“Iya, iya,” jawab pria bertubuh pendek itu dengan malas dan langsung mengakhiri pembicaraan, dengan menyeringai. Dalam hati dia berpikir rupanya orang-orang yang katanya berpendidikan itu juga tidak seberapa mulia, yang mereka incar juga semata-mata adalah ketenaran. Namun dia berbeda, tujuan dia adalah menguasai satu dunia.Dia lalu berjalan ke dekat jendela dan melihat ke bawah, di mana pemandangan pusat penelitian masih sibuk dengan beragam aktivitas dan pekerjaan. Jika semua berjalan lancar sesuai dengan rencananya, tidak hanya tempat ini atau ibu kota saja, tapi seluruh dunia akan menjadi miliknya. ***Jarang-jarang Yuna bisa berkumpul dengan keluarga kecilnya dan menikmati kebahagiaan bersama. Yuna merasa dirinya seperti berada di dunia lain melihat Brandon menggendong anak mereka dari kamar sampai ke lantai bawah. Terlalu banyak hal yang Yuna alami selama beberapa waktu terakhir. Berbagai macam virus dan eksperimen yang harus dia lakukan benar-benar menyita hampir seluruh waktu
Namun ketika diangkat, Yuna tidak mendengar ada suara, maka dia yang duluan menyapa, tapi tidak juga mendapat jawaban. Dia pikir mungkin ada yang salah dengan panggilan itu dan hendak menutupnya, tapi tiba-tiba dia dapat mendengar ada suara samar yang keluar. Suara itu bukan suara orang yang sedang berbicara, tapi suara latar seperti angin yang berembus, dan juga ada suara klakson mobil yang bercampur aduk.“Halo? Siapa, ya?” tanya Yuna, tapi dia masih juga tidak mendapat jawaban.Menyadari ada yang aneh, Brandon pun bertanya, “Kenapa?”Yuna menggelengkan kepalanya dan masih terus menunggu sampai setengah menit. Jika masih tidak ada yang menjawab, dia akan langsung menutupnya. Di saat Yuna sudah hampir habis kesabarannya, akhirnya terdengar suara seorang wanita yang memanggil dengan tergesa-gesa, “Kak Yuna!”“Bella? Ada apa? Kamu di mana? Apa kamu lagi nggak leluasa untuk ngomong? Ini nomor baru kamu? Atau nanti aku telepon balik saja?”“Nggak, nggak usah ...,” kata Bella, dengan yang
Yuna tidak menolak tawaran dari Brandon, karena bagaimanapun juga dengan adanya Brandon akan jadi jauh lebih mudah.Keesokan paginya mereka berdua sudah tiba di rumahnya Edgar, tapi sayang mereka tidak disambut dengan baik di sana.“Maaf, Pak Edgar lagi nggak enak badan. Silakan datang lagi di lain hari,” kata si pelayan rumah yang bertugas menjaga pintu rumah.“Justru karena lagi nggak enak badan, kami harus ketemu dia. Istriku ini dokter pengobatan tradisional, siapa tahu bisa membantu. Tolong sampaikan ke Pak Edgar lagi kalau ada sesuatu yang perlu aku omongin terkait proyek vaksin.”Pelayan itu terlihat sedikit kerepotan, tapi dia tetap menyanggupi permintaan Brandon karena sudah cukup familier dengannya.“Baik, coba saya tanyakan lagi.”“Terima kasih.”“Tunggu, tolong sampaikan juga kalau aku mantan rekan kerjanya Rainie. Apa pun yang Rainie kerjakan, aku juga bisa,” timpal Yuna.Pelayan itu terlihat kebingungan, tapi dia tetap menyampaikan pesan Yuna apa adanya. Ketika tinggal Br
Brandon dan Yuna saling menatap satu sama lain kebingungan saat mendengar jawaban yang tidak mereka sangka-sangka itu. Apa yang paling Edgar butuhkan saat ini adalah obat yang Rainie gunakan untuk mengendalikannya, tapi kini Rainie sudah mati. Seharusnya Edgar senang mendengar ada orang lain yang juga memiliki apa yang dia butuhkan.“Maaf, tolong tanyakan sekali lagi yang lebih jelas. Sampaikan kami ini dari Setiawan Group ….”“Lebih baik kalian berdua pulang saja, Pak Edgar lagi nggak menerima tamu,” kata si pelayan yang kemudian langsung menutup pintu rapat-rapat tanpa mendengar permintaan Yuna sampai habis.Semua pelayan yang bekerja di rumah ini mengenali siapa Brandon, tetapi apabila mereka masih tetap tidak mau menerima kedatangannya, maka hanya ada satu alasan, yaitu Edgar memang sengaja tidak ingin bertemu.Ketika Yuna masih ingin mengetuk pintu berharap akan dibukakan kembali, Brandon segera menahannya dan mengisyaratkan dia untuk menoleh ke samping. Yuna mengikuti arahan Bran
“Jadi sekarang gimana keadaannya?” tanya Yuna. “Kamu tahu Rainie sudah mati?”“Iya … aku sudah dengar,” angguk Bella.“Terus apa tanggapan papa kamu?”“Hari itu dia baru saja pulang. Dia langsung mengamuk dan mengurung diri di kamar. Nggak ada seorang pun yang boleh masuk dan aku bisa dengar suara barang-barang yang dirusak dari dalam kamarnya. Habis itu … para pelayan rumah masuk untuk bersih-bersih, tapi papaku kelihatan tenang banget seolah nggak terjadi apa-apa setelah dia melampiaskan amarahnya.”“Selain merusak barang-barang, ada apa lagi yang aneh darinya? Rainie mengendalikan papamu dengan obat. Sekarang Rainie sudah mati dan obat itu juga sudah nggak ada lagi. Apa papamu … menunjukkan tanda-tanda kembali normal?”“Nggak! Dia masih sama seperti biasa, nggak ada yang berbeda.”“Gimana perlakuan dia ke kamu? Waktu itu kamu dikurung di kamar dan nggak diizinkan menghubungi siapa pun ….”“HP-ku masih disita dan aku masih nggak diizinkan keluar, tapi pengawasannya sudah nggak seketa
“Tapi papaku lagi nggak mau ketemu siapa pun! Dia bahkan nggak mau ketemu aku, makanya aku bawa kalian masuk diam-diam.”“Justru karena itu kita harus ketemu dia secepatnya. Kan kamu juga yang mau dia bisa sembuh secepatnya. Kalau aku nggak ketemu dia, gimana caranya aku bisa tahu obat apa yang dulu Rainie pakai untuk mengendalikan dia?”“Oke, ayo ikut aku!” ujar Bella.Begitu Bella membuka pintu kamarnya, mereka disambut oleh suasana rumah yang sunyi senyap. Bahkan saking sunyinya sampai membuat mereka semua merasa gelisah. Mereka lalu turun ke lantai bawah sampai ke depan ruang kerjanya Edgar.“Akhir-akhir ini papaku selalu di ruangan ini selama seharian penuh. Dia nggak mau diganggu siapa pun, bahkan kadang-kadang sampai nggak makan …,” tutur Bella dengan suara yang sangat pelan. Bisa dilihat betapa khawatirnya dia terhadap kondisi ayahnya, tapi tidak ada yang bisa dia lakukan untuk menolongnya. Tiba-tiba mereka mendengar suara yang lantang berasal dari dalam ruangan tersebut.“Siap
“Pak Edgar pasti merasa kesakitan setiap kali gejalanya kambuh. Tapi sekarang Pak Edgar sudah terbebas dari rasa sakit itu. Bukankah ini adalah sesuatu yang harus dirayakan?” kata Yuna. Dia tetap bersikap tenang tanpa ada maksud bercanda sedikit pun, yang mana justru membuat orang lain kebingungan.“Siapa yang bilang aku sakit? Aku baik-baik saja!” bantah Edgar.Selain tubuh dan wajahnya yang terlihat sedikit lebih kurus, Edgar tidak menunjukkan tanda-tanda sedang sakit, apalagi tatapan matanya. Dari tadi Yuna terus memperhatikan sorot mata Edgar yang menunjukkan ekspresi tidak sabaran, tapi tidak terlihat adanya tanda-tanda gangguan kejiwaan. Apabila kesadarannya masih dikendalikan oleh efek obat itu, tatapan mata menjadi tanda yang paling akurat.“Oh ya?”Yuna tiba-tiba mengangkat tangan dan menepuk bahu Edgar. Edgar kaget dan spontan menghindar seraya menepis tangan Yuna. Namun itu hanyalah tipu muslihat. Yuna segera menarik kembali tangan dan memukul bagian tulang rusuk Edgar denga
Yuna tiba-tiba berhenti ketika dia meraba belakang kepala Edgar. Di antara kedua jarinya Yuna merasakan ada sesuatu yang memancarkan cahaya terang. Jika bukan karena pantulan dari lampu, Yuna tidak akan menyadarinya kecuali dia benar-benar memperhatikannya.“Apa itu?!” ujar Bella terkejut saat dia melihat Yuna meraba sesuatu dari belakang kepala ayahnya.Hampir di saat yang bersamaan, sekujur tubuh Edgar menegak dan matanya terbelalak, lalu dari mulutnya keluar suara gumam yang tidak begitu jelas, dan kemudian dia pun tersungkur. Tubuhnya seperti kehilangan tenaga,dan mungkin dia sudah terjatuh apabila Bella tidak segera memapahnya.“Papa … Papa ….”Bella terus memanggil, tapi Edgar tidak memberikan reaksi apa pun. Matanya menutup dan kepalanya tertunduk. Sekeras apa pun Bella memanggil, Edgar seperti tidak dapat mendengarnya.“Kak Yuna, papaku kenapa?”Brandon yang melihat Yuna sedang mengambil jarum panjang berkata, “Itu jarum yang biasa dipakai untuk akupunktur, ‘kan?”“Ya,” jawab Y
“Aku nggak pernah dengar tentang itu,” sahut Ross dengan tenang.“Jelas kamu nggak pernah dengar. Itu hal yang sangat mereka rahasiakan, nggak mungkin mereka mau kamu tahu.”“Jadi Mama sendiri tahu dari mana?” Ross bertanya balik.“....” Ratu berdeham seraya berpaling, dia lalu mengatakan, “Aku punya jalur informasiku sendiri. Terserah kamu percaya atau nggak, tapi itu benar.”“Aku bukanya nggak percaya, tapi kamu yang takut aku nggak percaya. Kalau memang dirahasiakan, pastinya nggak akan mudah untuk mendapat informasi itu. Aku cuma penasaran dari mana kamu tahu itu. Tentu saja kamu bisa bilang informasi itu didapat dari jalur informanu sendiri, tapi coba pikir lagi. Kamu sudah melakukan eksperimen ini selama bertahun-tahun, tapi siapa yang tahu sebelum ini terbongkar? Atau kamu pikir kamu lebih pandai merahasiakan ini dari mereka?”“.… Ross, kamu ….”Saat Ratu baru mau berbicara, dia lagi-lagi disela oleh Ross yang bicara dengan suara pelan. “Ma, tolong jangan marah. Kamu marah karen
Bagaimanapun yang namanya anak sendiri, ketika sudah meminta maaf, amarah Ratu sudah tidak lagi berkobar.“Iya, aku tahu aku salah,” kata Ross menunduk. “Aku nggak sepantasnya ngomong begitu.”“Kamu benar-benar sadar kalau salah?” tanyanya. “Angkat kepalamu. Tatap mataku.”Lantas Ross perlahan mengangkat kepalanya sampai matanya bertatapan, tetapi tetap tidak ada satu pun dari mereka yang mengatakan apa-apa. Selagi menatap Ross dalam-dalam, Rat tersenyum dan berkata, “Ross, kamu nggak tahu kamu salah. Tatapan mata kamu memberi tahu kalau kamu sebenarnya masih nggak rela!”Bagaimana mungkin Ratu tidak memahami anaknya sendiri. Tatapan mata Ross mengatakan dengan sangat jelas kalau dia masih tidak mengaku salah, tetapi dia hanya mengalah agar ibunya tidak marah. Hanya saja setelah mengalami masa kritis dan setelah mengobrol dengan Juan dan Fred, pemikiran dan suasana hati Ratu sudah sedikit berubah.“Ross, kamu sudah lama tinggal di negara ini, jadi pemikiran kamu sudah terpengaruh sama
Ricky sudah menunggu di luar menantikan Ratu keluar dari kamar tersebut. Dia langsung memegang kursi roda tanpa mengatakan apa-apa, dan mendorongnya dalam kesunyian. Begitu pun dengan Ratu, dia juga hanya diam saja selama mereka berjalan menuju lift.“Pangeran Ross minta bertemu,” kata Ricky.Ratu memejamkan kedua matanya guna menyembunyikan perasaan yang mungkin bisa terlihat dari sorotan mata. Dia tidak menjawab dan hanya mengeluarkan desahan panjang. Walau begitu, Ricky mengerti apa yang ingin Ratu sampaikan dan dia pun tidak lagi banyak bertanya.Seiringan dengan lift yang terus naik, tiba-tiba Ratu berkata, “Bawa dia temui aku.”“Yang Mulia?”“Bawa dia temui aku.”Selesai Ratu berbicara, kebetulan lift juga sudah sampai di lantai tujuan. Ratu mendorong kursi rodanya sendiri keluar dari lift. Ricky sempat tertegun sesaat, tetapi kemudian dia kembali menekan tombol lantai di mana Ross berada.Tak lama kemudian, Ricky mengantar Ross masuk kamar tidur Ratu. Dia mengetuk pintunya, teta
Tidak peduli apa pun yang Ratu katakan, Fred selalu punya seribu satu alasan untuk berdalih.Fred menggeleng dan berkata, “Bukan pintar beralasan, tapi karena semuanya sudah aku pikirkan demi Yang Mulia. Sejak awal sudah kubilang, mereka itu licik dan banyak akal bulusnya. Jangan mudah percaya sama omongan mereka! Mereka pasti mencoba membujukmu untuk menghentikan eksperimennya. Jangan ikuti kemauan mereka. Yang Mulia coba pikirkan, kita sudah sejak lama melakukan penelitian, lalu untuk apa? Kalau sekarang kita menyerah, bukankah semua yang kita lakukan dulu jadi sia-sia? Semua kerja keras, waktu , dan uang yang kita bayar jadi nggak ada artinya! Ini cuma akal-akalan mereka, karena kalau eksperimennya berhasil, kita bisa menguasai dunia. Cuma penduduk Yuraria saja yang bisa kemampuan hidup abadi. Itu sudah cukup untuk menggemparkan dunia, termasuk mereka. Makanya mereka nggak mau eksperimen ini berhasil. Bisa jadi … mereka membujuk Yang Mulia untuk menyerah, tapi habis itu diam-diam me
“Karena kamu begitu setia padaku, aku kasih kamu satu kesempatan lagi,” kata sang Ratu mendesah ringan.“Mau aku jadi bahan percobaanmu? Nggak masalah!” kata Fred dengan alis terangkat. “Toh sekarang aku juga nggak bisa menolak, bukan?”“Apa kamu ada permintaan lain?”Bagaimanapun juga, mereka adalah tuan dan pelayan yang sudah bekerja bersama selama bertahun-tahun, yang sudah melewati suka dan duka bersama. Andaikan Fred memiliki niat untuk melakukan kudeta, dia sudah berkontribusi banyak dan layak untuk mendapatkan apa yang dia minta sebelum dieksekusi.“Yang Mulia tahu aku sudah nggak membutuhkan apa-apa lagi. Aku sudah lama bercerai dengan istriku dan anakku ikut dia ke luar negeri. Aku cuma sendiri mendedikasikan hidupku untukmu, Yang Mulia Ratu. Sekarang aku sudah nggak punya permintaan apa-apa lagi. Oh ya, kalau sampai ….”Fred berhenti sejenak, kemudian dia melanjutkan, “Kalau sampai eksperimen ini berhasil, aku bisa terus hidup lebih lama di dalam badan anak itu, aku berharap
Di sebuah ruang bawah tanah yang lembap dan tidak terkena cahaya matahari, begitu masuk langsung tercium bau busuk yang menyengat hidung. Saat pintu dibuka, dan mendengar ada suara kursi roda yang mendekat, orang yang berada di dalam langsung mendongak menatap ke depan.“Ah, Yang Mulia datang untuk menemui aku juga.”Orang itu menyunggingkan senyum yang kaku. Dia yang dulu adalah seorang duta besar terhormat kini menjadi tak lebih dari seperti tawanan perang. Kursi roda berhenti, lalu sang Ratu menatapnya, orang yang sudah meneaninya selama puluhan tahun lebih.“Fred, apa kamu menyesal?” tanyanya.“Menyesal? Apa yang perlu disesali? Aku menyesal kenapa eksperimennya nggak aku lakukan lebih awal? Atau menyesal karena terlalu banyak berpikir? Ataukah menyesal karena aku nggak menyadari lebih awal kalau kamu mencurigaiku? Yang menang memakan yang kalah, itu sudah hukumnya. Nggak ada yang perlu aku sesali.”Sang Ratu sempat terdiam sesaat mendengar kata-kata Fred.“Jadi kamu nggak pernah m
“Tapi sudah terlambat kalau terus menunggu sampai eksperimennya dimulai!” kata Shane seraya menggertakkan gigi.Dia tidak punya sisa waktu lagi untuk bertaruh. Kalau sampai ternyata eksperimennya keburu dimulai, betapa sakit hatinya Shane membayangkan tubuh Nathan yang masih kecil itu harus terbaring di atas meja operasi yang dingin dan dibedah seperti tikus percobaan. Dia tidak bisa menerima hal seperti itu terjadi. Dia tidak tega melihat anaknya yang masih kecil harus mengalami penderitaan yang sebegitu parahnya. Nathan tidak tahu apa-apa dan diculik begitu saja, terpisah dari ayahnya begitu lama. Dan sekarang, dia harus menghadapi semua ini. Bahkan … bahkan dia tidak tahu apa yang akan dia hadapi.“Tapi kalau kamu ke sana sekarang, memangnya kamu bisa menolong Nathan?” Brandon bertanya.“Aku nggak peduli. Kalaupun aku harus mati, aku bakal tetap berusaha!”“Ya sudah, terserah kamu. Pergi sana!” Brandon tak lagi membujuk Shane. Dia memukul meja yang ada di depannya dan berseru kepada
Mau dipikir seperti apa pun, itu rasanya agak mustahil.“Aku juga berharap informasiku salah, tapi ….”Brandon tidak menyelesaikan kalimatnya, tetapi itu sudah menyiratkan intensi yang sangat jelas. Berhubung ini sudah menyangkut nasib Nathan, jika informasi yang dia dapat tidak bisa dipercaya, dia pun tidak akan memberitahukannya kepada Shane.“Jadi selama ini dia nggak mau membebaskan Nathan karena itu? Itu alasan kenapa selama ini aku nggak pernah berhasil menemukan dia. Jadi … mereka dari awal memang nggak ada niat untuk melepaskan Nathan, dan mereka menyandera dia dengan alasan membutuhkan investasi dana dariku, itu semua bohong?!”Rona wajah Shane di saat itu sudah pucat pasi. Suaranya pasti terdengar cukup datar, tetapi bisa terdengar bibirnya sedikit gemetar. Siapa pun yang menghadapi hal semacam ini pasti akan memberikan reaksi yang sama.Chermiko tidak tahu seperti apa rasanya memiliki seorang anak, tetpai dia dapat memahami perasaan Shane. Dia sendiri juga tidak keberatan di
“Ratu mau Fred jadi bahan percobaannya?” Chermiko bertanya, tetapi dia langsung membantah pertanyaan itu. “Nggak, itu mustahil! Aku dulu pernah ada di sana dan banyak tahu tentang R10. eksperimen ini nggak pernah diuji coba karena syarat dari penerimanya terlalu ketat.”Syaratnya adalah mendapatkan dua tubuh yang cocok, dan itu jelas bukan hal yang mudah untuk dicari. Sama seperti melakukan donor organ, tubuh pendonor dan penerima donor harus cocok baru bisa dilaksanakan. Hanya dengan syarat itu terpenuhi barulah tidak terjadi reaksi penolakan. Makanya, kalaupun Ratu punya niat untuk itu, dia harus mencarikan tubuh yang cocok dengan Fred.“Kamu kira nggak ada?” Brandon bertanya balik dan seketika membuat Chermiko dan Shane kaget. Chermiko dan Shane sama-sama dibuat bertanya-tanya, siapa orang yang akan menjadi wadah baru bagi jiwa Fred.“Dan orang yang bakal menampung jiwa Fred itu bukan orang asing. Fred sendiri yang cari,” kata Brandon. “Kalau dia nggak ketemu orang yang cocok, mana