“Jawab pertanyaanku! Kelompok tertentu? Siapa yang kamu maksud?”Menghadapi sifat Yuna yang keras kepala, Shane hanya bisa mengangkat bahunya. Lalu dia menghela napas panjang dan menjawab, “Sudah jelas, awalnya itu ditargetkan ke orang Asia.”“Awalnya?”“Ya, tapi sekarang situasinya sudah di luar kendali! Kamu pasti sudah lihat penyebaran wabah ini yang begitu cepat dan nggak terkendali. Sampai detik ini, sudah ditemukan orang-orang dari tempat lain yang juga tertular virus ini. Ini berarti eksperimennya gagal dan virusnya sekarang menyerang tanpa pandang bulu. Orang-orang yang kerja di lab sekarang pasti sudah putus asa dan kehilangan kepercayaan satu sama lain. Beberapa produk yang kamu buat dulu jumlahnya memang nggak banyak, tapi efeknya manjur, nggak ada efek samping. Makanya bosku berharap kamu mau meneruskan eksperimennya.”Jika memungkinkan, sebenarnya Shane juga tidak ingin Yuna ikut campur dalam eksperimen ini. Namun apa daya, kemampuan Yuna sudah terlanjur menarik perhatian
Setidaknya si pramusaji merasa sedikit tenang mendengar Yuna akan mengganti kerusakannya, maka itu dia pun keluar dari menutup pintunya kembali.“Shane, keuntungan apa yang mereka kasih buat kamu sampai kamu mau jadi anjing pesuruh mereka?!”Bagaimanapun juga Yuna pernah menganggap Shane sebagai temannya dulu. Walau sekarang mereka memiliki perbedaan sudut pandang, Yuna masih berusaha sabar menghadapinya. Namun kata-kata yang tadi Shane katakan benar-benar menguji kesabaran Yuna sampai habis.Saat ini Brandon sedang terbaring tak sadarkan diri tanpa mengetahui bagaimana penyakitnya itu akan berkembang. Shane tahu Brandon sedang tersiksa, dan dia juga tahu virus apa yang menyerangnya. Tak masalah jika dia tidak mau menjenguk, tapi beraninya berkata seperti itu dan menjadikan kondisi Brandon sebagai alat untuk bertransaksi dengan Yuna!Meski sudah dilempari gelas dan dimaki oleh Yuna, Shane masih tetap tenang tanpa ada reaksi apa pun.“Keuntungan? Nggak ada. Mereka menyandera anakku,” ja
“Aku tahu nggak akan menang melawanmu, tapi aku juga tahu kalau aku nggak berhasil membujuk kamu, apa yang bakal mereka perlakukan padaku. Jadi … maaf!”“Kamu menaruh racun di air ini?”“Tenang saja, yang aku taruh cuma obat bius. Nggak akan berpengaruh kepada anak yang ada di perut kamu. Tapi kamu harus ikut aku .…”Ketika Shane baru saja berdiri, tiba-tiba tubuhnya terasa bergoyang. Pemandangan yang dia lihat di depan matanya pun seolah ikut berguncang.“Eh ….”“Kamu lupa, ya, kenapa bos kamu mau aku bekerja untuk dia? Aku ahlinya di bidang ini!”Semenjak pertama kali Yuna menyentuh gelasnya, dia sudah mencium ada aroma yang aneh dari airnya. Dari situ Yuna tahu ada pasti ada sesuatu yang dituangkan ke dalam minumannya. Shane tidak berbohong. Obat yang dia tuang ke dalam gelas itu tidak akan membahayakan kandungan, tapi hanya membuat orang yang meminumnya kehilangan kesadaran untuk sesaat. Di tengah-tengah percakapan berlangsung, diam-diam Yuna sudah menukar gelas mereka.“Kamu ….”S
“Jangan sela omonganku. Sekarang aku lagi jelasin hal penting ke kamu.”Yuna hanya mengangkat bahunya menanggapi perkataan itu. Dia tidak begitu peduli dengan sikap Moses terhadapnya. Dia juga tahu wabah ini bukanlah masalah kecil, dan tidak ada salahnya lebih berhati-hati. Setelah berusaha menahan keinginan untuk menguap ketika sedang mendengarkan ocehan dari Moses, sampai selesai akhirnya Yuna bisa mengganti pakaian.Saat ini Yuna ingin tahu sudah sejauh mana penelitian yang dilakukan oleh departemen ini terhadap wabah yang sedang terjadi, dan seberapa jauh perbedaannya dengan yang dia sendiri ketahui. Terlebih lagi, Yuna ingin tahu cara menangani yang mereka sebut-sebut ini sudah sampai sejauh mana.Setelah mengganti pakaian dan melakukan disinfeksi, Yuna pikir di dalam sana adalah sebuah tempat penelitian yang sangat luas, tapi ternyata hanya sebuah lorong yang kosong melompong. Moses berjalan di depan dan Yuna mengikutinya di belakang, sampai mereka tiba di depan lift yang sangat
Liman berbalik dan meminta Yuna untuk mengikutinya. Jari jemarinya bergerak dengan lincah di atas keyboard, menampilkan angka-angka yang terpampang di monitor, dan Yuna pun mengamatinya dengan saksama.“Kami berharap kamu bisa memberikan pendapat yang berbeda berdasarkan sudut pandang pengobatan tradisional, biar kita bersama-sama memikirkan cara untuk melawan virus ini,” kata Liman.“Aku boleh lihat data dari semua penelitian yang sebelumnya?” tanya Yuna. “Khususnya sampel dan statistik yang berkaitan dengan virus ini.”“Sejujurnya, statistiknya nggak begitu sempurna. Situasi wabah di negara kita ini masih belum terlalu besar karena kita berhasil mengendalikannya sebelum tersebar luas. Kalau dilihat dari sampel yang ada sekarang, mungkin nggak begitu berarti.”“Kenapa nggak berarti?”Asalkan ada sampelnya, baik dari jalur persebaran mana pun, pastinya akan berguna untuk kemajuan penelitian mereka.“Begini … dari penelitian kami belakangan ini menunjukkan kalau mutasi virus ini sangat
Mereka masuk ke dalam lift, tapi lift yang ini berbeda dengan yang Yuna naiki sebelumnya. Begitu masuk ke dalam, lift bergerak ke bawah secara perlahan. Hal ini membuat Yuna cukup terkejut. Awalnya dia kira lab itu sudah berada di lantai yang paling bawah, tapi ternyata masih ada lagi.Tak lama kemudian akhirnya lift berhenti. Liman keluar terlebih dahulu, kemudian Yuna, setelah itu barulah Moses di paling belakang.Lantai itu sangat terasa sangat hampa. Tidak banyak orang ataupun peralatan yang ada. Udara yang terasa di dalam ruangan itu juga membuat orang merasa tidak nyaman.Maju beberapa langkah ke depan, Yuna dengan samar dapat mendengar suara raungan yang samar, seolah suara itu hanyalah halusinasi. Namun setelah Yuna maju ke area yang lebih dalam, dia yakin kalau itu bukanlah halusinasi!Tak hanya suara raungan, tapi ada juga suara tangisan yang tertahan, serta suara batuk dan sesak napas. Semua suara itu tidak hanya satu saja, satu semua bercampur menjadi satu, membuat siapa pu
“Tapi kamu lagi hamil!” kata Moses.“Hah?!” seru Liman terkejut, dan tanpa sadar langsung melirik ke arah perut Yuna. Namun karena sudah mengenakan pakaian pelindung, perut Yuna yang sudah membesar tidak terlihat begitu jelas.Liman baru bertemu dengan Yuna dua kali, dan setiap kali mereka selalu mengenakan pakaian pelindung, jadi wajar jika Liman tidak tahu Yna sedang hamil. Juan juga tidak pernah mengungkit soal itu sebelumnya.“Memangnya kenapa kalau hamil? Ibu hamil juga tetap manusia. Justru karena lagi hamil, aku jadi lebih mengerti kalau virus ini nggak segera diatasi, bahayanya nggak cuma sekarang saja, tapi juga sampai ke generasi berikutnya.”“Nggak bisa!” kali ini Liman-lah yang dengan tegas menolak. “Aku nggak membahayakan kamu.”“Kalau aku nggak boleh, masa kalian semua boleh? Kita berjuang bukan untuk satu orang saja, tapi satu negara. Setiap orang juga punya keluarga, saudara, dan teman. Tentu kita nggak mau mereka yang terkena bahaya. Berhubung aku juga sudah di sini, a
Liman tak banyak bicara dan hanya mengamati Yuna dengan tenang. Setelah Yuna meraba nadi pasien itu, dia berdiri dan membersihkan tangannya dengan alkohol, lalu keluar tanpa berbicara sepatah kata pun.Moses menatap Yuna keheranan, mengira Yuna akan mengatakan sesuatu, tapi nyatanya tidak begitu. Dia kemudian melirik ke arah Liman yang tampaknya juga tidak ada intensi untuk bertanya. Maka dari itu, dia pun tetap tutup mulut dan mendatangi kamar yang berikutnya.Satu per satu setiap kamar didatangi. Pasiennya bermacam-macam, ada yang tua, dan ada juga yang masih muda perkasa. Sampai kurang lebih belasan pasien didatangi, akhirnya Yuna mulai sedikit kelelahan.Melihat raut wajah Yuna yang tampak letih, Liman bertanya dengan penuh perhatian, “Mau istirahat sebentar? Hari ini cukup sampai di sini saja.”“Nggak apa-apa, aku masih bisa lanjut,” jawab Yuna.Yuna ingin lebih banyak bertemu dengan kasus yang berbeda, memadukan berbagai macam gejala yang berbeda agar dia bisa mengambil kesimpula
Harus diakui, setiap tutur kata yang Yuna ucapkan sangat mengena di sanubari Ratu. Memang benar meski Ratu tidak bisa lagi menunggu, toh sekarang ada waktu kosong. Tidak ada salahnya bagi Ratu untuk memberi kesempatan kepada yuna untuk mencoba. Kalau yuna gagal, tinggal lakukan sesuai dengan rencana awal.Rencana R10 ini sejak awal memang sudah mendapat berbagai macam halangan. Pertama adalah perlawanan dari anaknya sendiri, kemudian jika diumumkan pun, entah akan seperti apa kritik dan tekanan dari opini publik. Namun di luar semua itu, yang paling penting adalah bahwa Ratu sendiri juga tidak yakin dengan keputusannya sendiri.Dari luar, Ratu mungkin terlihat tegas. Namun hanya dia sendiri yang tahu kalau sebenarnya dia pun sering meragukan keputusannya. Jika Ratu tidak ragu, pada hari itu juga dia akan tetap melanjutkan eksperimennya, bukan malah menunggu seperti sekarang. Dengan diberhentikannya eksperimen R10 untuk sementara, Ratu makin bimbang.“Kamu butuh apa?” tanya Ratu. Berhub
Saat Yuna mengatakan itu, ekspresi wajah Ratu masih tidak berubah. Ratu hanya menutup kelopak matanya untuk menutupi sorotan yang terpancar dari bola matanya. Tentu saja pada awal eksperimen ini dilakukan, dia menyembunyikan faktanya dari semua orang agar tidak ada yang tahu.Eksperimen ini sejatinya adalah sesuatu yang membahayakan nyawa manusia. Ratu tahu betul akan hal tersebut, karena untuk membuat dia hidup abadi, dia harus mengorbankan nyawa orang lain. Kalau sampai ada satu orang saja yang tahu dan kemudian tersebar luas, tentu saja seluruh dunia akan mengecamnya.Namun di sisi lain, Ratu tidak mungkin dan tidak akan mau menyerah. Makanya saat melakukan penelitian, dia hanya memberikan satu resep kepada setiap grup, kemudian meminta mereka untuk menjalankan eksperimen sesuai dengan instruksi yang tertera di setiap lembaran resepnya.Tentu untuk menutupi agar orang lain tidak bisa menerka apa yang sedang mereka lakukan, Ratu memberikan banyak resep yang sebenarnya sama sekali tid
Suara anak kecil yang menggemaskan itu membuat Yuna teringat, sewaktu dia terakhir kali bertemu dengan Nathan, saat itu dia memang sedang hamil. Seketika mendengar itu, Yuna pun tersenyum seraya memegangi perutnya yang kini sudah rata, “Mereka sudah lahir.”“Adik cowok, ya?” tanya Nathan penasaran.“Ada cowok dan cewek. Anak Tante yang lahir ada dua, lho!” ujar Yuna tersenyum sembari mengangkat dua jarinya.Sorot mata Nathan seketika bercahaya. Perasaannya yang sejak awal murung dan penuh waspada langsung berubah menjadi jauh lebih ceria selayaknya anak kecil pada umumnya.“Dua adik?! Wah, Tante hebat banget!”“Hahaha, makasih, ya! Nanti Tante ajak kamu ketemu mereka kalau ada kesempatan,” ujar Yuna tersenyum, nada bicaranya pun jauh lebih lembut saat dia berbicara dengan anak kecil. Melihat Nathan membuat Yuna teringat dengan anak-anaknya sendiri, hanya saja ….“Aku juga kangen sama mereka, tapi … kayaknya aku nggak bisa ketemu mereka lagi,” ucap Nathan dengan suaranya yang kian menge
Mungkin sekarang Nathan sudah tidak lagi disembunyikan seperti pada saat Fred yang memimpin. Namun tentu saat itu banyak hal yang Fred lakukan secara diam-diam. Dia mengira dia bisa menyembunyikan semuanya dari orang lain bahkan dari sang Ratu sekalipun. Namun dia tidak tahu bahwa sebenarnya Ratu sudah mengetahuinya sejak awal.Di luar kamar tempat Nathan ditahan ditempatkan seorang penjaga. Yuna sempat dicegat saat dia mau masuk ke dalam. Yuna menduga mungkin ini adalah perintah dari Ratu. Mereka semua juga diawasi dan dapat berkomunikasi dengan intercom.Nathan sangat patuh sendirian di dalam tidak seperti kebanyakan anak seumurannya. Bahkan sewaktu melihat Yuna, dia masih bisa tersenyum dengan santun dan menyapanya.“Halo, Tante.”“Kamu masih mengenali aku?” tanya Yuna.“Iya, Tante Yuna,” jawab Nathan mengangguk.Yuna pernah menyelamatkan nyawa Nathan saat mereka berada di Prancis. Yuna juga banyak membantu Nathan dan ada suatu waktu Nathan sering main ke rumah Yuna, tetapi kemudian
Tangan yang mulanya Ratu gunakan untuk mengelus wajah Ross langsung ditarik. Raut wajahnya juga dalam sekejap berubah menjadi berkali-kali lipat lebih sinis.“Jadi dari tadi kamu ngomong panjang lebar ujung-ujungnya cuma mau aku membuang eksperimen ini.”“Aku mau kamu merelakan diri sendiri,” kata Ross sambil berusaha meraih tangan ibunya lagi, tetapi Ratu menghindarinya.“Aku cape. Kamu juga balik ke kamarmu saja untuk istirahat,” ucap sang Ratu seraya berpaling.“Ma ….”Sayangnya panggilan itu tidak membuat Ratu tergerak, bahkan untuk sekadar menoleh ke belakang pun tidak.“Ricky!”Ricky yang dari awal masih menunggu di depan pintu segera menyahut, “Ya, Yang Mulia.”“Bawa Ross balik ke kamarnya.”Saat Ricky baru mau masuk untuk mengantar pangerannya pergi, Ross langsung berdiri dan bilang, “Aku bisa jalan sendiri.”Maka Ross pun segera berbalik pergi, tetapi belum terlalu jauh dia melangkahkan kakinya, dia kembali menoleh ke belakang dan berkata, “Ma, aku tahu apa pun yang aku bilang
Seketika itu Ratu syok karena dia jarang sekali melihat anaknya bersikap seperti ini. Saking syoknya sampai dia tidak bisa berkata-kata dan hanya terdiam menatap dan mendengar apa yang dia sampaikan.“Ma, aku tahu sebenarnya kamu pasti takut. Takut tua, takut mati, takut masih banyak hal yang belum diselesaikan. Aku thau kamu juga bukannya egois. Kamu melakukan eksperimen ini bukan semata-mata untuk kepentingan pribadi, tetapi karena masih banyak hal yang mau kamu lakukan.”Di saat mendengar kata-kata Ross, tanpa sadar mata Ratu mulai basah, tetapi dia berusaha untuk menahan laju air matanya.“Aku juga tahu kamu pasti sudah capek. Orang lain melihat kamu berjaya, tapi aku tahu setiap malam kamu susah tidur, bahkan terkadang waktu aku pulang malam dan melewati kamarmu, aku bisa dengar suara langkah kaki lagi mondar-mandir. Kamu pasti capek banget karena harus menanggungnya sendirian. Sering kali aku mau membagi beban itu, tapi ….”Sampai di situ Ross terdiam dan tidak lagi meneruskan ka
“Aku nggak pernah dengar tentang itu,” sahut Ross dengan tenang.“Jelas kamu nggak pernah dengar. Itu hal yang sangat mereka rahasiakan, nggak mungkin mereka mau kamu tahu.”“Jadi Mama sendiri tahu dari mana?” Ross bertanya balik.“....” Ratu berdeham seraya berpaling, dia lalu mengatakan, “Aku punya jalur informasiku sendiri. Terserah kamu percaya atau nggak, tapi itu benar.”“Aku bukanya nggak percaya, tapi kamu yang takut aku nggak percaya. Kalau memang dirahasiakan, pastinya nggak akan mudah untuk mendapat informasi itu. Aku cuma penasaran dari mana kamu tahu itu. Tentu saja kamu bisa bilang informasi itu didapat dari jalur informanu sendiri, tapi coba pikir lagi. Kamu sudah melakukan eksperimen ini selama bertahun-tahun, tapi siapa yang tahu sebelum ini terbongkar? Atau kamu pikir kamu lebih pandai merahasiakan ini dari mereka?”“.… Ross, kamu ….”Saat Ratu baru mau berbicara, dia lagi-lagi disela oleh Ross yang bicara dengan suara pelan. “Ma, tolong jangan marah. Kamu marah karen
Bagaimanapun yang namanya anak sendiri, ketika sudah meminta maaf, amarah Ratu sudah tidak lagi berkobar.“Iya, aku tahu aku salah,” kata Ross menunduk. “Aku nggak sepantasnya ngomong begitu.”“Kamu benar-benar sadar kalau salah?” tanyanya. “Angkat kepalamu. Tatap mataku.”Lantas Ross perlahan mengangkat kepalanya sampai matanya bertatapan, tetapi tetap tidak ada satu pun dari mereka yang mengatakan apa-apa. Selagi menatap Ross dalam-dalam, Rat tersenyum dan berkata, “Ross, kamu nggak tahu kamu salah. Tatapan mata kamu memberi tahu kalau kamu sebenarnya masih nggak rela!”Bagaimana mungkin Ratu tidak memahami anaknya sendiri. Tatapan mata Ross mengatakan dengan sangat jelas kalau dia masih tidak mengaku salah, tetapi dia hanya mengalah agar ibunya tidak marah. Hanya saja setelah mengalami masa kritis dan setelah mengobrol dengan Juan dan Fred, pemikiran dan suasana hati Ratu sudah sedikit berubah.“Ross, kamu sudah lama tinggal di negara ini, jadi pemikiran kamu sudah terpengaruh sama
Ricky sudah menunggu di luar menantikan Ratu keluar dari kamar tersebut. Dia langsung memegang kursi roda tanpa mengatakan apa-apa, dan mendorongnya dalam kesunyian. Begitu pun dengan Ratu, dia juga hanya diam saja selama mereka berjalan menuju lift.“Pangeran Ross minta bertemu,” kata Ricky.Ratu memejamkan kedua matanya guna menyembunyikan perasaan yang mungkin bisa terlihat dari sorotan mata. Dia tidak menjawab dan hanya mengeluarkan desahan panjang. Walau begitu, Ricky mengerti apa yang ingin Ratu sampaikan dan dia pun tidak lagi banyak bertanya.Seiringan dengan lift yang terus naik, tiba-tiba Ratu berkata, “Bawa dia temui aku.”“Yang Mulia?”“Bawa dia temui aku.”Selesai Ratu berbicara, kebetulan lift juga sudah sampai di lantai tujuan. Ratu mendorong kursi rodanya sendiri keluar dari lift. Ricky sempat tertegun sesaat, tetapi kemudian dia kembali menekan tombol lantai di mana Ross berada.Tak lama kemudian, Ricky mengantar Ross masuk kamar tidur Ratu. Dia mengetuk pintunya, teta