"Kak Martha ...." July terjingkat kaget saat melihat Martha mengintip dari jendela mobilnya yang tertutup. Dia buru-buru menyuruh Marko untuk menunduk agar tak terlihat.Martha yang ada di luar mobil July mendapati kembarannya itu tampak bermain kuda-kudaan sendirian."Kasihan sekali dia. Dia tak bisa memuaskan nafsunya yang lebih besar dariku sehingga bermain sendiri," gumam Martha berbalik kembali ke kantornya.July segera menghela napas lega saat Martha sudah pergi. Dia tadi begitu takut kalau Martha marah melihatnya seks dengan Marko. Karena dia tahu Martha menyukai Marko sejak lama, dan July pun juga diam-diam menyukai Marko."Nona July, bagaimana? Apa Nona Martha sudah pergi?" tanya Marko membuat July tersadar jika pria itu sedang ada di bawahnya, dan pantat July sedang menungging tepat di depan wajah Marko."Sudah, Marko." July merasa malu karena dengan posisi seperti ini Marko bisa melihat bagian intimnya dengan sangat jelas.July perlahan berpindah ke samping. Tapi, sebelum d
Amber sebenarnya hendak pergi ke tempat gym tapi karena sudah tak bisa menahan rasa ingin kencing, dia akhirnya memilih turun dari mobil dan mencari toilet. Tak disangkanya, dia malah bertemu dengan pria mesum seperti Marko.Amber akui Marko sangat tampan sampai membuat dirinya terpesona. Tapi, karena malu tertangkap basah sedang kencing sembarangan, dia jadi melimpahkan rasa marahnya pada Marko.Marko mengulas senyumnya. "Lain kali jangan seperti ini, Nona. Jangan menaruh kewanitaanmu di tempat sembarangan. Kalau ada pria yang memerkosamu bagaimana?"Amber terkejut dengan ucapan Marko. Ternyata pria itu baik. Dia telah salah menilai Marko.Meski, Marko memiliki nafsu yang sangat besar sekarang, tapi dia tak akan menyerang wanita lain tanpa persetujuan si wanita. Bahkan sebelumnya Martha dan July-lah yang lebih dulu memancing Marko.Marko mengibaskan sebelah tangan dan membalikkan badan."Ingat ucapanku ini, Nona," ujar Marko sebelum melangkah pergi.Amber hanya bisa memandangi keperg
Marko terbangun paginya dengan tubuh lebih segar.Dia merenggangkan tubuhnya dan memijat otot-ototnya. Lalu tersentak begitu menyadari otot-ototnya mulai terbentuk sempurna. Sampai Marko dibuat takjub. Padahal dia tak pernah berlatih fisik, tapi otot-ototnya sudah sebagus ini. Apalagi kalau dia berlatih fisik secara intens. Mungkin, Marko bisa menjadi sangat kuat dalam waktu singkat.Marko kemudian teringat dia masih meniduri dua wanita kemarin. Dia khawatir misinya gagal dan membuatnya kembali ke level awal.Marko buru-buru membuka hp jadulnya untuk membaca dua pesan misterius yang baru saja masuk.[Misi diperpanjang hingga hari ini].[Misi tersisa 60%].Marko menghela napas lega. Ternyata dia diberi kesempatan. Dia akan memanfaatkan kesempatan itu baik-baik untuk membangun kekuatannya.Setelah menyimpan hp jadulnya, Marko pergi ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya, lalu pergi ke ruang makan.Tapi, ketika Marko sudah berada di ruang makan, Nyonya Dawson langsung mendampratnya."K
Wennie bergerak mendekati Marko. Melihat suami sepupunya lagi membuatnya senang. Sudah lama dia menahan rindunya pada Marko.Andai Marko tak dijodohkan dengan Stella, mungkin Wennie-lah yang jadi istri pria tampan itu.Wennie begitu iri pada Stella. Jadi, di saat dia berada di luar negeri, dia berusaha mengubah dirinya menjadi lebih cantik. Dan tentunya, dia juga memperbesar payudara serta bokongnya agar dia bisa tidur dengan banyak pria, terutama Marko.Begitu sudah ada di dekat Marko, Wennie sengaja meremas payudaranya sendiri, memancing Marko.Wennie menjilati bibirnya sendiri sambil terus meremas payudaranya. Lalu perlahan dia melepaskan blouse yang dia gunakan, dan celana pendeknya. Hingga Wennie sekarang telanjang bulat di hadapan Marko."Wow ...." Marko tersenyum melihat payudara Wennie benar-benar besar. Bentuknya sangat kencang dan sedikit berdekatan antara satu dengan yang lain.Bagi Marko dua benda kembar itu tampak menggemaskan. Tapi, sebelum Marko mengulurkan tangan untuk
Lily sebenarnya tadi ingin pergi ke kamarnya. Tapi di saat dirinya melewati gudang, Lily justru mendengar suara desahan yang saling bersahutan.Karena penasaran Lily pun menelusuri dari mana asalnya suara-suara itu. Ternyata semuanya datang dari dalam gudang.Lily mencoba membuka pintu gudang sedikit untuk melihat apa yang ada di dalam sana. Dan matanya langsung disuguhkan pemandangan yang luar biasa menggugah.Marko dan Wennie melakukan seks dengan gaya doggy style. Tatapan Lily terus terpaku pada kejantanan Marko yang sangat perkasa. Sambil melihat Marko menggagahi Wennie dengan panas, Lily meraba celana dalamnya yang mulai basah.Lily kemudian buru-buru ke kamar mandi untuk memuaskan dirinya sendiri.Dibukanya celana dalamnya begitu dia sudah duduk di atas kloset. Lalu, Lily memasukkan jarinya ke dalam kewanitaannya. Semula satu jari, lalu bertambah dua jari. Dan berlanjut tiga jari."Ahh ... Kak Marko ...." Lily membayangkan kejantanan Marko saat melakukan pelepasan. Cairan kenta
Setelah memikirkannya matang-matang, Marko pun bergeleng menolak. Dia tak mau mengulangi kesalahan yang sama saat Stella memarahinya karena membawa pulang Lily terlalu larut malam."Tidak! Aku tak akan sudi ikut denganmu ke balap liar," jawab Marko membuat Lily mengerucutkan bibirnya kecewa."Ayolah, Kak Marko. Apa karena kau takut Kak Stella marah? Itu tidak akan terjadi. Kita akan pergi diam-diam, dan kembali sebelum orang-orang di rumah bangun." Lily memegang tangan Marko, berusaha membujuknya.Lily masih duduk di samping Marko tanpa memakai celana. Dia mencari cara agar Marko mau mengiyakan permintaannya ini.Lily ingin sekali ikut balap liar agar tak tertinggal dari teman-temannya yang kekinian. Mereka menganggap Lily cupu karena gadis itu menghabiskan waktu di rumah tanpa tahu seperti apa dunia malam.Lily tak mau dikucilkan lagi. Dia ingin seperti teman-temannya. Menjadi remaja modis dan bebas."Kak Marko, aku mohon. Lebih baik aku mati saja kalau Kak Marko tak mau ikut," ucap
Agust adalah juara bertahan dan bintang dalam balapan liar ini. Lily tahu Agust karena sering dibicarakan teman-temannya. Pria itu sangat populer.Selain anak orang kaya, Agust juga memiliki tiga mobil sport mahal.Tapi, Marko tak peduli dengan semua itu. Mau sekaya apapun seseorang, tapi jika dia tidak bisa menghargai orang lain. Maka orang itu lebih rendah nilainya daripada yang dia hina."Lebih baik kau pulang. Kau hanya memalukan dirimu di sini," ujar Agust menepuk pundak Marko dengan nada merendahkan.Urat di leher Marko menegang karena dihina pria yang sudah merusak motor kesayangannya. Dia menepis tangan Agust kasar. "Jangan menyentuhku!""Gembel aja belagu. Kau tahu kau itu tampak seperti kotoran di kakiku." Agust berucap dengan lantang sehingga kerumunan di dekatnya ikut tertawa menghina Marko."Sialan!" desis Marko, siap menghajar mulut Agust yang sombong. Tapi, Lily segera menyentuh punggungnya dari arah belakang untuk menenangkannya."Kak Marko, jangan hiraukan ucapannya,"
Marko menyambar kunci mobil dari salah satu penonton. "Aku pinjam sebentar ya," ucapnya.Pemilik mobil itu mendengus kesal. "Awas saja kalau sampai kau merusaknya, kau harus tanggung jawab.""Tenang saja. Aku akan mengembalikannya dalam keadaan baik," jawab Marko sambil masuk ke dalam mobil Nissan GT-R.Marko kemudian melajukan mobilnya sampai berhenti di garis start.Agust yang ada di sisi Marko membuka jendela mobilnya untuk meludah. "Siap-siap telanjang nanti," ucapnya yang dibalas Marko dengan jari tengahnya."Siap-siap juga melepaskan mobil Audimu," sahut Marko langsung mengembalikan pandangannya ke depan. Dia tak mempedulikan Agust yang sekarang menatapnya marah.Seorang wanita berbikini berdiri di depan, mengambil tempat di antara mobil Nissan Marko, dan Porsche milik Agust. Wanita itu kemudian menaikkan bendera tinggi-tinggi. "Three ... Two ... One ....""Go!" teriak si wanita mengibaskan bendera yang dia bawa.Marko langsung melesat. Namun, Agust lebih unggul di awal. Porsch
Seminggu kemudian. Marko Hubert dan Victor akhirnya bertemu untuk pertama kalinya di turnamen UFC. Meski, bagi Marko ini tidak benar-benar pertama kalinya.Marko Hubert kini berdiri di belakang panggung arena UFC, mengenakan celana pendek pertarungan hitam dengan garis emas di sisi. Tangannya telah dibalut dengan perban putih, siap untuk menghadapi tantangan terbesar dalam hidupnya. Victor.Sorakan dari ribuan penonton menggema di dalam arena. Lampu sorot menerangi oktagon di tengah stadion, sementara layar raksasa menampilkan wajah Marko dan Victor berdampingan.Di sisi lain ruangan, Victor tengah melakukan pemanasan, tubuhnya penuh dengan otot keras hasil latihan bertahun-tahun. Dia adalah juara bertahan, seorang petarung dengan rekor tak terkalahkan. Mata tajamnya menatap lurus ke arah layar, lalu beralih ke Marko yang berdiri di seberang lorong.Seorang official menghampiri mereka. "Saatnya masuk."Marko menarik napas panjang, lalu melangkah ke dalam lorong panjang yang akan memba
Marko berjalan dengan langkah mantap di antara mayat-mayat yang berserakan di markas Rio Davies. Tangannya masih berlumuran darah, tapi bukan darahnya sendiri, melainkan darah para lawannya yang telah dia habisi tanpa ampun. Tubuhnya terasa ringan, tidak ada luka yang berarti, meskipun dia baru saja menghadapi pasukan pembunuh bayaran terbaik yang dimiliki Rio Davies.Di gendongannya, Stella menggeliat pelan. Matanya yang masih sedikit sayu menatap wajah Marko dengan kebingungan."Marko, kau mau membawaku ke mana?" Suara Stella lemah, tapi masih terdengar jelas di tengah keheningan yang mencekam ini.Marko tidak langsung menjawab. Dia hanya mempererat genggamannya pada tubuh Stella dan terus berjalan keluar dari bangunan yang kini dipenuhi oleh mayat.Di luar, udara malam terasa dingin, berbeda dengan panasnya pertarungan brutal yang baru saja dia lalui. Bintang-bintang bertaburan di langit, seolah mengamati setiap langkahnya dengan diam.Marko menemukan sebuah mobil yang masih dalam
Dorrr!!!Peluru itu melesat cepat menuju kepala Marko.Rio Davies tersenyum penuh kemenangan.Namun, sesuatu yang tak terduga terjadi.Clangg!!!Peluru itu mengenai kulit Marko, namun bukannya menembus, peluru itu justru terpental seolah menabrak baja yang tak terlihat.Mata Rio Davies membelalak. "Apa-apaan ini?!"Marko hanya tersenyum miring. Dia menurunkan kepalanya sedikit, menatap Rio dengan sorot mata dingin. Level legendanya membuat Marko mendapatkan kemampuan baru yang membuat dirinya tidak mempan ditembak ataupun ditusuk pisau.Rio menembak lagi.Dorr!!! Dorr!!! Dorrr!!!Satu, dua, tiga peluru ditembakkan, semuanya mengenai tubuh Marko.Namun, hasilnya sama.Peluru itu tak mampu melukai Marko."Bajingan!" Rio Davies melompat dari kursinya, menggertakkan giginya. Dia memutar badannya, memberikan kode dengan tangannya.Dari balik pintu samping, muncul delapan orang berpakaian hitam dengan wajah tanpa ekspresi.Mereka bukan anak buah biasa.Mereka adalah Shadow Unit, unit pembun
Malam ini. Angin bertiup kencang di sekitar pelabuhan tua. Markas Rio Davies berdiri megah di atas tanah luas yang menghadap langsung ke lautan hitam yang bergelombang. Bangunan beton itu lebih mirip benteng daripada gudang biasa, dengan penjagaan ketat di setiap sudutnya.Dari kejauhan, Marko bisa melihat para penjaga bersenjata mondar-mandir di sekitar gerbang. Mereka semua terlihat waspada, seolah tahu bahwa bahaya bisa datang kapan saja.Marko menarik napas dalam. Dia tahu bahwa menerobos ke dalam akan menjadi hal yang mustahil.Tapi Marko tidak perlu menerobos karena dia memiliki sesuatu yang mereka inginkan. Yaitu sertifikat pulau. Marko akan memancing Rio Davies menggunakan sertifikat itu.Dengan langkah mantap, Marko berjalan ke depan gerbang, sengaja membiarkan dirinya terlihat oleh para penjaga.Butuh waktu kurang dari sepuluh detik sebelum seseorang menyadari kehadirannya."Hei! Siapa yang di sana?! Pergi sebelum kutembak kepalamu!" Salah satu penjaga mengangkat senjatanya,
"Kau ...."Marko berdiri mematung melihat pria yang kini berdiri tegap di depannya.Jantung Marko berdegup semakin kencang, tapi tubuhnya terasa membeku.Di hadapannya seorang pria yang sama sekali tidak asing menatapnya dengan sorot mata tak terbaca. Pria itu adalah tubuhnya sendiri. Marko Davies.Jika sekarang Marko Davies yang sebenarnya berada di tubuh Marko Hubert. Lalu, siapa yang ada di dalam tubuhnya itu?Marko buru-buru bergeleng. "Tidak. Tidak mungkin," gumamnya tidak ingin percaya dengan apa yang ada di hadapannya.Pria di depan Marko itu mengulas senyum. "Apanya yang tidak mungkin?"Marko menatap tajam pria itu. "Siapa kau?! Kenapa kau memakai tubuhku, Sialan?!"Si pria tertawa kecil. "Padahal aku telah lama menunggu waktu bertemu denganmu. Tapi, reaksimu ini sungguh membuatku kecewa, Marko."Marko semakin geram. "Siapa kau, Keparat?! Bagaimana bisa kau memakai tubuhku?! Dan, apa yang kau lakukan di apartemenku?! Apa kau juga yang mengirimkan pesan misterius?!"Si pria ber
"Sialan!"Marko memukul setir mobilnya dengan geram. Mobil yang membawa Jake, Daniel, dan Arnold sudah menghilang di tengah lalu lintas.Dia telah kehilangan jejak mereka.Lalu lintas di kota begitu padat, membuat pengejarannya sia-sia. Rio Davies jelas sudah merencanakan semuanya dengan rapi. Pria itu sangat licik dan memiliki segala taktik untuk melancarkan keinginannya.Marko menarik napas panjang, menenangkan pikirannya. Tidak ada gunanya mengutuk keadaan. Dia harus bergerak cepat.Mata tajamnya menyapu jalanan yang dipenuhi mobil-mobil dan lampu kota yang berkedip. Jika dia tidak bisa mengejar mereka sekarang, dia harus mencari kelemahan lain dalam rencana Rio Davies.Dan ada satu hal yang muncul dalam pikirannya. Sertifikat pulau.Marko lalu berbalik arah, dan menginjak pedal gas. Mobilnya langsung melesat cepat ke arah apartemen milik Marko Davies. Itu adalah satu-satunya tempat yang memiliki sesuatu yang diinginkan Rio Davies selama bertahun-tahun.Sebuah sertifikat pulau yang
Dinginnya malam merayap ke dalam jaket Marko saat dia berdiri di depan kantor Stella. Matanya masih menatap tajam simbol ular melingkar di dinding luar gedung. Nafasnya berat, uap hangat keluar dari bibirnya saat amarah menggelegak di dadanya.Stella diculik orang-orang yang ada di organisasi mafia yang dipimpin oleh Rio Davies, raja mafia yang merupakan kerabat dekat Marko Davies. Nama Rio Davies dulu hanya sekadar legenda di dunia kriminal. Sebuah bayangan yang mengendalikan segalanya dari balik layar terutama di dunia MMA. Namun kini, bayangan itu merayap ke hidup Marko Hubert. Padahal Marko paling menghindari berurusan dengan Rio Davies.Jantung Marko berdebar kencang. Tangannya mengepal begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Stella telah diculik, dan dia tahu ini bukan sekadar penculikan. Ini adalah perangkap.Rio Davies dan anak buah pria itu pasti ingin menarik Marko masuk ke perangkapnya dan membuat Marko tidak bisa lagi kembali ke dunia MMA. Seperti yang dulu terjadi
Di tengah malam yang dingin, sebuah limusin hitam meluncur melewati jalanan sepi. Mobil itu melaju ke arah sebuah bangunan besar di pusat kota yang tidak memiliki plang atau tanda identitas apa pun. Dari luar, gedung itu tampak seperti kantor biasa, tetapi di dalamnya adalah pusat kendali organisasi mafia terbesar di Amerika.Di lantai paling atas, terdapat sebuah ruangan eksklusif dengan pemandangan langsung ke arah kota. Ruangan itu luas, dengan kaca besar yang mencerminkan cahaya lampu kota di kejauhan. Sebuah meja panjang dari kayu hitam berdiri megah di tengah ruangan, dikelilingi oleh kursi kulit mahal.Di ujung meja, seorang pria duduk dengan tenang. Rio Davies.Sosok itu adalah Don, pemimpin tertinggi mafia di seluruh Amerika Serikat. Dia mengenakan setelan hitam yang sempurna, rambutnya rapi, dengan wajah yang dingin tanpa ekspresi. Di tangannya ada sebuah cincin emas dengan lambang keluarga Davies, simbol kekuasaannya.Di hadapannya, Vladimir Ivanov berdiri dengan penuh horm
Kemenangan Marko membuat para petinggi MMA sedikit terusik. Mereka segera melakukan pertemuan khusus untuk membahas atlet bernama Marko Hubert itu.Suasana mencekam di sebuah ruangan eksklusif, tempat para petinggi MMA berkumpul.Ruangan itu luas, dengan desain klasik yang dipenuhi ornamen kayu mahal. Lampu gantung kristal menggantung di langit-langit, menciptakan pencahayaan redup yang menambah kesan eksklusif dan rahasia. Asap rokok melayang di udara, menciptakan atmosfer yang berat dan menekan.Di tengah ruangan, sebuah meja panjang dari kayu mahoni berdiri megah, dikelilingi oleh beberapa pria berjas hitam. Mereka bukan sembarang orang. Mereka adalah mafia yang selama ini menguasai dunia pertarungan MMA di balik layar.Mereka adalah orang-orang yang mengatur segalanya dari hasil pertandingan, petarung mana yang boleh naik, siapa yang harus jatuh, hingga taruhan ilegal yang menghasilkan miliaran.Dan malam ini, mereka semua memiliki satu masalah yang sama.Yaitu atlet dari club Bla