Setelah memikirkannya matang-matang, Marko pun bergeleng menolak. Dia tak mau mengulangi kesalahan yang sama saat Stella memarahinya karena membawa pulang Lily terlalu larut malam."Tidak! Aku tak akan sudi ikut denganmu ke balap liar," jawab Marko membuat Lily mengerucutkan bibirnya kecewa."Ayolah, Kak Marko. Apa karena kau takut Kak Stella marah? Itu tidak akan terjadi. Kita akan pergi diam-diam, dan kembali sebelum orang-orang di rumah bangun." Lily memegang tangan Marko, berusaha membujuknya.Lily masih duduk di samping Marko tanpa memakai celana. Dia mencari cara agar Marko mau mengiyakan permintaannya ini.Lily ingin sekali ikut balap liar agar tak tertinggal dari teman-temannya yang kekinian. Mereka menganggap Lily cupu karena gadis itu menghabiskan waktu di rumah tanpa tahu seperti apa dunia malam.Lily tak mau dikucilkan lagi. Dia ingin seperti teman-temannya. Menjadi remaja modis dan bebas."Kak Marko, aku mohon. Lebih baik aku mati saja kalau Kak Marko tak mau ikut," ucap
Agust adalah juara bertahan dan bintang dalam balapan liar ini. Lily tahu Agust karena sering dibicarakan teman-temannya. Pria itu sangat populer.Selain anak orang kaya, Agust juga memiliki tiga mobil sport mahal.Tapi, Marko tak peduli dengan semua itu. Mau sekaya apapun seseorang, tapi jika dia tidak bisa menghargai orang lain. Maka orang itu lebih rendah nilainya daripada yang dia hina."Lebih baik kau pulang. Kau hanya memalukan dirimu di sini," ujar Agust menepuk pundak Marko dengan nada merendahkan.Urat di leher Marko menegang karena dihina pria yang sudah merusak motor kesayangannya. Dia menepis tangan Agust kasar. "Jangan menyentuhku!""Gembel aja belagu. Kau tahu kau itu tampak seperti kotoran di kakiku." Agust berucap dengan lantang sehingga kerumunan di dekatnya ikut tertawa menghina Marko."Sialan!" desis Marko, siap menghajar mulut Agust yang sombong. Tapi, Lily segera menyentuh punggungnya dari arah belakang untuk menenangkannya."Kak Marko, jangan hiraukan ucapannya,"
Marko menyambar kunci mobil dari salah satu penonton. "Aku pinjam sebentar ya," ucapnya.Pemilik mobil itu mendengus kesal. "Awas saja kalau sampai kau merusaknya, kau harus tanggung jawab.""Tenang saja. Aku akan mengembalikannya dalam keadaan baik," jawab Marko sambil masuk ke dalam mobil Nissan GT-R.Marko kemudian melajukan mobilnya sampai berhenti di garis start.Agust yang ada di sisi Marko membuka jendela mobilnya untuk meludah. "Siap-siap telanjang nanti," ucapnya yang dibalas Marko dengan jari tengahnya."Siap-siap juga melepaskan mobil Audimu," sahut Marko langsung mengembalikan pandangannya ke depan. Dia tak mempedulikan Agust yang sekarang menatapnya marah.Seorang wanita berbikini berdiri di depan, mengambil tempat di antara mobil Nissan Marko, dan Porsche milik Agust. Wanita itu kemudian menaikkan bendera tinggi-tinggi. "Three ... Two ... One ....""Go!" teriak si wanita mengibaskan bendera yang dia bawa.Marko langsung melesat. Namun, Agust lebih unggul di awal. Porsch
Chiara mendengus kesal karena Marko sudah mengotori rambutnya. Dia adalah wanita yang mengibarkan bendera perlombaan tadi. Dia sedang duduk di balik dinding dalam kegelapan untuk masturbasi. Sialnya ada pria tak punya sopan santun yang kencing tepat di atasnya."Maafkan aku, Nona. Aku tidak melihatmu di sini karena gelap," ucap Marko merasa bersalah. Rambut wanita di depannya basah kuyup karena kesalahannya.Marko mengusap-usap rambut Chiara berharap wanita itu berhenti memarahinya. Karena panik dia sampai lupa memasukkan kejantanannya yang teracung ke dalam celana.Chiara yang semula mengomel kini terdiam melihat kejantanan Marko yang besar, panjang, dan perkasa.Chiara sampai menelan ludahnya berulang kali."Nona, bagaimana kalau kita mencari toilet pom bensin untuk mencuci rambutmu," ucap Marko lagi, menyadarkan Chiara dari lamunan.Chiara berkedip cepat, dan mengangguk. Kemarahannya mendadak menghilang karena melihat kejantanan Marko, tergantikan oleh gairah yang memenuhi dirinya
"Ahh ... Ahh ...." Chiara mendesah saat Marko menyelipkan batangnya di antara pantat Chiara. Dia nyaris gila karena mendambakan milik Marko memasuki lubangnya yang sudah berdenyut sedari tadi.Marko sengaja mengulur waktu. Dia masih ingin memainkan pantat dan payudara Chiara sebelum dia menggenjotnya."Nona, pantatmu sangat lucu," bisik Marko sambil menampar pantat Chiara gemas hingga wanita itu kembali mendesah."Ahh ...." Chiara merasakan kedua kakinya gemetar saat Marko meremas pantatnya. Marko lalu mencubit puting Chiara hingga benda ranum itu tampak menegang. "Sepertinya kau sudah siap aku masuki, Nona," ucap Marko sambil tersenyum senang. Dia langsung memasukkan miliknya ke dalam Chiara. Dengan satu kali hentakan, Marko berhasil menembus kewanitaan Chiara.Chiara seketika tersentak ke belakang. Dia terkejut. Namun, setelahnya dia menikmatinya.Chiara benar-benar menyukai saat batang Marko menghujam miliknya. Benda tumpul itu memberikan rasa nikmat yang membuatnya melayang ke s
"Sialan kau!" umpat Argus, rahangnya mengatup keras. Dia tak akan membiarkan Marko lepas begitu saja setelah pria itu mematahkan tangan kirinya. Dia akan membuat Marko mampus malam ini!Sementara Marko hanya menatap Argus datar. Dia ingin segera menyudahi perkelahian ini dan mengajak Lily pulang. "Ayo cepat serang aku, Brengsek!" katanya tak sabar.Argus segera terpancing emosinya. Tanpa aba-aba dia melesat dengan kecepatan yang mengejutkan untuk tubuhnya yang sebesar gaban. Tinju kanannya meluncur kencang ke arah kepala Marko. Namun, sebelum pukulan itu mendarat, Marko segera menghindar dengan cekatan. Pria itu sedikit menunduk, dan berputar ke samping.Argus kembali mengincar kepala Marko dengan sikunya. Tapi, Marko dapat membaca pergerakannya dengan mudah.Marko menangkis siku Argus yang hendak menghantam kepalanya dengan satu lengan. Sementara, tangan satunya mencengkeram pergelangan tangan Argus dan memelintirnya ke belakang."Arghh!" Argus berteriak marah, tak membiarkan dirinya
"Marko! Kau pikir sekarang jam berapa?! Kenapa kau bawa Lily keluar malam-malam begini?!"Suara Stella yang keras langsung menghantam gendang telinga Marko. Wanita itu tampak benar-benar marah sekarang."Maafkan aku, Stella." Marko tak tahu harus menjelaskan apa. Jika dia mengatakan dirinya dan Lily baru saja pulang dari balapan liar, kemarahan Stella pasti semakin membeludak!Mendapati kakak iparnya itu dimarahi, Lily yang sebelumnya menunduk di belakang Marko kini maju ke depan."Kak Stella, bukan salah Kak Marko. Akulah yang mengajaknya keluar. Aku yang maksa," kata Lily membela Marko.Tapi, Stella tidak langsung percaya. Mana mungkin adik kesayangannya itu aneh-aneh. Ini pasti kerjaan Marko!Marko merasakan tatapan Stella begitu menusuknya. Istrinya itu kemudian berkata lagi dengan penuh emosi. "Aku tak peduli siapa yang mengajak siapa! Faktanya, Marko seharusnya tahu keluar malam itu berbahaya! Apalagi Lily perempuan!"Marko menarik napas panjang. Percuma saja berdebat dengan St
Paginya Nyonya Dawson dikejutkan dengan keberadaan mobil Audi RS5 di depan rumahnya."Mobil siapa ini?!" pekiknya kaget. Matanya berbinar-binar melihat mobil mewah itu.Andai mobil ini milikku, aku pasti sangat senang. Batinnya menyentuh body mobil yang mulus itu hati-hati.Namun, ketika Marko muncul dengan seragam kurir Fast Food, Nyonya Dawson langsung menatapnya rendah serta jijik."Lihat, Marko! Apa kau bisa membelikan mobil seperti ini untuk Stella? Kau memang tak berguna. Membeli bannya saja kau tak punya uang," ucap Nyonya Dawson sambil memutar bola matanya dan bersedekap.Marko hanya membalasnya dengan tersenyum enteng, malas meladeni mulut cerewet mertuanya. "Iya, Mom. Aku memang miskin."Tapi, melihat Stella ikut keluar, Marko langsung melempar kunci mobilnya kepada Stella. Stella terkejut dan spontan menangkapnya. "Apa ini?""Ini untukmu. Kau tak perlu lagi naik taksi untuk bekerja, Stella," ucap Marko santai.Nyonya Dawson nyaris menjatuhkan rahangnya. Jadi mobil mahal in
Seminggu kemudian. Marko Hubert dan Victor akhirnya bertemu untuk pertama kalinya di turnamen UFC. Meski, bagi Marko ini tidak benar-benar pertama kalinya.Marko Hubert kini berdiri di belakang panggung arena UFC, mengenakan celana pendek pertarungan hitam dengan garis emas di sisi. Tangannya telah dibalut dengan perban putih, siap untuk menghadapi tantangan terbesar dalam hidupnya. Victor.Sorakan dari ribuan penonton menggema di dalam arena. Lampu sorot menerangi oktagon di tengah stadion, sementara layar raksasa menampilkan wajah Marko dan Victor berdampingan.Di sisi lain ruangan, Victor tengah melakukan pemanasan, tubuhnya penuh dengan otot keras hasil latihan bertahun-tahun. Dia adalah juara bertahan, seorang petarung dengan rekor tak terkalahkan. Mata tajamnya menatap lurus ke arah layar, lalu beralih ke Marko yang berdiri di seberang lorong.Seorang official menghampiri mereka. "Saatnya masuk."Marko menarik napas panjang, lalu melangkah ke dalam lorong panjang yang akan memba
Marko berjalan dengan langkah mantap di antara mayat-mayat yang berserakan di markas Rio Davies. Tangannya masih berlumuran darah, tapi bukan darahnya sendiri, melainkan darah para lawannya yang telah dia habisi tanpa ampun. Tubuhnya terasa ringan, tidak ada luka yang berarti, meskipun dia baru saja menghadapi pasukan pembunuh bayaran terbaik yang dimiliki Rio Davies.Di gendongannya, Stella menggeliat pelan. Matanya yang masih sedikit sayu menatap wajah Marko dengan kebingungan."Marko, kau mau membawaku ke mana?" Suara Stella lemah, tapi masih terdengar jelas di tengah keheningan yang mencekam ini.Marko tidak langsung menjawab. Dia hanya mempererat genggamannya pada tubuh Stella dan terus berjalan keluar dari bangunan yang kini dipenuhi oleh mayat.Di luar, udara malam terasa dingin, berbeda dengan panasnya pertarungan brutal yang baru saja dia lalui. Bintang-bintang bertaburan di langit, seolah mengamati setiap langkahnya dengan diam.Marko menemukan sebuah mobil yang masih dalam
Dorrr!!!Peluru itu melesat cepat menuju kepala Marko.Rio Davies tersenyum penuh kemenangan.Namun, sesuatu yang tak terduga terjadi.Clangg!!!Peluru itu mengenai kulit Marko, namun bukannya menembus, peluru itu justru terpental seolah menabrak baja yang tak terlihat.Mata Rio Davies membelalak. "Apa-apaan ini?!"Marko hanya tersenyum miring. Dia menurunkan kepalanya sedikit, menatap Rio dengan sorot mata dingin. Level legendanya membuat Marko mendapatkan kemampuan baru yang membuat dirinya tidak mempan ditembak ataupun ditusuk pisau.Rio menembak lagi.Dorr!!! Dorr!!! Dorrr!!!Satu, dua, tiga peluru ditembakkan, semuanya mengenai tubuh Marko.Namun, hasilnya sama.Peluru itu tak mampu melukai Marko."Bajingan!" Rio Davies melompat dari kursinya, menggertakkan giginya. Dia memutar badannya, memberikan kode dengan tangannya.Dari balik pintu samping, muncul delapan orang berpakaian hitam dengan wajah tanpa ekspresi.Mereka bukan anak buah biasa.Mereka adalah Shadow Unit, unit pembun
Malam ini. Angin bertiup kencang di sekitar pelabuhan tua. Markas Rio Davies berdiri megah di atas tanah luas yang menghadap langsung ke lautan hitam yang bergelombang. Bangunan beton itu lebih mirip benteng daripada gudang biasa, dengan penjagaan ketat di setiap sudutnya.Dari kejauhan, Marko bisa melihat para penjaga bersenjata mondar-mandir di sekitar gerbang. Mereka semua terlihat waspada, seolah tahu bahwa bahaya bisa datang kapan saja.Marko menarik napas dalam. Dia tahu bahwa menerobos ke dalam akan menjadi hal yang mustahil.Tapi Marko tidak perlu menerobos karena dia memiliki sesuatu yang mereka inginkan. Yaitu sertifikat pulau. Marko akan memancing Rio Davies menggunakan sertifikat itu.Dengan langkah mantap, Marko berjalan ke depan gerbang, sengaja membiarkan dirinya terlihat oleh para penjaga.Butuh waktu kurang dari sepuluh detik sebelum seseorang menyadari kehadirannya."Hei! Siapa yang di sana?! Pergi sebelum kutembak kepalamu!" Salah satu penjaga mengangkat senjatanya,
"Kau ...."Marko berdiri mematung melihat pria yang kini berdiri tegap di depannya.Jantung Marko berdegup semakin kencang, tapi tubuhnya terasa membeku.Di hadapannya seorang pria yang sama sekali tidak asing menatapnya dengan sorot mata tak terbaca. Pria itu adalah tubuhnya sendiri. Marko Davies.Jika sekarang Marko Davies yang sebenarnya berada di tubuh Marko Hubert. Lalu, siapa yang ada di dalam tubuhnya itu?Marko buru-buru bergeleng. "Tidak. Tidak mungkin," gumamnya tidak ingin percaya dengan apa yang ada di hadapannya.Pria di depan Marko itu mengulas senyum. "Apanya yang tidak mungkin?"Marko menatap tajam pria itu. "Siapa kau?! Kenapa kau memakai tubuhku, Sialan?!"Si pria tertawa kecil. "Padahal aku telah lama menunggu waktu bertemu denganmu. Tapi, reaksimu ini sungguh membuatku kecewa, Marko."Marko semakin geram. "Siapa kau, Keparat?! Bagaimana bisa kau memakai tubuhku?! Dan, apa yang kau lakukan di apartemenku?! Apa kau juga yang mengirimkan pesan misterius?!"Si pria ber
"Sialan!"Marko memukul setir mobilnya dengan geram. Mobil yang membawa Jake, Daniel, dan Arnold sudah menghilang di tengah lalu lintas.Dia telah kehilangan jejak mereka.Lalu lintas di kota begitu padat, membuat pengejarannya sia-sia. Rio Davies jelas sudah merencanakan semuanya dengan rapi. Pria itu sangat licik dan memiliki segala taktik untuk melancarkan keinginannya.Marko menarik napas panjang, menenangkan pikirannya. Tidak ada gunanya mengutuk keadaan. Dia harus bergerak cepat.Mata tajamnya menyapu jalanan yang dipenuhi mobil-mobil dan lampu kota yang berkedip. Jika dia tidak bisa mengejar mereka sekarang, dia harus mencari kelemahan lain dalam rencana Rio Davies.Dan ada satu hal yang muncul dalam pikirannya. Sertifikat pulau.Marko lalu berbalik arah, dan menginjak pedal gas. Mobilnya langsung melesat cepat ke arah apartemen milik Marko Davies. Itu adalah satu-satunya tempat yang memiliki sesuatu yang diinginkan Rio Davies selama bertahun-tahun.Sebuah sertifikat pulau yang
Dinginnya malam merayap ke dalam jaket Marko saat dia berdiri di depan kantor Stella. Matanya masih menatap tajam simbol ular melingkar di dinding luar gedung. Nafasnya berat, uap hangat keluar dari bibirnya saat amarah menggelegak di dadanya.Stella diculik orang-orang yang ada di organisasi mafia yang dipimpin oleh Rio Davies, raja mafia yang merupakan kerabat dekat Marko Davies. Nama Rio Davies dulu hanya sekadar legenda di dunia kriminal. Sebuah bayangan yang mengendalikan segalanya dari balik layar terutama di dunia MMA. Namun kini, bayangan itu merayap ke hidup Marko Hubert. Padahal Marko paling menghindari berurusan dengan Rio Davies.Jantung Marko berdebar kencang. Tangannya mengepal begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Stella telah diculik, dan dia tahu ini bukan sekadar penculikan. Ini adalah perangkap.Rio Davies dan anak buah pria itu pasti ingin menarik Marko masuk ke perangkapnya dan membuat Marko tidak bisa lagi kembali ke dunia MMA. Seperti yang dulu terjadi
Di tengah malam yang dingin, sebuah limusin hitam meluncur melewati jalanan sepi. Mobil itu melaju ke arah sebuah bangunan besar di pusat kota yang tidak memiliki plang atau tanda identitas apa pun. Dari luar, gedung itu tampak seperti kantor biasa, tetapi di dalamnya adalah pusat kendali organisasi mafia terbesar di Amerika.Di lantai paling atas, terdapat sebuah ruangan eksklusif dengan pemandangan langsung ke arah kota. Ruangan itu luas, dengan kaca besar yang mencerminkan cahaya lampu kota di kejauhan. Sebuah meja panjang dari kayu hitam berdiri megah di tengah ruangan, dikelilingi oleh kursi kulit mahal.Di ujung meja, seorang pria duduk dengan tenang. Rio Davies.Sosok itu adalah Don, pemimpin tertinggi mafia di seluruh Amerika Serikat. Dia mengenakan setelan hitam yang sempurna, rambutnya rapi, dengan wajah yang dingin tanpa ekspresi. Di tangannya ada sebuah cincin emas dengan lambang keluarga Davies, simbol kekuasaannya.Di hadapannya, Vladimir Ivanov berdiri dengan penuh horm
Kemenangan Marko membuat para petinggi MMA sedikit terusik. Mereka segera melakukan pertemuan khusus untuk membahas atlet bernama Marko Hubert itu.Suasana mencekam di sebuah ruangan eksklusif, tempat para petinggi MMA berkumpul.Ruangan itu luas, dengan desain klasik yang dipenuhi ornamen kayu mahal. Lampu gantung kristal menggantung di langit-langit, menciptakan pencahayaan redup yang menambah kesan eksklusif dan rahasia. Asap rokok melayang di udara, menciptakan atmosfer yang berat dan menekan.Di tengah ruangan, sebuah meja panjang dari kayu mahoni berdiri megah, dikelilingi oleh beberapa pria berjas hitam. Mereka bukan sembarang orang. Mereka adalah mafia yang selama ini menguasai dunia pertarungan MMA di balik layar.Mereka adalah orang-orang yang mengatur segalanya dari hasil pertandingan, petarung mana yang boleh naik, siapa yang harus jatuh, hingga taruhan ilegal yang menghasilkan miliaran.Dan malam ini, mereka semua memiliki satu masalah yang sama.Yaitu atlet dari club Bla