Ehemmm, tiga bab ya teman-teman, othor khilaf ni. sehat selalu teman-teman semua 🤗🤗
"Sampai lemas? Dia itu gila apa bagaimana? Dengan permainan standar saja dia sudah buat kaki aku kayak jeli. Tidak bisa berdiri. Apalagi kalau ditambah durasinya."Lea mengomel sambil memeluk guling siang itu. Hanya beberapa menit, tapi efeknya membuat Lea lelah, walau jelas terpuaskan. Zio selalu bisa menemukannya. Membuatnya melayang tinggi untuk kemudian dibuat meledak sampai dia hancur berantakan.Namun sisi lain Lea sangat menyukai Zio yang tengah menjajah dirinya. Mengklaim tiap jengkal tubuhnya adalah wilayahnya, miliknya. Seperti yang selalu Zio bisikkan tiap kali mereka bercinta. "Kamu adalah milikku."Aihhh! Lea membenamkan wajahnya ke dalam bantal. Parasnya merona tiap kali mengingat ulah manis sang suami. "Jangan fall in dulu, Le. Tahan-tahan!"Lea coba memperingatkan dirinya agar tidak mudah menjatuhkan hati pada Zio. Dia hanya perlu menjalani kehidupan rumah tangganya sampai dia menemukan rasa apa yang dia miliki untuk sang suami.Tapi kalau dia tiap saat disuguhi aksi m
"Apa yang sedang kamu kerjakan?" Tanya Zio pada sang istri. Dia sendiri baru kembali dari kamar Arch.Sari mengatakan keadaan Arch membaik setelah tadi bicara dengan Lea. Lea juga yang menidurkan Arch."Aku cari referensi sekolah untuk Arch, apakah boleh?" balas Lea masih berkutat di depan laptop."Ada saran?" Zio memang tidak tahu harus memasukkan Arch ke sekolah mana.Ranahnya bisnis, bukan untuk me-research sekolah mana yang baik bagi sang putra."Aku direkomendasikan sekolahnya Ivan, anaknya Arch." Lea ternyata sedang searching sekolahnya Ivan."Baguskah?" Zio menunduk di dekat sang istri ikut mengamati berbagai gambar juga keterangan tentang sekolah Ivan."Satu poin plusnya, sekolah itu satu managen dengan sekolah Zico. Jika Arch bisa masuk ke sana. Setidaknya Arch punya nilai lebih ....""Keponakan dari seorang biang onar? Apa bagusnya itu?""Setidaknya mereka akan pikir dua kali waktu mau buli Arch. Lagian ada Ivan di sana. Dia anak baik.""Kamu pernah bertemu dengannya?""Seri
Sosok yang nekad menerobos masuk ke ruangan Zio membelalakkan mata, mendengar suara wanita yang membalas ucapannya. Bukannya Zio, sang atasan.Tubuh Rina bergetar melihat kursi yang perlahan berputar, menunjukkan siapa yang berada di sana. "Le-Lea?" Cicit Rina dengan wajah berubah horor. Bagaimana bisa perempuan itu ada di sana."Jadi aku harus menceraikan dia begitu?""Bu-bukan seperti itu!""Lalu apa maksudmu dengan menceritakan semua itu pada atasanmu. Kau ingin membuat buruk namaku? Oh salah, namaku memang selalu jelek di mata kalian."Rina menggigit bibir mendengar jawaban sinis Lea. Dia salah timing rupanya. Dia pikir Zio sudah selesai meeting, rupanya belum. Malah sekarang dia harus berhadapan langsung dengan Lea."Jawab!"Rina berjingkat kaget. Dia jelas syok dengan perubahan sikap Lea. Perempuan itu dulu buta, tak akan berani padanya. Tapi lihatlah sekarang, wanita yang dulu kerap dia permalukan, kini menatap tajam padanya.Netra hazel Lea mengunci pandangannya hanya pada s
Rina mengepalkan tangannya sampai kulitnya berubah putih, seolah tak ada darah yang mengaliri. Pikirannya melayang pada pertemuannya dengan Zio sang atasan. Dia nekat memberitahu Zio semua tentang Lea.Soal perempuan itu yang mantan kakak iparnya. Soal statusnya yang janda, soal Lea yang berselingkuh dari kakaknya. Semua Rina spill dengan tujuan Zio akan percaya lalu meninggalkan perempuan itu.Namun siapa sangka, Zio justru terbahak mendengar ucapan Rina. Pria itu bahkan dengan santai menjawab, "Kau pikir aku akan tertipu dengan perkataanmu? Kau pikir aku tidak menyelidiki dulu siapa Lea sebelum aku menikah dengannya."Rina dibuat kaget oleh jawaban Zio. Perempuan itu hanya diam sambil memandang sang atasan yang kini menatap tajam padanya."Aku tahu benar status Lea sudah janda saat dia diusir dari kediaman Mahendra hari itu. Kalau kau bilang Lea berselingkuh, maka bisa disebut akulah selingkuhannya. Sebab dia tinggal di tempatku sebelum kami menikah lalu pindah ke rumah utama.""Sia
Zio lekas melepas tangan yang melingkari pinggangnya. Menjauhkan diri dari sosok yang menatapnya dengan terluka. "Apa yang kamu lakukan, Nancy?" Zio bertanya seraya membentang jarak antara keduanya. "Semua sudah jelas kenapa kamu masih bertanya. Aku cinta sama kamu, tapi kenapa kamu justru menikah dengan wanita kampungan itu!" Raung Nancy emosional. "Berapa kali kubilang kalau aku tidak punya rasa sama sekali padamu. Yang kucinta kakakmu. Tapi itu dulu, sekarang ada orang lain yang telah menggantikannya. Dan Nika sendiri yang telah memilihnya." "Aku tidak peduli. Kalau kamu tidak punya perasaan padaku. Kenapa kau perhatian padaku. Kenapa kamu peduli padaku?!" Zio sesaat terdiam. Sejenak mengingat apa yang telah dia lakukan hingga Nancy menyimpulkan kalau dia menyukai perempuan di depannya. "Aku peduli dan perhatian padamu karena kamu adik istriku. Adik iparku, tidak lebih." Zio sepertinya mulai paham kalau Nancy salah paham akan kebaikannya selama ini. Sungguh, Zio tak pernah me
Zio mengerling penuh goda pada sang istri yang sejak tadi memanahkan tatapan tajam padanya. Zio tidak masalah, Lea mau ngambek terserah. Yang jelas dia sudah tahu kunci mengatasi Lea kalau sedang tantrum."Ma, Ivan itu anaknya bosnya Mama ya?" Pertanyaan Arch mengalihkan rasa sebal Lea yang bertahan sejak semalam. Patah pinggangnya setelah dia dipaksa melayani Zio dua ronde. Awalnya saja terpaksa, sebab Lea lama-lama ikut mendesah juga."Iya, dia anak Om yang namanya sama denganmu." Arch manyun seketika, dia tetap tidak suka dengan Arch dewasa yang ia anggap ingin mengambil mamanya. "Dia baik lo, dia yang jagain Mama waktu Mama tinggal di luar. Kayak Om Zico."Yang disebut namanya terbatuk, "Jangan bawa-bawa aku. Nanti ada yang cemburu. Heran deh, aku ini anak pungut atau anak kandung sih. Seneng amat dijadikan bahan julidan."Inez terhenti sejenak dari acara meminum tehnya. Rasa bersalah tumbuh secara masif di dadanya. Menggerogoti hatinya dengan cepat. Memenuh dadanya dengan sesa
"Oke, setengah jam lagi aku sampai." Lea menutup panggilan teleponnya, memberesi barang bawaannya lantas berbalik. Saat itulah, dia hampir menubruk orang. Lea sempat mundur, sampai dia menyadari siapa orang yang berdiri di hadapannya.Helaan napas Lea terdengar, bersamaan dengan tanya yang meluncur dari arah depan. "Sudah selesai?""Seperti yang kamu lihat. Aku pergi dulu." Lea memilih menjauh sebab pria yang dia hadapi berpotensi memicu keributan antara dia dan Zio.Siapa lagi jika bukan Agra. Lelaki itu masih jadi sosok yang bisa membuat Zio naik pitam dengan cepat. Rian sudah bukan ancaman lagi. Sebab pria tersebut akan menikahi Vika. Tapi Agra, susah sekali dihindari. Lea beberapa kali melihat Agra berada satu tempat dengan tempatnya meeting. Entah sengaja atau tidak. Sebab tiap kali menangkap penampakan Agra, pria itu sedang bersama asistennya atau kliennya.Namun selama ini Lea selalu bisa mencari cara pergi tanpa bersua pandang dengan Agra. Agaknya hari ini, jatah apesnya Le
Zio, Han juga Revo berjalan masuk ke sebuah restoran. Tempat di mana satu arisan soksialita berlangsung. Inez juga berada di sana. Dari kejauhan mereka bisa mendengar tawa ceria dari beberapa perempuan yang terdengar senang sekali. Kedatangan Zio disambut manager restoran yang kebetulan mengenalnya. "Ada yang bisa kami bantu?" "Mau bertemu Mamaku, Inez Alkanders, bisa?" "Tentu saja, beliau ada lantai dua, VVIP nomor dua." "Terima kasih." Zio dan yang lainnya beranjak menuju tempat yang ditunjukkan sang manager. Tanpa kata, pria itu membuka pintu ruangan yang dimaksud. Aksinya tentu saja membuat semua penghuni di dalamnya bungkam dalam kekaguman sekaligus terkejut. Pria sekelas Zio muncul di sana. Ibu-ibu yang membawa anak gadis mereka sontak berbinar senang. Siapa tahu Zio sudi memilih putri mereka jadi pasangan. Jika orang lain kaget, tidak dengan Inez. Perempuan itu mengembangkan senyum begitu melihat sang putra yang berjalan ke arahnya. Zio mengulas senyum tipis, tapi le
"Kau sudah menemukannya?" Zio bertanya pada Revo yang sedang memandangi benda persegi di depannya. Lagi, Lea membuat heboh semua orang ketika Erna menghubunginya. Perempuan itu melapor kalau Lea pergi mengikuti Nika, tapi sampai saat itu, nomor ponselnya tidak bisa dihubungi. "Belum, aku tidak punya ide ke mana mereka pergi," Revo menjawab, dengan jari terus bergerak mencari. Mereka semua panik, membayangkan apa yang akan terjadi jika Nika bertemu Lea. "Zi, Agra telepon," info Han sambil menunjukkan ponselnya. Pria itu menerima panggilan dari Agra setelah Zio mengangguk. "Kau yakin? Kalau begitu kami menyusul ke sana. Awasi mereka terus." "Apa katanya?" Zio bertanya saat Han menunjukkan share loc yang baru Agra kirim. "Agra menemukan mereka." Wajah Zio berubah tegang. Bersamaan dengan itu, Han menekan pedal gas dalam, hingga mobil melaju lebih cepat dari sebelumnya. "Aku tahu di mana mereka berada." Han dan Zio menoleh ke arah Revo, yang masih fokus pada laptopnya. ***
"Rel! Nika tidak ada di kamar!"Yang dipanggil namanya juga tak kalah kaget. "Dia ke mana? Kita harus bagaimana kalau begini keadaannya."Pria itu memberikan selembar kertas dengan tulisan huruf Cina pada bagian atas. "I-ini ...."Tangan Erna bergetar saat perlahan dia membaca berkas di tangannya."Hasil skrinning sudah keluar. Dokter Li bilang kita harus bawa dia pulang secepatnya. Mereka sedang berdiskusi bagaimana akan mengatasi hal ini. Parah, Na. Parah."Karel menjambak rambutnya, frustrasi dengan situasi yang sedang mereka hadapi."Kita harus temukan dia!" "Tapi di mana? Tadi kamu bilang dia tidak ada di kamarnya. Terus kita mau cari ke mana. Dia pasti matikan ponselnya kalau begini caranya.""Tunggu dulu. Tadi Lea kirim pesan padaku, dia lihat Nika di kafe. Sekarang dia sedang mengikutinya. Aku akan coba hubungi dia."Erna menghubungi Lea, tapi yang bersangkutan tidak mengangkat. Dua tiga kali, usaha Erna tidak berhasil. Hingga dua orang itu saling pandang penuh kecemasan."Ak
Lea dan Irene baru selesai meeting dengan seorang klien, ketika ponsel perempuan itu berdering. Ada nama sang suami di sana. "Ya, Zi. Ada apa?""Aku ada pertemuan dengan Revo, mendadak. Tidak masalah kan kamu makan siang dengan Irene dulu.""Tidak masalah. Kita juga dari kemarin makan siang terus. Jadi no problem. Akan kutemani Irene yang lagi merengut kesal."Yang disebut namanya melotot tidak suka. Dia memang sedang bad mood, tapi tidak terima juga kalau sampai dilaporkan pada Zio."Ibu, mah gitu," sungut Irene menggemaskan."Sorry. Dijadikan pelarian terus."Irene menghentakkan kakinya kesal. Dia sungguh jengkel beberapa hari terakhir. Dongkol pada dirinya sendiri yang susah sekali dibujuk.Agra akan terbang ke kampungnya sore ini. Setuju atau tidak, dia akan melamar Irene secara resmi pada orang tuanya.Pria itu kehabisan akal untuk membujuk Irene agar mau menikah dengannya. Jadi terpaksa dia mengambil langkah ekstrim. Minta izin dulu pada orang tua Irene, baru Irene dieksekusi b
"Maafkan mama ya Lea. Aku sungguh tidak tahu lagi harus nasehatin dia kayak gimana." Rian tertunduk malu sekaligus merasa bersalah. Dita hampir mencakar Lea saat istri Zio bertanya pasal keadaannya. Belum ditambah makian Dita yang membuat Dani naik darah. Dita tak sadar diri dengan keadaannya. Yang dia pedulikan hanya benci yang ada di hati untuk mantan menantunya."Tidak masalah. Aku sudah biasa dengan hal itu," balas Lea santai.Keduanya duduk di sebuah kafe, setelah Zio dan Dani pergi untuk diskusi soal perusahaan. Tentu setelah Zio memberi tatapan penuh peringatan pada Rian.Sungguh, Rian tak berani berharap untuk bisa bersatu kembali dengan Lea. Dia terlalu malu dengan kelakuannya di masa lalu. Hubungannya dengan Vika pun tidak tahu akan berakhir bagaimana.Perempuan itu masih menjalani sisa masa hukumannya, dan kabar terakhir yang Rian dengar, keadaan Vika tidak terlalu baik.Setelahnya tidak ada pembicaraan antara keduanya. Canggung membunuh topik pembicaraan yang sejatinya b
Lea menatap prihatin pada pemandangan di depan sana. Di mana seorang pria sedang membantu satu wanita untuk pindah ke kursi roda. Satu kaki perempuan itu masih diperban dan jelas sekali kaki tersebut ... buntung."Zi ...." Lea tak menutup mulut. Tak sanggup menyaksikan keadaan si wanita."Dia kecelakaan. Disenggol motor, jatuh lalu kakinya dilindas mobil. Satu masih bisa diselamatkan, tapi yang lain remuk jadi terpaksa diamputasi."Lea membenamkan tangisnya di dada Zio. Dengan tangan sang lelaki lekas mengusap punggung Lea. "Dia yang melaporkanmu ke polisi, dia membantu Nika. Anindita Mahendra," sebut Zio dengan wajah sendu.Andai Dita mau menunggu sebentar kala itu, anak buahnya akan datang untuk membebaskannya. Zio hanya ingin menggertak Dita sebenarnya.Namun istri Dani tak sabaran. Dita lepaskan sendiri ikatan di tangan dan kakinya. Saat anak buah Zio kembali ke gudang, mereka tidak mendapati Dita di sana.Dari penelusuran mereka justru mendapat kabar kalau terjadi kecelakaan di
Setelah berkonsultasi dengan pihak kepolisian, Lawrence memberitahu kalau mereka tidak perlu melakukan klarifikasi atas keadaan Lea dan Nika. Toh dua orang itu meski rupa sama, tapi identitas berbeda.Karena Zio tidak ingin memperpanjang masalah ini, maka mereka memutuskan menutup kasus pertukaran identitas yang Nika lakukan. Dengan catatan perempuan itu tidak berulah lagi. Jika sampai Nika membuat onar, pihak yang berwajib akan membuka kembali kasus ini.Zio fine-fine saja, lagi pula yang bakal rugi Nika bukan dirinya. Hanya saja sebagai akibat Nika menerima sejumlah barang atas Lea beberapa waktu lalu.Imbasnya Lea juga dibelikan barang yang sama. Untuk menutupi kelakuan Nika, juga menghargai pemilik butik dan outlet. "Efeknya jadi tampil lebih glam ya?" Kata Irene setengah meledek sang atasan yang sejak tadi cemberut. Dia tidak bisa memakai sling bag favoritnya, gegara dia punya jadwal memakai tas branded yang Zio belikan. Dia yang biasa tampil cuek, tinggalkan sampirkan tas pund
Erna memegang pipinya yang terasa panas. Dipandangnya Nika yang wajahnya memerah penuh emosi. Erna tahu benar kalau Nika marah besar padanya.Dia sepenuhnya sadar akibat dari perbuatannya akan membuat Nika murka. Tapi Erna tidak mau Nika kembali melakukan kesalahan."Aku melakukannya karena aku peduli padamu, Nika. Aku tidak mau kamu menyakiti orang lain lagi. Cukup Nika! Cukup! Kita pulang saja ya?"Dari luapan emosi, kalimat Erna berubah jadi bujukan. Seperti yang dia katakan di hadapan Zio dan yang lainnya. Seburuk apapun perilaku Nika, dia tetap tak bisa mengabaikan perempuan itu.Erna tetap peduli, walau Nika kerap kali tidak memandang kebaikannya. Sebaik itu hati Erna. Gadis itu hanya ingin membalas kebaikan hati Nika yang pernah menyelamatkan keluarganya dulu.Ayahnya perlu biaya operasi waktu kecelakaan, Nika membantunya. Lalu adiknya ingin kuliah, Nika juga ringan tangan menolongnya.Sudah dikatakan jika berhubungan dengan balas budi, bakal runyam urusannya."Tidak akan! Aku
Derap langkah terdengar rusuh ketika Lea menoleh. Netranya berkaca-kaca melihat Zio berlari ke arahnya, lantas memeluknya. Ada hangat, lega, juga aman saat Zio merengkuh tubuh Lea dalam pelukannya."Maafkan aku." Kalimat itu yang Zio ucapkan begitu dia menemukan suaranya.Lea menggeleng dalam dekapan sang suami. Dia sendiri sudah menitikkan air mata sejak Zio memeluknya. "Apa kamu baik-baik saja?" Zio memeriksa keadaan Lea begitu dia menjauhkan diri dari Lea."Aku baik-baik saja. Jangan cemas. Kamu harus berterima kasih pada mereka. Mereka sudah menjagaku semalaman."Dua petugas mengangguk saat Zio sungguh mengucapkan terima kasih dengan tulus. "Kamu juga harus berterima kasih pada dia."Lea menggeser duduknya. Hingga sosok yang duduk di pojokan sambil menundukkan wajah terlihat."Erna?!" Terkejut Zio dibuatnya.Bagaimana bisa Erna tiba-tiba muncul setelah menghilang sekian lama."Maafkan saya, Tuan. Maaf, Bu." Kata Erna dengan mata memerah."Mbak Erna gak salah. Terima kasih sudah
Dita melotot penuh ketakutan sekaligus syok. Zio, pria itu duduk di hadapannya dengan wajah dingin yang membuat Dita gemetaran sebadan-badan.Perempuan itu menyadari kalau ucapan Nika sama sekali tidak bisa dia percaya. Nika mengatakan kalau Zio tidak akan tahu jika dialah yang melaporkan Lea ke polisi.Ternyata Dita kini sudah dibuat takut tak terkira hanya dengan tatapan suami Lea."Lepaskan aku! Kenapa aku dibawa ke sini? Apa salahku?!" Dita meski ketakutan nyatanya masih berani melawan."Salahmu? Salahmu karena sudah mengusik istriku! Kau akan menerima balasannya, berani sekali kau membantu dia.""Saya hanya membantunya mendapatkan apa yang seharusnya jadi miliknya," aku Dita terang-terangan."Mengaku rupanya. Kau sama sekali tidak tahu apa yang terjadi, jadi sebaiknya kau diam saja!" Hardik Zio.Nyali Dita menciut seketika. Dia seharusnya tahu kalau Zio bukan lawan yang bisa dia hadapi. Bahkan kalau Dita punya kuasa, dia tidak akan menang melawan Zio."Lea mencuri tempatnya, apa