đđ¤đPemeran utama di sini sebenarnya adalah Laura. Tapi, Asher selalu berusaha merebut jam tayang istrinya.
Beberapa menit lalu sebelum Alan datang .... âOh, kenapa ada cincin di sini?â Rachel mengambil cincin itu dari saku jas Alan. Alan sebelumnya mencengkeram kotak perhiasan kecil itu hingga rusak dan tak dapat ditutup. Juga karena sudah lama berada di saku Alan dan dibawa ke mana-mana, kotal kecil hitam itu jadi rapuh. Rachel memutar cincin itu dan melihat tulisan di bagian dalam. Kedua alisnya terangkat begitu membaca namanya terukir di sana. âApa ini untukku?â Rachel tersenyum kecil membayangkan Alan malu-malu akan memberikan cincin itu. Lalu, angin mulai bertiup kencang sehingga jas Alan berkibar-kibar. Kotak perhiasan rusak itu terjatuh di pasir. Rachel memakai cincin itu agar tak terjatuh dan hilang di pasir. Sementara dia memungut kotak perhiasan dan mencoba memperbaikinya. Rachel pikir, dia tak sengaja merusak kotak itu. Di saat Alan terlihat dari kejauhan, Rachel dengan panik menyatukan kotak perhiasan itu meski tak berhasil. Dia buru-buru melepas cincin dari jari manisnya
âKak Alan tidak sedang menganggapku sebagai Kak Laura, bukan?â Rachel tahu betapa Alan menyayangi Laura, setelah dia mendengar cerita dari Emma. Hampir jarang ada pria yang mau menikahi wanita yang sedang mengandung anak dari pria lain jika bukan karena cinta. Rachel penasaran, apakah Alan masih menyimpan sedikit perasaan cinta kepada Laura? âBenar. Aku dulu pernah mengajak Laura ke tempat ini. Tetapi, saat bersamamu, aku sungguh lupa pernah ke tempat ini bersama Laura. Aku sempat teringat di saat bus yang membawa kita ternyata menuju tempat ini tadi, tetapi langsung lupa dalam beberapa detik.â Dari pengalaman teman-temannya yang memiliki kekasih, Alan biasanya mendengar kebohongan kecil teman-teman prianya kepada kekasih mereka. Bukan karena benar-benar ingin berbohong. Namun, para wanita itu sepertinya lebih suka mendengar kebohongan yang membuat hati mereka tenang. Ada pula pria yang jujur dan tak menutup-nutupi apa pun sesuai permintaan kekasihnya. Hasilnya, wanita itu akan tet
Silau âŚ. Alan menutup wajah dengan lengannya. Dia tak bisa melihat apa pun, kecuali cahaya di sekelilingnya. Meski dia masih merasakan tangan Rachel dalam genggamannya. Apakah dirinya sedang bermimpi seperti yang sudah-sudah. Jika benar, Alan akan sangat kecewa. Namun, suara orang-orang berdatangan mulai menyadarkan dirinya. Alan Ruiz dan Rachel kini berdiri di tengah sorotan cahaya layaknya dua pemeran utama dalam sebuah panggung besar. âKetemu juga kalian!â seru suara pria yang familier. Orang-orang yang merupakan pengawal Rangga mulai berdatangan mengelilingi Alan dan Rachel. Seolah mereka adalah kriminal yang telah lama dicari-cari dan tak akan membiarkan mereka kabur. Dion sedang berjalan ke arah mereka dengan langkah tegap. Dia menghela napas panjang dan melambaikan tangan agar anak buahnya mematikan lampu sorot tersebut. Jika bukan karena Rangga yang menyuruh mereka ikut mencari keberadaan Rachel dan Alan, Dion tak akan kesulitan. Dengan banyaknya orang yang melapor padan
Asher Smith tak pernah membenci Alan Ruiz. Biarpun Asher sempat cemburu ketika teringat Alan pernah melamar Laura, tetapi Asher tahu jika Alan bukan pria tak tahu malu yang akan berusaha merebut istrinya. Akan tetapi, ketika melihat pemandangan di depannya, Asher rasanya ingin tertawa. Alan bicara dengan tegas. Namun, setelah semua orang terdiam, wajahnya kembali tegang, bibirnya pun gemetaran. Sungguh, Asher tak membenci Alan. Tetapi, Asher tak keberatan menyaksikan Alan dipukul Rangga Cakrawala atas kekurangajarannya. Gara-gara Alan, citra Asher sebagai orang tua yang mengasuh Rachel selama Rangga tak ada menjadi hancur. Berjam-jam dia bicara sampai mulutnya pegal, tetapi Alan dengan mudah merusaknya. Selain itu, Asher sempat diabaikan saat mengomentari Alan. âWah, berani sekali kau, Alan Ruiz! Kalian katanya pergi ke pantai ⌠jangan-jangan, kau ingin meniruku dan Laura? Kau pasti ingin merasakan sensasi mendebarkan dengan Rachel di pantai,â tuduh Asher. Entah mengapa, Asher sel
Laura menyeret Asher keluar dari kamar itu. Dia tahu jika Asher masih ingin mendengarkan pembicaraan mereka. Asher bukan lagi mengkhawatirkan Rachel. Laura bisa melihat dengan sangat jelas dari sorot mata sang suami yang berbinar-binar jika dia sedang menanti kegemparan yang akan terjadi. âSebentar lagi makan malam. Kita harus mencari Claus dan Collin, Sayang! Mereka pasti bermain petak umpet bersama Papa dan Hanna.â âKakiku lemas, tidak bisa bergerak. Sebentar lagi, biar ototku lemas dulu,â dalih Asher. Laura mencebik kesal. âKau hanya ingin ikut campur, bukan? Berikan mereka privasi, Sayang.â Laura berusaha keras menyeret badan Asher yang katanya masih lemah tak berdaya. âKau ini ⌠aku harus menjaga Rangga, kalau-kalau dia mau memukul Alan,â gerutu Asher sepanjang jalan. Langkah Asher terhenti ketika melihat Simon terhimpit di antara dua lemari besar bersama Hanna. âSedang apa lagi mereka?â tunjuk Asher. âMereka sedang bermain ⌠petak umpet.â Laura menjawab dengan ragu. Sebab,
Rangga segera menghentikan pembicaraan itu. âLaura pasti sudah menunggu kita di ruang makan. Kita ke sana dulu.â Selagi mereka menuju ruang tamu, Rangga melihat Alan dari kepala hingga ujung kaki. Selama ini, Rangga telah membantu Alan memperbaiki sikapnya yang terkadang terlalu lunak kepada orang-orang yang datang mengganggu. Alan telah lulus dalam ujian-ujian sulit darinya. Tak jarang Rangga mengirim gadis-gadis muda untuk merayu Alan. Namun, Alan tak sekali pun tergoda oleh gadis-gadis itu. Alan pun langsung tegas menolak mereka. Tak seperti dulu, ketika Alan tak tega menolak Hillary yang ingin berteman dengannya dengan menunjukkan wajah memelas. Namun, tetap saja masih ada yang mengganjal di hati Rangga. Dia rasanya ingin menangis kala membayangkan Rachel berumah tangga dan akan melupakan dirinya. Rangga mengutuk waktu yang cepat berlalu. Dia ingin kembali ke masa lalu, di mana dirinya masih menjadi ayah dari ketiga anak-anak yang masih lugu dan tak mengenal cinta kepada law
Pagi-pagi buta, Rachel berjinjit-jinjit menuju pintu kamar tamu yang terletak paling ujung koridor. Dia memutar kenop pintu perlahan agar tak menimbulkan sedikit pun suara. âKak Alan,â bisik Rachel sangat lirih hingga menyerupai embusan angin. Terang saja Alan tak terbangun. Jarak antara pintu dan ranjang pun berjauhan. Rachel tak bisa berteriak membangunkan Alan untuk mengajaknya jalan-jalan pagi. Sebab, ada si penjaga yang masih tidur pulas di dekat kekasihnya. Siapa lagi kalau bukan sang ayah tercinta âŚ. Rachel kemudian masuk dengan pelan-pelan. Akhirnya, kaki yang susah payah melangkah itu mencapai dekat ranjang. Dia berjongkok sambil menatap Alan yang belum menyadari kedatangannya. Kemudian, jemarinya yang usil menusuk-nusuk pipi Alan sambil cekikikan lirih. âKak Alan, ayo lari-lari pagi. Aku sering melihat orang berkencan di taman. Aku juga mau melakukannya âŚ,â bisik Rachel. Alan tampaknya sedang mimpi indah hingga tak terbangun. Rachel kini membelai-belai mata, hidung, d
Semalam, Rangga tiba-tiba mengunjungi kamar Alan. Alan sudah menduga sebelumnya karena Rangga selalu waspada setiap kali tinggal satu atap dengan Rachel. Tak disangka, pria tampan yang masih belum terlalu terlihat tanda penuaan di wajahnya itu menitikkan air mata di depannya. Rangga menceritakan tentang Rachel dari kecil hingga dewasa. Sehingga dia larut dalam kesedihan dan haru atas semua yang pernah mereka lalui bersama. âRachel tidak berhenti merengek dan bahkan menangis karena aku melarangnya berhubungan denganmu. Aku pernah berjanji akan selalu membuat Rachel bahagia setelah semua yang terjadi padanya karena kesalahanku. Jangan sia-siakan kesempatan dariku, Alan Ruiz. Jika Rachel sampai menangis atau tidak bahagia karenamu, aku bersumpah akan membuatmu menderita seumur hidup.â Alan tak akan menyia-nyiakan kesempatan besar itu. Lampu hijau telah menyala. Kali ini, Alan akan membuat gadisnya bahagia. Bukan hanya demi memenuhi janjinya kepada sang calon mertua, melainkan karena be