“Kalau kamu ingin bertarung maupun mencari tahu sesuatu, kamu bisa mencariku, jangan ganggu istriku! Kalau tidak, jangan salahkan aku bersikap tidak sungkan!”Setelah mendengar ucapan Brandon, akhirnya Monica memahami kenapa orang-orang bisa mengatakan Brandon adalah seorang tokoh yang sangat menakutkan.“Heh, tak disangka Pak Brandon sangat setia,” dengus Monica. Dia kepikiran sesuatu, lalu berkata, “Sampai saat ini, apa kamu masih ingin berbohong dengan keberadaan kitab rahasia itu? Tak disangka, Keluarga Setiawan diam-diam mendalami ilmu seni bela diri.”“Aku sudah bilang, tidak ada kitab rahasia apa pun di Kediaman Setiawan,” ulang Brandon sekali lagi. Suaranya sangat kecil, tapi terdengar sangat tegas.“Kenapa? Padahal kamu sudah mempelajarinya, sekarang kamu malah nggak mau ngaku?” tanya Monica dengan kesal.Monica sungguh emosi lantaran dirinya tidak sanggup mengalahkan lelaki itu. Dari pertarungan tadi, dia menyadari bahwa dirinya bukanlah tandingan si lelaki. Brandon telah mem
Steve tidak menguasai ilmu seni bela diri. Ditambah lagi Monica melakukan serangan mendadak, dia tidak sempat untuk melakukan perlawanan dan terjatuh menindih tubuh si wanita.“Uhm!” Bibir Steve jatuh menabrak mulut Monica. Keduanya spontan kesakitan. Saking sakitnya hidung Steve, dia hampir meneteskan air mata. “Monica, apa yang kamu lakukan?”Steve mengusap hidungnya sambil berusaha untuk berdiri. Matanya masih terlihat berkaca-kaca. Dia berusaha untuk menahan air matanya agar tidak menetes.Wanita ini memang sangat aneh. Jika bukan karena wanita di hadapannya adalah Monica, sepertinya amarah Steve sudah membara.“Apa kamu nggak bisa ilmu bela diri?” Monica melepaskan tangannya. Monica melakukannya juga karena punya pemikirannya sendiri. Setelah mengetahui Brandon begitu hebat dalam bertarung, bisa jadi Keluarga Setiawan adalah keluarga seni bela diri kuno yang tersembunyi. Jadi, dia ingin menguji ilmu bela diri Steve. Siapa sangka Steve malah tidak menguasainya!Dengan kemampuan
Setelah tersadar dari bengongnya, Steve segera mengangguk. “Betul! Sudah pasti, dong! Siapa juga yang berani menyentuh wanitaku! Monica, beri tahu aku siapa pelakunya? Aku pasti akan cabik-cabik dia!”“Brandon!” Monica menjilat darah di ujung bibirnya, lalu menjawab dengan perlahan.“Ternyata dia orangnya! Besar sekali nyalinya …,” ucap Steve dengan emosi. Ketika dia hendak melanjutkan omongannya, dia tiba-tiba menyadar ada yang aneh. Steve lalu bertanya, “Siapa? Siapa katamu?”Steve sungguh meragukan pendengarannya.“Brandon, keponakan kesayanganmu! Kenapa? Kamu nggak tega?” Monica meletakkan kedua tangannya di atas pundak Steve sambil menatapnya, seakan-akan sedang menanti jawabannya. “Ternyata semua yang kamu katakan tadi cuma untuk bohongi aku saja? Memang ucapan lelaki nggak bisa dipercaya. Aku kira kamu beda sama lelaki lain, ternyata sama saja.”“Sudahlah, aku sudah salah menilaimu!” Monica menghela napas, lalu melepaskan kedua tangannya, berencana untuk berdiri.“Sebentar! Buka
“Jawab pertanyaanku!” Monica juga malas bertele-tele lagi, dia langsung berkata dengan kesal.Menyadari ekspresi kesal Monica, Steve segera berkata, “Aku cuma lagi perhatian sama kamu! Sejak kecil Brandon belajar teknik seni bela diri. Mengenai belajar di mana, aku juga nggak begitu jelas. Papaku yang mengaturnya. Waktu itu, Brandon juga baru berusia 7 atau 8 tahun saja.”“Aku nggak begitu ingat lagi. Tapi kamu tenang saja, dia hanya belajar teknik dasar saja, dia nggak akan bisa mengalahkanmu. Apa dia menggunakan senjata? Makanya kamu baru bisa terluka? Atau dia gunakan trik lain? Nggak mungkin dia bisa mengalahkanmu!”Steve masih merasa tidak mungkin Brandon bisa mengalahkan Monica. Siapa juga yang tidak pernah mendengar kehebatan Monica? Jika Brandon bisa dengan gampangnya melukai Monica, bukankah akan lebih gampang bagi Steve untuk mendapatkan Monica?Otak Steve terus berputar. Dia bahkan mulai meragukan apakah kehebatan Monica benar seperti yang dikatakan orang-orang?Benar juga!
Perubahan suasana hati Monica sangatlah drastis! Satu detik sebelumnya, dia masih bersikap sangat lembut, tapi satu detik kemudian, dia bisa bersikap kasar. Sepertinya Steve tidak sanggup untuk bersamanya.“Apa aku sudah menyinggungmu?” Sambil mengembus jari yang sakit, Steve berkata, “Baiklah, kalau memang benar Brandon sudah melukaimu, aku terima kalau kamu melampiaskan amarahmu ke diriku. Siapa suruh dia itu keponakanku? Meski hubungan kami nggak bagus, dia tetap adalah keponakanku. Masalah ini nggak bisa diubah lagi. Anggap saja aku mewakili dia untuk minta maaf sama kamu.”“Tapi, Monica, kelak kita akan jadi pasangan suami istri. Kita barulah satu keluarga. Hubungan aku dengan Brandon memang nggak akur. Apa dia melukaimu gara-gara aku? Gara-gara aku, makanya dia baru mengancammu?”Steve sungguh tidak habis pikir kenapa Brandon bisa melakukannya? Jangan-jangan ….Seketika terlintas sesuatu di benak Steve. “Monica, jangan-jangan Brandon ingin menikah sama kamu?”Lagi-lagi Monica ter
Sewaktu Brandon menerima panggilan dari neneknya, dia sedang rapat membahas masalah proyek baru dan pengembangkan proyek luar negeri. Sebenarnya Brandon tidak berniat untuk mengangkatnya, tetapi panggilan itu menghilangkan data analisis yang sedang diproyeksikan dari ponsel Brandon.Panggilan diputuskan Brandon. Kemudian, dia bergegas menyelesaikan rapat, lalu kembali ke ruangannya untuk membalas panggilan Amara.Suara Amara terdengar sangat galak. “Kamu lagi di mana sekarang?”“Aku lagi di perusahaan.” Brandon dapat mendengar nada galak neneknya.“Pulang! Segera!”“Sekarang?”“Sekarang!” Amara tertegun sejenak, lalu berkata, “Bawa istrimu juga.”Belum sempat Brandon menolak, terdengar lagi suara Amara. “Kalau kamu tidak bawa dia pulang bersamamu, aku akan suruh bawahan untuk menjemputnya! Kenapa? Mentang-mentang dia sedang mengandung, dia bisa jadi ratu sekarang? Bahkan aku juga tidak diperbolehkan untuk bertemu sama dia?”Brandon tidak ingin bertengkar lagi. “Aku mengerti.”Sepertiny
Tongkat terus diketuk-ketuk ke atas lantai. Dapat diketahui betapa marahnya Amara saat ini.“Dia terluka?”Sebenarnya hal ini sudah tertebak oleh Brandon. Pada awalnya, Brandon juga tidak ingin bersikap keterlaluan dan Monica juga tidak mungkin akan terluka. Hanya saja, Monica malah tidak ingin mengakui kekalahannya, terus mengeluarkan jurus mematikan. Jadi, Brandon terpaksa bersikap lebih kasar terhadap Monica. Wajar kalau Monica bisa terluka.Sepertinya Monica telah mengadu?Brandon mengira Monica bukanlah tipe wanita seperti ini. Tak disangka, dia akan memanfaatkan senior Keluarga Setiawan untuk menekan Brandon?“Lukanya sangat parah. Dia bahkan muntah darah!” jerit Steve, lalu memalingkan kepalanya untuk menatap Amara. “Ma, Mama nggak nampak seberapa berantakan rumahnya Monica. Bahkan meja juga pada terbalik. Bukan hanya itu saja, Monica bahkan muntah darah. Sekarang dia sedang berobat di rumah. Kalau bukan karena dia menguasai seni bela diri, sepertinya nyawanya sudah dalam bahaya
Setelah mendengar ucapan Brandon, tiba-tiba Steve tidak tahu harus membalas apa lagi.Iya, wajar kalau ada yang menang dan ada yang kalah dalam suatu pertarungan. Lagi pula, Monica juga bukan wanita lemah. Saat ini, Clara yang menyaksikan pertunjukan dari samping malah bersuara, “Brandon, tidak seharusnya kamu berbicara seperti ini. Kamu bilang lagi berduel? Itu menurut kamu saja, ‘kan? Lagi pula, ngapain juga Monica berduel sama kamu? Sejak kapan kamu belajar seni bela diri? Kenapa aku sebagai tantemu dan bahkan nenekmu tidak mengetahui masalah ini.”Ucapan ini kembali menyadarkan Steve. Dia langsung kembali bersuara, “Betul! Betul! Sejak kapan kamu belajar seni bela diri? Kenapa kami nggak tahu? Sebenarnya apa yang ingin kamu lakukan?”“Mengenai masalah ilmu seni bela diri, waktu itu Kakek yang membawaku untuk belajar. Tapi kami tidak pernah menutupinya dari kalian, kalian saja yang tidak peduli dengan masalahku. Mengenai apa yang ingin aku lakukan?” Tatapan tajam Steve seketika ter
Yang paling penting sekarang, jika Rainie tidak bisa bekerja sama dengan Fred, dia sudah tidak punya tempat lagi untuk pergi.“Sejujurnya, selama ini aku selalu meneliti tentang cara mengendalikan pikiran orang lain!” jawab Rainie dengan tegas, setelah melalui pemikiran yang matang.Dengan satu jari menyusuri tulang hidungnya, Fred mengulangi ucapan Rainie. “Pikiran?”Kurang lebih Fred mengerti ke mana arah penelitian yang Rainie maksud.“Kamu pasti pernah main boneka yang dikendalikan pakai tali, ‘kan? Kurang lebih seperti it.”“Jadi kamu bisa mengendalikan perilaku orang lain seperti boneka? Terus apa menariknya?!”Fred memiliki ambisi untuk mengendalikan Yuraria, bahkan seluruh dunia. Akan tetapi yang dia inginkan adalah mengendalikan orang lain yang masih hidup, agar mereka tunduk di bawahnya, bukannya boneka yang tidak memiliki pemikirannya sendiri. Apa serunya mengendalikan orang yang mudah untuk dikendalikan.“Oh, jelas ini menarik banget!” kata Rainie. “Aku tahu kamu mau orang
Fred tidak berkomentar ataupun membalasnya. Dia hanya menatap wajah dan mata Rainie dengan serius. Meski tidak berkata apa-apa, dalam hatinya dia tahu setiap tutur kata yang wanita yang ada di depan matanya ini ucapkan sangat akurat. Setelah situasi tenggelam dalam kesunyian singkat, Fred berdeham dan bertanya.“Nama kamu ….”“Rainie.”“Orang itu sudah mati dari beberapa hari yang lalu. Berarti kamu juga sudah lama memegang barang itu, tapi kenapa kamu baru datang sekarang?”“Awalnya aku juga nggak tahu apa ini. Aku terus mencari mencari kalian tapi nggak berhasil. Setelah itu aku ditangkap sama Brandon dan kawan-kawannya.”“Brandon?! Brandon dan temannya?”“Iya! Aku berhasil kabur dengan susah payah dan langsung teringat sama kamu. Aku tahu kamu cuma yang bisa kasih semua yang aku mau. Dan cuma aku yang bisa membantu kamu!” kata Rainie dengan rasa percaya diri yang membumbung tinggi.“Gimana kamu bisa kabur dari mereka?”Perhatian Fred tertuju kepada hal itu. Dia sudah merasakan langs
Sekarang di dalam ruang kantor itu hanya ada Fred dan wanita tersebut. Fred masih tak bergerak di kursinya seraya mengamati wanita itu. Pakaiannya lusuh dan terlihat sangat kasihan meski dia sudah berusaha untuk bersikap elegan.“Kamu ….”“Aku Rainie, bawahannya asisten yang paling kamu percaya itu. Aku pernah bekerja ….”“Aku nggak tertarik kamu siapa. Aku cuma mau tahu apa tujuan kamu datang ke sini? Dari mana kamu tahu aku kepalanya di sini?”“Soal itu, ya. Sebenarnya awalnya aku juga nggak tahu siapa yang bertanggung jawab atas organisasi ini, sampai … aku menemukan kartu nama yang ada bosku pegang.”“Kartu nama apa? Maksud kamu kepingan kecil itu? Itu paling cuma koin untuk main game atau sejenisnya,” kata Fred menyangkal. Dia tentu saja tidak mau secepat itu mengakuinya. Yang dia lakukan sekarang ini adalah menguji apakah Rainie benar-benar tahu sesuatu atau hanya sekadar asal bicara.Akan tetapi Rainie sudah menduga hal seperti ini pasti terjadi. Dia tidak tampak kebingungan dan
“Yang Mulia jangan berpikir begitu. Kita justru saling menguntungkan satu sama lain. Yang Mulia bisa kembali muda, sedangkan aku mendapat kekuasaan penuh. Bukankah begitu lebih bagus?”“Hmph!”Sang Ratu sudah malas membicarakan ini. Namun bagi Fred itu tidak masalah. Selama semua berjalan sesuai dengan rencananya, apa yang ingin dia capai sebentar lagi akan berhasil. Tidak ada lagi seorang pun yang bisa menghentikannya. Di saat itu pula dari luar Fred mendengar suara lirih yang memanggilnya.“Pak Fred!”“Ada apa?”Sebenarnya Fred sedikit kesal karena dia sudah berpesan untuk jangan mengganggu kecuali ada hal penting. Namun lagi-lagi yang datang adalah mereka. Fred masih lebih suka dengan si cacat yang menjadi bos Rainie dan Shane dulu. Meski cacat secara fisik, dia cukup pintar dan banyak membantu Fred. Sayang sekali dia sudah tidak ada …. Tanpa berpikir panjang, Fred melihat di tangan orang itu ada sebuah botol kecil seperti botol parfum yang dijual di luar sana. Perbedaannya, cairan
“Apa lagi ini?”Dalam berkas yang berisikan surat wasiat tersebut tertulis jelas bahwa sang Ratu mengetahui kesehatannya yang makin menurun dan sudah dekat ajalnya, karena itu selagi masih sadar, sang Ratu dengan sukarela menyerahkan posisinya kepada keturunannya, dan Fred diberikan kepercayaan penuh untuk menjadi penasihat mereka.“Kamu masih berani mengaku nggak mau merebut posisiku?! cucuku usianya baru empat tahun, tahu apa merea? Lagi pula bukannya menurunkan ke anakku, tapi malah langsung ke cucuku. Orang waras pasti sudah tahu apa maksudnya ini.”“Nggak juga, cucu Yang Mulia sangat pintar dan punya bakat untuk jadi penguasa yang baik. Saya cuma bertugas memberi nasihat, tapi pada akhirnya kekuasaan tertinggi tetap jatuh kepada mereka. Terkait masalah pewaris, apa Yang Mulia masih nggak sadar juga seperti apa mereka? Mereka sama sekali nggak cocok untuk jadi penguasa!”“Fred, kenapa baru sekarang aku sadar kalau ternyata ambisimu setinggi itu, ya?”“Bukan, Yang Mulia. Yang Mulia
Ketik sang Ratu tersadar, dia sudah berada di atas kasur. Dia berbaring dengan sangat nyaman ditutupi oleh selimut yang rapi. Di sampingnya ada semacam alat medis yang mengeluarkan suara nyaring. Walau demikian, sang Ratu tidak merasa nyaman.“Fred! Fred!” sahutnya.Mengira tidak akan ada yang datang, tak disangka Fred sendiri yang muncul di hadapannya.“Ada yang bisa dibantu, Yang Mulia?”“Lepasin aku!”“Wah, sayang sekali Yang Mulia, tapi nggak bisa! Eksperimennya sudah mau kita jalankan dua hari lagi. Yang Mulia nggak boleh ke mana-mana sampai dua hari ke depan.”“Eksperimen apaan. Kamu cuma mau membunuhku dan mengambil alih jabatanku, bukan?”“Yang Mulia, saya mana berani melakukan itu. Kalau saya membunuh Yang Mulia, apa saya perlu menghabiskan banyak waktu dan tenaga untuk membangun lab dan semua eksperimen ini? Saya benar-benar berniat baik untuk Yang Mulia, tapi Yang Mulia malah terbuai sama omongan si cewek licik itu dan nggak percaya lagi sama saya. Sayang sekali!” kata Fre
“Aku?” kata Chermiko. “Nggak, aku cuma merasa itu terlalu aneh! Apa pun yang keluar dari mulut cewek gila itu, aku ….”Kata-kata yang hendak Chermiko katakan tersangkut di lehernya saat ditatap oleh Shane. Tadinya dia mau bilang tidak akan menganggap serius apa pun yang Rainie katakan, tetapi setelah dipikir-pikir, dia juga akan berpikir hal yang sama dengan Shane.“Oke, mau dia benar-benar bisa menghilang atau nggak, selama masih ada kemungkinan itu benar sekecil apa pun, kita harus cari tahu!” kata Brandon. Dia tidak menganggap ini sebagai sesuatu yang patut ditertawakan. Kalau sampai Rainie melarikan diri, maka bahaya terhadap masyarakat akan sangat besar.“Shane, jaga anak-anak!”Brandon pertama-tama langsung menghubungi Edgar agar dia bisa mengerahkan koneksinya untuk mencari Rainie di setiap sudut kota. ***Pintu kamar di mana Ratu sedang tidur siang diketuk sebanyak tiga kali, kemudian pintu itu dibuka begitu saja tanpa seizinnya. Sang Ratu membuka matanya sejenak dan langsung
“Seaneh apa pun ini pasti ada penjelasannya,” kata Brandon. Dia mengamati bantal di atas kasur itu dan menaruhnya kembali, lalu berkata, “Ayo kita keluar dulu sekarang!”Di kamar itu sudah tidak ada orang dan sudah tidak perlu dikunci lagi. Mereka berdua pun satu per satu keluar dan setela mereka kembali ke tempat Shane berada.“Rainie benar-benar menghilang?” tanya Shane.“Iya,” jawab Chermiko menganggu.“Kok bisa? Apa ada orang lain dari organisasi itu yang menolong dia?”“Aku nggak tahu.”Tidak ada satu orang pun di antara mereka yang tahu mengapa Rainie bisa menghilang. Mereka bertiga sama bingungnya karena tidak ada penjelasan yang masuk di akal. Brandon tak banyak bicara, dia mengerutkan keningnya membayangkan kembali ada apa saja yang dia lihat di kamar itu. Dia merasa ada sesuatu yang mengganjal pikirannya, tetapi dia tidak tahu apa itu.Shane, yang entah sedang memikirkan apa, juga tiba-tiba berkata, “Apa mungkin …? Nggak, itu mustahil ….”“Apaan? Apa yang nggak mungkin?” Cher
Chermiko sudah menahannya sebisa mungkin, tetapi suara gemetar bercampur dengan napas terengah-engah tetap saja menakutkan untuk didengar. Saat mendengar itu, Shane langsung terbelalak dan menyahut, “Apa?!”“Rainie … Rainie nggak ada di kamarnya!” kata Chermiko sembari menunjuk ke belakang.“Ngomong yang jelas, kenapa dia bisa nggak ada?” Ucapan ini datang dari belakang, membuat Chermiko kaget dan menoleh, dan menemukan ternyata Brandon sudah ada di belakangnya entah dari kapan.Brandon baru tidur sebentar dan belum lama terbangun. Semua masalah yang mereka alami membuat kualitas tidurnya terganggu. Anak dan istri tidak ada, dan sekarang ditambah lagi dengan sekian banyak masalah serius yang datang tak habis-habis. Bagaimana dia bisa tidur lelap? Apalagi sekarang ada dua bayi yang entah anaknya atau bukan datang membutuhkan penjagaan.Tidur singkat sudah cukup untuk memulihkan energinya, setelah itu Brandon mandi dan mengganti pakaian, lalu turun untuk melihat anak-anaknya, dan ternyat