Aku melihat kearah yang ditunjuk Carolina. Dan itu pintu keluar. "Aku akan tunjukkan, ayo," Carolina menarik tanganku dengan kegembiraan meluap-luap. Sementara aku seperti orang-orangan sawah.Entah kemana perginya James. Semua karyawannya sedang menikmati makan siang bersama sambil bercengkerama. Saat aku keluar bersama Carolina, mereka melihat kami dengan pandangan aneh.Aku mengalihkan pandangan seraya memperhatikan setiap detail kantor itu. Kami berjalan menyusuri area kantor yang cukup padat tapi memiliki banyak sudut untuk bersantai.Jika kebanyakan kantor memiliki sekat-sekat yang saling terhubung, kantor ini berbeda. Sekat dihilangkan, dan semua karyawan bebas berinteraksi dengan yang lainnya. Terdapat karpet lantai yang aku rasa, jika mereka pegal bisa langsung rebahan disana. Kantor ini lebih mirip playground bagiku. Menyenangkan untuk dilihat.Untuk mengimbangi area terbuka, dinding-dinding kantor itu dibuat klimis berwarna putih tulang. Tidak ada satupun pajangan, lukisa
"Kau mencariku?" Tepat saat aku merasa lega, dia menghancurkannya. Untuk apa dia berdiri di dekat parkiran mobil kami? . Dengan kesal aku mengabaikannya.Mr. Rubber menghalangi jalanku dan melotot, "mungkin Mr. Peterson butuh bantuanmu, Alice," "Apa? Dia tidak butuh bantuanku," "Sebenarnya Mr. Rubber, aku ingin menemui anda," timpal James seolah ingin jadi pahlawan.Mr. Rubber memerah dan merasa tersanjung. Dengan cepat dia turun dari bus dan menghampiri James. "Kalian boleh pulang tanpanya, aku yang akan mengantarnya pulang," kata James padaku.Aku hanya mengangguk dan memberitahu supir kami. Aku tidak menoleh lagi ke arah James dan mengambil kursi dekat jendela dengan Luna disampingku."Aku baru saja bertanya pada teman kantorku, dan benar saja," ujar Luna mengipasi wajahnya."Apanya?""James memang atasanku," Aku memutar bola mataku, "tentu saja, Luna. Dimana lagi kau bisa menemukan kantor berisi blonde? Jelaslah pemiliknya satu orang," "Aku jadi merasa bersalah padamu, Alice
"Sejak kapan kau melakukan itu?" tanyaku marah pada EthanDia terlihat salah tingkah dan menggaruk kepalanya, "maafkan aku Alice, sebenarnya bukan hanya kau saja yang aku ambil gambar," "Lalu kenapa wajahku ada disana?""Karena potretmu yang paling menakjubkan, bahkan itu sudah terjual dan orang yang membelinya sebentar lagi akan datang,""Oh! Kau pikir itu bagus hah? Menjual wajah teman wanitamu agar bisa mendapatkan uang dan ketenaran?" kali ini aku tidak dapat menyembunyikan emosiku.Wajah Ethan memerah. Dia tampak membisu, tidak dapat berkata apa-apa lagi."Sebenarnya...""Apa?" "Aku tidak ingin menjualnya, tapi pria itu memaksa membelinya. Dia bilang daripada orang lain yang menikmati wajahmu," jawab Ethan menunduk.Aku mengerang frustasi. Saat ini kami sedang berada di luar galeri. Aku membawa Ethan ke tempat sepi agar bisa mengeluarkan unek-unek ku."Tenanglah sayang, bukan orang asing yang menikmati wajahmu. Itu aku," suara yang aku kenali memotong percakapan kami dari belak
Mobil berhenti di dalam parkiran sebuah gedung perkantoran di pinggir kota Boston. Aku curiga kantor ini juga milik James."Ayo turun," titah James dingin.Aku cepat membuka pintu dan mengikuti berjalan dibelakangnya. Dua penjaga bertubuh bongsor langsung turun dari sebuah mobil jeep dan mengikuti dibelakangku. Bulu romaku meremang. Sikap James seketika berbeda saat sudah sampai disini. Dia menjadi dingin dan terlihat kejam. Aku sedang berpikir untuk mencoba kabur tapi aku harus melihat apa yang ingin James tunjukkan padaku.Dalam hati kecilku, kepercayaan masih tersimpan untuknya.Kami menyusuri basemen di bawah area parkir gedung itu. Semakin gelap saat sampai di anak tangga terakhir. Kedua penjaga dibelakangku langsung menyalakan senter.Aku sebenarnya ingin berjalan sejajar dengan James dan menggandeng tangannya. Aku takut dengan sikapnya yang dingin saat ini.James berhenti di ujung tembok, lalu berbelok ke sebuah ruangan bercahaya remang. Aku langsung mengikutinya dan memperhat
" Luna, katakan saja," pintaku lembut. Aku ingin ini segera selesai dan akan mencoba membujuk James mengobati Luna."Dia seorang mucikari?" tanya James tak sabar. Mata Luna melebar karena terkejut, lalu dia pun menunduk malu. "Lalu kenapa Daisy dibunuh?" "Itu tidak sengaja," Luna mengakui, kelihatannya dia berkata jujur. "Maksudmu?""Saat itu aku datang mencari Alice. Tapi ternyata dia tidak ada disana. Aku sudah merasa lega sampai orang suruhan ayahku datang. Dia begitu marah dan memukuli aku. Entah dari mana Daisy langsung memukul pria itu sampai dia tersungkur. Aku mencoba menyelamatkan Daisy, tapi dia tertembak saat kami akan melompati jendela. Aku terpaksa melarikan diri sendirian," Aku merasa lega ternyata bukan James yang membuat Luna babak belur. Juga karena bukan dia yang membunuh Daisy. Aku tau dia orang baik. "Tapi bagaimana kau tau ayahku mucikari?" tanya Luna keheranan pada James."Itu mudah, aku sudah mengikutimu sejak lama. Bahkan sebelum kau masuk Harvard," jawab
Sudah dapat ditebak kemana James akan membawaku. Rumah pinjamannya yang sudah aku tinggalkan selama beberapa bulan belakangan.Tapi James tidak membawaku kesana, hanya dia yang turun lalu masuk lagi ke dalam mobil. Aku terlalu lelah dan kecewa untuk bertanya. Mobil melaju cepat melewati jalanan Boston yang lengang. Sangking mengantuknya, aku pun tidak sadar telah tertidur dengan mata yang masih basah. Jika bisa memilih, aku rasanya tidak ingin bangun lagi.Dalam mimpi saja aku masih bisa merasakan sakit yang teramat sangat hingga membuat nafasku sesak. Apalagi ketika aku bangun nanti, pasti akan lebih sakit. Sempat beberapa kali terbangun, yang aku rasakan hanya hangat dan tangan berat yang memelukku. Lalu aku pun terlelap lagi.Sebuah cahaya silau memaksaku bangun. Kehangatan menyusup dari balik selimutku yang tersingkap. Setelah mengerjapkan mata beberapa kali, aku memutuskan untuk bangun. Benar saja, hatiku masih terasa sakit. Kali ini, rasa sakitnya berlipat ganda. Mungkin kare
"Siapa dia? Apa kau mengajakku kesini untuk mengenalkan wanita barumu hah?" Kekesalanku menjadi-jadi. Wanita itu nampak ketakutan dan berlari ke dalam rumah. Ingin sekali aku mengejar dan menjambak rambutnya. Tapi urusanku dengan James harus segera diselesaikan."Aku bahkan tidak mengenalnya, Alice!" elak James dengan wajah bingung.Aku menyeringai sambil bertepuk tangan, "bagus sekali, apa kau sudah menjadi aktor hollywood belakangan? Pandai sekali kau bersandiwara!" "Sayang," James maju hendak memelukku tapi aku mundur dan menepis tangannya dengan kekuatan penuh."Aduh!, sejak kapan kau berlatih beladiri sayang? Sakit sekali," keluh James memegangi tangannya yang memerah."Sejak kau menjadi pria brengsek!" dengusku kesal.Keributan terdengar dari dalam rumah. Aku terus menatap James dengan pandangan mematikan. Rasanya ingin sekali aku mencari benda yang bisa kujadikan alat untuk memukulinya."Aku benar-benar tidak mengenalnya sayang, sumpah!" James memohon dengan wajah yang merah.
Frans keluar dari kamarnya dengan menyembunyikan tangan. Senyuman jahil terpancar dari wajahnya. Setelah duduk dan memasang wajah serius, dia pun menunjukkan sesuatu yang membuatku terkejut."Kau akan menikah dalam waktu dekat?" tanyaku yang entah mengapa merasa bahagia. Frans mengangguk antusias, "kau suka?""Selamat Frans!" seruku gembira.James berdecak tak suka, "ayolah sayang, apakah menurutmu undangan dari Frans merupakan kado yang bagus?" Aku mengabaikan James. Frans lalu memberikan hadiah lain dari dalam sebuah paper bag bekas. "Terima kasih kau sudah menganggap undangan itu kado yang bagus, Alice. Aku terharu," ucap Frans dengan air mata buaya. "Tapi bukan itu kadonya," Tambah Frans seraya memberikanku sebuah kotak perhiasan."Pertama, ini dariku. Dan yang ini kau bisa melihat catatannya," "Oke, terima kasih Frans," gumamku terharu memeluk kotak perhiasan itu.Sebuah gelang perak cantik dengan berbagai bandul yang lucu. Aku ingat pernah menginginkan gelang ini saat kami
"ayo!" Baron ditarik paksa oleh James. Mereka sudah sampai di sebuah gedung yang mirip rumah sakit. Baron mencari-cari nama rumah sakit itu tapi mereka sudah berada di halamannya. "Mau kemana kita?" tanya Baron ketakutan. Yang ada dipikirannya adalah..."Suntik mati!" Jawab James tanpa menoleh. Garis wajahnya begitu tegas dan kejam, membuat Baron semakin trauma. "Kumohon, jangan suntik mati" rengek Baron memelas, "aku akan lakukan apapun tapi jangan suntik mati aku" "Kau rupanya takut mati juga? Apa kau takut tidak dapat kesempatan mencoba obat barumu?" "Apa?""Obat baru yang kau beli dari seorang dokter kandungan" "Darimana kau tau itu?"James menghentikan langkah dan menatap tajam Baron, "tentu saja aku tau semua perbuatan mu, bahkan semua daftar psk juga gigolo yang kau sewa!" Baron bungkam, dia tidak dapat mengelak apapun lagi. Sudah pasti James bisa mendapatkan informasi apapun dari manapun. Selama ini, Baron merasa bahwa dia adalah seorang mafia yang disegani di bawah ko
Hari -hari James menjadi lebih sulit setelah dia pulang ke Boston. Terus mengecek email dan meminta semua orang untuk melapor setiap satu jam sekali. Gedeon yang paling aktif. James sempat tersedak saat sedang meneguk tehnya. Cara Gedeon cukup cerdik. Dia menggunakan media sosial untuk mengunggah setiap aktifitasnya di Farm Girl sebagai pegawai baru. Alice menyadarinya tentu saja, tapi dia terus tersenyum saat diajak ber selfie oleh Gedeon. Terkadang Alice menunjukkan sarapannya, atau melambai saat dia sedang berjalan melewati Farm Girl di petang harinya. Itu mengobati rindu James meski hanya sedikit. Sebagian besar pekerjaannya sudah di alihkan pada semua tangan kanan dan sekretasinya, namun kehadirannya di kantor sangat dibutuhkan. Pengaruh James yang cukup besar tidak hanya untuk perusahaannya saja, namun beberapa saham yang dimilikinya di beberapa negara bagian lainnya. Seperti satu hari itu, James berangkat menggunakan
"Dia pergi kekawasan Notting Hill kak," Scott melaporkan situasi terkini Aldrick Beufort pada James yang sedang berjaga-jaga di dekat sebuah gedung. James terus merasa gelisah sejak kepergian Alice bersama Thomas. Dia melihat bagaimana pandainya Thomas mengatur emosi, mimik wajah juga ucapannya. Orang seperti itu sangat berbahaya jika kita tidak bertindak hati-hati. Jadi, alih-alih membiarkan Alice melakukan petualangan nya sendiri, James malah mengatur rencana untuk kekasihnya. "Cari tau apa yang dia lakukan disana, dik," titah James tegas, dia tidak mau membuang kesempatan apapun untuk Alice. "Baik," Scott mematikan sambungan .James lalu pindah ke sebuah kafe diseberang gedung itu. Mengawasi setiap gerak-gerik mencurigakan. Mendapati Alice keluar bersama Thomas dan beberapa gadis yang tampak akrab dengannya. "Apa dia mendapat teman baru?" pikir James menaikkan satu alisnya. Dia sangat tau bagaimana Alice. Dia me
"ehemmmm" Aldrick langsung mengalihkan pandangan pada gadis mungil dibelakangnya. Matanya sinis juga mencela. Tapi bibirnya terkatup rapat. Alice bersikap santai, dia tersenyum lebar lalu duduk disebuah kursi dekat jendela. Angin menyibakkan rambutnya yang tergerai panjang. Ingin sekali Aldrick merapikan rambut itu. "Eh kok sudah bisa senyum? Sudah sembuh?" Celetuk Aldrick membuat Alice nyengir."Belum, tapi karena musiknya sudah mati, jadi gigiku tidak terlalu berdenyut seperti tadi," "Oh maafkan keegoisanku madam," Aldrick meminta maaf sambil membungkuk dengan sikap hormat. "Hahahah! Aku merasa jadi lebih tua," "Oh maaf, nona. Aku lupa kau belum menikah atau apakah sudah?" sindiran penuh rasa penasaran. "Tentu saja belum," Alice tersenyum manis sekali, sampai rasanya Aldrick akan membutuhkan suntik insulin. "Baiklah, aku akan mengambilkan minum untukmu" diberikannya obat pereda nyeri itu,
Semua hal di dalam dunia menjadi indah jika kita mensyukuri apa yang sudah dimiliki. Namun Aldrick hanya memiliki sebagian sebagian besar yang diinginkan kebanyakan orang. Uang bukan sesuatu yang benar-benar menggiurkan jika kau memiliki seisi Bank. Tapi Aldrick bersyukur dia memiliki Nut. Meskipun sebelum ini Aldrick tidak pernah bertanya siapa ibunya, tapi dia juga tidak menampik akan rasa penasaran terhadap sosok ibunya. Meski begitu, selera Aldrick tentang perempuan juga tidak main-main. Mungkin karena itu dipengaruhi oleh pengasuh nya sejak bayi, yaitu Bibi Sally. "Kau tau! tidak ada seorang ibu yang ingin melihat anaknya menderita. Semua ibu itu memiliki cinta yang paling besar untuk anak-anak mereka. Anak adalah hidupnya, dan dia rela menukar hidupnya untuk kebahagiaan anaknya," Dulu, Aldrick tidak mengerti ucapan yang selalu di ulang-ulang oleh Bibi Sally. Namun belakangan, Aldrick sudah mengetahui maknanya. Hingga ia memutuskan untuk
Nut terheran-heran. Sejak tadi Aldrick terus memandang ke jendela dan tersenyum seperti orang gila. Bahkan dia tidak memberi tahu Nut, siapa yang dia kunjungi di Brick Lane tadi. Namun Nut tidak ingin mengganggu apapun yang membuat tuannya tampak bahagia. Dia bersimpati pada gadis yang membuat Aldrick tampak berbeda. Binar matanya yang kelam menunjukkan cahaya meski sedikit. Mobil berhenti didepan rumah yang berdempetan rapi. Setiap rumah di cat dengan warna-warna cerah , menambah keindahan kawasan di Notting Hill itu.Aldrick membeli rumah di Chepstow Villas ini sejak tahun lalu, saat perjumpaannya dengan Alice. Dia memiliki harapan yang cerah begitu mengunjungi kawasan yang selalu ramai wisatawan itu. Rumah dengan warna cat biru pastel. Disebelah rumah berwarna pink. Dia mengira rumah itu kosong dan akan manis sekali jika yang menempatinya itu seorang gadis. Selain lingkungannya yang bagus, Chepstow dekat dengan Westbourne Grove, y
" Menurutmu, apa yang membuat Thomas datang kemari?" tanya Aldrick pada Nut"Aku fikir, kita harus membiarkannya masuk untuk dapat tahu tujuannya tuan," Nut menyarankan."Benar juga, tapi bukankah sangat beresiko untuk kita?" Aldrick merasa cemas, jari-jarinya tak berhenti mengetuk-ngetuk sofa Nut mengangguk setuju, "tapi anda sudah punya bukti-bukti siapa korban sesungguhnya tuan. Anda bisa saja mati jika aku tidak ada disana saat itu," Aldrick mau tak mau harus mengambil resiko jika ingin namanya kembali bersih. Meskipun dia sendiri tidak keberatan sama sekali jika namanya tercoreng. Itu hanya masalah seorang gadis, bajingan manapun pernah mengalami hal yang lebih parah. Mengingat kembali bagaimana pertemuannya dengan Bella saat kunjungannya ke amerika, Aldrick menemukan Bella belia yang manis dan lugu. Saat itu, Bella masih menjadi salah seorang mahasiswi di Washington University, Seattle. Dia memang memiliki perawakan yang nyaris sempurna. Bella memiliki potensi yang bagus se
"eehhh tuan?" Nut melirik Aldrick yang terlihat gugup. Tangannya menggenggam tangan Nut sangat erat. "Ada apa Nut?" tanya Aldrick kesal, "Apakah tuan gugup?" Nut masih memandangi tangan bosnya itu. Aldrick menyadari posisi itu dan langsung melepasnya. Seraya merapikan jasnya yang sudah licin, Aldrick berjalan menuruni tangga dengan sikap pongah seperti biasa. Nut mendengar Clint sedang bergosip mengenai sikap bos mereka akhir-akhir ini. Dia hanya dapat melempar pandangan mematikan pada mereka. "Bagus sekali Clint, kau bisa mengurusi pacarmu selama bos sedang sibuk hari ini," Nut berkata dengan sinis. Membuat senyum konyol Clint menghilang dari wajahnya yang bulat. Nut merasa puas dapat membungkam mulut Clint yang mirip perempuan. Bagaimana pun, Nut sangat menghormati Aldrick dan akan membelanya mati -matian. "Selamat datang Tuan Beufort!" Seru salah seorang pria berjas abu-abu dengan dasi hitam putih, perutnya tampak memberontak dalam Jas yang kesempitan itu. Al
"tuan, pesawat sudah siap" ujar seorang pria bertubuh tinggi berkulit hitam. Dia memasang wajah datar seperti biasa. "Oke, Nut?" Aldrick melirik ajudannya yang berambut ungu. "Segera tuan," jawab Nut langsung bergerak mundur. Mereka masuk kedalam pesawat jet pribadi milik Aldrick yang berinterior mewah dengan segala fasilitasnya. Dua wanita muda jangkung, mengenakan dress seksi langsung berdiri begitu melihat kedatangan Aldrick. Mereka menyambutnya dengan senyuman merekah, dihiasi bibir ungu tua , yang satunya merah cerah. Selera fashion mereka juga tampak aneh. Aldrick hanya melenggang duduk di sofa empuk, mengabaikan dua wanita aneh yang sedari tadi minta perhatiannya. "Aku heran, apa tidak ada wanita lain dengan selera yang lebih berkelas?" gerutunya dalam hati. Tapi Aldrick tidak suka mengoceh. Dia yakin, para pegawainya sudah berusaha melakukan yang terbaik. Lagi pula, dua wanita itu tidaklah jelek. Dengan perawakan montok depan belakang, kulit putih mulus, rambut tergerai