Share

Bab 1881

Author: Awan
last update Last Updated: 2024-07-02 18:00:01
Pukulan itu mendarat telak di lambung Chermiko hingga membuat dia tersedak dan mundur. Dia menunjuk Brandon seperti hendak mengatakan sesuatu, tetapi hanya satu kata singkat yang terucap keluar dari mulutya.

“Sial*n!”

“Sekarang aku masih belum tahu duduk perkaranya. Entah itu virus, penyakit menular, atau apa pun itu …. Kalian yang belajar kedokteran saja nggak tahu, apalagi aku? Aku cuma bisa mencari tahu apakah yang terjadi di badan kalian itu anomali atau bukan, dan apakah ada bahaya yang tersembunyi. Jadi kamu jangan terlalu banyak berpikir yang aneh-aneh,” jelas Brandon. Untuk sementara dia masih tidak bisa menceritakan tentang cacing itu sebelum Juan bangun. Brandon juga tidak tahu apa sebenarnya “cacing” itu. Dengan sifat Chermiko yang emosian, bisa saja dia malah akan langsung membuat kekacauan begitu mengetahui tentang cacing tersebut.

Tak lama kemudian, entah karena keributan yang terjadi akibat mereka berdua, atau mungkin saja memang sudah waktunya, Juan terbangun dan mengel
Locked Chapter
Continue to read this book on the APP

Related chapters

  • Istri Kesayangan CEO   Bab 1882

    Juan memejamkan mata dan mengangguk kecil sebagai bentuk persetujuannya dengan ucapan Brandon. Lantas Chermiko pun tidak lagi membahas tentang itu. Tadi dia hanya terbawa emosi, tidak sabar untuk segera mencari cara menyelesaikan kekacauan ini. Toh ini semua juga terjadi gara-gara dia, karena itulah dia merasa sangat bersalah.“Ini bukan salah kamu,” kata Juan seraya menghela napasnya, seolah dia tahu apa yang ada di isi kepalanya Chermiko. “Chermiko … ambilkan jarumku.”Mendengar perintah dari kakeknya, Chermiko segera menganggukkan kepala dan menjawab, “Oh, oke!”Chermiko berharap dia bisa berguna meski hanya sedikit saja bagi kakeknya. Apa pun yang Juan perintahkan, akan Chermiko lakukan dengan sepenuh hati. Apa pun rela Chermiko lakukan selama kakeknya bisa terus hidup sehat.Melihat Chermio berlari kegirangan keluar kamar seperti anak kecil, barulah Juan menolehkan kepalanya ke arah Brandon. Seketika itu Brandon tahu Juan akan mengatakan sesuatu kepadanya.“Cacingnya ….”“Aku suda

    Last Updated : 2024-07-02
  • Istri Kesayangan CEO   Bab 1883

    “Tang!”Barang yang Chermiko bawa terlepas dari genggamannya dan terjatuh ke lantai, menimbulkan suara yang cukup nyaring.“.…”Tak disangka Chermiko begitu cepat sudah kembali. Biasanya ketika meminta dia melakukan sesuatu, dia selalu lamban dan bermalas-malasan.“Kakek … jadi aku induknya?!”Chermiko merasa sangat kesulitan untuk menerima fakta itu. Selama ini dia memang curiga kalau dialah sumber penyakitnya, karena dialah rumah kakeknya menjadi seperti sekarang ini. Namun mendengar itu langsung dari Juan tetap saja bukanlah hal yang mudah untuk dia terima. Jangankan itu, mendengar kata “induk” saja sudah sangat aneh bagi Chermiko.“Bukan kamu, tapi maksudnya apa yang ada di dalam badan kamu,” ujar Juan menjelaskan, tetapi itu justru malah membuat semuanya terdengar makin aneh.“Yang di dalam badanku ini ….”Chermiko melihat tubuhnya sendiri, dia tidak menemukan apa-apa di balik pakaiannya. Tanpa pikir panjang dia pun langsung membuka kancing kemeja, memperlihatkan tubuh lemahnya. B

    Last Updated : 2024-07-03
  • Istri Kesayangan CEO   Bab 1884

    Organisasi misterius itu berasal dari luar negeri, dan yang mereka teliti juga selalu saja mengarah ke virus. Kalaupun di kemudian hari mereka melakukan penelitian terhadap tanaman herbal atau tanaman beracun lainnya, itu baru mereka lakukan setelah tiba di sini. Mungkinkah di dalam organisasi itu juga ada orang dari suku Maset yang terlibat?“Soal itu aku juga kurang tahu,” jawab Juan menggeleng. “Tapi yang kamu bilang tadi nggak salah. Memang ada cara untuk melawannya.”“Aku juga tahu itu,” sahut Chermiko yang baru saja keluar dari kamar mandi. “Aku sempat baca dari buku-buku yang ada di bawah, tapi pertama kita harus tahu dulu cacing apa ini.”Namun hanya dengan sekadar menyebut kata “cacing”saja membuat Chermiko mual, lagi-lagi dia pergi ke kamar mandi untuk muntah.“.…”“Benar apa kata dia,” sahut Juan. Tak sia-sia Chermiko membaca buku itu, setidaknya dia masih belajar sedikit tentang hal baru. Mungkin memang selama ini Juan terlalu meremehkan dia.“Kalau begitu, gimana caranya k

    Last Updated : 2024-07-03
  • Istri Kesayangan CEO   Bab 1885

    “Seharusnya nggak sampai separah itu?” ucap Juan.“Seharusnya?”“Aku juga nggak begitu banyak tahu tentang cacing parasit. Semua yang aku tahu cuma sebatas dari catatan kuno. Pada kenyataannya aku belum pernah berurusan dengan mereka secara langsung, makanya aku cuma bisa bilang ‘seharusnya’.”Masalah sudah sampai sejauh ini, tak ada salahnya sedikit berhati-hati. Chermiko pun mengangguk, dia dapat memahami kewaspadaan kakeknya.“Kalau begitu … sebenarnya jalur penyebarannya itu dari mana?” tanya Chermiko. Selesai bertanya, dia spontan menatap Brandon karena mereka sebelumnya sempat bersentuhan. Kalau penyebarannya itu melalui sentuhan fisik, maka orang yang telah tertular pasti sangat banyak.“Dugaanku adalah melalui darah.”“Darah?”“Begitu kamu pulang, banyak orang yang bersentuhan dengan darahmu, tapi untuk sekarang ini cuma aku dan pelayan di rumah saja yang sudah tertular. Selama beberapa hari terakhir kamu cuma di rumah ini saja. Kalau benar penyebarannya melalui sentuhan, yang

    Last Updated : 2024-07-04
  • Istri Kesayangan CEO   Bab 1886

    Juan berusaha untuk mengingat dan perlahan menggeleng, “Sepertinya nggak.”Meski terkadang sulit untuk diatur, Juan selalu melindungi Kenzi dengan baik karena takut dia akan terluka. Kenzi selalu diingatkan untuk tidak melakukan segala hal yang berbahaya, dengan begitu kemungkinan dia terkena bahaya juga otomatis mengecil. Jika diingat-ingat lagi, seharusnya Kenzi tidak pernah menyentuh darah Chermiko.Brandon merasa lega mendengar itu, tetapi masih ada satu hal yang dia tidak mengerti, maka dia pun bertanya, “Tapi … Kenzi juga demam.”“Demam?! Apa ada gejala lain selain itu?” tanya Juan.“Nggak ada, cuma demam saja sejauh ini. Nafsu makannya juga masih bagus. Tadi dia baru saja makan bubur sama jagung sebelum tidur. Tadi aku juga sudah ukur lagi, demamnya sudah turun.”“Ah, baguslah, untung saja ….”“Jadi, kurasa seharusnya Kenzi nggak tertular, ‘kan?” tanya Brandon. Jauh di lubuk hati Brandon sangat berharap demikian, tetapi dia juga masih tidak begitu yakin.“Nggak, pasti nggak tert

    Last Updated : 2024-07-04
  • Istri Kesayangan CEO   Bab 1887

    Seperti apa pun Brandon meyakinan dirinya sendiri, perasaan khawatir itu sangat sulit untuk dia hindari. Hatinya terasa berat seolah-olah sebentar lagi akan terjatuh. Dia tidak berani membayangkan apabila Yuna benar-benar terinfeksi oleh cacing parasit itu. Yuna sedang hamil dan fisiknya tentu saja tidak akan kuat untuk melawan!Brandon coba untuk menghubungi Yuna beberapa kali tetapi tidak terjawab, biasanya dia tidak akan mengganggu lagi, membiarkan Yuna membalasnya ketika ada waktu kosong nanti. Namun sekarang Brandon tidak sesabar itu dan terus meneleponnya, sampai ….Sampai akhirnya panggilannya itu terjawab. Suara yang tak asing di telinga menggema, dan seketika itu Brandon merasa lemas terkulai bagaikan balon yang kehilangan udaranya.“Halo? Ada apa?” tanya Yuna. Dia baru saja kembali ke kamarnya untuk beristirahat dan mendapati ponselnya terus berdering tiada henti. Dia jadi makin heran saat melihat nomor yang menghubunginya adalah Brandon, karena biasanya dia tidak akan seterg

    Last Updated : 2024-07-05
  • Istri Kesayangan CEO   Bab 1888

    “Hahaha ….”Mendengar jawaban Yuna yang begitu mantap meski hanya untuk menghibur dirinya sudah cukup untuk membuat Brandon merasa jauh lebih tenang. Lantas dia pun menjawab Yuna dengan kata-kata yang sama, “Aku tahu tubuhku sendiri. Aku masih sehat-sehat saja.”“.…”“Ngomong-ngomong, gimana pekerjaan kamu di sana?”“Lumayan lancar,” jawab Yuna seraya membuka ikat rambut dan merilekskan leher. “ Setelah tugasku di sini selesai, aku bisa pulang. Kalian … juga hati-hati, ya.”Mendengar jawaban Yuna, Brandon tahu bahwa setiap tindakan dan ucapannya masih diawasi dengan sangat ketat. Terkadang memang berbicara itu bukan cara yang aman untuk berkomunikasi di bawah situasi seperti itu, maka itu mereka juga tidak terlalu banyak bicara.“Di sini ada aku, kamu nggak perlu khawatir. Kalau kamu merasa ada nggak enak badan sedikit saja, langsung kasih tahu aku. Tapi kalau kurasa, seharusnya kamu belum tertular.”“Hmm?”“Kalau kamu juga tertular, logikanya semua orang yang ada di sana juga pasti ik

    Last Updated : 2024-07-05
  • Istri Kesayangan CEO   Bab 1889

    “Kamu nggak bisa begitu!” Brandon menghardik seraya menariknya dengan kuat sehingga membuatnya tersandung.“Kita masih belum tahu seberapa bahayanya penyakit ini. Bahkan kakekmu saja masih belum bisa memastikan. Kalau kamu bertindak gegabah dengan pergi keluar sembarangan, yang ada kamu malah membahayakan semua orang. Justru kamu yang harus tetap di rumah ini karena kamu sumber penyakitnya. Orang lain, termasuk pelayan di rumah kamu, belum tentu mereka tertular. Mungkin saja mereka cuma terkena gejala penyakit lain. Kalau kamu jemput orang lain, justru kamu malah melakukan apa yang mereka mau.”Kata-kata Brandon akhirnya berhasil membuat Chermiko sadar akan bahayanya, seolah sebuah ember berisi air baru saja ditumpahkan ke atas kepalanya.“Jadi … kita harus gimana?” tanya Chermiko. Dia sangat cemas membayangkan kedua orang tua serta kakeknya kesakitan, apalagi sakit itu gara-gara dia sendiri yang membawanya. Perasaan marah dan rasa bersalah bercampur aduk, membuatnya bertanya-tanya men

    Last Updated : 2024-07-06

Latest chapter

  • Istri Kesayangan CEO   Bab 2284

    Selagi Rainie sedang berpikir, Fred masuk ke kamarnya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.“Hari ini kamu sudah hubungi dia?”“Sudah, baru saja. Lokasinya sesuai. Aku juga sudah video call, nggak masalah,” jawab Rainie.Dia tidak berani mengatakan kepada Fred kalau dia memiliki kecurigaan terhadap Ross. Dia tidak mau Fred tahu kalau karyanya belum sempurna.“Ok,e coba hubungi dia lagi!”“Eh?”“Kenapa, ada masalah?”“Nggak, tapi tadi baru saja aku telepon. Apa … ada pertanyaan yang mau disampaikan?”“Nggak ada, aku cuma mau ngobrol langsung sama dia sebentar. Nggak boleh?”“... oh, tentu saja boleh.”“Kalau begitu tunggu apa lagi ? Cepat telepon dia lagi!”Rainie pun kembali menghubungi nomor Ross sembari memegang erat botol birnya, berharap semua berjalan lancar sesuai rencana. Telepon sempat berdering beberapa saat sampai akhirnya diangkat oleh ross. Di video call tersebut Ross memakai topi dan kacamata sehingga separuh wajahnya tertutup oleh bayangan objek di sekitarnya.“Tadi kenap

  • Istri Kesayangan CEO   Bab 2283

    Di malam hari, Ross mengirimkan lokasi GPS-nya kepada Rainie. Tentu saja lokasi itu sudah dipalsukan sesuai dengan rencana perjalanannya semula, mengubah alamat IP, dan mengirimkannya kepada Rainie. Tak lama Rainie menghubunginya dengan video call.Untungnya Brandon sudah bersiaga dengan menyiapkan latar yang meyakinan, jadi ketika Rainie menelepon, Ross hanya perlu berdiri di depan latar dan menerima panggilan Rainie.Ketika panggilan tersambung, Rainie langsung memperhatikan apa yang ada di belakang Ross. “Pangeran, di belakang sana banyak pepohonan lebat. Sudah sampai di pinggir kota?”“Tempatnya agak jauh dan terpencil. Supaya menghindari pengawasan dari pihak berwenang, aku nggak bisa lewat jalan besar,” jawab Ross, kemudian dia gantian bertanya, “Urusan di kedutaan lancar? Fred bisa menanganinya?”“Pak Fred pasti bisa, maaf jadi merepotkan Pangeran,” jawab Rainie.“Nggak apa-apa! Memang ini sudah kewajibanku menjaga keamanan mamaku sendiri.”“Baiklah kalau begitu, Pangeran. Selam

  • Istri Kesayangan CEO   Bab 2282

    Yuna memiringkan kepalanya sedikit sembari menarik tangan Juan, lalu menatap wajahnya dan berkata dengan penuh amarah, “Kamu dipukuli?!”“Nggak apa-apa!”“Apanya nggak apa-apa! Kamu dipukuli mereka?!”Yuna spontan mengubah posisi duduk, tetapi dia baru saja sadar dari koma dan tubuhnya masih lemah, alhasil napasnya jadi sedikit terengah-engah.“Siapa? Fred?!”“Kamu kira aku nggak bisa menangkis? Kalau aku serius, dia nggak bakal bisa mengenaiku sedikit pun!”“Beraninya dia memukulmu?!”Jelas sekali ucapan Juan sama sekali tidak digubris oleh Yuna. Dia sudah terlanjur diselimuti oleh kemarahan melihat gurunya disakiti oleh orang lain. Mulut Yuna memang sering kali kasar ketika sedang berbicara dengan Juan, tetapi jauh di lubuk hati dia sangat menghormati gurunya. Waktu Yuna berguru dengan Juan memang tidak terlalu lama dan putus nyambung, tetapi dia sudah belajar banyak sekali darinya. Bagi Yuna, Juan adalah senior yang sangat berjasa dalam hidupnya. Yang lebih membuat Yuna marah, di us

  • Istri Kesayangan CEO   Bab 2281

    “Hus! Amit-amit! Siapa yang ajarin kamu ngomong begitu! Yuna yang aku kenal nggak begini, sejak kapan kamu jadi sentimental!”“Kamu sendiri juga biasanya nggak pernah percaya sama yang begituan. Jadi, kenapa kamu mau datang ke sini?”“Aku … cuma mau lihat saja apa yang terjadi di sini!”Yuna tidak membalas sanggahan Juan dan hanya tersenyum, sampai-sampai membuat Juan panik dan menyangkal, “Oke, oke. Aku datang untuk lihat keadaan kamu, puas?! Kamu nggak tahunya pasti punya tenaga untuk bikin aku marah. Kayaknya kamu sudah sehat, ya.”“Iya, aku sudah mendingan!” kata Yuna, dia lalu hendak mencabut jarum-jarum yang masih tertancap di badannya.”“Eh, jangan bergerak!” seru Juan, emudian dia mencabut jarumnya satu per satu sesuai dengan urutan dia menusuk sambil menggerutu, “Aku dengar kamu tiba-tiba koma. Bikin aku takut saja. Aku juga dengar dia bilang detak jantung kamu hampir berhenti. Biar kutebak, kamu …. Ah, biarlah. Kamu ini, nggak pernah peduli sama badan sendiri. Bisa-bisanya ka

  • Istri Kesayangan CEO   Bab 2280

    “Tahan dia, dia masih bisa berguna,” kata Fred.“Aku nggak akan pergi dari kamar ini!” Tiba-tiba Juan memberontak dan akhirnya melawan perintah Fred. “Kalau kamu mau aku angkat kaki dari kamar ini, lebih baik bunuh aku saja sekalian!”“Kamu pikir aku nggak berani?”“Terserah kamu saja!”Juan langsung duduk bersila di lantai dan tangannya memeluk ujung kasur dengan erat. Mau diapa-apakan oleh mereka pun Juan tidak akan mau berpindah tempat. Jangan remehkan tubuhnya yang sudah menciut akibat usia, walau begitu pun tenaganya masih lumayan besar sampai ditarik oleh banyak orang pun dia tetap tak berpindah. Namun keributan itu membuat Yuna merasa terganggu.“Pak Tua … hentikan!”Fred melompat kegirangan akhirnya mendengar Yuna sudah bisa bicara. Dia segera meminta mereka untuk berhenti dan berjalan menghampiri Yuna.“Akhirnya kamu bangun juga. Mau ngomong juga kamu sekarang? Yuna, kamu sudah keterlaluan! Kamu pikir dengan bunuh diri, kamu berhasil merusak rencana besarku?”“Aku nggak ngerti

  • Istri Kesayangan CEO   Bab 2279

    Namun Yuna masih sangat lemah meski jantungnya sudah kembali berdenyut. Dia kelihatan sangat lesu seperti orang yang sedang mengalami depresi berat. Fred pun menyadari itu, dan dia langsung memberi perintah kepada para dokternya, “Hey, cepat periksa dia!”Para dokter itu pun berbondong-bondong datang dan melakukan berbagai macam pemeriksaan, lalu mereka menyimpulkan, “Pak Fred, untuk saat ini dia baik-baik saja. Nggak ada kondisi yang membahayakan, tapi dia masih sangat lemah dan butuh waktu istirahat.”“Perlu berapa lama? Apa dia masih bisa pulih seperti semula?”“Itu … kurang lebih minimal setengah bulan.”“Setengah bulan? Lama banget!”Setengah bulan terlalu lama dan malah mengganggu pekerjaannya. Fred tidak punya cukup kesabaran untuk menunggu selama itu. Namun sekarang tidak ada jalan lain yang lebih baik, mau tidak mau dia harus bersabar. Dia lantas berbalik dan melihat ke arah Juan. Dia mendekatinya dan menarik kerah bajunya seraya berkata, “Hey, tua banga, aku menganggap kamu s

  • Istri Kesayangan CEO   Bab 2278

    Anak buahnya yang berjaga di luar ruangan juga langsung masuk dan menghentikan Juan begitu mereka mendapat arahan dari Fred. Fred sendiri juga langsung berlari ke kamar itu secepat mungkin, tetapi sayang dia terlambat.Monitor ICU mengeluarkan bunyi nyaring dan garis detak jantung Yuna juga sudah menjadi garis lurus.“Nggak, nggak!” Fred langsung berlari memegang bahu Yuna dan menggoyangkan tubuhnya.“Kamu belum boleh mati! Kamu nggak boleh mati tanpa perintah dariku!”Fred berteriak-teriak seperti orang gila, dan tim medisnya juga masuk melakukan resusitasi jantung, tetapi garis horizontal di monitor ICU tetap tidak berubah, yang berarti Yuna sudah mati.“Nggak mungkin ….”Fred berbalik menatap Juan yang sudah ditahan oleh pengawal dan membentaknya, “Kenapa? Kenapa?! Dia itu muridmu, murid kesayanganmu! Kamu datang ke sini untuk menolong dia, bukan membunuh dia!”Di tengah gempuran emosi yang dahsyat, Fred melayangkan pukulan telak di wajah Juan sampai Juan mengeluarkan darah segar da

  • Istri Kesayangan CEO   Bab 2277

    Juan meletakkan jarinya di atas bagian pergelangan tangan Yuna dan menekannya sedikit. Kedua matanya sedikit tertutup seperti orang yang hendak tidur, tetapi dia hanya sedang menenangkan diri agar bisa fokus merasakan setiap dentuman pembuluh darah yang melewati tangan.Tak lama berselang, Juan mengangkat tangannya dan mendekat untuk menatap wajah Yuna lebih dekat, kemudian menaruh jarinya di leher Yuna.Semua itu Fred amati melalui tampilan kamera pengawas. Dia menundukan kepala dengan dagu bertopang di tangannya. Dia sedang berpikir keras. Si tua itu kelihatannya seperti sedang memeriksa Yuna, tetapi di sisi lain juga tidak dan lebih terlihat seperti sedang sok pintar saja.Dokter-dokter yang ada di sini setiap kali memeriksa pasien selalu menggunakan peralatan canggih dan bisa dilihat apa hasil diagnosisnya melalui angka dan data yang pasti. Namun pengobatan tradisional tidak demikian. Mereka hanya meraba nadi untuk melihat penyakitnya, atau menanyakan beberapa pertanyaan ke pasien

  • Istri Kesayangan CEO   Bab 2276

    Mana mungkin Fred akan membiarkan itu terjadi! Kalau Yuna mati, usahanya selama ini akan sia-sia, dan tahap akhir dari R10 tidak akan bisa berjalan.“Pak Fred ….”Para dokter tidak tahu apa yang baru saja terjadi. Masuk-masuk mereka hanya berusaha untuk memasangkan kabelnya kembali. Mereka masih bingung bagaimana kabel yang terpasang dengan baik bisa lepas, atau memang ada orang yang mencabutnya.“Pak Fred ….”“Keluar!”Para dokter itu pun ta berani banyak bicara dan langsung kelar. Sekarang ruangan itu kembali seperti sebelumnya, hanya ada tiga orang saja.“Kamu juga keluar!” kata Fred kepada pengawalnya.Pengawal itu awalnya sempat bingung, tetapi dia menuruti saja apa pun perintah yang diberikan. Maka tanpa banyak protes dia pun undur diri. Juan yang tak lagi dikekang oleh si pengawal kembali mendekati Yuna dan memeriksa nadinya. Fred pernah melihat cara pemeriksaan itu dan mengakui kehebatannya. Meski dari sudut pandang kedokteran modern itu agak sulit untuk dipahami, sudah begitu

DMCA.com Protection Status