Benda Raksasa itu menderu dengan kecepatan luar biasa padahal beratnya saja tidak terkira. Pragasena yang mati kutu tak bisa bergerak karena serangan yang terus dilancarkan oleh Ansika hanya bisa pasrah saat Tameng Raja milik Ansika siap melumat tubuhnya.Disaat yang sangat genting, tiba-tiba saja datang cahaya putih terang disertai bias warna biru yang menyambar Tameng Raja tersebut hingga terjadilah ledakan yang sangat dahsyat.Blaaarrrr!!!Tameng raksasa itu tertahan oleh sesuatu yang bersinar terang dan menyambar-nyambar. Pragasena terpana melihat hal tersebut. Sementara Ansika nampak mengerutkan kening karena senjata miliknya bisa ditahan oleh sesuatu yang masih misteri untuknya. Di langit sana terlihat awan hitam yang berputar-putar pertanda sesuatu telah muncul. Gandi tersenyum tipis dengan tangan yang masih mengarah ke tempat dimana Pragasena berada."Untung aku tepat waktu..." batinnya sambil mengepalkan tinjunya. Seketika benda bercahaya yang tak lain dan tidak bukan adalah
Gandi menatap kearah Ansika yang sudah menyatu dengan Tameng Raja miliknya. Aura yang keluar dari wanita tersebut pun membuat tekanan yang luar biasa hingga memaksa Gandi mengerahkan perisai air miliknya untuk menahan tekanan tak terlihat tersebut."Senjata dan tubuh bersatu...? Aku baru melihat hal seperti ini...Dan aura yang dia keluarkan menjadi puluhan kali lipat lebih kuat dari sebelumnya. Apakah ini kekuatan dari Penjaga Ratu Mayadwipa....? Penjaganya saja sekuat ini, apalagi Ratu Mayadwipa yang ditakuti oleh para iblis di dunia ini...?" batin Gandi yang merasakan tubuhnya berkeringat dingin membayangkan kekuatan Mayadwipa yang sangat mengerikan.Ansika mengangkat tangannya ke atas. Dari dalam telapak tangannya tersebut tiba-tiba muncul cahaya hijau yang terang membentuk palu raksasa yang ukurannya tak tanggung-tanggung. Palu tersebut memiliki besar yang tak jauh beda dengan istana Kerajaan Probo Lintang. Sangat besar hingga membuat Gandi tercengang."Menciptakan palu dari tenag
Pedang biru tersebut nampak berdenyut menjadi lebih terang seolah menanggapi apa yang Gandi Wiratama katakan. Entah kenapa, semangat bertarung Gandi meningkat setelah pesan tersebut muncul. Tak hanya itu, kekuatan dan juga pertahanan sisik naganya pun seolah baru saja naik tingkatan yang Gandi sendiri tidak mengerti kenapa bisa seperti itu."Kau adalah suamiku, sebagai seorang istri tentu saja aku akan melakukan apa pun untuk melindungimu. Setelah Pedang ini menyala, kau akan mendapat banyak dukungan dariku yang membuatmu bisa lebih kuat dari sebelumnya." sebuah suara muncul dari Pedang tersebut. Suara yang tidak lain adalah suara Dara Purbavati.Gandi tersenyum senang. Dia pun menjadi percaya diri bisa mengalahkan Ansika yang sudah menyatu dengan Tameng Raja miliknya. Dengan Tubuh Senjata yang wanita itu miliki, akan sulit bagi Gandi bersaing dengannya dalam pertarungan. Namun kali ini dia sudah merasa yakin sehingga dia pun menghunus kan pedang Guntur Saketi kearah Ansika yang menat
Gandi Wiratama tertegun selama beberapa saat setelah kedua penjaganya melayang jatuh dalam keadaan kepala remuk setelah terkena tinju Ansika yang ternyata sangat mengerikan. Hanya beberapa detik pemuda itu tertegun karena setelahnya dia berteriak keras.Dari dalam tubuh pemuda itu merebak kekuatan yang luar biasa dahsyat hingga ribuan tombak. Ansika terkejut saat dia merasakan lonjakan kekuatan yang mengerikan dari arah Gandi. Dia menatap Raja Naga tersebut dengan rasa penasaran.Tubuh Gandi yang sudah dalam wujud Naga Air itu melesat dengan sangat cepat dan tahu-tahu sudah ada di depan Ansika. Pemuda itu mengayunkan Pedang Guntur Saketi dan Pedang Pembuka Kehidupan secara bersamaan seolah hendak memotong tubuh Ansika dari dua sisi. Wanita tersebut mendengus keras lalu dia pun menggunakan tangannya untuk menahan serangan kedua pedang tersebut,Trang!Kedua pedang memang berhasil ditahan oleh kedua tangan Ansika, namun tujuan Gandi melakukan itu hanyalah untuk membuat wanita tersebut
Pedang Guntur Saketi tercabut dari tubuh Ansika yang masih terinjak oleh kaki kanan Gandi Wiratama. Wanita itu berteriak lirih menahan sakit yang luar biasa saat pedang yang sebelumnya menembus tubuhnya itu tercabut dengan kasar."Apa yang kau lakukan kepada dua penjagaku itu sangat membuatku marah. Mereka adalah dua penjaga setia yang menemaniku selama ini. Dan kau membunuhnya tanpa ampun sama sekali...Kali ini, kau akan merasakan hal yang sama dengan mereka," kata Gandi lalu dia hujamkan pedang Guntur Saketi ke tubuh wanita itu kembali hingga membuat Ansika berteriak untuk kedua kalinya.Rasa sakit luar biasa itu disebabkan oleh aliran petir yang menyeruak di dalam tubuhnya sehingga wanita tersebut terlihat kejang-kejang."Setelah membereskanmu, aku akan membunuh semua orang-orang mu ini. Darah dan nyawa mereka, aku persembahkan kepada Banyu Segara dan Sri Wedari..." kata Gandi dengan nada mengancam."Berani kau membunuhku...!? Kau akan men
Gandi menatap kearah langit yang mendadak menjadi gelap karena saking banyaknya anak panah yang melayang di atasnya dan siap menghujani Raja Naga tersebut. Namun sepertinya hal itu tidak membuat pemuda itu merasa khawatir sama sekali. Dia menghentakkan kaki kanannya ke tanah. Seketika muncul gelombang biru dari dalam tubuhnya yang membentuk kubah dan membesar setiap kali aura biru berdenyut dari dalam tubuh sang pemuda hingga menjadi sangat besar dalam waktu yang singkat.Anak panah berjumlah ribuan itu seperti tertahan di udara setelah mengenai aura biru milik Gandi yang membentuk kubah raksasa. Bayantaka dan ratusan ribu pasukannya benar-benar dibuat tak percaya melihat kekuatan Gandi yang ternyata masih sama kuatnya meski sudah bertarung habis-habisan melawan Penjaga Ratu, yakni Ansika."Apakah dia masih menyimpan kekuatannya!? Auranya menjadi semakin kuat!" batin Bayantaka.Ribuan anak panah yang melayang di dalam kubah biru milik Gandi nampak ber
Asap yang sempat menutupi pandangan mulai menghilang diterpa angin. Terlihat di depan sana sosok Ragil yang masih berdiri dengan tubuh penuh luka setelah menangkis serangan kuat yang Gandi lancarkan. Raja Naga Air itu tak menyangka sayap kiri Bayantaka tersebut bisa bertahan meski harus terluka cukup parah."Padahal dia masih berada di Ranah Alam Cakrawala...Tapi bisa menahan seranganku yang sudah ada di Ranah Alam Dewa...Bukankah cukup mustahil?" batin Gandi."Itu menjadi hal yang tidak mustahil jika dia mendapat dukungan penuh dari Pedang Cahaya. Seperti yang aku katakan, lawanmu memang lebih lemah dari wanita yang sebelumnya kau bunuh. Tapi dia memiliki pusaka ciptaan Empu Jagat Martapura. Pusaka yang tentu saja memiliki kekuatan dahsyat dan tak bisa kau anggap remeh." kata Ki Ageng Samudra Biru menanggapi apa yang Gandi ucapkan."Pedang Cahaya ya... Aku penasaran, kenapa pedang itu begitu hebat sampai bisa membuat orang yang tingkat kekuatannya be
Gandi Wiratama harus berjuang cukup keras sekaligus mengirit tenaga nya agar dia bisa bertahan dari serangan ratusan ribu prajurit Bayantaka yang tak pernah ada habisnya. Padahal dia sudah membunuh lebih dari 40.000 prajurit yang menciptakan gunung mayat setinggi belasan tombak. Tapi tetap saja, musuh terlalu banyak dan tidak ada habisnya. Hal itu jelas menguras tenaga sang Raja Naga Air yang harus mengirit karena sebelumnya dia sudah menggunakan banyak kekuatan.Pertarungan itu pun berlangsung sehari semalam tanpa henti hingga tumpukan mayat benar-benar semakin tinggi. Gandi pun mulai terlihat kelelahan. Hal itulah yang dinantikan oleh Bayantaka. Dia melompat terbang ke udara sambil berteriak keras menebas ke depan.Sinar kuning dari Pedang miliknya menderu kearah Gandi yang setengah berlutut sambil menopang tubuhnya menggunakan kedua pedang yang ada di tangannya. Keringat membasahi sekujur tubuhnya yang tak lagi menggunakan Sisik Naga."Gelo...! Tidak ada habisnya makhluk-makhluk si
Ratusan ribu pasukan air milik Gandi menerjang pasukan Ratu Mayadwipa. Peperangan tak dapat dielakkan lagi. Para dewa yang membantu Bara dan Gandi pun mengamuk begitu sampai di kaki gunung. Karena kaki pasukan sebanyak itu terikat oleh rantai ungu milik Bara, dengan mudah para pasukan air membunuh mereka menggunakan Pedang maupun tombak.Para Raja yang melihat itu nampak geram namun tak bisa berkutik karena rantai ungu yang melilit tubuh mereka. Dalam sekejap mata, ribuan bahkan puluhan ribu prajurit Mayadwipa tewas di tangan pasukan air dan para dewa yang menyerang mereka secara serempak. Mayat berjatuhan dalam keadaan terpenggal kepalanya atau pun terpotong tubuhnya. Banyak pula yang mati karena luka tusuk dan anak panah air yang menancap bagaikan besi.Keadaan yang tak menguntungkan tersebut memaksa para Raja mengeluarkan bekal rahasia yang dibawa dari Kerajaan Mayadwipa."Lepaskan semua peliharaan Ratu! Biarkan mereka mengamuk!" teriak Raja Agra memberi perintah kepada tiga Raja l
Xue Ruo berniat untuk menerobos pertahanan lawan yang masih berjarak belasan ribu tombak dari puncak gunung tersebut. Namun dia masih menahan diri melihat Lian Xie memegang pundaknya."Tahan dulu amarahmu. Jika kau kesana sekarang, bisa jadi kau akan masuk ke dalam perangkap orang-orang aneh yang baru saja datang melalui celah ruang." kata Lian Xie mengingatkan.Xue Ruo pun menuruti apa kata Lian Xie. Bagaimana pun juga, dia merasa tidak perlu meluapkan amarah tanpa berpikir panjang. Karena dia pernah mengalami hal yang buruk akibat kecerobohannya tersebut. Wanita itu akhirnya bisa menahan diri dan menunggu saran dari Lian Xie yang dirasa lebih bijaksana dalam mengambil keputusan.Pasukan Raja Agra bersama para pengawal istana mulai bergerak maju. Lingkaran hitam raksasa pun ikut bergerak kearah gunung mengikuti langkah para prajurit yang berjumlah ratusan ribu. Para Raja yang lain pun ikut bergerak dengan perintah di tangan Raja Agra melalui telepati.Hu Shi Yun menoleh kearah Rui Y
Wung!Sepuluh Pedang Es raksasa meluncur dari atas langit menuju ke bawah sana dimana ratusan ribu prajurit manusia iblis terpana dibuatnya. Raja Agra pun terpaku sejenak karena hantaman gelombang petir merah masih belum usai ditambah serangan mematikan sadari atas langit."Kekuatan apa yang sebenarnya kami hadapi? Apakah ini alasan Ratu mengutus setengah prajurit Kerajaan ke tempat ini? Karena lawan memiliki kekuatan yang mengerikan..." batin Raja Agra.Tiba-tiba muncul pecahan ruang di atas ratusan ribu pasukan tersebut. Lalu keluar beberapa sosok dari dalam pecahan ruang tersebut dan langsung mengayunkan senjata mereka kearah langit.Wusss!Tiga sinar putih menderu membentuk sabit raksasa. Lian Xie terkejut merasakan aura kuat dari serangan tiga sosok yang baru saja muncul tersebut. Dan ternyata benar, serangan itu memang sangat kuat. Itu terbukti saat tiga cahaya berbentuk sabit tersebut membabat putus tiga pedang es raksasa milik Dewi Es Lian Xie. Setelah itu terciptalah ledakan
Dewi Es Lian Xie mendengus geram melihat apa yang tengah dilakukan oleh para prajurit bawahan Raja Agra. Lu Xie yang juga melihat hal itu tak tinggal diam. Dia berniat untuk membantu wanita tersebut menggunakan kemampuan petir merah miliknya."Jangan membantuku Lu Xie! Biarkan aku yang menangani para serangga ini. Kau tetap ditempat dan menjaga mereka berdua. Aku yakin, musuh mengincar Gandi dan Bara yang membawa pusaka dari Bayantaka dan reruntuhan Kuno." kata Lian Xie.Lu Xie mengangguk dan tetap berada di tempatnya sambil menatap kearah langit dimana puluhan lingkaran portal muncul dan mengeluarkan Pedang Es raksasa."Wanita ini, dia memiliki banyak kekuatan yang tak terbayangkan olehku..." batin Lu Xie.Para Raja yang lain yang juga melihat lingkaran biru tersebut segera saling berhubungan melalui telepati jarak jauh. "Apa yang terjadi di wilayah Agra?" tanya Raja Ungrama."Ada Dewa dengan kekuatan es yang menjadikan kami sasaran Pedang Es raksasa miliknya. Saat ini kami akan ber
Belasan ribu tahun yang lalu, seorang wanita dari ras Iblis bernama Mayadwipa atau yang disebut sebagai Tujuh Iblis Kehancuran datang ke tanah kutukan yang ada di dalam wilayah Kerajaan Naga Air dan menaklukkan Kerajaan manusia iblis serta binatang Iblis di sana. Para Raja Manusia Iblis yang menyerah pun menjadi bawahan sang Wanita Iblis yang memang memiliki kekuatan sangat mengerikan. Tidak ada satu pun Raja Kerajaan dari ras manusia iblis maupun ras bintang Iblis yang mampu melawan Ratu Mayadwipa sehingga mereka pun dipaksa untuk tunduk kepada wanita Iblis tersebut.Para Raja tidak menyadari, bahwa waktu itu Mayadwipa datang dalam keadaan tengah terluka setelah pertarungannya melawan Sasaka. Kedatangannya telah mengubah pandangan dua ras tersebut terhadap Pencipta mereka, yakni Empu Jagat Martapura yang kala itu sudah melemah setelah menciptakan Tombak Banyu Biru dan senjata terakhir sebagai kuncinya, yakni Pedang Pembuka Kehidupan.Setelah Empu Jagat meninggal, Mayadwipa pun menjad
Bara dan Gandi sama-sama duduk bersila untuk memulihkan diri setelah pertarungan besar yang mereka lakukan sementara para pengikut mereka berjaga di berbagai titik di atas puncak gunung. Kedua pemuda itu duduk di tengah lahar yang mendidih dimana tepat di bagian tengah nya ada sebongkah batu raksasa yang mereka gunakan untuk duduk.Pragasena, Dara Purbavati bersama dua Naga Penjaga Banyu Segara dan Sri Wedari ikut menjaga di atas puncak gunung di sisi sebelah timur. Iblis Mata Perak Du Khan melayang di udara sendiri sambil sedekap tangan dan kedua mata yang tertutup. Sementara, Dewi Es Lian Xie berada di sebelah barat bersama Lu Xie nampak berjaga-jaga sambil mengawasi sekitar.Hu Shi Yun dan Rui Yun berdiri di sisi sebelah selatan. Sedangkan Xue Ruo berada di sisi utara bersama Du Khan namun dia duduk bersila di bawah sementara Iblis Mata Perak itu melayang di udara."Apa kau merasakannya Nona Xue?" tanya Du Khan melalui telepati."Apa yang kau rasakan? Aku tak merasakan apa pun," ta
Gandi terkejut saat melihat Pedang Guntur Saketi memberikan reaksi padanya. Seolah-olah senjata tersebut sangat senang telah kembali bertemu tuannya. Pemuda itu pun mencabut Pedang itu dari dalam tanah. Seketika kekuatan petir menyeruak dari dalam Pedang dan menyambar kearah langit."Apakah kau merindukanku?" ucap Gandi sambil memainkan pedangnya dengan gerakan-gerakan kecil. Pertarungan besar itu akhirnya berakhir setelah pasukan Bayantaka yang masih tersisa kurang lebih dua ratus ribu itu mundur. Setelah kabar kematian Bayantaka dan Ansika serta dua sayap Bayantaka yang tak lain adalah Ragil dan Swirta tewas dalam peperangan tersebut tersiar oleh Bara, mereka pun mundur secara teratur dan dipimpin oleh prajurit muda yang menurut kabar adalah calon penerus Bayantaka.Setelah ratusan ribu prajurit itu mundur, Bara pun menyeringai senang. Dia keluarkan Kotak Penangkar Jiwa yang dia dapatkan dari Guo Jiu. Lalu pemuda itu pun mengarahkan benda tersebut ke bawah sana dimana puluhan atau
Gandi dan Bara sama-sama tercekat melihat apa yang dilakukan oleh Bayantaka. Dalam keadaan tubuh setengah hancur setelah terkena serangan kuat dari Raja Naga Air itu dia masih bisa berdiri dan bahkan berusaha menyerap puluhan ribu jiwa dari pasukan manusia iblis yang telah mati."Tak bisa dibiarkan dia menyerap jiwa-jiwa itu lagi! Kita harus segera membunuhnya!" teriak Bara lalu dia pun mengerahkan gerbang merah miliknya untuk berpindah tempat. Gandi pun melakukan hal yang sama. Kedua portal merah dan biru itu muncul di belakang Bayantaka. Sekejap kemudian pedang milik Gandi bergerak cepat menusuk ke arah punggung dan Golok Iblis milik Bara menebas pinggul manusia iblis tersebut.Duaaarrr!!!Belum sempat dua senjata dewa itu menyentuh tubuh Bayantaka, tiba-tiba ledakan besar terjadi dari dalam tubuh makhluk yang dalam keadaan penuh luka tersebut. Bara dan Gandi pun sama-sama tertahan oleh aura ledakan yang sangat kuat. "Apa yang terjadi!?" seru Gandi sambil bertahan dari aura ledakan
Dara segera meluncur kearah Gandi yang sudah siap dengan Pukulan Sakti nya. Wanita cantik tersebut melayang di samping sang Raja Naga Air. Dia menatap kearah bola kekuatan yang ada di telapak tangan Gandi."Kekuatan apa yang kau kerahkan suamiku?" tanyanya penasaran."Ini adalah Pukulan Sakti yang belum ada namanya. Tapi biarlah seperti ini..." ucap Gandi."Kakang juga memiliki kekuatan api...? Aku baru menyadarinya. Kakang benar-benar hebat!" kata Dara sambil menatap takjub. Dipuji oleh wanita cantik tersebut membuat Gandi merasa sedikit tersipu."Kekuatan api ini kebetulan saja aku memilikinya. Tapi sejujurnya, aku tak suka menggunakan kemampuan orang lain seperti yang dilakukan oleh dia," kata Gandi sambil melempar pandangan matanya kearah Bara yang tengah sibuk menahan Tameng Raja bersama dua leluhur kuno."Jadi api didalam tubuhmu adalah kekuatan orang lain...Pantas saja seorang Naga Air bisa memilikinya. Apa kakang tidak sadar, dua kekuatan itu bisa menimbulkan bencana?" tanya D