Lula berdiri terpaku di ambang pintu, menatap sosok Jack yang duduk santai di kursi kebesarannya dengan tangan menyilang di dada. Cahaya matahari yang menembus jendela besar di belakangnya mempertegas garis rahang pria itu, menambah aura dingin dan berkuasa yang memancar dari tubuhnya. Hatinya berdebar tak karuan. Perasaan canggung bercampur penasaran bergumul di dadanya. Bagaimana mungkin pria yang selama ini berusaha ia hindari kini justru menjadi atasannya? Apakah ini kebetulan, atau ada hal lain di balik kehadiran Jack di kantor ini? Jack menyadari tatapan Lula yang menelisik dari ujung kepala hingga ujung kaki. Bibirnya melengkung tipis, seolah menikmati kebingungan wanita itu. “Kau sudah puas memandangiku, Lula? Atau aku harus berbalik agar kau bisa melihat dari segala sudut?” suara berat Jack memecah keheningan, disertai nada mengejek yang membuat pipi Lula memanas. Lula berdehem, berusaha menguasai dirinya. Ia melangkah mendekat dengan hati-hati, menatap Jack dengan sor
Lula menatap pantulan dirinya di cermin kecil kamar mandi kantor. Percikan air dingin membasahi wajahnya, menyapu jejak lelah yang menggantung sejak pagi. Matanya merah, bayang-bayang frustrasi berkelindan di sana. Kata-kata Edhi masih menggema di kepalanya. Nada sinis dan hinaan itu menancap tajam di benaknya. Anak buangan kayak kamu cuma bisa kerja kayak begini. Jangan mimpi tinggi. Lula mengepalkan tangan, menahan sesak yang membelit dada. Ia menarik napas panjang, mencoba mengusir semua kepahitan yang menempel erat di sudut hatinya. Seketika, pintu kamar mandi berderit pelan. Emil muncul di ambang pintu dengan ekspresi kesal. “Lula!” panggilnya dengan suara mendesah. Lula mengangkat wajah, mencoba menyembunyikan kekesalan yang masih tersisa. “Emil? Tumben masuk. Bukannya kamu libur?” Emil mendengus, rambutnya masih sedikit basah seolah terburu-buru. “Libur dari Hongkong! Baru aja mau manjain diri di bathtub, tahu-tahu si Bos baru itu nelepon. Disuruh masuk gara-gara laporan
Jack mempercepat langkahnya, napasnya memburu saat melihat Gladys berdiri di ujung ruangan, tampak bingung dan memeluk dirinya sendiri. Cahaya lampu yang temaram menerpa wajahnya, memantulkan bayangannya yang terlihat semakin rapuh. Jack merasakan dorongan kuat untuk segera berada di sampingnya. Tak butuh waktu lama, langkah-langkahnya yang mantap membawa dia semakin dekat, dan tanpa ragu, dia langsung meraih lengan tunangannya itu. "Dis," panggilnya, suaranya pelan namun jelas. Mata Gladys yang sayu mendongak, lalu tanpa bicara, wanita itu langsung bangkit dan meraih tubuh Jack dalam pelukannya. Lirih terdengar namanya dipanggil, “Jack.” Tangisnya tertahan di dada pria itu. Jack merasakan kegelisahan menyelinap. Ada apa dengan tunangannya? Mengapa sikapnya tiba-tiba berubah drastis? "Dis, ada apa?" tanyanya lembut, meski hatinya diliputi kecemasan. Gladys tidak menjawab, hanya mempererat pelukannya. Wajahnya tersembunyi di dada Jack, seolah tidak ingin dunia tahu bahwa a
Senja yang Tertinggal Di dalam apartemen Jack yang sunyi, aroma kopi yang mulai mendingin bercampur dengan wangi hujan dari jendela yang sedikit terbuka. Lampu temaram menerangi ruangan, menyorot meja makan dengan satu piring makanan yang masih utuh. Lula duduk di sudut sofa, jemarinya gelisah di atas pahanya. Pikirannya berputar antara kejadian tadi dan sosok Jack yang kini menghilang ke dalam kamar. Suara langkah kaki terdengar, memecah keheningan. Tak lama, Jack muncul dari balik pintu, ponsel di tangannya. “Ini ponselmu?” tanyanya singkat, suaranya tetap dingin. Lula menoleh dan mengangguk pelan. “Iya… Terima kasih.” Jack berjalan mendekat, menyerahkan ponsel itu tanpa ekspresi. Lula menerimanya hati-hati, ujung jemarinya tak sengaja menyentuh kulit Jack—hangat, meski terasa jauh. “Maaf sudah merepotkan. Sepertinya kamu sedang menunggu seseorang, ya?” tanyanya, menatap meja makan yang tertata rapi. Jack ikut melirik ke arah meja. Rahangnya sedikit mengeras sebelum akhirnya
Pagi itu, mentari masih malu-malu menyembul dari balik awan, menyisakan jejak hujan semalam yang membasahi kota. Di sudut meja kerjanya, Lula membiarkan senyumnya tetap menggantung samar. Ada sesuatu yang hangat menyelusup ke dalam hatinya sejak malam tadi—perasaan asing yang membuat jantungnya berdetak sedikit lebih cepat tanpa alasan jelas. Dia tidak tahu apa namanya, tapi sensasi itu seperti percikan kecil yang menggelitik, menebarkan kehangatan di dada. “Eh, La! Kenapa senyum-senyum sendiri kayak orang jatuh cinta?” Suara Emil yang melengking memecah lamunannya. Lula langsung tersentak, pipinya merona samar. Dia menoleh, menatap sahabatnya yang kini berdiri dengan alis terangkat, penuh rasa ingin tahu. “Enggak apa-apa, Mil.” Emil menyipitkan mata, tidak percaya. “Bohong. Jangan-jangan ada yang aneh semalam?” Lula hanya tersenyum kecil, memilih diam. Percuma saja berdebat dengan Emil. Emil mendengus kesal, lalu duduk di sampingnya sambil menyilangkan kaki. “Ya udah, kalau e
HONOLULU, HAWAII Langit biru cerah membentang di atas bandara Honolulu, membawa hawa tropis yang hangat. Udara asin dari laut berhembus lembut, menyapu helai rambut Lula yang sedikit berantakan akibat perjalanan panjang. Wanita itu melangkah turun dari pesawat dengan gerakan anggun, berusaha menutupi kelelahan yang sejak tadi menggerogoti tubuhnya. Jack sudah lebih dulu turun, berjalan di depan tanpa menoleh sedikit pun. Seolah kehadiran Lula hanyalah bayang-bayang samar yang tidak layak diperhatikan. Sebuah mobil hitam mewah menunggu di luar, bersama pria berpakaian rapi dengan name tag bertuliskan Billi. Senyum profesional pria itu menyambut mereka. “Selamat pagi, Pak Jack. Hotel sudah siap,” ujar Billi sopan, menundukkan kepala. Jack hanya mengangguk singkat tanpa membalas senyuman. Tatapannya tajam, seperti biasa, penuh dominasi. “Bawa koperku.” Billi dengan cekatan mengambil koper besar Jack, lalu menoleh pada Lula yang masih memegang koper di tangannya. “Boleh saya bantu,
Udara malam di Paris menyelubungi kota dengan dingin yang menusuk. Gladys memandang ke luar jendela kamar hotelnya, matanya nanar menatap gemerlap lampu kota yang terasa asing. Pikirannya penuh. Dada wanita itu naik turun, menahan gejolak yang terus menggerogoti hatinya. Nada dering ponsel memecah lamunan. Jemarinya gemetar saat mengambil benda persegi itu dari tas cokelat di atas ranjang. Jack Gladys menghela napas dalam, berusaha menenangkan degup jantung yang tak beraturan sebelum menekan tombol hijau. “Halo, Jack?” suaranya terdengar serak. “Hai, Sayang… kamu baik-baik saja?” Gladys memejamkan mata, rasa bersalah langsung menyesak di dadanya hanya mendengar suara pria itu. “Ya… aku baik-baik saja.” “Aku hanya ingin memastikan. Kau terdengar lelah.” “Tentu saja. Ini hanya perjalanan yang melelahkan.” Hening sejenak. Gladys mendengar hembusan napas Jack dari seberang sana. “Aku merindukanmu.” Gladys menggigit bibir, menahan rasa perih yang membakar dadanya. “Aku juga san
Gladys terbangun dengan kepala yang terasa berat. Dia mengerutkan kening sambil memijat pelipisnya, merasakan kehangatan dari dalam selimut tebal yang menutupi tubuh telanjangnya. Di sampingnya, lengan Rey masih melingkar di pinggangnya. Gladys membuka mata dan mendapati wajah Rey yang terlelap di dekatnya. Dia mendesah dalam hati, bertanya-tanya apakah keputusan ini benar. Dengan hati-hati, ia berusaha untuk melepaskan lengan Rey yang menahannya. Namun, lengan itu terasa menempel erat, seolah enggan untuk dilepaskan. Rey, yang merasa gerakan tersebut, membuka matanya. Maniknya menatap Gladys dengan senyuman lembut. “Selamat pagi,” ucapnya dengan suara parau. “Aku harus pergi. Singkirkan tanganmu,” kata Gladys dengan nada tegas, berusaha menyembunyikan rasa cemas yang menggelayuti pikirannya. Gladys terus berusaha melepaskan diri, namun Rey tetap menahannya. “Kenapa terburu-buru? Masih pagi, Dis,” katanya, suaranya santai dan tenang. “Kau gila?! Bagaimana jika Eve datang tib
Pagi itu, Gladys sudah sibuk dengan berbagai persiapan. Ia tidak ingin membuang waktu. Jika ini harus terjadi, maka semuanya harus sempurna.Di sebuah butik eksklusif, ia berdiri di depan cermin besar, mengenakan gaun pengantin putih dengan desain klasik yang elegan. Sofia duduk di sofa, mengamati putrinya dengan kritis.“Gaun ini bagus, tapi aku rasa kita bisa mencari yang lebih istimewa,” katanya akhirnya. “Sesuatu yang lebih… berkelas.”Gladys hanya tersenyum kecil. Ia tidak terlalu peduli gaun seperti apa yang akan ia kenakan, karena pikirannya jauh dari sini.Jack.Ia memikirkan pria itu—reaksinya saat ia setuju untuk menikah lebih cepat. Ada sesuatu dalam tatapannya yang tidak bisa ia artikan.Keraguan?Atau rasa bersalah?Gladys mengalihkan pandangannya ke cermin. Tidak, ia tidak bisa membiarkan pikirannya dipenuhi oleh hal-hal yang tidak perlu. Ia percaya bahwa Jack mencintainya. Salah satu pegawai butik mendekat, membawa beberapa pilihan gaun lain. “Nona Gladys, kami memilik
Lula menyisipkan rambutnya ke belakang telinga, pandangannya sekilas menyapu ke arah restoran yang ramai. Suara alat makan beradu dengan piring bercampur percakapan pelanggan lain, menciptakan suasana makan siang yang tampak wajar. Namun, tidak baginya. Ada sesuatu yang mengganggu, sesuatu yang membuatnya sulit menikmati hidangan di hadapannya. Perlahan, ia meletakkan garpunya dan menatap pria di hadapannya. “Jack, aku rasa kita sedang diawasi,” bisiknya tanpa mengubah ekspresi. Jack tidak langsung merespons. Ia hanya mengangkat cangkir kopinya dengan santai, menyesapnya seolah tak terjadi apa-apa. Tetapi, Lula tahu pria itu tengah mengamati pantulan kaca besar di belakangnya. Dari sana, dua sosok terlihat duduk tak jauh dari mereka—Eleanor dan Jennie. Jack menaruh cangkirnya, bibirnya melengkung samar. “Kamu benar, entah bagaimana mereka bisa datang disini.” “Aku curiga, mereka datang untuk mengawasi. Tidak ada kemungkinan kebetulan didunia ini.” “Aku pikir kamu benar. Jika
Lula merasa hubungannya dengan Jack semakin membaik. Tidak ada lagi pertengkaran tak perlu atau tatapan penuh ketegangan di antara mereka. Setidaknya, Jack tidak lagi berusaha mencari masalah dengannya setiap saat, dan Lula pun mulai merasa lebih nyaman berada di dekat pria itu.Hari ini, Jack tiba-tiba mengajaknya makan siang di luar. Biasanya, Lula akan menolak atau mencari alasan untuk menghindar, tapi entah kenapa, kali ini ia mengiyakan tanpa banyak berpikir.Mereka memilih restoran dengan suasana tenang, duduk di meja dekat jendela yang menghadap ke jalanan kota. Percakapan mereka mengalir ringan—tidak lagi dipenuhi sindiran atau debat kusir yang melelahkan.Namun, saat obrolan mereka mulai mereda, Jack tiba-tiba mengeluarkan sebuah kotak kecil dari saku jasnya dan meletakkannya di atas meja. Lula mengernyit, merasa curiga.“Apa ini?”Jack hanya menyodorkan kotaknya. “Buka saja.”Dengan sedikit ragu, Lula membuka kotak itu dan mendapati sebuah kalung perak dengan liontin berbent
Lula masih terengah, dadanya naik turun dengan cepat. Tangannya mengepal di atas pangkuan, berusaha menenangkan diri setelah ciuman yang mencuri napasnya barusan. Jack tetap di tempatnya, menatapnya dengan intens, seolah menantang setiap emosi yang bergejolak di mata Lula. “Kau sudah selesai marah?” Jack bertanya, nada suaranya masih datar, tapi sorot matanya tidak bisa menyembunyikan api yang membakar di dalamnya. Lula mengatupkan rahangnya. “Kau tidak bisa seenaknya, Jack.” “Aku tidak sedang bermain-main,” balas Jack tanpa ragu. “Kalau aku mau bermain, aku bisa melakukan jauh lebih dari ini.” Lula menelan ludah, berusaha menepis panas yang merayap di kulitnya. Ia menggeleng pelan, mencoba mencari celah untuk mengendalikan situasi. “Aku lelah,” katanya akhirnya, suaranya melemah. Jack tidak langsung menanggapi. Ia hanya menatap Lula dengan sorot mata yang dalam, penuh sesuatu yang sulit ditebak. Namun kemudian, ia bersandar ke kursinya, ekspresinya sedikit melunak. “Aku tahu.
Lula mengetik cepat di depan layar komputernya, jemarinya bergerak lincah di atas keyboard. Matanya terpaku pada data yang harus ia rapikan sebelum laporan diserahkan ke Jack. Ruangan kantor terasa sunyi, hanya suara ketikan dan sesekali bunyi kertas yang dibalik. Tiba-tiba, suara langkah terburu-buru mendekat, disusul suara Emil yang setengah terengah-engah. “Lula! Tolong banget, kali ini aja!” Lula mengangkat kepala dengan kening berkerut. “Kenapa lagi, Mil?” Emil menjatuhkan beberapa dokumen di meja Lula dengan ekspresi putus asa. “Aku butuh banget tanda tangan Pak Jack. Sejam lagi kalau ini nggak beres, bisa mampus aku, La. Aku beneran lupa.” Lula mendesah, menatap dokumen-dokumen yang berserakan. “Pak Jack baru saja keluar makan siang.” Emil hampir menangis. “Please, La. Tau sendiri kalau yang kejar Pak Jack aku, dia nggak bakal mau. Tapi kamu… kamu kan sekretarisnya. Kamu pasti bisa!” Lula memijat pelipisnya. “Jadi aku harus ngejar dia sekarang?” Emil mengangguk
Pagi di kediaman keluarga Pramono dipenuhi suasana tenang. Cahaya matahari menembus jendela besar, menyapu ruang keluarga yang luas dengan nuansa hangat. Aroma teh melati menguar dari cangkir porselen di meja, sementara Gladys bersandar santai di sofa.Mengenakan robe sutra tipis, ia menggulir layar ponselnya tanpa terganggu, menikmati waktu paginya. Namun, ketenangan itu tak bertahan lama saat langkah teratur mendekat, dan Sofia duduk di hadapannya dengan anggun.“Gladys.”Nada suara ibunya lembut, tapi mengandung sesuatu kekhawatiran yang terselubung. Gladys masih tetap menatap ponselnya. “Hm?”“Kapan kamu akan menikah dengan Jack?”Jari Gladys berhenti sejenak sebelum melanjutkan. Ia mendesah ringan, akhirnya menatap ibunya dengan ekspresi bosan. “Mom, kita sudah membahas ini berkali-kali. Aku masih ingin fokus pada karirku.”Sofia meletakkan cangkir tehnya dengan gerakan lembut. “Menunda terlalu lama bukan hal yang baik, Sayang. Lihat anaknya Tante Rina. Tunangannya berselingkuh
Jack melepas seatbelt dengan satu sentakan, pandangannya mengunci Lula tanpa memberi celah untuk melarikan diri.Tanpa aba-aba, tangannya terulur, meraih tengkuk wanita itu, menariknya mendekat hingga napas mereka hampir bersatu.“Jack…”Hanya bisikan rendah itu yang terdengar sebelum bibir Jack menahan bibir mungilnya, panas, dalam, menggoda dengan gerakan perlahan yang menuntut.Lula bergetar, kedua tangannya terangkat tanpa sadar, mencengkeram kerah jas Jack. Desah napasnya beradu, membuat Jack semakin memperdalam ciumannya. Lidahnya menelusup, menuntut balasan, sementara jemari besar pria itu menyusuri sisi wajah Lula, turun ke leher, hingga membuka satu kancing kemeja wanita itu dengan cekatan.Lula tersentak kecil, tapi tidak menolak. Justru, matanya terpejam, membiarkan jemari Jack melonggarkan satu demi satu kancing, memperlihatkan kulit pucat di baliknya.Bibir Jack beralih, melumat garis rahangnya, turun ke leher yang berdenyut. Napasnya panas, membuat Lula menggigit bibir
Pagi itu terasa berat bagi Lula. Langit mendung menambah rasa sesak di dadanya, seolah alam pun ikut merasakan beban yang selama ini ia pikul. Tangan mungilnya menggenggam setangkai bunga lili putih, langkahnya pelan menyusuri jalan berbatu. Setiap kunjungan ke tempat ini selalu membawa luka lama yang sulit disembuhkan. Lula berlutut di depan nisan, menaruh bunga dengan hati-hati. Pandangannya nanar menelusuri nama yang terukir di batu. “Bu… aku datang lagi.” Suara itu lirih, hampir tenggelam oleh hembusan angin. Ia diam sejenak, membiarkan emosi yang selama ini ditahan memenuhi dada. Hanya di tempat ini, ia bisa meluruhkan segala hal yang tak bisa diucapkan pada siapa pun. “Aku lelah… tapi aku tidak bisa berhenti.” Matanya memanas. “Dia pria paling memuakkan, aku benar-benar membencinya.” Lula menunduk, jari-jarinya meremas ujung blazer. Kenyataan bahwa ia mulai goyah membuatnya semakin benci pada dirinya sendiri. “Apa langkah yang akan aku ambil adalah hal yang benar?” Ke
Lula tidak pernah menyukai pagi, apalagi setelah malam yang dihabiskannya lembur hanya karena permainan licik Jack. Ia baru saja duduk, berniat menuntaskan sisa pekerjaan semalam, saat suara langkah berat terdengar dari arah pintu. Tanpa menoleh, ia tahu siapa yang datang. “Kita ada meeting jam sepuluh. Jangan lupa bawa tablet dan semua dokumen kemarin,” ucap Jack datar. Lula menahan dengusan kesal. Seperti biasa, dia hanya menarik bibirnya membentuk senyuman palsu. “Baik Pak.” Dan seperti biasa—tanpa bertanya, tanpa permisi, tanpa memberi kesempatan menolak. Jack tetap memerintah seenaknya. “Dan setelah itu, ikut aku makan siang.” Lula mengernyit. Kali ini ia menoleh, menatap Jack yang sudah berjalan menuju ruangannya. “Makan siang? Untuk urusan kerja?” tanyanya menekan nada suara. Jack melirik dari balik bahu, mata tajamnya menyiratkan sesuatu yang sulit ditebak. “Anggap saja begitu.”Bola matanya memutar malas, jika bukan karena dia atasannya, Lula pasti akan malas. —