Dengan gerakan yang kasar, pria yang di panggil bapak oleh anak-anaknya itu mendorong tubuh puteri sulungnya hingga terjatuh. Mbok Giyem dan Yuvati tersentak kaget. Sementara Malini yang masih lemah berusaha untuk membela anaknya.
Terhuyung-huyung ia menuju dapur, mengambil sapu dan memukuli Prabawa dengan membabi buta."Pergi! Pergi kamu, Mas! Jangan pernah pulang kembali! Anak-anak ndak butuh kamu!"Kanaya terisak, pun demikian dengan Suma. Walau rindu akan kehadiran bapaknya mereka tak ingin memelas minta dipeluk. Mungkin mereka paham dan sudah terlanjur benci, walau Malini tidak pernah mengajarkan untuk itu.Kanaya, Suma dan Malini berpelukan sementara Prabawa yang dipukuli tak tinggal diam. Ia masuk ke kamar. Membuka lemari dengan kasar dan mencoba mengobrak-abrik isi lemari. Mungkin mencari sesuatu yang masih berharga di dalam kamar dingin itu.Adegan tak menyenangkan itu bagai tontonan menyedihkan di maya Yuvati, Mbok Giyem dan Hartoyo. Namun, ketiganya tak bisa berbuat apa-apa. Walau sesungguhnya mereka sangat ingin."Sudah Mas! Sudah! Ndak ada apa-apa lagi di sana! Kamu lupa? Semua sudah kamu jual!""Diam kau Malini! Aku tahu pasti ada sesuatu di sini. Ingatanku belum buruk!"Tak puas mengobrak abrik kamar, Prabawa menuju dapur. Membuka lemari makan sederhana di sudut ruangan lalu Melempar piring karena tak juga menemukan sesuatu yang ia inginkan.Suara barang-barang yang pecah, tangisan Kanaya dan Suma, serta kalimat-kalimat peleraian dari Hartoyo, Mbok Giyem dan Yuvati terdengar hingga ke depan.Suhita, ibu dari Prabawa yang baru saja pulang dari rumah saudaranya merasa penasaran. Apa yang sebenarnya terjadi di rumah itu?Belum sempat masuk ke rumah anak sulungnya, wanita tua yang amat suka berdandan dan dipenuhi perhiasan itu langsung menuju rumah Prabawa.Melihat ibu mertua yang seperti akan ke medan tempur, Walimah tak tinggal diam. Bukan akan menjadi air hujan yang menyejukkan. Ia datang sebagai angin dan bara yang membuat perang akan semakin berkobar.Bergegas ia mensejajarkan langkahnya dengan Suhita. Senyumnya mengembang laksana akan mendapatkan harta warisan dalam jumlah yang sangat besar.Beberapa menit berjalan. Suhita dan Walimah tiba di sebuah rumah berukuran enam kali tiga puluh meter. Pintu terbuka lebar membuat semuanya terdengar semakin jelas.Pemandangan yang ada di hadapan Suhita bukan membuat jiwa welas asihnya muncul tiba-tiba. Ia malah memukuli bahu Malini dan mencaci maki."Isteri tidak tahu diri! Suami pulang bukannya di sambut malah marah-marah dan meraung tak jelas. Dasar wanita ga bisa ngurus suami dengan baik!" hardik Suhita tanpa henti.Yuvati dan Mbok Giyem menggelengkan kepala pelan. Memang tak seharusnya mereka melihat kejadian yang seharusnya tak mereka lihat. Mau pulang tapi bagaimana? Tak ada jeda dan kesempatan untuk Yuvati berbicara dan berpamitan."Tapi, Bu ... Mas Prabawa ituuu ...." Malini tidak menyelesaikan kalimatnya. Ia menangis ketika sebuah tamparan mendarat keras di wajahnya."Sund*l! Kalau becus mengurus suami. Ga mungkin dia mau cari yang lain di luar! Letek! Ga bisa ngurus diri. Kamu ngapain aja di rumah,hah?"Suhita berang menjambak rambut Malini dengan sekuat tenaga. Sementara Walimah menyemangati bukan melerai."Maaf, Bu! Bu Suhita. Berhentilah! Tolong hentikan! Apa yang ibu lihat tak seperti yang ibu bayangkan!" pinta Yuvati mencoba untuk melerai. Ia menarik bahu ibu Prabawa itu pelan. Sementara Mbok Giyem menjauhkan Malini dari cakaran dan jambakan."Kamu siapa? Kenapa kamu ikut-ikutan? Bukan urusan kamu! Menantu saya ini memang ga bisa dididik. Memang begitu kalau gadis miskin dari desa yang tahunya datang menikahi keluarga kaya. Hanya perlu uang dan hartanya saja. Mengurusnya tidak mau!""Saya ... Saya memang orang luar, Bu Suhita. Tapi ....""Pergi! Ini bukan urusan kamu!""Sudahlah, Ndoro puteri. Kita pulang saja," bisik Mbok Giyem."Baik. Saya akan pergi Bu Suhita. Asal ibu berjanji tidak akan memukuli Malini lagi! Kalau ibu tetap meneruskan. Saya berjanji akan mengadukan hal ini kepada perangkat desa!" gertak Yuvati."Ciiih ... Perangkat desa? Kamu pikir kamu siapa?"Walimah berbisik kepada Suhati. Kalimat yang disampaikan mungkin bisa meredakan sedikit amarah. Mata tajam dengan celak berwarna gelap tak lagi membeliak seperti tadi.Malini masih menangis memeluk kedua anaknya. Saat Yuvati berpamitan, pulang. Ia sempat berkata dengan tegas kepada Prabawa agar mengembalikan uang yang dirampasnya tadi."Ingat Prabawa! Kau harus mengembalikan uang tadi. Uang hasil jualan istrimu! Bukan pria yang terhormat dan gagah, jika merampas dari tangan perempuan yang tak berdaya!"Yuvati menatap Prabawa dengan tatapan mata yang tajam. Lalu memandangi Suma yang tersedu-sedu. Sungguh ia merasa tak tega."Malini, saya pulang dulu. Jika ada sesuatu. Jangan sungkan untuk datang ke rumah dan mengadukan segala sesuatunya kepada saya!""Inggih, Bu Yuvati ...." jawab Malini pelan."Jangan main tangan lagi, Prabawa. Bu Suhita. Perkataan saya tadi tidak main-main. Suami saya banyak berkenalan dengan orang-orang penting!"Mbok Giyem menarik lengan Yuvati perlahan. Padahal majikannya itu belum lega menyampaikan segala unek-uneknya. Sampai di dalam mobil berulang kali wanita itu mendengkus kesal."Hmmm ... Isteri Mas Chandrakanta ada empat. Tapi tak satupun dari kami pernah mendapatkan perlakuan yang kasar. Malang sekali nasib Malini ...." ucapnya gamang.Sepulangnya Yuvati, Mbok Giyem dan Hartoyo dari rumah itu tidak membuat Suhati dan Prabawa menghentikan kelakuan buruknya. Mereka masih saja menunjuk-nunjuk wajah Malini. Kali ini hanya Kanaya dan Suma yang menjadi pelindungnya.Tubuhnya yang lemah membuatnya tak bisa melawan banyak. Ditambah lagi karena banyak pikiran dan kurang makan. Malini lesu. Tak bisa berpikir dengan baik.Kedua anaknya menangis melihat Malini yang diam membisu. Matanya kosong menatap ke arah pintu depan.Melihat musuhnya tak berdaya, Suhita amat sangat puas. Ia mengajak Prabawa pulang ke rumah dan berjani akan mengobati luka di wajah dan ujung bibirnya."Aduh ... Aduh ... Anak kesayangan ibu jadi begini. Kita pulang saja, Nak. Jangan ke sini lagi. Memang benarlah wanita ini tidak bisa mengurus suaminya dengan baik!"Walimah tersenyum licik. Ia merasa senang atas penderitaan yang di hadapi Malini dan kedua anaknya. Tak ada rasa belas kasihan sedikitpun. Mungkin hatinya sudah berubah warna. Atau mungkin sudah tergadai oleh sesuatu yang dianggapnya lebih berharga."Bu ... Ibu ...." Kanaya memanggil Malini yang masih menangis tanpa suara. Air matanya mengalir deras."Bu ...." peluk Suma dengan erat. Anak laki-laki baik itu menciumi wajah ibunya yang penuh dengan air mata."Ibu ... Bapak jahat sama ibu, ya ...." bisik Suma lagi. Malini belum menggubris.Kanaya mengguncang bahu Malini pelan. Memeluk dari belakang dan mencoba memberi penguatan."Bu. Ibu wanita yang hebat. Kanaya bangga menjadi anak ibu. Bagaimana kalau setelah ini kita jalan-jalan ke pasar? Atau ibu mau pergi ke mana? Biar Kanaya dan Suma antarkan!"Malini masih termenung. Mungkin memikirkan mati hari ini akan lebih baik. Tak akan lagi ada kesusahan dan kepahitan hati yang akan mendera jiwa dan raganya."Su-sungai .... Ibu mau ke sungai ...." lirih bibir pecah dan pucat itu berucap.Kanaya dan Suma saling pandang. Lalu mengangguk. "Iya kita jalan-jalan ke sungai ya, Bu! Tapi ibu sarapan dulu.Tangan kecil milik Kanaya lincah membuatkan makanan untuk ibunya. Ia lupa bahwa tadi ketika memasak beras menjadi tertunda karena kedatangan Yuvati. Namun, gadis itu tersenyum puas. Ketika berhasil menyelamatkan beberapa lembar uang yang dirampas bapaknya lalu terjatuh di dekat kakinya."Aku bisa belanja sedikit hari ini. Untung tidak semua uang bisa diambil bapak. Kasihan ibu ...." gumamnya pelan.Kanaya membuat telur dadar. Ia melihat jam besar tua di ruang tengah. Sudah jam tujuh pagi. Waktunya untuk bersekolah. Tapi ibu dan adiknya lebih membutuhkan kehadirannya saat ini."Bu. Maaf. Tadi Kanaya belum selesai memasak nasi. Jadi ibu dan Suma makan telur dadar dulu, ya."Malini mengangguk. Air matanya belum berhenti. Benaknya membayangkan dirinya ketika kecil berada dalam pelukan orang tuanya. Ia merindukan hal itu.Meninggalkan satu suapan, Kanaya berlari mendekati termos air panas berkilat. Menuang air dalam mangkuk lalu memberi sedikit garam."Biar Suma saja, Mbak ...."Anak laki-laki itu berlari ke kamar. Mengambil kausnya yang sudah kekecilan lalu merendamnya sebentar dalam mangkuk berisi air hangat dan garam lagi.Malini mendesis sebentar merasakan hangat di ujung bibirnya yang tengah di obati Suma dengan obat ala kadarnya."Bagaimana jika aku mati saja? Tapi seperti apa kehidupan Suma dan Kanaya, nanti?" gumam Malini sangat pelan.Matanya nanar. Lalu kembali menangis lagi.***Yuvati turun dari mobil. Mbok Giyem mengiringi pelan dari belakang. Hartoyo membawa keranjang bambu anyam berisi sayuran hijau yang diikat. Sayuran hijau yang dibeli Yuvati dari Malini.Namun, ia sedikit terkejut ketika masuk ke dalam rumah, mendapati Soraya—isteri keempat Chandrakanta duduk malas di atas kursi kesayangannya."Tumben, Dik Soraya, main ke sini?" sapa Yuvati ramah."Mas Chandrakanta mana, Mbak?" "Belum pulang. Tadi malam pergi memeriksa pasar. Kenapa, Dik?""Mau minta uang!" jawab Soraya manja.Yuvati menghela nafas. Namun, tak ingin mengomentari banyak. Takutnya nanti salah bicara. Toh jika dipaksakan untuk berkomentar, nanti malahan hubungan keduanya menjadi renggang."Tunggu saja ya, Dik. Mbak mau ke kamar dulu! Kamu sudah makan apa belum?""Ga usah basa-basi deh, Mbak. Aku tahu, Mbak ga suka aku datang ke sini. Tapi ini rumah suamiku juga. Mbak tahu itu kan?" Soraya berkata dengan sangat pongahnya. Soraya berdiri. Memeriksa beberapa perabot mahal yang terbuat
Bujukan Soraya berhasil membuat Chandrakanta untuk ikut ke kediamannya. Walaupun sebenarnya Chandrakanta lebih ingin pergi ke tambak untuk melihat beberapa nelayan yang akan panen ikan. Tapi sifat Soraya yang keras kepala, manja dan tak mau mendengarkan orang lain, membuat Chandrakanta mengalah."Iya ... Mas minta maaf karena semalam tidak pulang ke rumah. Jangan cemberut seperti itu ...." rayu Chandrakanta."Kamu tadi mau uang jajan?" tanya Chandrakanta mengalihkan ketidaknyamanan menjadi hal yang menarik untuk diperbincangkan."Huu-umph ...." angguk Soraya pelan."Mau belanja apa, sih? Mas rasa semua gaun, tas, sepatu kamu beli setiap bulan. Apa tidak bosan?"Soraya menggelengkan kepalanya. Rambut pirangnya terkibas pelan.Sopir melajukan mobil tak begitu kencang. Mungkin karena jalanan yang lengang mereka tiba di kediaman Soraya hanya dalam waktu dua puluh menit saja.Pagar besi tinggi berwarna putih dibuka seorang pria paruh baya berkulit legam, ketika sopir memberi tanda. Keduan
Chandrakanta rasanya ingin marah. Rasa panasnya terdesak hingga ke ubun-ubun. Rahangnya mengeras. Tangannya mengepal kencang. Namun, walau begitu tak bijak jika ia harus marah ke Beatrix. Gadis itu tak salah apa-apa pikirnya."Ehem ...." Chandrakanta bergumam. Menetralkan suasana yang kaku dan sedikit tegang."Apa Tuan marah?" tanya Beatrix pelan."Marah? Kepada siapa?" Chandrakanta balik bertanya."Marah kepada Nyonya Soraya dan saya?""Kepada Nyonya Soraya tentu saya marah. Tapi kepada kamu, tidak.""Biar saya antar ke pasar," sambung Chandrakanta lagi."Baik, Tuan. Terima kasih," ucap Beatrix. Menunduk sambil meremas tangannya. Ada perasaan tak enak mendera dada.Di sepanjang perjalanan, Chandrakanta dan Beatrix diam saja. Hanya helaan nafas berat yang menemani deru angin yang berembus masuk ke dalam mobil."Nah, sudah sampai akhirnya," ucap Chandrakanta. Beatrix turun dengan ragu. Seperti masih ada banyak hal yang ingin ia sampaikan pada suami majikannya itu."Tuaan ...." "Iya.
***Langkah kaki Malini sedikit gemetar melihat sungai jernih yang terbentang di bawah jembatan. Hatinya gamang. Lalu ditatapnya mata anak-anaknya yang sangat jernih. Sejernih sungai itu hingga ia mampu melihat dengan jelas ke kedalamannya. Tapi tidak dengan mata anak-anaknya. Malini tak mampu melihatnya dengan jelas."Bu ... Ibu sebenarnya mau ke mana?" tanya Kanaya yang menyadari bahwa ibunya sudah bolak-balik mengitari jembatan.Malini tersenyum tanpa berkata banyak. Ia mengulurkan tangan. Mencoba untuk menggendong Suma yang sudah mulai lelah. "Suma capek sayang?""Ndak Bu. Yang penting ibu senang di sini ...."Malini tersenyum. Ia sangat sayang kepada anak-anaknya. Tapi sesuatu dalam hatinya meminta untuk ia segera mengakhiri hidup."Melompat ke sungai Malini! Melompatlah ... Maka hidupmu tak akan lagi menderita. Kau akan bahagia. Hatimu tak akan sakit lagi. Kau tak harus melihat wajah memuakkan suamimu. Kau tak perlu lagi untuk melihat wajah mertua yang tidak pernah menyayangimu
Dengan panik pria bertopi hitam membuat panggilan pada telepon genggam hitam putihnya. Ia merasa sedikit kesal karena seseorang di seberang sana tak ada yang menjawab teleponnya.Si pria kembali pada Malini yang masih terbaring. Wajahnya masih pucat. Ia mencoba sekali lagi dengan doa yang penuh harap. Ditekannya dada Malini sekuat tenaga. Berbisik di telinga cantiknya bahwa ia harus kuat demi anak-anaknya."Malini ... Ayo! Buka matamu! Masih ada anak-anakmu! Kasihan mereka! Kau harus tetap hidup! Di mana dirimu yang kuat, keras kepala dan tak takut dengan semua keadaan yang mendera. Bangun!"Pria bertopi hitam mendekatkan wajahnya pada hidung Malini. Mencoba memeriksa dengan cermat dan seksama. Tak ada perubahan. Wajah itu masih pucat. Bibirnya tak berwarna sama sekali. Tidak menarik.Malini yang terbujur kaku terlihat oleh mata-mata awam. Padahal dalam dunia yang lain Malini tengah bergembira. Ia berlarian di sebuah tempat tanpa ada perasaan sedih dan luka hatinya. Malini tertawa, be
Suara burung-burung dan hewan hutan bersahut-sahutan ketika langkah demi langkah menginjak ranting lembab karena hujan masih turun dengan derasnya.Seorang pria berjalan membawa dua buah senapan. Sementara seikat ikan kering tergantung mantap di antara lehernya. Wajahnya tegang. Tidak nampak kebaikan, keramahan, kepedulian seperti beberapa jam lalu.Burung-burung senja menyambut dengan suka cita ketika ia bersiul pelan. Walau gelap si pria tak takut untuk masuk ke bagian hutan yang semakin dalam.Kembali berjalan dengan langkah yang mantap. Boots hitamnya menapaki jalan setapak kecil di pinggiran jurang terjal. Ia lalu berpegangan dengan seutas tali untuk tiba di sebuah lubang lembab yang berukuran enam kali puluhan meter.Hening dan sepi. Hanya suara detak jantung dua orang pria dewasa saja yang menggema di dalamnya. Juga rintihan kesakitan dari seorang pria yang terikat kaki, tangan dan matanya."Lepaskan aku!" teriaknya ketika mengetahui pria bertopi hitam melepaskan ikatan di mata
Soraya menelan ludah ketika tubuhnya merasakan getaran tempat tidur yang bergerak. Bagai sedang bermain cari sembunyi. Jantung wanita berambut pirang itu berdetak tak beraturan.Telinganya mendengar helaan nafas berat. Membuat hatinya senang. Ia menduga kalau Chandrakanta juga sangat menginginkan dirinya. Padahal ...."Soraya apa kau di sana?" suara serak dan berat itu bagai suara burung bul-bul ditelinga Soraya.Wanita itu tak menjawab, ia menutup mulutnya agar tak mengeluarkan sepatah kata pun. Dengan begitu Chandrakanta akan semakin penasaran kepadanya. Seperti itu pikir Soraya."Soraya ... Mengapa kau diam saja?" suara itu terdengar lagi. Wanita yang telah mengenakan lingerie turun perlahan dari tempat tidur. Ia terkekeh. Bersembunyi di balik kaca riasnya."Biasanya Mas Chandrakanta tak suka diajak main cari sembunyi. Tumben sekali ...." batin Soraya."Soraya apa kau ingin bermain-main?" Suara yang kali ini membuat Soraya merasakan kemenangan yang sempurna. Menurutnya dupa yang
Enam puluh menit berlalu. Yuvati berhasil membuat Soraya berendam dalam bak kayu besarnya. Wanita dengan selendang yang senada dengan kebayanya itu, sibuk menggosok punggung madunya. Terlihat beberapa memar dan bekas cakaran di sana.Ketika Yuvati mengguyurnya dengan air hangat yang telah di rendam dan dibacakan doa-doa baik. Soraya sedikit mendesis karena menahan sakit.Dibantu Beatrix, Soraya berhasil dimandikan. Di beri pakaian, bedak dan rambut pirangnya juga disisir rapi. Namun, walau begitu, Yuvati tak berhasil mengembalikan Soraya yang seperti sedia kala.Soraya menjadi pendiam, pemurung, tak mau bicara apa-apa. Tatapan matanya kosong. Seolah jiwanya sedang tak berada dalam raganya. Makan dan minum di bantu Beatrix. Pun demikian ketika ingin berpakaian dan ke kamar mandi. Soraya menjelma dari seorang nyonya rumah yang dominan dan ambisius menjadi seonggok manusia lemah tanpa isi."Ma ... Mama ... Ini Leon, Ma ...."Leon terisak ketika mata cantik itu tak mau lagi menatapnya. Be
Bertahun-tahun setelahnya***Peluh mengucur deras. Pria berbadan tegap yang mengenakan kemeja rapi dengan parfum aroma maskulin mendadak masam wajahnya ketika petugas bandara menjelaskan kepadanya bahwa ia terlambat beberapa jam untuk tiba di bandara setelah pesawatnya transit."Jangan khawatir, Pak. Beberapa jam selanjutnya akan ada penerbangan ke kota bapak. Silakan meminta bantuan pada beberapa orang petugas yang ada di sana," ucap wanita muda itu tersenyum ramah Si pria yang mengenakan kemeja kotak-kotak berwarna merah muda itu tersenyum. Tak mengapa pikirnya terlambat beberapa jam asal ia bisa pulang ke rumahnya hari itu juga.Beberapa orang petugas mengenakan seragam yang sama dengan wanita sebelumnya nampak memberikan penjelasan yang lebih terperinci. Pemuda itu mengucap hamdalah di dalam hati.Tepat ketika jam menunjukkan pukul 11.00 siang pria muda berkemeja itu bersiap ketika announcement mengenai keberangkatan ke sebuah kota mengudara.Sementara di bandara dari kota lainny
***Subuh itu adalah subuh yang paling sibuk saat suara kokok ayam belum membangunkan seisi penjuru rumah. Beberapa orang wanita dewasa tengah bersiap di dapur. Walaupun mereka terlihat lelah, tetapi wajah bahagia terpancar jelas. Di antara satu sama lain memberikan semangat penghiburan yang sesekali diiringi guyonan. "Ada berapa banyak tumpeng yang kita buat hari ini?" tanya Malini. Wanita itu mengikat selendang di pinggangnya yang ramping. "Mungkin hampir 100, Nyonya.""Wah, luar biasa. Kalau begini kita bisa membuka catering. Betul, 'kan, Nek Bayan?" tanya Malini pada Nek Bayan yang sibuk dengan kering tempe kesukaan beberapa anak-anak Malini dan Chandrakanta.Beberapa wadah besar sudah tertata di atas amben kayu. Sunyoto dan beberapa sopir Chandrakanta yang lain dengan sigap memasukkan tumpeng-tumpeng untuk dibagikan kepada warga."Apakah bisa selesai tepat waktu, Nyonya?" tanya Gendis dan yang lain. "Tentu saja. Anak-anak setelah selesai salat Subuh mungkin akan bersiap. Saya
***Di sebuah sekolah menengah atas terbaik di kota itu, Leon sibuk dengan buku-buku tebal di tangannya. Sepertinya ia sedang menunggu Kanaya keluar dari kelasnya. Sesekali Leon melambaikan tangan saat beberapa orang temannya memanggil."Belum dijemput, ya?" tanya salah seorang murid perempuan berkepang dua.Leon mengangguk santai. Lalu, gadis berkepang dua itu berdiri di sebelah Leon. "Kamu belum pulang?" "Belum, lagi nunggu jemputan.""Oh," jawab Leon singkat. Ia tak tertarik dengan gadis cantik yang konon katanya adalah gadis populer di sekolahnya. Mungkin karena tidak berminat atau mungkin hati Leon sudah ditempati oleh seseorang yang lainnya, hanya Leon dan Tuhan saja yang tahu.Leon tersenyum senang saat gemerincing gelang kaki mulai menyapa gendang telinganya. Ia tak sabar menanti sosok itu, lalu menoleh dengan wajah yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata."Sudah selesai?" tanya Leon. Gadis berkulit sawo matang dengan rambut legam berkilau itu mengangguk. "Temanmu?" tan
***Malini terpekur di kamarnya, sementara Chandrakanta sepertinya masih menyiapkan paviliun kecil untuk Rohani dan Nek Bayan tinggal. Tepat pukul 01.00 malam, suara pintu kamar berderit. Malini pura-pura tidur. Membawa tubuhnya menghadap dinding, bahkan bernapas pun ia lakukan secara perlahan."Mas sudah menikahimu belasan tahun lebih, Sayang. Mas tahu kalau kau belum tidur. Jika ingin marah dan mengatakan sesuatu, katakan saja. Jangan menyimpannya di dalam hati. Mas rela jika kau ingin menampar atau memukul Mas," ucap Chandrakanta dengan lemah lembut.Bulir-bulir bening mulai menetes di kulit sawo matang Malini. Ia menghela napas. Sebenarnya tak ada yang ingin ia bicarakan bersama suaminya. Namun, kehadiran Nek Bayan dan Rohani yang tiba-tiba saja entah mengapa membuat hati Malini sedikit merasa kecewa."Saya ingin istirahat, Mas. Nanti saja saya bicara jika memang saya ingin bicara," ucap Malini pelan. Kini balik giliran juragan Candrakanta yang menghela napas. Ia paham betul mungk
***Nek bayan berusaha sekuat tenaga agar air matanya tak keluar. Bagaimana tidak, Camelia berusaha menyembunyikan Mentari karena pamor dan rumor mengenai Chandrankanta. Ia tak ingin putrinya merasa tersiksa karena menikahi pria yang memiliki istri yang banyak.Namun, sosok Camelia yang berada di tengah hutan perbatasan tentu saja membuat Nek Bayan bertanya-tanya. Ada apa gerangan mengapa Camelia berusaha untuk terlihat."Ada apa, Mas? Apakah Mas baik-baik saja? Jika Mas memang tak enak badan, biarkan Sunyoto yang membawa jeepnya," ucap Malini merasa khawatir akan keadaan suaminya."Ah, tidak. Hanya saja Mas terkejut," sahut Chandarakanta berusaha kembali melajukan mobilnya perlahan."Nek, apakah Nenek lihat tadi? Sepertinya Ibu tadi yang sedang melintas," ucap Rohani. Buru-buru Nek Bayan membungkam mulut Rohani. Tentu saja pernyataan itu malah membuat Chandrakanta terkejut. "Apa apa yang kau katakan tadi? Ibu? Maksudmu wanita yang melintas tadi itu ibumu?""Ah, sudahlah, Juragan. T
***"Nek Bayan, kau mau ke mana?""Pulang. Aku mencemaskan Rohani.""Kenapa?""Aah, pokoknya aku mau pulang."Wanita tua yang dipanggil Nek Bayan itu berjalan cepat. Ia tak menghiraukan cuaca yang dingin. Ia tinggal di hutan di sekitar gunung yang memang selalu mendapatkan hawa sejuk. Bahkan, cuaca yang benar-benar dingin terkadang membuat tulang terasa ngilu dan gigi bergemeletuk. "Aku yakin sekali kalau Rohani keluar dari gubuk. Entah mengapa aku benar-benar tak tenang. Apakah ia menemui ayahnya? Tidak, tidak. Aku tak bisa membayangkan bagaimana jika Juragan Chandrakanta dan Malini mengetahui bahwa Rohani adalah anak juragan. Ah, bodohnya aku. Mengapa aku tak membawanya pergi saja. Gadis muda dengan penglihatan- penglihatan itu pasti akan berusaha untuk menyelamatkan ayah dan ibu sambungnya. Padahal ...," ucap Nek Bayan tak menyelesaikan kalimatnya."Ah, aku harus meminjam salah satu kuda dari beberapa orang pengelana yang lewat," kata Nek Bayan lagi.Nek Bayan bercakap-cakap menaw
***Philips datang dengan setelan jas warna hitam. Keadaannya benar-benar sangat mengkhawatirkan. Pitaloka seolah melihat sosok hantu Philips dengan wajah pucat dan senyum menyeringai."Tidak, tidak! Philips sudah mati! Aku sudah membunuhnya," ucap Pitaloka tak sengaja.Astungkara tersenyum menyeringai."Lihatlah, betapa ajaibnya hati wanita ini. Dia benar-benar mengakui bahwa Philips sudah dibuat mati. Kau dengar itu, Philips? Aku tak habis pikir mengapa dulu kau kerap membantu wanita yang tak memiliki hati ini. Ah, sudahlah. Dari pada berlama-lama, lebih baik aku telepon polisi saja," ucap Astungkara geram.Philips menunggu di pojok ruangan sambil memandangi Pitaloka dengan tatapan mata tajam. Jika diizinkan oleh Astungkara, tentu Philips akan lebih menyukai untuk membunuh Pitaloka detik itu juga."Tidak, tidak. Jangan, jangan tangkap aku. Jangan, jangan serahkan aku. Aku mohon ... semua ini aku lakukan karena aku benar-benar ingin memilikimu." Pitaloka benar-benar ketakutan. "Memi
***"Aah .... Ahhh ... Aaah ...."Astungkara mengintip Pitaloka dari sebuah celah. Senyum seringai mewarnai wajahnya yang tegas. Bukannya marah, Astungkara malah tersenyum melihat istri keduanya itu dan apa yang dilakukannya di dalam kamar.Bukannya marah, Astungkara malah mengusap jambang tebalnya dan teringat akan sebuah hal."Hmmm ... Bagus, Pitaloka," gumamnya pelan."Uhhhhhhmmm ... Ahhh ... Ahhh."Erangan itu membawa sebuah senyum di wajah Astungkara. Ia memang sudah lama tak bercinta dengan Pitaloka. Akan tetapi, Astungkara seolah sedang menyiapkan sesuatu bagi istri keduanya. Astungkara berjalan pelan meninggalkan kamarnya. Ia ingin memberikan sebuah jeda bagi Pitaloka menuntaskan apa yang tengah dilakukan di kamar pribadinya dan Astungkara.Gayatri, ibu Astungkara sedang berada di ruang tamu megah dengan ornamen keemasan saat putranya turun. Kudapannya dilempar ke sembarang arah membuat Astungkara menghela napas."Istrimu ke mana, tidur lagi?" "Lagi ada kerjaan di kamar, Bu.
***Juragan menembakkan senapannya ke arah langit, cahaya itu berpendar sangat indah. Malini dan putrinya terkejut. Gadis kecil itu menangis dalam pelukan ibunya padahal ia baru saja akan memejamkan mata."Oh, ada apa itu?" tanya Malini menggendong putrinya yang menangis.Keduanya menuruni anak tangga kayu. Pintu ruang tamu terbuka, angin malam yang dingin dan serpihan hujan nampak masuk."Mas membuat keributan di tengah malam. Tidak tahukah kalau keponakanmu baru saja akan tertidur.""Maaf sayang tapi ada sesuatu di sana," tunjuk Juragan."Sesuatu? Maksudmu apa Mas? Serigala, beruang, atau Yeti? Dia tidak akan mengganggu selama kau menutup pintunya. Sudahlah, Mas!""Tapi aku pikir itu manusia." "Ayolah, Mas ! Manusia mana yang rela mengendap-ngendap ke villa tengah hutan, tengah malam seperti ini!""Tapi, aku benar-benar melihat jubahnya yang berwarna merah.""Sudahlah, Mas? Kita sedang berlibur. Jadi jangan bertingkah yang aneh-aneh. Lusa kita pulang ke kota dan Mas bisa kembali be