Agra memandang satu persatu foto yang dikirim oleh seseorang. Sosok yang dia susupkan ke The Mirror. Dahinya berkerut dalam saat mendapati paras Lea ada di sana.Menurut sosok itu, Lea lah yang tinggal di kamar Zio dengan status masih abu-abu. Pasalnya Zio pernah mengatakan kalau Lea istrinya. Namun mereka semua tak serta merta percaya. Mengingat di zaman ini bisa saja pernikahan dijadikan alibi untuk menutupi perbuatan hina seseorang."Jadi kamu perempuan seperti itu?" gumam Agra sembari menatap wajah cantik Lea yang sedang tersenyum.Semua memang jadi masuk akal, jika Zio menggunakan pekerjaan pengasuh Archie untuk menutupi status Lea yang hanya seorang simpanan. Publik akan mudah tertipu dengan situasi seperti itu.Saat Agra masih sibuk mengamati wajah Lea yang dia akui persis Nika, satu pesan masuk ke ponselnya."Kakak bisa melenyapkannya. Dia punya toko bunga di jalan East West."Agra juga mendapati Vika mengirim beberapa foto Lea. Di mana Agra dibuat makin terpana olehnya. Aura
Pagi menjelang, Lea pagi-pagi sudah kabur ke tokonya. Di merasa sangat bersemangat. Senyumnya terus merekah mengiringi tiap langkah, melupakan kejadian dia dimaki dan disiram kuah sup.Saat toko mulai ramai dengan beberapa pembeli, Lea dan Agni juga Puspa sudah siap. Dua teman Lea bilang akan mulai pindah besok. Tadi mereka sudah mencicil membawa beberapa barang. "Kalau begitu kita harus belanja. Beli kasur sama yang lain.""Tidur di lantai juga tidak apa-apa. Yang penting tidak kehujanan sama kepanasan. Tempat itu bagus banget, bersih ada AC-nya lagi.""Yo tetap saja ndak bisa begitu. Di depan sana ada toko sayur. Kalian masak saja sendiri, kita beli kompor sama printilannya."Lea antusias sekali mencari barang yang Puspa dan Agni perlukan. Sampai dia teringat Zio. Wanita itu langsung mengirim pesan."Bolehkah aku gunakan uangnya untuk belanja?"Lea menunggu beberapa waktu, berharap Zio tidak ikut marah padanya atau sedang meeting. Tak berapa lama, satu balasan datang. Meski cuma "h
"Anda.""Kamu."Baik Lea maupun pria itu terkejut saat bertemu lagi untuk kedua kali. "Masih ingat saya?""Tuan Agra Attarva."Agra mengulas senyum. Lea masih mengingatnya. "Kebetulan lewat, lihat toko bunga, masih baru. Sekalian mampir.""Kami baru buka kemarin. Jadi bunga apa yang Anda inginkan. Semoga sudah ada," balas Lea ramah."Lyli." Agra menjawab singkat dengan Lea langsung memandangnya."Anda mau ke sana?"Agra mengangguk. Lea gegas menyiapkan pesanan Agra dengan pria itu tampak mengamati. Agra jelas terpukau dengan kelincahan dan kelihaian tangan wanita itu dalam menyusun kuntum bunga hingga membentuk sebuah rangkaian yang apik."Jika kamu memang penting baginya, tidak masalah bagiku untuk kembali menghancurkannya," batin Agra dengan senyum tipis terpulas di bibir.Masa bodoh dengan permintaan Vika yang menginginkan Lea lenyap. Agra justru ingin melihat Lea hidup untuk dia gunakan menyiksa Zio."Bunga Anda, Tuan. Semoga Anda suka. Terima kasih dan sila datang lagi." Puspa y
Dan benar saja, keesokan harinya Lea menggerutu. Dia tak bisa naik sepeda. Padahal dia sedang senang-senangnya naik kendaraan roda dua tanpa mesin itu.Dia menatap hampa sepeda hitamnya dengan bibir manyun. "Apa kubilang. Makanya jaga diri," ledek Zio meski wajahnya lempeng seperti jalan tol.Suasana rumah masih pagi, Zio baru kembali dari joging. Lea sengaja ingin berangkat pagi, dia sedang tidak ingin bertemu Inez dan Nancy. Selain itu dia juga sedang menunggu supplier bunga langganannya akan datang lebih pagi dari biasanya. Agni dan Puspa baru akan datang agak siang, mereka memutuskan pindah hari."Ayo!"Ha? Lea melongo ketika Zio tanpa ragu naik sepedanya. "Apa?""Aku antar."What? Lea tidak salah dengar? Zio mau mengantarnya."Gak! Remuk nanti sepedaku. Lihat kamu sebesar itu."Zio melirik sepeda Lea, agaknya benar. Benda itu tidak akan kuat menampung bobot mereka berdua. Zio masuk ke garasi, lalu mengambil satu motor matic. Setelah memakai helm dan masker, Zio melirik penuh ko
"Ada apa Mas Rian kemari?" Lea bertanya dengan tangan bersedekap di dada. Kenapa juga Rian ada di sini. Oh pertanyaan lebih penting, dari mana Rian tahu dia buka toko bunga di sini.Lea mendesah malas, dia sungguh ingin lepas dari Rian tapi kenapa pria itu justru makin getol mengejarnya. Bahkan sampai ke tempat ini. Bagaimana jika Vika sampai tahu, apa perempuan itu tidak makin marah padanya.Yang kemarin saja Vika sudah seperti predator menatap mangsanya. Vika bak ingin menelan Lea bulat-bulat. "Lea, kenapa sikapmu begini. Aku hanya ingin kita kembali. Beri aku kesempatan, aku minta maaf. Aku salah," balas Rian to the poin, tanpa basa basi."Mas masih tanya kenapa aku begini. Mas, kita itu sudah bercerai. Kita tidak punya hubungan apa-apa lagi. Tidak sepantasnya Mas Rian terus menemuiku, sementara Mas punya tunangan. Apa Mas gak memikirkan perasaan Vika. Tolonglah, jangan membuat masalah. Aku tidak mau kembali sama Mas, jadi jangan pernah temui aku lagi."Ucap Lea panjang kali lebar
"Zi ... eh Tuan tunggu."Gubrak! Aduh! Lea mengaduh dengan tangan menyentuh lututnya. Zio yang tadinya mau ke kamar mandi, urung melakukannya. Dia berbalik pada Lea yang terduduk di karpet.Pria itu menarik tangan Lea untuk melihat luka di lutut sang istri. "Kau itu bisa diam tidak? Ini pasti kau keluyuran waktu di toko!""Eng-enggak kok," kilah Lea."Bohong aja!" Lelaki itu lantas berdiri lalu mengambil ponselnya."Arthur kemari, langsung naik ke kamarku. Lea lututnya infeksi, kayaknya harus diamputasi."Lea memutar lehernya sangat cepat saat Zio mengatakan lututnya mau diamputasi. "Itu gak benar kan?"Zio mengedikkan bahu. Dengan Lea langsung merinding takut. Amputasi? Dia bakal tidak punya kaki. Dia akan jadi cacat. Bapak! Lea nyaris menangis mendengar kakinya akan dipotong.Lima belas menit kemudian, Lea benar-benar menangis saat pria yang Zio panggil Arthur benar-benar datang. Pria itu tanpa banyak kata memeriksa Lea. Saat Zio masuk ke walk in closet untuk berganti pakaian, Lea
"Jadi janda dua kali?" Lea menggumamkan kalimat itu untuk beberapa kali. Helaan napas terdengar mengiringi. Akan jadi apa nasibnya jika hal itu terjadi. Lea terdiam untuk beberapa waktu, sampai akhirnya dia menyemangati dirinya. Meski jadi janda dia akan memiliki tempat untuk bergantung hidup. Perempuan itu mulai bersiap untuk ke toko. Sampai saat ini, baik Nancy maupun Inez belum tahu kalau Lea punya toko bunga. Mereka tahunya Lea keluyuran tidak jelas. Walau lututnya masih sakit, Lea sudah terasa lebih baik. Hari ini rencananya ada Erna yang mengantarnya. Lea sempat berpapasan dengan Nancy yang sempat-sempatnya menyunggingkan senyum penuh kemenangan. Nancy merasa kalau dirinya masih jadi orang yang paling dekat dengan Zio. Padahal yang dia lakukan hanya menyiapkan pakaian lelaki itu. "Aku pikir kau sudah harus mendepaknya dari kamarmu. Yang dia lakukan tidak pantas." Kata Zico yang bergabung dengan Lea di tangga lantai dua. "Aku punya hak apa kalau kakakmu menyukainya," balas
"Apa kau tahu Agra mengenal Lea?" Pesan dari Zico seketika membuat Zio mengubah ekspresi wajahnya. Pria itu mengeratkan rahang dengan emosi jelas kentara di parasnya. Nancy langsung melihat perubahan itu."Ada apa?" tanya perempuan tersebut."Bukan urusanmu! Ayo Arch kita berangkat. Papa antar ya."Horeee, Arch bersorak gembira mendengarnya. Pria itu menggendong sang putra, membawa tas serta lembaran kertas milik Lea. Di belakangnya mengekor sang pengasuh Arch. Perempuan yang diam-diam memperhatikan Zio dan Arch.Pria itu melangkah keluar rumah dengan wajah kesal. Bagaimana Agra bisa mengenal Lea? Ini sungguh di luar pengetahuan Zio.Sementara itu di toko Lea, masih ada Zico yang sejak tadi beradu pandang dengan Agra. Pria yang punya tipe wajah serupa, sama-sama oriental. Zico jelas tak akan pergi sebelum Agra meninggalkan tempat itu.Tak sampai lima belas menit, Agra sudah menghilang dari pandangan Zico. "Kakak kenal dia?" cecar Zico segera.Sikap pemuda itu membuat Agni dan Puspa
"Tenang saja, Celio aman sama mama. Kalian bersenang-senanglah. Livi juga anteng kalau ada Arch."Lea memeluk Inez dan Anita bergantian. Merasa sangat beruntung memiliki dua wanita tersebut dalam kehidupannya.Dia disupport seratus persen dalam karier, dibantu dalam mengurus buah hati. Sungguh sebuah anugerah yang tak terganti oleh apapun.Lea mengulas senyum, dia berjalan menghampiri sang suami yang sudah menunggu."Persediaan ASI melimpah, nyonya siap diajak kencan," goda Zio sambil membuka pintu mobil "Memangnya mau ke mana?""Adalah. Kita kan belum pernah pergi kencan seperti ini."Lea kembali melengkungkan bibir. Iya, dia dan Zio dikatakan belum pernah pergi berdua, menikmati waktu tanpa diganggu. Boleh dikatakan ini adalah reward dari semua kesibukan Lea dan Zio selama ini. Juga kerelaan atas keduanya yang hampir tak pernah protes soal pekerjaan masing-masing.Saling percaya dan komunikasi adalah dua hal yang Zio dan Lea terapkan dalam rumah tangga mereka. Prinsip yang juga mu
"Diem lu biji melinjo! Anak gue itu!" Hardik Zico."Bodo amat! Livi mana! Tante! Livi mana?!" Balas Arch tak takut oleh bentakan sang om."Lihat Kak Celio."Jawab Raisa setelah Arch mencium tangan Raisa juga mencium pipi wanita yang memang sudah Arch kenal dari dulu.Bocah itu melesat mencari Livi. Dengan Raisa lekas memeluk Lea yang balik mendekapnya."Terima kasih sudah bertahan sendirian selama ini. Kenapa tidak hubungi Kakak?"Raisa terisak lirih. Dia tahu mengarah ke mana pembicaraan Lea."Takut, Kak. Waktu itu kakak dan kak Zio masih musuhan. Kalau aku kasih tahu, mereka bisa war lebih parah.""Keadaannya akan berbeda, Sa. Mereka musuhan tapi tidak bisa mengabaikan keadaanmu. Lihat sekarang, mereka bisa akur. Agra malah yang kasih tahu banyak soal kesukaanmu."Raisa menerima detail konsep akadnya."Kak, serius ini?""Serius. Dia yang minta. Dan kakakmu setuju. Akan lebih baik jika begitu. Dia sudah siapkan semuanya."Lea dan Raisa melihat ke arah Zico yang tangannya sibuk bermai
"Baru juga nyetak satu, sudah mau dipotong. Kejam amat kalian," balas Zico santai.Inez dan Anita saling pandang. "Ndak mempan, Ta.""Iya, ya," sahut Anita heran."Sudah gak mempan dramanya. Dah kenalin, ini calon istri, sama anakku."Zico menarik tangan Raisa yang tampak bingung. Inez dan Anita memindai tampilan Raisa. Dari atas ke bawah. Dari bawah balik lagi ke atas."Screening-nya sudah deh. Kalian nakutin dia. Zico jamin dia lolos sensor. Kan sudah ada buktinya."Raisa makin gugup melihat ekspresi dua perempuan yang dia tahu salah satunya mama Zico."Co, mereka gak suka aku ya?" Bisik Raisa panik."Suka kok. Mereka lagi main drama. Jadi mari kita ikutan."Raisa tidak mengerti dengan ucapan Zico. Tapi detik setelahnya dia dibuat menganga ketika Zico berlutut di hadapan Inez dan Anita."Heh? Ngapain kamu?" Inez bingung melihat kelakuan sang putra."Mau minta maaf. Zico tahu salah. Tapi Zico janji akan memperbaiki semua. Zico bakal tanggung jawab."Ucap Zico dengan wajah memelas pe
Agra tak habis pikir, Raisa bahkan membawa Livi ke pernikahan mereka. Tapi dia sama sekali tidak tahu. "Ini aku yang kebangetan atau dia yang terlalu pintar?" Agra bertanya ketika mereka sampai di apart Raisa. Sebuah tempat yang membuat dada Zio sesak. Bukan karena kurang mewah, atau kurang bagus. Namun di sini, dia bisa merasakan perjuangan seorang Raisa dalam merawat Livi.Dia kembali teringat bagaimana susahnya Lea hamil dan melahirkan. Beruntungnya Lea punya dirinya juga yang lain.Tapi Raisa, totally alone. Sendirian. Tidak terbayangkan bagaimana Raisa berlomba dengan waktu, kuliah, pekerjaan juga dirinya sendiri. Bisa tetap waras sampai sekarang saja sudah bagus."Biarkan dia makan sendiri." Suara galak Raisa terdengar ketika Zico coba menyuapi Livi."Dua-duanya. Kau bego dan adikmu terlampau smart," ceplos James yang sepertinya mulai akrab dengan Agra.Ingat, dua pria itu juga hampir adu tinju waktu itu."Sialan kau!" Agra menendang James, tapi pria itu berhasil menghindar."
Tujuh jam kemudian.Zio dengan didampingi James mendarat di bandara internasional Haneda. Mereka langsung menuju rumah sakit tempat Zico dirawat.Awalnya mereka kemari untuk mengurusi Zico, tapi siapa sangka yang mereka temui justru melebihi ekspektasi mereka.James sengaja ikut, sebab dia sudah diberi bisikan oleh Miguel. Mengenai garis besar persoalan Zico."Apa yang terjadi sebenarnya?" Itu yang Zio tanyakan begitu dia berhadapan dengan Agra."Duduk dulu. Kita bicara." Zio mengikuti permintaan Agra. Dua pria itu terlibat pembicaraan serius. Sangat serius sampai Zio memejamkan mata, coba menahan diri.Di tempat Raisa, perempuan itu hanya bisa diam, tertunduk tanpa berani melihat ke arah Zio. Sejak dulu, aura Zio sangat menakutkan bagi Raisa."Apa aku harus percaya begitu saja? Maaf bukan meragukanmu. Tapi Zico itu brengsek."Zio berujar sambil menatap Raisa."Soal Livi, apa kalian punya bukti otentik kalau dia anak Zico. Tes DNA contohnya." Agra bertanya pada sang adik."Zico punya
Setelah semalam merenung, menimang juga mempertimbangkan semua hal dari segala sisi. Pada akhirnya Agra memutuskan untuk menyerahkan permasalahan sang adik pada yang bersangkutan.Agra tidak ingin mendoktrin, apalagi memaksa Raisa soal apapun. Pun dengan Zico, Agra secara khusus minta bertemu. Dan Zico dengan segera menyanggupi.Dengan membawa Livi, Agra kembali dibuat yakin dengan keputusannya. Dia pasti Zico bisa lebih baik darinya. "Aku izinkan kau berjuang. Tapi dengan satu catatan. Jika dia menolak kau harus enyah dari hadapannya juga Livi."Zico menelan ludah. Ditolak Raisa dia bisa terima. Tapi berjauhan dengan Livi, Zico tidak akan sanggup. Tidak, setelah dia menjalani dua puluh empat jam full bersama sang putri. Zico tidak akan bisa berpisah dengan Livi. Tidak, sesudah dia menyadari betapa berharganya Livi baginya.Maka siang itu dengan harapan setinggi langit, Zico nekat melamar Raisa. Dia yakin lamarannya akan diterima."Sa, mari menikah."Suara Zio membuat Raisa kembali
"Apapa," sebut Livi dengan bibir bertekuk menahan tangis."Ndak apa-apa, Sayang. Apapa nakal jadi pantas dipukul. Tapi kamu gak boleh asal pukul orang."Livi melayangkan tatapan tajam penuh permusuhan pada Agra."He, bukan Om yang salah. Dia yang jahat."Livi menangis dengan tangan sibuk melempar apa saja yang ada di meja. Agra maju tidak terima dengan aksi sang ponakan. Sementara Zico dengan cepat mendekap Livi yang bibir mungilnya terus menyebut om jahat."Kau! Kau jangan mimpi bisa dapatin Raisa," ancam Agra."Agra, berhenti gak!" Pria itu kicep begitu sang istri bicara. Irene mendekati Raisa yang cuma duduk sambil memijat pelipisnya yang berdenyut. Dalam sekejap, Livi sudah jadi perisai hidup untuk ayahnya. Dipandangnya wajah Zico yang memar di beberapa tempat. Saat ini pria itu masih menenangkan Livi yang masih menebar aura permusuhan pada omnya."Ren ....""Jangan tanya, Mbak. Pusing aku." Irene mundur ketika Raisa angkat tanganAgra mendesah frustrasi. Pria itu berdiam diri d
"Apa kamu bilang? Zico ke Tokyo?" Lea mengutip ucapan Zio barusan."Lah kan aku sudah bilang kemarin. Abian kasih tahu kalau Zico ke Tokyo. Katanya kerjaannya berantakan, jadi mereka suruh Zico buat healing lagi."Zio berkata sambil mendekati Lea yang sedang menyusui Celio. Zio seketika jadi cemburu. Benda itu bertambah menggiurkan, tapi sekarang bukan lagi miliknya. Ada Celio yang memonopoli tempat favorit Zio."Dia ke Tokyo bukan healing tapi cari perkara. Lihat saja yang ada di sana. Bukannya Zico selalu sakit kepala kalau coba mengingat Raisa," Lea membetulkan posisi Celio supaya lebih nyaman."Kan beda kalau ketemu orangnya langsung. Boy, gantian napa. Dikit aja."Lea menepis tangan Zio yang selalu ingin mengganggu Celio. Bayi lelaki itu sudah bertambah montok dengan pipi seperti bakpao. Tingkahnya juga bikin satu rumah tertawa senang."Memangnya kau setuju kalau Zico dengan Raisa?""Enggak! Jauh-jauh dari yang namanya Agra," balas Zio cepat.Lea seketika memutar bola matanya je
Livi menangis dengan tubuh Raisa turut gemetar, melihat bagaimana Zico menggelepar menahan sakit di kepala. "Tolong, Dok. Sakit!" Teriak Zico berulang kali.Dia pegangi kepalanya yang serasa mau pecah. Pria itu meringis, mendesis sementara tim medis sedang mencoba mengurangi kesakitan yang Zico rasa.Raisa susah payah berhasil membawa Zico ke klinik terdekat. Tubuh Zico yang tumbuh besar dan tinggi membuat Raisa kesulitan memapah. Ditambah dia sedang menggendong Livi yang sejak itu mulai menangis.Beruntungnya dia bertemu dua orang yang membantu Zico berjalan ke klinik. "Apapa!" Sebut Livi berulang kali. Balita tersebut tampak ketakutan, tapi juga menampilkan ekspresi sedih."Apa yang terjadi padanya?" Seorang dokter bertanya setelah Zico berhasil ditenangkan. Raisa melirik Zico yang mulai tenang, meski sesekali masih meringis kesakitan."Dia bilang pernah kecelakaan, lalu hilang ingatan. Tapi saya tidak tahu detail-nya.""Oke, kami paham. Kami akan memeriksanya lebih lanjut. Takut