Ayuni memutar otak untuk melepaskan Shakira dari penculikan yang dilakukan oleh Rifky sebagai biang keladinya.Perempuan itu masih mengejar mobil yang membawa Shakira. Tak lama setelahnya, lokasi di mana Shakira akan dibawa dikirim melalui ponselnya.Nomor tak dikenal: [Kalau kamu memberi tahu polisi ataupun Ryan, jangan harap anak ini masih hidup!]Ancaman itu membuat Ayuni menghela napasnya dengan panjang. Tak lama setelahnya, Ryan menghubunginya. Air matanya masih menetes di sudut matanya. Ia masih bingung harus menjawab apa.“Ayuni. Kamu di mana? Jangan melawan dia sendirian. Cepat, katakan kamu ada di mana?”“Mas. Aku minta maaf karena lalai menjaga Shakira.”“Jangan menyalahkan diri seperti ini, Ayuni. Bukan saatnya. Cepat, beri tahu di mana kamu sekarang?!” pekik Ryan sudah tak sabar.Ayuni menghentikan mobilnya tepat di sebuah Gudang kosong yang mana lelaki itu menggendong tubuh Shakira membawanya masuk ke dalam sana.“Mas! Kirim polisi sebanyak mungkin ke alamat yang aku kiri
Di depan ruang operasi rumah sakit harapan ….Keluarga Ayuni dan Ryan sudah tiba di sana. Pun dengan Damian yang masih stay di sana dan tidak akan pernah pergi sebelum hasilnya keluar.“Gue nggak pernah lihat elo nangis kayak gini. Elo harus kuat.” Cakra memberikan satu bungkus cokelat batang kepada Shakira.Anak kecil itu kemudian menoleh sembari terisak. “Papa, Kak. Papa ….”“Iya, gue tahu. Papa elo kan, dokter. Dia pasti selamat dan bakal kumpul lagi sama elo dan juga nyokap elo.”“Mas Cakra. Kita pulang, yuk! Sudah malam. Takut dicariin sama Papa.” Diman menghampiri Cakra yang tengah berdiri di depan Shakira.“Dicariin atau dimarahin, karena pulang telat?”Diman hanya bisa menghela napasnya. Ia lalu mengusapi pucuk kepala Shakira dengan lembut.“Yang sabar ya, anak manis. Papa pasti sembuh dan sehat kembali.”Shakira mengangguk dengan pelan. “Makasih, Pak Diman.” Ia lalu menoleh ke arah Cakra. “Mending Kakak pulang aja. Di sini udah ada Oma dan Opa. Jangan sampai nanti Kakak dimar
Dua hari berlalu ….Ayuni masih setia menunggu dengan setia Ryan yang masih belum juga sadarkan diri. Menunggu di rumah sakit bergantian dengan Melinda bila Ayuni harus istirahat.“Ay. Undangannya udah selesai dibuat. Ini mau langsung disebar aja?” tanya Vita menghampiri Ayuni yang tengah duduk di samping Ryan.Ayuni menghela napasnya dengan pelan. “Nggak tahu, Vit. Ryan-nya aja belum jug ….”“Sudah bangun.”Ayuni lantas membolakan matanya dengan mulut menganga melihat Ryan yang sudah membuka matanya.“Mas! Kamu … Mas Ryan!” Ayuni memeluk lelaki itu. Akhirnya ia membuka matanya setelah dua hari dalam kondisi tak sadarkan diri.“Sebarin aja, Vit. Waktunya sudah dekat, satu minggu lagi. Aku pasti sembuh pada hari itu,” ucapnya dengan pelan.Ayuni melepaskan pelukan itu kemudian menatap Ryan dengan lekat. “Kamu yakin? Sekarang aja baru siuman. Memangnya kamu cenayang? Seminggu bisa sembuh.”Ryan tersenyum tipis. “Aku memang bukan cenayang. Tapi, aku dokter. Kamu baik-baik saja, kan?” tan
Ryan menyimpan ponselnya kembali ke atas nakas kemudian menoleh pada Ayuni yang masih duduk di depannya.“Siapa, Mas?” tanya Ayuni ingin tahu.Ryan menarik napasnya dengan panjang. “Rifky, sudah mati?”Ayuni mengangguk dengan pelan. “Iya. Tepat saat kamu ditusuk, Pak Damian datang dan langsung menembak kepala Rifky. Katanya dia mati di tempat.”Ryan manggut-manggut dengan pelan. “Entah harus senang atau berduka. Keduanya sama-sama harus tetap dirasakan.”Ayuni tersenyum tipis. “Pak Damian udah gatel katanya, pengen bunuh itu orang. Dia lagi nyari keberadaan Friska. Karena dia tahu, Friska pasti akan mengikuti jejak papanya untuk mencari masalah.”Ryan menganggukkan kepalanya. “Iya. Mereka lagi memburu perempuan itu. Entah apa yang akan dilakukan Pak Damian kepadanya. Sebenarnya aku tidak ingin tahu. Hanya membayangkan saja, sudah pasti dia akan menderita.”Ayuni menatap jam yang bertengger di dinding ruangan itu. “Sudah malam, Mas. Kamu harus istirahat. Aku juga udah ngantuk. Dua hari
Dua hari sebelum menikah, keluarga Ryan dan Ayuni ziarah ke makam Arumi untuk meminta restu dan mendoakan ketenangan Arumi di atas sana. Meski ada tangis haru kala Shakira mengenalkan Ayuni sebagai mama barunya kepada sang mama yang telah melahirkan dia ke bumi.“Iya, Ma. Arumi sendiri yang memilih ini. Aku janji, akan menjadi suami yang baik untuk Ayuni. Mereka sama-sama wanita hebat. Baik Arumi maupun Ayuni. Mereka sama-sama istimewa bagiku, Ma.”Melinda menganggukkan kepalanya sembari mengulas senyumnya. “Iya, Nak. Jangan ada duka lagi setelah ini. Kalian harus bahagia.”“Pasti! Sebisa mungkin aku akan menjadi suami yang baik untuk Ayuni.”Melinda kemudian memeluk anaknya itu. Mengusapinya dengan lembut seraya mengulas senyum haru.“Sayang. Papa kamu akan datang di acara pernikahan kamu. Biarkan dia melihat kamu ya, Nak.”Ryan hanya diam. Hanya menatap Melinda yang terlihat berharap padanya agar jangan memperlihatkan kebenciannya kepada papa kandungnya itu.Ryan lalu menelan saliva
Lelaki itu berjalan menghampiri Ryan, Ayuni dan juga Shakira yang tengah digenggam oleh Ryan.“Siapa dia, Mas?” bisik Ayuni bertanya kepada Ryan.Ryan yang tak pernah melihat wajah lelaki itu hanya diam karena ia pun tidak tahu. Namun, dari matanya terlihat bila lelaki itu adalah ayah kandungnya.“Ryan. Ini Papa, Nak. Papa kandung kamu. Aldo.”Ayuni menganga. Terkejut karena baru kali ini ia melihat ayah kandung Ryan. Datang di hari pernikahan anaknya itu dan tentu saja Ayuni tidak tahu apa maksudnya.“Papanya Papa? Berarti Kakek, opanya aku, dong?” tanya Shakira seraya menatap dengan lekat kakeknya itu.Aldo tersenyum lirih kemudian mengangguk dengan pelan. “Iya, Sayang. Ini opa kamu.”“Ooh gitu.” Hanya itu yang diucapkan oleh Shakira kepada Aldo.Acara ijab sudah selesai. Di sebuah ballroom, Ryan dan Aldo tengah duduk berhadapan di sofa yang disediakan di sana.Ryan tak pernah ingin melihat wajah papanya itu meski harus tetap mengikuti perintah dari sang mama agar jangan membencinya
Acara resepsi sudah selesai dilaksanakan. Ryan dan Ayuni sudah masuk ke dalam kamar pengantin yang sudah disediakan khusus untuk pengantin baru.“Shakira pulang ke rumah siapa, Mas?” tanya Ayuni sembari melepas satu persatu hiasan di kepalanya.“Ke rumah Mama Rini,” jawabnya sembari membuka kancing jasnya.“Oh. Naina nggak datang ya, Mas?”Ryan menggeleng dengan pelan. “Sudah dibujuk sama Mama pun dia tetap nggak mau datang. Ya sudahlah. Mama dan Papa sudah minta dia datang, tapi dia sendiri yang menolak.”Ayuni kemudian menghela napasnya dengan panjang. “Aneh juga sih. Kenapa dia nggak mau nyari yang lain? Dia pernah punya pacar, tapi?”“Pernah. Dia pernah pacaran dan aku baru sadar saat itu. Dua bulan setelah Arumi meninggal, dia putus sama pacarnya.”Ayuni lantas terkekeh. “Ya ampun. Beneran tuh orang, yaa.”Ryan mengangguk kemudian menghampiri Ayuni yang masih sibuk dengan riasannya. “Mau mandi bareng?” bisiknya kemudian mencium sisian wajah Ayuni.“Kamu duluan aja. Aku masih ribe
Dan benar saja. Pagi harinya Ryan menagih dan mengajak Ayuni bermain lagi. Baru saja menguap dan meregangkan otot-ototnya, Ryan sudah menyibakan selimut dan meminta untuk dimanjakan.“Si junior sudah bangun, Sayang. Jangan lama-lama, nanti ngambek kalau terlalu lama dianggurin.”Ayuni hanya geleng-geleng kepala. Pria yang dia anggap kalem dan santai ini ternyata tidak untuk bercinta. Bila urusan mengobrak-abrik miliknya, Ryan adalah pria yang paling nafsuan.“Ouugghh!” Ayuni mengerang kala benda asing itu masuk di bawah sana.Ryan menerbitkan senyumnya lalu melajukan temponya. Bibirnya menyesap pucuk merah muda itu dengan tubuh ia gerakan maju dan mundur.Ayuni menggigit bibirnya. Mencengkeram bahu sang suami yang tengah asyik menghantam tubuhnya di pagi hari sepagi ini. Karena waktu baru saja menunjuk angka enam pagi.Di menit ke lima belas. Ryan menyudahi pergulatannya itu. Puncaknya telah tiba, lantas lelaki itu mendorong lebih cepat temponya hingga membuat Ayuni memekik hebat.Ked
“Happy birthday, Sayang.” Ryan memakaikan kalung di leher Ayuni yang tengah melipat baju milik Melvin.Ia terkejut karena Ryan datang dengan tiba-tiba kemudian memberinya sebuah kalung di lehernya. “Mas!” Ayuni kemudian membalikan tubuhnya yang kini berhadapan dengan sang suami.“Selamat ulang tahun ya, Sayang. Di usia yang ketiga puluh tahun ini, kamu diberi hadiah yang luar biasa. Hadirnya Melvin di hidup kita, menjadi pelengkap sempurnanya rumah tangga kita. Menjadikan kita orang tua yang sempurna, dan menjadikan Shakira sebagai kakak.”Ryan lalu mengecup kening perempuan itu dan memeluknya. Senyum bahagia terukir di bibir perempuan itu. Bagaimana tidak, di malam ulang tahunnya itu ia diberi kejutan yang cukup membuatnya bahagia luar biasa.“Terima kasih, Mas. Terima kasih sudah menjadi pelengkap hidup aku. Terima kasih sudah menjaga aku sampai kita bisa melewati semuanya.”Ayuni kemudian mencium punggung tangan Ryan dan menatapnya lagi dengan senyum di bibir perempuan itu. “Ucapka
Anggota keluarga Ayuni dan juga Ryan tengah menyambut cucu kedua mereka. Usia kandungan Ayuni sudah memasuki tujuh bulan. Karena kondisi rahim Ayuni yang semakin parah, Dokter Mia memutuskan untuk melalukan operasi Caesar di hari ini.Ya. Ayuni harus melahirkan bayi secara premature. Sebab kondisi Ayuni yang sudah tidak tahan lagi menahan sakit itu. Ryan pun menyetujui hal itu. Daripada Ayuni mengalami hal yang tak diinginkan, sebaiknya bayi mungil itu segera dikeluarkan.Di ruang operasi. Yang mengambil alih bedah perut Ayuni adalah Dokter Firman ditemani oleh Dokter Mia. Sementara Ryan hanya menginteruksi apa saja yang mesti dilakukan.“Kamu masih kuat, Sayang? Sabar, yaa. Sebentar lagi bayinya akan keluar. Setelah itu, kamu tidak akan mengalami sakit luar biasa itu,” bisik Ryan yang terus mengajak Ayuni bicara. Jangan sampai perempuan itu tertidur dalam keadaan lemas seperti itu.Ayuni menggenggam tangan Ryan dengan erat. Tak bisa bicara karena kondisinya yang sudah tak karuan. Ker
Dua bulan kemudian.Ayuni terbangun karena mendengar suara percikan air di dalam kamar mandi juga Ryan yang tidak ada di kamar.“Baru jam enam dia udah mandi jam segini? Mau ke mana emang dia?” gumamnya kemudian beranjak dari tempat tidur dan masuk ke dalam kamar mandi.“Mas. Kamu lagi apa?” tanya Ayuni menghampiri Ryan yang tengah berdiri di depan wastafel.“Mau gosok gigi,” jawabnya singkat.Ayuni mengerutkan keningnya. “Gosok gigi? Kamu ada kerjaan di jam tujuh apa gimana? Ini baru jam enam, Mas. Tumben banget jam segini udah ada di kamar mandi. Biasanya jug—”Ayuni memegang perutnya karena nyeri. “Ssstth!” lirihnya sembari memegang perutnya.Ryan menoleh kemudian segera berkumur. “Kembali ke kamar, Sayang.” Ryan menuntun Ayuni lalu mendudukan perempuan itu di tepi tempat tidur.“Perut aku sakit, Mas. Nyeri.”Ryan menganggukkan kepalanya. Ia lalu merebahkan tubuh sang istri dan mengambil stetoskop di dalam laci. Hendak memeriksa kondisi Ayuni yang tiba-tiba saja nyeri.“Aku tadi ha
Ryan hanya menggaruk pelipisnya mendengar pertanyaan Ayuni yang berhasil membuat bulu kuduknya merinding. Bukan Ayuni yang tegang, Ryan lah yang tegang kala mendengarnya.Ayuni melihat tingkah laku Ryan hanya tertawa kemudian geleng-geleng. “Mas bojo memang sangat alim. Digoda seperti itu saja langsung panas dingin. Padahal memang benar, kalau sudah main pasti akan panas.”Ryan menghela napas pelan. “Kamu jangan macam-macam. Minta berapa ronde kayak yang iya. Sekali main langsung tidur, aku pukul bokong kamu.”Ayuni lantas tertawa. “Oh, yaa? Memangnya kamu berani, pukul aku? Mau aku laporin ke Komnas HAM?”“Nggak ada hubungannya, Sayang. Kalau kamu mau laporin aku ke Komnas HAM hanya karena memukul bokong, setiap kita main juga aku sering mukul. Harus ada bukti juga dan memangnya kamu mau kasih bukti saat kita lagi main?”Ayuni kalah telak. Ia kemudian mengibaskan tangannya karena tidak bisa menjawab pertanyaan dari sang suami.Ryan yang melihatnya hanya terkekeh lalu geleng-geleng. S
Tiga bulan setelah Ayuni mengalami koma selama satu tahun. Kondisinya sudah dibilang membaik setelah beberapa kali melakukan perawatan dengan sangat telaten dan Ayuni pun selalu menuruti perintah dari sang suami.“Mama. Kemarin aku ketemu sama Kak Cakra. Itu pun nggak sengaja ketemu.” Shakira menghampiri sang mama yang tengah merapikan bajunya di dalam kamar.“Oh, ya? Terus, dia ngomong apa aja ke kamu? Sudah lama sekali sepertinya kalian tidak bertemu.”Shakira mengangguk. “Iya. Dia nanya kabar Mama. Dia senang karena Mama udah sembuh. Tadinya mau aku ajak ke rumah buat ketemu Mama. Tapi, katanya dia lagi ada urusan. Mau ketemu sama kakeknya.”Ayuni manggut-manggut dengan pelan. “Ya sudah biarkan saja. Yang penting Cakra masih ingat sama kamu. Lagian kalian ini pada kecil. Belum waktunya untuk saling dekat. Biar saja dulu masing-masing. Kamu menikmati masa kecil kamu dan Cakra fokus sama pendidikannya.”Ayuni mengusapi rambut Shakira dengan lembut seraya menasihatinya agar anaknya pa
Satu minggu setelah Ayuni sadarkan diri, ia akhirnya sudah bisa pulang dan dirawat di rumah saja. Ayuni sudah jenuh dan bosan bila harus dirawat di rumah sakit. Sudah terlalu lama bahkan satu tahun lebih dia ada di sana.“Apa yang masih kamu rasa sakit, Sayang?” tanya Ryan setelah membawa Ayuni duduk di tempat tidur.“Ini.” Ayuni menunjuk kepalanya. “Terus ini.” Kemudian menunjuk kening, pipi hingga bibir. “Dan terakhir ini.”Ryan lantas geleng-geleng. “Baru juga sembuh udah mikir yang jorok. Nanti kita bulan madu lagi.”Ayuni menghela napas kasar. “Aku masih harus menunggu dua tahun lagi buat punya anak, Mas. Jadi, nggak usah ada bulan madu lagi.”Ryan kemudian memberikan secarik kertas hasil pemeriksaan terakhir kondisi rahim Ayuni. “Kamu sudah bisa hamil, Sayang.”Ayuni menganga kemudian menutup mulutnya. “Beneran, Mas? I—ini, ini nggak bohong, kan?”Ryan terkekeh pelan. “Nggak dong, Sayang. Rahim kamu sudah siap menampung bayi meski harus tetap dijaga dan dirawat sampai sembilan b
Sudah satu tahun berlalu. Ayuni masih enggan untuk membuka matanya. Masih betah tidur dengan alat bantu medis yang mengelilingi tubuhnya.“Ayuni sudah melewati masa pengobatannya, Ryan. Dan dia masih belum ingin membuka matanya. Ayuni pasti kesiksa karena alat-alat ini.”Biru menghampiri Ryan yang tengah memeriksa kondisi Ayuni. Ia lalu menoleh dan melepas stetoskop di telinganya.“Jantungnya masih berdetak normal, Biru. Aku sudah melepas beberapa alat yang ada di tubuh Ayuni. Dia hanya masih lemas saja. Belum bisa buka matanya.” Ryan menatap wajah Ayuni dengan wajah sendunya.Biru kemudian mengusapi bahu lelaki itu. “Kalau dia udah nggak kuat, jangan dipaksa. Kasihan Ayuni. Harus kesiksa karena alat-alat ini.”Ryan menelan salivanya. “Aku tidak ingin kehilangan untuk kedua kalinya, Biru. Ayuni sudah jadi yang terakhir untukku. Aku akan usahakan untuk menyembuhkan dia apa pun akan aku lakukan.”Biru menganggukkan kepalanya kemudian menolehkan matanya kepada Ayuni. Mulutnya menganga se
Delapan bulan kemudian.“Happy anniversary, Sayang. Hari ini adalah hari pernikahan kita ke satu tahun. Aku punya hadiah buat kamu.”Ryan mengusapi pucuk kepala Ayuni dengan lembut sembari menyimpan hadiah di atas nakas berupa kotak musik sebagai hadiah satu tahun pernikahan mereka. Dan Ayuni masih terbaring di atas bangsal, di ruang ICU.“Aku ada sedikit cerita. Shakira dan Cakra harus berpisah karena Cakra sudah masuk SMP. Dia sering ke sini jengukin kamu, nemenin Shakira ngobrol dan dia sedikit terhibur karena ada Cakra. Tapi, sekarang Cakra udah menghilang. Dia masih belum ingin memberi tahu di mana dia sekolah. Kasihan Shakira, harus LDR dulu sama Cakra.”Ryan kemudian terkekeh pelan seraya mengusap air matanya. Ia yang selalu bercerita semua kejadian yang dia lewati selama Ayuni koma. Agar Ayuni tahu, apa saja yang dia lewati selama delapan bulan itu.Tok tok tok!Ryan menoleh ke arah pintu. Andreas tengah berdiri di sana dan akhirnya ia harus bangun dari duduknya menghampiri le
Dua belas tahun yang lalu ….“Ayuni?”Perempuan yang tengah makan choki-choki itu kemudian menoleh. “Ryan? Lagi ngapain di sini?” tanyanya sembari menyodorkan choki-choki itu kepada Ryan.“Makasih. Kamu sendiri lagi ngapain di sini?” tanyanya kemudian duduk di samping perempuan itu.“Lagi bete sama dosen kampret satu itu. Cuma salah satu doang, tetep aja dihukum. Killer-nya minta ampun memang.”Ryan terkekeh pelan. “Daripada bete begitu, mending ikut aku, yuk! Aku nemu tempat bagus banget. Mau lihat?”“Di mana?”“Dekat panti. Ada danau buatan di sana, tapi bagus banget meski hanya buatan.”“Oh, yaa? Boleh deh! Tapi, memangnya kamu nggak ada jam kuliah?”Ryan menggeleng pelan. “Nggak ada. Dosennya lagi rapat. Mata kuliah terakhir juga. Setelah itu nggak ada lagi.”“Oh! Ayolah kalau begitu.” Ayuni kemudian menerbitkan cengiran kepada lelaki itu.Keduanya pergi dari kampus menuju danau buatan yang disebutkan Ryan tadi. Mengenakan sepeda milik lelaki itu yang sering ia pakai untuk pergi k