‘Jangankan hanya besok Bimo, selamanya juga aku tak ingin jauh-jauh darimu’, bathin Ratri. Tak terasa wajah Ratri memerah sendiri. Dia sadar dan merasa malu, karena hatinya telah membengkokkan makna kata-kata Bimo, demi perasaannya sendiri. Yahh, begitulah cinta. Wanita jenius seperti Ratri pun bisa di buat ‘linglung’, oleh rasa cinta. “Oh ya, saya minta foto istri Pak Rahadian adakah..? Biar saya mudah mendeteksi keberadaannya besok malam,” tanya Bimo. Karena dia memang mempunyai cara sendiri, untuk mengetahui keberadaan Wulan dan Anton. Dan Ratri pun menangkap kesempatan ini.“Aku ada Bimo. Aku kirim ke ponselmu ya,” sahut Ratri sambil mengeluarkan ponselnya, lalu mencari foto kakaknya di galerinya. “Nomormu Bimo..?” tanya Ratri tenang. Walau dalam hatinya bersorak senang, karena akan mendapatkan nomor kontak Bimo.“Baik Mbak, kirim saja ke nomor 08777xxxxxxx,” ucap Bimo jelas. Klik.! "Ok Bimo, sudah aku kirim ya,” ucap Ratri. “Baik Mbak Ratri. Terimakasih,” ucap Bimo, sete
“Akhss..! Anton..! A-aku.. sampaiii.. Owhgghh..!” terdengar desahan bercampur dengusan keras Wulan, cukup mengekspresikan perasaan nikmat yang tengah melandanya. Tubuhnya mengejang keras, tangannya mencengkram kuat dada Anton, bahkan setengah mencakar. Setetes liur dari sudut bibir Wulan pun jatuh menerpa dada Anton, sambil pinggulnya menekan kuat tubuh Anton. Terlihat pinggulnya tersentak-sentak dan berkedut beberapa kali. “Oohkssk..! Wulaanss..enakss..! Aarrhhk..!” Anton juga meracau tak jelas, menandakan dia pun tengah di landa puncak kenikmatannya. Tubuhnya mengejang, dengan kedua tangannya meremas dan menarik keras bokong Wulan, agar lebih menekan ke bawah. Sementara ia menghentakkan bokongnya sendiri, dengan hunjaman yang keras ke arah atas. Memancurlah cairan kentalnya dengan deras, ke dalam liang panas milik Wulan, yang juga sedang mengalirkan cairan surganya. “Akkggss..! Uhhsg..! Nikmat sekali Anton brengsek..!" Wulan mendesah keras , lalu tersentak-sentak dengan nafas
“Bimo. Tunggu sebentar aku ambilkan kunci kamarnya dulu ya,” ucap Ratri. “Iya Mbak,” ucap Bimo, yang akhirnya menunggu di kursi teras rumah. “Om Bimo, kenapa nggak tidur di dalam saja ?” tanya Desi polos, Desi duduk menemani Bimo di teras rumah. “Hehee. Om kan menjaga di luar Desi. Takut ada penjahat datang malam-malam,” sahut Bimo asal saja. “Ohh iya ya Om Bimo. Desi nggak mau lagi ketemu Om hitam-hitam yang di rumah ahh!” ujar Desi dengan mimik ketakutan.“Ini kunci kamarnya Bimo. Sekalian kunci gembok pagar juga ada di situ ya,” ucap Ratri, sambil menyerahkan sebuah gantungan kunci berisi 3 anak kunci. “Baik, terimakasih Mbak Ratri,,” ucap Bimo, sambil beranjak menuju pos jaga. “Dadah Om Bimo! Desi langsung bobo ya!" seru Desi dari depan pintu rumah. “Dadah Desi. Ketemu lagi besok ya,” ucap Bimo, lalu ia berbalik meneruskan langkahnya ke pos jaga. Sesampainya di dalam kamar yang bersebelahan dengan pos jaga itu. Bimo langsung merebahkan dirinya sejenak di ranjang kamar, ya
“Aiihh ! M-maaf Bimo. A-aku... Ahh..! Cahaya apa itu?!” Ratri menatap sekilas kilatan cahaya merah di mata Bimo. Ratri buru-buru meletakkan suguhan yang dibawanya di meja kamar. Suguhan itu tadi hampir saja terjatuh. Akibat rasa terkejut yang dirasakan Ratri, saat ia melihat kondisi semi polos Bimo yang membuatnya terpana. “Ahhks ! Mbak Ratri, kenapa tak menunggu di luar dulu..?!” sesal Bimo, sambil menahan rasa nyeri yang mulai mendera kepalanya. “M-maaf Bimo. Kukira kau sudah tidur. Silahkan,” ucap Ratri gugup, seraya bergegas keluar dari kamar itu. Namun aneh bin ajaib..! Karena sekarang mata Ratrilah, yang berubah menjadi merah berkilat..! Ya, rupanya sukma Ki Brajangkala juga bisa merasuk, ke dalam tubuh wanita yang dikehendakinya. Langkah Ratri pun menjadi agak berat, saat meninggalkan kamar Bimo. ‘Hhhh..! Kutukkan keparat..! Enyahlah jauh-jauh dari hidupku !’ bathin Bimo berseru marah, memaki kutukan Ki Brajangkala. Bimo segera melahap 2 tangkup roti bakar, yang di
'Kau adalah pria pertama yang melakukan ini padaku Bimo, dan aku merelakannya’, bathin Ratri. Ratri lalu membalas lumatan bibir Bimo dengan lebih ganas. Kini dirinya sudah di kuasai sepenuhnya oleh hasrat, yang menggelora dalam dirinya menuntut pelepasan.!Dengan mudah Ratri meloloskan dasternya. Hingga kini nampaklah tubuh utuh Ratri di hadapan Bimo. Sungguh eksotik dan membuat jantung Bimo berdebar, melihat lekuk seksi dan indah tubuh Ratri. Tubuh yang begitu matang, mulus, dan kencang, bak buah apel yang baru saja dipetik. Terlihat bra hitam berenda dan celana dalam yang juga berwarna hitam, sangat kontras dengan kulit Ratri yang berwarna putih mulus. Tak mau hanya dia yang polos, Ratri menarik celana pendek Bimo. Sretth..! Dan tanpa di minta Bimo pun membuka celana dalamnya. "Ahh..! Bimo..!" seru Ratri terpana, melihat betapa tegang dan perkasanya milik Bimo. Dan tubuh Ratri pun semakin bergetar. Kini dihadapannya nampak sosok polos pemuda, yang memang telah mulai di impi
“Sttt, Bimo. Nanti kamu langsung keluar saja ya. Makasih Bimo sayank,” bisik Ratri, sambil sekilas mengecup bibir Bimo. Ratri pun beranjak menuju kamar Desi, yang berada di sebelah kamarnya. Dia langsung masuk dan memeluk Desi, yang tengah menunggunya sambil duduk di tepi ranjang. “Kok Desi takut sih bobo sendirian sayang..?” tanya Ratri. “Habis Dedi mimpi mendengar suara Tante Ratri seperti di cekik orang. Makanya Desi jadi takut terus bangun,” ucap Desi polos. Desi tak tahu, jika suara yang di kiranya mimpi itu memang nyata adanya. Wajah Ratri memerah bukan main, mendengar ucapan Desi yang polos itu, 'Untunglah bocah ini menganggap suaraku mimpi belaka, jika tidak bisa kacau’, bathin Ratri, merasa malu dan gemas pada Desi. Bimo keluar dari kamar Ratri, saat dirasa kondisi sudah aman dan Desi sudah tidur kembali. Bimo kembali memasuki kamarnya di sebelah pos jaga, dan langsung merebahkan diri di ranjang. Bimo agak was was juga, jika Desi sampai mengetahui Ratri dan dirinya b
"T-tidak Bos..! Lebih dahsyat pukulan Bos,” sahut seorang pengawal panik. Dia tak bisa membayangkan, jika kepalanya yang terkena pukulan bosnya. “Kalau begitu cepat berpencar..! Cari mereka sampai dapat ..!” bentak Anton murka. “Siapp Boss..!!” ucap mereka semua serentak, lalu bergegas keluar dari ‘Big House’, dengan mengendarai sepeda motor mereka masing-masing. Mereka menyebar ke arah empat penjuru angin. Mereka terdiri dari 4 buah motor, dengan masing-masing berboncengan. Mereka bertekad menemukan dan melaporkan keberadaan Desi putri Wulan. Yang saat ini menjadi prioritas utama pencarian mereka. Mata mereka awas mencari di sepanjang jalan yang mereka lalui. Dan secara kebetulan, salah satu dari mereka melihat 3 sosok yang mereka cari tengah asyik berjalan-jalan di luar perumahan ‘Permata Indah’. Spontan mereka menghentikan motornya, dan mengamati ketiga sosok yang mereka cari itu dari kejauhan. Orang yang membonceng mengambil inisiatif untuk merekam Bimo, Desi, dan Ratri, d
"Ahh..! Kak Wulan..! Di mana kamu ?!” seru kaget Ratri mendengar suara yang sangat dikenalnya itu. “Aku di rumah judi ‘Big House’ Ratri, ponselku di sita Anton. Ini adalah nomorku yang baru Ratri. Aku mendapatkan nomormu melalui operator rumah sakit. Untunglah operator memberikan nomormu padaku." “Kak Wulan, nanti malam Ratri dan Bimo akan menjemput kakak di ‘Big House’. Kakak bersiaplah." Ratri memberitahukan. “Hahh..! Jangan Ratri..! Berbahaya kalau kau ke sini. Aku tak mau kau bernasib sama sepertiku, Ratri..!” seru Wulan melarang adiknya menyusulnya. “Tidak Kak..! Ratri percaya pada kemampuan Bimo..! Ratri tetap akan menjemput Kak Wulan nanti malam bersama Bimo. Desi aman bersama Ratri sekarang Kak!” seru Ratri, membantah keras larangan kakaknya untuk tidak menyusulnya ke ‘Big House’. “Ratri! Berapa kali kakak harus bilang di ‘Big House’ itu berbahaya..! Ada guru Anton bernama Ki Sindulaga di sini! Taruhlah Bimo menang melawan Anton, tapi apakah dia bisa menghadapi Ki Sindu
"Ahh..! B-baiklah Kang..! K-kami menyerah..!" seru gugup dan gentar Denta. Kini terbuka sudah matanya, bahwa yang tengah dihadapinya bukanlah sembarang orang. "A-ampun Kang..!" "Tobat Kang..!" Pengakuan menyerah Denta, segera diikuti seruan-seruan minta ampun dari para anggotanya yang kesemuanya masih terkapar di tanah. Nampak senjata-senjata rusak dan patah para anggota gank, yang berserakkan di tanah. "Gelo..!" "Luar biasa..!" "S-siapa dia..?!" Seruan kaget dan takjub juga keluar dari mulut para karyawan dan security cafe itu, yang menyaksikan pengeroyokkan gank Road Spiders pada Bimo. Mereka selama ini memang tak berani melaporkan tindak semena-mena anggota gank itu pada polisi. Karena mereka sadar dan takut akan balasan para anggota gank Road Spiders, yang jumlahnya ratusan orang itu. Ya, kekaguman dan rasa takjub menyelimuti hati mereka semuanya, setelah melihat kemampuan Bimo yang berada di luar nalar dan sangat menggetarkan nyali itu. "Baik..! Mulai saat ini anggap s
Seth..! Denta dan anggota lainnya pun serentak menoleh ke arah Bimo, seraya ganti menatap layar ponsel itu. Dan.. "Hmm..! Mari kita kepung dia..!" bisik tajam Denta, seraya beranjak berdiri dari duduknya. Serentak seluruh gerombolan itu pun berdiri, dan melangkah ke arah Bimo berada. 'Hmm. Mereka telah mengenaliku rupanya', bathin Bimo, seraya tetap duduk tenang di kursinya. Bimo seolah tak melihat pergerakkan gerombolan itu, yang tengah mengelilingi pohon yang menaungi mejanya. Slakh..! Slagh..! ... Sregh..! Beberapa anggota nampak telah mengunus dan mengeluarkan senjata kesayangan mereka masing-masing. Karambit, pisau lipat, celurit kecil, knuckle, bahkan pistol pun terlihat dalam genggaman anggota gerombolan itu. Dengan dikelilinginya meja Bimo, maka otomatis pengunjung lain tak bisa lagi melihat posisi Bimo saat itu. Dan para pengunjung pun langsung keluar dari cafe itu dengan tergesa, takut terkena sasaran dari kerusuhan yang mereka duga pasti akan terjadi itu. Maka otomat
'Ahh..! Tubuhnya masih diselimuti aura hijau itu', bathin Bimo. Dia pun kembali menutup mata bathinnya terhadap Lidya. Namun diam-diam kini timbul pertanyaan dan keheranan di hati Bimo terhadap Lidya. Ya, benda apa sesungguhnya yang berada dalam kantung merah dalam tas tangan Lidya, yang dilihatnya kemarin malam itu..?Karena benda itulah, yang menjadi sumber pancaran aura hijau, yang menyelimuti sosok Lidya. "Mas Bimo, duduklah. Ada camilan dan wedang jahe merah kesukaanmu nih. Bi Inah khusus membuatkannya buat Mas bImo," ujar Lidya tersenyum. "Wah..! Bi Inah tahu saja kesukaanku Lidya. Hehe," ujar Bimo terkekeh senang. Dan pembicaraan hangat dan santai pun terjadi di teras belakang kediaman Lidya itu. *** Sementara malam itu, di markas pusat gank Blantix yang telah diambil alih dan dikuasai oleh gank Shadow pimpinan Yoga. "Baik..! Kuputuskan 40 anggota Sahdow akan ikut aku ekspansi ke Kajarta..! Edo, kau paketkan 40 motor kita via ekspedisi. Kita akan jemput langsung motor i
Segumpalan asap hitam melayang di atas gedung Winata Group, gumpalan asap hitam itu bagai menyatu dengan kegelapan malam di angkasa. Dan saat Porsche merah yang dikemudikan Lidya meluncur keluar dari gedung Winata Group. 'Hmm. Itu dia..!' bathin sukma Andrew. Dan gumpalan asap hitam pekat itu pun ikut melayang cepat di atas ketinggian, mengikuti ke mana arah Porsche merah Lidya melaju. Sementara perbincangan hangat dan santai terus berlangsung antara Bimo dan Lidya di dalam mobil. Bimo merasa senang, melihat Lidya kini telah kembali ceria dan bisa melupakan rasa dukanya. Dan saat itu Bimo memang sama sekali tak menyadari, jika mereka tengah dikuntit dari ketinggian angkasa oleh Andrew. Ya, Andrew memang telah menerapkan ilmu 'Tabir Wujud'nya saat itu, sehingga pancaran aura sukma dan energinya tak terdeteksi oleh Bimo. Sementara Bimo sendiri masih menutup mata bathinnya pada Lidya, hingga sedikit banyak hal itu mempengaruhi kepekaan bathinnya akan keberadaan Andrew. Tutt.. Tut
"Terimakasih Mas Bimo, Lily. Kesepakatan akhirnya berakhir saling menguntungkan bagi Winata Group. Karena 45 Triliun bukanlah jumlah yang sedikit dalam investasi itu," ujar Hendra tersenyum puas, di sofa ruang kerja pribadinya. Ya, di ruang pribadi Hendra saat itu, memang hanya ada Bimo dan Lidya yang duduk menemaninya. "Syukurlah Pak Hendra. Bimo ikut senang mendengar kelancaran lobi Winata Group hari ini," sahut Bimo tersenyum. "Pah. Apakah Papah tak merasakan hal aneh, saat tadi berjabat tangan dengan si Andrew itu..?" tanya Lidya. "Hmm. Rasanya memang agak dingin tangan si Andrew itu tadi Lidya. Seperti... seperti.. "Seperti orang yang sudah mati ya Pah..?" "Wah..! I-iya benar Lidya, seperti itulah..!" sentak terbata Hendra, membenarkan pendapat putrinya itu. "Wah..! Selain dingin, Lidya bahkan merasa ada arus listrik kecil yang seperti menarik-narik aliran darah di tubuh Lidya, Ayah..!" "Ahh..! Begitukah..? Apa artinya itu Mas Bimo..?" seru kaget Hendra, dia pun langsung
'Brengsek..! Powernya mampu mengimbangiku..! Siapa dia sebenarnya..?!' maki bathin Andrew lagi. Kini dirinya bertambah murka dan penasaran dengan sosok Bimo. Namun Andrew sadar misi utamanya saat itu adalah menggolkan lobi Pieter, demi kejayaan Livingstone Group. Maka dia pun menahan sementara amarahnya pada Bimo. Namun Andrew juga maklum, tak urung dirinya juga akan berhadapan dengan Bimo. Karena tak mungkin Bimo akan berdiam diri, melihat 'aksinya' terhadap Hendra di dalam ruang lobi. Satu jam sudah lobi berjalan antara Pieter dan Hendra di dalam ruangan tertutup itu. Dan seperti hal yang sudah biasa dilakukan oleh Andrew, dia pun bersiap melakukan misinya. Untuk merasuki dan mengendalikan lawan lobi Pieter, Hendra Winata..! 'Hmm. Dia mulai beraksi', bathin Bimo yang mulai merasakan pancaran power yang menguat dari Andrew. Lalu... Sshhssp..! Dan secara tak kasat mata, nampak gumpalan asap hitam yang keluar dari kepala Andrew. Lalu asap hitam itu pun berhembus masuk menembus ke
'Hmm. Akhirnya aku bisa melihat kembali ceriamu Lidya..', bathin Bimo lega.Ya, walau sampai saat itu Bimo masih menutup mata bathinnya pada Lidya. Namun Bimo masih merasakan tarikkan kuat dari pesona Lidya padanya. Hal yang menandakan selimut aura hijau masih menyelimuti sosok Lidya. Dan memang Lidya saat itu telah memasukkan benda wasiat dari neneknya ke saku jasnya. Hal yang membuat dirinya merasa sejuk dan nyaman karenanya. Akhirnya Bimo dan Lidya pun berangkat dengan mengendarai Phorsche merahnya, karena audi hitam kesukaannya masih di rumah mendiang neneknya. Tak lama kemudian mereka pun tiba dan langsung masuk ke dalam gedung megah menjulang PT. Winata Group. *** Sementara di dalam sebuah limo yang tengah meluncur dan berkaca gelap, yang dikawal oleh dua mobil di depan dan tiga mobil di belakang mobil Limo itu. Tutt.. Tutt..! Klikh..! "Ya Tuan Hendra." Sahut seoarng pria paruh baya berambut blonde klimis, yang duduk di dampingi seorang pemuda tampan di sisinya yang jug
'Tapi sebenarnya benda apa yang ada di kantung merah itu..? Aku merasa aura hijau yang menyelimuti Lidya, berasal dari benda di dalam kantung merah itu', bathin Bimo penasaran. Akhirnya setelah sekilas mempelajari profil Pieter dan Livingstone Group di laptop, Bimo pun tidur dengan pulas di kamarnya. Pada jam 3 lewat Bimo pun kembali terbangun. Dan seperti biasanya, dia pun langsung melakukan hening di dalam kamar yang cukup luas itu. *** Pagi harinya. Entah kenapa Lidya merasa enggan mengetuk pintu kamar Bimo, untuk mengingatkannya tentang acara penting kantornya hari itu.Ya, Lidya ternyata masih merasa jengah dan risih, karena mengingat kejadian semalam bersama Bimo di kamarnya. Namun Lidya juga takut Bimo masih tertidur pulas di dalam kamar. Akhirnya, Lidya pun menyuruh Bi Inah, untuk mengetuk kamar Bimo. Tok, tok, tok..! "Mas Bimo. Non Lidya sudah menanti di meja makan," ujar Bi Inah setelah mengetuk pintu kamar Bimo. Sementara dari ruang makan. Lidya yang telah duduk di
"Hei..! M-mas Bimo..! K-kau kena.. Mmhhf..!... Seruan Lidya sontak langsung terbungkam, saat dengan cepat Bimo melumat bibirnya. Ya, rasa kerinduan yang aneh dan tak tertahankan, tiba-tiba saja melanda hati Bimo. Bagaikan seorang pria yang sekian lamanya tak bertemu dengan kekasihnya. Dan hal itu terjadi murni karena dorongan dari hati Bimo, dan bukan karena kutukan Ki Brajangkala. "Mmffh..! Mas B-bimo.. Hhh.. hhh..! I-ini..?!" seru lirih terbata Lidya, setelah menarik wajahnya dari lumatan bibir Bimo, hatinya sungguh tergetar tak karuan. "Kamu cantik sekali Lidya. Aku merindukanmu. Mmffh..!" Bimo bergumam lirih, seraya kembali merencah bbir merekah Lidya dalam lumatan bibirnya. 'Ada apa dengan dirimu Mas Bimo..? Mengapa tiba-tiba seperti ini..?' bathin Lidya heran dan bingung. Namun satu hal yang tak bisa dipungkirinya, dirinya juga menginginkan hal itu terjadi. "Mmhh...". dan pertahanan Lidya pun ikut lepas. Perlahan gadis cantik itu pun memejamkan matanya, pasrah meresapi se