Aku akhirnya ikut berpikir juga."Menginginkan sesuatu? Apa mungkin? Bu Wendah kelihatan tulus saat memberikannya beliau bilang uang ini untuk Lusi karena setiap kali melihat Lusi beliau jadi teringat sama anaknya yang hilang."Lula terkejut. "Anak hilang?""Iya, ternyata anak Bu Wendah hilang 25 tahun yang lalu."Mulut Lula dan Dara mengatup penuh iba."Ya ampun kasihan."Selesai mengobrol di ruang keluarga akhirnya akupun pamit untuk bersih-bersih dan mengganti pakaian.***Esok hari.Karena kebetulan hari minggu, kubawa Lusi ke dealer motor, Lula dan Dara pun ikut bersamaku karena mereka tidak ada acara hari minggu ini."Beli motor yang bagus Kak, yang gede lagi musim," usul si Lula.Aku menggeleng kepala. Sambil terus melihat-lihat contoh motor yang dipajang kupikirkan dengan matang, kira-kira motor seperti apa yang kubutuhkan?Apakah yang besar seperti yang dikatakan? Atau yang biasa saja?"Gimana sayang?" Kemudian aku meminta pendapat Lusi."Terserah Abang aja."Tapi akhirnya ku
"Ya sudah, saya permisi, Pak."Setelah aku izin mengahkiri percakapan, kutemui Lusi di luar. Lula dan Dara langsung bangkit melihatku datang."Gimana Ibu, Kak?""Iya, Mama nya Dara juga gimana, Om?"Mereka bertanya dengan wajah sedikit cemas."Baik, mereka semua baik-baik aja dan udah gak apa-apa, keributan seperti itu mah biasa katanya," jawabku ringan, sebab tak mungkin kukatakan yang sebenarnya pada mereka."Tapi kok Mama disiksa begitu, Om?"Aku bergeming sebentar memikirkan jawabannya."Ah itu sih cuma kesalahpahaman aja tadi." Mereka mengangguk-anggukan kepala, meski terlihat dengan jelas mereka tampak tak puas dengan jawaban yang kuberikan.***Bulan berlalu.Sudah dua bulan sejak aku membeli motor itu, kini aktifitasku semakin mudah. Atas kebaikan Bu Wendah memberiku hadiah uang yang banyak aku juga sudah berhasil membawa Lusi berobat sampai kini ia dinyatakan sehat seperti sediakala.Kasus ibu dan Kak Noni juga sudah mendapatkan hasil akhir, mereka ditetapkan sebagai tersang
Sepulang dari rumah sakit Bu Wendah mengajak kami mampir ke rumahnya.Katanya sih supaya aku dan Lusi bisa beristirahat sebentar sebelum melanjutkan perjalanan ke rumah."Tunggu di sini sebentar, Ibu mau tunjukan kalian sesuatu," ucap Bu Wendah seraya bangkit.Kami yang sudah disuguhi minuman pun menunggu sambil mereguk minuman dingin kami."Rumahnya bagus ya, Bang," kata Lusi.Aku mengedarkan pandang ke setiap sudut ruangan. Rumah Bu Wendah memang sangat bagus dan megah, luasnya bahkan berkali-kali lipat dari rumah yang kami beli kemarin."Iya bagus, Lusi mau?" Iseng aku bertanya walau kenyataannya aku tak akan sanggup membelikannya rumah semegah itu.Tapi untunglah Lusi menggelengkan kepala."Sudah punya rumah sendiri ngapain mau rumah orang?" Aku tersenyum haru sambil mengucap syukur, Lusi emang terbaik, dari dulu gak pernah berubah, selalu bersikap sederhana dan apa adanya.Tak pernah ia iri dengki apalagi menginginkan sesuatu yang bukan menjadi miliknya. Pantas saja kan jika aku
Sesampainya kami di panti dekat stasiun.Kulihat memang pantinya lumayan besar, dua atau tiga kali lipat dari panti asuhan yang dipimpin ibu mertuaku."Mari Bu, Mas, masuk."Seseorang menyambut kami dengan ramah. Setelah kami masuk kami dipersilakan duduk di karpet.Bu Wendah dan wanita itu pun mulai mengobrol."Orang gila yang kemarin itu semalam sempat mengamuk Bu, ranjang yang ada di kamarnya sampai patah sebelah karena ditariknya habis-habisan. Lemari kayu juga pintunya rusak parah," tutur seorang wanita seusia Kak Noni yang kuyakini ia adalah salah satu pengurus di panti ini."Ya ampun, apa separah itu dia gila?" tanya Bu Wendah."Sepertinya sih begitu Bu, saat kemarin kami mandikan dia berontak parah, ngeri berefek ke kandungannya saja, Bu.""Iya benar, makanya saya akan telepon dokter ke sini, biar dokter yang periksa apa perlu dia dibawa ke rumah sakit jiwa," ujar Bu Wendah seraya mengambil ponselnya dan segera menghubungi dokter yang dimaksud."Baik, saya tunggu ya, Dok," tut
Pov Tuti."Mana anakku? Mana anakku? Kalian ambil anakku kan?" Aku sengaja berteriak dan mencecar mereka dengan suara yang lantang.Tadi ketika kusadar, aku sudah berada di atas kasur rumah sakit dengan perut yang sudah kempis. Sial, padahal aku hanya berniat membodohi mereka dengan berpura-pura gila malah aku benar-benar jatuh dari atas meja.Dan kemana anak itu? Anak si tukang selingkuh yang beberapa waktu lalu masih berada di dalam perutku. Kenapa sekarang tidak ada? Apakah sudah dikeluarkan? Kenapa perutku sakit sekali? Argh.Ah tapi aku tak peduli, yang jelas sekarang aku harus terus berpura-pura gila agar aku terbebas dari hukuman.Ya ... meskipun ternyata menyebalkan sekali jadi orang gila. Bahkan tadi aku harus berpura-pura pasrah saat anak-anak panti sialan itu mencoret-coret wajahku.Tapi ... hahaha tidak apa-apa, setidaknya aku berhasil mengelabui mereka dengan cara itu. Si Sandi pun bahkan kini percaya aku sudah gila.Semuanya berawal dari beberapa bulan lalu saat aku meli
Argh.Sejak kematian Mas Yogi aku terus saja dibayang-bayangi rasa takut. Sampai setengah gila rasanya aku berpikir di mana lagi aku akan bersembunyi? Dan bagaimana lagi aku akan bertahan hidup dengan segala kekurangan.Akhirnya setelah aku mencoba bertahan hidup sendiri di dalam hutan, aku menyerah juga. Sebab rasa lapar dan haus yang teramat tak bisa lagi kutahan.Bak orang gila betulan aku benar-benar luntang-lantung di jalanan, diteriaki orang stres, dijadikan lelucon, ditertawakan, dijahili dan dilempari.Dan mirisnya, bukan hanya anak-anak yang melakukan itu, tapi orang dewasa juga."Ada orang gila ada orang gila."Brak brak brak. Batu kerikil dilemparkan segerombolan anak-anak saat aku tidur di jalanan."Jangan wey nanti ngamuk, ayo kabur," kata seorang anak lagi. Mereka lalu pergi bahkan sebelum aku bangun dari kardus yang kujadikan alas tidur itu.Sialan. Aku tak pernah menyangka hidup jalanan akan sama susahnya, aku pikir setelah aku kabur dari hutan aku bisa mencari makana
Setelah menunggu beberapa menit wanita paruh baya itu kembali dengan sepiring nasi penuh."Ayo Pak, dibuka pagarnya." Satpam itu langsung melakukan titah sang bos tanpa menunggu lagi."Sini masuk dan duduk di pos," ajak wanita paruh baya itu lagi.Aku cepat-cepat masuk, tak akan kusia-sia kan kesempatan emas ini, tentunya karena perutku sudah meraung-raung juga sejak tadi."Makan ya, habiskan," ucapnya lagi dengan wajah penuh rasa iba.Hap hap hap. Secepat kilat kumakan nasi dan ikan mas goreng serta tumis sayuran yang sangat lezat di lidah itu."Pelan pelan aja Mbak, kalau masih lapar nanti saya kasih lagi," ucapnya lagi.Aku memelankan pekerjaanku. Sambil melahap sepiring nasi itu dengan pelan, otakku mulai bekerja."Tampaknya wanita ini baik sekali dan mudah tersentuh hatinya, kalau aku manfaatkan saja bagaimana? Aku akan terus berpura-pura jadi orang gila agar mendapatkan simpatinya, hmm mungkin itu akan sangat menguntungkanku."Aku manggut-manggut sendiri sambil terus memikirkan
"Ada orang gilaaa!."Anak-anak yang ada di dalam ruangan itu berhambur ricuh namun ada juga yang tampak senang melihatku ada di sana.Aku yang terkejut segera mengamankan diri ke pojok kelas belakang pintu. "Orang gila orang gila orang gila." Semua anak kemudian bernyanyi sambil bertepuk tangan dan tertawa.Beberapa di antara mereka bahkan tak segan sambil menjahiliku dengan lidi yang mereka ambil dari ikatannya."Heh kerjain yuk dia perusuh."Bugh bugh bugh. Kemudian spidol, penghapus dan buku-buku paket melayang ke arahku."Hentikan anak-anak nakal!" teriakku.Aku pun berlari ke dekat papan tulis, niat hati ingin mengamankan diri namun anak-anak itu makin menjadi.Wajahku malah dicoret-coretnya menggunakan spidol."Nih rasain kamu orang gila hahaha.""Argh hentika ... n!" Aku berteriak kencang.Namun percuma, karena teriakanku tak kunjung membuat mereka takut atau berhenti menjahiliku."Anak-anak nakal! Kumakan kalian hidup-hidup!""Orang gila orang gila orang gila hahaha." Tawa me
"Lusi! Biarkan laki-laki tak berguna itu dibawa, kamu tidak perlu halang-halangi petugas melakukan tugasnya!" Mama mertua berteriak.Lusi menggeleng-gelengkan kepala."Gak Ma, jangan lakuin ini Ma, Lusi mohon, Lusi mohon, Ma."Peristiwa tarik menarik antara polisi dan Lusi pun terus terjadi. "Lus, biarkan Abang dibawa dulu, nanti kita akan jelaskan, takut kamu kenapa-napa," ucapku.Lusi tetap tak mau mengalah, ia terus saja menarikku."Lusi gak mau Abang, Lusi gak bisa hidup tanpa, Abang," katanya mulai terisak."Sudah cukup Lusi! Drama macam apa ini?!" Dengan paksa Mama mertua menarik tangan Lusi.Dan brak gedebughhh. Tangan Lusi terlepas hingga kepalanya terpental ke tembok, sementara tangannya menghantam kaca hingga retak, parahnya saat itu juga Lusi langsung jatuh tak sadarkan diri."Lusiii!" Aku dan Mama mertua teriak spontan."Tante Lusi, ya ampun bangun, Tan." Dara dengan sigap meraih kepala Lusi."Ya ampun Lusi? Lusii maafin Mama Nak, Lusi bangun Sayang, Lus ... Lusi? Lusii!
PoV SandiFaaz tertawa, "haha ya tentu saja aku kenal."Lanjut Faaz menceritakan tentang pertemuannya denganku saat itu, seminggu setelah aku kecelakaan, Lula mengantarku datang ke sekolah anaknya Faaz."Heiii keluar kau lelaki hidung belang!" teriak Lula saat itu.Buru-buru Faaz keluar dari mobilnya."Maaf ada apa ini?" tanya Faaz, ia terlihat kebingungan karena kami menghadang mobilnya setelah ia mengantarkan anaknya."Halah enggak usah banyak omong kau hidung belang, kemana Kakak iparku sekarang? Kau kemanakan dia, hah?!" sembur Lula berkacak pinggang.Kening Faaz mengerut, sementara aku yang tak sabar cepat mencecarnya juga."Hei apa kau tuli? Kau kemanakan istriku? Di mana dia sekarang?!""Tuggu dulu, kalian jangan emosi begini, istri? Kakak ipar? Siapa yang kalian maksud?""Wanita yang seminggu lalu mengantar anakmu ke sini, dia adalah istriku, kau dengar? Dia ISTRIKU," tegasku tepat di depan wajahnya."Siapa? Lusi maksud Anda?" "Ya tentu saja, siapa lagi, asal kau tahu dia adal
Aku menggeleng tak percaya. "Apa Mama setega itu sekarang?""Ya, Mama harus tega dan ini demi kebaikan kamu Lusi.""Lusi cuma mau tahu kabar Bang Sandi, Ma.""Enggak!"Aku bergeming menatap beliau sebelum akhirnya melengos pergi dengan rasa kecewa.Aku berusaha untuk sabar menghadapi Mama, berharap beberapa hari ke depan beliau akan terbuka hatinya dan membiarkan aku kembali pada Bang Sandi, tapi ternyata aku salah.Mama malah semakin mengurungku bagai tawanan. Aku tahu beliau sangat menyayangiku tapi caranya sangat salah. Aku tidak dibiarkan pergi kemana pun hanya karena takut komplotan Mas Yono datang menculikku lagi. Akhirnya, setiap hari selama aku tinggal bersama Mama, tak ada yang bisa kulakukan selain pasrah, berharap ada seseorang yang bisa menolongku dan menyadarkan Mama bahwa tindakannya itu salah.Siang itu aku sedang bersender di jendela besar kamarku, sambil kuelus perut yang makin membesar ini aku menangis menumpahkan kesedihanku.Air mata luruh tak tertahan, bagaimana
"Lus ... Lusi ... bangun Sayang." Suara itu menarikku dalam kesadaran.Spontan aku bangkit saat ternyata Mama ada di sampingku."Ma?" Kutengok lagi di belakangnya Faaz sedang berdiri sambil menundukan kepalanya."Kamu baik-baik aja, Lus?" tanya Mama lagi. Aku mengangguk pelan lalu cepat memeluknya erat."Mama, tolongin Lusi Ma, Lusi takut, Lusi takut, Ma.""Iya Sayang, kamu tenang Nak, kamu sudah aman di sini."Faaz maju selangkah."Tolong maafkan mantan istri saya, dia memang wanita gila," ujarnya pelan.Aku mengangguk pelan, dan terus berlindung dalam dekapan Mama."Siapa yang bawa Lusi ke sini, Ma?""Faaz, dia menemukan kamu di toilet kamar Maisa."Aku melirik lelaki itu sekali lagi, hidupku jadi mengerikan begini gara-gara aku masuk dalam kehidupannya. Ya Tuhan, andai aku bisa secepatnya lepas dari Faaz."Mulai besok kau gak usah tinggal lagi di rumahku." Ucapan Faaz membuatku mengangkat wajah. Dan mendadak senyumku terbit tanpa aba-aba."Ya, pulanglah bersama ibumu, maaf saya sud
"Maisaa! Maisaa!" Mereka berdua berlomba memeluk Maisa, kemudian berusaha membuat anak itu sadar."Awas! Jangan sentuh anakku!" sentak Faaz sambil mendorong mantan istrinya."Mas, apa maksud kamu? Maisa sedang membutuhkanku sekarang.""Enggak!" teriak Faaz lagi, kali ini lebih kencang.Cio memaksa memeluk anaknya alih-alih pergi menuruti keinginan Faaz. Tak heran jika hal itu membuat Faaz naik darah hingga akhirnya lelaki itu membanting lampu meja yang ada di sisi ranjang Maisa."Biarkan dia, aku gak sudi anakku dipeluk oleh perempuan sepertimu! Pergii!! Atau kau akan ku-""Tapi aku Ibunya Mas, aku berhak memeluknya sampai kapanpun," potong Cio.Aku dan bibi saling menatap tak percaya. Bisa-bisanya mereka saling mempertahankan ego masing-masing di saat keadaan genting begini.Karena tak tahan, akhirnya mulut ini refleks berteriak, "sudah cukup! Kalian gak lihat gimana keadaan Maisa sekarang?!"Kedua orang yang sedang berselisih dan adu mulut pun diam."Bisa-bisanya kalian sibuk berten
Aku hanya tersenyum sekenanya.Sampai di rumah aku dan bibi langsung melakukan tugas masing-masing. Mendekor dan menyiapkan acara kecil-kecilan untuk Maisa. Sementara Faaz menjemput anaknya itu ke sekolah."Non Lusi, kok diem aja? Ada apa? Apa Non masih kepikiran suami, Non?" bisik Bibi.Aku menggeleng lesu, "gak Bi, bukan itu, saya hanya sedang mikirin tadi, saya 'kan makan dulu setelah belanja eeh terus ketemu mama saya, Bi.""Wah bagus dong Non, terus gimana?""Masalahnya kok mama saya kayak beda ya sekarang, masa saya tanya soal kondisi suami saya beliau bilang gak tahu apa-apa dan parahnya mama bilang saya harus lupain suami saya mulai sekarang karena beliau anggap suami saya sudah lalai, beliau anggap suami saya yang bertanggung jawab atas kondisi saya sekarang, terus masa iya mama saya malah dukung keberadaan saya di rumah ini, aneh 'kan? Saya jadi kepikiran sebetulnya ada apa di rumah, apa suami saya baik-baik aja?" jawabku panjang lebar.Bibi mendengarkan dengan baik semua ya
"Gak bisa ya, Non?" tanya Bibi lagi."Iya gak bisa Bi, gak diangkat.""Lusii!!" Kudengar suara Faaz berteriak di luar, cepat Bibi memasukan lagi ponselnya pada lipatan jarik di bagian perutnya."Tuan manggil Non, cepet ke sana."Aku mengangguk dan buru-buru turun."Iya, kenapa?""Hari ini bisa antar saya ke supermarket? Saya mau belanja kebutuhan ulang tahunnya Maisa, hari ini dia ulang tahun saya mau buatkan kejutan kecil-kecilan untuk dia," tanya Faaz."Oh ya, tentu boleh," jawabku pelan.Hari itu tanpa menunggu lagi Faaz membawaku ke sebuah supermarket terdekat dari rumahnya. Kami membeli banyak sekali perlengkapan pesta ulang tahun untuk kejutan untuk Maisa. "Nanti Maisa akan saya jemput dan akan saya bawa main dulu, kamu dan bibi tolong persiapkan untuk kejutannya ya," ucap Faaz saat kasir sedang menghitung belanjaan kami.Aku mengangguk saja."Tapi awas, kamu jangan capek-capek Lus, takutnya kandungan kamu malah kenapa-kenapa," ucapnya lagi.Aku tersenyum sekenanya dan mengangg
Pov Lusi"Aaaaa!"Bruk. Kutengok kaca spion, Bang Sandi terjatuh dari motornya."Mas, ada kecelakaan, berhenti sebentar," titahku cepat."Itu bahaya Lusi, sudah biarkan saja, itu bukan urusan kita juga," katanya sambil terus menyetir melajukan mobil dengan kencang.Hatiku makin gundah, Bang Sandi kecelakaan, sementara aku tak biaa berbuat apa-apa, aku tengah bersama seorang lelaki tempramental yang baru beberapa hari ini kukenal, dia bisa saja memukul dan menyiksaku jika aku membuat hatinya tersinggung atau tak suka.Yang kutahu namanya adalah Faaz, teman-temannya termasuk Mas Yono yang menjualku padanya kemarin memanggil pria ini dengan sebutan Mas Faaz, ia punya seorang anak perempuan seusia anakku Yassir.Yang kutahu sejauh ini Faaz sebetulnya orang baik, katanya dia sengaja membeliku dari Mas Yono untuk waktu yang agak lama karena dia butuh seorang perempuan di rumahnya untuk membantu menemani putrinya yang sering menangis karena merindukan mamanya.Sempat tak percaya, tapi nyatany
"Kak Sandi tolong di dalam ada Mas Yono ngamuk-ngamuk."Aku terperangah, cepat aku melangkah masuk menghentikan papanya Dara yang sedang kesetanan mengobrak-abrik isi rumahku.Sementara Dara kusuruh menunggu bersama Lula di luar."Mas Yono! Hentikan!" Aku berteriak kencang.Ia menoleh tajam dengan bola mata yang memerah."Oh baguslah kau sudah datang Sandi, ayo berikan, mana anakku?" katanya tanpa basa-basi.Mataku sontak menyipit."Ayo! Mana Dara? Di mana anakku itu, hah?!""Mas Yono insyaf! Dara itu anakmu, bapak macam apa kau ini? Tega-teganya menjual anak sendiri hanya untuk kesenangan sendiri!!" semburku kemudian.Mas Yono tersenyum miring, "tutup mulutmu Sandi! Kalau bukan karena ulahmu menjebloskan ibunya ke dalam penjara aku pun tak akan melakukan ini!!""Kak Noni memang pantas dipenjara Mas, dia sudah terlibat dalam kasus penganiayaaan! Dan Mas Yono pun akan mendekam dalam penjara kalau Mas Yono gak segera memberitahu di mana Lusi sekarang!" tegasku seraya bertelunjuk jari.Ma