Lea refleks menoleh ke sekeliling, matanya menelusuri setiap sudut kafe dengan gelisah. Ia mengamati para pelanggan yang sibuk dengan aktivitas masing-masing, mencari tanda-tanda keberadaan seseorang yang tidak diharapkan kehadirannya. Memastikan apakah Kayden atau Jonas ada di sana.Namun, tak ada satu pun wajah yang ia kenali.Tidak ada Kayden. Tidak ada Jonas.Lea menggigit bibirnya, lalu kembali menatap layar ponselnya. Jemarinya menggenggam perangkat itu lebih erat saat suara hatinya berbisik bahwa Kayden pasti tahu ia tidak berada di penthouse.“Dia mengirimiku pesan seolah tahu bahwa aku tidak di sana,” gumamnya pelan.Rasa ngeri perlahan merayapi tulang punggungnya. Seberapa jauh kendali Kayden atasnya? Apakah pria itu benar-benar mengawasinya? Atau ini hanya permainannya untuk membuatnya takut?Lea mengembuskan napas berat, mencoba mengabaikan kegelisahan yang mulai membelenggu. Namun baru saja ia meletakkan ponselnya di meja, layar kembali menyala dengan sebuah pesan baru.[K
Lea tidak tahu ke mana Jonas membawanya, tetapi saat mereka berbelok ke jalan yang lebih ramai, matanya menangkap tulisan Rue d'Or di sebuah papan nama.Begitu menginjakkan kaki di sana, Lea melangkah perlahan, matanya menyapu deretan butik mewah dengan etalase kaca yang berkilauan. Jalanan ini adalah lambang kemewahan, tempat orang-orang dari kelas atas berkeliaran dengan percaya diri. Namun di tengah gemerlap itu, Lea justru merasa sedikit canggung berada di sana.Jonas berjalan di sisinya dengan tenang seperti biasa. Sesekali tatapannya menyapu sekitar, memastikan tidak ada hal yang mencurigakan.Saat melewati sebuah butik dengan tampilan elegan, Lea tanpa sadar memperlambat langkahnya. Di balik kaca besar itu, ia melihat deretan gaun indah tergantung dengan sempurna. Setiap potongannya memancarkan keanggunan dan kemewahan yang memanjakan mata.“Masuklah jika Anda ingin melihat-lihat,” kata Jonas seolah bisa membaca pikirannya.Lea ragu sejenak, lalu akhirnya mendorong pintu kaca d
Matahari telah mencapai titik tertingginya di langit ketika Lea dan Jonas menyadari bahwa mereka telah berjalan terlalu lama. Waktu berlalu tanpa mereka sadari. Keduanya terbawa oleh suasana kota yang hidup dan percakapan ringan yang membuat Lea merasa sejenak bebas dari beban yang selama ini menyesakkannya.Namun, suasana itu mendadak berubah ketika Jonas merasakan ponselnya bergetar di saku jasnya. Ia merogohnya dengan santai, tetapi begitu melihat nama yang tertera di layar, langkahnya seketika terhenti.“Dari Kayden Easton.” Jonas mengumumkan.Ia meneguk ludah ketika tatapannya kembali ke layar, dan tanpa membuang waktu, ia segera menerima panggilan itu. Percakapan yang terjadi begitu singkat, hanya beberapa kata dari Kayden yang membuat ekspresi Jonas semakin kaku. Setelah menutup telepon, ia segera menoleh pada Lea dengan sorot mata yang kini lebih tajam dan mendesak.“Kita harus kembali. Sekarang.”Lea menatapnya dengan cemas. Namun, saat melihat ketegangan di wajah Jonas, ia me
Gadis kaya itu menatap Lea dengan penuh kecurigaan. Lea bisa melihat bagaimana matanya menyipit, seperti mencoba menganalisis situasi.“Apa yang kamu lakukan di sini?” tanya gadis kaya itu.Lea tidak langsung menjawab. Ia justru menatap Kayden yang bersandar di bahu gadis itu—kepala pria itu sedikit terangkat, tetapi matanya jelas setengah terpejam karena mabuk berat.Setelah menarik napas, Lea mendekat, lalu meraih lengan Kayden dengan gerakan tegas.“Aku yang seharusnya bertanya,” ucapnya. Suaranya terdengar tenang, tetapi tajam. “Kenapa kamu yang membawanya pulang? Apa urusanmu dengannya?”Gadis kaya itu tampak terkejut sejenak sebelum bibirnya melengkung dalam senyum mengejek. “Tuan Easton butuh seseorang untuk menjaganya. Aku hanya membantunya pulang.”Lea terkekeh kecil, tetapi tanpa jejak humor. “Oh, jadi kamu merasa peduli? Atau kamu hanya mencari alasan untuk mengikutinya sampai ke mari?”Ekspresi gadis kaya itu berubah. Senyumannya memudar sedikit, tetapi ia cepat memulihkan
Keesokan paginya ….Kayden mengerjap pelan saat cahaya matahari menembus kelopak matanya. Rasa berat masih menggantung di pelupuknya ketika ia bangkit dari tempat tidur. Rambutnya berantakan dan kemejanya tampak kusut di tubuhnya.Tanpa banyak berpikir, ia berjalan keluar kamar dengan langkah malas. Begitu sampai di ambang pintu, pandangannya langsung jatuh pada sosok Lea yang tengah berdiri di dapur.Wanita itu tampak sibuk mengaduk teh dalam diam, sementara punggungnya menghadap ke arahnya. Cahaya matahari pagi menyorot sisi wajahnya, memberi kesan lembut yang entah mengapa sulit diabaikan.Kayden seharusnya tidak peduli. Ia tahu itu. Tapi kakinya bergerak lebih dekat tanpa perintah.Dalam satu gerakan lambat, tangannya melingkar di pinggang Lea.Lea tersentak, hampir saja menjatuhkan sendok dari tangannya saat Kayden memeluknya dari belakang. “Ka-kak Ipar—” ucapnya tergagap.“Hm ….” Kayden hanya bergumam rendah, kepalanya menyelip di bahu Lea dengan mata yang masih setengah tertutu
Lea duduk di antara para audiens, bersebelahan dengan Jonas, sementara pandangannya tertuju ke panggung di depan. Di sana, Kayden duduk dengan postur santai, mengenakan setelan abu-abu gelap yang membingkai tubuhnya dengan sempurna. Sikapnya tenang, penuh percaya diri, dan tanpa ekspresi yang berlebihan.Di sampingnya, seorang wanita cantik dengan gaun elegan dan senyum menawan duduk sebagai pembawa acara. Ia adalah Amelie Moreau, seorang jurnalis terkenal yang kerap mewawancarai tokoh-tokoh berpengaruh di dunia bisnis.Lea memperhatikan ekspresi wanita itu. Dari caranya menatap Kayden, dari senyuman halus yang seakan dipilih dengan sempurna, Lea bisa merasakan bahwa pembawa acara itu memiliki ketertarikan lebih terhadap pria di sampingnya.Dan Kayden?Seperti biasa, ia bersikap seolah-olah semua ini bukan masalah besar.“Sebuah kehormatan bisa berbincang dengan Anda hari ini, Tuan Easton,” ujar Amelie dengan suara lembut yang nyaris menggoda. “Di usia yang masih muda, Anda telah menj
Lea masih setengah sadar ketika matanya perlahan terbuka. Ia mengedip beberapa kali, mencoba menyesuaikan diri dengan cahaya yang temaram di kamar. Namun ada sesuatu yang terasa berbeda.Keberadaan hangat di sampingnya.Tangannya masih tersembunyi di bawah selimut, tetapi kehangatan asing di sampingnya terasa begitu nyata. Bukan ilusi kantuk. Bukan sekadar perasaan. Sesuatu—atau seseorang—ada di sana, membuat napasnya tercekat seketika.Lea sontak membelalakkan mata dan menoleh perlahan. Jantungnya hampir berhenti saat mendapati Kayden berbaring di sisi lain tempat tidur sedang menatapnya dengan santai.“Astaga!” pekiknya terkejut, lalu buru-buru bangkit duduk.Lea menegang sambil menatap pria itu dengan tak percaya. Namun sebelum sempat membuka mulut untuk mempertanyakan keberadaan pria itu di kamarnya, Kayden lebih dulu berbicara.“Kita pergi sebentar sebelum ke bandara,” katanya mengumumkan.Lea masih terpaku sementara otaknya berusaha mencerna situasi. “Apa?” tanyanya dengan sediki
Bandara New York.Keramaian langsung menyambut begitu Lea dan Kayden melangkah keluar dari ruang kedatangan. Suasana khas bandara dengan suara pengumuman penerbangan, langkah kaki yang tergesa-gesa, dan gemuruh roda koper memenuhi telinga mereka.Lea mengeluarkan ponselnya begitu merasakan getaran dari dalam tasnya. Nama Astrid Galen terpampang jelas di layar, membuat napasnya tersendat seketika.Tangannya sedikit gemetar saat ia menerima panggilan itu. “Halo?”“Aku ingin kamu datang ke rumah sekarang,” suara Astrid terdengar tegas di seberang.Lea menelan ludah. “Tapi, aku baru saja tiba—”“Aku tidak peduli.” Nada suara wanita itu penuh tekanan. “Datang sekarang.”Sambungan langsung terputus sebelum Lea bisa mengatakan apa pun.Ia masih memegang ponselnya dengan erat dan perasaannya berkecamuk. Jantungnya berdebar tak menentu, sementara pikirannya berusaha menebak-nebak alasan Astrid memanggilnya.Kayden yang sejak tadi berdiri di sampingnya, melirik Lea sekilas sebelum berjalan menuj
[Jika kamu membaca pesan ini, mungkin aku sudah tidak ada di New York. Untuk berita yang meledak sejak tadi malam, tidak ada yang bisa kukatakan padamu selain maaf. Aku tidak bermaksud menyembunyikannya darimu, tapi aku tidak punya pilihan. Aku perlu waktu untuk menenangkan diri sampai semua ini reda. Aku janji akan kembali secepatnya dan kita akan bertemu lagi. Aku mencintaimu.]Kayden membaca pesan itu sekali lagi. Wajahnya terasa panas saat mencoba menahan emosi yang meluap-luap di dadanya.[Aku mencintaimu.]Matanya terpaku pada kalimat itu.“Sialan,” umpat Kayden. Jika itu benar, kenapa Lea pergi tanpa mengatakan apa-apa lebih dulu? Kenapa hanya meninggalkan pesan singkat seperti ini?Ia mengusap wajahnya dengan kasar lalu mengacak rambutnya dengan frustrasi. Sejak tadi pagi, ia sudah berusaha menghubungi Lea berkali-kali, tapi tidak ada satu pun panggilannya yang dijawab. Ponsel wanita itu bahkan kini sudah tidak aktif.“Apa maksudnya dia ‘ingin menenangkan diri’?” geramnya. Ber
Salju tipis masih turun saat Lea melangkah keluar dari pintu kedatangan bandara kecil itu. Ia merapatkan mantel dan menarik napas dalam-dalam, mencoba menghilangkan gumpalan emosi yang menyesakkan dadanya. Kota ini terasa asing, jauh dari hiruk-pikuk yang biasa ia hadapi.Seorang pramugari yang baru saja turun dari pesawat yang sama memberinya senyum singkat. “Hati-hati di luar, Nona. Cuacanya sedang tidak bersahabat.”Lea hanya mengangguk kecil. “Terima kasih.”Ia melangkah ke area pengambilan bagasi, menunggu koper kecilnya muncul di conveyor belt. Sambil menunggu, ia mengeluarkan ponsel dari saku mantel dan segera menghubungi Astrid.“Aku sudah sampai,” ucapnya begitu panggilan tersambung.“Bagus,” suara Astrid terdengar lega. “Mobilnya ada di tempat parkir khusus dekat pintu keluar. Kuncinya bisa kamu ambil dari penjaga parkir.”Lea menatap sekitar, memperhatikan suasana bandara yang jauh lebih sepi dibandingkan dengan bandara besar di kota sebelumnya. Tak banyak orang yang berlal
Setelah melalui keseruan permainan truth or dare, Kayden tiba-tiba mengajak Lea untuk pulang. Sejak tadi, ia bukannya tidak menyadari gelagat Jonas yang tampak gelisah. Untuk itu, ia mengajak wanitanya pulang lebih awal dan memberikan waktu bagi Jonas untuk berduaan dengan Annika. “Hati-hati di jalan, Lea,” ucap Annika setelah bercipika-cipiki. “Terima kasih, Sir,” lanjutnya, menatap Kayden dengan sopan. Lea mengangguk seraya tersenyum manis. “Terima kasih, Anni,” sahutnya, sementara Kayden hanya bergumam sebagai jawaban. Kayden melingkarkan tangannya di pinggang Lea ketika mereka berjalan menuju lift. Begitu memasuki ruang sempit itu, Lea berkata, “Padahal sedang seru-serunya, tapi kamu malah mengajakku pulang dan bilang ada sesuatu yang mendesak. Memangnya hal apa?” Kayden tersenyum tipis. “Tidakkah kamu melihat gelagat Jonas yang terlihat gelisah, Little Rose?” Lea mengangguk, ia pun menyadari hal itu. “Lalu, apa hubungannya dengan urusan mendesak yang kamu bilang?” tanyanya b
Lea menegang. Pandangannya melesat ke arah Annika dan Jonas yang kini menatapnya dengan ekspresi berbeda—terkejut, penasaran, dan sedikit tidak percaya.Lea menggigit bibir bawahnya. Menolak berarti mempermalukan diri sendiri di depan semua orang. Namun, menerimanya? Itu sama saja dengan memberi Kayden kemenangan mutlak.Annika menahan napas. Di sampingnya, Jonas menggenggam gelas anggurnya lebih erat.Lea perlahan mengangkat dagunya, berusaha menyembunyikan kegelisahannya. Dengan suara hampir bergetar, ia berkata, “Kamu yakin ingin aku melakukannya di depan mereka?”Senyum Kayden melebar. “Bukankah itu bagian dari permainannya?”Lea menelan ludah. Ia bisa merasakan jantungnya berdebar begitu kencang hingga membuatnya mual. Tapi ia tidak ingin menunjukkan kelemahannya.Maka, dengan semua keberanian yang tersisa, ia mendekat dengan perlahan. Tangannya bertumpu pada meja untuk menstabilkan dirinya.Lea menghirup napas dalam, lalu dengan gerakan cepat, ia mengecup pipi Kayden. Hanya seki
Dua hari kemudian.Lea bersiap untuk pergi ke kediaman Annika guna memenuhi undangan wanita itu. Dengan pakaian rapi yang dilapisi mantel serta riasan sederhana, ia tampak cantik alami. Sebagai sentuhan akhir, Lea menyemprotkan parfum di beberapa titik tubuhnya.“Sempurna,” gumamnya seraya tersenyum puas. Sekali lagi, ia memandangi pantulan dirinya di depan cermin sebelum akhirnya beranjak pergi.Saat Lea melangkah keluar dan membuka pintu, Kayden sudah berdiri di sana dengan senyum hangat menyambutnya. Tanpa ragu, Lea langsung menghamburkan diri ke dalam pelukan Kayden, meresapi kehangatan pria itu sejenak sebelum mendorong tubuhnya perlahan. Tatapannya mengunci pada mata Kayden sementara tangannya masih melingkar erat di leher pria itu.“Kamu sangat tampan malam ini, Tuan Muda Easton,” gumamnya penuh kagum.Kayden tetap mempertahankan senyum tipis di bibirnya sebelum mengecup lembut bibir Lea. Ciumannya lalu turun perlahan ke leher, membuat Lea tersentak halus.“Kamu sangat wangi, Li
Lea berjalan cepat menuju kamar mandi, berusaha mengabaikan jantungnya yang masih berdetak kencang setelah semua godaan Kayden di meja makan. Ia hanya ingin menenangkan diri, membiarkan air hangat membasuh kepalanya yang penuh dengan suara pria itu.Namun, begitu ia menutup pintu dan berbalik, tubuhnya langsung membeku.Kayden berdiri di ambang pintu dengan satu tangan bertumpu santai di kusen.“K-Kayden?!” Lea hendak meraih gagang pintu, berniat mendorong pria itu keluar. “Keluar! Aku mau mandi!”Alih-alih menurut, Kayden justru melangkah masuk dengan santai lalu menutup pintu di belakangnya dengan bunyi klik halus yang membuat tubuh Lea mengeras seketika.“K-Kenapa kamu ikut masuk?!” Ia mundur selangkah, matanya membulat waspada.Kayden tidak menjawab, hanya melucuti kancing piyamanya dan melepaskannya dengan gerakan sengaja.Lea semakin panik. “Jangan bercanda! Aku benar-benar mau mandi, Kayden!”“Ya, aku tahu,” sahut pria itu ringan. “Aku hanya menemanimu.”Lea menatapnya tak perc
Lea ragu untuk memanggil pria itu seperti yang diinginkannya. Namun, Kayden jelas bersungguh-sungguh tidak akan melepaskannya sampai kata itu keluar dari bibirnya. Meyakinkan diri, Lea akhirnya melakukannya.“Sayang, lepaskan aku,” ucapnya dengan suara rendah.Kayden tersenyum penuh kemenangan sebelum akhirnya melepaskan pelukannya dari pinggang Lea. Dengan santai, ia menarik kursi di sebelah wanita itu dan duduk.Lea buru-buru memosisikan diri di kursinya, namun pipinya terasa panas. Jantungnya masih berdegup cepat, dan detik berikutnya, ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.‘Rasanya ingin menghilang saja!’ teriaknya dalam hati.“Hey, ada apa? Apa kamu malu?” bisik Kayden dengan nada menggoda. Ia meraih pergelangan tangan Lea, menariknya perlahan agar wanita itu menurunkan tangannya.Lea menggigit bibirnya, perasaan gelisah dan malu berkecamuk dalam dirinya.‘Sumpah demi semesta! Aku tidak sanggup menatapnya setelah ini!’ batin Lea berteriak.Kayden terkekeh pelan melihat
Lea bahkan belum sempat bernapas lega ketika Kayden tiba-tiba menutup jarak di antara mereka.Lea membeku saat Kayden mendekat, napas pria itu menghangatkan kulitnya sebelum akhirnya bibirnya menyentuh miliknya. Lembut, namun penuh tuntutan. Seolah ingin menegaskan kepemilikannya dengan cara yang tak terbantahkan.Jari-jari Lea mencengkeram lengan Kayden, berniat mendorongnya, tetapi kekuatan dalam dirinya menguap begitu saja. Alih-alih melawan, tubuhnya justru melemas dalam dekapan pria itu.Kayden menarik wajahnya sedikit, lalu menatap Lea dengan hangat. “Masih meragukanku?” bisiknya.Lea menelan ludah, hatinya berdebar tak karuan. “Kayden, aku—”“Jangan katakan hal yang akan kamu sesali.” Kayden menempelkan dahinya ke dahi Lea, napasnya berhembus hangat di antara mereka. “Aku mencintaimu, Lea Rose. Sejak awal.”Mata Lea membesar. “Apa?” tanyanya terkejut.Kayden tersenyum samar, tetapi ada ketegasan dalam sorot matanya. “Sejak pertama kali melihatmu, aku tahu aku menginginkanmu. Ak
Malam harinya, saat Lea baru saja merebahkan tubuhnya di atas ranjang, suara dering pada ponselnya menarik perhatiannya. Dengan malas, ia meraih ponselnya yang tergeletak di atas nakas. Jantungnya langsung berdebar saat melihat nama Annika terpampang di layar. Wanita itu pasti ingin meminta penjelasan soal kejadian di Home & Haven tadi siang. Dengan penuh pertimbangan, Lea akhirnya menekan tombol hijau, mengangkat panggilan itu.“Lea, ayo jelaskan apa yang terjadi antara kamu dengan CEO kita?” tanya Annika antusias, suaranya terdengar penuh rasa ingin tahu.Lea menggigit bibirnya, sedikit ragu, tetapi pada akhirnya ia terpaksa mengakui hubungan spesialnya dengan Kayden. Di seberang telepon, Annika langsung berteriak histeris sebelum tertawa.“Ini gila! Aku sama sekali tidak menduga kalau kamu akan berpacaran dengan CEO kita! Kayden Easton itu … wow, Lea! Dia tampan, kharismatik, dan … ah, aku iri padamu!”Lea mengembuskan napas panjang. “Tapi, aku ingin kamu merahasiakan soal ini, An