done 4 bab ya teman-teman, besok jangan tanya 😊😊
Habis sudah kesempatan Lea guna menyelamatkan diri, begitu yang otak Lea gaungkan berulang kali. Tak ada yang tahu di mana dia sekarang.Tidak ada yang bisa ia mintai tolong. Putus asa merayap, menggulung, menutup pikiran Lea. Hingga Lea tak lagi mampu memikirkan solusi untuk bisa lari dari Agra selain mati.Dalam hati sibuk minta maaf sekaligus meratapi tindakan konyolnya dengan mendatangi Agra seorang diri.Hingga kini Lea terpojok dengan sebilah pisau ia arahkan ke lehernya sendiri. Pilihan terakhir andai semua harus berakhir.Namun semua tak berjalan seperti yang Lea angankan. Ketika dirinya hilang fokus untuk beberapa detik, Lea mendapati Agra telah berada tepat di hadapannya."Pergi! Menjauh dariku!" Teriak Lea ketakutan."Gak! Lepaskan ini dulu!" Agra menahan tangan Lea yang menggenggam pisau.Pelan tapi pasti lelaki tersebut berusaha menjauhkan benda tajam berkilat tadi dari leher Lea. Dan berhasil. Bermodal kekuatannya sebagai pria, jelas saja Lea kalah tenaga.Sekali hentak,
"Bagaimana keadaannya?"Han bertanya begitu masuk ke dalam lift. Syukur tiga pria itu laungkan, ketika mereka tiba tempat waktu. Zico yang sudah mengantongi password apart Agra dengan mudah menerobos masuk.Hingga mereka sempat menghalangi Agra dari keinginan busuknya yang ingin menyentuh Lea."Belum mau bangun," balas Zio cemas luar biasa. Hati lelaki itu berkecamuk. Apa lagi sekarang? Kenapa dia tidak pernah bisa menjaga istrinya dengan baik. Baik yang dulu maupun yang sekarang. Ya Tuhan, harus dengan cara apa dia menyudahi semua ini. Tidak bisakah keluarga kecilnya hidup bahagia. Zio tak minta muluk-muluk.Kenapa Lea lagi yang jadi korban? Perempuan itu sudah menderita sejak dulu lagi. Tak bisakah hidup sedikit adil baginya. Berikanlah kebahagiaan dan ketenangan barang sejenak untuk hidupnya.Air mata Zio menetes kala dia mencium pipi sang istri. Tak pernah dia bayangkan akan sehancur apa Lea dan dirinya jika Agra berhasil merealisasikan pikiran gilanya tadi."Boleh aku lihat, sia
Sekali lagi Lea menemukan rasa aman juga terlindungi dalam dekapan sang suami. Keduanya sampai di The Mirror, disambut mimik bersalah wajah Sari. Perempuan itu berdiri di depan Ratih yang setia menunduk. Kedatangan Zio diikuti Zico yang seketika memberikan tatapan penuh peringatan pada Ratih. Bibir Zico bergerak tanpa suara, "Tunggu hukumanmu yang sebenarnya." Sementara di kamar Zio, pria itu telah selesai mengganti pakaian sang istri yang jelas tidak baik-baik saja. Tak ada kata yang terucap, tapi Zio tahu benar keadaan Lea. "Tidurlah, aku pastikan kamu aman," kata Zio setelah ikut naik ke kasur. Dia peluk tubuh Lea yang balik melingkarkan tangan di pinggangnya. Ingatan akan kejadian barusan berputar di kepala Lea. Bagaimana Agra dengan lantang mengakui kalau dia punya hubungan dengan Nika. Dan tempat tadi adalah tempat di mana Nika dan Agra dulu sering bertemu. Lea menggeleng pelan, dia susupkan wajahnya tepat di leher sang suami. Menghirup aromanya yang selalu menenangkan jiw
Fajar menyingsing di ufuk timur. Sinarnya memandikan The Mirror dengan kilauan cahaya yang sebagian diserap oleh panel tenaga surya. Zio mulai memanfaatkan cahaya matahari untuk dia gunakan sebagai sumber listrik alternatif.Lea menggeliat pelan, masih dia rasakan hangat pelukan Zio pada tubuhnya. Zio sendiri masih terlelap, tak menyadari sang istri yang sudah bangun."Zi ....""Hmmm. Sudah bangun. Bagaimana? Sudah baikan?" Zio membuka mata lantas mencium bibir Lea.Awalnya Lea menolak, tapi setelah tahu Zio yang melakukannya, Lea sambut morning kiss sang suami. "Ini aku, jangan takut." Ditatapnya dalam bola mata Lea yang hanya diam tanpa menjawab. Zio raih tengkuk Lea untuk kemudian dia cium kembali.Lea sempat menahan dada sang suami, tapi aroma khas sang suami lekas memberitahu otaknya kalau Zio bukan orang yang berbahaya. Lagi pula, Lea memang perlu sesuatu untuk mengalihkan perhatiannya dari kejadian semalam.Agaknya interaksi intim dengan Zio bisa jadi alternatif. Ciuman keduan
"Aku mau jadi prioritas, bukan cadangan."Ucapan Irene terus terngiang di kepala Agra. Menambah deret kesakitan yang ia rasa. Ke mana dia harus mencari?Dengan wajah babak belur macam korban KDRT, Agra melajukan mobilnya menuju apartemen Irene. Dari satpam, Agra mendapat info kalau Irene sudah keluar sejak pagi buta."Dia ambil cuti? Kamu gak tahu?" Arch yang tidak tahu pasal peristiwa semalam, memberi Agra kabar yang mengejutkan."Cuti? Dia gak ada di apart-nya?" "Ya iyalah, dia gak ada di apart-nya. Orang dia pulkam jenguk mak bapaknya."Bengong Agra dibuatnya. Bebek sawahnya pulang kampung. Irene beneran ngambek padanya, sampai nomornya diblokir segala."Kampungnya di mana?" Yang ditanya mengerutkan dahi. "Kamu pacarnya bukan sih, sampai gak tahu kampungnya ceweknya di mana?""Kan kita baru jadian. PDKT-nya aja yang lama. Aku belum sempet ngorek info soal dia."Pandai sekali Agra bermain lidah, membuat Arch tidak sadar telah membantu kakak Raisa.Senyum Agra mengembang. "Mau put
"Pagi sayang." Zio mendekat ke arah Lea yang masih meringkuk di bawah selimut. Lelah dia rasakan, setelah aktivitas panas mereka tadi. "Capek," balas Lea dengan mata setengah terpejam. Zio hanya menggetarkan tawa. Bagaimana tidak lelah, ketika Lea mengambil peran lebih banyak pagi ini. Zio hanya kebagian menyelesaikan setelah Lea lemas tak berdaya. "Makan dulu kalau begitu." Lea bangun dengan malas. "Mama nanyain gak? Pasti dikiranya aku perempuan manja. Suka malas-malasan." "Lah memangnya aku nyuruh kamu lakuin apa? Aku nyari istri bukan pembantu. Tugasmu melayaniku, terutama di kasur. Kamu gak tahu aja papa dulu treat mama kayak apa. Jadi dia gak heran kalau kamu jam segini belum keluar kamar. Dia tahulah apa yang habis kita lakuin." "Aku kan jadi malu." "Malu ya bajunya dipakai, jangan malah diumbar, bikin pengen lagi aja." Lea lekas menunduk, dengan segera dia menaikkan selimut, menutupi dadanya yang terbuka. Merona pipi Lea, malu dengan keadaannya. "Dia sendiri yang b
Alamak! Ingin rasanya Irene berbalik lalu kabur, andai tak ingat wajah mamak dan bapaknya. Sudah dua tahun dia tidak pulang, sejak lulus kuliah lalu bekerja di Dreamcatcher.Rindu sekali dia pada mamaknya. Tapi kenapa sekalinya pulang, dia justru berhadapan dengan orang yang sangat ingin dia hindari."Senang bertemu denganmu, Ren. Bagaimana kabarmu? Kebetulan sekali aku juga sedang pulang. Bagus sekali kita bisa bertemu."Seorang pria berparas cindo, menyapa Irene yang seketika salah tingkah."Ngapain datang? Mau nagih utang? Aku bayar." Tanya Irene tanpa basa basi.Dia bukan Irene yang tidak punya uang macam dulu. Hingga untuk kuliah keluarganya terpaksa berhutang pada keluarga pria di depannya."Bukan begitu maksud kami. Sebenarnya ...."Lelaki di depan Irene tampak bingung. Dia menoleh ke arah sang ibu yang langsung menjelaskan."Sebenarnya kami ke sini untuk melamar. Utang itu dianggap tidak pernah ada kalau kalian menikah. Itung-itung kami biayai calon istri Lendra."Bola mata Ir
Bola mata Agra melebar melihat layar ponsel keesokan harinya. Pria itu lekas menekan icon telepon guna menghubungi nomor yang baru saja membuka blokirannya."Bek, angkat teleponnya, Bek."Di ujung sana, seorang anak sedang bermain dengan ponsel yang tergeletak begitu saja di atas meja. Si empunya telepon sedang main ke sawah."Halo, iki sopo?" Agra mengerutkan dahi. Kok bukan Irene yang mengangkat teleponnya. Malah suara laki-laki dengan logat jawa kental plus suara putus-putus yang membalas sapaannya."Halo, yang punya telepon mana? Ini siapa?"Agra sedikit paham bahasa Jawa. Sebab Yuda sering menggunakannya di kantor."Lah malah balik nanya. Yang punya telepon lagi main."Ha? Main? Main apa? Bukannya berpikir positif, otak dua satu plus Agra justru mengambil alih."Main sama siapa?""Sama bapaknya."What? Agra makin nethink dibuatnya. Saat pria itu masih menerka-nerka jenis permainan apa yang bisa dimainkan bersama 'bapaknya'. Satu suara terdengar dari arah belakang."Febri! Kau ap
Livi menangis dengan tubuh Raisa turut gemetar, melihat bagaimana Zico menggelepar menahan sakit di kepala. "Tolong, Dok. Sakit!" Teriak Zico berulang kali.Dia pegangi kepalanya yang serasa mau pecah. Pria itu meringis, mendesis sementara tim medis sedang mencoba mengurangi kesakitan yang Zico rasa.Raisa susah payah berhasil membawa Zico ke klinik terdekat. Tubuh Zico yang tumbuh besar dan tinggi membuat Raisa kesulitan memapah. Ditambah dia sedang menggendong Livi yang sejak itu mulai menangis.Beruntungnya dia bertemu dua orang yang membantu Zico berjalan ke klinik. "Apapa!" Sebut Livi berulang kali. Balita tersebut tampak ketakutan, tapi juga menampilkan ekspresi sedih."Apa yang terjadi padanya?" Seorang dokter bertanya setelah Zico berhasil ditenangkan. Raisa melirik Zico yang mulai tenang, meski sesekali masih meringis kesakitan."Dia bilang pernah kecelakaan, lalu hilang ingatan. Tapi saya tidak tahu detail-nya.""Oke, kami paham. Kami akan memeriksanya lebih lanjut. Takut
Venue pernikahan sudah ramai orang. Agaknya prosesi pernikahan akan segera dimulai. Zico panik, dia tidak menemukan Raisa di mana pun. Mungkin perempuan itu sedang di touch up make up-nya. Tapi ruangannya di sebelah mana.Saat kecemasan Zico memuncak, dia mendengar musik pengiring pernikahan mengalun. Dia menerobos barisan tamu undangan untuk melihat lebih dekat. Raisa dan Livi muncul di pintu. Zico reflek berteriak, "Sa! Sa! Kamu gak boleh nikah sama dia!"Detik setelahnya Zico menarik Raisa pergi dari sana. Membawanya berlari setelah sempat menggendong Livi. Semua tamu melongo, melihat kejadian yang baru saja berlaku.Pun dengan Agra dan Irene. Dua orang itu jelas bingung ketika Zico mendadak muncul di Tokyo, lantas membawa pergi Raisa juga Livi.Namun hal itu tidak berlaku bagi Ryu dan Hana, sepasang pengantin itu justru saling melempar senyum."Itu tadi papanya Livi?" Tanya Hana seraya berjalan ke altar pernikahan dengan tangan melingkari lengan Ryu.Gaun putih sederhana senada d
Setelah menempuh perjalanan hampir tujuh jam, Zico sampai di Tokyo hampir pagi. Tubuhnya lelah luar biasa, hingga ketika dia sampai hotel tempat dia menginap, lelaki itu langsung ambruk untuk kemudian terlelap.Dia perlu memejamkan mata sejenak, atau dia bakal oleng. Lebih parah sakit kepala bisa membuat Zico tak berdaya. Satu yang Zico ingat, dia harus menemukan Raisa sebelum jam dua siang nanti. Sebab pernikahan Ryu digelar di jam itu. Dan Zico yang buta soal Tokyo sudah dipastikan harus berjibaku menemukan venue tempat pernikahan Ryu Watanabe."Tunggu aku, Sa," gumam Zico sebelum terlelap.Padahal yang disebut namanya sedang mengulas senyum. Pertikaianya dengan Agra berakhir lebih cepat dari yang dia duga. Raisa pikir Agra akan mendiamkannya lama. Bahkan mungkin memutuskan hubungan dengannya.Punya anak di luar nikah adalah aib besar di negara mereka. Namun di sini, Tokyo. Kota dan negara yang sedang mengalami masalah penurunan angka kelahiran yang signifikan.Kelahiran adalah hal
Agra langsung menuju apartemen Raisa begitu dia sampai di Tokyo. Lelaki itu heran melihat Ryu berkunjung ke unit sang adik, padahal hari sudah cukup malam. Ditambah besok adalah hari pernikahan sang asisten. Curiga membuat Agra bergerak cepat menahan pintu, hingga dia bisa ikut masuk ke apart sang adik tanpa penghuninya tahu. Agra pikir Ryu dan Raisa punya hubungan lebih di luar atasan dan asisten.Agra dan Irene terpaksa menguping pembicaraan Ryu dan Raisa. Betapa terkejutnya dua orang itu mendengar topik yang dibicarakan oleh Ryu dan Raisa."Livi siapa, Sa?" Pertanyaan Agra membuat Raisa terperanjat. Dia tidak pernah menyangka kalau Agra sudah berdiri di hadapannya."Kakak kapan sampai?" "Jawab dulu, Livi siapa?" Agra coba menahan diri. Meski pikirannya sudah mengembara ke mana-mana. Mungkinkah yang Agra takutkan benar terjadi. "Livi dia ....""Amama, Papa." Suara menggemaskan terdengar dari arah kamar.Agra dan Irene sontak menoleh, melihat seorang balita berjalan limbung ke ar
"Om, tahu tempat tinggal Livi gak?"Zico melirik sadis ke arah Arch, yang tampak tak masalah mendapat teror semacam itu dari om-nya."Lu ngapain sih nanya Livi mulu, kan elu sudah punya Celio," kesal Zico tiap ketemu Arch. Pasti bocah itu selalu menanyakan pasal Livi.Padahal Zico sendiri sedang H2C, harap-harap cemas menanti kabar dari dari Miguel soal tes DNA Livi dengannya. Miguel mengabarkan, sample sudah masuk lab dua hari lalu, pria itu bilang akan mengusahakan secepat mungkin. Dari mana Miguel dapat sample Livi, jangan ditanya. Mungkin saja Miguel punya join venture alias kerjasama dengan kelompok Yakuza di Tokyo sana. Aih serem, triad ketemu yakuza, kalau tawuran pasti mengerikan."Celio kan cowok. Livi cewek, beda," balas Arch cepat."Memangnya kenapa kalau cewek?" Zico mulai curiga kenapa keponakannya ngebet banget sama Livi.Arch diam, tapi rona merah bisa Zico lihat menyebar di pipi putra kandung Miguel."Dia cantik, Om.""Ha? Jangan bilang lu suka sama tu bayik. Eh biji
Berbeda dengan dua pasangan lain yang tengah melakoni malam panas membara. Kamar Zico yang selalu sunyi, kini kian dingin. Hatinya hampa sejak dia kehilangan memori soal Raisa.Namun hari ini semua terasa berbeda. Kehadiran seorang Nakaia Livi mengubah segalanya. Hati Zico menghangat. Tiap sentuhan Livi menyalurkan cinta yang telah lama hilang dari kalbunya.Panggilan "apapa" khas Livi membangkitkan sesuatu dalam jiwanya. Dia seperti diseret, dipaksa untuk memperjuangkan Livi.Zico berdecih lirih. Dia habiskan cairan merah yang ada dalam gelasnya. Matanya memandang siluet pesawat yang mengangkasa di depan sana."Dia pergi," gumam Zico. Padahal belum tentu itu pesawat Livi.Detik setelahnya bunyi benda pecah terdengar. Zico baru saja membanting gelas yang beberapa saat lalu masih dia genggam. Dia remas kepalanya, frustrasi dengan dirinya sendiri."Apa yang sebenarnya hilang? Apa yang sebenarnya kuinginkan? Apa yang sejatinya aku cari?!" Teriak Zico sambil memukuli kepalanya sendiri.Su
Agra menendang bantal terdekat untuk melampiaskan kekesalannya. Berapa lama dia puasa, berapa bulan dia menahan diri. Dia sama sekali tidak menyentuh Irene lebih dari sekedar adu bibir.Grepe-grepe pun tidak. Tapi sekarang ketika dia sudah diizinkan melakukan itu semua, Irene malah biasa saja. Tidak antusias dan tidak responsif."Gra, mandi gak?" Yang ada dikepala Irene, orang menikah itu bebas berduaan di kamar. Tidak perlu takut digrebek. Bisa lihat tubuh pasangan, boleh cium, bisa peluk. Yang Irene tidak mengerti adalah mereka diizinkan melakukan lebih dari itu. Bahkan tidak ada batasan lagi untuk orang yang sudah menikah.Terlalu sibuk belajar dan bekerja membuat Irene sama sekali tidak berkembang soal hubungan antara lawan jenis. Bahkan dia tidak punya teman yang bisa diajak sharing atau membahas hal-hal yang berbau dewasa. Bahkan dengan Lea, Irene tak pernah bahas begituan.Nonton film biru pernah sekali dua. Tapi Irene pada akhirnya bergidik ngeri. Takut dengan suara desah ya
"Kenapa kau mengizinkanku menemuinya?" "Kupikir dia menyukaimu."Balasan Ryu sontak membuat Zico menoleh. Dia pandang Ryu meski kemudian Zico dipaksa melihat Livi kembali. Livi seolah ingin Zico hanya memperhatikannya saja."Dari mana kau tahu?""Siapa namamu?"Kembali Zico berpaling, sebelum Livi lagi-lagi membuat putra Inez menatapnya lagi."Pentingkah?""He em. Siapanya Raisa? Kenapa tingkah kalian benci benci tapi rindu gitu.""Kata mereka kami pacaran waktu SMA sebelum dia lanjut studi ke Jepang.""Apapa," panggil Livi."Apa, Vi. Kamu ditanyain mulu sama Arch."Livi mengerutkan dahi, seolah sedang berpikir. "Apa? Mau omong apa? Gak bisa nyebut Arch."Livi tertawa renyah seolah senang Zico tahu yang dipikirkan."Kami pulang malam ini," info Ryu."So?""Cuma kasih tahu aja," pancing Ryu."Aku gak terlalu ingat kisah kami. Tapi aku merasa aku sudah melukainya. Jadi pantas jika dia membenciku.""Kamu masih cinta dia?""Tidak tahu."Zico membalas sendu. Matanya tak bisa beralih dari
"Tahu dari mana?" Ryu menantang Raisa. "Dia tidak pernah mencariku setelah itu. Dia melupakanku begitu saja. Dia sama seperti remaja brengsek lainnya. Suka mempermainkan perempuan." Raisa coba untuk tidak menangis. Walau Livi sudah terlelap sambil memeluk botolnya. "Dia mungkin tidak tahu kalau kamu mengandung anaknya," Ryu kembali memberi pertimbangan. Raisa mengangkat tangan. "Cukup Ryu, aku tidak mau membahasnya. Katakan saja, Livi adalah buah dari kebodohanku soal laki-laki." "Dia memaksamu, Sa. Kalian melakukannya tidak dasar suka sama suka." "Kamu salah, Ryu. Aku mencintainya. Tapi malam itu dia memang memaksa. Sungguh aku tidak pernah ingin melakukannya sebelum menikah. Tapi dia ...." Tangis Raisa pecah juga akhirnya. Dia selama ini berusaha kuat tapi tiap kali teringat bagaimana Livi hadir ke dunia, sakit itu kembali terasa. Itu belum lagi kehamilan Livi yang lumayan berat. Zico harus digetok kalau perlu dihajar, dia buat Raisa menghadapi kehamilan Livi yang membuatnya