"Baik Mbak Ratri. Tapi baiknya kita mampir dulu ke rumahku," ujar Bimo. "Wah, baik Bimo. Apakah rumahmu jauh dari sini Bimo..?" "Tak jauh kok Mbak. Tak sampai 15 menit perjalanan juga kita akan sampai," sahut Bimo tersenyum. 'Asik..! Akhirnya aku bisa tahu rumahnya..!' bathin Ratri bersorak senang. "Bimo saja yang mengemudikan mobilku ya. Biar lebih cepat sampai," ujar Ratri. "Wah, sebaiknya Mbak Ratri saja yang mengemudikan mobilnya. A-aku belum belajar mengemudikan mobil," ujar Bimo agak jengah, denagan wajah kikuk. "Ahh..! Hihihii..! Tak apa Bimo. Baiklah aku saja yang mengemudi ya," sentak Ratri seraya tertawa geli. Ya, Ratri mengira Bimo pastinya bisa mengemudikan mobil, setelah melihat mobil berkelas Bimo waktu itu. Akhirnya mereka menuju ke rumah Bimo. Dan tak sampai 15 menit, mereka telah sampai di kediaman Bimo.Bimo pun langsung persilahkan Ratri duduk di teras rumahnya."Mbak Ratri tunggulah sebentar ya. Aku hanya mau berganti pakaian, dan membawa motorku saja.," uj
“Ohgghss.. Bimo..hs..! A.-akuh mau pipishh enaks..!” seru tertahan Ratri. Bibir merah merekahnya seolah kepedasan sambal. Tubuh Ratri makin kencang dan keras menghentak dan menggoyang dalam-dalam junior Bimo. Saat yang sama, Bimo juga merasakan sesuatu yang hendak memancar deras, dari dalam dirinya. Hentakkan-hentakkan ke atas pinggulnya pun semakin kuat, menyambut hunjaman keras ke bawah dari pinggul Ratri. Terlihat tubuh keduanya bagai sedang bergerak agak kaku dan kejang sambil menahan nafasnya. Hingga.. “Ohhssgh..! Bi..mo.sh! Akh-ku sampai..!” Tubuh Ratri pun menghujam keras dan dalam ke arah bawah, lalu tubuhnya melengkung kejang bak udang. Tessh..! Setetes liur Ratri jatuh ke dada Bimo, dari sudut bibirnya yang ternganga tersedak menahan nafas. "Ahhks..! Aku juga sampai Ra..trii..hs..! Arghsk..!" Bimo pun mengerang, dengan tubuh bergetar. Bagai bendungan yang hendak jebol diterjang gelombang tsunami. Bokong padat dan mulus milik Ratri terhentak-henta
"Wulan sayang. Bagaimana jika papah masih memiliki rumah dan juga perusahaan..? Akankah kalian akan menerima papah kembali?” tanya Rahadian. “Tentu saja iya Pah. Jika itu terjadi, kita pasti akan bersama lagi demi Desi,” ucap Wulan tegas. Walau dalam hati, Wulan merasa hal itu takkan mungkin terjadi. “Mah, kalau begitu mari kita kembali sayang. Semua ini berkat Mas Bimo itu Mah,” ucap Rahadian, sambil menyerahkan surat perjanjian terkutuk itu pada Wulan. “A..Apaa Pah..?!” seru kaget Wulan, sambil merebut surat itu dari tangan Rahadian.Wulan membaca surat perjanjian itu, lalu merobek-robeknya dengan penuh rasa emosi. Bergegas dia membuka pintu kamar dan berseru,“Desi..! Kita kembali ke rumah Nak!” seru Wulan, dengan pipi diguliri air mata keharuan dan rasa syukur. Brrmmm ! Ciitt..! Bimo pun tiba di rumah sakit, dia pun langsung menuju ke ruang rawat Rahadian. Nampak Ratri tengah duduk sendiri, di depan ruang rawat Rahadian. "Kenapa nggak masuk saja Mbak Ratri?" sapa Bimo ter
Wrrrnngg..! Menjelang sore hari, sebuah helikopter landing di helipad yang berada di belakang kediaman Bimo. Turun Lidya, Hendra Winata, dan juga Ki Sabdo dari helikopter itu. Sementara Bimo, pak Adi dan istrinya menanti di luar area helipad, menyambut kedatangan mereka."Hai Mas Bimo..! Terkejut dengan kedatangan kami yang tiba-tiba ya..?" seru Lidya seraya tersenyum manis."Halo Lidya, tumben datang tanpa pemberitahuan. Mari kita masuk saja ke dalam Lidya, Pak Hendra, Ki Sabdo," sahut Bimo tersenyum, seraya mempersilahkan mereka semua masuk ke kediamannya. "Senang bertemu kembali denganmu Bimo..!" seru senang Hendra. "Senang juga kembali bertemu Pak Hendra dan Ki Sabdo," ujar Bimo tersenyum anggukkan kepala. Bu Sum dan pak Adi langsung menuju ke ruang belakang, sementara Bimo dan ketiga tamunya itu langsung duduk di ruang tengah. "Sepertinya ada hal penting yang dibawa Pak Hendra kali ini ya," ujar Bimo tenang. Setelah mereka semua duduk di ruang tengah kediamannya. "Tak sa
Namun pertanyaan Lidya itu, seketika malah mengingatkan Bimo pada sosok Devi. Sosok yang masih ada di hatinya hingga saat itu. Bimo langsung berniat menghubungi Devi setelah Lidya pulang nanti. Ya, hati Bimo mendadak merasa begitu rindu, pada Devi malam itu. Tin..! Tinn..! Suara klakson mendahului masuknya sebuah sedan audi hitam, yang langsung parkir di halaman sisi teras kediaman Bimo. "Malam Non Lidya, Mas Bimo," sapa pak Sarman sopan, setelah dia turun dari mobilnya. "Malam Pak Sarman," sahut Bimo tersenyum ramah, seraya anggukkan pelan kepalanya. Sementara Lidya hanya tersenyum pada pak Sarman. Ya, Lidya memang telah meminta pak Sarman untuk menjemputnya di situ, setelah ayahnya dan Ki Sabdo pulang tadi. "Sepertinya aku harus kembali ke rumah sekarang Mas Bimo. Pak Sarman sudah datang menjemputku," ujar Lidya agak enggan. Ya, sesungguhnya Lidya masih menikmati kebersamaannya dengan Bimo. Namun sayangnya, banyak acara dan kegiatan di kantor yang harus d
"Haph!" tanpa ragu Yoga langsung menelan Mustika Naga Hitam yang berpijar itu. "Kkghsk..!" sedak Yoga, karena tenggorokkan Yoga terasa panas membara, dan seolah hendak meledak saat itu..! Namun Yoga tetap bertahan sekuat dayanya, sementara rasa sakit, panas, dan nyeri, kian menggila dirasakannya. Ya, keinginan untuk menjadi sakti dan berjaya menguatkan mental Yoga, untuk tetap bertahan dalam rasa yang menyiksanya itu. 'Lebih baik aku mati..! Daripada terus hidup sebagai brandal kampung seperti ini..!' trkad batin Yoga. Hingga..."Arkhsg..!" Plekh..! Brughk..! Yoga pun akhirnya tumbang dan jatuh tak sadarkan diri di lantai kamar. Akibat tak kuat menahan batas kesadarannya, dalam siksaan rasa sakit itu. *** Sementara Devi tengah termenung di kamarnya malam itu. Dipandanginya wajah Bimo yang ada di galery ponselnya. Ya, gambar itu memang Devi ambil diam-diam di lobi rumah sakiat. Pada saat Bimo menemaninya ke rumah sakit menemui Tante Mira dulu. 'Mas Bimo. Lama sekali kau tak
Splassh..! Sukma Bimo pun lepas di tengah tidur lelapnya, menembus jauh ke masa silam. Masa di mana para leluhurnya berada. Slaph! 'Selamat datang ke pertapaanku Ngger Raden Bimo', sambutan suara bergema terdengar, di dalam sebuah ruangan yang berdinding batu. 'Salam hormat Bimo, Eyang Guru sepuh Pranatha', sahut Bimo, seraya beri hormat dengan tangkupkan dua tapak tangan di depan dada. Ya, Bimo kini mulai bisa menyesuaikan diri dan lakunya di hadapan para leluhurnya."Hmm. Baik Ngger Raden. Sepuh memanggilmu ke sini, karena adanya satu hal yang sangat penting dan berbahaya bagi Ngger Raden. Apakah Ngger Raden merasakan getaran aneh dan meresahkan belum lama tadi..?' 'Benar Eyang sepuh. Menjelang tidur tadi, Bimo memang merasakan angin dingin menerpa dan menusuk, hingga ke dalam sukma. Tapi Bimo sama sekali tak mengerti makna dari kejadian itu, Eyang Guru sepuh'. "Ngger Raden. Ketahuilah, jagad para leluhur kini tengah geger, dengan kemunculan sambaran halilintar naga hitam yan
'Ya..! Pasti ini karena Mustika Naga Hitam yang telah kutelan semalam. Hahaha..! Akhirnya aku akan berjaya..!' sorak bathin Yoga, senang bukan kepalang. Sepasang mata Yoga kini menatap kesal ke aarah sosok mayat ayahnya, yang nampak masih terbujur kaku di lantai kamar itu. 'Huh..! Andai sejak dulu kauberikan saja pusaka turunan itu padaku, pastinya tak perlu aku sampai membunuhmu Ayah..!' bathin Yoga, merasa kesal dan marah pada mendiang ayahnya itu.Ya, tak nampak sama sekali rasa sesal ataupun bersalah dalam diri Yoga. Karena dia telah membunuh ayah kandungnya itu. Sungguh anak durhaka memang si Yoga ini! 'Sebaiknya kukubur saja mayat Ayah di bawah ranjang kesayangannya itu. Sekaligus aku hendak mencoba keampuhan Mustika Naga Hitam dalam diriku', bathin Yoga lagi memutuskan. Dan setelah Yoga menggeser posisi balai bambu itu, maka dengan penuh percaya diri.. Cragkh..! Lantai semen pun remuk dan terangkat seketika oleh cakar tangan Yoga. 'Ahh..! Bisa..! Ternyata aku bisa mengga
'Baiklah..! Nanti malam akan kudatangi kau Lidya!' bathin Andrew, seraya rebahkan diri di ranjang. Lalu sepasang matanya pun terpejam dengan cepat, kaku dan dingin.! Ya, sepertinya Andrew merasa sangat nyaman berada dalam ruang kamarnya yang remang, dengan semua korden yang tertutup rapat. *** Devi tengah bersantai di ruang tengah kantornya saat itu. Dia baru saja selesai menata ruangan kerjanya, dan juga ruang kerja pribadi Bimo. Ngunngg..! Cit..! Tin.. Tinn..! "Ahh..! Mas Bimo datang..!' seru senang bathin Devi, saat melihat sosok Bimo yang masuk ke halaman depan kantor dengan motornya. Dia pun bergegas melangkah ke teras, untuk menyambut Bos sekaligus pria idamannya itu. "Hei Devi..!" seru Bimo, seraya lemparkan senyumnya ke arah Devi. "Wah, Mas Bimo langsung ke sini tho. Kirain pulang dulu ke rumah," ujar Devi balas tersenyum. "Tidak Devi. Ada hal penting yang harus kubicarakan denganmu sebelum kantor kita ini resmi dibuka." "Ok Mas Bimo. Kita masuk saja yuk," ajak Devi t
"Ahh..! B-baiklah Kang..! K-kami menyerah..!" seru gugup dan gentar Denta. Kini terbuka sudah matanya, bahwa yang tengah dihadapinya bukanlah sembarang orang. "A-ampun Kang..!" "Tobat Kang..!" Pengakuan menyerah Denta, segera diikuti seruan-seruan minta ampun dari para anggotanya yang kesemuanya masih terkapar di tanah. Nampak senjata-senjata rusak dan patah para anggota gank, yang berserakkan di tanah. "Gelo..!" "Luar biasa..!" "S-siapa dia..?!" Seruan kaget dan takjub juga keluar dari mulut para karyawan dan security cafe itu, yang menyaksikan pengeroyokkan gank Road Spiders pada Bimo. Mereka selama ini memang tak berani melaporkan tindak semena-mena anggota gank itu pada polisi. Karena mereka sadar dan takut akan balasan para anggota gank Road Spiders, yang jumlahnya ratusan orang itu. Ya, kekaguman dan rasa takjub menyelimuti hati mereka semuanya, setelah melihat kemampuan Bimo yang berada di luar nalar dan sangat menggetarkan nyali itu. "Baik..! Mulai saat ini anggap s
Seth..! Denta dan anggota lainnya pun serentak menoleh ke arah Bimo, seraya ganti menatap layar ponsel itu. Dan.. "Hmm..! Mari kita kepung dia..!" bisik tajam Denta, seraya beranjak berdiri dari duduknya. Serentak seluruh gerombolan itu pun berdiri, dan melangkah ke arah Bimo berada. 'Hmm. Mereka telah mengenaliku rupanya', bathin Bimo, seraya tetap duduk tenang di kursinya. Bimo seolah tak melihat pergerakkan gerombolan itu, yang tengah mengelilingi pohon yang menaungi mejanya. Slakh..! Slagh..! ... Sregh..! Beberapa anggota nampak telah mengunus dan mengeluarkan senjata kesayangan mereka masing-masing. Karambit, pisau lipat, celurit kecil, knuckle, bahkan pistol pun terlihat dalam genggaman anggota gerombolan itu. Dengan dikelilinginya meja Bimo, maka otomatis pengunjung lain tak bisa lagi melihat posisi Bimo saat itu. Dan para pengunjung pun langsung keluar dari cafe itu dengan tergesa, takut terkena sasaran dari kerusuhan yang mereka duga pasti akan terjadi itu. Maka otomat
'Ahh..! Tubuhnya masih diselimuti aura hijau itu', bathin Bimo. Dia pun kembali menutup mata bathinnya terhadap Lidya. Namun diam-diam kini timbul pertanyaan dan keheranan di hati Bimo terhadap Lidya. Ya, benda apa sesungguhnya yang berada dalam kantung merah dalam tas tangan Lidya, yang dilihatnya kemarin malam itu..?Karena benda itulah, yang menjadi sumber pancaran aura hijau, yang menyelimuti sosok Lidya. "Mas Bimo, duduklah. Ada camilan dan wedang jahe merah kesukaanmu nih. Bi Inah khusus membuatkannya buat Mas bImo," ujar Lidya tersenyum. "Wah..! Bi Inah tahu saja kesukaanku Lidya. Hehe," ujar Bimo terkekeh senang. Dan pembicaraan hangat dan santai pun terjadi di teras belakang kediaman Lidya itu. *** Sementara malam itu, di markas pusat gank Blantix yang telah diambil alih dan dikuasai oleh gank Shadow pimpinan Yoga. "Baik..! Kuputuskan 40 anggota Sahdow akan ikut aku ekspansi ke Kajarta..! Edo, kau paketkan 40 motor kita via ekspedisi. Kita akan jemput langsung motor i
Segumpalan asap hitam melayang di atas gedung Winata Group, gumpalan asap hitam itu bagai menyatu dengan kegelapan malam di angkasa. Dan saat Porsche merah yang dikemudikan Lidya meluncur keluar dari gedung Winata Group. 'Hmm. Itu dia..!' bathin sukma Andrew. Dan gumpalan asap hitam pekat itu pun ikut melayang cepat di atas ketinggian, mengikuti ke mana arah Porsche merah Lidya melaju. Sementara perbincangan hangat dan santai terus berlangsung antara Bimo dan Lidya di dalam mobil. Bimo merasa senang, melihat Lidya kini telah kembali ceria dan bisa melupakan rasa dukanya. Dan saat itu Bimo memang sama sekali tak menyadari, jika mereka tengah dikuntit dari ketinggian angkasa oleh Andrew. Ya, Andrew memang telah menerapkan ilmu 'Tabir Wujud'nya saat itu, sehingga pancaran aura sukma dan energinya tak terdeteksi oleh Bimo. Sementara Bimo sendiri masih menutup mata bathinnya pada Lidya, hingga sedikit banyak hal itu mempengaruhi kepekaan bathinnya akan keberadaan Andrew. Tutt.. Tut
"Terimakasih Mas Bimo, Lily. Kesepakatan akhirnya berakhir saling menguntungkan bagi Winata Group. Karena 45 Triliun bukanlah jumlah yang sedikit dalam investasi itu," ujar Hendra tersenyum puas, di sofa ruang kerja pribadinya. Ya, di ruang pribadi Hendra saat itu, memang hanya ada Bimo dan Lidya yang duduk menemaninya. "Syukurlah Pak Hendra. Bimo ikut senang mendengar kelancaran lobi Winata Group hari ini," sahut Bimo tersenyum. "Pah. Apakah Papah tak merasakan hal aneh, saat tadi berjabat tangan dengan si Andrew itu..?" tanya Lidya. "Hmm. Rasanya memang agak dingin tangan si Andrew itu tadi Lidya. Seperti... seperti.. "Seperti orang yang sudah mati ya Pah..?" "Wah..! I-iya benar Lidya, seperti itulah..!" sentak terbata Hendra, membenarkan pendapat putrinya itu. "Wah..! Selain dingin, Lidya bahkan merasa ada arus listrik kecil yang seperti menarik-narik aliran darah di tubuh Lidya, Ayah..!" "Ahh..! Begitukah..? Apa artinya itu Mas Bimo..?" seru kaget Hendra, dia pun langsung
'Brengsek..! Powernya mampu mengimbangiku..! Siapa dia sebenarnya..?!' maki bathin Andrew lagi. Kini dirinya bertambah murka dan penasaran dengan sosok Bimo. Namun Andrew sadar misi utamanya saat itu adalah menggolkan lobi Pieter, demi kejayaan Livingstone Group. Maka dia pun menahan sementara amarahnya pada Bimo. Namun Andrew juga maklum, tak urung dirinya juga akan berhadapan dengan Bimo. Karena tak mungkin Bimo akan berdiam diri, melihat 'aksinya' terhadap Hendra di dalam ruang lobi. Satu jam sudah lobi berjalan antara Pieter dan Hendra di dalam ruangan tertutup itu. Dan seperti hal yang sudah biasa dilakukan oleh Andrew, dia pun bersiap melakukan misinya. Untuk merasuki dan mengendalikan lawan lobi Pieter, Hendra Winata..! 'Hmm. Dia mulai beraksi', bathin Bimo yang mulai merasakan pancaran power yang menguat dari Andrew. Lalu... Sshhssp..! Dan secara tak kasat mata, nampak gumpalan asap hitam yang keluar dari kepala Andrew. Lalu asap hitam itu pun berhembus masuk menembus ke
'Hmm. Akhirnya aku bisa melihat kembali ceriamu Lidya..', bathin Bimo lega.Ya, walau sampai saat itu Bimo masih menutup mata bathinnya pada Lidya. Namun Bimo masih merasakan tarikkan kuat dari pesona Lidya padanya. Hal yang menandakan selimut aura hijau masih menyelimuti sosok Lidya. Dan memang Lidya saat itu telah memasukkan benda wasiat dari neneknya ke saku jasnya. Hal yang membuat dirinya merasa sejuk dan nyaman karenanya. Akhirnya Bimo dan Lidya pun berangkat dengan mengendarai Phorsche merahnya, karena audi hitam kesukaannya masih di rumah mendiang neneknya. Tak lama kemudian mereka pun tiba dan langsung masuk ke dalam gedung megah menjulang PT. Winata Group. *** Sementara di dalam sebuah limo yang tengah meluncur dan berkaca gelap, yang dikawal oleh dua mobil di depan dan tiga mobil di belakang mobil Limo itu. Tutt.. Tutt..! Klikh..! "Ya Tuan Hendra." Sahut seoarng pria paruh baya berambut blonde klimis, yang duduk di dampingi seorang pemuda tampan di sisinya yang jug
'Tapi sebenarnya benda apa yang ada di kantung merah itu..? Aku merasa aura hijau yang menyelimuti Lidya, berasal dari benda di dalam kantung merah itu', bathin Bimo penasaran. Akhirnya setelah sekilas mempelajari profil Pieter dan Livingstone Group di laptop, Bimo pun tidur dengan pulas di kamarnya. Pada jam 3 lewat Bimo pun kembali terbangun. Dan seperti biasanya, dia pun langsung melakukan hening di dalam kamar yang cukup luas itu. *** Pagi harinya. Entah kenapa Lidya merasa enggan mengetuk pintu kamar Bimo, untuk mengingatkannya tentang acara penting kantornya hari itu.Ya, Lidya ternyata masih merasa jengah dan risih, karena mengingat kejadian semalam bersama Bimo di kamarnya. Namun Lidya juga takut Bimo masih tertidur pulas di dalam kamar. Akhirnya, Lidya pun menyuruh Bi Inah, untuk mengetuk kamar Bimo. Tok, tok, tok..! "Mas Bimo. Non Lidya sudah menanti di meja makan," ujar Bi Inah setelah mengetuk pintu kamar Bimo. Sementara dari ruang makan. Lidya yang telah duduk di