“Jadi selama ini Nyonya tidak depresi seperti yang semua orang lihat? Siapa saja yang tau tentang ini?” tanya Vincent antusias. “Kamu dan sus Nia. Hanya kalian berdua yang boleh tau. Bahkan Azalea tidak tau. Aku tidak percaya padanya! Dan aku minta, kamu juga merahasiakan tentang ini sebelum pasti pertolongan yang datang!” Vincent terperangah, hingga akhirnya manggut-manggut, paham. Wanita di hadapannya ini cukup mengejutkan. Amanda sepertinya bukan wanita biasa yang lemah. “Kamu belum menjawab. Apakah benar Barra Malik Virendra suami putriku? Bukankah dia dan Azalea saling mencintai seperti yang Azalea katakan?” Tanya Amanda lagi, ingin mendengar penjelasan dari bibir Vincent. “Benar Nyonya. Pak Barra sendiri yang mengatakan pada saya bahwa dia adalah menantu Nyonya. Saya tadi sudah berhasil menghubunginya dan keberadaan kita sudah diketahui Pak Barra. Mungkin besok pagi-pagi sekali Pak Barra dan orang-orangnya sudah tiba di sini untuk menyelamatkan Nyonya. Itu pesan Pak Barra
“Jangan lakukan itu Laksmana! Aku tidak akan membiarkan kamu melakukannya!” Azalea menahan kepergian Amanda. “Bawa dia ke kamar!” Titah Laksmana pada anak buahnya yang lain. Ingin Azalea dibawa ke kamar mereka. “Aku tidak mauu... Aku tidak sudi kamu sentuh! Lepaskan!” Azalea meronta, tak mau dibawa. “Jangan melawan sayang. Tunggu aku di kamar ya. Aku pastikan kamu malam ini bahagia dan puas, sampai tak berdaya...” Laksmana tertawa terkekeh, ia akan lakukan pekerjaannya terhadap Amanda dulu. Barulah menikmati indahnya waktu bersama wanita cantik itu. DOORRR!! Semua terkejut mendengar suara tembakan dari arah luar bersahut-sahutan. “Apa itu??!” Laksmana tak kalah kaget hingga panik. “Bos, sepertinya ada yang menyerang tempat ini. Sekarang sedang terjadi baku tembak di luar...” Ucap salah seorang anak buah Laksmana setelah menerima pesan di HT dari pimpinan para penjaga di bagian depan villa. “ADA YANG MENYERANG??” Laksmana terperanjat, seakan tak bisa mempercayai apa yang te
“Ya Tuhan!!” Sus Nia mematung. Listrik tiba-tiba padam, kamar menjadi gelap tak ada cahaya. Sedang pagi belum juga memberikan penerangan. “Apa yang terjadi? Kenapa bisa begini??” Sus Nia menangis, bagaimana nasibnya setelah ini? Jika Amanda dan Vincent telah dibawa Barra, lalu dirinya? Mereka akan pergi dari pulau ini, sedang dirinya terkurung seorang diri di kamar Amanda di lantai paling atas yang tak akan mungkin lagi didatangi orang. Apalagi jika semua anak buah Laksmana telah habis, itu artinya pulau ini tak akan berpenghuni lagi. Dirinya akan mati terkurung di kamar ini seorang diri, tanpa ada yang tahu dan peduli. Sementara itu... “Hati-hati melangkah, Nyonya. Rumah ini gelap sekali...” Bisik Vincent. Sepertinya Laksmana memang sengaja mematikan listrik agar musuh di luar sana tak melihat mereka melakukan tembakan balasan. “Kita akan bersembunyi di mana, Vincent? Keluar dari villa ini mustahil. Sangat berbahaya untuk kita karena sedang terjadi baku tembak. Kita bisa ter
“Kalian mau apa!!!” Laksmana dengan cepat menodongkan senjatanya ke arah orang-orang Barra, namun Barra lebih dulu menembak tangannya hingga senjata api milik pria kemaruk itu terlepas dari genggamannya. “Aargh tanganku...” Erang Laksmana kesakitan. Tangannya mengeluarkan darah, rasa sakitnya luar biasa. Dua anak buah Barra dengan sigap langsung mengangkat paksa tubuh Laksmana, membaringkannya ke atas bed yang telah tersedia di sana. “JANGAN... JANGAN LAKUKAN INI PADAKU...!!!” Pekik Laksmana histeris, takut hingga tubuhnya bergetar hebat. Barra hanya dia memandangi dengan matanya yang tajam seakan menembus jantung Laksmana. Dirinya sudah tak sabar untuk membalas semua perbuatan pria licik itu selama ini. “Tuan Barra... Aku mohon, tolong lepaskan aku... Aku janji, aku tidak akan ganggu lagi Amanda maupun Olivia. Aku khilaf... Mereka adalah sepupu dan keponakanku, aku juga tak ada niat untuk menyakiti mereka. Ini hanya masalah keluarga kecil. Aku_” “DIAM!!” Bentak Barra, muak. “B
Azalea berjalan dari lorong dapur dengan menahan rasa sakit di perutnya, lukanya semakin perih terasa. Tangan kanannya yang berlumuran darah, menutup luka di perut. Sedang tangan kiri memegang p*stol yang ia ambil dari mayat anak buah Laksmana. Ia menaiki anak tangga menuju suara pekikan keras di lantai dua. Ia yakin itu adalah suara Laksmana yang disiksa Barra, cintanya. Sementara itu... Laksmana sudah tak berdaya, tubuhnya melemas. Barra benar-benar berhati kejam. Pemuda itu menyiksanya tanpa ampun seperti seorang psycho. Seluruh tulang-tulang di tubuhnya seakan remuk bahkan seperti hancur karena tak terasa lagi menopang tubuhnya. Pandangannya memudar, kepalanya sakit berdenyut kuat, jantungnya hampir saja pecah kalau tadi Barra tak menghentikan aliran listrik yang mengalir di tubuhnya. “Bagaimana? Sudah tidak kuat? Apa sebaiknya kita akhiri saja permainan ini secepatnya? Aku rasa kau sudah bisa berpindah ke alam lain. Aku juga tidak minat berlama-lama bermain-main denganmu
Olivia terus saja berjalan melewati Barra tanpa menyapa atau mengatakan sesuatu padanya. Istrinya itu melihatnya seolah sedang menggendong mesra Azalea. Olivia bisa salah paham. Jefri dan Vincent ikut tak enak hati. Ada aura yang tidak baik tengah terjadi saat ini. Olivia mendekati Amanda yang berdiri tertegun menatapnya. Ia berhenti tepat di hadapan sang ibu, lalu membuka kacamata hitamnya. Amanda terkejut saat melihat air mata Olivia bergenang di pelupuk mata indah putri cantiknya itu. “Bu...” Ucap Olivia dengan lirih, ia tengah menahan berbagai rasa di dadanya. Rasa haru, bahagia, rindu tak terbendung. Amanda mendekat, semakin maju melangkah. “Bu, ini ibu kan? Oliv ingat wajah ibu, sampai kapanpun Oliv gak akan pernah melupakan wajah cantik ibu... Walaupun kita terpisah sejak Oliv masih kecil, tapi wajah ibu selalu ada di hati Oliv...” Ungkap Olivia dengan air mata yang akhirnya lolos juga di pipi mulusnya. Olivia menangis. “Ini Oliv, Bu... Putri ibu satu-satunya... Ibu inga
PUNCAK-BOGOR, Pukul 17.30 WIB Olivia dan Amanda, beserta rombongan, sedang dalam perjalanan menggunakan mobil setelah dari Bandara. Tak berselang lama, mobil melaju perlahan memasuki area villa yang terletak di puncak yang indah. Olivia dan Amanda saling bertatapan satu sama lain dengan senyum hangat mereka. Tangan keduanya tak pernah lepas sedikitpun, selalu bergenggaman seolah takut terpisah lagi. Saat mobil berhenti di depan sebuah villa, tatapan mereka terpaku pada pemandangan indah yang membentang di depan mata. Villa yang terletak di puncak bukit itu, tampak bagus dan teduh dengan udara yang segar. Dari jauh, terlihat kabut tipis menyelimuti kawasan itu, memberikan kesan damai sekaligus. Olivia tersenyum, ia dan Amanda akan seharian menikmati indahnya tempat ini dengan duduk di sana. “Nak, jadi kita akan tinggal di puncak?” tanya Amanda berbinar. Senyumnya tak pernah memudar sejak tadi. “Iya, Bu. Untuk sementara waktu, Olivia pengen menghabiskan waktu bersama ibu di te
Malam itu langit cerah dan bintang-bintang bersinar terang, seolah turut merayakan kebahagiaan yang dirasakan Olivia dan ibunya. Sus Nia, Amal, Vincent dan juga Adnan putranya, tak lupa Rendi dan Tomi yang mulai sekarang dipekerjakan sebagai bodyguard Olivia, ikut bercengkerama seru diiringi gelak tawa. Di halaman villa puncak yang luas, mereka semua duduk bersama di sekeliling meja yang telah dihias cantik. Olivia duduk berdampingan dengan Amanda, sang ibu. Berhadap-hadapan dengan yang lain. Api unggun yang menyala di dekat mereka menghangatkan suasana, menambah keakraban dalam kebersamaan. Semua orang tertawa lepas dan bercanda, menikmati makan malam yang lezat sambil bercerita tentang kisah-kisah masa lalu yang mengharukan dan lucu. Amanda tersenyum melihat putri semata wayangnya ternyata telah tumbuh dewasa dan secantik ini. Ia bangga sekali. Matanya acap kali terfokus pada wajah Olivia yang banyak tersenyum, benar-benar cantik paripurna. Kagumnya ia. Mereka menikm
Vincent membukakan pintu mobil bagian belakang saat mobil telah diparkirkan di area pekarangan rumah. Tampak Amanda turun dari sana. la kemudian berjalan menghampiri Virendra dan Syafira yang berdiri di halaman sembari menatap padanya. “Amanda...” lirih Syafira, cukup terkejut mengetahui ternyata besannyalah tamu yang datang berkunjung. Seharusnya ini adalah sesuatu yang menggembirakan. Tetapi karena adanya permasalahan yang menimpa sang Putra, dirinya jadi was-was dengan kedatangan besannya tersebut. Sama halnya dengan Virendra. Perasaan pria itu seketika tak tenang, khawatir Amanda datang untuk membawa Olivia pergi karena percaya pada pemberitaan yang beredar di media sosial. Tak akan ia biarkan jika hal itu sampai terjadi. Syafira menyambut dengan ramah kedatangan Amanda, bersikap seolah semua baik-baik saja. “Manda... Selamat datang,” sapanya dengan membuka kedua tangan untuk memeluk Amanda. “Syafira, Rendra, aku udah janji mau berkunjung sore ini, kan?” Amanda tersenyum tip
“Elgard kan udah bilang sama Papa, Azalea itu gak akan bisa membantu kita,” Elgard menyayangkan Azalea yang terciduk telah menjebak Barra. “Papa gak menyangka aja kalau Barra Malik Virendra bisa menolak Azalea. Dia sudah berpenampilan menggoda, malah gak memakai apa-apa di depan Barra waktu mereka cuma berdua aja di kamar itu. Seharusnya sebagai laki-laki yang normal, Barra akan tergoda,” Haris masih terheran-heran. “Benarkah? Kuat juga imannya,” Elgard ikut tercengang. Ternyata tidak ada istilah cinta lama bersemi kembali bagi seorang Barra untuk Azalea. “Barusan Iagi, si Azalea nangis-nangis mengatakan kalau dia dibawa ke kantor polisi. Dia minta tolong supaya Papa cepat-cepat membebaskan dia dari sana,” ujar Haris cukup frustasi. “Kenapa dia bisa di kantor polisi? Barra melaporkannya?” Elgard terkejut. “Siapa Iagi kalau bukan Barra!” Haris menggerutu. “Dia tega, Pa? Azalea kan mantan istrinya?” “Itu yang bikin Papa semakin gak menyangka. Barra itu udah gak pake hati Iagi sam
“Silahkan melakukan pembelaan di kantor. Anda juga akan kami beri kesempatan untuk menghubungi pengacara yang Anda maksud tadi. Sekarang ikut!” titah petugas, tak mau membuang waktu.“Sebentar!!!” Azalea panik. Belum sempat Haris Nugroho mengirimkan bantuan untuk membawanya kabur dari tempat ini, sekarang malah dirinya dibawa ke kantor polisi. Kenapa nasibnya sesial ini, pikirnya?“Jefri... Mana Barra???!” teriak Azalea pada Jefri yang berdiri dengan wajah datar bersama Syifa dan Pak Andi. Pemilik penginapan itu juga membuat pelaporan untuk oknum pekerjanya yang sudah disuap Azalea sehingga merugikan citra usahanya yang sudah dibangun dengan baik selama belasan tahun.“Maaf, Bu Azalea. Pak Barra tidak sudi bertatap muka dengan Anda. Beliau hanya menitipkan pesan bahwa nanti Anda juga harus membuat klarifikasi atau pengakuan atas perbuatan Anda yang sudah mencoreng nama baik beliau,” ujar Jefri dengan sikap tenang.“Bajing*n Barra Malik Virendra!! Tega sekali dia memperlakukan mantan i
Rapat perusahaan hampir selesai sore ini. Tinggal arahan singkat dari Haris Nugroho selaku Komisaris. “Peningkatan saham cukup_” Haris tersentak saat ponselnya tiba-tiba bergetar di atas meja. Semua mata menatap ke arahnya, termasuk Clarissa dan Elgard yang duduk tak jauh darinya. Haris melirik Elgard yang juga menatap padanya dengan wajah penasaran. Berharap sang ayah mendapat kabar baik dari seseorang yang ditugaskan dalam misi mereka. “Um, sebentar. Saya terima telepon dulu,” Haris dengan wajah serius, bangkit dari duduknya, pergi keluar dari ruang rapat untuk menjawab panggilan masuk tersebut. Clarissa mengerutkan alis. Tak seperti ayahnya biasanya yang paling pantang menerima telepon saat rapat berlangsung. Ayahnya itu juga tampak antusias saat melihat siapa yang melakukan panggilan telepon di layar ponselnya. Siapa yang menelepon sebenarnya? Sementara itu, di luar ruangan rapat berdinding kaca. “Bagaimana bisa gagal???!!” Tanya Haris kaget, namun tetap memelankan suaranya.
“Kenapa aku harus bertanggung jawab? Aku tidak menyebut nama di sana. Netizen aja yang berspekulasi macam-macam!” ketus Azalea. Hatinya merasa senang akhirnya semua percaya jika dirinya masih menjalin hubungan dengan Barra. Jefri dan Syifa saling melempar pandang, memang Azalea tak menyebut nama Barra. Tetapi tingkah dan clue yang ia berikan, tertuju pada seorang Barra Malik Virendra. “Maafkan saya sekali lagi. Saya kecolongan dengan karyawan saya. Itu tukang bersih-bersih baru, sehingga saya tidak tau kalau dia terjerat judol sampai mau disuap seperti itu. Saya berjanji akan bertanggungjawab atas ketidaknyamanan ini,” sang pemilik penginapan merasa bersalah dan menyesal bukan main. “Tunggu saja Pak Barra memutuskan apa yang akan beliau lakukan. Bos saya itu sedang marah besar sekarang!” Jefri berwajah dingin, akan menunggu keputusan Barra. “Aku udah bisa pergi? Atau kalian memang mau aku di sini supaya semakin banyak orang yang melihat kalau ternyata aku juga ada di penginapan ya
“SINGKIRKAN TANGANMU!!” bentak Barra, berang. Azalea malah semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh Barra, ia kecupi punggung harum pria itu. “Sialan!” umpat Barra, rasa mual seketika menyerang. la cengkeram kedua pergelangan tangan Azalea yang memeluk pinggangnya dari belakang, dilepaskan dengan kasar dari tubuhnya. Auwwh... Tubuh Azalea terhuyung sejauh lebih kurang dua meter dari posisi Barra. Pria itu mendorongnya kasar, menolak pelukannya dengan penuh amarah. “Barra...?” Azalea dengan dada yang sesak, mendekati Barra kembali. Tega sekali mantan suaminya bersikap kasar terhadapnya. Rasanya tak bisa dipercaya perubahan Barra sedrastis ini. “Sekarang juga, KELUAR DARI KAMARKU!!” bentak Barra murka. Napasnya naik turun menahan amarah. Kalau bukan wanita, sudah habis Azalea ia tangani. Terlalu lancang. “Gak!” tolak Azalea, tak kalah keras. Barra dengan wajah geram, berjalan menuju pintu, akan membukanya untuk mengusir Azalea. “Barra, aku gak akan pergi! Aku ke sini untuk mem
Gerimis kecil membasahi dedaunan di sekitar penginapan kecil di desa itu, menciptakan suara gemercik yang menenangkan. Azalea, dengan langkah ringan, memainkan kunci kamar yang digenggamnya. Raut wajahnya terlihat tenang, namun ada kilatan licik yang sesekali tersirat. Dia mengenakan gaun merah yang ketat dan berenda, menonjolkan lekuk tubuhnya dengan sangat jelas, seolah-olah setiap jahitan di gaun itu sengaja dibuat untuk menarik perhatian. Kakinya berhenti tepat di depan Pintu sebuah kamar. Sesuai informasi yang didapatkannya, itu adalah kamar yang akan menjadi tempat peristirahatan Barra, mantan suaminya yang kini telah memiliki istri Iain. Azalea memasukkan kunci ke dalam lubang kunci, membuka Pintu dengan perasaan campur aduk, antara gugup dan bersemangat oleh rencana yang sudah ia susun dengan matang. Rencana dari seseorang yang mengajaknya bekerjasama lebih tepatnya, bertujuan untuk merusak hubungan Barra dengan istri pria itu, Olivia. Pintu terbuka. Azalea masuk ke dala
“Sayang...” Virendra dengan tatapan masih fokus ke layar ponsel di tangannya, memanggil Syafira yang baru saja dari dapur. “Ada apa?” Syafira terheran melihat wajah suaminya yang tegang menatap ponselnya sendiri. “Sini, cepat!” Titah Virendra mendesak. Syafira dengan langkah cepat, segera menghampiri Virendra. Ikut khawatir, “Kenapa, Sayang?” tanyanya penasaran. “Perempuan ini_” Virendra menunjukkan layar ponselnya pada Syafira agar istrinya itu melihat sendiri. “Azalea?“ Syafira mengerutkan kening, mencoba menyimak video singkat dari media sosial Azalea yang tersebar. “Dia...?” “Ya, dia sedang di Kota yang Barra datangi sekarang,” Jelas Virendra kesal. Sepasang suami-istri itu mendengarkan apa yang Azalea katakan di video tersebut. Keduanya saling melempar pandang dengan wajah tak nyaman. “Dia bilang sedang janjian untuk bertemu seseorang?” Syafira mengulang kembali apa yang Azalea katakan di Video tersebut. “Dia bilang itu adalah tempat yang pernah dia kunjungi untuk vacati
Syifa berlari secepat mungkin menghampiri posisi Barra. “Pak Barra...” teriaknya hingga berhenti tepat di hadapan sang Bos yang terpana. Napasnya terengah-engah dengan posisi tubuh membungkuk, tangannya memegang kedua lutut. Sekretaris Barra itu menghadang langkah sang CEO yang sedang menemani Tuan Lee dan Tuan Choi bersama seorang Director film ternama Indonesia yang telah ditunjuk, didampingi kepala desa di sana. Mereka tengah berjalan-jalan sembari berdiskusi dan melihat keindahan desa yang akan dinilai oleh tamu kehormatan tersebut, memastikan tempat ini pas dijadikan sebagai latar pembuatan film mereka. “Syif_“ tegur Jefri, tak enak pada CEO mereka dan dua tamu iłu. Syifa tersadar akan sikapnya. Baru ngeh jika yang ada bersama sang Bos adalah tamu dari Korea Selatan. “Oh, Joesonghamnida...” ucap Syifa menghadap Tuan Lee dan Tuan Choi sembari menundukkan kepala dan badannya, menunjukkan rasa penyesalannya yang dalam dan sungguh-sungguh meminta maaf atas ketidaknyamanan