"Aku tak mau tahu. Sudah jam sebelas malam! Kalian harus pulang sekarang! " Stella langsung menutup sambungan teleponnya tanpa menunggu jawaban dari Marko.Marko tadi beralasan jika acara ulang tahun teman Lily belum selesai, tapi Stella tetap mendesaknya pulang.Tidak ada cara lain. Marko akhirnya menggendong Lily yang lemas ke punggungnya. Jika Marko berjalan cepat, maka dia bisa sampai di rumah keluarga Dawson sebelum besok pagi.Meski, tenaga Marko cukup terkuras karena sudah berkelahi sebanyak dua kali. Dia tetap berusaha berjalan secepat mungkin. Untungnya di tengah perjalanan, Martha, atasan Marko di Fast Food kebetulan lewat.Wanita cantik itu menghentikan mobilnya begitu melihat Marko."Marko, sedang apa kau malam-malam begini?" tanya Martha membuka kaca mobilnya.Marko sempat terkejut, dan merasa beruntung melihat Martha."Nona Martha, kami baru saja pulang dari acara, dan mobil kami diderek."Martha merasa kasihan pada Marko. Pria itu harus berjalan beberapa kilometer deng
Begitu memasuki rumah, Marko dikejutkan dengan keberadaan Stella di ruang tamu. Istrinya itu menatapnya marah sambil bersedekap."Ke mana saja sampai pulang selarut ini, Marko?" tanya Stella pada Marko."Acaranya belum selesai, Stella. Jadi, kami baru bisa pulang sekarang," balas Marko mencari-cari alasan agar Stella tak mengamuk. Awalnya dia sempat senang, mengira Stella cemburu karena Marko pergi terlalu lama bersama Lily.Namun, pikirannya itu segera dipatahkan dengan ucapan pedas Stella."Aku benar-benar menyesal membiarkan adik kesayanganku pergi denganmu. Lihat saja dirinya! Kau tidak bisa menjaganya dengan baik, Marko!" sentak Stella. Ternyata Stella tidak sedang mencemburui Marko, dia hanya mencemaskan Lily saja."Jangan diam saja, Marko! Cepat bantu aku membawa Lily ke kamarnya!" sentak Stella lagi.Di saat Stella marah, Marko selalu saja tidak bisa balas membentaknya. Dia akan menurut dan melakukan apa saja yang Stella perintahkan.Mungkin ini yang biasa orang katakan jika
"Marko, apa yang kau lakukan di sana?!" teriak Stella terkejut melihat Marko muncul dari balik pintu kamar mandi yang terbuka."Pergi kau! Jangan mengintipku!" teriak Stella lagi sambil melempar benda apapun yang ada di dekatnya ke arah Marko.Marko sampai kelabakan menghindari benda-benda yang melayang mengenainya."Tunggu, Stella! Kenapa kau melarangku melihatmu mandi?! Aku ini suamimu. Bukan orang asing," balas Marko berusaha menghentikan Stella.Tapi, Stella semakin menjadi-jadi. Setelah memakai bathrobenya, Stella melangkah menuju Marko, lalu sebuah tamparan Stella hadiahkan ke pipi suaminya itu."Ingat kita menikah hanya karena permintaan Daddy sebelum dia meninggal," tandas Stella membuat Marko terhenyak. "Kau tetap orang asing di rumah ini, Marko."Mendengar ucapan Stella, Marko mengepalkan kedua tangannya. Dia pergi dari kamar dengan menahan emosi.Benar. Pernikahan mereka terjadi karena mendiang Tuan Dawson yang menyuruh Marko menikahi Stella.Tapi perjodohan ini bukan tanpa
Meski, Martha memiliki gairah yang tinggi tapi dia belum pernah melakukan seks dengan pria mana pun. Dia hanya akan memuaskan dirinya di rumah sambil membayangkan wajah tampan Marko. Dan kini, Marko sudah ada di hadapannya. Siap memasuki dirinya."Pelan-pelan, Marko. Aku memang lebih tua darimu, tapi ini pertama kalinya untukku," ucap Martha dengan pipi memerah. Marko yang sudah dipenuhi oleh hasratnya, tak terlalu menghiraukan ucapan Martha barusan. Dengan tergesa-gesa, Marko memakai kondom yang Martha berikan. Lalu, dia langsung menerjang kewanitaan Martha yang lembab."Ahhh .... Marko." Martha nyaris memekik karena miliknya berhasil dijebol oleh Marko. Namun, setelahnya dia mendesah nikmat.Marko menidurkan tubuh telanjang Martha ke meja agar dia bisa lebih mudah mengeksplornya."Nona Martha, payudaramu benar-benar luar biasa," tukas Marko meremas payudara Martha dengan kedua tangannya. Puting payudara Martha tampak ranum dan menegang di balik telapak tangan Marko. Marko jadi s
Marko menggerakkan bahunya, lalu merenggangkan otot-ototnya. Dia merasakan kekuatan mengalir di dalam tubuhnya setelah melakukan seks dengan Martha. Sedang, lima pria Hot Food itu menatap remeh Marko. Mereka tidak sabar menjadikan Marko samsak mereka berikutnya.Salah satu dari mereka melangkah maju lebih dulu. "Kau terlalu percaya diri! Aku akan buat kau bugil hari ini!"Marko hanya membalas dengan menyeringai. "Jangan cuma omong kosong! Ayo serang aku kalau kau berani!"Tanpa aba-aba, pria bergigi tongos itu langsung berlari menuju Marko. Dia mengayunkan tinjunya ke wajah Marko. Tapi, Marko bisa menghindarinya dengan baik.Marko menunduk sedikit, membiarkan tinju itu melesat beberapa senti di atas kepalanya. Dia lalu mengangkat pandangan, dan dengan keras dia hantamkan lututnya ke perut pria tadi.Bughh!!!Pria bergigi tongos langsung terhuyung mundur sambil memegangi perutnya. "Sialan! Dia kuat juga," gumamnya dengan wajah kesakitan.Dua pria lainnya langsung menyerang Marko bersa
Wanita seksi itu ternyata July, kembarannya Martha. Mereka memiliki wajah yang sama persis. Hanya berbeda pada panjang rambut dan ukuran payudara saja.Sebagus apapun perawatan Martha pada payudaranya, tetap tak bisa menandingi ukuran payudara July yang luar biasa besar.Melihatnya sekilas, Marko yakin kedua tangannya tak akan mampu menangkup semua gunung kembar itu."Kau baik-baik saja kan, Marko?" tanya July pada Marko. Dia memakai kaos putih ketat sehingga menunjukkan payudaranya yang indah. Apalagi karena tak memakai bra, puting July yang berwarna pink turut tercetak jelas.Marko melihatnya dengan menelan ludah. Padahal dia sudah melakukan seks dengan Martha tadi, tapi dia masih ingin meniduri wanita lagi.Sepertinya selain kekuatan Marko yang meningkat, nafsunya juga ikut bertambah."Aku baik-baik saja, Nona July," balas Marko memberikan senyum mempesonanya yang berhasil membuat jantung July berdetak tak karuan.Marko memang sangat tampan. Tubuhnya juga bagus. July jadi bertanya-
"Kak Martha ...." July terjingkat kaget saat melihat Martha mengintip dari jendela mobilnya yang tertutup. Dia buru-buru menyuruh Marko untuk menunduk agar tak terlihat.Martha yang ada di luar mobil July mendapati kembarannya itu tampak bermain kuda-kudaan sendirian."Kasihan sekali dia. Dia tak bisa memuaskan nafsunya yang lebih besar dariku sehingga bermain sendiri," gumam Martha berbalik kembali ke kantornya.July segera menghela napas lega saat Martha sudah pergi. Dia tadi begitu takut kalau Martha marah melihatnya seks dengan Marko. Karena dia tahu Martha menyukai Marko sejak lama, dan July pun juga diam-diam menyukai Marko."Nona July, bagaimana? Apa Nona Martha sudah pergi?" tanya Marko membuat July tersadar jika pria itu sedang ada di bawahnya, dan pantat July sedang menungging tepat di depan wajah Marko."Sudah, Marko." July merasa malu karena dengan posisi seperti ini Marko bisa melihat bagian intimnya dengan sangat jelas.July perlahan berpindah ke samping. Tapi, sebelum d
Amber sebenarnya hendak pergi ke tempat gym tapi karena sudah tak bisa menahan rasa ingin kencing, dia akhirnya memilih turun dari mobil dan mencari toilet. Tak disangkanya, dia malah bertemu dengan pria mesum seperti Marko.Amber akui Marko sangat tampan sampai membuat dirinya terpesona. Tapi, karena malu tertangkap basah sedang kencing sembarangan, dia jadi melimpahkan rasa marahnya pada Marko.Marko mengulas senyumnya. "Lain kali jangan seperti ini, Nona. Jangan menaruh kewanitaanmu di tempat sembarangan. Kalau ada pria yang memerkosamu bagaimana?"Amber terkejut dengan ucapan Marko. Ternyata pria itu baik. Dia telah salah menilai Marko.Meski, Marko memiliki nafsu yang sangat besar sekarang, tapi dia tak akan menyerang wanita lain tanpa persetujuan si wanita. Bahkan sebelumnya Martha dan July-lah yang lebih dulu memancing Marko.Marko mengibaskan sebelah tangan dan membalikkan badan."Ingat ucapanku ini, Nona," ujar Marko sebelum melangkah pergi.Amber hanya bisa memandangi keperg
"Ahh .... Marko," desah Wennie saat dia mencapai puncak kenikmatannya yang pertama.Marko kemudian melepaskan kejantanannya dari bagian intim Wennie, dan menyuruh wanita itu tidur di atasnya dengan posisi terbalik.Wennie menurut, dan melakukan sesuai yang Marko inginkan.Sekarang mereka akan mencoba gaya seks 69.Marko mulai memainkan lidahnya di bagian kewanitaan Wennie yang bersih. Sementara, Wennie mengulum kejantanan Marko.Mereka berdua sibuk memuaskan hasrat mereka masing-masing yang meluap-luap.Marko dengan lihai menggerakkan lidahnya di lubang Wennie. Dia juga menggigit kecil bagian klitorisnya sehingga Wennie menggelinjang liar.Wennie melakukan pelepasannya yang kedua, dan mengenai wajah Marko."Kau keluar banyak sekali, Kak Wennie," ucap Marko mengusap wajahnya dengan tisu."Maafkan aku, Marko," balas Wennie tersipu.Sekarang giliran Wennie membuat Marko merasakan surga dunia. Dia mengulum milik Marko yang sangat besar, dan nyaris tersedak karenanya.Dengan gerakan pelan
"Berhenti sebentar, Pak!" pinta Marko pada sang sopir taksi.Pria setengah baya itu spontan menginjak remnya, membuat tubuh Marko dan Lily terdorong ke depan bersamaan."Ada apa, Kak Marko?" tanya Lily menatap Marko heran.Marko tak menjawab pertanyaan Lily. Dia langsung meloncat turun dari taksi dan berlari menuju tempat Bryan.Temannya itu tampak babak belur. Kedua tangannya yang penuh luka berusaha menutupi wajahnya dari serangan dua pria di depannya."Sialan! Beraninya sama yang lemah!" teriak Marko murka. Dia berlari hendak melepaskan tinju mautnya pada dua pria asing yang memukuli Bryan, tapi pria-pria itu langsung kabur begitu melihat Marko mendekat."Marko, jangan mengejarnya. Lebih baik kau bantu aku," pinta Bryan dengan darah mengucur deras dari salah satu lubang hidungnya. Keadaannya cukup mengenaskan dengan luka memenuhi wajah dan punggung tangannya.Sebenarnya Marko bisa saja mengejar kedua pria tadi, tapi keadaan Bryan sedang tidak memungkinkan untuk ditinggalkan begitu
Miska memperbaiki seragam polisinya lagi saat keluar dari kamar mandi khusus tahanan. Dia mengantarkan Marko kembali ke sel dengan canggung.Kegilaan mereka tadi masih terbayang jelas di kepala Miska, membuatnya sangat malu.Miska terkenal dengan ketegasannya sebagai polisi wanita yang bertugas di salah satu kantor polisi di New York. Semua tahanan bahkan takut menghadapinya. Hanya Marko yang berani membalas ucapan dan tatapannya. Dan itu yang membuat Miska tertarik pada Marko."Jangan bilang siapa-siapa soal kejadian tadi," bisik Miska mengancam sebelum membukakan pintu sel untuk Marko."Siap, Nona Polisi yang galak," jawab Marko sambil tersenyum lebar. Dia senang karena bisa seks dengan Miska.Meski, di luar tampak galak. Miska memiliki sikap malu-malu yang menggemaskan.Miska buru-buru berbalik pergi setelah mengunci pintu sel. Melihat Miska sudah menghilang dari pandangan, Marko memilih duduk berselonjor di lantai yang dingin.Dia perlahan membuka resleting celananya dan mengelua
Sialan, umpat Miska dalam hati. Dia berusaha keras untuk mengabaikan keinginan Marko, tapi yang terjadi selanjutnya dia justru melakukan apa yang diminta pria itu. Kejantanan Marko yang luar biasa perkasa seolah menghipnosis Miska. Dia sampai tak berkedip melihatnya.Perlahan Miska mulai mengurut batang Marko sambil menahan gairahnya sendiri.Kewanitaannya ikut berdenyut-denyut setiap kali jarinya yang lentik menyentuh permukaan kejantanan Marko yang memberikan sensasi menggelitik.Marko memejamkan mata dan mendesah pelan. "Ahh, Nona Polisi Galak. Aku mau keluar. Ahh ...."Mendengar desahan Marko, Miska jadi lebih bersemangat mengocok batang Marko dengan kedua tangannya. Sampai dia melihat cairan kental berwarna putih menyembur keluar dari batang Marko."Ahhh ...." Marko mendesah sekali lagi. Dia tersenyum senang karena berhasil mengerjai Miska yang galak.Miska membulatkan mata melihat pelepasan Marko. Aroma pandan segera menyeruak memenuhi kamar mandi.Harusnya Miska langsung memba
Tengah malam, Marko merasakan perut bawahnya nyeri. Dia ingin buang air kecil, tapi kamar mandi untuk tahanan ada di dekat lorong. Tidak mungkin dia bisa ke sana karena dia terkunci dalam sel.Marko lalu mencoba mendekati polisi yang berjaga di sisi luar sel."Pak Polisi, bisa tolong antarkan aku ke kamar mandi. Aku ingin buang air kecil."Polisi itu menatap tajam Marko. Dia bergeleng dengan wajah jengkel. "Jangan coba-coba kabur, Bocah! Aku tidak akan mengizinkanmu keluar sel!""Aku benar-benar ingin buang air kecil, Pak Polisi," balas Marko sambil merapatkan kedua kakinya. Dia hampir kencing di sini kalau dia tidak menangkup batangnya dengan kedua tangan.Kebetulan sekali Miska yang mendapatkan jatah shift malam berjalan melewati sel tempat Marko ditahan. Marko langsung berteriak memanggil Miska. "Nona Polisi Galak!"Spontan Miska menghentikan langkahnya, dan menoleh ke Marko. "Ada apa lagi?" tanyanya ketus.Marko menempelkan wajahnya ke jeruji besi. "Nona Polisi yang galak, aku in
Marko pulang dengan senang. Semuanya berjalan lancar. Dia sudah melakukan seks dengan Ella sebanyak delapan kali, sudah memperbaiki motor bututnya, dan juga sudah mengajari Bryan teknik bela diri dasar.Sekarang Marko ingin segera melihat Stella dan mengintip tubuh indahnya. Semenjak bisa melihat bagian intim istrinya itu karena kekuatannya bertambah, Marko jadi bersemangat pulang cepat."Stella!" panggil Marko sambil melangkah masuk ke dalam rumah keluarga Dawson. Dia tadi mendapatkan makanan gratis dari pelanggan Fast Food. Dan makanan ini kesukaan Stella, jadi Marko membawakannya untuk istri tercintanya itu.Tapi, baru saja Marko melewati pintu utama, suara Nyonya Dawson menyentaknya."Itu dia orangnya! Dia yang sudah mencuri mobil!" teriak Nyonya Dawson seraya menunjuk ke arah Marko.Sebelum Marko sempat mencerna apa yang sedang terjadi di depannya, tiga polisi langsung menyergapnya, dan memborgol tangan Marko."Apa-apaan ini?" tanya Marko gusar. "Kenapa memborgolku?""Kau jelaska
Si pria tua memilih pergi agar Marko dan Ella memiliki waktu berdua. Dia tidak masalah jika putri semata wayangnya itu tidur dengan pria seperti Marko. Karena Marko begitu tampan, baik hati, dan kuat.Sementara itu, Ella berubah gugup saat Marko menutup tirai yang memisahkan tempat loakan dengan kamarnya.Ella masih muda, dan belum berpengalaman. Dia bahkan tidak tahu caranya melakukan seks. Tapi, tubuhnya sangat bagus. Marko bisa melihatnya dengan jelas karena dia kini punya kekuatan penglihatan yang bisa menembus pakaian orang lain."Apa kau sudah siap?" tanya Marko pada Ella yang duduk diam di pinggir tempat tidur."I-iya," jawab Ella menggigit bibirnya pelan untuk meredakan debaran jantungnya.Marko sangat tampan. Wajahnya seperti dewa Yunani yang Ella kagumi. Pipi Ella semakin memerah saat Marko melepaskan semua pakaiannya hingga Ella melihat kejantanan Marko yang besar dan berurat.Baru kali ini Ella melihat kejantanan seorang pria. Dan itu sontak membuat Ella merasa tak nyaman
"Hei, Bocah! Mau sok jadi pahlawan?! Tiga lintah darat itu menatap bengis Marko. Mereka tak suka ada yang mengganggu mereka. Apalagi mereka sudah tak tahan ingin meniduri Ella, anak si pria tua yang cantik dan manis.Marko mengangkat kedua bahunya singkat. "Tidak tertarik jadi pahlawan. Tapi, kalau kalian main kasar aku juga bisa.""Banyak mulut kau! Sini! Aku akan memukulmu! Dan jadikan kau makanan kalengan!" teriak lintah darat berwajah tirus dengan gigi kuningnya yang berantakan.Ella, dan si pria tua memucat. Mereka tak sanggup melihat perkelahian tiga lawan satu yang akan terjadi di depan mereka setelah ini.Si pria tua terlalu lemah tubuhnya sehingga dia tidak bisa membantu Marko. Sementara ketiga pria lintah darat itu sudah terlatih berkelahi dan mereka sangat kuat!"Tuan, lebih baik kau pergi saja. Jangan sampai kau berurusan dengan mereka," sela si pria tua menyuruh Marko pergi. Dia tidak mau sampai Marko terluka karenanya. Pria muda itu hanyalah pelanggan loakannya, dan tida
Paginya Nyonya Dawson dikejutkan dengan keberadaan mobil Audi RS5 di depan rumahnya."Mobil siapa ini?!" pekiknya kaget. Matanya berbinar-binar melihat mobil mewah itu.Andai mobil ini milikku, aku pasti sangat senang. Batinnya menyentuh body mobil yang mulus itu hati-hati.Namun, ketika Marko muncul dengan seragam kurir Fast Food, Nyonya Dawson langsung menatapnya rendah serta jijik."Lihat, Marko! Apa kau bisa membelikan mobil seperti ini untuk Stella? Kau memang tak berguna. Membeli bannya saja kau tak punya uang," ucap Nyonya Dawson sambil memutar bola matanya dan bersedekap.Marko hanya membalasnya dengan tersenyum enteng, malas meladeni mulut cerewet mertuanya. "Iya, Mom. Aku memang miskin."Tapi, melihat Stella ikut keluar, Marko langsung melempar kunci mobilnya kepada Stella. Stella terkejut dan spontan menangkapnya. "Apa ini?""Ini untukmu. Kau tak perlu lagi naik taksi untuk bekerja, Stella," ucap Marko santai.Nyonya Dawson nyaris menjatuhkan rahangnya. Jadi mobil mahal in