Waktu sudah menunjuk angka sepulu pagi. Ayuni yang baru saja selesai sarapan langsung menghampiri sang mama yang tengah duduk melamun menatap kosong ke depan.“Kenapa, Ma? Mama masih memikirkan tentang anaknya Mama Melinda yang laki-laki?” tanya Ayuni sembari duduk di samping sang mama.Rini menoleh pelan kepada sang anak. “Mama rasa, Ryan adalah anak kandungnya Melinda.”Ayuni lantas menganga. “Mana bisa, Mama. Terus, Ryan nikah sama Arumi berarti mereka … nggak mungkin lah, Ma. Mama Melinda mana mungkin menikahkan mereka karena saudara kandung.”Ayuni menolak asumsi sang mama karena mengira bila Ryan adalah anak kandung Melinda. Anak pertama yang hilang entah karena alasan apa, Ayuni tidak tahu.Rini menghela napas kasar. “Kalau Melinda sudah pulang, Mama ingin bertemu dengannya.”Ayuni mengangguk seraya menatap sang mama dengan lekat. “Mama merestui aku dengan Ryan, kan?”Pletak!Rini lantas menjitak kening Ayuni karena bertanya hal aneh kepadanya. “Kamu ini kenapa? Ragu, sama Ryan
Perempuan itu lantas menoleh ke belakang setelah mendengar seseorang memanggil namanya.“Mama duluan aja. Nanti aku naik taksi kalau nggak telepon Vita untuk jemput aku.”“Beneran? Nggak mau Mama tunggu aja? Nanti kamu kenapa-napa gimana?”“Ma. Baru satu bulan. Masih oke. Aku nggak akan lama kok.”Rini menghela napasnya dengan pelan. “Ya sudah kalau kamu maksa. Langsung pulang kalau urusannya sudah selesai.”Ayuni menganggukkan kepalanya sembari mengulas senyum kepada sang mama. Setelahnya, ia menghampiri lelaki yang tadi memanggilnya.“Apa kabar? Udah lama banget nggak ketemu.” Sagara Biru—lelaki yang sempat dekat dengan Ayuni sebelum akhirnya Andreas lebih dulu mengungkapkan perasaannya kepada Ayuni.“Baik. Udah kelar, sekolahnya? Tahu-tahu udah pake jas dokter aja.”Biru—sapaan lelaki itu kemudian menarik tangan perempuan itu dan membawanya ke kantin yang ada di sana.“Gantiin Kak Firman karena dia udah naik jabatan.”Ayuni mengerutkan keningnya. “Elo, masih saudaraan sama Dokter F
Andreas menyunggingkan senyum sembari menghampiri Ayuni dan mengambil map tersebut. Membacanya dengan saksama dan mengadahkan wajahnya menatap Ayuni yang terlihat lebih serius dari biasanya.“Kenapa? Baru sadar, kalau kamu hanya dimanfaatkan oleh orang yang selama ini selalu kamu bela, heum?”Ayuni menghela napas kasar. “Aku hanya ingin pergi jauh dari kalian berdua. Aku mau minta maaf karena sudah membuat Gita keguguran.”“Santai aja. Gita bentar lagi juga hamil lagi. Nggak usah pikirkan hal yang nggak bisa kamu berikan.”Ayuni menelan saliva dengan pelan. “Ya udah, tanda tangan karena aku udah menerima permintaan kamu untuk jangan menikah dengan Ryan. Kamu nggak percaya?”Andreas terkekeh dengan pelan. “Nggak percaya karena kamu lengket banget sama dia.”“Udah nggak. Dia udah punya yang baru.”Andreas kembali tertawa. “Mana buktinya kalau Ryan udah punya yang baru?”Ayuni menghela napasnya kemudian mengambil ponselnya. Menghubungi Biru yang sudah mengirim pesan kepadanya memberi tah
“Mas. Kamu mau ke mana lagi hari ini?”Gita menghampiri Andreas yang tengah merapikan jasnya karena di pagi buta itu dia sudah rapi.“Ke Surabaya, Gita. Aku udah bilang sama kamu dari seminggu yang lalu.”“Nggak ada, Mas. Kamu bilang sama siapa? Kamu punya yang baru lagi, yaa? Mas! Aku kan masih bisa hamil.”Andreas kemudian menarik napasnya dalam-dalam kemudian menatap Gita dengan datar. “Emang hanya Ayuni yang terbaik. Tapi, mau gimana lagi. Dia udah nggak mau dan gue juga nggak bisa memaksakan kehendak.”Andreas bergumam sembari berkacak pinggang menatap Gita yang masih mengoceh tak karuan.“Andreas?”Lelaki itu menoleh ke belakang kemudian menaikan sebelah alisynya kala melihat Ryan ada di rumahnya.“Ada apa?” tanyanya datar.Ryan melangkah menghampiri Andreas seraya menatapnya. “Kamu tahu, di mana Ayuni tinggal? Berkali-kali aku tanyakan kepada mamanya, nggak mau memberi tahu di mana Ayuni sekarang tinggal.”Andreas tersenyum miring. “Nggak tahu. Andai pun gue tahu, nggak akan gu
“Ryan. Ayuni kenapa?”Vita tiba di rumah sakit setelah dihubungi Ryan karena Ayuni tak sadarkan diri saat dirinya tiba di rumah.“Dehidrasi,” jawabnya dengan pelan. “Ayuni harus dirawat di sini sampai kondisinya benar-benar pulih.”Vita menghela napasnya dengan pelan seraya menatap Ayuni yang masih belum sadarkan diri di atas bangsal rumah sakit.“Ya udah. Biar aku aja yang jaga dia,” ucapnya kemudian duduk di bangku samping bangsal Ayuni.“Pak Damian sudah tahu kondisi Ayuni. Semua kerjaan bisa ditunda dan aku bisa jaga dia dan harus bahas soal ini dengan Ayuni. Aku nggak mau dia terus menerus salah paham padaku karena Biru.”Vita mengangguk sembari tersenyum tipis kepada Ryan. “Ayuni orangnya nggak mudah percaya kalau nggak ada bukti. Aku rasa karena hormone aja sih. Banyak soalnya yang hamil jadi benci sama suaminya. Meski kalian belum menikah, tetap aja itu anaknya kamu.”Ryan tersenyum tipis kemudian menoleh kepada Ayuni yang akhirnya membuka matanya. “Ayuni.” Ryan mengulas senyu
Dokter Mia menerbitkan cengiran kepada Biru. Setelahnya, keduanya kabur dari kamar rawat Ayuni karena tidak mau terkena masalah karena kepergian Ayuni.“Taksi!”Ayuni benar-benar pergi setelah menyelesaikan administrasinya.Bukan kembali ke rumah. Ayuni memilih pergi ke café yang tak jauh dari toko buku miliknya.Tak lama setelahnya, dering ponselnya berbunyi.“Selamat sore, Bu Ayuni. Sidang pertama untuk proses perceraian Anda akan dilaksanakan di minggu depan. Hari Rabu jam sepuluh pagi ya, Bu.”Ayuni menghela napas lega mendengarnya. “Baik, Pak. Saya akan menghadirinya. Jam sepuluh, kan?”“Betul, Bu. Kuasa hukum untuk Pak Andreas sudah saya siapkan dan akan datang menghadiri sidang pertama itu.”Ayuni menerbitkan senyumnya kemudian menghela napas panjang. “Baik, Pak. Terima kasih. Semoga sidangnya berjalan dengan lancar.”Ia lalu menutup panggilan tersebut dan menyimpan ponselnya kembali.Namun, tak lama setelahnya Ryan menghubunginya. Ia yang tidak ingin diganggu itu lantas menona
“Sekarang kamu pulang. Jangan ganggu aku lagi. Silakan sibukan diri kamu dengan kerjaan kamu itu dan … anggap saja kalau aku lagi nggak hamil. Nggak ada janin yang harus aku pertahankan.”Ryan menggelengkan kepalanya seraya menatap Ayuni dengan tatapan intens. “Nggak, Ayuni. Kamu kenapa sih? Dulu kamu nggak begini. Malah support aku yang udah lelah banget karena setiap hari pulang larut malam.”“Aku support kamu. Tapi, kamunya malah main gila sama perempuan lain. Udahlah, Ryan. Friska jauh lebih baik dari aku, kali. Jangan karena wasiat dari Arumi, kamu pura-pura mempertahankan aku kayak gini. Nggak perlu.”“Pura-pura? Apanya yang pura-pura? Aku nggak pernah pura-pura mencintai dan berjuang untuk kamu. Aku nggak pernah main gila sama Friska atau dengan siapa pun. Please, Ayuni. Jangan bersikap seperti ini. Aku mohon.”Ryan menggenggam erat tangan Ayuni seraya menundukan kepalanya. Lelehan air mata yan
Hidung Ayuni kembang kempis mendengar ucapan dari Ryan barusan. Membuatnya jadi salah tingkah lalu membalikan tubuhnya tak ingin melihat lelaki itu.“Bilang aja salting. Aku mau lamar kamu setelah kamu resmi bercerai, Ayuni. Lebih cepat lebih baik. Agar aku bisa jaga dan rawat kamu. Rumah baru untuk kita juga hampir seratus persen selesai.”Ayuni lalu menolehkan kepalanya. “Kalau bisa, temani aku sidang pertama hari Rabu depan.”Tidak ingin melakukan kesalahan yang membuat Ayuni semakin membencinya, Ryan memilih untuk mengirim pesan yang telah dia buat berjadwal. Meski hanya mengabarinya saja. Tidak peduli meski hanya dibaca saja oleh perempuan itu.“Selamat malam, Pak Sutto. Keperluan medis untuk satu bulan ke depan sudah saya email dan sudah saya approve ya, Pak.”Ryan menghubungi kepala purchasing sembari merapikan meja kerjanya karena waktu sudah menunjuk angka tujuh malam. Sabtu malam dan masih di rumah saki
“Happy birthday, Sayang.” Ryan memakaikan kalung di leher Ayuni yang tengah melipat baju milik Melvin.Ia terkejut karena Ryan datang dengan tiba-tiba kemudian memberinya sebuah kalung di lehernya. “Mas!” Ayuni kemudian membalikan tubuhnya yang kini berhadapan dengan sang suami.“Selamat ulang tahun ya, Sayang. Di usia yang ketiga puluh tahun ini, kamu diberi hadiah yang luar biasa. Hadirnya Melvin di hidup kita, menjadi pelengkap sempurnanya rumah tangga kita. Menjadikan kita orang tua yang sempurna, dan menjadikan Shakira sebagai kakak.”Ryan lalu mengecup kening perempuan itu dan memeluknya. Senyum bahagia terukir di bibir perempuan itu. Bagaimana tidak, di malam ulang tahunnya itu ia diberi kejutan yang cukup membuatnya bahagia luar biasa.“Terima kasih, Mas. Terima kasih sudah menjadi pelengkap hidup aku. Terima kasih sudah menjaga aku sampai kita bisa melewati semuanya.”Ayuni kemudian mencium punggung tangan Ryan dan menatapnya lagi dengan senyum di bibir perempuan itu. “Ucapka
Anggota keluarga Ayuni dan juga Ryan tengah menyambut cucu kedua mereka. Usia kandungan Ayuni sudah memasuki tujuh bulan. Karena kondisi rahim Ayuni yang semakin parah, Dokter Mia memutuskan untuk melalukan operasi Caesar di hari ini.Ya. Ayuni harus melahirkan bayi secara premature. Sebab kondisi Ayuni yang sudah tidak tahan lagi menahan sakit itu. Ryan pun menyetujui hal itu. Daripada Ayuni mengalami hal yang tak diinginkan, sebaiknya bayi mungil itu segera dikeluarkan.Di ruang operasi. Yang mengambil alih bedah perut Ayuni adalah Dokter Firman ditemani oleh Dokter Mia. Sementara Ryan hanya menginteruksi apa saja yang mesti dilakukan.“Kamu masih kuat, Sayang? Sabar, yaa. Sebentar lagi bayinya akan keluar. Setelah itu, kamu tidak akan mengalami sakit luar biasa itu,” bisik Ryan yang terus mengajak Ayuni bicara. Jangan sampai perempuan itu tertidur dalam keadaan lemas seperti itu.Ayuni menggenggam tangan Ryan dengan erat. Tak bisa bicara karena kondisinya yang sudah tak karuan. Ker
Dua bulan kemudian.Ayuni terbangun karena mendengar suara percikan air di dalam kamar mandi juga Ryan yang tidak ada di kamar.“Baru jam enam dia udah mandi jam segini? Mau ke mana emang dia?” gumamnya kemudian beranjak dari tempat tidur dan masuk ke dalam kamar mandi.“Mas. Kamu lagi apa?” tanya Ayuni menghampiri Ryan yang tengah berdiri di depan wastafel.“Mau gosok gigi,” jawabnya singkat.Ayuni mengerutkan keningnya. “Gosok gigi? Kamu ada kerjaan di jam tujuh apa gimana? Ini baru jam enam, Mas. Tumben banget jam segini udah ada di kamar mandi. Biasanya jug—”Ayuni memegang perutnya karena nyeri. “Ssstth!” lirihnya sembari memegang perutnya.Ryan menoleh kemudian segera berkumur. “Kembali ke kamar, Sayang.” Ryan menuntun Ayuni lalu mendudukan perempuan itu di tepi tempat tidur.“Perut aku sakit, Mas. Nyeri.”Ryan menganggukkan kepalanya. Ia lalu merebahkan tubuh sang istri dan mengambil stetoskop di dalam laci. Hendak memeriksa kondisi Ayuni yang tiba-tiba saja nyeri.“Aku tadi ha
Ryan hanya menggaruk pelipisnya mendengar pertanyaan Ayuni yang berhasil membuat bulu kuduknya merinding. Bukan Ayuni yang tegang, Ryan lah yang tegang kala mendengarnya.Ayuni melihat tingkah laku Ryan hanya tertawa kemudian geleng-geleng. “Mas bojo memang sangat alim. Digoda seperti itu saja langsung panas dingin. Padahal memang benar, kalau sudah main pasti akan panas.”Ryan menghela napas pelan. “Kamu jangan macam-macam. Minta berapa ronde kayak yang iya. Sekali main langsung tidur, aku pukul bokong kamu.”Ayuni lantas tertawa. “Oh, yaa? Memangnya kamu berani, pukul aku? Mau aku laporin ke Komnas HAM?”“Nggak ada hubungannya, Sayang. Kalau kamu mau laporin aku ke Komnas HAM hanya karena memukul bokong, setiap kita main juga aku sering mukul. Harus ada bukti juga dan memangnya kamu mau kasih bukti saat kita lagi main?”Ayuni kalah telak. Ia kemudian mengibaskan tangannya karena tidak bisa menjawab pertanyaan dari sang suami.Ryan yang melihatnya hanya terkekeh lalu geleng-geleng. S
Tiga bulan setelah Ayuni mengalami koma selama satu tahun. Kondisinya sudah dibilang membaik setelah beberapa kali melakukan perawatan dengan sangat telaten dan Ayuni pun selalu menuruti perintah dari sang suami.“Mama. Kemarin aku ketemu sama Kak Cakra. Itu pun nggak sengaja ketemu.” Shakira menghampiri sang mama yang tengah merapikan bajunya di dalam kamar.“Oh, ya? Terus, dia ngomong apa aja ke kamu? Sudah lama sekali sepertinya kalian tidak bertemu.”Shakira mengangguk. “Iya. Dia nanya kabar Mama. Dia senang karena Mama udah sembuh. Tadinya mau aku ajak ke rumah buat ketemu Mama. Tapi, katanya dia lagi ada urusan. Mau ketemu sama kakeknya.”Ayuni manggut-manggut dengan pelan. “Ya sudah biarkan saja. Yang penting Cakra masih ingat sama kamu. Lagian kalian ini pada kecil. Belum waktunya untuk saling dekat. Biar saja dulu masing-masing. Kamu menikmati masa kecil kamu dan Cakra fokus sama pendidikannya.”Ayuni mengusapi rambut Shakira dengan lembut seraya menasihatinya agar anaknya pa
Satu minggu setelah Ayuni sadarkan diri, ia akhirnya sudah bisa pulang dan dirawat di rumah saja. Ayuni sudah jenuh dan bosan bila harus dirawat di rumah sakit. Sudah terlalu lama bahkan satu tahun lebih dia ada di sana.“Apa yang masih kamu rasa sakit, Sayang?” tanya Ryan setelah membawa Ayuni duduk di tempat tidur.“Ini.” Ayuni menunjuk kepalanya. “Terus ini.” Kemudian menunjuk kening, pipi hingga bibir. “Dan terakhir ini.”Ryan lantas geleng-geleng. “Baru juga sembuh udah mikir yang jorok. Nanti kita bulan madu lagi.”Ayuni menghela napas kasar. “Aku masih harus menunggu dua tahun lagi buat punya anak, Mas. Jadi, nggak usah ada bulan madu lagi.”Ryan kemudian memberikan secarik kertas hasil pemeriksaan terakhir kondisi rahim Ayuni. “Kamu sudah bisa hamil, Sayang.”Ayuni menganga kemudian menutup mulutnya. “Beneran, Mas? I—ini, ini nggak bohong, kan?”Ryan terkekeh pelan. “Nggak dong, Sayang. Rahim kamu sudah siap menampung bayi meski harus tetap dijaga dan dirawat sampai sembilan b
Sudah satu tahun berlalu. Ayuni masih enggan untuk membuka matanya. Masih betah tidur dengan alat bantu medis yang mengelilingi tubuhnya.“Ayuni sudah melewati masa pengobatannya, Ryan. Dan dia masih belum ingin membuka matanya. Ayuni pasti kesiksa karena alat-alat ini.”Biru menghampiri Ryan yang tengah memeriksa kondisi Ayuni. Ia lalu menoleh dan melepas stetoskop di telinganya.“Jantungnya masih berdetak normal, Biru. Aku sudah melepas beberapa alat yang ada di tubuh Ayuni. Dia hanya masih lemas saja. Belum bisa buka matanya.” Ryan menatap wajah Ayuni dengan wajah sendunya.Biru kemudian mengusapi bahu lelaki itu. “Kalau dia udah nggak kuat, jangan dipaksa. Kasihan Ayuni. Harus kesiksa karena alat-alat ini.”Ryan menelan salivanya. “Aku tidak ingin kehilangan untuk kedua kalinya, Biru. Ayuni sudah jadi yang terakhir untukku. Aku akan usahakan untuk menyembuhkan dia apa pun akan aku lakukan.”Biru menganggukkan kepalanya kemudian menolehkan matanya kepada Ayuni. Mulutnya menganga se
Delapan bulan kemudian.“Happy anniversary, Sayang. Hari ini adalah hari pernikahan kita ke satu tahun. Aku punya hadiah buat kamu.”Ryan mengusapi pucuk kepala Ayuni dengan lembut sembari menyimpan hadiah di atas nakas berupa kotak musik sebagai hadiah satu tahun pernikahan mereka. Dan Ayuni masih terbaring di atas bangsal, di ruang ICU.“Aku ada sedikit cerita. Shakira dan Cakra harus berpisah karena Cakra sudah masuk SMP. Dia sering ke sini jengukin kamu, nemenin Shakira ngobrol dan dia sedikit terhibur karena ada Cakra. Tapi, sekarang Cakra udah menghilang. Dia masih belum ingin memberi tahu di mana dia sekolah. Kasihan Shakira, harus LDR dulu sama Cakra.”Ryan kemudian terkekeh pelan seraya mengusap air matanya. Ia yang selalu bercerita semua kejadian yang dia lewati selama Ayuni koma. Agar Ayuni tahu, apa saja yang dia lewati selama delapan bulan itu.Tok tok tok!Ryan menoleh ke arah pintu. Andreas tengah berdiri di sana dan akhirnya ia harus bangun dari duduknya menghampiri le
Dua belas tahun yang lalu ….“Ayuni?”Perempuan yang tengah makan choki-choki itu kemudian menoleh. “Ryan? Lagi ngapain di sini?” tanyanya sembari menyodorkan choki-choki itu kepada Ryan.“Makasih. Kamu sendiri lagi ngapain di sini?” tanyanya kemudian duduk di samping perempuan itu.“Lagi bete sama dosen kampret satu itu. Cuma salah satu doang, tetep aja dihukum. Killer-nya minta ampun memang.”Ryan terkekeh pelan. “Daripada bete begitu, mending ikut aku, yuk! Aku nemu tempat bagus banget. Mau lihat?”“Di mana?”“Dekat panti. Ada danau buatan di sana, tapi bagus banget meski hanya buatan.”“Oh, yaa? Boleh deh! Tapi, memangnya kamu nggak ada jam kuliah?”Ryan menggeleng pelan. “Nggak ada. Dosennya lagi rapat. Mata kuliah terakhir juga. Setelah itu nggak ada lagi.”“Oh! Ayolah kalau begitu.” Ayuni kemudian menerbitkan cengiran kepada lelaki itu.Keduanya pergi dari kampus menuju danau buatan yang disebutkan Ryan tadi. Mengenakan sepeda milik lelaki itu yang sering ia pakai untuk pergi k