Share

Bab 79.

Penulis: BayS
last update Terakhir Diperbarui: 2025-01-14 14:38:59

"Ahh..! Kak Wulan..! Di mana kamu ?!” seru kaget Ratri mendengar suara yang sangat dikenalnya itu.

“Aku di rumah judi ‘Big House’ Ratri, ponselku di sita Anton. Ini adalah nomorku yang baru Ratri.

Aku mendapatkan nomormu melalui operator rumah sakit. Untunglah operator memberikan nomormu padaku."

“Kak Wulan, nanti malam Ratri dan Bimo akan menjemput kakak di ‘Big House’. Kakak bersiaplah." Ratri memberitahukan.

“Hahh..! Jangan Ratri..! Berbahaya kalau kau ke sini. Aku tak mau kau bernasib sama sepertiku, Ratri..!” seru Wulan melarang adiknya menyusulnya.

“Tidak Kak..! Ratri percaya pada kemampuan Bimo..! Ratri tetap akan menjemput Kak Wulan nanti malam bersama Bimo. Desi aman bersama Ratri sekarang Kak!” seru Ratri, membantah keras larangan kakaknya untuk tidak menyusulnya ke ‘Big House’.

“Ratri! Berapa kali kakak harus bilang di ‘Big House’ itu berbahaya..! Ada guru Anton bernama Ki Sindulaga di sini!

Taruhlah Bimo menang melawan Anton, tapi apakah dia bisa menghadapi Ki Sindu
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terkait

  • Hasrat sang Konsultan Idaman   Bab 80.

    “Setelah makan nanti, Desi main di tempat Kakek dulu ya. Nanti malam atau besok pagi baru tante jemput lagi ya,” ucap Ratri memberitahu Desi. “Iya nggak papa Tante, tapi jemputnya sama Mamah ya,” ucap Desi cepat. “Iya Desi, besok Om sama Tante Ratri akan membawa serta Mamah ke rumah Kakek,” ucap Bimo tersenyum, meyakinkan Desi. Bimo mendahului Ratri membayarkan makan malam mereka. Ratri menjadi agak malu di traktir sama Bimo. Karena Ratri merasa sebagai tuan rumah, namun malah dia yang di traktir sama Bimo, tamunya. “Sudahlah Mbak Ratri, nggak ada larangan kan tamu mentraktir tuan rumah? Toh nggak setiap hari lho Mbak. Hehe,” ucap Bimo terkekeh, seperti tahu saja isi hati Ratri. “Ya sudah tak apa-apa Bimo, tapi nanti jangan menolak pemberianku ya,” ucap Ratri pelan. Ya, diam-diam rupanya Ratri telah merencanakan sesuatu untuk Bimo.“Iya Mbak Ratri,” ucap Bimo, tak ingin membuat Ratri kecewa. Tak lama kemudian, mereka pun sampai di rumah orangtua Ratri. Bimo memilih tetap duduk

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-15
  • Hasrat sang Konsultan Idaman   Bab 81.

    Slaph..!!Wulan merasa kakinya tak menapak tanah. Sekujur tubuhnya bagai melesat cepat, dengan hembusan keras angin yang berkesiuran di telinganya. Namun itu hanya sekejap saja terasa, lalu...Taph..!Wulan kembali merasakan kakinya menjejak tanah. Dan saat dia membuka matanya. Maka Wulan pun melihat, jika kini dia berada di belakang sebuah mobil yang dikenalnya. “Kak Wulan..!” seru Ratri, sambil bergegas turun dari mobilnya dan memeluk sang kakak. Wulan sendiri masih tertegun tak percaya, atas semua yang baru dialaminya. “Ratri! Tsk, tsk!" terdengar isak tangis Wulan, setelah menyadari ini bukanlah mimpi. “Kak Wulan, kau tak apa-apa kan? Tsk, tskk..!” tanya Ratri yang juga ikut terisak, merasakan penderitaan kakaknya. “Ehemm. Mbak Ratri, sebaiknya cepat kamu bawa Mbak Wulan ke rumah. Pertemukan dia dengan Desi. Biarlah urusan selanjutnya di ‘Big House’ aku yang urus,” ujar Bimo tenang. Hal yang menyadarkan Ratri dan Wulan, bahwa mereka belum berada di tempat yang aman. “Baik

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-15
  • Hasrat sang Konsultan Idaman   Bab 82.

    "Miko kau turunlah..! Gantikan Ojay! Mainkan tebak angka dadu!” perintah Ronny pada Miko yang berada di ruangannya. Pada permainan tebak angka dadu, biasanya jarang pengunjung yang berani bermain. Karena jika salah menebak, maka bandarlah yang menang. Namun jika berhasil menebak, maka pemain akan mendapatkan 10 kali lipat dari coin yang dipasangnya. Miko pun dari lantai 2 dan mendekati Ojay, bandar yang kini sedang bekerja. Melihat Miko di sebelahnya. Maka Ojay pun langsung paham, kalau dia harus mundur. Segera Ojay mundur ke belakang, dan Miko maju menggantikan posisinya. “Sekarang saatnya permainan tebak angka dadu! Jika tebakkan salah, pasangan menjadi milik bandar! Dan jika tebakkan benar, bandar akan membayar 10 kali lipat dari coin pasangan!” seru Miko. Otomatis hampir semua pemain langsung mundur. Kini hanya Bimo yang bertahan dalam permainan tebak angka dadu itu. ‘Hmm. Akhirnya aku mulai di pantau, bagus!' seru bathin Bimo. Dia merasa dirinya sudah berhasil menarik pe

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-15
  • Hasrat sang Konsultan Idaman   Bab 83.

    "Suatu kehormatan, bisa bermain dengan bos pemilik tempat ini Tuan Anton,” ucap Bimo dengan senyum ramah pula. ‘Hmm. Ketenangan tingkat tinggi’, bathin Anton, menilai sikap Bimo. “Silahkan pasang taruhanmu Tuan Muda siapa ya?” tanya Anton, sambil mengulurkan tangannya yang di aliri tenaga dalam pada Bimo. Bimo yang mengetahui ‘isi’ dalam tangan Anton langsung menyambutnya. Namun Bimo tak mengeluarkan tenaga dalamnya sedikit pun. Dia tahu sedang di uji oleh Anton. Sebab jika Bimo mengalirkan juga tenaga dalamnya, maka ia merasa rencananya bisa gagal sebelum di mulai. Bimo juga merasakan energi lain yang cukup besar tengah membaking Anton, dan dia sudah menebak itu adalah energi Ki Sindulaga. “Ahh! Saya Bimo, Tuan Anton,” Bimo berlagak agak kaget dan kesakitan bagai di setrum. Saat dia bersalaman dengan Anton. ‘Hmm. Hanya orang yang sedang hoki saja nampaknya’, bathin Anton, sambil tersenyum ramah. “Maaf, saya menjabat tangan anda terlalu bersemangat, Tuan Bimo” ucap Anton. "O

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-16
  • Hasrat sang Konsultan Idaman   Bab 84.

    Braghk..! Anton menaruh surat perjanjian itu di atas meja dengan menggebrak, “Silahkan Tuan semua yang di ruangan ini membaca, dan memeriksa keaslian surat perjanjian ini,” ucap Anton. Beberapa orang saksi segera memeriksanya, dan menyatakan keaslian surat perjanjian Anton. Bimo menerapkan aji Wisik Bathinnya, dia hendak menjenguk isi hati Anton saat itu. Bimo pun menatap Anton, yang juga sedang menatap Bimo dengan sinis. ‘Hhh! Anak muda kemaren sore berani bermain-main denganku.! Huhh! Menang ataupun kalah, kau tetap akan mati di tangan guruku atau pistol di tanganku, Bimo!’ bathin Anton. ‘Terbaca sudah niat busukmu Anton’, bathin Bimo. Bimo pun menarik kembali aji wisik bathinnya. “Ronny!” seru Anton. Dan Ronny pun mulai mengocok dengan agak nervouz, karena taruhan kali ini begitu menegangkan baginya. Bimo pun segera mengeluarkan aji Pembuka Tabir Kegelapan, sebuah ajian yang mampu membawa dirinya dan ornag di sekitarnya masuk dalam dimensi ghaib yang tergelap. Sebuah ilm

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-16
  • Hasrat sang Konsultan Idaman   Bab 85.

    Slaph..! Pyaarrshk..!!Bimo melesat cepat keluar melalui jendela kaca tebal ruang, yang telah pecah terhantam pukulannya. Kini Bimo berdiri di tengah halaman samping ‘Big House’, menanti Ki Sindulaga menyusulnya. Slaph! Pyarr! Ki Sindulaga mengikuti jejak Bimo, dengan menerobos pecah kaca jendela tebal di sisi luar ruang VIP. Kini nampak keduanya telah sama-sama berdiri di samping halaman ‘Big House’. *** Sementara itu, tiga jam sebelum pertarungan antara Bimo dan Ki Sindulaga terjadi. Ratri dan Wulan telah tiba di rumah orangtua mereka. Nampak terjadi kehebohan, saat Desi dan Wulan saling berlari mendekat, lalu berakhir dengan pelukkan hangat dan erat di antara keduanya. Mereka berdua menangis tersedu dalam pelukkan, Desi tersedu Wulan terisak, pipi keduanya membanjir dengan buliran bening air mata. “Mamahh! jangan tinggalin Desi lagi Mahh.! Huhuhuu!” seru Desi di antara sedu sedannya, sambil menyurungkan wajahnya di dada sang mamah. “Tidak! Desi sayang. Mamah janji nggak

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-16
  • Hasrat sang Konsultan Idaman   Bab 86.

    Scraatzzhk..! Jlegarrsshk..!...Seketika dari langit menyambar halilintar keemasan yang langsung menerpa Ki Naga Kencana di tangan Bimo. Krrtzzs..! Krretzz..!!Tampak sekumpulan lidah petir keemasan menyelubungi Ki Naga Kencana. Cahayanya berkeredepan sungguh menyilaukan mata. Bisa dipastikan daya tegangan ratusan kilo volt Guntur Kencana telah menyatu, pada bilah keris Ki Naga Kencana saat itu. Karena memang Ki Naga Kencana dan Guntur Kencana, merupakan satu paket dalam ajian pamungkas Bimo..!'Hahh..! Gila si Bimo itu..! Rupanya dia pemilik Ki Naga Kencana, yang sudah lenyap berabad silam..!' bathin Ki Sindulaga terkejut gentar. Namun Ki Sindulaga tentu saja sudah tak bisa mundur lagi dari medan laga. Nampak aliran listrik di sekitar perumahan The Rich berkelipan nyala mati, akibat terhisap oleh ajian Petir Nerakanya. "Matilah kau bocah.! Hiyaahh.!" Sprattzzhh..!! Lesatan kilatan energi listrik merah kehitaman mengarah pada Bimo. "Hiaahh..!" Spraatzzhks..!! Bimo berseru la

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-17
  • Hasrat sang Konsultan Idaman   Bab 87.

    "Baik Mbak Ratri. Tapi baiknya kita mampir dulu ke rumahku," ujar Bimo. "Wah, baik Bimo. Apakah rumahmu jauh dari sini Bimo..?" "Tak jauh kok Mbak. Tak sampai 15 menit perjalanan juga kita akan sampai," sahut Bimo tersenyum. 'Asik..! Akhirnya aku bisa tahu rumahnya..!' bathin Ratri bersorak senang. "Bimo saja yang mengemudikan mobilku ya. Biar lebih cepat sampai," ujar Ratri. "Wah, sebaiknya Mbak Ratri saja yang mengemudikan mobilnya. A-aku belum belajar mengemudikan mobil," ujar Bimo agak jengah, denagan wajah kikuk. "Ahh..! Hihihii..! Tak apa Bimo. Baiklah aku saja yang mengemudi ya," sentak Ratri seraya tertawa geli. Ya, Ratri mengira Bimo pastinya bisa mengemudikan mobil, setelah melihat mobil berkelas Bimo waktu itu. Akhirnya mereka menuju ke rumah Bimo. Dan tak sampai 15 menit, mereka telah sampai di kediaman Bimo.Bimo pun langsung persilahkan Ratri duduk di teras rumahnya."Mbak Ratri tunggulah sebentar ya. Aku hanya mau berganti pakaian, dan membawa motorku saja.," uj

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-17

Bab terbaru

  • Hasrat sang Konsultan Idaman   Bab 167.

    "Ahh..! B-baiklah Kang..! K-kami menyerah..!" seru gugup dan gentar Denta. Kini terbuka sudah matanya, bahwa yang tengah dihadapinya bukanlah sembarang orang. "A-ampun Kang..!" "Tobat Kang..!" Pengakuan menyerah Denta, segera diikuti seruan-seruan minta ampun dari para anggotanya yang kesemuanya masih terkapar di tanah. Nampak senjata-senjata rusak dan patah para anggota gank, yang berserakkan di tanah. "Gelo..!" "Luar biasa..!" "S-siapa dia..?!" Seruan kaget dan takjub juga keluar dari mulut para karyawan dan security cafe itu, yang menyaksikan pengeroyokkan gank Road Spiders pada Bimo. Mereka selama ini memang tak berani melaporkan tindak semena-mena anggota gank itu pada polisi. Karena mereka sadar dan takut akan balasan para anggota gank Road Spiders, yang jumlahnya ratusan orang itu. Ya, kekaguman dan rasa takjub menyelimuti hati mereka semuanya, setelah melihat kemampuan Bimo yang berada di luar nalar dan sangat menggetarkan nyali itu. "Baik..! Mulai saat ini anggap s

  • Hasrat sang Konsultan Idaman   Bab 166.

    Seth..! Denta dan anggota lainnya pun serentak menoleh ke arah Bimo, seraya ganti menatap layar ponsel itu. Dan.. "Hmm..! Mari kita kepung dia..!" bisik tajam Denta, seraya beranjak berdiri dari duduknya. Serentak seluruh gerombolan itu pun berdiri, dan melangkah ke arah Bimo berada. 'Hmm. Mereka telah mengenaliku rupanya', bathin Bimo, seraya tetap duduk tenang di kursinya. Bimo seolah tak melihat pergerakkan gerombolan itu, yang tengah mengelilingi pohon yang menaungi mejanya. Slakh..! Slagh..! ... Sregh..! Beberapa anggota nampak telah mengunus dan mengeluarkan senjata kesayangan mereka masing-masing. Karambit, pisau lipat, celurit kecil, knuckle, bahkan pistol pun terlihat dalam genggaman anggota gerombolan itu. Dengan dikelilinginya meja Bimo, maka otomatis pengunjung lain tak bisa lagi melihat posisi Bimo saat itu. Dan para pengunjung pun langsung keluar dari cafe itu dengan tergesa, takut terkena sasaran dari kerusuhan yang mereka duga pasti akan terjadi itu. Maka otomat

  • Hasrat sang Konsultan Idaman   Bab 165.

    'Ahh..! Tubuhnya masih diselimuti aura hijau itu', bathin Bimo. Dia pun kembali menutup mata bathinnya terhadap Lidya. Namun diam-diam kini timbul pertanyaan dan keheranan di hati Bimo terhadap Lidya. Ya, benda apa sesungguhnya yang berada dalam kantung merah dalam tas tangan Lidya, yang dilihatnya kemarin malam itu..?Karena benda itulah, yang menjadi sumber pancaran aura hijau, yang menyelimuti sosok Lidya. "Mas Bimo, duduklah. Ada camilan dan wedang jahe merah kesukaanmu nih. Bi Inah khusus membuatkannya buat Mas bImo," ujar Lidya tersenyum. "Wah..! Bi Inah tahu saja kesukaanku Lidya. Hehe," ujar Bimo terkekeh senang. Dan pembicaraan hangat dan santai pun terjadi di teras belakang kediaman Lidya itu. *** Sementara malam itu, di markas pusat gank Blantix yang telah diambil alih dan dikuasai oleh gank Shadow pimpinan Yoga. "Baik..! Kuputuskan 40 anggota Sahdow akan ikut aku ekspansi ke Kajarta..! Edo, kau paketkan 40 motor kita via ekspedisi. Kita akan jemput langsung motor i

  • Hasrat sang Konsultan Idaman   Bab 164.

    Segumpalan asap hitam melayang di atas gedung Winata Group, gumpalan asap hitam itu bagai menyatu dengan kegelapan malam di angkasa. Dan saat Porsche merah yang dikemudikan Lidya meluncur keluar dari gedung Winata Group. 'Hmm. Itu dia..!' bathin sukma Andrew. Dan gumpalan asap hitam pekat itu pun ikut melayang cepat di atas ketinggian, mengikuti ke mana arah Porsche merah Lidya melaju. Sementara perbincangan hangat dan santai terus berlangsung antara Bimo dan Lidya di dalam mobil. Bimo merasa senang, melihat Lidya kini telah kembali ceria dan bisa melupakan rasa dukanya. Dan saat itu Bimo memang sama sekali tak menyadari, jika mereka tengah dikuntit dari ketinggian angkasa oleh Andrew. Ya, Andrew memang telah menerapkan ilmu 'Tabir Wujud'nya saat itu, sehingga pancaran aura sukma dan energinya tak terdeteksi oleh Bimo. Sementara Bimo sendiri masih menutup mata bathinnya pada Lidya, hingga sedikit banyak hal itu mempengaruhi kepekaan bathinnya akan keberadaan Andrew. Tutt.. Tut

  • Hasrat sang Konsultan Idaman   Bab 163.

    "Terimakasih Mas Bimo, Lily. Kesepakatan akhirnya berakhir saling menguntungkan bagi Winata Group. Karena 45 Triliun bukanlah jumlah yang sedikit dalam investasi itu," ujar Hendra tersenyum puas, di sofa ruang kerja pribadinya. Ya, di ruang pribadi Hendra saat itu, memang hanya ada Bimo dan Lidya yang duduk menemaninya. "Syukurlah Pak Hendra. Bimo ikut senang mendengar kelancaran lobi Winata Group hari ini," sahut Bimo tersenyum. "Pah. Apakah Papah tak merasakan hal aneh, saat tadi berjabat tangan dengan si Andrew itu..?" tanya Lidya. "Hmm. Rasanya memang agak dingin tangan si Andrew itu tadi Lidya. Seperti... seperti.. "Seperti orang yang sudah mati ya Pah..?" "Wah..! I-iya benar Lidya, seperti itulah..!" sentak terbata Hendra, membenarkan pendapat putrinya itu. "Wah..! Selain dingin, Lidya bahkan merasa ada arus listrik kecil yang seperti menarik-narik aliran darah di tubuh Lidya, Ayah..!" "Ahh..! Begitukah..? Apa artinya itu Mas Bimo..?" seru kaget Hendra, dia pun langsung

  • Hasrat sang Konsultan Idaman   Bab 162.

    'Brengsek..! Powernya mampu mengimbangiku..! Siapa dia sebenarnya..?!' maki bathin Andrew lagi. Kini dirinya bertambah murka dan penasaran dengan sosok Bimo. Namun Andrew sadar misi utamanya saat itu adalah menggolkan lobi Pieter, demi kejayaan Livingstone Group. Maka dia pun menahan sementara amarahnya pada Bimo. Namun Andrew juga maklum, tak urung dirinya juga akan berhadapan dengan Bimo. Karena tak mungkin Bimo akan berdiam diri, melihat 'aksinya' terhadap Hendra di dalam ruang lobi. Satu jam sudah lobi berjalan antara Pieter dan Hendra di dalam ruangan tertutup itu. Dan seperti hal yang sudah biasa dilakukan oleh Andrew, dia pun bersiap melakukan misinya. Untuk merasuki dan mengendalikan lawan lobi Pieter, Hendra Winata..! 'Hmm. Dia mulai beraksi', bathin Bimo yang mulai merasakan pancaran power yang menguat dari Andrew. Lalu... Sshhssp..! Dan secara tak kasat mata, nampak gumpalan asap hitam yang keluar dari kepala Andrew. Lalu asap hitam itu pun berhembus masuk menembus ke

  • Hasrat sang Konsultan Idaman   Bab 161.

    'Hmm. Akhirnya aku bisa melihat kembali ceriamu Lidya..', bathin Bimo lega.Ya, walau sampai saat itu Bimo masih menutup mata bathinnya pada Lidya. Namun Bimo masih merasakan tarikkan kuat dari pesona Lidya padanya. Hal yang menandakan selimut aura hijau masih menyelimuti sosok Lidya. Dan memang Lidya saat itu telah memasukkan benda wasiat dari neneknya ke saku jasnya. Hal yang membuat dirinya merasa sejuk dan nyaman karenanya. Akhirnya Bimo dan Lidya pun berangkat dengan mengendarai Phorsche merahnya, karena audi hitam kesukaannya masih di rumah mendiang neneknya. Tak lama kemudian mereka pun tiba dan langsung masuk ke dalam gedung megah menjulang PT. Winata Group. *** Sementara di dalam sebuah limo yang tengah meluncur dan berkaca gelap, yang dikawal oleh dua mobil di depan dan tiga mobil di belakang mobil Limo itu. Tutt.. Tutt..! Klikh..! "Ya Tuan Hendra." Sahut seoarng pria paruh baya berambut blonde klimis, yang duduk di dampingi seorang pemuda tampan di sisinya yang jug

  • Hasrat sang Konsultan Idaman   Bab 160.

    'Tapi sebenarnya benda apa yang ada di kantung merah itu..? Aku merasa aura hijau yang menyelimuti Lidya, berasal dari benda di dalam kantung merah itu', bathin Bimo penasaran. Akhirnya setelah sekilas mempelajari profil Pieter dan Livingstone Group di laptop, Bimo pun tidur dengan pulas di kamarnya. Pada jam 3 lewat Bimo pun kembali terbangun. Dan seperti biasanya, dia pun langsung melakukan hening di dalam kamar yang cukup luas itu. *** Pagi harinya. Entah kenapa Lidya merasa enggan mengetuk pintu kamar Bimo, untuk mengingatkannya tentang acara penting kantornya hari itu.Ya, Lidya ternyata masih merasa jengah dan risih, karena mengingat kejadian semalam bersama Bimo di kamarnya. Namun Lidya juga takut Bimo masih tertidur pulas di dalam kamar. Akhirnya, Lidya pun menyuruh Bi Inah, untuk mengetuk kamar Bimo. Tok, tok, tok..! "Mas Bimo. Non Lidya sudah menanti di meja makan," ujar Bi Inah setelah mengetuk pintu kamar Bimo. Sementara dari ruang makan. Lidya yang telah duduk di

  • Hasrat sang Konsultan Idaman   Bab 159.

    "Hei..! M-mas Bimo..! K-kau kena.. Mmhhf..!... Seruan Lidya sontak langsung terbungkam, saat dengan cepat Bimo melumat bibirnya. Ya, rasa kerinduan yang aneh dan tak tertahankan, tiba-tiba saja melanda hati Bimo. Bagaikan seorang pria yang sekian lamanya tak bertemu dengan kekasihnya. Dan hal itu terjadi murni karena dorongan dari hati Bimo, dan bukan karena kutukan Ki Brajangkala. "Mmffh..! Mas B-bimo.. Hhh.. hhh..! I-ini..?!" seru lirih terbata Lidya, setelah menarik wajahnya dari lumatan bibir Bimo, hatinya sungguh tergetar tak karuan. "Kamu cantik sekali Lidya. Aku merindukanmu. Mmffh..!" Bimo bergumam lirih, seraya kembali merencah bbir merekah Lidya dalam lumatan bibirnya. 'Ada apa dengan dirimu Mas Bimo..? Mengapa tiba-tiba seperti ini..?' bathin Lidya heran dan bingung. Namun satu hal yang tak bisa dipungkirinya, dirinya juga menginginkan hal itu terjadi. "Mmhh...". dan pertahanan Lidya pun ikut lepas. Perlahan gadis cantik itu pun memejamkan matanya, pasrah meresapi se

Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status