Bunga membantu Jelita membersihkan alat makan yang kotor. Mereka telah menyelesaikan makan malam berdua tanpa kehadiran dokter dingin itu, Kafkha. Sebelum meninggalkan rumah itu, Bunga ke kamar Kafkha untuk melihat kondisi Raisa. Setelah sampai di kamar Kafkha, tidak hanya melihat Raisa, Bunga juga melihat foto Marissa, istri Kafkha di rentetan foto di atas meja dan dinding kamar. Foto wanita itu seakan menghidupkan suasana kamar, memberikan energi semangat untuk. Kafkha dalam hidupnya.
Keceriaan terlukis di wajah Kafkha di setiap foto itu, jauh berbeda dari Kafkha yang dijumpainya sekarang, bahkan Kafkha yang dijumpainya dulu. Bunga jadi mengerti, Marissa bagaikan penawar, obat atas luka di hati Kafkha. Wajar baginya Kafkha sulit melupakan mendiang istrinya itu.“Aku tidak yakin bisa mengisi hati Kafkha. Jika aku tetap bersamanya, sama saja aku melukainya. Tapi, bagaimana aku menolak pernikahan itu? Aku sudah menyetujuinya. Raisa juga kasihan. Mana aku juga ingin sekali menjaga anak ini, kasihan dia.” Bunga memperhatikan wajah Raisa di dalam keranjang bayi.“Bunga ...!" Jelita berseru sambil berjalan ke pintu kamar Kafkha. "Taksi sudah ada di luar. Hati-hati di jalan dan jangan lupa hubungi Mama,” pesan Jelita.“Iya.” Bunga mendekati Jelita yang masih berdiri di pintu dan menyalami tangannya.Bunga keluar rumah itu, berjalan memasuki taksi yang terparkir di luar gerbang rumah. Mata Bunga memperhatikan Jelita dari jendela taksi, wanita itu berdiri di teras rumah. Jelita melambaikan tangan sambil tersenyum padanya.Di tengah perjalanan, mereka melihat seorang wanita hamil di tepi jalan. Suami wanita itu berlari menghambat taksi berjalan. Suami wanita hamil itu meminta si sopir taksi untuk mengantarkan mereka ke rumah sakit. Bunga memperhatikan raut wajah wanita itu, ia tampak kesakitan sambil menarik napas dan menenangkan dirinya. Bunga membaca situasinya, wanita itu akan melahirkan. "Tapi, saya ada penumpang," kata si sopir taksi. "Bawa saja, Pak! Kita ke rumah sakit saja sebelum mengantar saya kembali," sahut Bunga."Terima kasih," ucap pria itu kepada Bunga.Bunga keluar dari taksi, ikut membantu pria itu memasukkan istrinya ke dalam taksi. Bunga beralih duduk di depan, membiarkan suami-istri itu duduk di belakang. Bunga tertular kecemasan suami wanita itu setelah melihat kepanikan dan kekhawatiran yang terukir di wajahnya. Pria itu tampak tidak tahan melihat istrinya menjerit kesakitan."Mbaknya mau lahiran, Mas?" tanya Bunga."Iya, Mbak.""Mbak, tarik napas dalam-dalam, tenang, dan buang. Mbak jangan panik." Bunga menenangkannya. Dalam beberapa menit perjalan, akhirnya mereka sampai di rumah sakit. Bunga ikut memapah wanita itu masuk ke dalam rumah sakit. Bunga memanggil petugas rumah sakit dari teras, ia meminta mereka untuk membawakan kursi roda atau brankar rumah sakit. Dari kejauhan Kafkha melihat kepanikan di wajah Bunga. Pria itu mengeluarkan kedua tangan yang sempat bersembunyi di balik saku jas dokternya dan berjalan menghampiri Bunga."Ada apa?" tanya Kafkha dengan raut wajah tenangnya. "Ada wanita yang ingin melahirkan. Tolong dia!" Bunga memegang tangannya.Kafkha menoleh ke kanan, mengarahkan pandangan ke arah pintu rumah sakit yang memperlihatkan wanita hamil itu berdiri kesakitan dalam rangkulan pinggang sang suami. Kafkha berteriak memanggil petugas rumah sakit untuk mengeksekusi wanita itu ke ruang bersalin. Lalu, ia menghubungi temannya, salah satu dokter bersalin di rumah sakit itu untuk menangani wanita hamil itu.Seorang dokter wanita bernama Sarah menangani wanita itu di ruang bersalin. Beberapa menit kemudian, Sarah keluar dari ruang bersalin bersama raut wajah sedih."Bagaimana, Dokter?" tanya suami wanita hamil itu masih dilanda oleh kecemasan."Istri Anda mengalami pendarahan hebat. Kecil kemungkinan bagi ibu dan anak selamat. Kita harus memilih salah satu dari mereka untuk diselamatkan. Tapi, pilihan itu tidak menjamin yang dipilih akan baik-baik saja," terang Sarah."Bagaimana bisa? Jika saya memilih ibunya, dia belum dinyatakan bisa diselamatkan? Kalau begitu, percuma saya memilihnya. Dokter memberikan pilihan macam apa?" Pria itu emosi."Pak, peluang bagi ibu dan anak, kecil untuk diselamatkan. Hanya bisa memilih satu, tapi jangan terlalu berharap karena situasi mereka membuat dokter tidak bisa menjamin keselamatan ibu atau anak yang ingin Anda selamatkan." Kafkha mencoba menjelaskan dengan ketenangan meski perasaannya ikut terguncang. Kafkha trauma dengan situasi itu, tetapi posisinya saat itu menuntutnya untuk bisa menjadi teladan yang baik sebagai seorang dokter yang profesional."Bagaimana bisa, Dok? Coba selamatkan mereka berdua. Saya tidak ingin mereka berdua kenapa-napa," tekan pria itu. "Saya paham. Saya pernah berada di posisi Bapak saat ini. Istri saya meninggal saat melahirkan anak saya. Situasinya persis seperti ini," jelas Kafkha."Tolong selamatkan keduanya, Dok!" pinta pria itu, berharap."Tidak bisa, Pak. Kita harus memilih salah satu di antara mereka. Selanjutnya, kita serahkan kepada Tuhan," kata Sarah.Pria itu diam sejenak, ia berdiri membelakangi keberadaan dokter dan Bunga dalam kebimbangan, kedua tangannya berada di pinggang. "Selamatkan istri saya, Dokter," kata pria itu dalam kesedihan sambil memutar tubuh kembali menghadap mereka.Satu sisi dihadapkan dengan seorang istri yang sangat dicintainya, tetapi disisi lain ia juga mengharapkan anak karena sang istri sulit hamil. Bahkan, saat ini anak yang tengah dikandung istrinya baru mereka dapatkan setelah 10 tahun lama menikah. Kafkha menjatuh air mata. Posisi pria itu mengingatkannya ke dua tahun lalu saat Marissa melahirkan. Kafkha berjalan meninggalkan tempat itu dengan langkah lambannya. Tangan kanannya menghapus tetes demi tetes air mata yang mengalir di pipinya. Bunga merasakan kesedihan Kafkha, mengubah perasaan cemasnya menjadi sedih. Bunga berjalan mengikuti Kafkha dari belakang, sampai akhirnya berjalan di samping pria itu. Kafkha tidak ingin dipandang lemah dan menyedihkan, ia terpaksa kuat dengan memasang wajah dingin untuk menyembunyikan kesedihannya. "Kenapa mengikutiku?" tanya Kafkha.Bunga tersenyum sambil menggelengkan kepala. Kakinya masih melangkah beriringan bersama Kafkha. ***Kafkha membangunkan Bunga. Wanita itu duduk di sampingnya, di dalam mobil dalam keadaan tidur. Kafkha mengantar Bunga kembali ke rumahnya karena kebetulan ia juga sudah pulang. Bunga tidak bisa dibangunkan, Kafkha terpaksa membopong tubuhnya keluar dari mobil dan membawanya menuju rumah yang ada di depan mobil. Tangan kanan Kafkha mengetuk pintu rumah sederhana itu.Murni berjalan mendekati pintu rumah menggunakan tongkatnya untuk berjalan. Ia membuka pintu dan melihat sang anak berada di bopongan Kafkha."Bunga kenapa? Kamu siapa?" tanya Murni, kebingungan."Kafkha, Bu. Anak Mama Jelita. Bunga baik-baik saja, dia tertidur di mobil saat aku mengantarnya," terangnya."Itu kamar Bunga. Tolong bawa dia ke kamar, Nak Kafkha," pinta Murni.Murni mengikuti Kafkha dari belakang, berjalan menuju kamar Bunga. Kamar anaknya itu berdampingan dengan kamarnya yang berada tidak jauh dari pintu rumah.Kafkha membaringkan tubuh Bunga di atas kasur. Mata Kafkha tidak sengaja mengarah ke foto masa kecil beberapa anak dalam balutan seragam sekolah dasar, foto itu tertempel di dinding seberang keberadaannya yang diantarai oleh kasur. Kafkha sadar kalau Bunga teman sekelasnya saat sekolah dulu."Bunga?" Dalam hati Kafkha berkata sambil mengingat.Perlahan Kafkha mengingat sosok Bunga yang pernah hadir di masa kecilnya. Ia ingat seorang Bunga di moment pelajaran olahraga dalam materi lari. Bunga bertubuh kecil dan berkulit hitam, menjadi pemilik nilai tertinggi setiap olahraga lari di sekolah."Arang terbang," kata Kafkha dalam hati sambil senyuman tipis."Terima kasih Nak Kafkha," ucap Murni sambil menyelimuti tubuh Bunga.Kafkha menganggukkan kepala dan berjalan keluar meninggalkan kamar itu. Murni mengikutinya dan menyuruh pria itu duduk di ruang tamu. Kafkha menerima tawaran Murni, mengajaknya minum segelas kopi di rumah itu, sekaligus ia ingin mencari tahu banyak hal mengenai Bunga melalui pembicaraannya bersama Murni."Tidak! Tidak ... tidak! Jangan lakukan itu. Aku mohon ...!" Bunga meringis memohon dan ketakutan.Suara Bunga terdengar nyaring keluar kamar, menghentikan pembicaraan Murni dan Kafkha. Mereka yang duduk di ruang tamu itu mendengar ringisan Bunga. Mereka bergegas memasuki kamar Bunga untuk melihat kondisi wanita itu. Setelah pintu dibuka, terlihat Bunga masih berbaring di atas kasur dengan kepala menggeleng ke kanan dan kiri bersama keringat membasahi wajahnya."Bunga ...! Nak ...! Bunga ...!" Murni memanggil nama Bunga sambil menepis pipi anaknya itu pelan. Murni menggeledah laci meja, ia mengambil sebuah jarum dari kotak kecil, khusus menyimpan jarum. Kafkha berdiri bingung melihat tingkah Murni, ia memperhatikan wanita paruh baya itu menusuk jari telunjuk kanan Bunga menggunakan jarum tersebut.Kedua bola mata Bunga terbuka kaget, matanya membesar menatap langit-langit kamar. Ekspresi wajahnya seperti orang yang baru saja kelelapan air. Napasnya bergerak cepat, seperti diburu oleh kawanan serigala.Murni membantu Bunga duduk. Wanita itu memeluk sang ibu sambil menangis."Kamu baik-baik saja. Tenang," ucap Murni dengan suara kecil.Dahi Kafkha mengerut bingung melihat kejadian itu. Ia hanya bisa berdiri diam di tengah kamar itu dengan rasa penasaran yang ikut mengisi pemikirannya. Lalu, Kafkha keluar dari kamar itu dan kembali duduk di sofa setelah melihat Bunga menatapnya bingung.Beberapa menit kemudian, Murnia keluar dari kamar dan menutup pintu kamar Bunga. Wanita paruh baya itu meminta maaf atas kejadian itu."Itu salah satu kebiasaan buruk Bunga. Satu tahun lalu dia hampir diperkosa, tapi untungnya dia baik-baik saja karena dokter Daffa menolongnya. Sejak saat itu, sesekali, Bunga mengalami kejadian seperti tadi dalam mimpinya. Tapi, itu sudah biasa baginya.Kafkha jadi mengerti mengapa Murni menusuk jari Bunga. Pria itu mengangguk paham dengan cerita Murni."Aku memahaminya. Kalau begitu, aku pergi dulu," pamit Kafkha.Murni mengantar Kafkha sampai ke teras rumah. Wanita paruh baya itu bahagia mendengar pria yang baru saja berkunjung ke rumahnya itu akan menjadi menantunya. Murni mendapatkan berita mengenai pernikahan Bunga dan Kafkha langsung dari Jelita tanpa sepengetahuan mereka. Di belakang mereka, Murni dan Jelita merencanakan sebuah rencana pernikahan untuk dilangsungkan oleh mereka berdua.Kafkha tidak tahu harus bahagia atau bersedih. Pernikahan mulai dipersiapkan dan akan diselenggarakan di kediamannya dua hari lagi. Para wedding organizer mulai menata beberapa bunga untuk dekorasi pernikahan di rumah itu. Semua orang tampak sibuk, terutama Jelita dan Murni yang tengah duduk di ruang tamu sambil melihat-lihat menu makanan yang akan disajikan di hari pernikahan nanti.Kafkha menoleh ke samping, melihat Bunga sedang menggendong Raisa di sudut ruang tamu itu. Tawa Bunga bersemi bersamaan dengan senyuman anaknya. Kafkha berdiri di depan pintu rumah melihat kesibukan setiap orang sampai tidak menyadari keberadaannya sendiri. Situasi Itu membuat Kafkha merasa mendiang Marissa selangkah demi selangkah menjauh darinya."Bagaimana perasaan Marissa melihat aku akan menikah? Dia pasti sedih," kata Kafkha dalam hati.Bunga memperkecil volume tawannya sampai akhirnya suara tawa itu tidak terdengar lagi setelah melihat pria yang akan menikahinya diam tampak tak tenang. Bunga melang
Dua Hari Kemudian ....Kafkha mengenakan baju pengantin yang telah disediakan. Hatinya masih ragu untuk melanjutkan pernikahan itu karena takut tidak bisa menerima Bunga setelah pernikahan itu terjadi dan juga malah akan menyakiti hati wanita malang itu. Sama sepertinya, Kafkha merasa Bunga juga orang menyedihkan karena masa lalu yang di alaminya. Kafkha mengeluarkan foto pernikahannya bersama Marissa dari dompet, ia memejamkan mata sambil mengingat momen ketika dirinya mempersunting Marissa sebagai istrinya."Nak ...!" panggil Jelita.Kafkha membuka mata. Tangannya bergegas memasukkan kembali foto tersebut ke dompet dan menoleh ke belakang sambil tersenyum. Ia berjalan mengikuti Jelita meninggalkan kamar tamu yang ditempatinya sejak kamarnya didekorasi.Kafkha melihat banyak tamu undangan, ia tidak menyangka undangan Jelita tak sesuai ekspektasinya. Bukan hanya kerabat dekat, seluruh staff rumah sakit juga datang. Kafkha diam tercengang, matanya menjalar, menjelajah memperhatikan beb
Kafkha meluluhlantakkan semua perasaan sedihnya. Bibirnya tersenyum bahagia ketika bibirnya menjelajahi sekujur tubuh Bunga membuat tubuh wanita itu kaku merasakan kenikmatan dalam hubungan suami-istri untuk pertama kalinya. Beberapa kali bibir Kafkha berucap menyebut nama Marissa, hanya Marissa, bukannya Bunga. Kafkha bisa menikmati malam pertama pernikahannya bersama Bunga karena bayangan wajah Marissa. Ibarat, Bunga hanya wanita bayangannya. Hati Bunga sakit ketika mendengar nama Marissa diucap Kafkha disaat pria itu sudah menjadi suaminya. Namun, Bunga tidak lupa landasan mereka menikah. Tubuh pria itu jatuh di atasnya, kepala Kafkha berada tepat di dadanya. Pria itu menangis sambil mengungkapkan kerinduannya kepada Marissa. "Kamu tidak mencintaiku, kamu malah meninggalkanku," tangis Kafkha Isak.Untuk pertama kalinya Bunga melihat pria menangis sesedih itu di hadapannya, bahkan dalam pelukannya. Bunga ikut merasakan kesedihan pria itu, tangannya mengelus punggung mulus Kafkha d
Kafkha tidak bisa tidur. Perasaan bersalah menghantuinya setiap kali ingat bentakannya pada Bunga. Pria itu menoleh ke samping, memandangi Bunga yang telah memejamkan mata dalam tidurnya. Kafkha melihat luka di tangan Bunga dan ingat kukunya sempat melukai tangan wanita itu. "Mengapa aku seceroboh ini?" Kafkha duduk dan memperhatikan tangan Bunga. Kafkha menyadari hal lain. Matanya mendapati sebercak darah di sprei yang ada di sampingnya, berada di antara dirinya dan Bunga. Ia ingat telah menyetubuhi Bunga dan juga mengingat bibirnya menyebut nama Marissa dalam kondisi sadar. Raisa kembali menangis. Kafkha bangkit dari kasur dan menghampiri keranjang bayi. Bunga ikut terbangun oleh suara tangis itu. Ia duduk dan memperhatikan jam menunjukkan pukul 02.00 dini hari. Bunga tiada mengenal lelah, ia mengambil Raisa dari gendongan Kafkha dan menenangkan anak itu dalam gendongannya. "Kamu tidur saja. Aku yang akan menidurkannya," suruh Bunga. Kafkha menurut. Kakinya melangkah mendekati t
Bunga ke taman Lestari Indah bersama Raisa, la menggendong anak itu dan menggunakan payung untuk berteduh dari paparan sinar matahari yang bisa mengiritasi kulit Raisa. Willa girang setelah melihat bocah itu ikut bersamanya, kedua tangannya menarik tubuh Raisa dari gendongan Bunga dan membawa anak itu berjalan menghampiri sekumpulan ibu-ibu yang sedang memantau anak mereka main perosotan."Kamu bisa mengajari mereka dan aku yang akan mengurus anakmu yang cantik ini" Willa berseru, berbicara tanpa menoleh ke belakang."Tapi …." Bunga hanya bisa menggantungkan perkataannya karena tidak ingin mengungkapkan rasa ketakutannya.Ketakutan itu bersumber dari ingatannya mengenal sifat sensitif yang dimiliki Kafkha. Pria itu sangat teliti saat mengurus anaknya dan tidak mau anaknya dipegang oleh sembarang orang. Bunga khawatir Kafkha tahu kalau ia menitipkan Raisa kepada Willa. Namun, ia menepis pemikiran itu dan mencoba tenang selagi masih bisa mengawasi Raisa yang berada di satu tempat yang s
Kafkha meletakkan Raisa yang ada dalam gendongannya ke dalam keranjang bayi. Lalu, ia menghampiri Bunga yang ikut merasakan kekosongan di kamar itu, kedua bola matanya berkeliling melihat foto-foto sebelumnya yang ada di dinding kamar ataupun yang ada di atas meja menghilang."Drama apa lagi ini? Kamu tidak memiliki hak untuk menanggalkan semua foto-foto Marissa dan diriku!" teriak Kafkha, marah. Teriakan pria itu membuat Bunga kaget dan ketakutan. Raut wajahnya berubah bingung karena ia tidak mengerti maksud perkataan Kafkha karena bukan dirinya yang melepaskan semua foto-foto itu dari posisinya. "Aku ... ak--," perkataan Bunga terpotong karena Kafkha tidak memberikan celah untuknya berbicara.Kemarahan dan emosional tidak bisa dikendalikan Kafkha, ia mencengkram pergelangan tangan Bunga dan mendorong wanita itu sampai dahi Bunga terbentur ke meja. Cairan merah mengalir dan menumpuk di alis sebelah kiri wanita itu. "Sepertinya keputusanku menerimamu menjadi istriku adalah kesalaha
Kafkha mengangkat kepala dari bantal sambil mengucek kedua matanya, ia melihat Bunga berbaring di sampingnya dengan tangan wanita itu berada di dadanya. Kafkha menurunkan tangannya secara perlahan dan bangkit dari kasur. Kafkha berdiri memperhatikan Bunga tidur pulas. Melihat wajah polos wanita itu membuatnya merasa bersalah dan memikirkan cara untuk menebus kesalahannya kemarin. Kafkha berjalan menuju keranjang bayi, ia melihat anaknya itu masih tidur pulas. Matanya beralih menuju jam dinding yang menunjukkan pukul 7 pagi. "Ya ampun, aku harus ke rumah sakit. Nanti aku pikirkan cara untuk menebus kesalahanku itu," kata Kafkha sambil berjalan menuju lemari dan mengambil beberapa pakaian, lalu membawanya ke kamar mandi. Hampir lima belas menit ia berada di kamar mandi. Setelah keluar, ia melihat Bunga sedang menggendong Raisa dan berdiri di tepi jendela. Raisa mengarahkan pandangan ke arah tangan Bunga menunjuk menuju luar jendela yang memperlihatkan aktivitas ibu-ibu yang sedang ber
Danar mengejar Bunga memasuki rumah sakit, ia mengikutinya sejak tadi karena ingin meminta maaf setelah melihat Bunga marah. Beberapa orang memperhatikan mereka dengan raut wajah bingung. "Apa?" tanya Bunga sambil berhenti berjalan di lobi rumah sakit setelah merasakan orang-orang memandangi mereka."Kamu marah? Bukannya ingin menyinggungmu. Tapi, apa yang aku katakan benar," kata Danar dengan suara kecil."Baiklah. Kita lihat saja. Sekarang, jangan ikuti aku dan membuat semua orang berpikir yang tidak-tidak di antara kita. Tolong …," mohon Bunga dan melanjutkan kakinya berjalan. Danar memutar menoleh kiri dan kanan, melihat orang-orang masih menatapnya. Danar tersenyum ringan, mengangguk pelan, dan berjalan menuju ke arah di mana ruangannya berada. "Sepertinya dokter Danar dan istri baru dokter Kafkha itu bertengkar. Apa hubungan mereka ya? Apa mungkin mereka keluarga. Sepupu mungkin? Kan, dokter Danar dokter ibunya istri dokter Kafkha," kata seorang perawat yang berbicara pada pe
Sembilan Bulan Kemudian ….Bunga dan Kafkha duduk di salah satu bangku kosong di sebuah bioskop, mereka duduk berdampingan di bangku paling depan, berhadapan dengan layar lebar yang akan menampilkan sebuah film yang akan tayang dalam hitungan menit. Beberapa mata memperhatikan mereka dari belakang, menaruh rasa kagum kepada sepasang suami-istri jari manis dan jari kelingking itu. Baru beberapa detik Kafkha duduk, tangan pria itu mengelus perut besar Bunga, menambah mereka menjadi terbawa perasaan dan iri.“Pasangan yang serasi,” kata seorang wanita yang duduk di belakang mereka. Perkataan wanita muda itu tertangkap samar di telinga mereka, membuat Bunga sedikit malu dan salah tingkah dengan diam. “Katanya kita serasi. Menurutmu?” tanya Kafkha dengan berbisik ke telinga kanan Bunga. “Aku rasa begitu,” balas Bunga dan tersenyum lebar kepada suaminya itu. Film yang akan mereka tonton mulai. Bunga, Kafkha, dan semua pengunjung di dalam bioskop memperhatikan lakon dari pemain film itu
Bunga menceritakan semua yang terjadi sebelum Kafkha sadar kepada suaminya itu sambil mengelus batu nisan kayu yang sementara tertancap di bagian kepala makan Stella. Kafkha mendengar jelas dengan seksama cerita istrinya itu dengan posisi masih berdiri memperhatikan makan tersebut. Tidak hanya masalah donor jantung maupun penyakit yang dialami Stella saja yang dibuka olehnya, Bunga juga ikut bercerita mengenai hubungan Marissa dan pria yang bernama Angga itu. “Ternyata ayah anak itu Angga namanya. Stella bilang, itu temanmu. Benarkah?” tanya Bunga, menoleh ke sisi kanan dengan pandangan naik. “Bukan hanya sekedar teman, dia sudah seperti saudara ku sendiri. Pantas saja,” kata Kafkha, mengingat mimpinya saat tidak sadarkan diri, ketika ia melihat Marissa bergandeng tangan bersama Angga. “Pantas apa?” tanya Bunga, sedikit penasaran. “Bukan apa-apa,” balas Kafkha, tersenyum. Bunga berdiri dan menghadap badan ke arah Kafkha. “Kamu tidak marah?” tanya Bunga dengan mata menyelidik. “
Bunga berdiri dari duduknya di hadapan seorang pria dan seorang wanita yang lebih tua darinya. Bunga menjabat tangan mereka secara bergantian untuk mengakhiri pertemuan kali ini sebelum akhirnya meninggal mereka di kafe tempat mereka bertemu. Siapa kedua orang yang ada di hadapan Bunga? Pria itu seorang sutradara dan wanitanya seorang produser film. “Terima kasih, Pak, Buk. Kalau begitu, saya pamit pergi. Kebetulan, mau menghadiri acara lain,” pamit Bunga dengan senyuman. Mereka yang ada di hadapan Bunga tersenyum. Keluar dari kafe tersebut, Bunga memasuki mobil Kafkha, mengemudikannya menuju tujuan keduanya setelah membicarakan perjanjian temu kemarin. Bunga datang ke salah satu perpustakaan yang cukup besar, di mana di sana sedang diadakan pertemuan antara Bunga bersama para penggemarnya melalui buku barunya yang terbit, diterbitkan oleh Kafkha secara diam-diam di belakangnya. ‘Istri Best Seller’ itulah judul buku itu. Uniknya, akhir dari tulisan itu ditulis oleh Kafkha sendiri,
Bunga mengajari Raisa melambaikan tangan kepada Lintang yang sudah berada di dalam sebuah mobil yang ada di halaman rumah. Lintang membalas lambaian tangan mereka dan mengemudikan mobil keluar dari pekarangan rumah itu dengan senyuman, tampak sudah bisa menerima kenyataan mengenai kepergian Stella yang tidak akan pernah bisa kembali lagi dalam pelukannya. Bunga melipat kecil kertas yang diberikan Lintang sebelum meninggalkan rumah itu dan menyelipkannya ke dalam saku celana kulotnya, lalu mengajak Riasa masuk. “Mulai hari ini, princes Icha akan tinggal di rumah ini ….” Bunga mempersilakan Raisa masuk.“Iya. Tapi, ini akan sulit,” kata Raisa, berlagak sedang berpikir. “Kenapa?” tanya Bunga, penasaran. “Panggil Icha dan Raisa tetap dipanggil Raisa. Nanti aku jadi bingung karena nama kami sama,” kata Raisa dengan pintarnya. “Baiklah Tuan putri,” balas Bunga dengan senyuman. Bunga menggenggam tangan Raisa dan mengajak anak itu ke kamar yang ada di samping kamar Jelita, kamar tamu it
Bunga dan beberapa orang berpakaian hitam berdiri mengelilingi sebuah makan yang baru saja membukit dengan banyaknya kelopak bunga mawar merah muda yang bertebaran di atasnya. Bunga yang berdiri di sisi kanan makam itu diam dalam kebisuan. Cairan bening menetes membasahi kedua pipinya dalam rasa sedih.Jelita merangkul bahu kiri Bunga dari belakang, mengelusnya pelan sambil menatap Bunga yang membuat wanita itu menoleh dan menunjukkan raut wajah sedih yang berusaha ditahan sejak tadi. "Mama ...!" panggil Raisa, histeris sambil memeluk batu nisan Stella, di mana Lintang juga melakukan hal yang sama. Hancurnya hati Bunga melihat kesedihan anak itu terutamanya. Sejak mengetahui Stella tidak bisa diselamatkan, Raisa tidak bisa diam. Memori Bunga berputar ke beberapa jam lalu, saat pertama kali dirinya mendengar kabar Stella tidak bisa diselamatkan. 'Stella tidak bisa diselamatkan.' Bunga jadi paham, catatan kematian yang dimaksud Danar bukan untuk Kafkha seperti yang dianggap Bunga se
Jelita yang belum berada jauh dari kamar kafkha mendengar jelas suara teriakan Bunga. Wanita paruh baya itu menghampiri Bunga dengan mengurung niat untuk mengunjungi Stella sebelumnya tanpa sepengetahuan Bunga. “Kafkha kenapa?” tanya Jelita. Danar datang bersama Risa, mereka berlari kecil menghampiri mereka dan memasuki ruangan itu dengan kecemasan. “Kalian di luar dulu. Biar kami yang tangani,” kata Risa sambil menarik kedua pintu dan menutupnya. Seorang perawat lain berlarian menghampiri mereka, bertanya kepada Bunga mengenai keberadaan Danar dengan ekspresi perawat itu tampak panik sampai napasnya terdengar ngos-ngosan, seperti baru dikejar anjing. “Di dalam. Ada apa?” tanya Bunga, penasaran. “Bu Stella, dia mencari dokter Danar. Sekarang kondisinya kritis, dia bersikeras ingin bertemu dokter Danar," kata perawat itu. "Dia berada di dalam. Biarkan Danar menangani Kafkha, dia juga membutuhkannya. Bukankah dia kanker darah? Cari dokter yang sesuai," kata Jelita, tidak ingin Da
Bunga berjalan sambil menjinjing plastik makanan dengan rasa senang memasuki hotel, berjalan di lorong hotel yang akan membawanya ke kamar Stella. Suara tangis anak kecil yang amat dikenalinya, sejenak menghentikan kaki Bunga melangkah. Wanita itu berlari kecil ke arah kamar Stella, membuka pintu kamar itu, dan melihat Stella terkapar tidak sadarkan diri di tengah kamar dengan Raisa berusaha membangun wanita itu. “Ma …!” panggil Raisa. “Stella,” lirih Bunga dari pintu kamar.Raisa berdiri dan mendekati Bunga, mengadukan ketidaksadaran Stella kepada wanita itu. “Mama, Tante …,” adu Raisa, menangis. Bunga memasuki kamar itu, menaruh plastik di tangannya ke atas meja, lalu hendak mengambil ponsel dari tasnya. Kedatangan seorang pria memasuki kamar itu membuat Bunga berhenti ingin mengambil ponselnya, akan menghubungi ambulans tadinya. Bunga menatap pria itu yang tidak pernah dilihat olehnya sebelumnya. Bunga tidak tahu kalau pria itu adalah Lintang, kekasih masa lalu Stella yang sem
Bunga yang duduk di kursi roda didorong Willa menuju kamar Kafkha dengan tiang impus ikut didorong di samping wanita itu yang dilakuan oleh Risa. "Aku dengar dokter Kafkha kritis, dia sempat dinyatakan kehilangan nyawa tadi, tetapi beberapa menit kemudian, jantungnya berdetak kembali, meskipun lemah. Sungguh keajaiban. Hari ini Bu Bunga juga bari diketahui sedang hamil. Mungkin karena itu," kata salah satu perawat yang akan melewati keberadaan Bunga dan yang lainnya, tanpa disadari perawat itu mereka ada di hadapannya. "Diam, itu Bu Bunga," kata teman perawat yang berbicara tadi dengan suara kecil. Kedua perawat yang berjalan beriringan itu merasa tidak enak dan melewati keberadaan mereka dengan senyuman ringan dan menganggukkan kepala. "Mungkin mereka benar. Anak itu pembawa keberuntungan," kata Risa kepada Bunga. Bunga hanya diam dengan sedikit senyuman di dalam kekhawatiran masih menghantui jiwanya sebelum Kafkha dinyatakan stabil dan bisa mendapat donor jantung secepatnya. "
Bunga duduk di bangku taman dan Kafkha duduk di kursi roda di hadapan wanita itu. Mereka membicarakan banyak kenangan indah di masa lalu dengan mengenepikan masalah yang sempat memisahkan mereka. Selain itu, mereka juga membicarakan tentang masa depan Raisa, anak semata wayang mereka. "Jika Raisa besar nanti, dia pasti akan cantik sepertimu. Hanya saja, dia mungkin akan meniru proporsi tubuhku yang tinggi," kata Kafkha, bercanda. "Kamu menghinaku? Bukankah nyaman memeluk wanita mungil seperti ku?" Bunga membalas candaan sang suami. "Iya. Saking nyamannya, aku sampai kehilangan dirimu saat tidur. Aku sempat khawatir mencari mu karena tidak ada di sampingku, ternyata kamu berada dalam selimut yang aku kira bantal guling," kata Kafkha, mengingat satu momen lucu saat tidur bersama Bunga. "Benarkah? Berarti, aku cukup penting dalam hidupmu?" tanya Bunga, dengan rasa bangga yang masih di tangguh. "Benar." Bunga tertawa bangga dan memeluk suaminya itu. Dalam dekapan Bunga, dada Kafkha