Masih ada rasa
"Aldo! Aldo!" teriak Reynold memanggil supir kepercayaannya tersebut.
"Iya tuan muda," jawab Aldo sambil berlari tergopoh gopoh menghampiri tuan mudanya tersebut.
"Masuk ke ruangan saya," ucap Reynold sambil berjalan menuju ke arah ruang kerjanya.
Di dalam ruang kerja Reynold yang nyaman dengan nuansa putih dan abu abu, Reynold duduk di kursi kerja empuk dengan busa tebal, dia duduk sambil memainkan kursi yang bisa berputar dan bergerak lincah, dia menggerakkan kursinya ke kiri dan kekanan, dia terlihat melihat ke arah Aldo yang sudah berdiri di hadapannya.
"Aldo, di mana kau antar Monalisa pulang?" tanya Reynold.
"Maaf tuan muda, no
Salah mengenali"Bibi Rose, hari ini aku tidak bisa bekerja sampai sore, aku akan ke rumah paman Pete untuk menjenguknya," ucap Devanka pada bibi Rose. "Baiklah Devanka, kau harus mengurusnya, dia sendirian," ucap bibi Rose yang sudah sangat mengenal sekretaris Pete. Sejarahnya, dulu sekretaris Pete pernah menjalin hubungan dekat dengan keponakan bibi Rose, mereka hampir menikah, namun Tuhan berkata lain, calon istri sekretaris Pete yang bernama Vivi mengalami kecelakaan dan akhirnya meninggal dunia. Sekretaris Pete sangat terpukul dengan kejadian itu dan itu juga yang membuatnya enggan untuk jatuh cinta lagi atau bahkan untuk menikah, padahal usianya tidak muda lagi. "Bawakan ini untuk sekretaris Pete, dia
SahabatJam menunjukkan pukul 14.30.Devanka berjalan santai menuju ke arah rumahnya. Jaraknya tidak terlalu jauh dari kios bunga bibi Rose dan juga kediaman sekretaris Pete. Di depan rumah Devanka sudah ada pak Lumawi, ayah Devanka. Terlihat berdiri menunggu anak kesayangannya pulang. Dari kejauhan pak Lumawi melambaikan tangan ketika melihat anaknya datang, dia menyambut kedatangan anak gadisnya dengan gembira."Ayah, kenapa di luar? Ayah bisa menunggu Devanka di dalam rumah saja," ucap Devanka seraya meraih tangan ayahnya, menciumnya lembut lalu menjatuhkan pelukan hangat."Tidak apa ap
Gadis istimewaReynold terlihat berdiri di kaca besar yang ada di dalam kantornya, beberapa kali terlihat mengamati wajahnya, membenahi alisnya yang tebal itu, menepuk nepuk pipinya, lalu membenahi rambutnya yang sebenarnya sudah rapi itu. "Tok, tok, tok," terdengar suara pintu diketuk."Masuk!" teriak Reynold tanpa merubah posisi berdirinya. Muncul seorang office boy dari balik pintu, membawa secangkir kopi yang dibawanya menggunakan nampan kayu berbentuk bulat."Tuan muda sedang apa, sampai begitu berkacanya," ucap office boy seraya meletakkan cangkir itu di meja."Paman Ismun, apa aku tampan?" tanya Reynold pada office boy yang sudah bekerja di kantornya sejak kakek
Godaan MonalisaJam menunjukkan pukul 16.30.Reynold masih terlihat sibuk di kantornya, ketidak hadiran sekretaris Pete begitu terasa, Reynold harus mengerjakan semua pekerjaannya sendiri, hanya dibantu oleh Maria, namun tetap terasa berbeda, tidak senyaman jika dia mengerjakannya bersama sekretaris Pete. "Maria, kau tau tempat tinggal sekretaris Pete?" Tanya Reynold kepada Maria yang juga terlihat sibuk, dia membaca beberapa berkas di kursi sofa yang ada di ruangan tuan muda Reynold. "Tau tuan muda, apa mau saya kirim ke handphone tuan muda?" ucap Maria."Iya, kirimkan saja alamat beserta titik lokasinya ke handphone Aldo," pinta Reynold."Baik tuan muda, akan saya kirim," ucap Maria, setelahnya dia te
Tidak hari iniMobil mewah Reynold berhenti di depan toko kue langganan keluarganya, dia terlihat bersiap untuk turun.Pintu mobil dibuka oleh Aldo, belum sempat Reynold menurunkan kaki, gerakannya terhenti, ada beberapa genangan air, sepertinya tadi hujan dan itu membuat halaman toko tersebut sedikit becek dan kotor. "Aldo, kau saja yang masuk ke dalam, beli beberapa cake terenak di toko itu untuk sekretaris Pete, cari cake lembut dengan topping cream," ucap Reynold memberi perintah kepada Aldo."Baik tuan muda," mendengar perintah tersebut, segera Aldo keluar dari mobil dan menuju ke arah toko kue yang cukup terkenal itu. Toko kue langganan kelompok kelas atas.Toko kue Sultan, itu nama tok
Begitu nikmatnyaReynold sudah sampai di kediamannya, jam menunjukkan pukul 21.00. Sekotak croissant masih berada di atas meja ruang tengah, jumlahnya masih sama, belum disentuh sedikitpun. Reynold harus menyeleseikan ritualnya terlebih dulu, mandi yang biasanya membutuhkan waktu hampir tiga puluh menit. Dengan teliti dia membersihkan setiap jengkal tubuhnya, dia tidak menyukai bagian tubuhnya kotor atau bahkan berbau kurang sedap, lalu setelahnya mengoles cream khusus di sekujur tubuhnya. Dia adalah pria yang begitu merawat diri, tidak pernah sedikitpun lalai terhadap penampilannya, dia orang yang sangat berhati hati dalam menjaga setiap bagian tubuhnya. Reynold terlihat berjalan ke
Rasa penasaran"Sekretaris Pete, bisakah aku membeli croissant seperti yang kau berikan kepadaku kemarin?" tanya Reynold ketika sudah berada di dalam mobil yang disupiri oleh Aldo. Seperti biasa ada tiga orang di dalam mobil itu, supir Aldo, sekretaris Pete dan tuan muda Reynold."Maaf tuan muda, croissant itu dibuat oleh adik ipar saya, tidak di jual, apakah tuan muda menyukainya?" tanya sekretaris Pete. Reynold terlihat menghela nafas panjang. "Kau tanya kepadaku? Seharusnya kau menanyakan itu kepada kakek," ucap Reynold yang dibalas dengan tawa kecil namun berusaha untuk ditutupi oleh Aldo dan sekretaris Pete. Mobil melaju dengan lamban, membelah jalanan ibu kota yang penuh sesak. Tidak ada habis habisnya semua mobil dan motor ini sa
Trend Baru Reynold sudah berada di gedung tempat dilaksanakannya meeteng penting, bersama dengan beberapa kolega pentingnya yang merupakan pengusaha sukses di Jakarta. Jam menunjukkan sisa waktu sekitar lima menit sebelum meeting penting itu di mulai. Di depan gedung Reynold terlihat hanya berdiam diri, dia mengamati kemeja biru mudanya yang tidak lagi rapi, ada beberapa lipatan dan bekas keringat. Baunyapun sudah mulai tidak karuan, bercampur baur, atara bau asap kenalpot, debu jalanan dan entah apa lagi yang mulai tercium abstrak. Dia tidak menyangka aksi nekatnya berjalan dengan niat mengejar waktu akan berakhir dengan berubahnya penampilan yang tadinya begitu rapi dan wangi. Reynold menghe nafas panjang, berusaha melonggarkan kerah bajunya, berhara
Semuanya MembaikSatu tahun berlalu, sepertinya semuanya membaik. Aron sudah sehat, menjadi anak yang ceria, namun dia tetap harus mendapatkan terapy untuk tumbuh kembangnya. Benturan di kepala ketika kecelakaan yang dia alamai setahun yang lalu menyisakan masalah yang harus diseleseikan, tubuhnya harus banyak dilatih supaya bisa tumbuh dengan normal, namun semuanya bisa diatasi, dia tumbuh dengan baik. Aron memiliki sumber daya, dia menjadi putra tertua Reynold Hamzah.Tuan Domani mendapatkan hukumannya, sesuai dengan kejahatan yang dia lakukan. Dia akan lama berada di penjara, lebih dari sepuluh tahun. Dia dan istrinya memutuskan untuk berhenti memperjuangkan Aron, menyerahkan Aron pada tangan yang tepat. "Ayah pulang," ucap Reynold ketika masuk ke dalam kamar anak anaknya. Di sana terlihat Aron sedang bermain dengan perawat Susi, sedangkan Arion, putra keduanya yang berusia lima bulan berada di gendongan Devanka. Mendengar suaminya datang, Devanka memberi isyarat kepada Reynold un
Tabir Rencana PembunuhanTuan Domani masuk ke dalam kamarnya, dia mulai duduk di tempat tidur. Dia terlihat menghela nafas panjang, lalu mulai menangis sejadi jadinya, dia tidak menyangka apa yang direncanakannya justru menyebabkan penyesalan yang mendalam. Tuan Domani mengingat waktu ketika dia bertemu dengan dua orang kepercayaannya.Di ruang kunjungan penjara, terlihat tuan Domani sedang menemui pengunjung yang merupakan dua orang anak buahnya, anak buah kepercayaannya."Semua sudah siap tuan, kami akan melaksanakan semua perintah tuan," ucap salah seorang. "Baiklah, lakukan dengan baik, saya tidak ingin ada kesalahan sekecil apapun," ucap tuan Domani. "Baik tuan, kami akan mulai mengintainya, dan ketika ada kesempatan, kami akan segera melaksanakan rencana itu," ucap orang yang lain. Dua orang dengan pakaian serba hitam itu terlihat begitu serius dan menakutkan. Sepertinya ada rencana jahat yang serang mereka rencanakan. Satu jam sebelumnya, tuan Domani sudah bertemu dengan asi
Tersandung RasaDevanka dan Reynold sudah berada di rumah sakit tempat pembacaan hasil tes DNA, di sana sudah ada cukup banyak wartawan, perwakilan dari rumah sakit, dan beberapa orang yang memiliki kepentingan. Dari pintu terlihat seorang wanita yang tidak asing bagi Reynold."Kenapa dia ada di sini," bisik Reynold seraya melihat ke arah wanita bertubuh tambun itu. Terlihat elegan, berkelas dengan dress warna putih, membuat penampilannya menarik walaupun berbobot lebih dari delapan puluh kilogram."Siapa Rey?" tanya Devanka."Dia," ucap Reynold seraya melihat ke arah wanita itu. Devanka mengarahkan matanya, terlihat mengerutkan dahi, lalu dia menyakini bahwa belum pernah melihat wanita itu sebelumnya. "Dia nyonya Domani, istri dari presdir Domani. Untuk apa dia datang, dia juga di temani pengacara," ucap Reynold."Apa jangan jangan," ucap Reynold terhenti ketika melihat seseorang mulai berbicara dari alat pengeras suara.Salah seorang perwakilan dari rumah sakit terlihat sudah menai
Upacara PemakamanSemua orang mengantar kepergian Monalisa, dengan tatapan kesedihan, hati yang lara, menyakitkan, seorang ibu harus meninggalkan anaknya yang masih berusia tiga bulan bulan. Bayi kecil itu bahkan belum mengenal ibunya dengan baik, belum belajar memanggilnya, mengenali suaranya dengan jelas, belum meraba raba wajahnya, banyak hal yang belum dilakukan dan itu sangat menyayat hati.Semua orang memakai pakaian serba hitam, menandakan hati yang sedang kelam. Devanka terus menangis, menempel di dada suaminya, mencari perlindungan dari rasa sakit kehilangan. Monalisa di makamkan di area pemakaman elit untuk kelas atas, yang memiliki harga hampir setengah miliar per kaplingnya. Tuan besar Hamzah mengatur semua upacara pemakaman dan Monalisa mendapatkan penghormatan terakhirnya dengan layak.Di dalam penjara, ayah Monalisa menatap tembok, menyembunyikan kepedihannya. Dari punggungnya terlihat bahwa dia sedang menangis, tersedu sedu, seorang pria yang sangar akhirnya bisa tumba
Cinta MembaraJaksa Putri sampai di rumah sakit, dia dan Evo segera berlari masuk. Di depan pintu unit gawat darurat ada tuan muda Reynold, inspektur Yusuf, sekretaris Pete dan juga beberapa anak buah dari inspektur Yusuf.Langkah Evo terhenti, dia terdiam sejenak."Itu inspektur Yusuf?" tanya Evo."I-iya, kau mengenalnya? tanya jaksa Putri."Ayo kita segera mendekat ke sana," ucap Evo yang kemudian melanjutkan langkahnya mendekat ke arah ruang unit gawat darurat."Selamat malam," sapa jaksa Putri pada semua orang yang ada di sana."Oh, jaksa Putri, kau juga ada di sini?" tanya inspektur Yusuf."Jaksa Putri menangani kasus Monalisa," ucap sekretaris Pete."Oh begitu rupanya, bagaimana kelanjutan kasusnya?" tanya inspektur Yusuf."Hasil tes DNA akan diumumkan besok pagi, kasus ini mendekati akhir," ucap inspektur Yusuf."Walaupun dia sudah tidak ada, kau harus menuntaskan kasusnya, hingga selesei," pinta inspektur Yusuf."Ti-tidak ada?" tanya jaksa Putri yang belum mengerti dengan situ
Debaran Hati Sang JaksaTiba tiba seolah awan mendung berkumpul di langit, sunyi sepi, dengan hembusan angin dingin. Sebentar lagi badai kepedihan akan menerjang. Kabar duka ini sungguh sangat mengerikan.Devanka terhuyung, pandangannya gelap, lalu tidak sadarkan diri."Rey," bisiknya setelah tersadar dan dia mendapati dirinya sudah berada di sebuah ruang perawatan."Dev, kau sudah siuman," bisik Reynold seraya mendekat ke arah Devanka, menggenggam tangannya lalu memeluknya erat untuk sekedar menyalurkan perasaan."Aku sungguh tidak menyangka Monalisa akan seperti ini," ucap Devanka, lalu dia kembali menangis. "Tenanglah," bisik Reynold. "Ada Aron yang harus kau pikirkan, kau harus bangkit dan kuatkan hatimu," bisik Reynold."Anak sekecil itu Rey, dia harus kehilangan ibunya," ucap Devanka dalam tangis."Rey, kakek sudah meminta orang untuk menyiapkan prosesi pemakaman, kita urus saja," ucap kakek Hamzah seraya memegang bahu Reynold."Baik kek," ucap Reynold. Devanka melepaskan pel
Sebuah KehilanganReynold dan Devanka masuk ke dalam rumah sakit. Mereka terlihat gugup, mencari keberadaan Monalisa juga Aron."Nur, hubungi Aldo dan sekretaris Pete, minta mereka menghubungi inspektur Yusuf untuk mengurus masalah ini," pinta Reynold pada pengawal Nur."Baik tuan," ucap pengawal Nur yang kemudian segera menjalankan perintah tuan mudanya itu.Beberapa saat kemudian, Aldo dan sekretaris Pete sudah ada di gurun hijau, bersama dengan inspektur Yusuf dan tim investigasi. "Ini semua rekaman kamera pengawas yang ada di tempat ini, mereka benar benar sudah merencanakannya," ucap inspektur Yusuf yang terlihat mengecek hasil tangkapan kamera pengawas yang dia kumpulkan."Mereka mensabotase kamera pengawas, semuanya," ucap inspektur Yusuf. Mendengar hal itu, Sekretaris Pete terlihat berpikir."Bagaimana dengan kamera dashboard? mobil antik tuan besar Hamzah di pajang di gedung ini, berhadapan langsung dengan lapangan golf. Mobil itu dilengkapi kamera dashboard yang selalu meny
Tragedi Pesta LampionDevaka terlihat begitu cantik, dengan gaun berwarna putih, transparan di bagian lengan dan punggung. Perutnya yang sudah terlihat lebih menonjol membuat penampilannya semakin menawan, ibu hamil yang mempesona. Kehamilannya memasuki usia tiga bulan, kehamilan yang sehat dan di dambakan hampir semua orang, karna Devanka sama sekali tidak merasa repot, mual muntah berlebihan, sakit di sana sini, dia tidak merasakan itu semua, perasaannya hanya sangat bahagia, menerima kehamilannya dengan perasaan luar biasa."Kau cantik," ucap Reynold."Terimakasih, apa tidak terlihat gendut? sepertinya berat badanku naik," ucap Devanka."Tidak dan tidak menjadi masalah, kau harus banyak makan, supaya kehamilanmu sehat," ucap Reynold yang terlihat memeluk Devanka dari belakang, tepat di depan cermin besar yang ada di kamarnya. "Semoga kau tidak melihat wanita lain setelah melihatku bertambah berat badan," ucap Devanka seraya tersenyum."Tidak mungkin, aku hanya jatuh cinta padamu,"
Kasih Tulus Devanka pada AronDevanka dengan telaten mengurus Aron, terlihat seperti tidak merasa lelah sedikitpun. Monalisa melihat ketulusan itu, rasa kasih dan sayang itu, apa mungkin dia selama ini sangat keterlaluan pada Devanka, seperti duri di dalam daging, seperti bayangan buruk, seperti musuh dalam selimut, hatinya tidak benar benar tulus. Dia ingat ketika Miki atau lebih dikenal dengan Mike membuatnya jatuh dari tebing, walaupun bukan dia secara langsung, namun orang suruhan itu berhasil membuat Devanka dan Reynold melewati hari hari sulit di kota kecil.Devanka berusaha membuat Aron tersenyum, dengan senyumnya, ekspresi lucu wajahnya, nada suara lucunya, terlihat seperti seorang ibu yang sedang bermain dengan anaknya. Monalisa masih menatapnya dengan segala pandangan rasa, dia mulai merasa Devanka lebih pantas menjadi ibu Aron daripada dirinya."Ada apa?" tanya Devanka yang ternyata mengamati Monalisa sedari tadi."Ti-tidak, Aron beruntung memilikimu," ucap Monalisa."Apa