“Mas...” Barra tersentak dari tidurnya. Ia buka matanya dengan cepat, barusan ada suara lembut istrinya. “O-Olivia???” Ucapnya terkejut. Olivia berdiri di tepi ranjang sambil tersenyum. Seperti biasa, istrinya selalu cantik bagai bidadari. Wajahnya teduh dengan senyum merekahnya yang selalu Barra puja. Barra cepat-cepat mendudukkan diri, berharap ini nyata. “Olivia, Ini... Ini benar-benar kamu?” tanyanya memastikan. Ia raih jemari Olivia, dadanya bergemuruh menahan kerinduan yang sudah tak terbendung. “Iya dong Mas, emang siapa lagi? Mas kok tidur gak ganti pakaian kerjanya dulu? Apa gak gerah?” Barra seketika mengembangkan senyum bahagia, namun tak bisa berkata-kata. Dengan jantung berdegup kencang, ia tarik pinggang Olivia, memeluknya dengan erat. Istrinya itu berdiri di depannya yang duduk di tepi ranjang. “Olivia, jangan tinggalkan saya lagi...” Pintanya semakin mengeratkan dekapan kedua tangannya pada pinggang Olivia. Wajahnya di tenggelamkan di perut istrinya itu. Tangan
Barra terhenyak, tak menyangka Amanda bisa mengatakan hal yang tidak-tidak tentang dirinya pada Olivia mengenai calon anak mereka, “Ibu sudah keterlaluan!!! Dia mendoktrin istriku agar menjauhiku!!” Gerutunya berang.[Ya begitu lah. Kami juga kaget. Ibu memang orang yang kalau sudah menginginkan sesuatu, maka sanggup melakukan apapun]“Tapi tidak selicik ini juga!! Ibu sakit!” Barra murka.[Saya sebagai perawat ibu, berpikir ibu butuh pertolongan untuk mengobati psikologisnya yang terluka. Belasan tahun disekap, terisolir dari dunia luar, tapi ibu bisa bertahan dengan berpura-pura depresi. Saya saja yang mengurus ibu selama di pulau itu, bisa terkecoh dengan kepura-puraan ibu. Apa yang membuat ibu bisa bertahan? Semua karena demi bisa bersama putrinya suatu hari nanti. Dan saat beliau mendengar anda menikahi putrinya hanya sampai Azalea kembali, rasa trauma terhadap suaminya dulu semakin menjadi. Beliau tidak rela putrinya juga disakiti seperti yang beliau rasakan. Itu yang membuat ib
Para awak media seketika riuh, langsung mengarahkan kamera pada Barra. Sang menantu akhirnya hadir juga.“Bu.” Olivia menatap getir Amanda di sampingnya. “Tenang sayang. Penjaga akan mengusirnya!” Amanda menenangkan Olivia. Namun perasaannya tak tenang. Kenapa para penjaga tak ada yang menghalangi Barra Malik Virendra? Sedang apa mereka semua? Di belakang Barra, tampak Abraham Rawless juga masuk didampingi Jefri dan beberapa pengawalnya. Semua yang ada di ruangan itu semakin heboh, Abraham Rawless hadir? Ini berita luar biasa. Kamera langsung mengarah pada pria tua berjas rapi dengan tongkat di tangannya.“Papa??” Amanda terkejut, Ayahnya di bawa Barra ke acara ini?Barra semakin mendekat, tatapannya begitu nyalang pada Olivia yang semakin gugup. Barra tak sedikitpun melepaskan tatapan pria itu darinya semenjak baru masuk hingga sekarang. Amanda panik. Ke mana orang-orangnya? Barra tiba juga di depan Olivia yang ikut panik. Tak buang waktu, ia raih tubuh istrinya, digendong ala br
Mobil Barra tiba-tiba di sebuah rumah elite yang cukup jauh dari keramaian kota. Rumah yang telah ia persiapkan untuk menjadi tempat tinggalnya bersama Olivia dan anak-anak mereka nantinya. Di sanalah ia menempatkan Tuan Rawless selama ini, setelah menyelamatkan pria tua itu dari Margaretha. Ia lirik istrinya di samping. Olivia masih buang muka, tak sudi di menatap wajahnya. Tak menunggu lagi, Barra turun dari mobil lebih dulu setelah supir membukakan pintu. “Ayo turun, Olivia.” Ajaknya lembut setelah membukakan pintu mobil bagian Olivia duduk. “Aku gak mau. Ini bukan rumahku. Aku mau kembali ke rumah ibuku!” Olivia buang muka dari Barra, bersikeras tak ingin bersama suaminya itu. Barra diam menatap Olivia yang masih membencinya gara-gara Amanda yang selalu menyampaikan berita palsu tentang dirinya, tetapi menutupi kebenaran yang seharusnya diketahui Olivia. Tanpa butuh persetujuan istrinya itu, ia angkat tubuh Olivia, membawanya keluar dari mobil. Olivia terkejut, tak menyan
“Pak Barra.” Olivia berang, pria ini suka sekehendaknya saja. Tak peduli pada penolakannya.“Tatap mata saya, Olivia.” Pinta Barra.Olivia menolak. Ia menatap ke arah lain, jengah.Barra tak peduli. Ia tarik dagu Olivia penuh kelembutan, ingin istrinya itu menatap langsung padanya.“Jangan memaksa!” Olivia semakin kesal, Barra menangkup wajahnya dengan kedua telapak tangan pria itu.“Lihat saya.” paksa Barra membuat Olivia tak bisa memalingkan wajah ke arah lain. “Sekarang giliran saya menjelaskan semuanya.” Ucapnya serius.“Apa lagi yang harus dijelaskan? Ibuku udah menjelaskan semuanya.” Olivia masih bersikeras untuk menolak.“Tapi kamy belum mendengar dari mulut saya langsung.” balas Barra.Olivia diam, memang dirinya belum mendengar penjelasan dari versi Barra. Tapi dari penjelasan Amanda, bukankah sudah cukup? “Ya udah, kalau mau menjelaskan juga, silahkan.” Ucap Olivia, skeptis bisa percaya lagi.Barra melepaskan tangannya dari wajah Olivia, “Saya tidak pernah setuju bercerai d
“Aku gak kuat melihat kalian begituan, makanya aku langsung pergi tanpa menunjukkan diri di depan pintu. Rasanya sangat memalukan.” Ungkap Olivia membuat Barra serasa tertampar. “Saya berani bersumpah. Saya menolak Azalea! Saya menegurnya agar lebih menjaga sikap. Kalau saja kamu tidak langsung pergi waktu itu, kamu pasti tahu bagaimana penolakan saya terhadapnya.” Ujar Barra meluruskan kesalahpahaman ini. “Aku gak tau harus percaya atau tidak. Memang sebaiknya saat itu aku gak langsung pergi agar tau apa yang akan kalian lakukan berdua di dalam kamar. Tapi aku juga gak sanggup melihatnya kalau aja waktu itu anda dan dia benar-benar saling melepaskan kerinduan di kamar itu! Aku_umph!” Barra membungkam bibir Olivia dengan serangan bibirnya yang tiba-tiba. la berikan lumat*n-lumat*n lembut di sana, begitu merindukan rasa manisnya. Barra tak ingin istrinya merasa ragu terhadap kesetiannya. Olivia mematung. Suaminya terus mencumbui bibirnya penuh perasaan dengan mata terpejam, seakan
“Saya tidak sabar menemani kamu ke dokter kandungan.” Ungkap Barra terus terang. Seperti suami-suami lainnya, dirinya juga akan merasakan kebahagiaan serupa. Bisa mengunjungi Dokter kandungan untuk menemani istri. la ingin menjadi suami siaga. “Juga melihat detak jantung anak kita untuk pertama kalinya ya...” Olivia ikut antusias. Wajah Barra semakin berseri-seri, detak jantung? Itu artinya benar-benar ada kehidupan lain di rahim istrinya, anaknya. Rasanya masih sulit dipercaya, ini seperti mimpi saja. “Um, Pak Barra...” “Kenapa memanggil saya seperti itu Olivia!” Tegur Barra, sudah sejak tadi ia tak nyaman dengan cara Olivia memanggilnya. Olivia terdiam. Barra risih dipanggil 'Pak'. “Ada apa? Katakanlah...” Barra membelai kepala Olivia yang masih ditutupi hijab, belum berganti pakaian juga. “ini rumah siapa? Kenapa kita gak ke Penthouse aja?” “Ini rumah kita mulai sekarang. Kita tidak akan tinggal di Penthouse lagi. Lagipula, kalau saya bawa kamu ke sana, Ibu pasti aka
“Papa percaya sama dia?” Amanda tersenyum sinis. “Tentu!” “Hah, Papa memang begitu. Mudah percaya sama orang sampai-sampai dikhianati Laksmana!” Amanda mencibir Tuan Rawless. “Wahahaha... Kamu juga Manda. Mudah percaya sama Abian dan Helen, sampai-sampai ditusuk dari belakang. Kita memang Ayah dan Anak yang bodoh ya...” Balas Tuan Rawless tertawa. “Kenapa Papa tertawa? Ini bukan sesuatu yang lucu! Ini bodoh dan memalukan!” Gerutu Amanda, kesal. “ltulah sebabnya kita harus belajar dari masa lalu.” “Papa yang gak belajar, Manda justru belajar dari masa lalu agar tidak mempercayai siapapun lagi!” “Tetapi gak gini juga Manda. Masa kamu menghakimi menantu kamu sendiri? Padahal dia sangat tulus dan berjasa dalam hidup kamu. Menantu itu sama seperti anak, Manda. Kalau marah, ya marahin langsung. Kalau sayang, ya perlakukan seperti anak kandung sendiri.” Jelas Tuan Rawless. “Dia bukan menantu Manda, Pa! Manda memang berhutang budi sama dia, tapi akan Manda bayar hutang budi it
Vincent membukakan pintu mobil bagian belakang saat mobil telah diparkirkan di area pekarangan rumah. Tampak Amanda turun dari sana. la kemudian berjalan menghampiri Virendra dan Syafira yang berdiri di halaman sembari menatap padanya. “Amanda...” lirih Syafira, cukup terkejut mengetahui ternyata besannyalah tamu yang datang berkunjung. Seharusnya ini adalah sesuatu yang menggembirakan. Tetapi karena adanya permasalahan yang menimpa sang Putra, dirinya jadi was-was dengan kedatangan besannya tersebut. Sama halnya dengan Virendra. Perasaan pria itu seketika tak tenang, khawatir Amanda datang untuk membawa Olivia pergi karena percaya pada pemberitaan yang beredar di media sosial. Tak akan ia biarkan jika hal itu sampai terjadi. Syafira menyambut dengan ramah kedatangan Amanda, bersikap seolah semua baik-baik saja. “Manda... Selamat datang,” sapanya dengan membuka kedua tangan untuk memeluk Amanda. “Syafira, Rendra, aku udah janji mau berkunjung sore ini, kan?” Amanda tersenyum tip
“Elgard kan udah bilang sama Papa, Azalea itu gak akan bisa membantu kita,” Elgard menyayangkan Azalea yang terciduk telah menjebak Barra. “Papa gak menyangka aja kalau Barra Malik Virendra bisa menolak Azalea. Dia sudah berpenampilan menggoda, malah gak memakai apa-apa di depan Barra waktu mereka cuma berdua aja di kamar itu. Seharusnya sebagai laki-laki yang normal, Barra akan tergoda,” Haris masih terheran-heran. “Benarkah? Kuat juga imannya,” Elgard ikut tercengang. Ternyata tidak ada istilah cinta lama bersemi kembali bagi seorang Barra untuk Azalea. “Barusan Iagi, si Azalea nangis-nangis mengatakan kalau dia dibawa ke kantor polisi. Dia minta tolong supaya Papa cepat-cepat membebaskan dia dari sana,” ujar Haris cukup frustasi. “Kenapa dia bisa di kantor polisi? Barra melaporkannya?” Elgard terkejut. “Siapa Iagi kalau bukan Barra!” Haris menggerutu. “Dia tega, Pa? Azalea kan mantan istrinya?” “Itu yang bikin Papa semakin gak menyangka. Barra itu udah gak pake hati Iagi sam
“Silahkan melakukan pembelaan di kantor. Anda juga akan kami beri kesempatan untuk menghubungi pengacara yang Anda maksud tadi. Sekarang ikut!” titah petugas, tak mau membuang waktu.“Sebentar!!!” Azalea panik. Belum sempat Haris Nugroho mengirimkan bantuan untuk membawanya kabur dari tempat ini, sekarang malah dirinya dibawa ke kantor polisi. Kenapa nasibnya sesial ini, pikirnya?“Jefri... Mana Barra???!” teriak Azalea pada Jefri yang berdiri dengan wajah datar bersama Syifa dan Pak Andi. Pemilik penginapan itu juga membuat pelaporan untuk oknum pekerjanya yang sudah disuap Azalea sehingga merugikan citra usahanya yang sudah dibangun dengan baik selama belasan tahun.“Maaf, Bu Azalea. Pak Barra tidak sudi bertatap muka dengan Anda. Beliau hanya menitipkan pesan bahwa nanti Anda juga harus membuat klarifikasi atau pengakuan atas perbuatan Anda yang sudah mencoreng nama baik beliau,” ujar Jefri dengan sikap tenang.“Bajing*n Barra Malik Virendra!! Tega sekali dia memperlakukan mantan i
Rapat perusahaan hampir selesai sore ini. Tinggal arahan singkat dari Haris Nugroho selaku Komisaris. “Peningkatan saham cukup_” Haris tersentak saat ponselnya tiba-tiba bergetar di atas meja. Semua mata menatap ke arahnya, termasuk Clarissa dan Elgard yang duduk tak jauh darinya. Haris melirik Elgard yang juga menatap padanya dengan wajah penasaran. Berharap sang ayah mendapat kabar baik dari seseorang yang ditugaskan dalam misi mereka. “Um, sebentar. Saya terima telepon dulu,” Haris dengan wajah serius, bangkit dari duduknya, pergi keluar dari ruang rapat untuk menjawab panggilan masuk tersebut. Clarissa mengerutkan alis. Tak seperti ayahnya biasanya yang paling pantang menerima telepon saat rapat berlangsung. Ayahnya itu juga tampak antusias saat melihat siapa yang melakukan panggilan telepon di layar ponselnya. Siapa yang menelepon sebenarnya? Sementara itu, di luar ruangan rapat berdinding kaca. “Bagaimana bisa gagal???!!” Tanya Haris kaget, namun tetap memelankan suaranya.
“Kenapa aku harus bertanggung jawab? Aku tidak menyebut nama di sana. Netizen aja yang berspekulasi macam-macam!” ketus Azalea. Hatinya merasa senang akhirnya semua percaya jika dirinya masih menjalin hubungan dengan Barra. Jefri dan Syifa saling melempar pandang, memang Azalea tak menyebut nama Barra. Tetapi tingkah dan clue yang ia berikan, tertuju pada seorang Barra Malik Virendra. “Maafkan saya sekali lagi. Saya kecolongan dengan karyawan saya. Itu tukang bersih-bersih baru, sehingga saya tidak tau kalau dia terjerat judol sampai mau disuap seperti itu. Saya berjanji akan bertanggungjawab atas ketidaknyamanan ini,” sang pemilik penginapan merasa bersalah dan menyesal bukan main. “Tunggu saja Pak Barra memutuskan apa yang akan beliau lakukan. Bos saya itu sedang marah besar sekarang!” Jefri berwajah dingin, akan menunggu keputusan Barra. “Aku udah bisa pergi? Atau kalian memang mau aku di sini supaya semakin banyak orang yang melihat kalau ternyata aku juga ada di penginapan ya
“SINGKIRKAN TANGANMU!!” bentak Barra, berang. Azalea malah semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh Barra, ia kecupi punggung harum pria itu. “Sialan!” umpat Barra, rasa mual seketika menyerang. la cengkeram kedua pergelangan tangan Azalea yang memeluk pinggangnya dari belakang, dilepaskan dengan kasar dari tubuhnya. Auwwh... Tubuh Azalea terhuyung sejauh lebih kurang dua meter dari posisi Barra. Pria itu mendorongnya kasar, menolak pelukannya dengan penuh amarah. “Barra...?” Azalea dengan dada yang sesak, mendekati Barra kembali. Tega sekali mantan suaminya bersikap kasar terhadapnya. Rasanya tak bisa dipercaya perubahan Barra sedrastis ini. “Sekarang juga, KELUAR DARI KAMARKU!!” bentak Barra murka. Napasnya naik turun menahan amarah. Kalau bukan wanita, sudah habis Azalea ia tangani. Terlalu lancang. “Gak!” tolak Azalea, tak kalah keras. Barra dengan wajah geram, berjalan menuju pintu, akan membukanya untuk mengusir Azalea. “Barra, aku gak akan pergi! Aku ke sini untuk mem
Gerimis kecil membasahi dedaunan di sekitar penginapan kecil di desa itu, menciptakan suara gemercik yang menenangkan. Azalea, dengan langkah ringan, memainkan kunci kamar yang digenggamnya. Raut wajahnya terlihat tenang, namun ada kilatan licik yang sesekali tersirat. Dia mengenakan gaun merah yang ketat dan berenda, menonjolkan lekuk tubuhnya dengan sangat jelas, seolah-olah setiap jahitan di gaun itu sengaja dibuat untuk menarik perhatian. Kakinya berhenti tepat di depan Pintu sebuah kamar. Sesuai informasi yang didapatkannya, itu adalah kamar yang akan menjadi tempat peristirahatan Barra, mantan suaminya yang kini telah memiliki istri Iain. Azalea memasukkan kunci ke dalam lubang kunci, membuka Pintu dengan perasaan campur aduk, antara gugup dan bersemangat oleh rencana yang sudah ia susun dengan matang. Rencana dari seseorang yang mengajaknya bekerjasama lebih tepatnya, bertujuan untuk merusak hubungan Barra dengan istri pria itu, Olivia. Pintu terbuka. Azalea masuk ke dala
“Sayang...” Virendra dengan tatapan masih fokus ke layar ponsel di tangannya, memanggil Syafira yang baru saja dari dapur. “Ada apa?” Syafira terheran melihat wajah suaminya yang tegang menatap ponselnya sendiri. “Sini, cepat!” Titah Virendra mendesak. Syafira dengan langkah cepat, segera menghampiri Virendra. Ikut khawatir, “Kenapa, Sayang?” tanyanya penasaran. “Perempuan ini_” Virendra menunjukkan layar ponselnya pada Syafira agar istrinya itu melihat sendiri. “Azalea?“ Syafira mengerutkan kening, mencoba menyimak video singkat dari media sosial Azalea yang tersebar. “Dia...?” “Ya, dia sedang di Kota yang Barra datangi sekarang,” Jelas Virendra kesal. Sepasang suami-istri itu mendengarkan apa yang Azalea katakan di video tersebut. Keduanya saling melempar pandang dengan wajah tak nyaman. “Dia bilang sedang janjian untuk bertemu seseorang?” Syafira mengulang kembali apa yang Azalea katakan di Video tersebut. “Dia bilang itu adalah tempat yang pernah dia kunjungi untuk vacati
Syifa berlari secepat mungkin menghampiri posisi Barra. “Pak Barra...” teriaknya hingga berhenti tepat di hadapan sang Bos yang terpana. Napasnya terengah-engah dengan posisi tubuh membungkuk, tangannya memegang kedua lutut. Sekretaris Barra itu menghadang langkah sang CEO yang sedang menemani Tuan Lee dan Tuan Choi bersama seorang Director film ternama Indonesia yang telah ditunjuk, didampingi kepala desa di sana. Mereka tengah berjalan-jalan sembari berdiskusi dan melihat keindahan desa yang akan dinilai oleh tamu kehormatan tersebut, memastikan tempat ini pas dijadikan sebagai latar pembuatan film mereka. “Syif_“ tegur Jefri, tak enak pada CEO mereka dan dua tamu iłu. Syifa tersadar akan sikapnya. Baru ngeh jika yang ada bersama sang Bos adalah tamu dari Korea Selatan. “Oh, Joesonghamnida...” ucap Syifa menghadap Tuan Lee dan Tuan Choi sembari menundukkan kepala dan badannya, menunjukkan rasa penyesalannya yang dalam dan sungguh-sungguh meminta maaf atas ketidaknyamanan