Zio lekas melepas tangan yang melingkari pinggangnya. Menjauhkan diri dari sosok yang menatapnya dengan terluka. "Apa yang kamu lakukan, Nancy?" Zio bertanya seraya membentang jarak antara keduanya. "Semua sudah jelas kenapa kamu masih bertanya. Aku cinta sama kamu, tapi kenapa kamu justru menikah dengan wanita kampungan itu!" Raung Nancy emosional. "Berapa kali kubilang kalau aku tidak punya rasa sama sekali padamu. Yang kucinta kakakmu. Tapi itu dulu, sekarang ada orang lain yang telah menggantikannya. Dan Nika sendiri yang telah memilihnya." "Aku tidak peduli. Kalau kamu tidak punya perasaan padaku. Kenapa kau perhatian padaku. Kenapa kamu peduli padaku?!" Zio sesaat terdiam. Sejenak mengingat apa yang telah dia lakukan hingga Nancy menyimpulkan kalau dia menyukai perempuan di depannya. "Aku peduli dan perhatian padamu karena kamu adik istriku. Adik iparku, tidak lebih." Zio sepertinya mulai paham kalau Nancy salah paham akan kebaikannya selama ini. Sungguh, Zio tak pernah me
Zio mengerling penuh goda pada sang istri yang sejak tadi memanahkan tatapan tajam padanya. Zio tidak masalah, Lea mau ngambek terserah. Yang jelas dia sudah tahu kunci mengatasi Lea kalau sedang tantrum."Ma, Ivan itu anaknya bosnya Mama ya?" Pertanyaan Arch mengalihkan rasa sebal Lea yang bertahan sejak semalam. Patah pinggangnya setelah dia dipaksa melayani Zio dua ronde. Awalnya saja terpaksa, sebab Lea lama-lama ikut mendesah juga."Iya, dia anak Om yang namanya sama denganmu." Arch manyun seketika, dia tetap tidak suka dengan Arch dewasa yang ia anggap ingin mengambil mamanya. "Dia baik lo, dia yang jagain Mama waktu Mama tinggal di luar. Kayak Om Zico."Yang disebut namanya terbatuk, "Jangan bawa-bawa aku. Nanti ada yang cemburu. Heran deh, aku ini anak pungut atau anak kandung sih. Seneng amat dijadikan bahan julidan."Inez terhenti sejenak dari acara meminum tehnya. Rasa bersalah tumbuh secara masif di dadanya. Menggerogoti hatinya dengan cepat. Memenuh dadanya dengan sesa
"Oke, setengah jam lagi aku sampai." Lea menutup panggilan teleponnya, memberesi barang bawaannya lantas berbalik. Saat itulah, dia hampir menubruk orang. Lea sempat mundur, sampai dia menyadari siapa orang yang berdiri di hadapannya.Helaan napas Lea terdengar, bersamaan dengan tanya yang meluncur dari arah depan. "Sudah selesai?""Seperti yang kamu lihat. Aku pergi dulu." Lea memilih menjauh sebab pria yang dia hadapi berpotensi memicu keributan antara dia dan Zio.Siapa lagi jika bukan Agra. Lelaki itu masih jadi sosok yang bisa membuat Zio naik pitam dengan cepat. Rian sudah bukan ancaman lagi. Sebab pria tersebut akan menikahi Vika. Tapi Agra, susah sekali dihindari. Lea beberapa kali melihat Agra berada satu tempat dengan tempatnya meeting. Entah sengaja atau tidak. Sebab tiap kali menangkap penampakan Agra, pria itu sedang bersama asistennya atau kliennya.Namun selama ini Lea selalu bisa mencari cara pergi tanpa bersua pandang dengan Agra. Agaknya hari ini, jatah apesnya Le
Zio, Han juga Revo berjalan masuk ke sebuah restoran. Tempat di mana satu arisan soksialita berlangsung. Inez juga berada di sana. Dari kejauhan mereka bisa mendengar tawa ceria dari beberapa perempuan yang terdengar senang sekali. Kedatangan Zio disambut manager restoran yang kebetulan mengenalnya. "Ada yang bisa kami bantu?" "Mau bertemu Mamaku, Inez Alkanders, bisa?" "Tentu saja, beliau ada lantai dua, VVIP nomor dua." "Terima kasih." Zio dan yang lainnya beranjak menuju tempat yang ditunjukkan sang manager. Tanpa kata, pria itu membuka pintu ruangan yang dimaksud. Aksinya tentu saja membuat semua penghuni di dalamnya bungkam dalam kekaguman sekaligus terkejut. Pria sekelas Zio muncul di sana. Ibu-ibu yang membawa anak gadis mereka sontak berbinar senang. Siapa tahu Zio sudi memilih putri mereka jadi pasangan. Jika orang lain kaget, tidak dengan Inez. Perempuan itu mengembangkan senyum begitu melihat sang putra yang berjalan ke arahnya. Zio mengulas senyum tipis, tapi le
Beginikah rasanya dipermalukan? Kepala Dita berputar kala melihat semua orang membicarakannya. Tidak sembunyi-sembunyi, mereka melakukannya tepat di depan matanya.Rasanya malu, sedih, benci dan marah jadi satu. Inikah yang dirasakan oleh Lea. Perempuan itu berkali-kali ia permalukan saat mereka mengadakan jamuan di kediaman Mahendra.Sang suami sudah memperingatkannya, tapi Dita sama sekali tak menghiraukan. Dia, Sita dan tamu yang lain terbahak melihat paras kebingungan Lea yang kala itu tidak bisa melihat.Mereka semua senang menyaksikan Lea berjalan tertatih, sambil meraba-raba agar tidak menubruk benda di hadapannya. Tawa Dita dan yang lainnya pecah ketika Lea akhirnya menyenggol meja berisi gelas minuman yang akhirnya pecah berantakan.Seperti inikah rasanya? Dita gamang untuk bergerak, ketika semua orang fokus padanya. Kini giliran Dita merasakan apa yang Lea alami hari itu. Sangat menyedihkan.Ingatan akan kejadian itu baru saja muncul di kepala Dita. Disusul wkspresi syo Dita
Dita berjalan gontai masuk ke rumah. Wanita itu selamat setelah Lea menyeret Zio keluar dari restoran tadi. Hingga Zio kehilangan kesempatan mempermalukan Dita lebih jauh, sebagai balasan atas apa yang baru saja ibu Rina lakukan. Menyebarkan masa lalu Lea yang sejatinya justru membeberkan bobrok keluarganya sendiri. Dita literally membuka aibnya dengan sengaja. Amarah membuat perempuan itu tak bisa menggunakan akal warasnya untuk berpikir.Dita tidak mempertimbangkan tindakannya yang bisa saja berakibat buruk untuknya juga keluarganya."Apa yang sebenarnya Mama lakukan?" Suara itu membuat Dita mengangkat wajahnya yang sejak tadi tertunduk. Ada Rian, Rina dan Dani, sang suami yang memandang penuh tanya padanya. "Ti-tidak ada," balas Dita gugup."Kalau tidak ada apa-apa mana mungkin mereka menunda kucuran dana yang seharusnya perusahaan Papa terima bulan ini," cecar Dani.Kentara sekali jika lelaki itu mulai kehilangan sabar menghadapi sikap Dita yang dia nilai makin keterlaluan, sek
"Mama." Arch berlari ke arah Lea. Berdiri di hadapan Lea seolah ingin melindungi sang mama."Bocah sialan! Gara-gara kau kami sekeluarga jadi susah!""Tutup mulutmu! Maya Carson!" Bentak Sia dengan wajah tidak terima.Maya Carson? Oh jadi ini ibunya si mamat yang troublemaker itu. Pantas saja Mattew tumbuh jadi anak pembuat onar, emaknya tukang drama."Jangan ganggu mamaku!" Arch kembali bersuara. Anak itu sudah kembali dicekoki Zico, lawan kalau ada yang mengusik. Zico yakinkan Arch, selama tindakannya benar papa, mama, dia dan semua orang akan mendukungnya.Zico juga pastikan Arch tidak akan disalahkan atas sikapnya. "He bocah! Memangnya apa yang bisa kau lakukan untuk melindungi pelakor ini! Tinggimu saja tak lebih dari Mattew.""Serang mentalnya jika lawanmu lebih besar ukurannya darimu."Ucapan Zico terngiang di telinga Arch. Bocah itu sesaat mengamati tampilan Maya. "Aku memang tidak setinggi Matt yang tukang buli. Tapi setidaknya aku bisa melihat kalau sepatumu beda warna, k
Lea memijat pelipisnya yang mendadak cenut cenut. Dia baru saja selesai memandikan Arch, sekarang anak itu bersama Sari bermain di ruang tengah.Drama Zico dan Raisa sungguh membuat Lea pusing. Dua remaja itu terlibat cekcok. Setelah Raisa minta putus, gegara mulut Zico yang asal jeplak minta pada Sia, untuk dikenalkan pada ponakan atau kenalan yang seumur dengannya."Anak muda, ada-ada aja tingkahnya." Lea merebahkan kepalanya di punggung sofa. Lantas dia memejamkan mata, menikmati nyamannya sofa bed yang biasa dia gunakan untuk berbaring.Sunyi membuat Lea lebih santai. Lea nyaris tertidur ketika tiba-tiba dia merasakan pijatan lembut di pelipisnya. Lea menggeliat nyaman, menikmati gerakan tangan yang seketika membuatnya rileks."Mumet ya?" Suara bariton itu terdengar begitu dekat di telinga Lea."Banget," balas Lea tanpa membuka mata. Tubuhnya benar-benar lelah.Zio menggetarkan tawa mendengar keluh kesah sang istri. Wajar saja jika Lea lelah, baik fisik maupun psikis. Sejak kemari
"Diem lu biji melinjo! Anak gue itu!" Hardik Zico."Bodo amat! Livi mana! Tante! Livi mana?!" Balas Arch tak takut oleh bentakan sang om."Lihat Kak Celio."Jawab Raisa setelah Arch mencium tangan Raisa juga mencium pipi wanita yang memang sudah Arch kenal dari dulu.Bocah itu melesat mencari Livi. Dengan Raisa lekas memeluk Lea yang balik mendekapnya."Terima kasih sudah bertahan sendirian selama ini. Kenapa tidak hubungi Kakak?"Raisa terisak lirih. Dia tahu mengarah ke mana pembicaraan Lea."Takut, Kak. Waktu itu kakak dan kak Zio masih musuhan. Kalau aku kasih tahu, mereka bisa war lebih parah.""Keadaannya akan berbeda, Sa. Mereka musuhan tapi tidak bisa mengabaikan keadaanmu. Lihat sekarang, mereka bisa akur. Agra malah yang kasih tahu banyak soal kesukaanmu."Raisa menerima detail konsep akadnya."Kak, serius ini?""Serius. Dia yang minta. Dan kakakmu setuju. Akan lebih baik jika begitu. Dia sudah siapkan semuanya."Lea dan Raisa melihat ke arah Zico yang tangannya sibuk bermai
"Baru juga nyetak satu, sudah mau dipotong. Kejam amat kalian," balas Zico santai.Inez dan Anita saling pandang. "Ndak mempan, Ta.""Iya, ya," sahut Anita heran."Sudah gak mempan dramanya. Dah kenalin, ini calon istri, sama anakku."Zico menarik tangan Raisa yang tampak bingung. Inez dan Anita memindai tampilan Raisa. Dari atas ke bawah. Dari bawah balik lagi ke atas."Screening-nya sudah deh. Kalian nakutin dia. Zico jamin dia lolos sensor. Kan sudah ada buktinya."Raisa makin gugup melihat ekspresi dua perempuan yang dia tahu salah satunya mama Zico."Co, mereka gak suka aku ya?" Bisik Raisa panik."Suka kok. Mereka lagi main drama. Jadi mari kita ikutan."Raisa tidak mengerti dengan ucapan Zico. Tapi detik setelahnya dia dibuat menganga ketika Zico berlutut di hadapan Inez dan Anita."Heh? Ngapain kamu?" Inez bingung melihat kelakuan sang putra."Mau minta maaf. Zico tahu salah. Tapi Zico janji akan memperbaiki semua. Zico bakal tanggung jawab."Ucap Zico dengan wajah memelas pe
Agra tak habis pikir, Raisa bahkan membawa Livi ke pernikahan mereka. Tapi dia sama sekali tidak tahu. "Ini aku yang kebangetan atau dia yang terlalu pintar?" Agra bertanya ketika mereka sampai di apart Raisa. Sebuah tempat yang membuat dada Zio sesak. Bukan karena kurang mewah, atau kurang bagus. Namun di sini, dia bisa merasakan perjuangan seorang Raisa dalam merawat Livi.Dia kembali teringat bagaimana susahnya Lea hamil dan melahirkan. Beruntungnya Lea punya dirinya juga yang lain.Tapi Raisa, totally alone. Sendirian. Tidak terbayangkan bagaimana Raisa berlomba dengan waktu, kuliah, pekerjaan juga dirinya sendiri. Bisa tetap waras sampai sekarang saja sudah bagus."Biarkan dia makan sendiri." Suara galak Raisa terdengar ketika Zico coba menyuapi Livi."Dua-duanya. Kau bego dan adikmu terlampau smart," ceplos James yang sepertinya mulai akrab dengan Agra.Ingat, dua pria itu juga hampir adu tinju waktu itu."Sialan kau!" Agra menendang James, tapi pria itu berhasil menghindar."
Tujuh jam kemudian.Zio dengan didampingi James mendarat di bandara internasional Haneda. Mereka langsung menuju rumah sakit tempat Zico dirawat.Awalnya mereka kemari untuk mengurusi Zico, tapi siapa sangka yang mereka temui justru melebihi ekspektasi mereka.James sengaja ikut, sebab dia sudah diberi bisikan oleh Miguel. Mengenai garis besar persoalan Zico."Apa yang terjadi sebenarnya?" Itu yang Zio tanyakan begitu dia berhadapan dengan Agra."Duduk dulu. Kita bicara." Zio mengikuti permintaan Agra. Dua pria itu terlibat pembicaraan serius. Sangat serius sampai Zio memejamkan mata, coba menahan diri.Di tempat Raisa, perempuan itu hanya bisa diam, tertunduk tanpa berani melihat ke arah Zio. Sejak dulu, aura Zio sangat menakutkan bagi Raisa."Apa aku harus percaya begitu saja? Maaf bukan meragukanmu. Tapi Zico itu brengsek."Zio berujar sambil menatap Raisa."Soal Livi, apa kalian punya bukti otentik kalau dia anak Zico. Tes DNA contohnya." Agra bertanya pada sang adik."Zico punya
Setelah semalam merenung, menimang juga mempertimbangkan semua hal dari segala sisi. Pada akhirnya Agra memutuskan untuk menyerahkan permasalahan sang adik pada yang bersangkutan.Agra tidak ingin mendoktrin, apalagi memaksa Raisa soal apapun. Pun dengan Zico, Agra secara khusus minta bertemu. Dan Zico dengan segera menyanggupi.Dengan membawa Livi, Agra kembali dibuat yakin dengan keputusannya. Dia pasti Zico bisa lebih baik darinya. "Aku izinkan kau berjuang. Tapi dengan satu catatan. Jika dia menolak kau harus enyah dari hadapannya juga Livi."Zico menelan ludah. Ditolak Raisa dia bisa terima. Tapi berjauhan dengan Livi, Zico tidak akan sanggup. Tidak, setelah dia menjalani dua puluh empat jam full bersama sang putri. Zico tidak akan bisa berpisah dengan Livi. Tidak, sesudah dia menyadari betapa berharganya Livi baginya.Maka siang itu dengan harapan setinggi langit, Zico nekat melamar Raisa. Dia yakin lamarannya akan diterima."Sa, mari menikah."Suara Zio membuat Raisa kembali
"Apapa," sebut Livi dengan bibir bertekuk menahan tangis."Ndak apa-apa, Sayang. Apapa nakal jadi pantas dipukul. Tapi kamu gak boleh asal pukul orang."Livi melayangkan tatapan tajam penuh permusuhan pada Agra."He, bukan Om yang salah. Dia yang jahat."Livi menangis dengan tangan sibuk melempar apa saja yang ada di meja. Agra maju tidak terima dengan aksi sang ponakan. Sementara Zico dengan cepat mendekap Livi yang bibir mungilnya terus menyebut om jahat."Kau! Kau jangan mimpi bisa dapatin Raisa," ancam Agra."Agra, berhenti gak!" Pria itu kicep begitu sang istri bicara. Irene mendekati Raisa yang cuma duduk sambil memijat pelipisnya yang berdenyut. Dalam sekejap, Livi sudah jadi perisai hidup untuk ayahnya. Dipandangnya wajah Zico yang memar di beberapa tempat. Saat ini pria itu masih menenangkan Livi yang masih menebar aura permusuhan pada omnya."Ren ....""Jangan tanya, Mbak. Pusing aku." Irene mundur ketika Raisa angkat tanganAgra mendesah frustrasi. Pria itu berdiam diri d
"Apa kamu bilang? Zico ke Tokyo?" Lea mengutip ucapan Zio barusan."Lah kan aku sudah bilang kemarin. Abian kasih tahu kalau Zico ke Tokyo. Katanya kerjaannya berantakan, jadi mereka suruh Zico buat healing lagi."Zio berkata sambil mendekati Lea yang sedang menyusui Celio. Zio seketika jadi cemburu. Benda itu bertambah menggiurkan, tapi sekarang bukan lagi miliknya. Ada Celio yang memonopoli tempat favorit Zio."Dia ke Tokyo bukan healing tapi cari perkara. Lihat saja yang ada di sana. Bukannya Zico selalu sakit kepala kalau coba mengingat Raisa," Lea membetulkan posisi Celio supaya lebih nyaman."Kan beda kalau ketemu orangnya langsung. Boy, gantian napa. Dikit aja."Lea menepis tangan Zio yang selalu ingin mengganggu Celio. Bayi lelaki itu sudah bertambah montok dengan pipi seperti bakpao. Tingkahnya juga bikin satu rumah tertawa senang."Memangnya kau setuju kalau Zico dengan Raisa?""Enggak! Jauh-jauh dari yang namanya Agra," balas Zio cepat.Lea seketika memutar bola matanya je
Livi menangis dengan tubuh Raisa turut gemetar, melihat bagaimana Zico menggelepar menahan sakit di kepala. "Tolong, Dok. Sakit!" Teriak Zico berulang kali.Dia pegangi kepalanya yang serasa mau pecah. Pria itu meringis, mendesis sementara tim medis sedang mencoba mengurangi kesakitan yang Zico rasa.Raisa susah payah berhasil membawa Zico ke klinik terdekat. Tubuh Zico yang tumbuh besar dan tinggi membuat Raisa kesulitan memapah. Ditambah dia sedang menggendong Livi yang sejak itu mulai menangis.Beruntungnya dia bertemu dua orang yang membantu Zico berjalan ke klinik. "Apapa!" Sebut Livi berulang kali. Balita tersebut tampak ketakutan, tapi juga menampilkan ekspresi sedih."Apa yang terjadi padanya?" Seorang dokter bertanya setelah Zico berhasil ditenangkan. Raisa melirik Zico yang mulai tenang, meski sesekali masih meringis kesakitan."Dia bilang pernah kecelakaan, lalu hilang ingatan. Tapi saya tidak tahu detail-nya.""Oke, kami paham. Kami akan memeriksanya lebih lanjut. Takut
Venue pernikahan sudah ramai orang. Agaknya prosesi pernikahan akan segera dimulai. Zico panik, dia tidak menemukan Raisa di mana pun. Mungkin perempuan itu sedang di touch up make up-nya. Tapi ruangannya di sebelah mana.Saat kecemasan Zico memuncak, dia mendengar musik pengiring pernikahan mengalun. Dia menerobos barisan tamu undangan untuk melihat lebih dekat. Raisa dan Livi muncul di pintu. Zico reflek berteriak, "Sa! Sa! Kamu gak boleh nikah sama dia!"Detik setelahnya Zico menarik Raisa pergi dari sana. Membawanya berlari setelah sempat menggendong Livi. Semua tamu melongo, melihat kejadian yang baru saja berlaku.Pun dengan Agra dan Irene. Dua orang itu jelas bingung ketika Zico mendadak muncul di Tokyo, lantas membawa pergi Raisa juga Livi.Namun hal itu tidak berlaku bagi Ryu dan Hana, sepasang pengantin itu justru saling melempar senyum."Itu tadi papanya Livi?" Tanya Hana seraya berjalan ke altar pernikahan dengan tangan melingkari lengan Ryu.Gaun putih sederhana senada d