jawab Olivia ikut tersenyum. Di saat
Olivia ditempatkan di ruang rawatan President Suite-Royal Hospital dengan segala fasilitas lengkapnya. Aroma harum khas bayi baru lahir, menyebar ke seluruh penjuru ruangan, memberi ketenangan tersendiri. Ibu muda itu berbaring dengan kepala sedikit ditinggikan di atas tempat tidur pasien, tubuhnya nyaman ditutupi selimut halus. Di sampingnya, Barra duduk sambil menggenggam tangannya dengan mesra. Mata pria yang kini telah resmi menjadi seorang ayah itu, tak lepas memandangi wajah lelah Olivia yang tampak sedikit pucat. Cinta dan perhatian tergambar jelas dalam tatapan hangat Barra. la sesekali mengecup tangan Olivia, menunjukkan dukungan dan kasih sayang yang semakin besar saja pada istrinya itu. Rasa bangga terhadap Olivia yang telah melahirkan buah cinta mereka, kian membuncah. Sedang Olivia yang telah melewati proses persalinan, tampak lelah namun sumringah. Mata sayunya tertuju pada bayi yang kini berada dalam dekapan sang kakek. Tampak bayi mungil mereka tertidur lelap d
Dengan hati-hati, Barra membantu Olivia berjalan ke mobil, sambil terus memastikan bahwa istrinya itu merasa nyaman. “Udah yakin gak ada yang tertinggal, Sayang?” tanya Amanda sebelum pintu mobil ditutup. “InsyaAllah yakin, Bu.” “Ok. Jagain Oliv ya Bar. Ibu dan Kakek di belakang ngikutin mobil kalian.” “Ya, Bu.” Barra mengangguk, berdebar-debar karena Olivia menahan sakit sambil menggenggam kuat jemarinya. Amanda menutup pintu mobil Barra dari luar. Mobil pun segera melaju, menuju rumah sakit Royal Hospital. Amanda dan Tuan Rawless dengan mobil mereka sendiri, akan ikut ke rumah sakit untuk menunggui persalinan Olivia. Wajah keduanya cukup tegang, ini waktunya cucu Amanda sekaligus cicit Tuan Rawless akan hadir ke dunia ini. Sebentar lagi. Hujan masih terus mengguyur, menambah dramatis perjalanan mereka ke rumah sakit di dini hari yang dingin dan basah itu. “Aduh Mas, makin sakiiiit...” Olivia menggenggam erat tangan Barra. Kontraksinya terasa semakin kencang daripada sebelumn
_Dua bulan kemudian_ Pukul 01.00 wib. Suara gemericik hujan di luar jendela kediaman Rawless, semakin membuat malam terasa pekat. Di dalam kamar yang temarm oleh lampu tidur, Barra dan Olivia masih berbaring di bawah selimut tebal yang membalut tubuh keduanya. AC yang sejak awal diatur dengan suhu rendah, menambah kesejukan ruang kamar yang luas itu, serasi dengan dinginnya malam yang diselimuti hujan. Olivia dengan perutnya yang besar menonjol, tidur miring ke kiri membelakangi Barra dengan kepala bertumpu pada lengan suaminya sebagai bantal empuk. Sedang Barra memeluknya dari belakang, seperti salah satu kebiasaan mereka saat tidur. “Uugh...” Olivia mulai menggeliat. Rasa tak nyaman di perut yang dirasakannya sebelum tidur tadi, kembali lagi, malah semakin intens. Perutnya seperti mengencang, seakan menjadi sebuah tanda bahwa kontraksi sesungguhnya telah dimulai. “Nak, kok gerak-gerak terus ya? Apa udah mau lahir?” lirihnya dengan mengusap-usap perut. Dengan wajah meringis
Tampak penghulu datang, langsung disambut ramah oleh Tuan Rawless, Virendra dan Haris. Setelah berbasa basi, semuanya akhirnya duduk di tempat masing-masing. Penghulu, Barra dan Tuan Rawless sebagai saksi nikah. Yang terpenting, Jefri dan Haris duduk berhadap-hadapan untuk mengucapkan ijab qobul sebentar lagi. Sementara keluarga besar sudah menempati kursi mereka masing-masing, ikut tak sabar menyaksikan acara sakral ini. Tak berselang lama, Syafira dan Ayuma masuk ke dalam ballroom hotel. Suara riuh hadirin di dalam ruangan megah itu, sontak menarik perhatian Jefri. Ada ungkapan takjub dengan melafazkan kalimat MasyaAllah, terdengar dari suara-suara mereka yang melihat ke arah pintu masuk. Degup Degup Jantung Jefri berdegup sekencang mungkin. la menelan saliva, matanya tak berkedip. Clarissa masuk digandeng Syafira dan Ayuma, itu gadis yang sebentar lagi akan ia halalkan. Tak sampai hitungan jam lagi. ‘Ya Allah!’ ‘Indahnya cıptaanMu...’ Batin Jefri, terpesona melihat calon
Tiga minggu berlalu... Ballroom hotel bintang lima tempat Jefri dan Clarissa akan melangsungkan akad nikah sekaligus resepsi pernikahan, telah bertransformasi menjadi sebuah mahakarya keindahan, seperti sebuah istana mewah bak pernikahan putri raja. Di sekeliling ballroom, meja-meja tamu tersusun rapi dan elegan, ditata dengan linens putih bersih dan peralatan makan perak yang berkilau, dihiasi centerpiece yang terdiri dari bunga-bunga segar dan lilin-lilin yang menambahkan nuansa romantis. Di setiap sudutnya, terdapat rangkaian bunga yang mewah berwarna-warni sedemikian rupa, menambah semerbak aroma floral yang menggoda indra. Di bagian depan ballroom, sebuah meja berukuran sedang namun unik, telah disiapkan dengan kursi spesial untuk calon pengantin pria yang akan melangsungkan ijab qobul bersama wali nikah pengantin perempuan, tak lupa kursi khusus penghulu dan dua orang saksi nikah. Atmosfer di aula ini bukan hanya tentang keindahan visual, namun juga perasaan penuh harapan y
Kini mereka tengah berkumpul di kediaman Virendra sambil mengobrol. Jefri yang sudah disuruh beristirahat oleh sang Mommy, masih tetap bergabung dalam obrolan meski hanya menjadi pendengar. Wajahnya tampak tegang, sedikit gugup. “Jef, kamu kenapa? Dari tadi diem aja, disuruh rehat gak mau.” Syafira terheran melihat raut wajah gugup pemuda yang sudah ia anggap sebagai putra keduanya itu. “Um, Mommy, Daddy,” Jefri mencoba menetralkan sikap, harus tetap tenang. “Tell us. Kamu biasanya kalau mau ngomong sesuatu, gak pake basa basi, Jef. Kenapa sekarang gugup gitu, ada masalah lain?” Virendra cukup penasaran melihat ekspresi tegang Jefri. “Begini. Ada yang mau Jef sampaikan.” Jefri menatap satu persatu wajah Virendra dan Syafira yang menunggu apa yang akan ia sampaikan. “Jangan bikin Mommy penasaran ah, Jef! Cepetan ngomongnya,” Desak Syafira. Sudah tahu dirinya tak bisa dibuat penasaran. Jiwa keponya berontak. Jefri menarik napas dalam-dalam, membuat Syafira semakin penasaran. “Dad
“Dan sekarang, saya semakin yakin kalau saya tidak bisa kehilangan Nona Clarissa. Saya ingin bersamanya, memilikinya sebagai istri saya. Karena tidak mau membuang-buang waktu lagi, begitu tau Nona Clarissa akan meninggalkan Indonesia, saya langsung bergegas menyusul ke Bandara untuk membawanya kembali bersama saya. Tidak akan saya lepaskan lagi dia. Akan saya perjuangkan dia dengan cara mengikatnya ke dalam ikatan yang halal, karena saya sangat mencintainya, lebih dari segalanya. Sudah cukup bagi saya untuk mengenal kepribadiannya, tahu tentang harapan dan mimpinya, dan saya ingin menjadi bagian dari itu semua. Saya tidak hanya mencintai dia, tapi juga menghormati dia sebagai individu. Saya siap berbagi suka dan duka bersamanya, di setiap langkah yang akan kami tempuh bersama.” Jefri berucap dengan sorot mata penuh keseriusan, mengungkapkan seluruh perasaan dan keinginannya. Tanpa sadar, rasa gugup dan khawatir akan ditolak, menghilang begitu saja. Berganti menjadi rasa percaya diri d
“Begitupun saya, Nona. Sejak kecil, saya selalu berharap ada pasangan suami istri yang mau mengambil saya menjadi anak mereka, tetapi tidak pernah dilirik sama sekali. Mungkin karena saya kurus seperti anak kurang gizi. Dekil dan sering sakit dibanding anak panti lainnya. Tidak ada yang tertarik untuk mengadopsi saya. Tidak ada kelebihan yang saya punya selain otak yang mampu, tapi tidak seimbang dengan fisik saya yang lemah. Setelah bersama Pak Barra, saya berubah menjadi seperti sekarang. Kuat dan bisa beliau andalkan. Kalau tidak bertemu beliau dan Tuhan tidak menggerakkan hatinya untuk memasukkan saya ke dalam keluarga Virendra, mungkin sekarang pun saya juga bukan siapa-siapa. Belum tentu saya bisa bertemu circle orang-orang hebat. Dan belum tentu saya bisa bertemu dengan Nona,” Jefri menatap wajah Clarissa. Mata Gadis itu tengah berkaca-kaca mendengar kisah hidupnya. “Kamu hebat! Kamu pantas dipertemukan dengan orang-orang hebat pula seperti Pak Barra dan keluarga Virendra. Aku