Beranda / Romansa / Hasrat Liar Sang Kakak Ipar / 89. AKu Harus Membunuhnya, Suatu Hari Nanti

Share

89. AKu Harus Membunuhnya, Suatu Hari Nanti

Penulis: Merspenstory
last update Terakhir Diperbarui: 2025-02-18 16:21:05

Lea merasakan rasa sakit yang begitu tajam di perutnya, tetapi ia tetap memaksakan diri untuk berjalan menuju ruang observasi. Dengan langkah terseok-seok, ia memasuki ruangan tempat Kaelyn dirawat. Berusaha sekuat tenaga untuk mengabaikan rasa sakit yang semakin mendera.

Setibanya di sana, Lea berhenti sejenak untuk mengatur napas. Ia mendekat ke ranjang Kaelyn yang masih terbaring dengan selang infus terpasang di tangannya.

“Bu …,” suara Lea terdengar lirih, “bagaimana perasaanmu?”

Kaelyn membuka matanya, lalu menatap Lea sekilas. “Aku lebih baik,” jawabnya singkat.

Lea berusaha tersenyum meskipun setiap gerakan hanya menambah rasa sakit di perutnya. Wajahnya semakin pucat dan keringat dingin mulai mengalir di dahinya. “Aku akan menemani ibu di sini,” katanya pelan, suaranya hampir tak terdengar.

Lea menarik kursi lebih dekat ke ranjang Kaelyn dan duduk dengan hati-hati. Rasa sakit di perutnya semakin menjadi-jadi hingga membuatnya kesulitan untuk tetap duduk tegak. Keringat dingin
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terkait

  • Hasrat Liar Sang Kakak Ipar   90. Goyah

    Setelah menunggu beberapa jam, Lea akhirnya diperbolehkan pulang setelah dokter menyatakan kondisinya stabil dan ia sudah tidak merasakan nyeri di perutnya.“Aku akan pulang sendiri dengan taksi,” tegas Lea sebelum Kayden sempat mencoba memerintahnya untuk naik ke mobil pria itu.Kayden memandangi Lea dengan wajah kaku, jelas sekali pria itu tidak setuju dengan keputusan yang Lea buat.“Sekarang masih pukul lima pagi dan kamu ingin pulang dengan taksi? Apa kamu tidak waras?” katanya dengan nada ketus.Lea mendesah pelan, sebisa mungkin menahan rasa lelah yang sudah menggerogoti tubuhnya sejak tadi. Jika Kayden mengajaknya untuk berdebat, Lea sama sekali tidak punya cukup tenaga. Tapi, Lea tidak ingin menyerah begitu saja.“Justru karena aku masih waras, aku tidak ingin pulang bersamamu ke kediaman Easton. Apa yang akan mereka pikirkan kalau kita pulang bersama? Aku tidak ingin ada tragedi lain, Kakak Ipar,” jawabnya mantap.Kayden terdiam sejenak, tampak memikirkan tentang alasan Lea.

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-18
  • Hasrat Liar Sang Kakak Ipar   91. Pengkhianatan di Balik Layar: Kayden VS Noah

    Saat ini, Noah sedang duduk di ruang ganti studio. Pria itu bersandar santai di sofa sembari menelusuri ponselnya. Jadwal pemotretan hari ini cukup melelahkan, tetapi ia tetap bersemangat karena satu hal—sebuah pekerjaan besar yang dijanjikan padanya oleh Jonathan Reid.Kampanye terbaru untuk merek fashion ternama Valmore adalah gebrakan besar yang bisa semakin mengukuhkan posisinya sebagai model papan atas. Tidak ada yang lebih pantas dari dirinya untuk menjadi wajah utama proyek ini.Namun, lamunannya buyar ketika seorang asisten masuk dengan tergesa-gesa.“Tuan Noah … Anda sudah dengar beritanya?” Asisten itu masuk dengan napas yang terengah-engah.Noah mengangkat alis, ia tidak suka dengan nada gugup yang digunakan asisten itu. “Berita apa?” tanyanya tak begitu penasaran.Asisten itu menelan ludah, wajahnya terlihat ragu. “Kampanye Valmore … mereka sudah mengumumkan model utamanya.”Senyum Noah langsung melebar. “Akhirnya mereka mengumumkannya. Sudah seharusnya, bukan? Aku harus se

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-19
  • Hasrat Liar Sang Kakak Ipar   92. Titik Balik

    Sementara itu, di waktu yang sama, Lea berdiri di dalam salah satu kafe favoritnya. Wangi kopi yang kuat memenuhi udara, menghangatkan suasana yang kontras dengan dinginnya udara di luar. Tangannya menggenggam ponsel untuk sekadar mengalihkan diri dari kebosanan saat menunggu antrean.Hingga suara familiar yang menyebalkan tiba-tiba menyusup ke telinganya.“Aku tidak percaya Noah membelikan ini untukku!” Suara Sophia terdengar lebih nyaring dari seharusnya. “Lihat bagaimana berlian ini berkilau! Bukankah sangat indah?”Lea membeku sesaat, sementara matanya sedikit melebar dari yang seharusnya. ‘Sophia? Apa dia di sini? Mengapa aku tidak melihatnya saat masuk tadi?’ gumamnya dalam hati.Ia menoleh sekilas dan matanya menyapu ruangan hingga akhirnya menemukan wanita itu. Sophia duduk di meja dekat jendela bersama beberapa temannya. Meski kejutan sempat menyelinap di dadanya, Lea segera menghela napas dan menunduk kembali ke ponselnya.Lea tetap diam. Ia mendengar, tentu saja, tetapi mem

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-19
  • Hasrat Liar Sang Kakak Ipar   93. Sebuah Peringatan

    Setelah kejadian itu, Sophia langsung merasa bahwa ia perlu bertindak. Ia mengeluarkan ponselnya dengan tak sabar dan mengetik pesan cepat kepada Noah. Sophia meminta pria itu untuk segera bertemu, dan mereka sepakat untuk bertemu di apartemennya tiga puluh menit lagi.Saat Sophia tiba, Noah sudah menunggunya di ruang tamu. Ekspresinya suram, penuh dengan ketegangan yang tak biasa. Matanya tajam dan ada kilatan amarah di sana—bukan hanya kemarahan biasa, tetapi kemarahan yang jelas sedang ia tahan dengan susah payah.Begitu duduk di sofa, Sophia segera memasang ekspresi terguncang, seolah ia benar-benar teraniaya.“Aku tidak tahu harus mulai dari mana,” katanya dengan suara bergetar. “Lea ... dia benar-benar sudah gila! Dia menamparku, Sayang! Dia mempermalukanku di depan banyak orang!”Noah yang awalnya tampak sibuk dengan pikirannya sendiri langsung mengangkat wajah, menatap Sophia dengan dahi berkerut. “Apa maksudmu? Lea menamparmu?”Nada ketidakpercayaan dalam suaranya begitu jela

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-19
  • Hasrat Liar Sang Kakak Ipar   94. Shadows of Desire

    Jantung Lea mencelos sesaat setelah mendengar kalimat itu. Jadi, semua ini tentang Sophia? Noah rela menyakitinya sejauh ini hanya demi kekasih gelapnya itu.Demi Tuhan! Lea merasa sangat marah, tapi ia tak tahu kepada siapa ia seharusnya marah. Pada Noah yang menyakitinya, atau pada dirinya sendiri yang selalu merasa tak berdaya?Lea ingin melawan. Namun keinginan itu hanya berakhir sebagai angan-angan kosong. Meski semangat untuk melawan sempat menyala, rasa takut akan ancaman yang terus menghantui membuatnya kehilangan keberanian.“Berhenti menangis! Sekarang, cepat obati tanganmu sebelum suamiku melihatnya!” ucap Kaelyn tanpa sedikit pun rasa simpati.Setelah mengatakan kalimat itu dengan nada dingin, Kaelyn segera beranjak. “Sial! Selera makanku jadi hilang karena ini,” gumamnya, suaranya masih terdengar jelas meski langkahnya sudah mulai menjauh dari ruang makan.Setelah Kaelyn benar-benar pergi, seorang pelayan segera menghampiri Lea dan membantunya berdiri.“Terima kasih,” uca

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-20
  • Hasrat Liar Sang Kakak Ipar   95. Neraka Paling Indah

    Kayden tidak menunggu jawaban. Dalam satu gerakan cepat, lengannya melingkari pinggang Lea dan mengangkat wanita itu dengan mudah ke dalam gendongannya.“Hei—” Lea tersentak kaget dan refleks meraih bahu Kayden. Ia menggigit bibir bawahnya sedikit kuat, menahan suara agar tidak membangunkan orang-orang di lantai bawah.“Tutup mulutmu dan diam,” potong Kayden tegas.Langkah Kayden mantap saat membawa Lea menuju kamarnya. Begitu tiba, ia langsung membaringkan wanita itu di atas ranjangnya dengan gerakan yang tak terduga—lembut dan hati-hati.Lea hendak bangun, tetapi Kayden menekan bahunya dengan pelan, membuatnya tetap terbaring di ranjang.“Malam ini, tidur di sini,” ucapnya singkat.Lea membuka mulut, ingin membantah, tetapi Kayden lebih dulu melanjutkan, “Lagi pula, Noah tidak pernah tidur bersamamu.”Lea mengepalkan selimut di sampingnya, tetapi tidak mengatakan apa pun. Kata-kata Kayden sebelumnya sudah cukup membungkamnya.Sejak awal pernikahan, kamar mereka hanya sekadar formali

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-20
  • Hasrat Liar Sang Kakak Ipar   96. Awal Dari Kejatuhan Noah?

    Noah duduk di ruang ganti dengan ekspresi gelisah. Ia baru saja menerima kabar yang sama sekali tidak ia duga—stylist pribadinya, Miranda Coen, tidak lagi bekerja untuknya sejak hari ini. Wanita itu adalah sosok yang memastikan setiap penampilannya selalu sempurna di depan kamera. Namun ketika Noah menghubunginya, ia hanya mendapat jawaban singkat bahwa kontraknya dengan Easton Media tidak lagi diperpanjang.“Apa maksudnya tidak diperpanjang?” geram Noah, jarinya yang kurus menggenggam ponselnya lebih erat.“Maaf, Noah. Aku tidak tahu detailnya. Ini kebijakan dari atas,” suara Miranda terdengar menyesal sebelum panggilan berakhir.Noah melemparkan ponselnya ke meja dengan kasar. Selama ini, hanya Miranda yang bisa memuaskannya dengan penampilannya. Ia mencoba menghubungi manajernya, tetapi sebelum sempat mendapat jawaban, seorang asisten masuk ke ruang ganti dengan raut wajah canggung.“Tuan Noah, ada sesuatu yang perlu Anda lihat.”Noah menatap asisten pribadinya itu dengan tajam seb

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-20
  • Hasrat Liar Sang Kakak Ipar   97. Neraka Kehancuran

    Tiga hari setelah insiden di ruang ganti, nama Noah Easton menjadi trending di seluruh media sosial. Bukan karena kontrak barunya dengan brand paling berpengaruh atau prestasi yang ia raih, melainkan sebuah skandal yang menghancurkan citranya dalam semalam.Sebuah video bocor ke publik—rekaman yang menunjukkan Noah dengan jelas meninju asistennya hingga tersungkur. Ekspresi marah, sorot mata liar, dan dentuman keras benda yang dibanting memenuhi latar rekaman itu. Video tersebut diunggah oleh akun anonim, tetapi dengan cepat menyebar bak api yang membakar reputasinya dalam sekejap.#CancelNoahEaston dan #JusticeForAssistant menjadi topik utama di berbagai platform. Wajahnya yang selama ini terpampang di billboard mewah, kini bersanding dengan berita buruk yang menyudutkannya. Media mulai menggali lebih dalam, dan dalam hitungan jam, berbagai artikel bermunculan dengan judul-judul tajam.Sisi Gelap Noah Easton: Arogansi Seorang Model Ternama yang Terungkap.Noah Easton di Ambang Kehanc

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-21

Bab terbaru

  • Hasrat Liar Sang Kakak Ipar   172. Berita Kematian Lea: Kecelakaan atau Konspirasi?

    [Jika kamu membaca pesan ini, mungkin aku sudah tidak ada di New York. Untuk berita yang meledak sejak tadi malam, tidak ada yang bisa kukatakan padamu selain maaf. Aku tidak bermaksud menyembunyikannya darimu, tapi aku tidak punya pilihan. Aku perlu waktu untuk menenangkan diri sampai semua ini reda. Aku janji akan kembali secepatnya dan kita akan bertemu lagi. Aku mencintaimu.]Kayden membaca pesan itu sekali lagi. Wajahnya terasa panas saat mencoba menahan emosi yang meluap-luap di dadanya.[Aku mencintaimu.]Matanya terpaku pada kalimat itu.“Sialan,” umpat Kayden. Jika itu benar, kenapa Lea pergi tanpa mengatakan apa-apa lebih dulu? Kenapa hanya meninggalkan pesan singkat seperti ini?Ia mengusap wajahnya dengan kasar lalu mengacak rambutnya dengan frustrasi. Sejak tadi pagi, ia sudah berusaha menghubungi Lea berkali-kali, tapi tidak ada satu pun panggilannya yang dijawab. Ponsel wanita itu bahkan kini sudah tidak aktif.“Apa maksudnya dia ‘ingin menenangkan diri’?” geramnya. Ber

  • Hasrat Liar Sang Kakak Ipar   171. Salju, Laut, dan Sebuah Konspirasi

    Salju tipis masih turun saat Lea melangkah keluar dari pintu kedatangan bandara kecil itu. Ia merapatkan mantel dan menarik napas dalam-dalam, mencoba menghilangkan gumpalan emosi yang menyesakkan dadanya. Kota ini terasa asing, jauh dari hiruk-pikuk yang biasa ia hadapi.Seorang pramugari yang baru saja turun dari pesawat yang sama memberinya senyum singkat. “Hati-hati di luar, Nona. Cuacanya sedang tidak bersahabat.”Lea hanya mengangguk kecil. “Terima kasih.”Ia melangkah ke area pengambilan bagasi, menunggu koper kecilnya muncul di conveyor belt. Sambil menunggu, ia mengeluarkan ponsel dari saku mantel dan segera menghubungi Astrid.“Aku sudah sampai,” ucapnya begitu panggilan tersambung.“Bagus,” suara Astrid terdengar lega. “Mobilnya ada di tempat parkir khusus dekat pintu keluar. Kuncinya bisa kamu ambil dari penjaga parkir.”Lea menatap sekitar, memperhatikan suasana bandara yang jauh lebih sepi dibandingkan dengan bandara besar di kota sebelumnya. Tak banyak orang yang berlal

  • Hasrat Liar Sang Kakak Ipar   170. Berita Terpanas

    Setelah melalui keseruan permainan truth or dare, Kayden tiba-tiba mengajak Lea untuk pulang. Sejak tadi, ia bukannya tidak menyadari gelagat Jonas yang tampak gelisah. Untuk itu, ia mengajak wanitanya pulang lebih awal dan memberikan waktu bagi Jonas untuk berduaan dengan Annika. “Hati-hati di jalan, Lea,” ucap Annika setelah bercipika-cipiki. “Terima kasih, Sir,” lanjutnya, menatap Kayden dengan sopan. Lea mengangguk seraya tersenyum manis. “Terima kasih, Anni,” sahutnya, sementara Kayden hanya bergumam sebagai jawaban. Kayden melingkarkan tangannya di pinggang Lea ketika mereka berjalan menuju lift. Begitu memasuki ruang sempit itu, Lea berkata, “Padahal sedang seru-serunya, tapi kamu malah mengajakku pulang dan bilang ada sesuatu yang mendesak. Memangnya hal apa?” Kayden tersenyum tipis. “Tidakkah kamu melihat gelagat Jonas yang terlihat gelisah, Little Rose?” Lea mengangguk, ia pun menyadari hal itu. “Lalu, apa hubungannya dengan urusan mendesak yang kamu bilang?” tanyanya b

  • Hasrat Liar Sang Kakak Ipar   169. A Kiss They Didn’t Expect

    Lea menegang. Pandangannya melesat ke arah Annika dan Jonas yang kini menatapnya dengan ekspresi berbeda—terkejut, penasaran, dan sedikit tidak percaya.Lea menggigit bibir bawahnya. Menolak berarti mempermalukan diri sendiri di depan semua orang. Namun, menerimanya? Itu sama saja dengan memberi Kayden kemenangan mutlak.Annika menahan napas. Di sampingnya, Jonas menggenggam gelas anggurnya lebih erat.Lea perlahan mengangkat dagunya, berusaha menyembunyikan kegelisahannya. Dengan suara hampir bergetar, ia berkata, “Kamu yakin ingin aku melakukannya di depan mereka?”Senyum Kayden melebar. “Bukankah itu bagian dari permainannya?”Lea menelan ludah. Ia bisa merasakan jantungnya berdebar begitu kencang hingga membuatnya mual. Tapi ia tidak ingin menunjukkan kelemahannya.Maka, dengan semua keberanian yang tersisa, ia mendekat dengan perlahan. Tangannya bertumpu pada meja untuk menstabilkan dirinya.Lea menghirup napas dalam, lalu dengan gerakan cepat, ia mengecup pipi Kayden. Hanya seki

  • Hasrat Liar Sang Kakak Ipar   168. Truth or Dare

    Dua hari kemudian.Lea bersiap untuk pergi ke kediaman Annika guna memenuhi undangan wanita itu. Dengan pakaian rapi yang dilapisi mantel serta riasan sederhana, ia tampak cantik alami. Sebagai sentuhan akhir, Lea menyemprotkan parfum di beberapa titik tubuhnya.“Sempurna,” gumamnya seraya tersenyum puas. Sekali lagi, ia memandangi pantulan dirinya di depan cermin sebelum akhirnya beranjak pergi.Saat Lea melangkah keluar dan membuka pintu, Kayden sudah berdiri di sana dengan senyum hangat menyambutnya. Tanpa ragu, Lea langsung menghamburkan diri ke dalam pelukan Kayden, meresapi kehangatan pria itu sejenak sebelum mendorong tubuhnya perlahan. Tatapannya mengunci pada mata Kayden sementara tangannya masih melingkar erat di leher pria itu.“Kamu sangat tampan malam ini, Tuan Muda Easton,” gumamnya penuh kagum.Kayden tetap mempertahankan senyum tipis di bibirnya sebelum mengecup lembut bibir Lea. Ciumannya lalu turun perlahan ke leher, membuat Lea tersentak halus.“Kamu sangat wangi, Li

  • Hasrat Liar Sang Kakak Ipar   167. Naughty Kayden

    Lea berjalan cepat menuju kamar mandi, berusaha mengabaikan jantungnya yang masih berdetak kencang setelah semua godaan Kayden di meja makan. Ia hanya ingin menenangkan diri, membiarkan air hangat membasuh kepalanya yang penuh dengan suara pria itu.Namun, begitu ia menutup pintu dan berbalik, tubuhnya langsung membeku.Kayden berdiri di ambang pintu dengan satu tangan bertumpu santai di kusen.“K-Kayden?!” Lea hendak meraih gagang pintu, berniat mendorong pria itu keluar. “Keluar! Aku mau mandi!”Alih-alih menurut, Kayden justru melangkah masuk dengan santai lalu menutup pintu di belakangnya dengan bunyi klik halus yang membuat tubuh Lea mengeras seketika.“K-Kenapa kamu ikut masuk?!” Ia mundur selangkah, matanya membulat waspada.Kayden tidak menjawab, hanya melucuti kancing piyamanya dan melepaskannya dengan gerakan sengaja.Lea semakin panik. “Jangan bercanda! Aku benar-benar mau mandi, Kayden!”“Ya, aku tahu,” sahut pria itu ringan. “Aku hanya menemanimu.”Lea menatapnya tak perc

  • Hasrat Liar Sang Kakak Ipar   166. Playing with Fire

    Lea ragu untuk memanggil pria itu seperti yang diinginkannya. Namun, Kayden jelas bersungguh-sungguh tidak akan melepaskannya sampai kata itu keluar dari bibirnya. Meyakinkan diri, Lea akhirnya melakukannya.“Sayang, lepaskan aku,” ucapnya dengan suara rendah.Kayden tersenyum penuh kemenangan sebelum akhirnya melepaskan pelukannya dari pinggang Lea. Dengan santai, ia menarik kursi di sebelah wanita itu dan duduk.Lea buru-buru memosisikan diri di kursinya, namun pipinya terasa panas. Jantungnya masih berdegup cepat, dan detik berikutnya, ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.‘Rasanya ingin menghilang saja!’ teriaknya dalam hati.“Hey, ada apa? Apa kamu malu?” bisik Kayden dengan nada menggoda. Ia meraih pergelangan tangan Lea, menariknya perlahan agar wanita itu menurunkan tangannya.Lea menggigit bibirnya, perasaan gelisah dan malu berkecamuk dalam dirinya.‘Sumpah demi semesta! Aku tidak sanggup menatapnya setelah ini!’ batin Lea berteriak.Kayden terkekeh pelan melihat

  • Hasrat Liar Sang Kakak Ipar   165. Aku Mencintaimu Sejak Awal

    Lea bahkan belum sempat bernapas lega ketika Kayden tiba-tiba menutup jarak di antara mereka.Lea membeku saat Kayden mendekat, napas pria itu menghangatkan kulitnya sebelum akhirnya bibirnya menyentuh miliknya. Lembut, namun penuh tuntutan. Seolah ingin menegaskan kepemilikannya dengan cara yang tak terbantahkan.Jari-jari Lea mencengkeram lengan Kayden, berniat mendorongnya, tetapi kekuatan dalam dirinya menguap begitu saja. Alih-alih melawan, tubuhnya justru melemas dalam dekapan pria itu.Kayden menarik wajahnya sedikit, lalu menatap Lea dengan hangat. “Masih meragukanku?” bisiknya.Lea menelan ludah, hatinya berdebar tak karuan. “Kayden, aku—”“Jangan katakan hal yang akan kamu sesali.” Kayden menempelkan dahinya ke dahi Lea, napasnya berhembus hangat di antara mereka. “Aku mencintaimu, Lea Rose. Sejak awal.”Mata Lea membesar. “Apa?” tanyanya terkejut.Kayden tersenyum samar, tetapi ada ketegasan dalam sorot matanya. “Sejak pertama kali melihatmu, aku tahu aku menginginkanmu. Ak

  • Hasrat Liar Sang Kakak Ipar   164. Terpaksa Mengakui

    Malam harinya, saat Lea baru saja merebahkan tubuhnya di atas ranjang, suara dering pada ponselnya menarik perhatiannya. Dengan malas, ia meraih ponselnya yang tergeletak di atas nakas. Jantungnya langsung berdebar saat melihat nama Annika terpampang di layar. Wanita itu pasti ingin meminta penjelasan soal kejadian di Home & Haven tadi siang. Dengan penuh pertimbangan, Lea akhirnya menekan tombol hijau, mengangkat panggilan itu.“Lea, ayo jelaskan apa yang terjadi antara kamu dengan CEO kita?” tanya Annika antusias, suaranya terdengar penuh rasa ingin tahu.Lea menggigit bibirnya, sedikit ragu, tetapi pada akhirnya ia terpaksa mengakui hubungan spesialnya dengan Kayden. Di seberang telepon, Annika langsung berteriak histeris sebelum tertawa.“Ini gila! Aku sama sekali tidak menduga kalau kamu akan berpacaran dengan CEO kita! Kayden Easton itu … wow, Lea! Dia tampan, kharismatik, dan … ah, aku iri padamu!”Lea mengembuskan napas panjang. “Tapi, aku ingin kamu merahasiakan soal ini, An

Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status