Arnold kembali ke ruangan latihan dengan wajah cemas."Bagaimana ini? Kompetisi tinggal tiga hari lagi, tapi Leon justru kecelakaan. Kekasihnya baru mengabariku. Katanya tangan dan kakinya patah. Dia tidak akan bisa pulih dalam waktu tiga hari saja."Sontak beberapa atlet juga ikut merasa panik. "Kami belum siap ke kompetisi, Pak Pelatih. Kami tidak mau membuat club Top Team malu karena kemampuan kami masih kurang.""Iya, benar, Pak Pelatih.""Hanya Jake yang bisa menandingi kekuatan Leon untuk maju ke kompetisi. Tapi, dia sudah babak belur karena Marko," balas yang lain.Menyebut nama Marko, mereka semua jadi teringat pada Marko.Perhatian mereka segera berpindah ke arah Marko. Mereka nyaris lupa kalau ada satu atlet lagi yang kuat di sini. "Marko, maukah kau menggantikan Leon di kompetisi lokal yang akan diselenggarakan tiga hari lagi?" tanya Arnold menghampiri Marko."Ayolah, Marko. Tinggal kau harapan kami.""Marko, kau kan sudah berhasil mengalahkan Jake. Cuma kau yang paling k
"Sunny, aku sudah membawa Marko. Cepat bilang padanya bagian mana kakimu yang terkilir," tukas Flora kesal. Bayang-bayang kejantanan Marko masih tercetak di kepalanya, membuat gairahnya sulit disurutkan. Dia semakin geram saat melihat Sunny ternyata belum memakai pakaiannya sama sekali saat dia mengajak Marko kembali ke ruangan mereka.Sunny tersenyum melihat kedatangan Marko. "Marko, bisakah kau menolongku? Kakiku sangat sakit saat dipakai untuk latihan. Aku yakin kakiku pasti terkilir.""Bagian mana yang sakit, Nona?" tanya Marko berjongkok di samping Sunny. Sekarang Sunny duduk dengan kedua kaki diluruskan sehingga di saat Marko berjongkok di sisinya, Marko bisa melirik celah sempit di antara kedua kaki Sunny."Bagian sini, Marko," jawab Sunny menekuk salah satu kakinya, dan menunjukkan pergelangan kakinya yang memerah pada Marko."Aku akan membantu meringankan sakitnya, Nona." Marko berucap tanpa mengalihkan pandangannya dari kewanitaan Sunny yang sekarang tampak menggoda di matan
Flora memilih menunggu di luar kamar hotel selagi Jasmine bergabung dengan Marko dan Sunny di dalam sana.Sementara di dalam kamar hotel, seisi ruangan dipenuhi dengan aroma percintaan yang pekat.Marko terus menghunjam Sunny sambil tangannya memainkan payudara Jasmine."Ahh .... Ahh ...." Desahan-desahan mereka saling bersahutan. Marko kemudian melumat bibir Jasmine yang ranum dengan liar.Ciuman mereka terlepas, lalu Marko gantian menghunjam Jasmine.Marko senang karena gairahnya yang besar bisa terpuaskan oleh dua wanita ini. Dia terus melakukan seks dengan Sunny dan Jasmine sampai kedua wanita itu kelelahan.***Marko pulang ke rumah dan terkejut menemukan Wennie yang baru saja mandi, keluar dari kamarnya dengan telanjang bulat."Astaga, Marko! Kau mengejutkanku! Aku kira kau tadi Stella," ucap Wennie menghela napas lega setelah tahu yang datang adalah Marko.Melihat payudara dan daerah intim Wennie, membuat batang Marko kembali bangun. "Kak Wennie, kau tak takut ada pria asing
Marko menatap Roman tajam. "Baik, aku terima tantanganmu."Para atlet yang mengelilingi Marko mulai berbisik-bisik. Mereka akan tetap memihak pada Roman sampai Marko dapat membuktikan kalau Roman memang bersalah."Aku percaya jika Roman tidak bersalah.""Aku juga. Roman itu sangat baik pada kita. Mana mungkin dia berniat meracuni si anak baru," balas atlet lainnya."Marko pasti hanya membual saja."Roman terlihat begitu percaya diri, dia yakin bahwa Marko tidak akan bisa membuktikan tuduhannya.Jake yang masih terkejut dengan tuduhan racun itu mengernyitkan dahi. "Kau yakin, Marko? Bagaimana kau bisa membuktikannya?"Marko menghela napas dan melihat ke sekitar. "Ada cara sederhana untuk mengetahui apakah minuman ini mengandung racun atau tidak.""Beberapa racun tertentu bisa dideteksi dengan tes sederhana menggunakan garam dapur atau cuka. Jika cairannya berubah warna, berarti ada zat berbahaya di dalamnya," sambung Marko dengan suara tegas.Roman terkekeh, berpura-pura tetap tenang.
Suara lonceng menggema di dalam arena, menandakan dimulainya pertarungan. Marko melangkah maju dengan penuh percaya diri, matanya tak lepas dari sosok lawannya, Rocco. Sementara, Rocco berdiri tegak di seberang ring, tubuhnya besar dan berotot, rahangnya mengeras dengan ekspresi penuh aura kesombongan yang memancar. Dari luar, siapa pun akan mengira Rocco unggul secara fisik. Tapi, sebenarnya dia tidak sekuat Marko. Apalagi perihal strategi. Tentu, Marko Davies lebih unggul!Rocco mengangkat kedua tangannya dalam posisi siap tempur, lalu mulai mendekat dengan langkah mantap.Marko menatap Rocco dengan tenang. Dia akan menunggu lawannya itu maju duluan, sambil dia membaca teknik yang akan digunakan Rocco untuk menyerangnya.Dan seperti yang sudah dia perkirakan, Rocco memulai pertarungan dengan mengeluarkan energi yang sangat besar. Pria bertubuh besar itu meluncur dengan pukulan kanan yang kuat, mengincar wajah Marko. Tapi Marko sudah siap. Dengan refleks tajam, Marko memiringkan
Marko berderap keluar dari markas Top Team dengan langkah tegas. Hatinya dipenuhi kemarahan dan kecemasan. Arnold diculik, Jake terluka, dan clubnya dihancurkan. Ini sudah keterlaluan. Ini sama saja dengan mengajak Marko untuk berperang!Marko tahu siapa dalangnya. Black Alpha.Black Alpha adalah sebuah club MMA terbesar di New York yang terkenal dengan taktik kotor mereka dalam merekrut atlet berbakat dari club kecil. Mereka tak segan-segan menghancurkan club yang mereka anggap sebagai penghalang.Dulu di saat Marko masih menjadi Marko Davies, dia paling anti dengan club Black Alpha.Marko mengepalkan tinjunya. Jika mereka pikir bisa mempermainkan Top Team begitu saja, mereka salah besar.Tanpa ragu, Marko bergegas pergi menuju markas Black Alpha yang ada di pusat kota New York.Gedung markas Black Alpha berdiri megah di tengah kota. Berbeda jauh dari Top Team yang sederhana, tempat ini terlihat lebih seperti pusat kebugaran mewah. Lampu-lampu neon biru menerangi logo besar di atas
"Nona Sierra, aku punya dua permintaan sebelum aku menandatangani surat perjanjian ini," ucap Marko dengan tenang. Sekarang di ruangan ini tinggal dirinya dan Sierra. Arnold sudah dipulangkan oleh anak buah Sierra setengah jam yang lalu.Sierra bersandar di kursinya, menatap Marko dengan tatapan penuh selidik."Permintaan?" Sierra menyeringai tipis. "Bukannya kau sudah mengiyakan tawaran untuk bergabung tadi? Kenapa tiba-tiba kau punya permintaan?"Marko mengangkat kedua alisnya sambil menghela napas pelan. "Aku hanya ingin memastikan jika aku bergabung, aku mendapatkan apa yang kuinginkan juga."Sierra terkekeh pelan, lalu melipat tangannya di atas meja. "Memangnya apa yang kau inginkan, Marko?""Aku ingin Arnold tetap melatihku di sini," kata Marko tanpa ragu. "Dan aku ingin semua atlet Top Team juga bergabung dengan Black Alpha."Sierra langsung tertawa kecil. "Astaga, kau benar-benar berpikir kau bisa menawariku sesuatu? Ini bukan pasar, Marko."Marko tidak bereaksi. Tatapannya te
Keesokan harinya. Marko sudah berdiri tegak di tengah tempat gym Black Alpha. Dia melihat sekeliling dengan senang. Akhirnya, permintaannya dikabulkan. Arnold dan para atlet Top Team telah dibawa ke markas Black Alpha. Itu berarti mereka tidak akan kehilangan tempat untuk berlatih, setidaknya untuk sementara.Sierra telah memenuhi janjinya, tetapi Marko tahu ini bukan tindakan baik hati. Pasti ada maksud di baliknya. Namun, untuk saat ini, dia memilih untuk menikmati kemenangan kecilnya.Arnold berdiri di sampingnya, wajahnya terlihat tidak begitu senang. Sejak awal, dia tidak pernah setuju dengan keputusan Marko untuk bergabung dengan Black Alpha, tapi sekarang mereka sudah berada di sini. Tidak ada jalan untuk kembali."Ini tempat baru kita, Pak Pelatih," tukas Marko, mencoba mengangkat semangat Arnold. "Bukan Top Team, tapi setidaknya kita masih bersama."Arnold menghela napas. "Ya, tapi ini bukan tempat kita, Marko. Aku tidak yakin mereka akan menerimaku dan atlet Top Team dengan
Seminggu kemudian. Marko Hubert dan Victor akhirnya bertemu untuk pertama kalinya di turnamen UFC. Meski, bagi Marko ini tidak benar-benar pertama kalinya.Marko Hubert kini berdiri di belakang panggung arena UFC, mengenakan celana pendek pertarungan hitam dengan garis emas di sisi. Tangannya telah dibalut dengan perban putih, siap untuk menghadapi tantangan terbesar dalam hidupnya. Victor.Sorakan dari ribuan penonton menggema di dalam arena. Lampu sorot menerangi oktagon di tengah stadion, sementara layar raksasa menampilkan wajah Marko dan Victor berdampingan.Di sisi lain ruangan, Victor tengah melakukan pemanasan, tubuhnya penuh dengan otot keras hasil latihan bertahun-tahun. Dia adalah juara bertahan, seorang petarung dengan rekor tak terkalahkan. Mata tajamnya menatap lurus ke arah layar, lalu beralih ke Marko yang berdiri di seberang lorong.Seorang official menghampiri mereka. "Saatnya masuk."Marko menarik napas panjang, lalu melangkah ke dalam lorong panjang yang akan memba
Marko berjalan dengan langkah mantap di antara mayat-mayat yang berserakan di markas Rio Davies. Tangannya masih berlumuran darah, tapi bukan darahnya sendiri, melainkan darah para lawannya yang telah dia habisi tanpa ampun. Tubuhnya terasa ringan, tidak ada luka yang berarti, meskipun dia baru saja menghadapi pasukan pembunuh bayaran terbaik yang dimiliki Rio Davies.Di gendongannya, Stella menggeliat pelan. Matanya yang masih sedikit sayu menatap wajah Marko dengan kebingungan."Marko, kau mau membawaku ke mana?" Suara Stella lemah, tapi masih terdengar jelas di tengah keheningan yang mencekam ini.Marko tidak langsung menjawab. Dia hanya mempererat genggamannya pada tubuh Stella dan terus berjalan keluar dari bangunan yang kini dipenuhi oleh mayat.Di luar, udara malam terasa dingin, berbeda dengan panasnya pertarungan brutal yang baru saja dia lalui. Bintang-bintang bertaburan di langit, seolah mengamati setiap langkahnya dengan diam.Marko menemukan sebuah mobil yang masih dalam
Dorrr!!!Peluru itu melesat cepat menuju kepala Marko.Rio Davies tersenyum penuh kemenangan.Namun, sesuatu yang tak terduga terjadi.Clangg!!!Peluru itu mengenai kulit Marko, namun bukannya menembus, peluru itu justru terpental seolah menabrak baja yang tak terlihat.Mata Rio Davies membelalak. "Apa-apaan ini?!"Marko hanya tersenyum miring. Dia menurunkan kepalanya sedikit, menatap Rio dengan sorot mata dingin. Level legendanya membuat Marko mendapatkan kemampuan baru yang membuat dirinya tidak mempan ditembak ataupun ditusuk pisau.Rio menembak lagi.Dorr!!! Dorr!!! Dorrr!!!Satu, dua, tiga peluru ditembakkan, semuanya mengenai tubuh Marko.Namun, hasilnya sama.Peluru itu tak mampu melukai Marko."Bajingan!" Rio Davies melompat dari kursinya, menggertakkan giginya. Dia memutar badannya, memberikan kode dengan tangannya.Dari balik pintu samping, muncul delapan orang berpakaian hitam dengan wajah tanpa ekspresi.Mereka bukan anak buah biasa.Mereka adalah Shadow Unit, unit pembun
Malam ini. Angin bertiup kencang di sekitar pelabuhan tua. Markas Rio Davies berdiri megah di atas tanah luas yang menghadap langsung ke lautan hitam yang bergelombang. Bangunan beton itu lebih mirip benteng daripada gudang biasa, dengan penjagaan ketat di setiap sudutnya.Dari kejauhan, Marko bisa melihat para penjaga bersenjata mondar-mandir di sekitar gerbang. Mereka semua terlihat waspada, seolah tahu bahwa bahaya bisa datang kapan saja.Marko menarik napas dalam. Dia tahu bahwa menerobos ke dalam akan menjadi hal yang mustahil.Tapi Marko tidak perlu menerobos karena dia memiliki sesuatu yang mereka inginkan. Yaitu sertifikat pulau. Marko akan memancing Rio Davies menggunakan sertifikat itu.Dengan langkah mantap, Marko berjalan ke depan gerbang, sengaja membiarkan dirinya terlihat oleh para penjaga.Butuh waktu kurang dari sepuluh detik sebelum seseorang menyadari kehadirannya."Hei! Siapa yang di sana?! Pergi sebelum kutembak kepalamu!" Salah satu penjaga mengangkat senjatanya,
"Kau ...."Marko berdiri mematung melihat pria yang kini berdiri tegap di depannya.Jantung Marko berdegup semakin kencang, tapi tubuhnya terasa membeku.Di hadapannya seorang pria yang sama sekali tidak asing menatapnya dengan sorot mata tak terbaca. Pria itu adalah tubuhnya sendiri. Marko Davies.Jika sekarang Marko Davies yang sebenarnya berada di tubuh Marko Hubert. Lalu, siapa yang ada di dalam tubuhnya itu?Marko buru-buru bergeleng. "Tidak. Tidak mungkin," gumamnya tidak ingin percaya dengan apa yang ada di hadapannya.Pria di depan Marko itu mengulas senyum. "Apanya yang tidak mungkin?"Marko menatap tajam pria itu. "Siapa kau?! Kenapa kau memakai tubuhku, Sialan?!"Si pria tertawa kecil. "Padahal aku telah lama menunggu waktu bertemu denganmu. Tapi, reaksimu ini sungguh membuatku kecewa, Marko."Marko semakin geram. "Siapa kau, Keparat?! Bagaimana bisa kau memakai tubuhku?! Dan, apa yang kau lakukan di apartemenku?! Apa kau juga yang mengirimkan pesan misterius?!"Si pria ber
"Sialan!"Marko memukul setir mobilnya dengan geram. Mobil yang membawa Jake, Daniel, dan Arnold sudah menghilang di tengah lalu lintas.Dia telah kehilangan jejak mereka.Lalu lintas di kota begitu padat, membuat pengejarannya sia-sia. Rio Davies jelas sudah merencanakan semuanya dengan rapi. Pria itu sangat licik dan memiliki segala taktik untuk melancarkan keinginannya.Marko menarik napas panjang, menenangkan pikirannya. Tidak ada gunanya mengutuk keadaan. Dia harus bergerak cepat.Mata tajamnya menyapu jalanan yang dipenuhi mobil-mobil dan lampu kota yang berkedip. Jika dia tidak bisa mengejar mereka sekarang, dia harus mencari kelemahan lain dalam rencana Rio Davies.Dan ada satu hal yang muncul dalam pikirannya. Sertifikat pulau.Marko lalu berbalik arah, dan menginjak pedal gas. Mobilnya langsung melesat cepat ke arah apartemen milik Marko Davies. Itu adalah satu-satunya tempat yang memiliki sesuatu yang diinginkan Rio Davies selama bertahun-tahun.Sebuah sertifikat pulau yang
Dinginnya malam merayap ke dalam jaket Marko saat dia berdiri di depan kantor Stella. Matanya masih menatap tajam simbol ular melingkar di dinding luar gedung. Nafasnya berat, uap hangat keluar dari bibirnya saat amarah menggelegak di dadanya.Stella diculik orang-orang yang ada di organisasi mafia yang dipimpin oleh Rio Davies, raja mafia yang merupakan kerabat dekat Marko Davies. Nama Rio Davies dulu hanya sekadar legenda di dunia kriminal. Sebuah bayangan yang mengendalikan segalanya dari balik layar terutama di dunia MMA. Namun kini, bayangan itu merayap ke hidup Marko Hubert. Padahal Marko paling menghindari berurusan dengan Rio Davies.Jantung Marko berdebar kencang. Tangannya mengepal begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Stella telah diculik, dan dia tahu ini bukan sekadar penculikan. Ini adalah perangkap.Rio Davies dan anak buah pria itu pasti ingin menarik Marko masuk ke perangkapnya dan membuat Marko tidak bisa lagi kembali ke dunia MMA. Seperti yang dulu terjadi
Di tengah malam yang dingin, sebuah limusin hitam meluncur melewati jalanan sepi. Mobil itu melaju ke arah sebuah bangunan besar di pusat kota yang tidak memiliki plang atau tanda identitas apa pun. Dari luar, gedung itu tampak seperti kantor biasa, tetapi di dalamnya adalah pusat kendali organisasi mafia terbesar di Amerika.Di lantai paling atas, terdapat sebuah ruangan eksklusif dengan pemandangan langsung ke arah kota. Ruangan itu luas, dengan kaca besar yang mencerminkan cahaya lampu kota di kejauhan. Sebuah meja panjang dari kayu hitam berdiri megah di tengah ruangan, dikelilingi oleh kursi kulit mahal.Di ujung meja, seorang pria duduk dengan tenang. Rio Davies.Sosok itu adalah Don, pemimpin tertinggi mafia di seluruh Amerika Serikat. Dia mengenakan setelan hitam yang sempurna, rambutnya rapi, dengan wajah yang dingin tanpa ekspresi. Di tangannya ada sebuah cincin emas dengan lambang keluarga Davies, simbol kekuasaannya.Di hadapannya, Vladimir Ivanov berdiri dengan penuh horm
Kemenangan Marko membuat para petinggi MMA sedikit terusik. Mereka segera melakukan pertemuan khusus untuk membahas atlet bernama Marko Hubert itu.Suasana mencekam di sebuah ruangan eksklusif, tempat para petinggi MMA berkumpul.Ruangan itu luas, dengan desain klasik yang dipenuhi ornamen kayu mahal. Lampu gantung kristal menggantung di langit-langit, menciptakan pencahayaan redup yang menambah kesan eksklusif dan rahasia. Asap rokok melayang di udara, menciptakan atmosfer yang berat dan menekan.Di tengah ruangan, sebuah meja panjang dari kayu mahoni berdiri megah, dikelilingi oleh beberapa pria berjas hitam. Mereka bukan sembarang orang. Mereka adalah mafia yang selama ini menguasai dunia pertarungan MMA di balik layar.Mereka adalah orang-orang yang mengatur segalanya dari hasil pertandingan, petarung mana yang boleh naik, siapa yang harus jatuh, hingga taruhan ilegal yang menghasilkan miliaran.Dan malam ini, mereka semua memiliki satu masalah yang sama.Yaitu atlet dari club Bla