“Tentu saja aku mau menghangatkan istriku yang kedinginan. Lagi pula sudah satu minggu aku tidak menggunakanmu sebagaimana mestinya.” Adrian membalas telak pertanyaan Briella yang membuatnya jengkel.Briella mendorong Adrian hingga pria itu tersentak beberapa langkah ke belakang. “Kau boleh melakukan apa saja padaku, tapi jangan pernah sentuh aku!”Rahang Adrian mengetat mendengar itu. Dengan jijik Briella menatapnya tajam. Baru kali ini ada sorot kebencian seperti itu dari tatapan Briella, dan Adrian cukup terkejut akan hal itu.“Apa katamu!?”“Mundur, aku tidak mau jadi pemuas nafsumu!”Adrian semakin geram. “Siapa bilang kau boleh menolakku?” Usai mengucapkan itu dengan dingin, Adrian mencari sesuatu dari laci, lalu berjalan cepat mengepung Briella dan membekap perempuan itu.Sebagai pengusaha yang menguasai perdagangan obat-obatan dan senjata api di Vienna, Adrian punya cukup banyak obat yang bisa membuat Briella lemas dalam sekali bekap. Perempuan itu kehilangan kesadaran untuk s
Adrian terpaksa mengikuti Ben ke rooftop mansion untuk menghentikan kegilaan Falla Jorell. Di atas atap lantai tiga itu, Falla duduk di dinding pembatas, mengancam akan melompat jika Adrian tidak datang.Saat Adrian sampai di sana, dia melihat Falla duduk dengan kaki tergantung di tepi, wajahnya yang pucat dan mata yang penuh amarah bercampur kesedihan. “Falla, turun dari situ. Ayo kita bicarakan ini baik-baik,” kata Adrian dengan suara tenang, meskipun hatinya cemas.Falla menatapnya dengan mata yang penuh air mata. “Kau tahu, tadi aku menemukan toko kue yang menjual kue dengan bentuk-bentuk yang cantik, rasanya enak, dan warnanya juga indah,” ujarnya, seolah-olah tidak mendengar permintaan Adrian. “Saat memakan kue itu, aku langsung teringat padamu. Aku berpikir, apakah kau akan menyukai kue itu juga?”Adrian berusaha tetap tenang. “Itu terdengar menarik, Falla, tapi sekarang sebaiknya kau turun dulu, oke? Kita bisa membicarakan semua ini di tempat yang lebih nyaman.”Falla menggele
“Kau lihat, semalam Adrian menghabiskan malam di kamarku.”Mendengar perkataan Falla Jorell dengan nada mengejek, dada Briella jadi panas dan sesak. Napasnya tersekat, menahan air mata agar tak jatuh di saat yang paling tidak dia inginkan.“Adrian milikku, aku akan pastikan dia tetap menjadi milikku,” lanjut Falla percaya diri. “Kusarankan kau pergi dengan kakimu sendiri, sebelum Adrian mengusirmu.”Belum sempat Briella bisa menjawab, sebuah suara di belakannya menggema.“Kau pikir siapa kau, bisa mengusir menantuku dari mansion ini?” Dialah Rosalie, yang terlihat jauh lebih emosi daripada Briella setelah mengetahui ada perempuan muda bernama Falla Jorell tinggal di kediamannya. “Siapa namamu?”Falla memperhatikan Rosalie dari ujung kaki hingga ujung rambutnya, mencoba mencerna situasi. Sebenarnya siapa Rosalie ini? Apakah dia orang penting bagi Adrian? Atau hanya orangnya Briella?“Kenapa kau diam saja? Sebagai seorang tamu kau sangat tidak sopan!” seru Rosalie dengan nada cukup ting
“Apa kau sudah menemukannya?” tanya Adrian dengan raut wajah memancarkan jelas perasaan khawatir. Pria tampan itu berada di ruang kerja, tidak bisa mengatasi kecemasan dalam dirinya. Dia khawatir akan keberadaan Briella.“Tuan, maaf, tapi saya tidak bisa menemukan Nyonya Briella,” jawab Ben dengan nada gugup. Kegelisahan membentang karena dirinya belum mendapatkan informasi tentang keberadaan istri tuannya.Adrian menatap Ben dengan tajam, amarahnya memuncak. “Bagaimana mungkin kau tidak bisa mencari informasi kecil itu?! Kita memiliki jaringan yang luas dan kekuasaan di kota ini!”Ben menunduk, mencoba menjelaskan. “Semua itu karena Nyonya Briella dan Aster tidak menggunakan pesawat atau transportasi umum lainnya, jadi lebih sulit bagi saya untuk melacak keberadaan mereka.”Adrian memukul meja dengan frustrasi. “Sial! Ini tidak bisa diterima. Cari lagi, dan pastikan kau menemukan mereka!”Ben mengangguk cepat, lalu menambahkan, “Ada satu hal lagi yang perlu saya sampaikan, Tuan.”“Ka
Beberapa bulan kemudian, kehidupan di mansion Maven berjalan seperti biasa, meskipun kekosongan yang ditinggalkan oleh Briella tetap terasa. Adrian Maven, yang kini lebih dingin dan terfokus pada pekerjaannya, tidak pernah benar-benar melupakan kepergian Briella. Namun, dia berusaha untuk menenggelamkan diri dalam urusan bisnis demi mengalihkan pikirannya.Di sisi lain, Hunter Maven tetap berhubungan dengan Briella secara rahasia. Dia sering memastikan bahwa Briella dan Aster baik-baik saja di tempat persembunyian mereka. Suatu hari, Hunter menerima panggilan mendesak dari Aster.“Tuan Hunter, bisakah Anda ke sini? Saya rasa, Nyonya Briella akan segera melahirkan. Tanda-tandanya sudah terlihat jelas,” kata Aster dengan suara panik di telepon.Hunter merasakan gelombang kecemasan dan kegembiraan sekaligus. Dia tahu bahwa dia harus segera pergi ke tempat Briella, tetapi masalahnya adalah Adrian. Di ruang kerjanya, Adrian sedang mempersiapkan diri untuk bertemu dengan klien penting. Pert
Dua tahun kemudian …Hari itu, Ben mengetuk pintu ruang kerja Adrian dengan tergesa-gesa. “Tuan Adrian, Anda harus melihat ini,” katanya sambil menyerahkan sebuah tablet.Adrian mengernyitkan dahi, menerima tablet tersebut dan mulai membaca berita yang ditunjukkan oleh Ben. Di layar, terdapat artikel dengan judul besar: “Bintang Pendatang Baru, Briella Moretti, Langsung Bersinar Setelah Sukses Menjadi Tokoh Utama Film Blind Devotion.”Adrian membaca artikel itu dengan penuh perhatian. Foto Briella terpampang besar di halaman utama, senyumannya yang anggun dan menawan terpancar dengan jelas. Hati Adrian berdebar tak menentu melihat wajah yang tak pernah bisa dia lupakan.Ben yang berdiri di dekatnya menambahkan, “Tuan, bukankah ini Nyonya Briella?”Adrian mengepalkan tangannya dengan kesal. “Sialan,” gumamnya dengan suara penuh amarah yang terpendam. “Seharusnya dia menulis Briella Maven, bukan Briella Moretti.”Ben memandang Adrian dengan khawatir. “Apa yang akan Anda lakukan, Tuan?”
Hunter tersenyum tipis. “Kita bisa menggunakan pengaruh hukum dan media untuk melindungi hak asuhmu. Kau sekarang seorang artis terkenal, dan media bisa menjadi sekutu yang kuat. Kita bisa membuat perjanjian hukum yang jelas tentang hak asuh Fernandez, memastikan bahwa semua orang tahu kau adalah ibu yang terbaik untuknya.”Briella terdiam sejenak, mencerna kata-kata Hunter. “Tapi, apakah itu cukup? Adrian punya pengaruh besar, dia bisa memanipulasi situasi.”“Ada satu cara lagi.” Hunter tampak berhati-hati sebelum mengatakan, “Jadikan aku calon suamimu.”Briella terbelalak mendengar penawaran Hunter. “Ta-tapi—”“Hanya pura-pura, Briella, kita tidak akan sungguh-sungguh menikah. Kau perlu dunia tahu bahwa kau memiliki aku, sehingga Adrian akan berpikir dua kali untuk mengusik kita.”“Benarkah Adrian tak akan bisa merebut Nandy dengan cara itu?”“Aku mengerti kekhawatiranmu, tapi dengan pengacara yang tepat, dukungan publik, memiliki aku sebagai calon suamimu, kita bisa membuatnya lebi
Adrian menatap ibunya, berharap menemukan dukungan. “Apa menurut Mom ini masuk akal? Bagaimana mungkin Hunter menikah dengan istriku?” tanyanya dengan nada yang lebih tinggi dari bisaanya, menahan amarah yang bergejolak di dalam dirinya.Rosalie belum sempat menjawab, tapi Briella sudah lebih dulu berkata dengan tegas, “Aku ke sini sekalian untuk membicarakan soal perceraian kita, Adrian.”Mendengar hal itu, Adrian semakin marah. “Aku tidak akan pernah menceraikanmu, Briella!” katanya dengan keras, menatap Briella dengan mata yang penuh dengan kemarahan dan kebingungan.Hunter, yang berdiri di samping Briella, tetap tenang dan tegas. “Adrian, kau tahu bahwa Briella bisa mengajukan gugatan cerai. Mengingat kalian sudah cukup lama berpisah, perceraian bukanlah hal yang mustahil untuk dikabulkan oleh hakim.”Adrian menatap Hunter dengan penuh kebencian, tetapi kata-kata adiknya masuk akal. Mereka memang telah lama berpisah, dan situasinya tidak seperti dulu lagi. Tampak Briella menghela
Satu tahun kemudian …Sesampainya di rumah sakit, Adrian merasakan detak jantungnya semakin cepat. Langkah-langkahnya yang biasanya mantap kini terasa berat, seolah-olah setiap langkah membawa beban kekhawatiran yang tak terukur.Ruang bersalin berada di ujung koridor, tapi jarak yang harus ditempuhnya terasa seperti berpuluh-puluh mil. Cahaya lampu yang seharusnya menenangkan justru tampak suram di matanya. Dia tak bisa berpikir jernih—yang ada hanya ketakutan akan apa yang mungkin terjadi di balik pintu ruang bersalin itu.Saat akhirnya Adrian tiba di depan pintu, dia menemukan Rosalie sedang duduk di kursi tunggu. Wajah wanita paruh baya itu tampak pucat meski dia berusaha menyembunyikan kecemasannya. Rosalie yang melihat Adrian mendekat, dia berdiri dan mencoba tersenyum, tapi kegelisahan tetap terpancar di matanya.“Bagaimana keadaannya?” tanya Adrian dengan nada cemas, suaranya bergetar meski dia berusaha terdengar tegar.Rosalie mendekatinya, menyentuh lengannya dengan lembut.
Senyum seringai Adrian terbentang begitu saja setelah mendengar ucapan istrinya. Dia menarik Briella mendekat, tangan Adrian yang kuat meluncur ke bawah punggungnya. Mencengkeram bokong Briella yang membulat.Tanpa keraguan Adrian menekan batangnya yang keras ke arah kewanitaan si istri. Briella tersentak senang saat Adrian menggesek miliknya. Pria tampan itu menangkup pipi Briella, menghadiahkan ciuman lapar sehingga bibir mereka terkunci dalam ciuman yang penuh nafsu.Briella melepaskan ciuman itu, terengah-engah. “Adrian,” bisiknya, matanya berkilauan karena hasrat. “Kumohon segeralah masuk. Aku membutuhkanmu.”“Aku juga membutuhkanmu, Sayang,” jawab Adrian serak.Ciuman penuh gairah mereka semakin dalam, dan tangan mereka menjelajahi tubuh masing-masing. Membelai setiap inci. Adrian menangkup payudara penuh Briella, menggoda putingnya yang mengeras dengan ibu jari.Briella mengerang, melengkungkan punggung ke arah Adrian. Dia mengusap dada suaminya, turun ke perut Adrian yang liat
Briella tersenyum lembut, matanya berkaca-kaca. “Jangan khawatir, ini air mata bahagia. Kau ... kau sering kali kasar, terburu-buru. Tapi sekarang, setiap sentuhanmu penuh cinta, penuh perhatian. Kau benar-benar telah berubah, Adrian.”Ini bukan pertama kali bagi Briella disentuh Adrian sejak mereka kembali bersatu. Sentuhan Adrian sekarang penuh dengan kelembutan dan penuh cinta. Berbeda dengan dulu yang penuh nafsu seakan dirinya adalah budak seks.Mata Adrian melembut, dia menarik Briella lebih dekat, mengecup dahinya dengan lembut. “Aku menyesali banyak hal, Briella. Dulu aku terlalu dibutakan oleh amarah dan dendam, tapi sekarang aku hanya ingin kau merasakan betapa aku mencintaimu, betapa berartinya dirimu bagiku. Aku tidak akan pernah menyakitimu lagi.”Kata-kata Adrian yang tulus itu menusuk hati Briella, membuatnya tidak bisa menahan air mata yang mulai mengalir di pipinya. Ini adalah air mata kebahagiaan, air mata yang berasal dari perasaan mendalam bahwa cinta sejati mereka
Malam itu, suasana ruang makan terasa tegang. Adrian duduk di ujung meja, tatapannya kosong dan mulutnya terkunci rapat. Briella yang duduk di sebelahnya mencoba tersenyum, tapi ketegangan Adrian begitu nyata hingga seluruh ruangan terasa sunyi. Hunter, yang duduk di seberang meja, langsung membaca situasi.“Nandy, bagaimana kalau sabtu besok kita pergi ke peternakan?” Hunter menawarkan dengan nada riang, mencoba mencairkan suasana. “Paman akan mengajarimu cara berkuda, dan kita bisa memerah susu sapi langsung dari sapinya. Bagaimana?”Mata Fernandez langsung bersinar mendengar tawaran Hunter. “Benarkah, Paman? Aku mau! Aku mau!” serunya dengan antusias, tapi dia segera menoleh pada Briella. “Tapi Mommy ikut juga, kan?”Hunter terkekeh pelan, lalu menggelengkan kepalanya. “Kali ini hanya kita, sesama pria yang pergi, Nandy. Mommy akan menunggu di sini.”Fernandez mengerutkan kening, tampak tidak puas dengan jawaban itu. “Tapi aku mau Mommy ikut bersama kita, Paman.”Adrian tampak sema
“Mommy, aku suka sup ini. Rasanya creamy.” Fernandez tampak senang dengan kehadiran kembali ibunya. Bocah itu selalu menempel pada Briella, dan bersikap manja. Sejak pulang sekolah, dia meminta Briella menyuapinya, padahal anak itu sebelumnya terbiasa mandiri dan makan sendiri.“Apa kau mau tambah lagi supnya, Nandy?” tanya Briella lembut, seraya menatap putranya dengan penuh kasih sayang.“Tidak, Mommy. Aku sudah kenyang. Apakah Mommy bersedia membantuku mengerjakan pekerjaan rumahku?” pinta Fernadez.Briella mengangguk dan tersenyum. “Tentu, Sayang.”Malam ini, sikap manja Fernandez tidak juga berakhir. Sehabis makan malam, dia meminta Briella membantunya mengenakan piama. Di kamar mereka yang luas dan nyaman, Adrian duduk di tepi tempat tidur, menatap Briella yang sedang membantu Fernandez mengenakan piyama. Briella tersenyum lembut, matanya penuh kasih sayang saat putra kecil mereka, duduk di pangkuannya, sudah siap untuk tidur.“Nandy, ayo tidur, Sayang.”“Mommy mau ke mana?”“Mo
Adrian dan Briella tersenyum hangat melihat Fernandez berlari-lari di tamn, bersama dengan pengasuh. Pasangan itu duduk di kursi taman bersama dengan Rosalie dan Hunter. Tampak semua orang bahagia melihat Fernadez yang bermain dengan riang penuh kegembiraan.“Aku sudah lama sekali tidak melihat Fernandez sebahagia ini,” ungkap Hunter jujur.Menghilangnya Briella, selalu membuat Fernandez menjadi muram. Tidak jarang Fernandez menangis setiap kali merindukan Briella. Tiga tahun Briella menghilang, bukan waktu yang sebentar. Bukan hanya Fernandez yang murung sejak Briella menghilang, tapi Adrian, Hunter, dan juga Rosalie sangat terpukul. Apalagi yang mereka tahu adalah Briella dibunuh Felix dengan kejam. Hal tersebut menjadi pukulan berat di keluarga Maven.“Aku akan pastikan Nandy terus merasa bahagia, Hunter. Aku akan selalu di sisi putraku,” ucap Briella tulus, dan penuh kehangatan.Adrian membelai rambut Briella. “Ya, Sayang. Nandy akan selalu merasa bahagia. Kau sudah kembali. Kebah
Hunter memanfaatkan jaringannya di kepolisian untuk mengusut tuntas masalah penculikan ini. Saat tahu anak wali kota diculik, polisi segera bergerak cepat menyelidiki. Semua bukti sudah jelas, anak buah Felix Jorell adalah dalang di balik penculikan anak wali kota Vienna.Hunter, yang duduk di seberang meja, tersenyum puas. “Polisi sudah melaporkan pada walikota kalau anaknya diculik,” katanya sambil menyandarkan punggung ke kursi dengan riang, menunggu kabar selanjutnya.Adrian mengangguk. “Seorang wali kota tentu saja tidak akan membiarkan ini berlalu begitu saja. Felix sudah membuat langkah terburuk dalam hidupnya.”Hunter tertawa kecil, membayangkan akibat dari kekonyolan anak buah Felix. “Dia pikir dia bisa mengancam kita dengan menculik Fernandez, tapi lihat apa yang terjadi. Felix pasti sedang menggigit jarinya di penjara saat ini.”Hanya dalam waktu beberapa jam setelah polisi melaporkan penculikan putra sang walikota, dampaknya langsung terasa. Seorang wali kota tentu memilik
Briella duduk di ruang tamu yang megah, menikmati aroma manis pie apel yang baru saja dipotong. Ini adalah momen yang sangat langka dan berharga baginya. Setelah tiga tahun diculik dan ditawan oleh Felix, akhirnya dia bisa merasakan kebebasan. Dia kini dikelilingi oleh orang-orang yang mencintainya, Adrian, Fernandez, Hunter dan Rosalie.“Pie ini benar-benar enak, Mom. Aku tidak tahu kapan terakhir kali aku bisa duduk santai seperti ini, bersama keluarga,” ucap Briella sambil tersenyum, mengambil potongan pie apel kedua.Rosalie, yang duduk di seberang meja, tersenyum hangat. “Kau pantas mendapatkan kebahagiaan ini, Briella. Setelah semua yang kau lalui, aku harap hidupmu akan terus dipenuhi cinta dan kedamaian,” balasnya sambil menyesap teh dari cangkir porselen.Briella mengangguk pelan, menikmati setiap kata Rosalie. “Aku tidak tahu bagaimana aku bisa bertahan kalau bukan karena kalian semua. Tiga tahun bersama Felix … itu seperti mimpi buruk yang tak pernah berakhir.”“Kami semua
Ruangan interogasi terasa pengap dengan cahaya lampu terang yang menyilaukan langsung ke wajah Felix Jorell. Dua orang polisi duduk di depannya, satu dengan ekspresi datar, sementara yang lain mencatat setiap kata yang keluar dari mulutnya. Di sudut ruangan, alat pendeteksi kebohongan dengan sensor-sensornya terpasang di tubuh Felix, mengukur detak jantung dan tekanan darah setiap kali dia berbicara.“Kapan tepatnya Anda mengenal Briella Maven?” Polisi pertama mulai membuka percakapan dengan suara rendah namun tegas.Felix menghela napas panjang seolah sedang mengingat. “Aku pertama kali bertemu dia di acara jumpa fans film Blind Devotion. Dia sangat ramah, manis, dan kami mulai sering bertukar pesan setelah itu.”Polisi pertama itu menatap Felix tanpa berkedip. “Dan apa yang terjadi setelah itu?”Felix tersenyum tipis, matanya tampak mencoba meyakinkan. “Aku sering mengirimkan hadiah padanya. Bunga, cokelat, bahkan perhiasan yang mahal. Aku sering mengajak keluar ke restoran. Briella