Zio awalnya memang tidak menyukai, bahkan terkesan benci ketika Nika menyodorkan seorang wanita buta ke hadapannya sebagai pengganti. Apa Nika waktu itu serius dengan pilihannya. Tanya itu seketika muncul di benak Zio. Keduanya sempat berdebat lumayan lama, sampai ucapan Nika membuat Zio menolak mentah-mentah niat mendiang istrinya. "Dia cuma tidak bisa melihat. Aku bisa membuatnya melihat kembali." Itu artinya Nika akan memberikan kornea matanya pada Lea. Waktu itu Zio menentang keinginan sang istri. Zio menghela napas, Lea tidur dalam dekapannya. Sementara pikirannya melanglang buana ke masa lalu. Flash back ke saat dia dan Nika memasuki fase paling berat dalam hidup mereka. Umur adalah sebuah misteri. Namun Nika nyaris yakin kalau usianya tak akan lama. Karena sang suami adalah seseorang yang sang berpengaruh. Punya peran penting dalam banyak bidang. Nika tahu benar banyak pihak dan perempuan akan berebut untuk bisa menggantikan posisinya. Karena itu Nika mengatakan akan mencar
Helaan napas terdengar dari arah Lea. Sudah tiga hari ini dia dipaksa menemani Zio berendam di kolam mini. Belum banyak kemajuan yang Lea alami, perempuan itu hanya merasa sedikit "akrab" dengan air.Jika dulu level permusuhan Lea dengan air adalah tingkat tinggi, mungkin sekarang strip-nya berkurang satu. Not bad, komen Zio.Setidaknya pola pikir Lea perlahan mulai berubah. Perempuan itu mulai bisa mengubah sudut pandangnya, air tak selalu jahat. Air tak selamanya membunuh.Lea cukup terharu dengan effort Zio dalam mengatasi fobia yang hampir sepuluh tahun dia derita. Sudut bibirnya tertarik. Lea merasa bahagia akhir-akhir ini.Setelah dia bisa mengatasi rasa cemburu dan rasa bersalahnya pada Nika. Lea merasa hidupnya lebih ringan, damai dan tentu saja ... sempurna.Punya suami sekaliber Zio, siapa yang tidak bakal happy luar dalam. Kebutuhan lahir dan batinnya terpenuhi, itu bisa dipastikan.Lea sekarang bisa berpikir lebih santai. Dia bukannya abai pada ancaman yang akan selalu men
Angel memandang tangan Lea yang terulur padanya. Baru kali ini ada orang yang melakukannya saat dia merasa terpuruk. Maya Carson, perempuan yang nota bene adalah ibu kandungnya bahkan seolah tak peduli padanya."Kamu masih muda, jalanmu masih panjang. Sekarang hidupmu kamu bilang hancur, tapi kamu masih punya kesempatan untuk menatanya ulang," kata Lea dengan senyum tipis terbit.Satu hal yang membuat paras sang wanita tampak teduh menenangkan. Memberi Angel sebuah perasaan tenang juga nyaman. Rasa yang tak pernah dia dapatkan dari keluarganya sendiri.Pantas saja Arch dan Zico mati-matian membela dan melindungi wanita ini. Aura Lea seolah mengajak untuk membangun rumah tangga eh mengajak menjalani hidup lebih baik."Caranya?" Tanpa sadar Angel bertanya. Sebuah pertanyaan yang menyiratkan ketertarikan sang remaja pada ucapan Lea.Lea makin melebarkan senyum. Sugesti kecilnya berhasil mengalihkan fokus Angel dari bunuh diri yang ingin dia lakukan."Ada banyak cara untuk memperbaikinya.
Lea merasa kegelapan mulai menyergap dirinya. Memutus rantai kesadarannya, memenjarakan Lea dalam sebuah ketakutan. Takut kejadian buruk yang akan menderanya. Tubuh istri Zio kian terseret masuk dalam sungai. Dia tak lagi berada di permukaan air. Lea mulai tenggelam. Rungu Lea sejak tadi sudah kehilangan fungsi pun dengan indera yang lain. Bahkan napasnya mulai tak teratur. Berapa banyak air yang sudah dia telan. Lea tak ingat. Pun dia juga tak peduli. Lea masuk fase pasrah. Dia sungguh berpikir, air akan membunuhnya. "Sama seperti emak," batin Lea dengan mata terpejam makin rapat. Kilasan kejadian yang berlaku beberapa waktu terakhir berputar di kepala Lea. Sudut bibirnya tertarik, setidaknya dia pernah bahagia walau hanya sebentar. "Andai aku bisa, aku ingin berbuat hal baik lebih banyak. Tapi ... sepertinya tidak bisa." Lanjut Lea masih bermonolog dalam hati. "Lea!" Si empunya nama hanya menipiskan bibir. Bahkan ketika dia hampir mati, melayang dalam kegelapan air yang menye
Suasana tegang masih mewarnai tepian sungai yang makin sesak dengan kerumunan orang. Mereka memadati tempat itu saat seseorang mengenali wajah Zio sebagai pemilik AK Corp yang tersohor.Makin ditelusuri mereka jadi tahu kalau Lea, perempuan yang nyaris tenggelam saat ingin menyelamatkan Angel adalah istri pengusaha itu. Kian hebohlah pemberitaan di jagat media sosial."Ampun, Om. Zico. Jangan usik mamaku. Kami sudah tidak punya apa-apa," mohon Angel dengan suara bergetar."Cih, sekarang saja mohon-mohon. Lu gak ingat waktu mama elu menghina kakak ipar gue. Dia bisa maafin kalian, tapi gue enggak. Gue pastiin, elu bakal terima balasannya." Kata Zico yang entah kenapa jadi ikut membenci Angel. Padahal dulu, remaja beranjak dewasa itu hanya sekedar tidak suka pada Angel.Angel menunduk kian dalam, tangis masih melandanya. Dia pasrah, merasa tak memiliki apa-apa untuk melawan Zico. Tuan putri itu sudah berubah jadi gadis biasa tanpa harga.Zico baru kembali ingin memaki Angel ketika suar
"Aku hanya ingin tahu. Mereka bilang dia tenggelam." Rian memandang lurus melewati punggung Zio guna melihat Lea. Jantungnya berdebar kencang ketika kabar berhembus istri pengusaha Alkanders nyaris tenggelam setelah menolong seorang remaja."Dia baik-baik saja. Dan akan selalu begitu. Aku akan pastikan itu." Balas Zio dengan tatapan tak lekang dari mantan suami istrinya.Perhatian Rian seketika beralih pada Zio. Agaknya Rian sadar kalau kalimat Zio sengaja lelaki itu ucapkan untuk menyindirnya. "Maaf, aku hanya mencemaskannya," ucap Rian pada akhirnya."Kau diberi waktu dua tahun untuk melakukannya, tapi kau menyia-nyiakannya. Sekarang dia milikku, kau sama sekali tidak punya hak untuk mencemaskannya. Azalea Graziela Alkanders adalah istriku. Dia akan selalu bahagia berada di sisiku, aku bisa menjaminnya," tegas Zio.Rian menunduk, dia akui semua kesalahannya. Dia mengaku tak pernah memperlakukan Lea dengan baik. Sekarang Rian bisa menyaksikan mantan istrinya hidup jauh lebih baik d
Beberapa waktu sebelumnya, emosi Zico terpatik. Kemarahannya muncul ketika Abian melapor soal Raisa. "Apa elu tahu cewek lu adiknya Agra Attarva? Setahu gue elu benci banget sama keluarga Attarva."Laporan dari Abian disusul deretan foto berisi Agra dan Raisa yang sedang makan bersama. Dibarengi sebuah foto sebuah kartu keluarga. Meski buram, Zico masih bisa membaca kalau Agra dan Raisa berada di kartu keluarga yang sama dengan status adik kakak.Amarah remaja tanggung itu meledak. Agra Attarva, adalah nama yang Zico benci sampai ke ulu hati. Sama seperti Zio. Dua pria Alkanders tersebut bisa kompak membenci satu nama. Alasannya hanya keduanya yang tahu.Saat ini, waktu emosi menguasai kepalanya, Zico yang melihat kerapuhan Angel, seolah dirasuki pikiran jahat. Dia punya rencana untuk memanfaatkan Angel. Intinya, Zico sedang mencari pelampiasan kemarahan.Padahal Raisa pun tak tahu pertikaian antara kakaknya dan keluarga Alkanders. Pun dengan Angel yang tidak ada hubungan apapun deng
Zio mengulas senyum, bibirnya tak henti melengkung, menampilkan gurat bahagia yang sejak tadi mengisi hati. Dalam pelukannya ada Lea yang kembali tidur pulas. Sementara Lea sendiri memeluk Arch yang balik mendekap sang mama posesif.Melihat hal itu senyum Zio luntur. Berganti sebal bersamaan ujung jarinya menoyor dahi Arch yang sama sekali tidak merespon. "Dasar bocil," maki Zio.Wajahnya kesal tapi hatinya penuh bunga. Pemandangan Lea memeluk Arch dengan dirinya mendekap keduanya membuat hidup Zio terasa lengkap. "Andai punya dua lagi, perempuan dan laki-laki hasil kecebongku sendiri," gumam Zio absurd.Kepala lelaki itu sudah dipenuhi bayangan dua anak yang sepertinya akan tampak lucu, walau sekaligus berpotensi menaikkan tensi.Lihat saja tingkah Arch yang kadang membuat Zio dan orang-orang di sekitarnya naik darah."Terima kasih, tidak meninggalkanku saat aku tenggelam."Suara itu mengalihkan Zio dari angan tidak jelasnya. Dia melihat Lea yang ternyata sudah membuka mata."Bilan
Nika menoleh bersamaan dengan Han menerjang masuk diikuti Revo. Di belakang mereka ada Zio yang langsung menemukan sang istri yang nyaris pingsan. Zio ingin rasanya langsung membuat perhitungan dengan Nika, tapi melihat keadaan Lea, dia memilih menolong sang istri lebih dulu."Lepaskan aku! Lepaskan aku brengsek!"Han dengan kuat menarik Nika menjauh dari tubuh Agra. Han cekal tubuh Nika yang terus berontak. Sementara Revo membantu Agra yang sudah lemas. Sama dengan Zio yang lekas menggendong Lea. "Lumpuhkan dia dulu! Dia sakit jiwa!" Agra berucap lirih pada Revo."Kau brengsek, Gra! Kalian semua kurang ajar!" Napas Nika tersengal, seiring dengan Erna, Karel dan Irene yang muncul di pintu."Kalian bantu mereka. Aku pergi dulu." Zio membawa Lea pergi mengabaikan teriakan melengking tidak terima dari Nika."Zio tunggu! Aku istrimu! Jangan tinggalkan aku!" "Kau bukan istrinya lagi, namamu Munaroh! Annika Renata sudah mati!" Desis Han kejam."Nika, tenangkan dirimu!" Erna berusaha men
Lea hanya sempat merekam Nika menyebut nama ayah Zio dan Zico yang Nika akui sudah dia bunuh karena mengetahui rahasianya.Selebihnya Lea tak bisa mengontrol dirinya dari rasa syok luar biasa yang melanda. Dia bahkan tahu sebutir peluru mengarah padanya. Tapi tubuhnya tak mampu bergerak menghindar.Lea terpaku di tempatnya berdiri, bersiap menerima kematian. Hanya tangannya saja yang entah kenapa beralih menyentuh perutnya. Namun saat Lea sudah pasrah dengan segalanya, dia mendadak merasakan sepasang tangan kokoh merengkuh tubuhnya. Raga tinggi besar itu sempurna melindungi tubuh Lea dari terjangan peluru.Sampai ringisan lirih masuk ke rungu Lea, diikuti kesadaran Lea yang kembali. Netra hazel Lea melebar melihat siapa yang sudah jadi tameng hidup untuknya."Agra!" Pekik Lea syok."Kamu tidak apa-apa?" Agra bertanya cemas. Jarak mereka begitu dekat, hingga Agra mengulas senyum, melihat Lea baik-baik saja."Syukurlah, aku tidak terlambat." Pria itu berbalik, menghadap Nika yang seke
"Kau sudah menemukannya?" Zio bertanya pada Revo yang sedang memandangi benda persegi di depannya. Lagi, Lea membuat heboh semua orang ketika Erna menghubunginya. Perempuan itu melapor kalau Lea pergi mengikuti Nika, tapi sampai saat itu, nomor ponselnya tidak bisa dihubungi. "Belum, aku tidak punya ide ke mana mereka pergi," Revo menjawab, dengan jari terus bergerak mencari. Mereka semua panik, membayangkan apa yang akan terjadi jika Nika bertemu Lea. "Zi, Agra telepon," info Han sambil menunjukkan ponselnya. Pria itu menerima panggilan dari Agra setelah Zio mengangguk. "Kau yakin? Kalau begitu kami menyusul ke sana. Awasi mereka terus." "Apa katanya?" Zio bertanya saat Han menunjukkan share loc yang baru Agra kirim. "Agra menemukan mereka." Wajah Zio berubah tegang. Bersamaan dengan itu, Han menekan pedal gas dalam, hingga mobil melaju lebih cepat dari sebelumnya. "Aku tahu di mana mereka berada." Han dan Zio menoleh ke arah Revo, yang masih fokus pada laptopnya. ***
"Rel! Nika tidak ada di kamar!"Yang dipanggil namanya juga tak kalah kaget. "Dia ke mana? Kita harus bagaimana kalau begini keadaannya."Pria itu memberikan selembar kertas dengan tulisan huruf Cina pada bagian atas. "I-ini ...."Tangan Erna bergetar saat perlahan dia membaca berkas di tangannya."Hasil skrinning sudah keluar. Dokter Li bilang kita harus bawa dia pulang secepatnya. Mereka sedang berdiskusi bagaimana akan mengatasi hal ini. Parah, Na. Parah."Karel menjambak rambutnya, frustrasi dengan situasi yang sedang mereka hadapi."Kita harus temukan dia!" "Tapi di mana? Tadi kamu bilang dia tidak ada di kamarnya. Terus kita mau cari ke mana. Dia pasti matikan ponselnya kalau begini caranya.""Tunggu dulu. Tadi Lea kirim pesan padaku, dia lihat Nika di kafe. Sekarang dia sedang mengikutinya. Aku akan coba hubungi dia."Erna menghubungi Lea, tapi yang bersangkutan tidak mengangkat. Dua tiga kali, usaha Erna tidak berhasil. Hingga dua orang itu saling pandang penuh kecemasan."Ak
Lea dan Irene baru selesai meeting dengan seorang klien, ketika ponsel perempuan itu berdering. Ada nama sang suami di sana. "Ya, Zi. Ada apa?""Aku ada pertemuan dengan Revo, mendadak. Tidak masalah kan kamu makan siang dengan Irene dulu.""Tidak masalah. Kita juga dari kemarin makan siang terus. Jadi no problem. Akan kutemani Irene yang lagi merengut kesal."Yang disebut namanya melotot tidak suka. Dia memang sedang bad mood, tapi tidak terima juga kalau sampai dilaporkan pada Zio."Ibu, mah gitu," sungut Irene menggemaskan."Sorry. Dijadikan pelarian terus."Irene menghentakkan kakinya kesal. Dia sungguh jengkel beberapa hari terakhir. Dongkol pada dirinya sendiri yang susah sekali dibujuk.Agra akan terbang ke kampungnya sore ini. Setuju atau tidak, dia akan melamar Irene secara resmi pada orang tuanya.Pria itu kehabisan akal untuk membujuk Irene agar mau menikah dengannya. Jadi terpaksa dia mengambil langkah ekstrim. Minta izin dulu pada orang tua Irene, baru Irene dieksekusi b
"Maafkan mama ya Lea. Aku sungguh tidak tahu lagi harus nasehatin dia kayak gimana." Rian tertunduk malu sekaligus merasa bersalah. Dita hampir mencakar Lea saat istri Zio bertanya pasal keadaannya. Belum ditambah makian Dita yang membuat Dani naik darah. Dita tak sadar diri dengan keadaannya. Yang dia pedulikan hanya benci yang ada di hati untuk mantan menantunya."Tidak masalah. Aku sudah biasa dengan hal itu," balas Lea santai.Keduanya duduk di sebuah kafe, setelah Zio dan Dani pergi untuk diskusi soal perusahaan. Tentu setelah Zio memberi tatapan penuh peringatan pada Rian.Sungguh, Rian tak berani berharap untuk bisa bersatu kembali dengan Lea. Dia terlalu malu dengan kelakuannya di masa lalu. Hubungannya dengan Vika pun tidak tahu akan berakhir bagaimana.Perempuan itu masih menjalani sisa masa hukumannya, dan kabar terakhir yang Rian dengar, keadaan Vika tidak terlalu baik.Setelahnya tidak ada pembicaraan antara keduanya. Canggung membunuh topik pembicaraan yang sejatinya b
Lea menatap prihatin pada pemandangan di depan sana. Di mana seorang pria sedang membantu satu wanita untuk pindah ke kursi roda. Satu kaki perempuan itu masih diperban dan jelas sekali kaki tersebut ... buntung."Zi ...." Lea tak menutup mulut. Tak sanggup menyaksikan keadaan si wanita."Dia kecelakaan. Disenggol motor, jatuh lalu kakinya dilindas mobil. Satu masih bisa diselamatkan, tapi yang lain remuk jadi terpaksa diamputasi."Lea membenamkan tangisnya di dada Zio. Dengan tangan sang lelaki lekas mengusap punggung Lea. "Dia yang melaporkanmu ke polisi, dia membantu Nika. Anindita Mahendra," sebut Zio dengan wajah sendu.Andai Dita mau menunggu sebentar kala itu, anak buahnya akan datang untuk membebaskannya. Zio hanya ingin menggertak Dita sebenarnya.Namun istri Dani tak sabaran. Dita lepaskan sendiri ikatan di tangan dan kakinya. Saat anak buah Zio kembali ke gudang, mereka tidak mendapati Dita di sana.Dari penelusuran mereka justru mendapat kabar kalau terjadi kecelakaan di
Setelah berkonsultasi dengan pihak kepolisian, Lawrence memberitahu kalau mereka tidak perlu melakukan klarifikasi atas keadaan Lea dan Nika. Toh dua orang itu meski rupa sama, tapi identitas berbeda.Karena Zio tidak ingin memperpanjang masalah ini, maka mereka memutuskan menutup kasus pertukaran identitas yang Nika lakukan. Dengan catatan perempuan itu tidak berulah lagi. Jika sampai Nika membuat onar, pihak yang berwajib akan membuka kembali kasus ini.Zio fine-fine saja, lagi pula yang bakal rugi Nika bukan dirinya. Hanya saja sebagai akibat Nika menerima sejumlah barang atas Lea beberapa waktu lalu.Imbasnya Lea juga dibelikan barang yang sama. Untuk menutupi kelakuan Nika, juga menghargai pemilik butik dan outlet. "Efeknya jadi tampil lebih glam ya?" Kata Irene setengah meledek sang atasan yang sejak tadi cemberut. Dia tidak bisa memakai sling bag favoritnya, gegara dia punya jadwal memakai tas branded yang Zio belikan. Dia yang biasa tampil cuek, tinggalkan sampirkan tas pund
Erna memegang pipinya yang terasa panas. Dipandangnya Nika yang wajahnya memerah penuh emosi. Erna tahu benar kalau Nika marah besar padanya.Dia sepenuhnya sadar akibat dari perbuatannya akan membuat Nika murka. Tapi Erna tidak mau Nika kembali melakukan kesalahan."Aku melakukannya karena aku peduli padamu, Nika. Aku tidak mau kamu menyakiti orang lain lagi. Cukup Nika! Cukup! Kita pulang saja ya?"Dari luapan emosi, kalimat Erna berubah jadi bujukan. Seperti yang dia katakan di hadapan Zio dan yang lainnya. Seburuk apapun perilaku Nika, dia tetap tak bisa mengabaikan perempuan itu.Erna tetap peduli, walau Nika kerap kali tidak memandang kebaikannya. Sebaik itu hati Erna. Gadis itu hanya ingin membalas kebaikan hati Nika yang pernah menyelamatkan keluarganya dulu.Ayahnya perlu biaya operasi waktu kecelakaan, Nika membantunya. Lalu adiknya ingin kuliah, Nika juga ringan tangan menolongnya.Sudah dikatakan jika berhubungan dengan balas budi, bakal runyam urusannya."Tidak akan! Aku