Agust adalah juara bertahan dan bintang dalam balapan liar ini. Lily tahu Agust karena sering dibicarakan teman-temannya. Pria itu sangat populer.Selain anak orang kaya, Agust juga memiliki tiga mobil sport mahal.Tapi, Marko tak peduli dengan semua itu. Mau sekaya apapun seseorang, tapi jika dia tidak bisa menghargai orang lain. Maka orang itu lebih rendah nilainya daripada yang dia hina."Lebih baik kau pulang. Kau hanya memalukan dirimu di sini," ujar Agust menepuk pundak Marko dengan nada merendahkan.Urat di leher Marko menegang karena dihina pria yang sudah merusak motor kesayangannya. Dia menepis tangan Agust kasar. "Jangan menyentuhku!""Gembel aja belagu. Kau tahu kau itu tampak seperti kotoran di kakiku." Agust berucap dengan lantang sehingga kerumunan di dekatnya ikut tertawa menghina Marko."Sialan!" desis Marko, siap menghajar mulut Agust yang sombong. Tapi, Lily segera menyentuh punggungnya dari arah belakang untuk menenangkannya."Kak Marko, jangan hiraukan ucapannya,"
Marko menyambar kunci mobil dari salah satu penonton. "Aku pinjam sebentar ya," ucapnya.Pemilik mobil itu mendengus kesal. "Awas saja kalau sampai kau merusaknya, kau harus tanggung jawab.""Tenang saja. Aku akan mengembalikannya dalam keadaan baik," jawab Marko sambil masuk ke dalam mobil Nissan GT-R.Marko kemudian melajukan mobilnya sampai berhenti di garis start.Agust yang ada di sisi Marko membuka jendela mobilnya untuk meludah. "Siap-siap telanjang nanti," ucapnya yang dibalas Marko dengan jari tengahnya."Siap-siap juga melepaskan mobil Audimu," sahut Marko langsung mengembalikan pandangannya ke depan. Dia tak mempedulikan Agust yang sekarang menatapnya marah.Seorang wanita berbikini berdiri di depan, mengambil tempat di antara mobil Nissan Marko, dan Porsche milik Agust. Wanita itu kemudian menaikkan bendera tinggi-tinggi. "Three ... Two ... One ....""Go!" teriak si wanita mengibaskan bendera yang dia bawa.Marko langsung melesat. Namun, Agust lebih unggul di awal. Porsch
Chiara mendengus kesal karena Marko sudah mengotori rambutnya. Dia adalah wanita yang mengibarkan bendera perlombaan tadi. Dia sedang duduk di balik dinding dalam kegelapan untuk masturbasi. Sialnya ada pria tak punya sopan santun yang kencing tepat di atasnya."Maafkan aku, Nona. Aku tidak melihatmu di sini karena gelap," ucap Marko merasa bersalah. Rambut wanita di depannya basah kuyup karena kesalahannya.Marko mengusap-usap rambut Chiara berharap wanita itu berhenti memarahinya. Karena panik dia sampai lupa memasukkan kejantanannya yang teracung ke dalam celana.Chiara yang semula mengomel kini terdiam melihat kejantanan Marko yang besar, panjang, dan perkasa.Chiara sampai menelan ludahnya berulang kali."Nona, bagaimana kalau kita mencari toilet pom bensin untuk mencuci rambutmu," ucap Marko lagi, menyadarkan Chiara dari lamunan.Chiara berkedip cepat, dan mengangguk. Kemarahannya mendadak menghilang karena melihat kejantanan Marko, tergantikan oleh gairah yang memenuhi dirinya
"Ahh ... Ahh ...." Chiara mendesah saat Marko menyelipkan batangnya di antara pantat Chiara. Dia nyaris gila karena mendambakan milik Marko memasuki lubangnya yang sudah berdenyut sedari tadi.Marko sengaja mengulur waktu. Dia masih ingin memainkan pantat dan payudara Chiara sebelum dia menggenjotnya."Nona, pantatmu sangat lucu," bisik Marko sambil menampar pantat Chiara gemas hingga wanita itu kembali mendesah."Ahh ...." Chiara merasakan kedua kakinya gemetar saat Marko meremas pantatnya. Marko lalu mencubit puting Chiara hingga benda ranum itu tampak menegang. "Sepertinya kau sudah siap aku masuki, Nona," ucap Marko sambil tersenyum senang. Dia langsung memasukkan miliknya ke dalam Chiara. Dengan satu kali hentakan, Marko berhasil menembus kewanitaan Chiara.Chiara seketika tersentak ke belakang. Dia terkejut. Namun, setelahnya dia menikmatinya.Chiara benar-benar menyukai saat batang Marko menghujam miliknya. Benda tumpul itu memberikan rasa nikmat yang membuatnya melayang ke s
"Sialan kau!" umpat Argus, rahangnya mengatup keras. Dia tak akan membiarkan Marko lepas begitu saja setelah pria itu mematahkan tangan kirinya. Dia akan membuat Marko mampus malam ini!Sementara Marko hanya menatap Argus datar. Dia ingin segera menyudahi perkelahian ini dan mengajak Lily pulang. "Ayo cepat serang aku, Brengsek!" katanya tak sabar.Argus segera terpancing emosinya. Tanpa aba-aba dia melesat dengan kecepatan yang mengejutkan untuk tubuhnya yang sebesar gaban. Tinju kanannya meluncur kencang ke arah kepala Marko. Namun, sebelum pukulan itu mendarat, Marko segera menghindar dengan cekatan. Pria itu sedikit menunduk, dan berputar ke samping.Argus kembali mengincar kepala Marko dengan sikunya. Tapi, Marko dapat membaca pergerakannya dengan mudah.Marko menangkis siku Argus yang hendak menghantam kepalanya dengan satu lengan. Sementara, tangan satunya mencengkeram pergelangan tangan Argus dan memelintirnya ke belakang."Arghh!" Argus berteriak marah, tak membiarkan dirinya
"Marko! Kau pikir sekarang jam berapa?! Kenapa kau bawa Lily keluar malam-malam begini?!"Suara Stella yang keras langsung menghantam gendang telinga Marko. Wanita itu tampak benar-benar marah sekarang."Maafkan aku, Stella." Marko tak tahu harus menjelaskan apa. Jika dia mengatakan dirinya dan Lily baru saja pulang dari balapan liar, kemarahan Stella pasti semakin membeludak!Mendapati kakak iparnya itu dimarahi, Lily yang sebelumnya menunduk di belakang Marko kini maju ke depan."Kak Stella, bukan salah Kak Marko. Akulah yang mengajaknya keluar. Aku yang maksa," kata Lily membela Marko.Tapi, Stella tidak langsung percaya. Mana mungkin adik kesayangannya itu aneh-aneh. Ini pasti kerjaan Marko!Marko merasakan tatapan Stella begitu menusuknya. Istrinya itu kemudian berkata lagi dengan penuh emosi. "Aku tak peduli siapa yang mengajak siapa! Faktanya, Marko seharusnya tahu keluar malam itu berbahaya! Apalagi Lily perempuan!"Marko menarik napas panjang. Percuma saja berdebat dengan St
Paginya Nyonya Dawson dikejutkan dengan keberadaan mobil Audi RS5 di depan rumahnya."Mobil siapa ini?!" pekiknya kaget. Matanya berbinar-binar melihat mobil mewah itu.Andai mobil ini milikku, aku pasti sangat senang. Batinnya menyentuh body mobil yang mulus itu hati-hati.Namun, ketika Marko muncul dengan seragam kurir Fast Food, Nyonya Dawson langsung menatapnya rendah serta jijik."Lihat, Marko! Apa kau bisa membelikan mobil seperti ini untuk Stella? Kau memang tak berguna. Membeli bannya saja kau tak punya uang," ucap Nyonya Dawson sambil memutar bola matanya dan bersedekap.Marko hanya membalasnya dengan tersenyum enteng, malas meladeni mulut cerewet mertuanya. "Iya, Mom. Aku memang miskin."Tapi, melihat Stella ikut keluar, Marko langsung melempar kunci mobilnya kepada Stella. Stella terkejut dan spontan menangkapnya. "Apa ini?""Ini untukmu. Kau tak perlu lagi naik taksi untuk bekerja, Stella," ucap Marko santai.Nyonya Dawson nyaris menjatuhkan rahangnya. Jadi mobil mahal in
"Hei, Bocah! Mau sok jadi pahlawan?! Tiga lintah darat itu menatap bengis Marko. Mereka tak suka ada yang mengganggu mereka. Apalagi mereka sudah tak tahan ingin meniduri Ella, anak si pria tua yang cantik dan manis.Marko mengangkat kedua bahunya singkat. "Tidak tertarik jadi pahlawan. Tapi, kalau kalian main kasar aku juga bisa.""Banyak mulut kau! Sini! Aku akan memukulmu! Dan jadikan kau makanan kalengan!" teriak lintah darat berwajah tirus dengan gigi kuningnya yang berantakan.Ella, dan si pria tua memucat. Mereka tak sanggup melihat perkelahian tiga lawan satu yang akan terjadi di depan mereka setelah ini.Si pria tua terlalu lemah tubuhnya sehingga dia tidak bisa membantu Marko. Sementara ketiga pria lintah darat itu sudah terlatih berkelahi dan mereka sangat kuat!"Tuan, lebih baik kau pergi saja. Jangan sampai kau berurusan dengan mereka," sela si pria tua menyuruh Marko pergi. Dia tidak mau sampai Marko terluka karenanya. Pria muda itu hanyalah pelanggan loakannya, dan tida
"Ahh .... Marko," desah Wennie saat dia mencapai puncak kenikmatannya yang pertama.Marko kemudian melepaskan kejantanannya dari bagian intim Wennie, dan menyuruh wanita itu tidur di atasnya dengan posisi terbalik.Wennie menurut, dan melakukan sesuai yang Marko inginkan.Sekarang mereka akan mencoba gaya seks 69.Marko mulai memainkan lidahnya di bagian kewanitaan Wennie yang bersih. Sementara, Wennie mengulum kejantanan Marko.Mereka berdua sibuk memuaskan hasrat mereka masing-masing yang meluap-luap.Marko dengan lihai menggerakkan lidahnya di lubang Wennie. Dia juga menggigit kecil bagian klitorisnya sehingga Wennie menggelinjang liar.Wennie melakukan pelepasannya yang kedua, dan mengenai wajah Marko."Kau keluar banyak sekali, Kak Wennie," ucap Marko mengusap wajahnya dengan tisu."Maafkan aku, Marko," balas Wennie tersipu.Sekarang giliran Wennie membuat Marko merasakan surga dunia. Dia mengulum milik Marko yang sangat besar, dan nyaris tersedak karenanya.Dengan gerakan pelan
"Berhenti sebentar, Pak!" pinta Marko pada sang sopir taksi.Pria setengah baya itu spontan menginjak remnya, membuat tubuh Marko dan Lily terdorong ke depan bersamaan."Ada apa, Kak Marko?" tanya Lily menatap Marko heran.Marko tak menjawab pertanyaan Lily. Dia langsung meloncat turun dari taksi dan berlari menuju tempat Bryan.Temannya itu tampak babak belur. Kedua tangannya yang penuh luka berusaha menutupi wajahnya dari serangan dua pria di depannya."Sialan! Beraninya sama yang lemah!" teriak Marko murka. Dia berlari hendak melepaskan tinju mautnya pada dua pria asing yang memukuli Bryan, tapi pria-pria itu langsung kabur begitu melihat Marko mendekat."Marko, jangan mengejarnya. Lebih baik kau bantu aku," pinta Bryan dengan darah mengucur deras dari salah satu lubang hidungnya. Keadaannya cukup mengenaskan dengan luka memenuhi wajah dan punggung tangannya.Sebenarnya Marko bisa saja mengejar kedua pria tadi, tapi keadaan Bryan sedang tidak memungkinkan untuk ditinggalkan begitu
Miska memperbaiki seragam polisinya lagi saat keluar dari kamar mandi khusus tahanan. Dia mengantarkan Marko kembali ke sel dengan canggung.Kegilaan mereka tadi masih terbayang jelas di kepala Miska, membuatnya sangat malu.Miska terkenal dengan ketegasannya sebagai polisi wanita yang bertugas di salah satu kantor polisi di New York. Semua tahanan bahkan takut menghadapinya. Hanya Marko yang berani membalas ucapan dan tatapannya. Dan itu yang membuat Miska tertarik pada Marko."Jangan bilang siapa-siapa soal kejadian tadi," bisik Miska mengancam sebelum membukakan pintu sel untuk Marko."Siap, Nona Polisi yang galak," jawab Marko sambil tersenyum lebar. Dia senang karena bisa seks dengan Miska.Meski, di luar tampak galak. Miska memiliki sikap malu-malu yang menggemaskan.Miska buru-buru berbalik pergi setelah mengunci pintu sel. Melihat Miska sudah menghilang dari pandangan, Marko memilih duduk berselonjor di lantai yang dingin.Dia perlahan membuka resleting celananya dan mengelua
Sialan, umpat Miska dalam hati. Dia berusaha keras untuk mengabaikan keinginan Marko, tapi yang terjadi selanjutnya dia justru melakukan apa yang diminta pria itu. Kejantanan Marko yang luar biasa perkasa seolah menghipnosis Miska. Dia sampai tak berkedip melihatnya.Perlahan Miska mulai mengurut batang Marko sambil menahan gairahnya sendiri.Kewanitaannya ikut berdenyut-denyut setiap kali jarinya yang lentik menyentuh permukaan kejantanan Marko yang memberikan sensasi menggelitik.Marko memejamkan mata dan mendesah pelan. "Ahh, Nona Polisi Galak. Aku mau keluar. Ahh ...."Mendengar desahan Marko, Miska jadi lebih bersemangat mengocok batang Marko dengan kedua tangannya. Sampai dia melihat cairan kental berwarna putih menyembur keluar dari batang Marko."Ahhh ...." Marko mendesah sekali lagi. Dia tersenyum senang karena berhasil mengerjai Miska yang galak.Miska membulatkan mata melihat pelepasan Marko. Aroma pandan segera menyeruak memenuhi kamar mandi.Harusnya Miska langsung memba
Tengah malam, Marko merasakan perut bawahnya nyeri. Dia ingin buang air kecil, tapi kamar mandi untuk tahanan ada di dekat lorong. Tidak mungkin dia bisa ke sana karena dia terkunci dalam sel.Marko lalu mencoba mendekati polisi yang berjaga di sisi luar sel."Pak Polisi, bisa tolong antarkan aku ke kamar mandi. Aku ingin buang air kecil."Polisi itu menatap tajam Marko. Dia bergeleng dengan wajah jengkel. "Jangan coba-coba kabur, Bocah! Aku tidak akan mengizinkanmu keluar sel!""Aku benar-benar ingin buang air kecil, Pak Polisi," balas Marko sambil merapatkan kedua kakinya. Dia hampir kencing di sini kalau dia tidak menangkup batangnya dengan kedua tangan.Kebetulan sekali Miska yang mendapatkan jatah shift malam berjalan melewati sel tempat Marko ditahan. Marko langsung berteriak memanggil Miska. "Nona Polisi Galak!"Spontan Miska menghentikan langkahnya, dan menoleh ke Marko. "Ada apa lagi?" tanyanya ketus.Marko menempelkan wajahnya ke jeruji besi. "Nona Polisi yang galak, aku in
Marko pulang dengan senang. Semuanya berjalan lancar. Dia sudah melakukan seks dengan Ella sebanyak delapan kali, sudah memperbaiki motor bututnya, dan juga sudah mengajari Bryan teknik bela diri dasar.Sekarang Marko ingin segera melihat Stella dan mengintip tubuh indahnya. Semenjak bisa melihat bagian intim istrinya itu karena kekuatannya bertambah, Marko jadi bersemangat pulang cepat."Stella!" panggil Marko sambil melangkah masuk ke dalam rumah keluarga Dawson. Dia tadi mendapatkan makanan gratis dari pelanggan Fast Food. Dan makanan ini kesukaan Stella, jadi Marko membawakannya untuk istri tercintanya itu.Tapi, baru saja Marko melewati pintu utama, suara Nyonya Dawson menyentaknya."Itu dia orangnya! Dia yang sudah mencuri mobil!" teriak Nyonya Dawson seraya menunjuk ke arah Marko.Sebelum Marko sempat mencerna apa yang sedang terjadi di depannya, tiga polisi langsung menyergapnya, dan memborgol tangan Marko."Apa-apaan ini?" tanya Marko gusar. "Kenapa memborgolku?""Kau jelaska
Si pria tua memilih pergi agar Marko dan Ella memiliki waktu berdua. Dia tidak masalah jika putri semata wayangnya itu tidur dengan pria seperti Marko. Karena Marko begitu tampan, baik hati, dan kuat.Sementara itu, Ella berubah gugup saat Marko menutup tirai yang memisahkan tempat loakan dengan kamarnya.Ella masih muda, dan belum berpengalaman. Dia bahkan tidak tahu caranya melakukan seks. Tapi, tubuhnya sangat bagus. Marko bisa melihatnya dengan jelas karena dia kini punya kekuatan penglihatan yang bisa menembus pakaian orang lain."Apa kau sudah siap?" tanya Marko pada Ella yang duduk diam di pinggir tempat tidur."I-iya," jawab Ella menggigit bibirnya pelan untuk meredakan debaran jantungnya.Marko sangat tampan. Wajahnya seperti dewa Yunani yang Ella kagumi. Pipi Ella semakin memerah saat Marko melepaskan semua pakaiannya hingga Ella melihat kejantanan Marko yang besar dan berurat.Baru kali ini Ella melihat kejantanan seorang pria. Dan itu sontak membuat Ella merasa tak nyaman
"Hei, Bocah! Mau sok jadi pahlawan?! Tiga lintah darat itu menatap bengis Marko. Mereka tak suka ada yang mengganggu mereka. Apalagi mereka sudah tak tahan ingin meniduri Ella, anak si pria tua yang cantik dan manis.Marko mengangkat kedua bahunya singkat. "Tidak tertarik jadi pahlawan. Tapi, kalau kalian main kasar aku juga bisa.""Banyak mulut kau! Sini! Aku akan memukulmu! Dan jadikan kau makanan kalengan!" teriak lintah darat berwajah tirus dengan gigi kuningnya yang berantakan.Ella, dan si pria tua memucat. Mereka tak sanggup melihat perkelahian tiga lawan satu yang akan terjadi di depan mereka setelah ini.Si pria tua terlalu lemah tubuhnya sehingga dia tidak bisa membantu Marko. Sementara ketiga pria lintah darat itu sudah terlatih berkelahi dan mereka sangat kuat!"Tuan, lebih baik kau pergi saja. Jangan sampai kau berurusan dengan mereka," sela si pria tua menyuruh Marko pergi. Dia tidak mau sampai Marko terluka karenanya. Pria muda itu hanyalah pelanggan loakannya, dan tida
Paginya Nyonya Dawson dikejutkan dengan keberadaan mobil Audi RS5 di depan rumahnya."Mobil siapa ini?!" pekiknya kaget. Matanya berbinar-binar melihat mobil mewah itu.Andai mobil ini milikku, aku pasti sangat senang. Batinnya menyentuh body mobil yang mulus itu hati-hati.Namun, ketika Marko muncul dengan seragam kurir Fast Food, Nyonya Dawson langsung menatapnya rendah serta jijik."Lihat, Marko! Apa kau bisa membelikan mobil seperti ini untuk Stella? Kau memang tak berguna. Membeli bannya saja kau tak punya uang," ucap Nyonya Dawson sambil memutar bola matanya dan bersedekap.Marko hanya membalasnya dengan tersenyum enteng, malas meladeni mulut cerewet mertuanya. "Iya, Mom. Aku memang miskin."Tapi, melihat Stella ikut keluar, Marko langsung melempar kunci mobilnya kepada Stella. Stella terkejut dan spontan menangkapnya. "Apa ini?""Ini untukmu. Kau tak perlu lagi naik taksi untuk bekerja, Stella," ucap Marko santai.Nyonya Dawson nyaris menjatuhkan rahangnya. Jadi mobil mahal in