"Berhenti! Aku ingin bicara sebentar." Lea langsung mencegat Agra yang dia lihat di lobi kantor Dreamcatcher. Lea tahu Agra datang untuk menjemput Irene. Lea juga mengetahui jika Irene dan Agra sedang menjalin hubungan."Ada apa?" Senyum Agra melebar memandang Lea yang selalu cantik di matanya."Aku peringatkan kau, jangan permainkan Irene," kata Lea tanpa basa basi."Permainkan seperti apa? Apa kamu tahu kalau aku sedang melindunginya. Aldo mengincarnya. Kamu tahu sendiri seperti apa brengseknya Aldo."Lea berdecih pelan, "Itu cuma modusmu saja. Sekali lagi aku peringatkan, jangan permainkan Irene atau aku tak segan menghajarmu."Lea beranjak pergi, tapi tangannya dengan segera ditahan Agra. Mau tak mau Lea menghentikan langkah. Dia lekas menepis cekalan tangan Agra. Membuat lelaki itu segera mengangkat tangan."Kalau kamu begitu cemas padanya kenapa tidak kau gantikan tempatnya," Agra tersenyum miring pada Lea."Jangan gila kamu!" Satu tawa lirih terdengar dari arah Agra. "Kamu ta
Lea langsung meledakkan amarah begitu dia mendengar apa yang Desi dan Sari katakan. Ditambah sebuah info terbaru dari Heri turut membuat emosi Lea mencapai puncaknya."Dia? Si brengsek itu pelakunya?" Lea menggeram marah."Kak, ini si Ratih sudah ngaku." Zico turut andil dalam menekan Ratih supaya mengaku soal siapa yang menyuruhnya mencampur teh Lea dengan pil kontrasepsi yang sudah dihaluskan."Ampun, Tuan. Saya diancam, bapak saya sakit. Saya perlu duit.""Kamu perlu duit? Kami gudangnya duit, kenapa gak bilang. Kamu gak belajar dari kesalahannya Desi."Lea mendorong napasnya kasar, tanpa banyak bicara dia langsung mencari biang kerok dari semua masalah ini. Lea tak mengindahkan peringatan Heri untuk menunggu Zio yang masih dalam perjalanan dari luar kota. Satu jam lagi sampai.Sementaa Zico masih asyik dengan aksinya membalas perbuatan Ratih. "Orang yang membayari cuci darah emaknya Desi adalah Agra Atharva. Sorry, baru kemarin aku dapat infonya, dan Desi baru mau mengakuinya tad
"Bagaimana?" Heri bertanya pada Sari dan Desi. Dua perempuan itu menggeleng. "Gak ada di kantor." Sari menjawab. "Gak ada di rumah." Desi menyusul. Heri menggeram, kalau sampai Lea kenapa-kenapa dia akan merasa sangat bersalah. "Hubungi tuan muda kalian," pinta Heri. Dia baru menghubungi Zio dan pria itu sedang mengusahakan sampai secepat yang dia bisa. "Tuan muda sedang ke sini. Nah itu dia." Sari menunjuk Zico yang langkah lebarnya tampak seperti berlari. "Di mana kak Lea?" Zico paham benar kalau kakak iparnya punya mode nekad dalam dalam dirinya. Melihat Heri, Sari dan Desi saling pandang, bisa disimpulkan kalau ketiganya tidak tahu di mana perempuan itu. "Haishh! Kenapa dibiarkan pergi sendirian! Pinjam laptop!" Kata pinjam tapi terdengar seperti merampok. Tapi mereka bisa apa ketika Zico yang memberi perintah. Mereka tahu telah salah bertindak. Harusnya mereka tidak memberi tahu Lea via telepon. Mestinya mereka kasih tahu Lea kalau sudah saling jumpa. Tapi informasi d
Habis sudah kesempatan Lea guna menyelamatkan diri, begitu yang otak Lea gaungkan berulang kali. Tak ada yang tahu di mana dia sekarang.Tidak ada yang bisa ia mintai tolong. Putus asa merayap, menggulung, menutup pikiran Lea. Hingga Lea tak lagi mampu memikirkan solusi untuk bisa lari dari Agra selain mati.Dalam hati sibuk minta maaf sekaligus meratapi tindakan konyolnya dengan mendatangi Agra seorang diri.Hingga kini Lea terpojok dengan sebilah pisau ia arahkan ke lehernya sendiri. Pilihan terakhir andai semua harus berakhir.Namun semua tak berjalan seperti yang Lea angankan. Ketika dirinya hilang fokus untuk beberapa detik, Lea mendapati Agra telah berada tepat di hadapannya."Pergi! Menjauh dariku!" Teriak Lea ketakutan."Gak! Lepaskan ini dulu!" Agra menahan tangan Lea yang menggenggam pisau.Pelan tapi pasti lelaki tersebut berusaha menjauhkan benda tajam berkilat tadi dari leher Lea. Dan berhasil. Bermodal kekuatannya sebagai pria, jelas saja Lea kalah tenaga.Sekali hentak,
"Bagaimana keadaannya?"Han bertanya begitu masuk ke dalam lift. Syukur tiga pria itu laungkan, ketika mereka tiba tempat waktu. Zico yang sudah mengantongi password apart Agra dengan mudah menerobos masuk.Hingga mereka sempat menghalangi Agra dari keinginan busuknya yang ingin menyentuh Lea."Belum mau bangun," balas Zio cemas luar biasa. Hati lelaki itu berkecamuk. Apa lagi sekarang? Kenapa dia tidak pernah bisa menjaga istrinya dengan baik. Baik yang dulu maupun yang sekarang. Ya Tuhan, harus dengan cara apa dia menyudahi semua ini. Tidak bisakah keluarga kecilnya hidup bahagia. Zio tak minta muluk-muluk.Kenapa Lea lagi yang jadi korban? Perempuan itu sudah menderita sejak dulu lagi. Tak bisakah hidup sedikit adil baginya. Berikanlah kebahagiaan dan ketenangan barang sejenak untuk hidupnya.Air mata Zio menetes kala dia mencium pipi sang istri. Tak pernah dia bayangkan akan sehancur apa Lea dan dirinya jika Agra berhasil merealisasikan pikiran gilanya tadi."Boleh aku lihat, sia
Sekali lagi Lea menemukan rasa aman juga terlindungi dalam dekapan sang suami. Keduanya sampai di The Mirror, disambut mimik bersalah wajah Sari. Perempuan itu berdiri di depan Ratih yang setia menunduk. Kedatangan Zio diikuti Zico yang seketika memberikan tatapan penuh peringatan pada Ratih. Bibir Zico bergerak tanpa suara, "Tunggu hukumanmu yang sebenarnya." Sementara di kamar Zio, pria itu telah selesai mengganti pakaian sang istri yang jelas tidak baik-baik saja. Tak ada kata yang terucap, tapi Zio tahu benar keadaan Lea. "Tidurlah, aku pastikan kamu aman," kata Zio setelah ikut naik ke kasur. Dia peluk tubuh Lea yang balik melingkarkan tangan di pinggangnya. Ingatan akan kejadian barusan berputar di kepala Lea. Bagaimana Agra dengan lantang mengakui kalau dia punya hubungan dengan Nika. Dan tempat tadi adalah tempat di mana Nika dan Agra dulu sering bertemu. Lea menggeleng pelan, dia susupkan wajahnya tepat di leher sang suami. Menghirup aromanya yang selalu menenangkan jiw
Fajar menyingsing di ufuk timur. Sinarnya memandikan The Mirror dengan kilauan cahaya yang sebagian diserap oleh panel tenaga surya. Zio mulai memanfaatkan cahaya matahari untuk dia gunakan sebagai sumber listrik alternatif.Lea menggeliat pelan, masih dia rasakan hangat pelukan Zio pada tubuhnya. Zio sendiri masih terlelap, tak menyadari sang istri yang sudah bangun."Zi ....""Hmmm. Sudah bangun. Bagaimana? Sudah baikan?" Zio membuka mata lantas mencium bibir Lea.Awalnya Lea menolak, tapi setelah tahu Zio yang melakukannya, Lea sambut morning kiss sang suami. "Ini aku, jangan takut." Ditatapnya dalam bola mata Lea yang hanya diam tanpa menjawab. Zio raih tengkuk Lea untuk kemudian dia cium kembali.Lea sempat menahan dada sang suami, tapi aroma khas sang suami lekas memberitahu otaknya kalau Zio bukan orang yang berbahaya. Lagi pula, Lea memang perlu sesuatu untuk mengalihkan perhatiannya dari kejadian semalam.Agaknya interaksi intim dengan Zio bisa jadi alternatif. Ciuman keduan
"Aku mau jadi prioritas, bukan cadangan."Ucapan Irene terus terngiang di kepala Agra. Menambah deret kesakitan yang ia rasa. Ke mana dia harus mencari?Dengan wajah babak belur macam korban KDRT, Agra melajukan mobilnya menuju apartemen Irene. Dari satpam, Agra mendapat info kalau Irene sudah keluar sejak pagi buta."Dia ambil cuti? Kamu gak tahu?" Arch yang tidak tahu pasal peristiwa semalam, memberi Agra kabar yang mengejutkan."Cuti? Dia gak ada di apart-nya?" "Ya iyalah, dia gak ada di apart-nya. Orang dia pulkam jenguk mak bapaknya."Bengong Agra dibuatnya. Bebek sawahnya pulang kampung. Irene beneran ngambek padanya, sampai nomornya diblokir segala."Kampungnya di mana?" Yang ditanya mengerutkan dahi. "Kamu pacarnya bukan sih, sampai gak tahu kampungnya ceweknya di mana?""Kan kita baru jadian. PDKT-nya aja yang lama. Aku belum sempet ngorek info soal dia."Pandai sekali Agra bermain lidah, membuat Arch tidak sadar telah membantu kakak Raisa.Senyum Agra mengembang. "Mau put
Setelah semalam merenung, menimang juga mempertimbangkan semua hal dari segala sisi. Pada akhirnya Agra memutuskan untuk menyerahkan permasalahan sang adik pada yang bersangkutan.Agra tidak ingin mendoktrin, apalagi memaksa Raisa soal apapun. Pun dengan Zico, Agra secara khusus minta bertemu. Dan Zico dengan segera menyanggupi.Dengan membawa Livi, Agra kembali dibuat yakin dengan keputusannya. Dia pasti Zico bisa lebih baik darinya. "Aku izinkan kau berjuang. Tapi dengan satu catatan. Jika dia menolak kau harus enyah dari hadapannya juga Livi."Zico menelan ludah. Ditolak Raisa dia bisa terima. Tapi berjauhan dengan Livi, Zico tidak akan sanggup. Tidak, setelah dia menjalani dua puluh empat jam full bersama sang putri. Zico tidak akan bisa berpisah dengan Livi. Tidak, sesudah dia menyadari betapa berharganya Livi baginya.Maka siang itu dengan harapan setinggi langit, Zico nekat melamar Raisa. Dia yakin lamarannya akan diterima."Sa, mari menikah."Suara Zio membuat Raisa kembali
"Apapa," sebut Livi dengan bibir bertekuk menahan tangis."Ndak apa-apa, Sayang. Apapa nakal jadi pantas dipukul. Tapi kamu gak boleh asal pukul orang."Livi melayangkan tatapan tajam penuh permusuhan pada Agra."He, bukan Om yang salah. Dia yang jahat."Livi menangis dengan tangan sibuk melempar apa saja yang ada di meja. Agra maju tidak terima dengan aksi sang ponakan. Sementara Zico dengan cepat mendekap Livi yang bibir mungilnya terus menyebut om jahat."Kau! Kau jangan mimpi bisa dapatin Raisa," ancam Agra."Agra, berhenti gak!" Pria itu kicep begitu sang istri bicara. Irene mendekati Raisa yang cuma duduk sambil memijat pelipisnya yang berdenyut. Dalam sekejap, Livi sudah jadi perisai hidup untuk ayahnya. Dipandangnya wajah Zico yang memar di beberapa tempat. Saat ini pria itu masih menenangkan Livi yang masih menebar aura permusuhan pada omnya."Ren ....""Jangan tanya, Mbak. Pusing aku." Irene mundur ketika Raisa angkat tanganAgra mendesah frustrasi. Pria itu berdiam diri d
"Apa kamu bilang? Zico ke Tokyo?" Lea mengutip ucapan Zio barusan."Lah kan aku sudah bilang kemarin. Abian kasih tahu kalau Zico ke Tokyo. Katanya kerjaannya berantakan, jadi mereka suruh Zico buat healing lagi."Zio berkata sambil mendekati Lea yang sedang menyusui Celio. Zio seketika jadi cemburu. Benda itu bertambah menggiurkan, tapi sekarang bukan lagi miliknya. Ada Celio yang memonopoli tempat favorit Zio."Dia ke Tokyo bukan healing tapi cari perkara. Lihat saja yang ada di sana. Bukannya Zico selalu sakit kepala kalau coba mengingat Raisa," Lea membetulkan posisi Celio supaya lebih nyaman."Kan beda kalau ketemu orangnya langsung. Boy, gantian napa. Dikit aja."Lea menepis tangan Zio yang selalu ingin mengganggu Celio. Bayi lelaki itu sudah bertambah montok dengan pipi seperti bakpao. Tingkahnya juga bikin satu rumah tertawa senang."Memangnya kau setuju kalau Zico dengan Raisa?""Enggak! Jauh-jauh dari yang namanya Agra," balas Zio cepat.Lea seketika memutar bola matanya je
Livi menangis dengan tubuh Raisa turut gemetar, melihat bagaimana Zico menggelepar menahan sakit di kepala. "Tolong, Dok. Sakit!" Teriak Zico berulang kali.Dia pegangi kepalanya yang serasa mau pecah. Pria itu meringis, mendesis sementara tim medis sedang mencoba mengurangi kesakitan yang Zico rasa.Raisa susah payah berhasil membawa Zico ke klinik terdekat. Tubuh Zico yang tumbuh besar dan tinggi membuat Raisa kesulitan memapah. Ditambah dia sedang menggendong Livi yang sejak itu mulai menangis.Beruntungnya dia bertemu dua orang yang membantu Zico berjalan ke klinik. "Apapa!" Sebut Livi berulang kali. Balita tersebut tampak ketakutan, tapi juga menampilkan ekspresi sedih."Apa yang terjadi padanya?" Seorang dokter bertanya setelah Zico berhasil ditenangkan. Raisa melirik Zico yang mulai tenang, meski sesekali masih meringis kesakitan."Dia bilang pernah kecelakaan, lalu hilang ingatan. Tapi saya tidak tahu detail-nya.""Oke, kami paham. Kami akan memeriksanya lebih lanjut. Takut
Venue pernikahan sudah ramai orang. Agaknya prosesi pernikahan akan segera dimulai. Zico panik, dia tidak menemukan Raisa di mana pun. Mungkin perempuan itu sedang di touch up make up-nya. Tapi ruangannya di sebelah mana.Saat kecemasan Zico memuncak, dia mendengar musik pengiring pernikahan mengalun. Dia menerobos barisan tamu undangan untuk melihat lebih dekat. Raisa dan Livi muncul di pintu. Zico reflek berteriak, "Sa! Sa! Kamu gak boleh nikah sama dia!"Detik setelahnya Zico menarik Raisa pergi dari sana. Membawanya berlari setelah sempat menggendong Livi. Semua tamu melongo, melihat kejadian yang baru saja berlaku.Pun dengan Agra dan Irene. Dua orang itu jelas bingung ketika Zico mendadak muncul di Tokyo, lantas membawa pergi Raisa juga Livi.Namun hal itu tidak berlaku bagi Ryu dan Hana, sepasang pengantin itu justru saling melempar senyum."Itu tadi papanya Livi?" Tanya Hana seraya berjalan ke altar pernikahan dengan tangan melingkari lengan Ryu.Gaun putih sederhana senada d
Setelah menempuh perjalanan hampir tujuh jam, Zico sampai di Tokyo hampir pagi. Tubuhnya lelah luar biasa, hingga ketika dia sampai hotel tempat dia menginap, lelaki itu langsung ambruk untuk kemudian terlelap.Dia perlu memejamkan mata sejenak, atau dia bakal oleng. Lebih parah sakit kepala bisa membuat Zico tak berdaya. Satu yang Zico ingat, dia harus menemukan Raisa sebelum jam dua siang nanti. Sebab pernikahan Ryu digelar di jam itu. Dan Zico yang buta soal Tokyo sudah dipastikan harus berjibaku menemukan venue tempat pernikahan Ryu Watanabe."Tunggu aku, Sa," gumam Zico sebelum terlelap.Padahal yang disebut namanya sedang mengulas senyum. Pertikaianya dengan Agra berakhir lebih cepat dari yang dia duga. Raisa pikir Agra akan mendiamkannya lama. Bahkan mungkin memutuskan hubungan dengannya.Punya anak di luar nikah adalah aib besar di negara mereka. Namun di sini, Tokyo. Kota dan negara yang sedang mengalami masalah penurunan angka kelahiran yang signifikan.Kelahiran adalah hal
Agra langsung menuju apartemen Raisa begitu dia sampai di Tokyo. Lelaki itu heran melihat Ryu berkunjung ke unit sang adik, padahal hari sudah cukup malam. Ditambah besok adalah hari pernikahan sang asisten. Curiga membuat Agra bergerak cepat menahan pintu, hingga dia bisa ikut masuk ke apart sang adik tanpa penghuninya tahu. Agra pikir Ryu dan Raisa punya hubungan lebih di luar atasan dan asisten.Agra dan Irene terpaksa menguping pembicaraan Ryu dan Raisa. Betapa terkejutnya dua orang itu mendengar topik yang dibicarakan oleh Ryu dan Raisa."Livi siapa, Sa?" Pertanyaan Agra membuat Raisa terperanjat. Dia tidak pernah menyangka kalau Agra sudah berdiri di hadapannya."Kakak kapan sampai?" "Jawab dulu, Livi siapa?" Agra coba menahan diri. Meski pikirannya sudah mengembara ke mana-mana. Mungkinkah yang Agra takutkan benar terjadi. "Livi dia ....""Amama, Papa." Suara menggemaskan terdengar dari arah kamar.Agra dan Irene sontak menoleh, melihat seorang balita berjalan limbung ke ar
"Om, tahu tempat tinggal Livi gak?"Zico melirik sadis ke arah Arch, yang tampak tak masalah mendapat teror semacam itu dari om-nya."Lu ngapain sih nanya Livi mulu, kan elu sudah punya Celio," kesal Zico tiap ketemu Arch. Pasti bocah itu selalu menanyakan pasal Livi.Padahal Zico sendiri sedang H2C, harap-harap cemas menanti kabar dari dari Miguel soal tes DNA Livi dengannya. Miguel mengabarkan, sample sudah masuk lab dua hari lalu, pria itu bilang akan mengusahakan secepat mungkin. Dari mana Miguel dapat sample Livi, jangan ditanya. Mungkin saja Miguel punya join venture alias kerjasama dengan kelompok Yakuza di Tokyo sana. Aih serem, triad ketemu yakuza, kalau tawuran pasti mengerikan."Celio kan cowok. Livi cewek, beda," balas Arch cepat."Memangnya kenapa kalau cewek?" Zico mulai curiga kenapa keponakannya ngebet banget sama Livi.Arch diam, tapi rona merah bisa Zico lihat menyebar di pipi putra kandung Miguel."Dia cantik, Om.""Ha? Jangan bilang lu suka sama tu bayik. Eh biji
Berbeda dengan dua pasangan lain yang tengah melakoni malam panas membara. Kamar Zico yang selalu sunyi, kini kian dingin. Hatinya hampa sejak dia kehilangan memori soal Raisa.Namun hari ini semua terasa berbeda. Kehadiran seorang Nakaia Livi mengubah segalanya. Hati Zico menghangat. Tiap sentuhan Livi menyalurkan cinta yang telah lama hilang dari kalbunya.Panggilan "apapa" khas Livi membangkitkan sesuatu dalam jiwanya. Dia seperti diseret, dipaksa untuk memperjuangkan Livi.Zico berdecih lirih. Dia habiskan cairan merah yang ada dalam gelasnya. Matanya memandang siluet pesawat yang mengangkasa di depan sana."Dia pergi," gumam Zico. Padahal belum tentu itu pesawat Livi.Detik setelahnya bunyi benda pecah terdengar. Zico baru saja membanting gelas yang beberapa saat lalu masih dia genggam. Dia remas kepalanya, frustrasi dengan dirinya sendiri."Apa yang sebenarnya hilang? Apa yang sebenarnya kuinginkan? Apa yang sejatinya aku cari?!" Teriak Zico sambil memukuli kepalanya sendiri.Su