"D-dia ada di kamarnya, di lantai dua Pak Anton..! Tapi bukankah Wulan tak ikut dalam pertaruhan kita Pak Anton,” sahut Rahadian gugup. “Tolong jangan berlagak bodoh Rahadian. Sudah jelas dalam perjanjian kita dikatakan, 'rumah dan seisinya' kecuali kau dan putrimu. Itu artinya, istrimu masuk dalam isi rumah ini Rahadian. Apakah masih kurang jelas ?” ucap Anton sambil tersenyum tenang. Merinding kuduk Rahadian, saat dia melihat senyum misterius Anton itu. “M-mengerti Pak Anton,” sahut Rahadian terbata gentar.“Sekarang, antarkan aku ke kamar bekas istrimu! Karena mulai saat ini, dia trlah menjadi milikku,” ucap Anton santai. “Jerry..!” seru Anton, pada orangnya yang berjaga di depan pintu rumah. “Siap Bos!” sahut Jerry, lalu dia pun berjalan mengikuti bosnya. Rahadian berjalan dengan langkah agak berat. Sakit sekali rasanya, mengetahui wanita yang disayanginya akan ‘dipakai’ oleh orang lain. “Heii..! Cepatlah! Jalanmu seperti keong saja!" Duk ! Bentak Jerry pada Rahadian, sam
"Ahhs..!" terlepas sudah desahan kedua Wulan, tubuhnya nampak agak bergetar dengan pinggul kencangnya menyentak. Ya, sekuat-kuatnya Wulan bertahan dari rasa geli dan nikmat yang menderanya. Dia tetaplah wanita biasa, yang memiliki daya batasnya. Apalagi Anton memperlakukannya dengan sangat lembut. Maka secara perlahan, mulai runtuhlah pertahanan rasa malu pada Rahadian, dan juga gengsinya pada Anton. Sementara Anton mulai naik dan menyusuri buah kembar kenyal milik Wulan. Kedua buah kembar itu mencuat kencang menantang, dengan kemulusan kulit yang sempurna. Lidah Anton pun bermain di puncak buah kembar itu, menggigit kecil seraya menghisapnya. “Awhh..” Wulan kembali melepaskan lenguhan nikmat yang ketiga kalinya. Wulan terus berusaha sekuat daya, agar tak terlihat menikmati permainan lembut Anton pada tubuhnya. Namun sepertinya lisan Wulan berkata lain. Sementara Rahadian hanya menundukkan pandangannya ke bawah, sambil memejamkan matanya. Sakit, perih, marah, terluka, namun t
"Ahks..!" Brugh..! Rahadian berseru keras, lalu ambruk ke lantai dengan mata berkunang-kunang. Beruntung dia tidak sampai pingsan. Tubuhnya lalu langsung diseret keluar kamar oleh Jerry. Dan tak lama kemudian. Nampak keluar dua sosok ayah dan anak, dari rumah mewah dan megah itu. Dua sosok yang adalah Rahadian dan putrinya Desi itu, mereka pergi tanpa membawa apapun. Mereka berjalan menjauhi rumah mereka sendiri. Karena mereka diancam akan ditembak, jika tak meninggalkan rumah itu. Judi..! Suatu permainan dan pertaruhan, yang bisa mengangkat derajat gembel menjadi sultan dalam semalam. Namun sebaliknya, judi juga bisa menjadikan seorang sultan menjadi gembel terendah. Hanya dalam waktu semalam.!Begitulah karma yang sedang dijalani Rahadian, akibat berjudi..!*** Sementara Bimo baru saja menyelesaikan acara makan siangnya. Ya siang itu Bimo memang sedang ingin makan di rumah makan 'Asri', yang hanya berjarak 100 meteran dari kediamannya itu. Rumah makan itu tak begitu rama
“Sebentar Pak,” ucap Bimo, sambil menepuk pundak kanan Rahadian. Dan saat Rahadian menoleh ke kanan, tangan Bimo cepat sekali memasukkan uang 500 ribu ke saku piyama Rahadian. Sungguh gerakkan yang cepat sekali dari Bimo, hingga tak terasa oleh Rahadian. Bahkan si Bibi yang masih menatap mereka pun tak mengetahuinya. “Ya Mas, kenapa ?” tanya Rahadian agak bingung. Karena dia merasa tak mengenal Bimo. “Ahh, tak apa-apa Pak. Maaf saya kira Bapak orang yang saya kenal,” sahut Bimo tersenyum, sambil mengusap lembut kepala Desi. Rahadian dan putrinya kembali berjalan, meninggalkan rumah makan itu. Bimo pun kembali duduk di kursinya. Namun baru saja ia meneguk habis es teh manisnya, dan bermaksud kembali ke kediamannya.Tiinnnn... !! Ciiittttttttt..!! Daagh..! Bimo terkejut, saat sebuah sedan hitam terlihat melintas cepat di depan rumah makan. Lalu terdengar bunyi klakson panjang disertai rem mendecit dalam, dan suara hantaman keras. Brrrmmmm..!! Ngunnnggg !!” “Papahhhh..!!” Itu
‘Syukurlah kau bisa ceria lagi Desi’, bathin Bimo senang. Bimo mengajak si gadis kecil itu ke minimarket terdekat di sekitar rumah sakit itu. Di sana Bimo membebaskan Desi, untuk memilih apa saja yang dia suka. Desi seperti menemukan kembali keceriaannya. Dia berjalan ke sana ke mari memilih camilan yang disukainya, dan roti mocca keju kegemaran ayahnya juga ikut diambilnya. Terakhir dia mengambil es krim rasa strawberry kesukaannya, dan rasa durian kesukaan ayahnya. Bimo hanya melihat saja tingkah anak itu sambil tersenyum geli, ‘anak pintar ingat orangtua’, pikir Bimo. 'Hmm..! Jahat sekali orang yang mengusir mereka begitu saja dari rumahnya. Tanpa dibolehkan membawa selembar pun pakaian mereka..!' bathin Bimo geram. Bimo bermaksud mengambilkan pakaian mereka, yang di tinggal begitu saja di rumah mereka. 'Kebetulan alamat mereka tak jauh dari rumahku. Baik, akan kusempatkan mampir ke rumah itu!' bathin Bimo bertekad. Ya, Bimo sempat melihat alamat yang tertera
Klik..! "Ya, siapa..?" sahut Bimo. “Saya Bu Harti, pengelola panti Payung Ibu. Maaf sebelumnya, apakah saya sedang bicara dengan Mas Bimo..?” "Benar Bu Harti. Rasanya kita pernah bertemu di panti dulu. Bagaimana kabarnya panti dan adik-adik Bu..?" "Benar Mas Bimo. Rasanya ibu juga masih ingat denganmu yang datang bersama Maya. Karena ibu juga dapat nomormu ini dari Maya. Keadaan kami di panti saat ini sangat baik Mas Bimo. Terlebih setelah Mas Bimo menjadi donatur panti. Ibu sengaja menghubungimu, untuk mengucapkan langsung rasa terimakasih ibu, atas nama panti Payung Ibu. Mas Bimo, terimakasih sekali ya. Sekarang semua adik-adik panti sudah bersekolah, kondisi bangunan panti juga sudah rapih dan kuat kembali. Tsk, tsk..!Ibu dan adik-adik di panti ini hanya bisa mendoakan agar segala kebaikkan, kemudahan, dan keselamatan, selalu tercurah buat Mas Bimo. Aamiin.. Tsk, tsk..!" Terdengar suara isak tangis Bu Harti, saat dia mengucapkan terimakasih dan do'anya pada Bimo. Hal itu
Mobil itu pun langsung melesat cepat menuju alamat yang disebutkan Bimo. Tak lama kemudian mobil Bimo sudah masuk ke jalan raya Flamboyan. "Kurangi kecepatan Pak Atmo. Kita mencari rumah nomor 7," ujar Bimo mengarahkan drivernya. Sementara hari sudah menjelang malam, adzan magribh pun baru saja berkumandang.Sementara itu Ratri dan Desi sudah sampai di depan pagar gerbang rumah kakaknya. Ratri menghentikan mobilnya, lalu ia turun mendekat ke pagar gerbang. Tampak rumah kakaknya agak gelap, hanya beberapa lampu saja yang dinyalakan di depan rumah. ‘Tidak seperti biasanya’, gumam bathin Ratri heran. “Hey..! Siapa kamu..?!” bentak seorang lelaki berkaos dan bercelana hitam, di pos jaga rumah. Di dalam pos itu nampak 3 orang lainnya, dengan seragam yang sama. “Kalian yang siapa..?! Aku mau bertemu Wulan kakakku..!” seru Ratri tak kalah set, bernyali juga dokter cantik yang satu ini. “Apa?! Cewek sialan..! Berani kau melawan kami..? Hahahaa..!" seru seorang di anatara mereka, samb
“Tolongggg..!! Lepaskan ak..hhapphhh..! teriakkan Ratri terhenti di tengah jalan, karena seorang pengawal segera membekapnya. Namun teriakkan yang sekejap saja dari Ratri itu. Rupanya sudah sangat cukup bagi Bimo, yang pada saat itu mobilnya melintas tak jauh dari lokasi. Klekh.! Sethh.! Bimo langsung membuka pintu mobilnya dan melesat cepat kerahkan aji 'Bayu Lampah'nya. "Haahh..!" Ciitt..! Atmo terkejut bukan main, melihat Bimo bisa melesat keluar mobil begitu saja bagaikan hantu. Bimo melesat ringan melompati gerbang pagar, dan langsung mendarat di depan pos jaga. Taph..! “Heyy !! .... belum sempat seorang pengawal berkata..Bughk..! ... Daghk..!! Bimo langsung membagikan pukulan dan tendangan bertenaga dalamnya, pada keempat pengawal Anton itu.Bimo menendang belakang leher, memukul leher samping, menyikut ulu hati, dan terakhir menendang perut dengan siku dengkulnya. “Arghh..! Akhs..! ... Heghh !” seruan kaget dan kesakitan pun terdengar susul menyusul. Ke empat peng
"Ahh..! B-baiklah Kang..! K-kami menyerah..!" seru gugup dan gentar Denta. Kini terbuka sudah matanya, bahwa yang tengah dihadapinya bukanlah sembarang orang. "A-ampun Kang..!" "Tobat Kang..!" Pengakuan menyerah Denta, segera diikuti seruan-seruan minta ampun dari para anggotanya yang kesemuanya masih terkapar di tanah. Nampak senjata-senjata rusak dan patah para anggota gank, yang berserakkan di tanah. "Gelo..!" "Luar biasa..!" "S-siapa dia..?!" Seruan kaget dan takjub juga keluar dari mulut para karyawan dan security cafe itu, yang menyaksikan pengeroyokkan gank Road Spiders pada Bimo. Mereka selama ini memang tak berani melaporkan tindak semena-mena anggota gank itu pada polisi. Karena mereka sadar dan takut akan balasan para anggota gank Road Spiders, yang jumlahnya ratusan orang itu. Ya, kekaguman dan rasa takjub menyelimuti hati mereka semuanya, setelah melihat kemampuan Bimo yang berada di luar nalar dan sangat menggetarkan nyali itu. "Baik..! Mulai saat ini anggap s
Seth..! Denta dan anggota lainnya pun serentak menoleh ke arah Bimo, seraya ganti menatap layar ponsel itu. Dan.. "Hmm..! Mari kita kepung dia..!" bisik tajam Denta, seraya beranjak berdiri dari duduknya. Serentak seluruh gerombolan itu pun berdiri, dan melangkah ke arah Bimo berada. 'Hmm. Mereka telah mengenaliku rupanya', bathin Bimo, seraya tetap duduk tenang di kursinya. Bimo seolah tak melihat pergerakkan gerombolan itu, yang tengah mengelilingi pohon yang menaungi mejanya. Slakh..! Slagh..! ... Sregh..! Beberapa anggota nampak telah mengunus dan mengeluarkan senjata kesayangan mereka masing-masing. Karambit, pisau lipat, celurit kecil, knuckle, bahkan pistol pun terlihat dalam genggaman anggota gerombolan itu. Dengan dikelilinginya meja Bimo, maka otomatis pengunjung lain tak bisa lagi melihat posisi Bimo saat itu. Dan para pengunjung pun langsung keluar dari cafe itu dengan tergesa, takut terkena sasaran dari kerusuhan yang mereka duga pasti akan terjadi itu. Maka otomat
'Ahh..! Tubuhnya masih diselimuti aura hijau itu', bathin Bimo. Dia pun kembali menutup mata bathinnya terhadap Lidya. Namun diam-diam kini timbul pertanyaan dan keheranan di hati Bimo terhadap Lidya. Ya, benda apa sesungguhnya yang berada dalam kantung merah dalam tas tangan Lidya, yang dilihatnya kemarin malam itu..?Karena benda itulah, yang menjadi sumber pancaran aura hijau, yang menyelimuti sosok Lidya. "Mas Bimo, duduklah. Ada camilan dan wedang jahe merah kesukaanmu nih. Bi Inah khusus membuatkannya buat Mas bImo," ujar Lidya tersenyum. "Wah..! Bi Inah tahu saja kesukaanku Lidya. Hehe," ujar Bimo terkekeh senang. Dan pembicaraan hangat dan santai pun terjadi di teras belakang kediaman Lidya itu. *** Sementara malam itu, di markas pusat gank Blantix yang telah diambil alih dan dikuasai oleh gank Shadow pimpinan Yoga. "Baik..! Kuputuskan 40 anggota Sahdow akan ikut aku ekspansi ke Kajarta..! Edo, kau paketkan 40 motor kita via ekspedisi. Kita akan jemput langsung motor i
Segumpalan asap hitam melayang di atas gedung Winata Group, gumpalan asap hitam itu bagai menyatu dengan kegelapan malam di angkasa. Dan saat Porsche merah yang dikemudikan Lidya meluncur keluar dari gedung Winata Group. 'Hmm. Itu dia..!' bathin sukma Andrew. Dan gumpalan asap hitam pekat itu pun ikut melayang cepat di atas ketinggian, mengikuti ke mana arah Porsche merah Lidya melaju. Sementara perbincangan hangat dan santai terus berlangsung antara Bimo dan Lidya di dalam mobil. Bimo merasa senang, melihat Lidya kini telah kembali ceria dan bisa melupakan rasa dukanya. Dan saat itu Bimo memang sama sekali tak menyadari, jika mereka tengah dikuntit dari ketinggian angkasa oleh Andrew. Ya, Andrew memang telah menerapkan ilmu 'Tabir Wujud'nya saat itu, sehingga pancaran aura sukma dan energinya tak terdeteksi oleh Bimo. Sementara Bimo sendiri masih menutup mata bathinnya pada Lidya, hingga sedikit banyak hal itu mempengaruhi kepekaan bathinnya akan keberadaan Andrew. Tutt.. Tut
"Terimakasih Mas Bimo, Lily. Kesepakatan akhirnya berakhir saling menguntungkan bagi Winata Group. Karena 45 Triliun bukanlah jumlah yang sedikit dalam investasi itu," ujar Hendra tersenyum puas, di sofa ruang kerja pribadinya. Ya, di ruang pribadi Hendra saat itu, memang hanya ada Bimo dan Lidya yang duduk menemaninya. "Syukurlah Pak Hendra. Bimo ikut senang mendengar kelancaran lobi Winata Group hari ini," sahut Bimo tersenyum. "Pah. Apakah Papah tak merasakan hal aneh, saat tadi berjabat tangan dengan si Andrew itu..?" tanya Lidya. "Hmm. Rasanya memang agak dingin tangan si Andrew itu tadi Lidya. Seperti... seperti.. "Seperti orang yang sudah mati ya Pah..?" "Wah..! I-iya benar Lidya, seperti itulah..!" sentak terbata Hendra, membenarkan pendapat putrinya itu. "Wah..! Selain dingin, Lidya bahkan merasa ada arus listrik kecil yang seperti menarik-narik aliran darah di tubuh Lidya, Ayah..!" "Ahh..! Begitukah..? Apa artinya itu Mas Bimo..?" seru kaget Hendra, dia pun langsung
'Brengsek..! Powernya mampu mengimbangiku..! Siapa dia sebenarnya..?!' maki bathin Andrew lagi. Kini dirinya bertambah murka dan penasaran dengan sosok Bimo. Namun Andrew sadar misi utamanya saat itu adalah menggolkan lobi Pieter, demi kejayaan Livingstone Group. Maka dia pun menahan sementara amarahnya pada Bimo. Namun Andrew juga maklum, tak urung dirinya juga akan berhadapan dengan Bimo. Karena tak mungkin Bimo akan berdiam diri, melihat 'aksinya' terhadap Hendra di dalam ruang lobi. Satu jam sudah lobi berjalan antara Pieter dan Hendra di dalam ruangan tertutup itu. Dan seperti hal yang sudah biasa dilakukan oleh Andrew, dia pun bersiap melakukan misinya. Untuk merasuki dan mengendalikan lawan lobi Pieter, Hendra Winata..! 'Hmm. Dia mulai beraksi', bathin Bimo yang mulai merasakan pancaran power yang menguat dari Andrew. Lalu... Sshhssp..! Dan secara tak kasat mata, nampak gumpalan asap hitam yang keluar dari kepala Andrew. Lalu asap hitam itu pun berhembus masuk menembus ke
'Hmm. Akhirnya aku bisa melihat kembali ceriamu Lidya..', bathin Bimo lega.Ya, walau sampai saat itu Bimo masih menutup mata bathinnya pada Lidya. Namun Bimo masih merasakan tarikkan kuat dari pesona Lidya padanya. Hal yang menandakan selimut aura hijau masih menyelimuti sosok Lidya. Dan memang Lidya saat itu telah memasukkan benda wasiat dari neneknya ke saku jasnya. Hal yang membuat dirinya merasa sejuk dan nyaman karenanya. Akhirnya Bimo dan Lidya pun berangkat dengan mengendarai Phorsche merahnya, karena audi hitam kesukaannya masih di rumah mendiang neneknya. Tak lama kemudian mereka pun tiba dan langsung masuk ke dalam gedung megah menjulang PT. Winata Group. *** Sementara di dalam sebuah limo yang tengah meluncur dan berkaca gelap, yang dikawal oleh dua mobil di depan dan tiga mobil di belakang mobil Limo itu. Tutt.. Tutt..! Klikh..! "Ya Tuan Hendra." Sahut seoarng pria paruh baya berambut blonde klimis, yang duduk di dampingi seorang pemuda tampan di sisinya yang jug
'Tapi sebenarnya benda apa yang ada di kantung merah itu..? Aku merasa aura hijau yang menyelimuti Lidya, berasal dari benda di dalam kantung merah itu', bathin Bimo penasaran. Akhirnya setelah sekilas mempelajari profil Pieter dan Livingstone Group di laptop, Bimo pun tidur dengan pulas di kamarnya. Pada jam 3 lewat Bimo pun kembali terbangun. Dan seperti biasanya, dia pun langsung melakukan hening di dalam kamar yang cukup luas itu. *** Pagi harinya. Entah kenapa Lidya merasa enggan mengetuk pintu kamar Bimo, untuk mengingatkannya tentang acara penting kantornya hari itu.Ya, Lidya ternyata masih merasa jengah dan risih, karena mengingat kejadian semalam bersama Bimo di kamarnya. Namun Lidya juga takut Bimo masih tertidur pulas di dalam kamar. Akhirnya, Lidya pun menyuruh Bi Inah, untuk mengetuk kamar Bimo. Tok, tok, tok..! "Mas Bimo. Non Lidya sudah menanti di meja makan," ujar Bi Inah setelah mengetuk pintu kamar Bimo. Sementara dari ruang makan. Lidya yang telah duduk di
"Hei..! M-mas Bimo..! K-kau kena.. Mmhhf..!... Seruan Lidya sontak langsung terbungkam, saat dengan cepat Bimo melumat bibirnya. Ya, rasa kerinduan yang aneh dan tak tertahankan, tiba-tiba saja melanda hati Bimo. Bagaikan seorang pria yang sekian lamanya tak bertemu dengan kekasihnya. Dan hal itu terjadi murni karena dorongan dari hati Bimo, dan bukan karena kutukan Ki Brajangkala. "Mmffh..! Mas B-bimo.. Hhh.. hhh..! I-ini..?!" seru lirih terbata Lidya, setelah menarik wajahnya dari lumatan bibir Bimo, hatinya sungguh tergetar tak karuan. "Kamu cantik sekali Lidya. Aku merindukanmu. Mmffh..!" Bimo bergumam lirih, seraya kembali merencah bbir merekah Lidya dalam lumatan bibirnya. 'Ada apa dengan dirimu Mas Bimo..? Mengapa tiba-tiba seperti ini..?' bathin Lidya heran dan bingung. Namun satu hal yang tak bisa dipungkirinya, dirinya juga menginginkan hal itu terjadi. "Mmhh...". dan pertahanan Lidya pun ikut lepas. Perlahan gadis cantik itu pun memejamkan matanya, pasrah meresapi se