Главная / Rumah Tangga / ISTRI LUPA DIRI / Bab 3: Pernikahan Tanpa Cinta

Share

Bab 3: Pernikahan Tanpa Cinta

Aвтор: Rae Jasmine
last update Последнее обновление: 2025-03-07 10:47:13

Seminggu berlalu dengan cepat. Rachel bahkan tidak punya banyak waktu untuk memikirkan ulang keputusannya. Sejak menerima lamaran Martin, hidupnya berubah drastis.

Hari ini, ia berdiri di depan cermin dengan gaun pengantin berwarna putih gading yang begitu indah, sesuatu yang tak pernah ia bayangkan bisa ia kenakan. Namun, meskipun penampilannya sempurna, hatinya terasa kosong.

Ia akan menikah dengan pria yang hampir tidak ia kenal, tanpa cinta, tanpa harapan untuk sebuah kebahagiaan seperti yang ia impikan sejak kecil.

Upacara pernikahan berlangsung megah di sebuah hotel mewah. Tidak ada keluarga dari pihak Rachel yang hadir dan bukan karena ia tidak mau mengundang mereka, tetapi karena Martin sendiri yang melarang.

“Tidak ada yang boleh tahu tentang latar belakangmu. Kamu adalah istri Martin Hartono, dan itu saja yang dunia perlu tahu.”

Kata-kata pria itu terngiang di kepalanya.

Rachel mengangguk pada dirinya sendiri di depan cermin. Hari ini bukan tentang cinta. Ini hanya sebuah perjanjian.

Ia menarik napas panjang sebelum berjalan menuju altar.

Martin berdiri dengan jas hitam yang sempurna, tatapannya dingin seperti biasanya. Tak ada kehangatan di matanya saat melihat Rachel mendekat.

Para tamu undangan yang terdiri dari pebisnis, sosialita, dan orang-orang berpengaruh menyaksikan mereka dengan senyum penuh arti. Bagi dunia luar, ini adalah pernikahan antara dua insan yang saling mencintai. Tapi bagi mereka berdua, ini hanyalah sebuah kesepakatan bisnis.

Martin mengulurkan tangan, dan Rachel meraihnya dengan ragu. Jari-jarinya terasa dingin di telapak tangan pria itu, seperti seseorang yang tak memiliki perasaan.

Pendeta mulai berbicara, mengucapkan janji suci yang harus mereka ikuti.

“Apakah Anda, Martin Hartono, bersedia menerima Rachel sebagai istri Anda, dalam suka maupun duka, sampai maut memisahkan?”

Martin menatap Rachel sejenak, lalu berkata dengan nada datar, “Ya, saya bersedia.”

Rachel menggigit bibir. Ia tahu kata-kata itu tak memiliki makna bagi pria itu.

Pendeta lalu menoleh padanya. “Apakah Anda, Rachel, bersedia menerima Martin sebagai suami Anda, dalam suka maupun duka, sampai maut memisahkan?”

Rachel terdiam sejenak. Dadanya terasa sesak, seolah-olah ia baru saja menjual dirinya kepada iblis.

Namun, ia mengingat ibunya yang sakit, mengingat hutang yang membelit, mengingat bagaimana hidupnya bisa berubah dengan kesepakatan ini.

Akhirnya, dengan suara hampir berbisik, ia berkata, “Ya, saya bersedia.”

Martin menyematkan cincin berlian di jarinya, dan ia melakukan hal yang sama pada pria itu.

“Dengan ini, saya nyatakan kalian sebagai suami dan istri.”

Tepuk tangan menggema di ruangan, dan para tamu bersorak. Tapi Rachel merasa seperti jiwanya baru saja direnggut.

Martin menatapnya dengan datar sebelum berkata pelan, “Sekarang ciuman pengantin.”

Rachel tercekat. Ia belum siap untuk ini.

Namun, sebelum ia sempat mundur, Martin menarik pinggangnya dan mengecup bibirnya singkat tanpa perasaan dan tanpa kelembutan. Itu hanya sebuah formalitas, sesuatu yang harus mereka lakukan agar pernikahan ini terlihat nyata.

Saat Martin melepasnya, Rachel tahu satu hal: hidupnya tak akan pernah sama lagi.

Malam itu, mereka tiba di rumah baru Rachel sebuah vila mewah di atas bukit dengan pemandangan kota yang menakjubkan.

Rachel menatap sekeliling dengan kagum. Ia bahkan tak bisa membayangkan harga rumah ini.

“Tuan M—maksud saya, Martin…” Rachel menoleh pada suaminya yang baru, merasa canggung. “Terima kasih untuk semuanya.”

Martin hanya meliriknya sekilas. “Jangan salah paham. Aku tidak melakukan ini untukmu, tapi untuk kesepakatan kita.”

Rachel menggigit bibirnya. Ia tidak tahu kenapa, tapi mendengar kata-kata itu tetap membuat hatinya nyeri.

Martin melepas jasnya dan berjalan menuju tangga. “Kamar kita ada di lantai dua. Tapi jangan khawatir, aku tidak akan menyentuhmu. Ini hanya pernikahan di atas kertas.”

Rachel mengangguk pelan, meskipun di dalam hatinya ada perasaan campur aduk yang sulit dijelaskan.

Namun, sebelum ia sempat mengatakan apa pun lagi, ponsel Martin bergetar.

Pria itu mengernyit sebelum menjawab panggilan tersebut.

“Apa?” Martin terdengar tegang.

Rachel melihat ekspresi pria itu berubah. Mata dinginnya kini dipenuhi sesuatu yang berbeda—kekhawatiran.

“Aku akan segera ke sana,” kata Martin sebelum menutup telepon.

Rachel menatapnya bingung. “Ada apa?”

Martin berbalik, wajahnya terlihat lebih serius dari sebelumnya.

“Kakekku sekarat.”

Rachel membelalakkan mata.

Tanpa berkata apa-apa lagi, Martin bergegas keluar, meninggalkan Rachel sendiri di rumah besar yang terasa semakin asing dan menakutkan.

Dan untuk pertama kalinya, Rachel menyadari bahwa pernikahan ini bukan hanya tentang dirinya saja tapi juga tentang rahasia besar yang belum ia ketahui.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Related chapter

  • ISTRI LUPA DIRI   Bab 4: Rahasia Keluarga Hartono

    Rachel berdiri terpaku di ruang tamu vila megah itu, masih memproses apa yang baru saja terjadi. Kakeknya sekarat? Ia memang tidak tahu banyak tentang keluarga suaminya, selain fakta bahwa mereka adalah salah satu keluarga terkaya dan paling berpengaruh di negeri ini. Namun, melihat ekspresi Martin yang begitu tegang barusan, Rachel yakin ada sesuatu yang lebih besar dari sekadar berita duka. Perasaan tidak nyaman menyelimutinya. Apa yang sebenarnya terjadi? Malam itu, Rachel tidak bisa tidur. Ia berjalan mondar-mandir di kamar yang terasa terlalu luas dan sunyi. Bayangan wajah Martin sebelum pergi tadi terus terlintas di pikirannya. Dia terlihat… takut. Martin bukan pria yang mudah menunjukkan emosi. Sejak pertama kali bertemu dengannya, Rachel selalu melihat pria itu sebagai seseorang yang dingin, keras, dan sulit ditebak. Namun, malam ini… ada sesuatu yang berbeda. Rasa penasaran menguasainya. Rachel akhirnya mengambil ponselnya dan mencoba mencari informasi tentang keluarga

    Последнее обновление : 2025-03-07
  • ISTRI LUPA DIRI   Bab 5: Warisan yang Terlupakan

    Rachel menatap pria asing di hadapannya dengan jantung berdebar kencang. Ada sesuatu yang mengerikan di balik senyumnya yang tenang. Matanya tajam, penuh keyakinan, seolah-olah ia sudah memiliki kendali penuh atas situasi ini. Martin yang berdiri di sebelah Rachel mengepalkan tangannya. “Kenapa kau ada di sini?” suaranya rendah, nyaris seperti geraman. Pria itu tertawa kecil. “Aku hanya ingin menyapa keluargaku. Lagipula, aku juga punya hak untuk berada di sini, bukan?” Rachel semakin bingung. Siapa pria ini? Tuan Gunawan, yang masih terbaring lemah di ranjang, tampak berusaha mengumpulkan tenaga untuk berbicara. “Davin…” suaranya serak. Rachel tersentak. Davin? Nama itu terdengar familiar. Lalu, ingatannya kembali pada artikel yang ia baca tadi malam. Tentang pewaris keluarga Hartono yang ‘menghilang’. Davin Hartono. Rachel menatap pria itu dengan mata melebar. “Jadi… kau adalah pewaris yang seharusnya mengambil alih semua ini?” Davin mengangkat bahu dengan santai. “Seharusn

    Последнее обновление : 2025-03-07
  • ISTRI LUPA DIRI   Bab 6: Rahasia Mulai Terungkap

    Rachel tidak bisa menghilangkan bayangan Davin dari pikirannya. Pria itu bukan hanya berbahaya, tetapi juga cerdas dan penuh perhitungan. Apa yang sedang ingin ia rencanakan? Pagi itu, Rachel duduk di ruang makan bersama Martin, tetapi pikirannya masih terjebak di malam sebelumnya. Ia ingin bertanya lebih banyak tentang Davin, tetapi Martin tampak sama sekali tidak ingin membicarakannya. Saat itulah seorang pelayan masuk, membawa sebuah amplop berwarna hitam. “Tuan muda Martin, ini surat untuk Anda.” Martin mengambil amplop itu dan menatapnya dengan dahi berkerut. Tidak ada pengirim. Rachel ikut melihat ketika Martin membuka amplop itu. Isinya hanya selembar kertas dengan tulisan tangan yang sangat rapi. “Harta yang kau banggakan bukan milikmu. Aku hanya mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi hakku. Bersiaplah.” Rachel merasa tengkuknya meremang. “Dari Davin?” Martin mengepalkan kertas itu dengan rahang mengeras. “Siapa lagi kalau bukan dia?” Tidak lama bebe

    Последнее обновление : 2025-03-07
  • ISTRI LUPA DIRI   Bab 7: Menuju Kebenaran

    Martin menggenggam kunci itu erat, matanya penuh ketegangan. Rachel berdiri di sampingnya, jantungnya berdebar tak menentu. Apa sebenarnya yang sedang dimainkan Davin? “Kita harus mencari tahu ini sekarang,” kata Martin tegas. Rachel ragu sejenak. “Apa tidak lebih baik menunggu dan mencari tahu dulu?” Martin menggeleng. “Davin tidak akan memberi kita waktu. Jika kita diam, kita hanya akan semakin terpojok.” Rachel menelan ludah, tetapi akhirnya mengangguk. “Baiklah.” Martin menggenggam tangannya. “Aku tidak akan membiarkan apa pun terjadi padamu.” Mereka keluar dari rumah dan masuk ke dalam mobil. Malam itu dingin, tetapi ketegangan membuat udara di dalam mobil terasa panas. Martin menyalakan mesin. “Ada satu tempat yang bisa kita periksa.” Rachel menoleh. “Di mana?” “Gudang tua di pinggiran kota. Dulu tempat itu digunakan keluarga kami untuk menyimpan barang-barang berharga.” Rachel merasakan firasat buruk. “Kau yakin Davin tidak menjebak kita?” Martin tersenyum tipis. “I

    Последнее обновление : 2025-03-07
  • ISTRI LUPA DIRI   Bab 8: Pengkhianatan

    Rachel duduk di ruang kerja Martin dengan tatapan kosong. Semua yang ia miliki kini terasa hampa. Sejak menikah dengan Martin, hidupnya berubah drastis. Dari seorang gadis miskin yang kesulitan makan sehari-hari, ia kini hidup bergelimang harta. Gaun-gaun mahal menggantung rapi di lemarinya, perhiasan berkilauan mengelilingi tubuhnya, dan semua yang ia impikan kini ada di genggamannya. Namun, ada satu hal yang tidak ia sadari. Hatinya mulai berubah. Dulu, ia berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia tidak akan melupakan keluarganya. Namun, setelah terbiasa dengan kehidupan mewah, ia mulai menjaga jarak. Ibunya yang dulu selalu menemaninya dalam kesulitan, kini hanya mendapat sapaan singkat setiap beberapa minggu. Adik-adiknya yang dulu sering kelaparan bersamanya, kini hanya bisa melihatnya dari jauh. Rachel telah melupakan asal-usulnya. Martin, meskipun sadar akan perubahan Rachel, tidak pernah menegurnya secara langsung. Ia mencintai istrinya, terlepas dari segala kekuranga

    Последнее обновление : 2025-03-07
  • ISTRI LUPA DIRI   Bab 9: Pewaris Yang Terlupakan

    Rachel menatap pria itu dengan tubuh menegang. Leonard?Ia mengenali pria itu. Dulu, ia hanyalah seorang bawahan di perusahaan Martin. Tetapi sekarang, ada sesuatu dalam tatapan Leonard yang membuat Rachel merasakan ancaman yang lebih besar.Martin juga menatap pria itu dengan waspada. “Aku tidak menyangka kau akan muncul di sini.”Leonard tersenyum tipis, tetapi senyumnya penuh dengan kesombongan. “Sudah lama sekali, Martin. Aku hanya ingin memastikan kau baik-baik saja… atau lebih tepatnya, memastikan kau tidak akan menghalangi rencanaku lagi.”Rachel merasakan bulu kuduknya meremang. Apa maksud Leonard?“Aku tidak pernah menghalangimu, Leonard,” ujar Martin tenang, meskipun tubuhnya tampak lebih lemah dari sebelumnya. “Kau sendiri yang tidak cukup sabar untuk mendapatkan apa yang kau inginkan.”Leonard terkekeh. “Tidak cukup sabar? Apa kau pikir aku bisa duduk diam sementara kau menikmati semua yang seharusnya menjadi milikku?”Rachel mengerutkan kening. “Apa maksudmu?”Leonard men

    Последнее обновление : 2025-03-22
  • ISTRI LUPA DIRI   Bab 10: Sebuah Keputusan

    Rachel duduk di tepi ranjang Martin, memandangi amplop yang baru saja diberikan oleh Leonard. Tangannya gemetar. “Rachel, lihat ini kesempatanmu,” kata Leonard dengan nada yang lembut. “Kau masih muda, kau pasti bisa mendapatkan hidup yang lebih baik.” Di dalam amplop itu ada kontrak. Jika ia menandatangani, ia akan mendapatkan bagian dari kekayaan Martin. Rachel menoleh ke arah suaminya. Martin tampak lebih lemah dari sebelumnya. Wajahnya pucat, tubuhnya terlihat lebih kurus, tetapi matanya tetap hangat seperti dulu. Ia tidak memohon agar Rachel bertahan. Ia hanya menatapnya dengan ketenangan yang menyakitkan. “Rachel,” suara Martin terdengar pelan tapi tegas. “Keputusan ada di tanganmu.” Rachel menelan ludah. Apa ini akhir dari pernikahan mereka? Martin adalah pria yang dulu mengubah hidupnya. Dulu, ia hanyalah gadis miskin tanpa harapan. Martin memberinya segalanya—rumah, kehidupan yang layak, dan status sosial. Tetapi setelah ia memiliki semuanya, ia mulai lupa d

    Последнее обновление : 2025-03-22
  • ISTRI LUPA DIRI   Bab 11: Perang Dimulai

    Rachel meremas ujung gaunnya, jantungnya berdetak kencang saat membaca isi surat gugatan yang baru saja diberikan pria berjas hitam. Leonard menuduh mereka menyalahgunakan aset perusahaan Martin. Rachel mengangkat wajahnya, menatap Martin yang masih berbaring lemah di ranjang rumah sakit. Matanya menyiratkan ketenangan, tetapi tangannya mengepal di atas selimut. “Jadi ini langkah pertama Leonard?” gumam Martin, suaranya terdengar serak. Pria berjas hitam itu mengangguk. “Ya, dan ini bukan gugatan biasa. Jika Leonard menang, pasti kalian akan kehilangan semua aset Martin, termasuk rumah dan sahamnya di perusahaan.” Rachel terperanjat. “Itu berarti kita akan kehilangan segalanya?” “Benar,” jawab pria itu dengan nada yang serius. Rachel menelan ludah. Baru saja ia memilih untuk tetap bersama Martin, sekarang mereka harus menghadapi ancaman yang jauh lebih besar. Leonard tidak main-main. Ia memang benar ingin menghancurkan mereka. “Apa yang bisa kita lakukan?” tanya Rachel, suara

    Последнее обновление : 2025-03-22

Latest chapter

  • ISTRI LUPA DIRI   Bab 77 – Kehidupan Yang Lebih Baik

    Seiring berjalannya waktu, kondisi Rachel semakin membaik. Ia rutin meminum obat yang diresepkan dokter, dan ingatannya perlahan mulai stabil. Rasa pusing yang sering menyerangnya kini berkurang, dan ia mulai merasa seperti dirinya yang dulu.Setiap pagi, Martin selalu mengingatkan Rachel untuk tidak melewatkan obatnya. Ia bahkan menyusun alarm di ponselnya agar tak ada satu pun dosis yang terlewat. Perhatian Martin membuat Rachel semakin yakin bahwa suaminya adalah pria terbaik yang pernah hadir dalam hidupnya.Ia memandangi wajah Martin yang tengah sibuk di ruang kerja. Walaupun lahir dari keluarga kaya raya, pria itu tidak pernah memandangnya rendah. Martin selalu menerima dirinya apa adanya, bahkan ketika ia dulu sempat lupa diri dan berubah menjadi orang yang berbeda.Rachel menggigit bibirnya, merasa sedikit bersalah. Dulu, ia terlalu sibuk menikmati kemewahan dan mengabaikan banyak hal penting, termasuk suaminya sendiri. Tapi sekarang, ia ingin menjadi pribadi yang lebih baik—

  • ISTRI LUPA DIRI   Bab 76: Tertundanya Pencarian

    Pagi itu, Martin membangunkan Rachel lebih awal dari biasanya.“Rachel, bangun. Kita harus ke rumah sakit hari ini,” katanya lembut sambil menggoyangkan bahu istrinya.Rachel mengerjap pelan, matanya masih terasa berat. Kepalanya berdenyut, dan sebagian ingatannya masih terasa kabur. Ia sempat lupa bahwa hari ini adalah jadwal kontrolnya.Martin membantu Rachel duduk di tempat tidur. “Kita harus pastikan kondisimu benar-benar stabil. Setelah itu, kamu bisa kembali minum obat dengan teratur.”Rachel mengangguk lemah. Ia tahu Martin sangat mengkhawatirkannya. Sejak kecelakaan itu, suaminya semakin protektif, bahkan ia merasa Martin lebih sering memperhatikannya dibanding dirinya sendiri.Setelah tiba di rumah sakit, dokter melakukan pemeriksaan menyeluruh. Rachel menjalani beberapa tes untuk memastikan kondisinya, terutama mengenai ingatannya yang masih belum sepenuhnya pulih.“Sejauh ini, kondisinya cukup stabil,” kata dokter sambil menuliskan sesuatu di buku catatan medis. “Tapi efek

  • ISTRI LUPA DIRI   Bab 75: Separuh Ingatan yang Hilang

    Sejak kepulangannya dari rumah sakit sebulan lalu, Rachel menjalani hari-harinya dengan lebih tenang. Martin kembali fokus pada perusahaannya yang sempat terguncang, sementara ia sendiri lebih banyak beristirahat di rumah, mengikuti saran dokter agar tubuhnya bisa pulih sepenuhnya.Setiap hari, ia rutin mengonsumsi obat yang diresepkan dokter. Namun, pagi ini, sesuatu terasa berbeda. Saat ia membuka laci tempat menyimpan obatnya, botol itu kosong. Rachel terdiam, mencoba mengingat kapan terakhir kali ia kontrol ke rumah sakit.“Oh… seharusnya aku kontrol hari ini,” gumamnya pelan.Namun, tubuhnya terasa terlalu lemas untuk bergerak. Kepala mulai berdenyut perlahan, lalu semakin tajam seiring berjalannya waktu.Sementara itu, Martin baru saja menyelesaikan rapat di kantornya. Setelah sempat absen selama berminggu-minggu karena kecelakaan, ia harus bekerja ekstra keras untuk mengatasi masalah-masalah yang muncul di perusahaan. Beberapa orang bahkan mencoba mengambil kesempatan saat diri

  • ISTRI LUPA DIRI   Bab 74: Ada Yang Berbeda

    Hari kedua di rumah sakit, Rachel mulai menyadari sesuatu yang mengganggu dirinya. Ada bagian dari ingatannya yang terasa kabur—tidak sepenuhnya hilang, tetapi sulit dijangkau. Saat ia berusaha mengingat masa lalu, kepalanya terasa berat, seolah ada kabut yang menghalangi pikirannya.Ia masih mengenali Martin, masih ingat siapa dirinya, dan masih memahami sebagian besar kehidupannya. Tapi ada detail-detail kecil yang terasa hilang—seperti kejadian-kejadian tertentu yang seharusnya ia ingat, tetapi kini hanya menyisakan bayangan samar.Rachel mengerutkan kening, mencoba mengingat sesuatu yang spesifik. “Martin… aku merasa ada yang aneh dengan ingatanku. Aku bisa mengingat banyak hal, tapi rasanya tidak setajam biasanya.”Martin, yang sejak tadi duduk di sampingnya, menatap istrinya dengan tenang meski dalam hatinya ia merasa khawatir. Ia tahu sesuatu yang tidak Rachel sadari—dokter telah memberitahunya bahwa benturan yang dialami Rachel cukup serius dan mungkin menyebabkan gangguan mem

  • ISTRI LUPA DIRI   Bab 74: Bahaya Untuk Rachel Dan Martin

    Malam di rumah sakit terasa begitu sunyi. Hanya suara detak mesin medis dan langkah kaki suster yang sesekali terdengar di lorong. Rachel masih terbaring di ranjang, sementara Martin duduk di sofa kecil di sampingnya. Matanya memandangi istrinya yang tertidur, namun pikirannya tak tenang.Siapa pun yang berusaha mencelakai mereka pasti memiliki alasan kuat untuk menyembunyikan kebenaran tentang Adrian. Tapi siapa?Ponsel Martin bergetar di atas meja kecil di samping ranjang. Ia mengambilnya dan melihat nama di layar: Nomor Tidak Dikenal.Martin ragu sejenak sebelum akhirnya menjawab.“Halo?” suaranya tenang, tapi waspada.Tak ada jawaban di seberang. Hanya suara napas pelan.“Halo?” ulangnya, kali ini lebih tegas.Lalu, terdengar suara berat yang nyaris berbisik.“Berhenti mencari… atau kau akan kehilangan lebih dari yang kau bayangkan.”Seketika, panggilan itu terputus.Martin merasakan tengkuknya meremang. Ini bukan peringatan biasa—ini ancaman.Ia segera berdiri dan berjalan ke lua

  • ISTRI LUPA DIRI   Bab 73: Kegelapan dan Rahasia

    Rasa sakit menusuk seluruh tubuh Rachel saat kesadarannya perlahan kembali. Matanya terasa begitu berat, namun ia bisa mendengar suara samar-samar di sekitarnya dan bunyi monitor medis yang berdetak pelan dan suara langkah kaki seseorang.Perlahan, ia membuka matanya. Langit-langit putih dan bau antiseptik memenuhi indranya. Rumah sakit. Ia mencoba menggerakkan tangannya, tetapi rasa nyeri langsung menjalar ke seluruh tubuhnya, membuatnya meringis.“Rachel…”Suara itu. Lembut, penuh kekhawatiran.Rachel menoleh perlahan dan melihat Martin duduk di samping tempat tidurnya. Wajahnya penuh luka dan lebam, namun sorot matanya tetap lembut menatapnya.“Kamu sadar,” katanya, suaranya dipenuhi rasa lega.Rachel mencoba berbicara, namun tenggorokannya begitu kering. Martin langsung menuangkan air ke dalam gelas dan mencoba membantunya untuk minum.“Apa… yang terjadi?” Rachel akhirnya bisa bersuara, meski lemah.Martin menghela napas panjang. “Kita telah mengalami kecelakaan. Mobil itu menabra

  • ISTRI LUPA DIRI   Bab 72: Pencarian yang Berujung pada Tragedi

    Pagi itu, yaitu setelah percakapan penuh emosi dengan ibunya, Rachel merasa semakin yakin bahwa dia harus menemukan pria yang dimaksud, yaitu Malik. Orang yang bisa jadi mengetahui lebih banyak tentang Adrian dan masa lalu yang selama ini disembunyikan. Martin, meski ragu, akhirnya setuju untuk ikut serta. Ia tahu betul betapa pentingnya pencarian ini bagi Rachel, dan meski ada rasa khawatir yang menggelayuti dirinya, ia tak bisa membiarkan Rachel melakukannya sendirian.Mereka berdua memutuskan untuk menuju ke daerah yang disebutkan oleh pria misterius di gudang—tempat terakhir Malik terlihat beberapa tahun lalu. Tidak ada petunjuk pasti mengenai keberadaan Malik, namun Rachel merasa bahwa ini adalah satu-satunya cara untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaannya.Di dalam mobil, suasana sunyi menyelimuti mereka. Rachel melirik Martin, mencoba membaca ekspresinya. Suaminya itu terlihat tegang, memfokuskan perhatian pada jalan yang semakin sepi.“Martin, kamu yakin kita harus melanjutk

  • ISTRI LUPA DIRI   Bab 71: Mengungkap Semuanya

    Rachel terdiam setelah mendengar kata-kata Pak Surya. Matanya terasa kosong, kosong oleh semua informasi baru yang datang begitu cepat. Apa maksud Pak Surya dengan mengatakan kebenaran ini akan menghancurkannya? Apa yang lebih gelap dari apa yang sudah ia temui? Semua hal yang ia percayai kini terancam hancur.Pak Surya menatapnya dengan raut wajah yang penuh kecemasan. “Rachel, aku tidak ingin kau terjebak dalam dunia ini. Dunia yang sudah mengubah hidup banyak orang. Dunia yang menganggap nyawa tak lebih dari sebuah harga yang bisa ditawar.”Rachel dengan tegas. “Saya tidak akan mundur begitu saja, Pak. Saya harus tahu apa yang terjadi pada Adrian. Apa yang sebenarnya terjadi pada malam itu?”Pak Surya menghela napas panjang. “Malam itu… bukan hanya Adrian yang menghilang. Ada banyak hal yang terjadi di balik itu. Banyak hal yang tidak pernah seharusnya kamu tahu.”Rachel menatapnya intens. “Kenapa sekarang, Pak? Kenapa Anda baru bicara sekarang?”Pak Surya menundukkan kepala, tampa

  • ISTRI LUPA DIRI   Bab 70: Penuh dengan Teka-Teki

    Rachel berdiri di depan cermin, menatap wajahnya yang terpantul. Sesuatu dalam dirinya telah berubah. Kebenaran yang baru ia terima begitu menghantam, meninggalkan rasa sakit yang dalam, namun juga memberikan pemahaman yang baru. Adrian, saudara kandungnya, ternyata telah dibawa pergi oleh ayah kandungnya sendiri, yang selama ini disembunyikan ibunya.Pikiran Rachel terus berputar, mengingat setiap momen yang pernah ia alami bersama ibunya. Momen-momen yang tampak begitu sempurna, tapi kini terasa seperti ilusi. Mengapa ibunya tidak pernah menceritakan tentang ayah mereka? Apa yang membuatnya begitu takut? Dan mengapa ayahnya tiba-tiba muncul setelah sekian lama?Rachel menghela napas panjang dan melangkah menuju meja, di mana ponselnya tergeletak. Ada pesan dari Clara yang baru saja masuk.“Rachel, aku sudah menemukan sesuatu. Kita perlu bicara.”Tangan Rachel gemetar ketika membuka pesan tersebut. Clara selalu menjadi orang yang paling bisa diandalkan, namun pesan ini memberi isyara

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status