'Dugaanku benar' batin Eva hampir bersamaan di ujung kalimat Ardi. Seketika hatinya mencelos mengetahui sosok yang menyambutnya dengan ramah itu merupakan papa dari wanita yang sangat dicintai Rafa dulu.
Pertemuan tidak terduga ini membuat Eva kebingungan bersikap pada Duncan. Dia merasa bersalah, tapi untuk alasannya tidak diketahuinya. Eva merasa telah menyakiti Cahaya padahal sebenarnya tidak. Seolah-olah Eva telah merebut Rafa dari Cahaya. Namun, kenyataannya Eva tidak melakukan itu."Tadinya, Papa nggak mau kamu tahu tentang itu," celetuk Ardi di tengah keheningan yang sempat tercipta. Dia tidak ingin Eva merasa canggung atau terbatas ruang geraknya jika mengetahui ada papa Cahaya di sini.Eva tidak merespon. Tatapannya lurus pada Duncan yang terlihat santai sambil menyandarkan punggungnya di sandaran sofa."Jangan memandangku seperti itu, Nak. Apapun yang kamu pikirkan, jangan biarkan itu mengganggumu. Kita berkumpul di sini untuk membunuh rasa sepi dan sibuk“Sekarang giliran lo. Mau tampilin apa?” tanya Amanda masih memperhatikan kertas acara. “Gue boleh mangkir aja nggak?” tanya Eva kemudian menujukkan cengiran. Beberapa jam mengobrol dan berinteraksi dengan Amanda membuat Eva merasa semakin akrab dengan jurnalis itu. Mereka memutuskan berbicara santai untuk menghilangkan jarak dan canggung di antara mereka. Eva merasa menemukan sosok yang bisa ditanyai banyal hal tentang dunia jurnalis. Sejujurnya, Eva memilih jurusan ilmu komunikasi hanya untuk melarikan diri dari keinginan orangtuanya. Semakin lama, Eva mulai menikmati berada di lingkup itu. Setelah memutuskan menyukai bidangnya, Eva memiliki impian menjadi seorang reporter olahraga. Alasannya, tentu karena Sofyan. Apalagi setelah pertemuannya dengan Amanda membuat Eva semakin tertarik dengan dunia pemberitaan itu.Berbicara tentang Sofyan, Eva masih menghindar dari kekasihnya itu. Dia butuh menjeda kedekatan mereka agar keputusannya kelak tidak disesalinya lagi. Entah memilik ber
“Kamu di sini?”Pertanyaan Eva yang terdengar jelas di sound system mengundang rasa penasaran semua penonton. Secara serentak, semua pandangan mengikuti arah penglihatan Eva. Seorang pria dengan pakaian semi formal sedang berdiri tegak sembari memasukkan tangan kanannya ke saku celana menjadi objek mereka.Tanpa memedulikan pandangan para penonton, pria itu melempar senyum pada satu-satunya gadis yang memenuhi bola matanya. Gadisnya yang bersinar di tengah keramaian. Gadis yang sedang memeluk gitar akustik dalam pangkuan. Ada kelegaan yang dirasakannya ketika menemukan gadisnya baik-baik saja dan bisa berbaur dengan para lansia. Dia sempat mencemaskan seharian ini sehingga membutuhkan bantuan sang ayah untuk menjaga gadisnya.“Rafa! Kemarilah!” Suara seseorang yang memasuki indera pendengarannya memaksa dia untuk mengalihkan pandangan.Pria itu mengangguk singkat. Dia menatap Eva sekali lagi dan menunjukkan gestur menunjuk dirinya lalu Ardi. Sekadar memberitahu Eva bahwa dia akan ber
“Enam bulan, Raf,” celetuk Duncan. Rafa mengerti maksud mantan papa mertuanya yang kini dianggapnya orangtua sendiri itu. Dia mengangguk singkat sebagai respon. Cepat atau lambat, Rafa harus menghadapi orang-orang terdekatnya yang dulu dihindarinya. Bukan untuk melarikan diri, melainkan dia ingin menata hatinya agar tidak berlarut-larut dalam kesedihan. Dia tahu kesedihan seorang ayah melebihi kesedihan dirinya yang hanya sebagai suami. “Maafkan aku, Pa.”Duncan tersenyum getir. Tatapannya jatuh pada bunga asoka yang terpangkas rapi di depannya. “Kamu berhasil, Raf. Kamu telah melewatinya. Berbeda dengan papa yang masih terjebak di sini. Papa sulit beranjak dari kenangan tentangnya. Papa bahkan belum memiliki keberanian menemui cucu papa sendiri.”“Papa bisa mencoba ….” Rafa menjeda sejenak. Dia sedang menyusun kalimat untuk menyemangati pria tua di sampingnya. “… aku tahu sulit melupakan. Aku pun merasakannya. Jika Papa membiarkan rasa sakit itu selalu membayangi papa,
"Va, hubungan lo sama Sofyan nggak baik-baik aja 'kan?" celetuk Kausar mengalihkan pandangan dari layar hp ke Eva.Gadis itu tidak menjawab. Kausar yakin Eva mendengarnya. Terlihat jelas gerakan Eva yang hendak mengambil saus sambal seketika terhenti."Eva, woy!" Eva menyambar botol saus dengan cepat. "Sok tau!"Kausar berdecak lalu memperlihatkan room chat antara dirinya dengan Sofyan kepada Eva. "Udah semingguan lebih, dia terus nanyain lu ke gue.""Kangen sama o kali, tapi nggak ada topik makanya nanyain gue," kilah Eva. Bakso di mangkuknya tidak menarik lagi. Kini pikirannya kembali tertuju pada Sofyan. Sejak tahu perkara kecelakaan yang dialami abangnya, Eva memutuskan untuk menjaga jarak dari Sofyan. Bukan karena membenci laki-laki itu, tapi Eva mencoba menemukan jawaban dari keinginannya saat ini. Sekaligus memperjelas perasaan cintanya tertuju pada siapa. Eva berpikir mencoba melepas pikiran dari Sofyan mungkin membuatnya bisa menentukan pilihannya dengan tepat. Sebab, sela
"Rabu depan Sofyan bakalan main. Apa gue harus ke sana?" gumam Eva sendiri sambil tengkurap di kasur, memperhatikan jadwal Indonesia Masters. Beberapa saat, dia kembali memikirkan percakapan dengan Kausar tadi siang di kantin. "Apa bener kata Kausar? Perasaan gue udah berpaling ke Rafa? Masa sih?"Permasalahannya yang dihadapinya sekarang menjadikan Eva sebagai sosok yang egois dan kurang ajar. Tepatnya, dia bersikap seperti perempuan yang berselingkuh dan mainin perasaan laki-laki. Dia memiliki Rafa sebagai suaminya dan Sofyan sebagai pacarnya. Dulu, Eva ingin melepaskan Rafa ketika Arumi cukup besar atau memiliki seseorang yang bisa menjaganya. Namun, seiring berjalannya waktu, kebersamaan mereka justru membuat Eva terikat. Eva sulit beranjak dari kehidupannya saat ini. Arumi membuat hari-hari Eva lebih menyenangkan dan menantang. Dan Rafa dengan segala kebaikan dan ketulusannya membuat Eva perlahan membuka cela di hati untuk dimasuki oleh Rafa. 'Lalu bagaimana dengan Sofyan?'Sua
Ucapan Rafa cukup sukses membuat Eva tergemap. Gadis itu tercenung untuk beberapa saat. Dia memikirkan kebenaran ucapan Rafa. Mungkin saja Rafa dalam keadaan tidak sadar saat mengatakannya. Namun, Eva juga mengkhawatirkan kalau Rafa sebenarnya sudah menciumnya tapi berdalih hendak mencuri ciuman Eva. Eva berdeham untuk mengurai rasa gugupnya. "Ngaco banget pagi-pagi," komentar Eva sambil mendorong bahu Rafa agar menjauh. Dia bangun lalu merapikan rambutnya dan menjepit dengan jedai.Rafa terkekeh pelan sebelum berkata, "Saya serius loh, tapi gagal soalnya kamu keburu bangun. Bukankah menyenangkan, kalau pagi-pagi kita membuat menciptakan suasana romantis? Suami istri suka gitu."Mata Eva melotot mendengar itu. Tidak ingin menanggapi Rafa lebih lanjut, Eva mencoba menghindar. "Gimana kondisi Papa Ardi?" tanya Eva bangkit dari kasur.Terdengar helaan napas dari Rafa. Cukup kecewa karena Eva kembali mengalihkan pembicaraan. Padahal Rafa ingin membicarakan hubungan mereka dari hati ke ha
"Makasih udah anterin," ucap Eva sekenanya lalu melepas seat belt. Dia masih kesal dengan pria disampingnya. Sampai saat ini, dia masih penasaran pada percakapan antara Bu Siti dan Rafa.Kalimat 'Nanti saya sediakan. Pak Rafa pasti suka' terus terbayang-bayang di kepalanya. Sejujurnya, dia takut kalau-kalau Rafa meminta seorang perempuan untuk melampiaskan hasratnya. Bu Siti pernah memperingati Eva tentang kebutuhan seorang laki-laki pada perempuan, tapi Eva sungguh belum siap melayani suaminya. Jangankan melayani, Eva saja masih meragukan perasaannya pada Rafa. Satu hal yang pasti, Eva tidak ingin Rafa melakukan hal itu dengan perempuan lain. Entah mengapa, hatinya tidak rela."Tunggu," ucap Rafa mencegah Eva yang hendak keluar dari mobil. Eva menutup pintu mobil. Dia menunggu Rafa berbicara lagi. "Sepertinya malam ini saya akan nggak bakal pulang ke rumah. Arumi bisa saya titip di kamu?" Eva menoleh dengan cepat. Jantungnya berdegup kencang. Perasaan khawatir dan takut menyelinap
"Wiiihhh ada ibu kos main ke sini," sambut Ajeng melihat kedatangan Eva bersama Arumi dalam gendongannya."Liat Eva gendong anak. Berasa liat ibu-ibu beneran," timpal Rida bercanda."Bangke kalian berdua. Gue masih muda ya. Paling muda di antara kalian. Mana ada muka ibu-ibu?" Eva melepas sendalnya dan bergabung duduk lesehan sambil mengomel. Bibirnya sudah maju beberap senti akibat disebut mirip ibu-ibu. Ajeng dan Rida cekikikan menanggapi Eva. "Iya-iya si paling muda." Rida tidak tega melihat bibir manyun Eva.Ajeng menyodorkan sepiring rujak mangga ke hadapan Eva. "Nih makan, gue udah potongin. Anak Lo kesiniin. Mumpung bapaknya nggak ada, gue mau unyel-unyel."Eva memeluk Arumi. "Jangan dong! Bapaknya marah ntar kalau anaknya diapa-apain.""Makanya Lo diam. Jangan laporin ke bapak kos." Ajeng menyelipkan tangannya di bawah ketiak Arumi, bersiap menariknya."Mending nggak usah. Lecet dikit, bapaknya bisa ngamuk." "Ya elah, mau dipangku doang, Va. Nggak gue banting." "Gue nggak y