Aston mencari bunga mawar merah, bunga favorite Gina. Tujuannya, ingin membujuk kekasihnya itu. Aston sudah sangat paham dengan sifat kekasihnya itu. Dengan diberikan bunga mawar saja, ia akan memaafkan Aston.
Kembali mencintai dan memaafkan semua kesalahan Aston.
Aston sudah menunggu Gina tepat diluar Toko. Menggenggam beberapa tangkai bunga mawar merah yang dibalut susunan bucket. Senyum tampan pria itu telah terpancar, bahkan matanya tak henti menatap dalam Toko.
Gina dan Alya telah selesai dari pekerjaan lelah mereka, jam juga sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Gina telah bersiap untuk segera pulang, meski hatinya masih diliputi kesedihan mengingat perlakuan Aston. Gina tampak menyemangati dirinya sendiri meski sebenarnya ia pun mengalami masa sulit.
Aston memang tipe pria urakan.
Mereka berdua keluar dari Toko, Alya tetap menyemangati dengan senyuman. Sesekali membahas suatu hal terkait pekerjaan mereka sehingga mereka begitu menikmati pembicaraan ringan tersebut.
"Gina ...."
Gina tercenung.
Melihat itu, Alya membuang wajah. Pemandangan memuakan baginya bahkan ia jujur tidak setuju dengan Aston sampai kapanpun. Ia tampak mengembuskan napas, lalu tanpa permisi atau mengungkapkan apapun lagi ia langsung pergi meninggalkan Gina dan Aston.
"Kekasihku," ujar Aston sambil tersenyum.
"Aston, kamu ...."
Belum sempat Gina melanjutkan ucapannya, bibirnya langsung diserobot Aston. Pria itu mencium bibir Gina selembut mungkin, memberi sebuah bentuk kasih sayang dan juga permintaan maaf karena kesalahan yang terjadi pagi tadi.
Gina tidak bisa menolak ketika Aston semakin melumat bibirnya dengan rakus, ia memainkan lidahnya masih mencium Gina dengan napsu luar biasa.
Ciuman pun terhenti, setelah Gina merasakan napasnya mulai tersengal dan bibirnya membengkak karena kecupan hangat dari kekasihnya tersebut. Napas Gina tampak terengah-engah.
"Maafkan aku," ucap Aston serak.
"Hanya aku kekasihmu bukan?" tanya Gina ikut serak.
Betapa cinta ia pada Aston, sehingga ia tidak dapat membuka hati bahkan seolah tidak mampu melihat jika Aston sudah berkhianat padanya. Bertengkar, dan dengan mudah Aston meminta maaf mereka kembali berbaikan lagi.
Semudah itu.
"Kamu kekasihku, calon istri masa depanku dan Ibu dari anakku kelak," jawab Aston mengecup kening Gina hangat.
"Aku sangat mencintaimu, Aston," jawab Gina memeluk pria itu.
"Baiklah, bagaimana kalau kita kerumahku saja?" tawar Aston.
"Kerumah?" tanya Gina mengulang.
"Mama sedang tidak dirumah. Kamu bebas kerumah," balas Aston memasang senyum licik.
"Kamu serius?" tanya Gina merasa enggan.
"Ya, sayang."
"Ayo?" ajak Aston lagi.
Setelah memikirkan waktu yang cukup panjang, akhirnya Gina mengangguk.
"Baiklah, kita kerumah kamu saja As," ujar Gina.
Mereka pun pergi berlalu dari Toko roti tempat ia bekerja. Menaiki sepeda motor, akhirnya mereka sampai di kediamanan milik Aston. Jika teringat rumah Aston ia akan mengingat perbuatan buruk pria itu tadi pagi.
Berita yang masih hangat, namun sekejab kilat Gina memaafkan Aston.
Aston benar, tidak ada Tante Fitri dirumah. Hanya ada mereka berdua saja, ia daratkan tubuhnya duduk di sofa sambil matanya menatap sekeliling ruangan. Tampak hening dan terdengar dentangan jam dinding yang terus bergeser terus menerus.
Aston pun duduk, ia genggam tangan Gina dengan leluasa. "Gina, wanita yang kamu lihat itu hanya wanita panggilan saja. Dia memaksaku untuk melakukannya, aku sudah berusaha menolaknya."
Gina masih diam, ia mendengarkan pria itu mengungkapkan segala alasannya. Memang dalam hal rayu merayu serta meyakinkan seorang wanita Aston-lah paling handal bahkan siapapun akan jatuh kedekapnnya.
Pesona wajah tampan, rayuan salah satu membuat Gina selalu luluh.
"Aku ambilin minum, mau?" tawar Aston.
"Eh, tidak—Aston. Aku bisa mengambilnya sendiri kok," tolak Gina bernada lembut.
Keadaan yang mencekam, membuat mereka semakin sulit mengungkapkan apapun lagi.
Aston mendekatkan wajahnya, ia cium lembut bibir Gina hingga berakhir sebuah lumatan yang nikmat. Mencecap ciuman hangat itu, Gina mulai terbawa suasana. Kemudian, Aston menuju leher ia cium sambil mengembuskan napas berat. Erangan kecil mereka mulai saling bertautan, sesak dan menggairahkan.
Ia kecup sekujur aset yang berada di area wajah Gina, seolah ia tidak mau terlewatkan satupun aspek tubuh Gina terlewati.
"Gin, bagaimana kalau sekarang aku menyentuhmu seutuhnya? agar kamu menjadi milkku, dan aku akan menjadi milikmu seutuhnya?" Aston membujuk dengan nada suara parau.
"As, bagaimana kalau aku hamil nanti?" tanya Gina takut.
"Aku akan bertanggung jawab, aku akan menikah dengan kamu."
Gina menatap sendu wajah Aston, apakah ia akan merelakan kesucian yang telah ia jaga selama 20 tahun lamanya? mempercayakan Aston? Gina begitu bingung antara mengiyakan ataupun menolak. Jika ia menolak, pasti Aston akan marah bahkan yang akan menjadi taruhannya adalah kisah cinta mereka telah terajut selama 3 tahun lamanya.
Akan membiarkan begitu saja? tidak. Gina tidak akan bisa hidup tanpa Aston.
Dengan segala pertimbangan mengkelebut di pikirannya, menguras isi hati begitu gelisah akhirnya Gina memantapkan hatinya untuk mengiyakan dan merelakan kesuciannya.
Gina mengangguk. "Baiklah, bisakah kamu berjanji untuk selalu ada untukku?" tanya Gina begitu polos.
Aston bersemangat, ia cium kembali bibir Gina dan memagut semakin rakus seakan tidak ingin meninggalkan satupun cecapan setiap rasa yang ada dibibir Gina. Aston remat buah dada Gina, ia bernaung diceruk leher Gina. Mulai terbuai dalam sentuhan Aston, erangan kecil terlontar menahan perasaan membuncah karena kenikmatan.
Ia membuka tiap helai pakaian Gina, serta celana jeans telah terlepas dari tubuh mungilnya. Aston menatap jelas ketika tubuh yang ia dambakan sejak lama, pada akhirnya menjadi miliknya utuh malam ini.
Aston melepaskan pengait bra yang masih melekat, perlahan dan melonggar sehingga menampilkan buah dada Gina yang tampak tegak dan mengeras. Ujung berwarna kecokelatan masih merekah membangkitkan gairah Aston.
Ia kungkung, dan mengisap membuat Gina seketika menjerit kecil menahan betapa sentuhan Aston begitu membuat ia uringan ingin merasakan kenikmatan yang sesungguhnya.
Dalaman berwarna hitam itu berhasil terlucuti, terlihat jelas seluruh tubuh Gina tanpa sehelai benangpun menutupi. Debaran jantung Gina semakin menjadi, tatkala Aston telah melepaskan seluruh pakaiannya.
Ia dapat melihat milik Aston tampak menegang, baru kali ini ia melihat secara nyata.
"Apakah itu menyakitkan?" tanya Gina serak.
"Untuk awal, namun terasa nikmat jika terusan kita lakukan."
Gina menyerahkan semuanya juga merelakan kesucian hanya untuk Aston Nugraha seorang.
Aston menimpa tubuh Gina, ia dapat merasakan milik Aston yang sudah sangat mengeras tergesek diantara paha Gina. Pria itu kembali memagut bibir Gina, memberikan sentuhan sambil mengarahkan miliknya untuk bersatu.
Percobaan pertama, meleset.
Percobaan kedua, Aston setengah berjongkok mencoba kembali mengarahkan miliknya dan ia memaksa masuk.
"Ah!" teriak Gina spontan.
Aston berhasil memasukinya, Aston dapat melihat cucuran darah tanda keperawanan Gina telah terenggut oleh Aston. Ia bangga juga merasa pria paling beruntung pada akhirnya mendapatkan kesucian Gina Syakilla pada akhirnya.
"Rilex sayang, terima aku," ucap Aston serak dan menikmati.
Ritme pun berlangsung dengan lembat, cepat, sedikit cepat hingga hentakan memaksa masuk terusan. Nikmat tidak tertandingi, mampu menghangatkan tubuh mereka berdua. Gina mulai menikmati, sentuhan demi sentuhan Aston.
Gina telah memberikan segalanya untuk Aston. Ia melakukan itu karena besar perasaan cintanya pada Aston. Gina meyakinkan diri, bahwa tidak akan ada yang bisa memisahkan mereka karena Aston adalah miliknya dan Gina adalah milik Aston.
Cinta Gina yang berlebihan membuat ia merelakannya.
Bersambung...
Semenjak percintaannya dengan Aston, ia semakin memantapkan hatinya hanya untuk Aston seorang. Hari-hari Gina begitu berwarna semenjak ia menyerahkan kesuciannya dengan Aston, pria itu semakin perhatian.Tidak sekali itu saja, mereka rutin melakukan hubungan suami istri itu meski mereka belum menikah. Gina menikmati, Aston juga merasakan hal yang sama. Bercinta dengan Gina adalah suatu hal yang menyenangkan, tidak terlebih pada Gina juga.Tidak memerdulikan apapun lagi, ia tetap mengiyakan apapun yang diinginkan Aston. Ia merasakan hatinya semakin berwarna, menggebu-gebu dan selalu merindukan Aston.Pagi sekali ia telah bangun, shift mereka telah ditetapkan pagi hari. Ia membiasakan dirinya untuk bangun pagi sekali agar tidak terlambat sampai Toko Roti. Namun, belum sempat ia melakukan aktivitas mandi ia merasakan gejolak perutnya kian menjadi ia mual dan terasa pusing sekali.Ia pijit keningnya, mualnya sem
"Cepat katakan!" tegas Aston."Kita harus berbicara empat mata, As," balas Gina masih terkatung."Apa begitu penting?" tanya Aston sinis.Gina menarik napas panjang, hatinya seakan terobek sulit mengungkapkan namun harus terpaksa mengatakan kebenaran yang sebenarnya.Aston menarik keras tangan Gina, teman Aston hanya melihat aneh sambil berbisik tidak tertarik. Mereka kini berada disebuah tempat sedikit sepi."Aston, kau menarik tanganku keras!" tukas Gina merasa pergelangan tangannya sakit.Aston melepaskan cengkraman erat tangannya, ia tampak menggertakan gigi dengan geram menatap Gina seakan ia adalah tumbal sasaran empuknya yang siap dimakan."Cepat, katakan!"Gina berusaha untuk tetap kuat, ia tidak bisa menutupi jika dirinya begitu kalut bahkan tidak tahu harus berbuat apalagi sekarang."Aku, hamil."
Pernikahan digelar.Apakah pernikahan itu membuat ia merasa bahagia juga bangga? tentu saja ia merasa banyak tanda tanya. Salah satunya, dari menyewa kebaya pengantin padahal mereka keluarga terpandang namun kembali lagi Gina harus menelan rasa pahit itu.Ia tidak membangkang, ia terima dengan lapang hati.Impiannya sejak dulu bersama Aston kini terkabulkan, dalam kenyataan menyakitkan juga keadaan yang penuh luka. Ketika ia berharap Aston akan melindungi atau sekadar memberikan ia kebahagiaan malah tangisan dan rasa perih ia dapatkan.Pernikahan tanpa resepsi, hanya pernikahan sekadar berlangsung dirmahu namun membuat ia setidaknya mendapat status.Alya memilih tidak menghadiri, ia sejak awal sudah mengatakan tidak akan pernah setuju atas pernikahan mereka. Menolak keras Aston juga menentang pernikahan mereka namun Gina tetap kekeh mempertahankannya.Hati Gina?
Bandara Soekarno-Hatta, pesawat kelas bisnis telah mendarat dengan sempurna.Sosok tangan kekar, guratan halus di area tangan terlihat jelas. Ia menundukan kepalanya dengan elegan menatap jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan. Bibir memerah tanda tidak mengisap rokok terlihat jelas.Penampilan begitu memesona dan yang lebih tepat, ia sangat tampan maksimal sehingga seisi pesawat tidak menghentikan pandangan dari pria tinggi, rahang tegas menunjukan kekuasaan sebagai pria terhormat dan mapan.Tatapan begitu memukau, siapa yang tidak langsung terpesona? apalagi jika sudah melihat manik matanya yang mencolok berwarna biru.Ya, pria tampan itu ialah Revan Alexander Djayaningrat, memiliki tinggi 180 cm, rambut sedikit keemasan membuat ia semakin terlihat sexy.Revan berusia 30 tahun, meski idak lagi dikatakan muda namun wajahnya awet bak formalin dan digilai semua wanita termasuk nega
Revan tak henti menatap kecantikan Vero sepanjang mereka berjalan menuju Toko Roti, Vero bercerita panjang lebar pada Revan."Konsep apa untuk pertunangan kita nanti?" tanya Vero sumringah."Sederhana saja," jawab Revan."Baiklah, aku memiliki langganan tempat kue. Kita akan kesana, lalu ke butik untuk pakaian yang akan aku kenakan.""Baiklah, sesuai yang kamu mau saja sayang ...," balas Revan.Vero tersenyum dan bersikap manja, Revan pun menyetir dengan kecepatan standartd.Akhirnya mereka sampai tepat di depan Toko Roti tersebut. Vero menatap dengan mata binar, bangga ia akan memesan kue ditempat langganannya apalagi sudah cukup lama tidak kemari sehingga ia merindukan kedua wanita yang sudah menjadi temannya."Nah, itu dia."Revan mengangguk, "Baiklah, kamu lebih dulu masuk. Aku akan memarkirkan mobil," perintah Revan lembut.
Malam pun menyambut, malam gelap itu membuat Gina semakin menggelap. Ia menunggu sang suami dengan perasaan hitam. Ia sudah tahu jika Aston tidak akan pernah mau datang menemuinya, ia saja yang terlalu percaya diri besar untuk berharap Aston-mencintainya.Aston pria keras, sampai kapanpun ia tidak akan mau meluluhkan hatinya termasuk menjemout atau sekadar memberikan perhatian lebih pada Gina."Menunggu Aston?" tanya Alya tidak berselera, sambil memasang jacketnya bergegas pulang."Iya, Al ... aku menunggu Aston menjemputku.""Dia bilang mau jemput kamu?"Tumben."Nggak, aku hanya berharap dia datang menjemputku. Itu saja," jawab Gina sekenanya."Gina?!" panggil seorang pria dibelakang mereka.Gina dan Alya kompak melirik, setelah melihat sosok siapa yang datang Alya membuang wajahnya. Sampai kapanpun, ia tidak akan menyukai semua sifat Aston, ia me
Bisakah ia sejenak dengan pria bermata biru ini?"Mari kubantu," tawar Revan.Revan membantunya berdiri, ia dapat merasakan wewangian tubuh Revan menguar di hidungnya. Sentuhan itu terasa membuat Gina semu juga merasakan sesuatu hal berbeda sedang tersentuh disekujur tubuhnya."M-maaf Pak!? Maaf jika aku membuat Bapak merasa terancam.""Nggak apa, kamu baik saja?" Revan masih membantu Gina.Revan membantunya duduk di kursi luar Toko roti, Gina mengelus perutnya smabil meringis menahan sakit."Dia suamimu?" tanya Revan pelan.Gina terdiam sejenak lalu mengangguk mengiyakan, "Ya, dia suamiku."Revan mengangguk paham, tanpa sengaja ia memperhatikan ada darah dari sudut bibir Gina. Ia terlihat sangat tenang menanggapi namun terlihat meremang karena ingin mengobati luka itu."Ada darah di sudut bibirmu, apa kau ti
Pertunangan Revan dan Vero.Sesuai yang mereka rencanakan, Revan dan Vero melangsungkan pertunangan mereka hari ini. Malam yang dipenuhi terang bulan bahkan terlihat bintang gemerlap begitu indah. Para tamu undangan dari berbagai pengusaha telah berdatangan untuk menyaksikan langsung pertunangan Revan dan Vero yang tergolong dari keluarga sama-sama mapan.Pertunangan mereka memang terkesan sederhana, betapa bahagia menyelimuti Vero hingga ia selalu menebarkan senyum kepada setia tamu menyalamnya.Pertunangan mereka pun terlaksana, tawa bahagia dari berbagai kalangan begitu menyemarakan mereka. Revan mencium kilat bibir Vero tanda mereka resmi bertunangan setelah bertukar cincin emas putih. Tak hentinya Vero memandangi cincin berlapis swarovki yang kini melekat di jemari tangannya.Bangga dan terharu pada akhirnya Revan meminangnya untuk menjadi teman hidup.Di kejauhan tapi tetap
Di perusahaan cabang di Indonesia, Revan tengah mengetuk pena di meja kerja dengan terletak jelas cetakan jabatan CEO perusahaan yang ia geluti sejak lama. Menunduk memikirkan suatu hal. Ya, masa waktu Revan di negara ini akan segera berakhir. Tidak terasa sebentar lagi, ia akan kembali ke New York tapi kali ini tidak pulang sendiri atau bersama Vero tapi bersama dengan Gina. Wanita berbeda dari yang ia nyatakan di hati kecil dahulu.Setelah menjalani beberapa meeting, Revan memilih kembali ke rumah. Ingin bertemu Gina, masih belum menemukan waktu yang tepat.Sembari menyetiir, Revan memikirkan bagaimana perkataan yang pantas ia katakan nanti pada Vero. Sesampai di rumah, ia menuju pantry meneguk beberapa tegukan air putih dan menetralkan pikiran berkecamuk. Ia meletak kasar gelas tersebut, ia meremat rambut sehingga teracak serta kegelisahan mulai menyerang perlahan."Tumben siangan begini sudah pulang kamu," ucap Alline mengagetkan Revan.Revan menoleh sejenak wajah Alline yang mas
Pagi ini Revan menikmati sarapan pagi, tapi setelah berpikiran semalaman kalau Gina bersentuhan lagi dengan Aston-suaminya. Jujur, ia marah dan tidak rela demi apa pun membiarkan Gina berpaling darinya.Ia sudah menekankan di hati, Gina akan tetap menjadi milik Revan utuh. Tidak akan membiarkan kesakitan dihati wanita yang begitu ia cintai tersebut.Bayang-bayang percintaan panas mneyeruak dalam pikiran Revan, sentuhan yang ia berikan membuat Gina ikhlas lahir batin bahkan tidak ada kata menyesal atau mara ia ungkapkan entah karena menikmati atau sentuhan seperti inilah yang ia inginkan sesungguhnya.Revan sudah berjanji pada hati kecil, kalau Gina akan tetap menjadi wanita terbahagia. Ia sudah bertekat untuk menjalani perlahan hingga waktu tiba membawa Gina sejauh-jauhnya dari Aston. Pria iu sudah menyiakan Gina yang seharusnya ia hujani dengan penuh cinta."Ehem-- pikirin apaan? Bengong begitu, kosong pandangan." Alline nyeletuk.Revan
Vero yang merasa hidupnya hancur berkeping tak berhenti menangis pilu, tadi itu? Ia merasa kebahagiaan itu hanya miliknya sejenak tidak selamanya. Beginikah hasil ketika mengetahui sang tunangan tak lagi mencintai sepenuh hati?Tidak bisa ia bayangkan jika ia dan Revan harus berpisah.Baru kemarin mereka bahagia, bertunangan dan kini pria berstatus tunangannya harus merenggang menyakitkan. Tanpa ia sadari, sang ibu menyadari kesedihan Vero yang tampak menutupi kalau hati sedang kalut.Sebagai ibu yang paham tentang keadaan Vero, ia berdiri di ambang pintu dan menyaksikan bagaimana Vero menahan sedih tapi ingin mencuatkan semua. Ia mencoba membaur, tersenyum kecil."Begadang sayang?" Anita memasuki kamar."Eh, Mama--" Vero langsung mengusap air mata secepat mungkin.Mencatut wajah sang putri dari cermin, ia mengusap punggug Vero. Ia yakin, melalui sentuhan ini ia sedang memberi koneksi Vero agar mengatakan tentang isi hati sebenar
Revan menggertakkan gigi, masih di lokasi tempat Gina dan Aston tengah berbincang seolah tidak menyadari kehadirannya. Tidak akan tinggal diam, padahal tadi dia sudah sangat gempar ingin membuat Gina mempercayai dan membawa wanita ia cintai tersebut jauh dari jangkauan orang.Baiklah, kalau memang Gina dan Aston menginginkan persaingan di mulai dengan senang hati Revan menerima dan sangat siap untuk menyerang secara halus. Segala perbuatan merebut tidak harus terangan terlihat.Hati-hati tapi mematikan.Bila perlu mematikan secara perlahan hingga ke jantung. Ia mengalah malam ini, tapi tidak dengan hari berikutnya. Akan ia balas, Revan pun menghidupkan mesin mobil dan memundurkan perlahan.Dencitan demi dencitan terdengar nyaring, ia sedikit kasar sambil membunyikkan gas-rem beberapa kali memberitahu kalau ia siap menyerang.Ia pergi meninggalkan lokasi, menjauh dari Gina beberapa saat. Gina tau, mobil yang baru saja pergi tersebut milik
Gina menatap dengan pandangan tak berkedip sedikit pun. Mulutnya tengah terkatup setelah menyadari kalau Aston-suaminya yang memanggil."Istriku?!" Aston tersenyum bak pria iblis sedang memenangkan kehadiran."K-kau sedang apa?"Aston mengernyit, "Hubungan kita kurang baik belakangan ini, kenapa kau seperti tidak menyukai kehadiranku? Kau tergganggu?"Gina menarik napas, tatapan merah nanar. Menggeleng gelisah karena sulit mengatakan apa pun saat ini. Bukankah seharusnya bertemu Revan malam ini?Ke mana pria tersebut?"B-bukan, aku hanya kaget kau hampir tidak pernah laggi menjemputku. Hanya merasa bingung dan kaget.""Gina sayang, aku tau ... aku melakukan banyak kesalahan padamu. Aku juga ingin membuatmu tetap nyaman.""Maksud ucapanmu?""Eh, begini, aku sedang menunggumu pulang. Aku sudah menantikan jam pulangmu. Tapi, aku berkeliling dahulu tadi ke kota."Tubuh Gina mulai gemetar, apa yang baru saja Aston katakan? Ia masih tidak percaya kalau su
Vero benar-benar kalut kalau saja memang Revan memiliki wanita lain selainGina menyusun rapi roti yang baru masuk, ia tersenyum penuh raut wajah tersungging memesona. Tampilan yang memperlihatkan kalau ia akan baik saja. Mencintai Revan tanpa siapa pun yang tau. Tidak. Alya mengetahui dan apa saja tentang Gina.Revan akhirnya sampai di Toko Roti, memendarkan pandangannya dan menatap Gina dengan lembut. Seulas senyum tercetak menawan dari pahatan wajah Revan. Embusan napas tertoreh elegan dari bibir sensualnya."Hai," sapanya.Gina menoleh, susah payah menelan saliva. Ia menatap lama wajah tampan dilapisi kulit legam eksotis. Dia memang pria bule yang khas.Gina Syakilla menatap Revan sambil meletakkan kue yang hendak ia susun."Revan, kau sedang apa? K-kenapa?" Gina sedikit gugup."Bertemu denganmu," jawab Revan.Alya yang menatap mereka syok, hanya bisa termangu dan tidak menyangka kalau Revan mulai terangan b
Revan meraih kemeja putihnya, ia mengenakan ke tubuh sempurna yang banyak digilai para wanita. Ia tahu, jika tubuhnya banyak diidamkan kaum hawa termasuk Gina. Ia telah merasakan betapa nikmat ia dalam kungkungan pria tersebut.Ia ingin memutuskan bertemu Gina, ia ingin menunjukkan sikap kalau ia juga berhak memberikan perhatian terhadap Gina. Ia sisir dengan rapi rambutnya ke belakang. Ia tersenyum pulas sambil menyemprotkan cologne. Reavn begitu memukau, bak sedang ingin menyatakan cinta pada wanita yang begitu ia cintai.Revan memang bukanlah tipikal pria yang sukanya mengumbar pesona di hadapan banyak wanita. Sekali ia mencintai, ia akan mencintai satu orang wanita tanpa memikirkan syarat apa untuk sekadar mencintainya saja. Revan memiliki kelembutan luar biasa, ia akan senang membantu kaum wanita yang tertindas.Kecuali dengan Gina, ia memang membantu tapi ia jatuh cinta.Ah!
Gina tampak menunduk setelah percakapannya dengan Vero. Kini ia menatap kosong area dapur tempat melaksanakan makan siang bergantian dengan Alya.Hati kecilnya seolah terkikis ingin marah pada kenyataan, tapi ia memikirkan ia pun pantas mendapatkan yang sudah menjadi impiannya sejak sekian lama. Perasaan yang telah lama tersakiti, telah diberi warna oleh Revan.Pria yang sudah memberikannya banyak warna.Alya tampak membawa bekal, ia memang sudah terbiasa selalu membawa bekal ke Toko. Ia menatap Gina yang tengah melamunkan entah apa. Ia terlihat gelisah, mengembuskan napas kelelahan yang tidak berhenti.Alya tahu perasaannya."Gina," panggilnya menyentuh pundak lembut."Eh ... Alya, apa kau tidak memiliki pelanggan di depan?""Lagi kosong."Alya memberesi bekalnya, Gina hanya menatap dengan tatapan kosong.&nbs
Semenjak pengakuan Gina kemarin, Alya masih tidak menyangka bahkan perasaan mereka semakin gugup juga sulit mengungkapkan hal apapun lagi. Alya menatap Gina ragu namun ia tidak bisa menyalahkan Gina karena ia memang pantas diberi perhatian oleh pria asing.Sangat disayangkan, jika pria itu sudah dimiliki orang lain tak lain pelanggan yang mereka anggap kakak. Sulit mengartikan namun inilah kenyataan hidup yang harus Gina jalani."Gina, Re—""Gina? Alya?" Vero menyapa.Deg!Belum sempat Gina menyebut nama Revan, Vero telah hadir di antara mereka. Melihat Vero rasanya ia tidak memiliki kuasa untuk mengucapkan tentang Revan lagi, ia menatap Alya berharap merahasiakan hal ini."Hey, apa yang terjadi dengan kalian? Kalian tampak menegang sekali," ucap Vero dengan senyum tipis.Alya mempertunjukkan wajah menyimpan perasaan kaku, menegang