Tepat ketika Arnold sampai di hotel Sagara Bay, hujan deras pun turun. Arnold turun dari mobil dengan dengan langkah sedikit lebar agar segera sampai di lobby hotel. Selena ternyata sudah menunggunya di Lobby Hotel. "Maafkan saya terlambat menjemput Anda, Nona." Nafas Arnold masih tidak teratur karena terburu-buru. "Tidak apa-apa Pak Arnold, Saya mengerti." "Terima kasih Nona untuk pengertiannya. Baiklah, mari kita berangkat sekarang." "Ayo pak." Selena beranjak dari duduknya dan mengikuti Arnold, dengan cekatan Arnold membukakan pintu mobil belakang dan mempersilahkan Selena untuk masuk. "Apa Nona ingin pergi ke tempat lain?" Arnold bertanya sembari melihat ke arah rearview mirror. "Tidak Pak, kembali saja ke Rumah. Saya ingin beristirahat." "Baiklah kalau begitu Nona." Arnold segera menyalakan mobil lalu berjalan menuju rumah di Sunrise Summit. Arnold membawa mobil dengan hati-hati. Tidak banyak pembicaraan yang terjadi di antar tangan kanan dan istri
"Ada apa ini ribut-ribut?" Suara bariton itu membuat Selena dan juga Lola menoleh bersamaan ke arah sumber suara. Suara itu berasal dari William, entah apa yang dilakukannya, tiba-tiba sudah berada di Lobby kantor. Sempat bingung karena William tiba-tiba berada di sana padahal seharusnya saat ini dia tengah berada di ruang rapat.Melihat situasi yang menurutnya pas, Lola mulai mencari muka di depan William. "Pak William, Maaf mengganggu kenyamanan Bapak, ini ada wanita asing yang ingin bertemu dengan Bapak. Tapi sudah saya tangani, sebentar lagi Security akan datang untuk mengusirnya, dia seperti seorang pengemis ." Lola menjelaskan pada William dengan kedua mata berbinar, merasa sudah benar mengerjakan pekerjaannya dengan baik. Sangat yakin jika William akan memujinya karena sudah menghalau orang asing yang akan mengganggu CEO W&M Corp. "Apa yang kamu lakukan, Lola!" William menatap Lola dengan tatapan dingin. "Kamu hendak berani mengusir tamu VIP saya?" Mendeng
Selena memandang ke luar jendela mobil, setelah kedatangannya di kantor William tadi, pria itu memintanya untuk kembali ke rumah Sunrise Summit. William tidak mengizinkan Selena untuk bertindak gegabah dalam menghadapi Gangster yang menculik orangtuanya, walau dia begitu khawatir pada Ayahnya, ia tidak boleh panik dan tetap harus bersikap tenang. Dalam benaknya, sikap William begitu sulit untuk di tebak, ada kalanya pria itu bersikap begitu dingin dan angkuh tapi juga disisi lain memiliki sikap yang perhatian dan protektif. Seperti kejadian beberapa saat yang lalu ketika dirinya masih berada di kantor William, betapa marahnya William pada Arnold karna membiarkan Selena datang sendiri ke kantor dan hampir di usir oleh sekuriti. "Ada apa dengan kinerjamu sekarang, Arnold!" Suara bariton William memenuhi ruangannya. "Kamu sudah saya tugaskan untuk menjaga Selena , tapi kamu malah membiarkannya sendirian datang ke kantor ini." Tatapan mata elang William seolah ingin menguliti
Keesokan harinya, William dan Arnold sudah tiba di rumah sunrise Summit. Mereka akan menemani Selena dari jarak aman saat memberikan uang untuk membebaskan Ayahnya.William menghampiri Selena lalu memberikan sebuah kartu ATM berwarna hitam. "Ini ATM berisi uang sebesar 15 miliar, berikan kepada Rocky agar dia bisa segera membebaskan Ayahmu." "15 Miliar?" Selena menjadi bingung karena nominal yang di berikan oleh William lebih dari yang sudah di janjikan. "Bukankah Bapak sudah berjanji memberikan saya uang 11 Miliar bukan 15 Miliar?" "Orang seperti mereka itu haus akan keserakahan, Selena." William mencoba untuk menjelaskan kepada istrinya yang masih lugu itu. "Jika kamu hanya memberikan uang sesuai permintaan dari mereka, tentu mereka akan kembali mengancammu dan keluargamu." "Tapi jika mereka di berikan uang lebih, anggap saja sisa uang ini kita gunakan untuk menyumpal mulut dan harga diri mereka, agar mereka agar tidak berani macam-macam lagi di kemudian hari." "Benarkah beg
"Pintu gerbang akan di buka dan mereka juga akan memandumu untuk menemuiku." Rocky, sang ketua Gangster itu berbicara di telepon saat Selena sudah berada di depan rumah megahnya. "Baiklah, Saya akan segera masuk untuk menyerahkan uangnya." Pintu gerbang segera terbuka, penjaga dengan berpakaian serba hitam dan berkaca mata hitam itu nampak begitu dingin. "Tuan sudah menunggu di dalam, saya akan antarkan Anda." Dengan di pandu oleh penjaga itu, Selena memasuki rumah yang cukup luas dan megah itu. Diluar, William dan Arnold sudah menunggu untuk menjaga Selena dari jarak yang cukup aman agar tidak terdeteksi oleh Rocky maupun anak buahnya. Wiliam dan Arnold menunggu di sebuah mobil Van yang sudah tersedia alat pelacak serta pelaratan canggih lainnya.
Arnold dan William segera berlari menghampiri Selena yang kesusahan memapah Ferdy. "Biar saya bantu Bu." Arnold segera mengambil alih untuk memapah Ferdy ke dalam mobil, sedangkan William langsung memeluk Selena. Bingung dengan sikap William yang tiba-tiba manis itu, Selena hanya terdiam, untung saja Arnold menempatkan Ferdy di kursi penumpang belakang hingga Ferdy tidak melihat adegan romantis sang putri bersama suaminya. "Ada apa ini, Pak? Kena tiba-tiba memeluk saya?" "Maafkan Aku karena tidak terlalu memikirkan masalahmu," William mendesah lirih dan mencium pundak Selena. "Jika saat pertama kali kita membuat perjanjian, Aku tanya untuk apa kamu membutuhkan uang, tentu Aku akan segera memberinya." "Maafkan atas ketidak pekaan ku, hingga membuat Ayahmu terlihat begitu memprihatinkan seperti itu." Lanjut William denga
Di kamar yang di dominasi warna putih itu, Selena menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidurnya yang nyaman. Tadi malam Dia dan ibunya bersama-sama menunggu Ferdy. Tatapan Selena mengarah ke langit-langit kamarnya, teringat ucapan sang ibu padanya yang menanyakan pekerjaan apa yang dia ambil hingga bisa membayar hutang yang begitu banyak dan membebaskan Ferdy. Pikiran Selena pun kembali saat percakapannya bersama ibunya di Rumah sakit. "Na, kamu bekerja apa? Kenapa bisa cepat sekali kamu mendapatkan uang sebanyak itu?" Rosmala bertanya sambil memegang dadanya. "Ibu harap anak ibu ini mengambil pekerjaan yang baik." "Tenanglah bu, Selena bekerja pekerjaan baik kok, beruntung Selena mendapatkan kantor dan bos yang mengerti keadaan Selena dan mau membantu." Rosmala masih nampak ragu pada ucapan putrinya. "Benarkah itu Nak? Kamu bekerja dimana? Ibu taku
Sesuai ucapan William, satu jam kemudian Arnold sudah berada di halaman rumah Sunrise Summit untuk menjemputnya. Setelah berpamitan dengan Ida dan membawa barang-barang yang dia butuhkan ke dalam ransel berwarna Pink, Selena menghampiri Arnold. "Silahkan masuk Bu." Arnold membukakan pintu untuk Selena. "Terima kasih Pak Arnold." Selena segera masuk ke dalam mobil, waktu masih menunjukkan pukul 10 pagi. Perjalanan menuju puncak sekitar 1 atau 2 jam tergantung situasi di jalanan saat itu. Sesekali Selena bertelepon dengan Ibunya hanya untuk menanyakan keadaan Ayahnya. Hati Selena merasa tenang dan lega, karna kondisi Ayahnya sekarang sudah membaik, mulai mendapatkan asupan makanan bergizi dan perawatan yang intensif. Walau sebenarnya masih tersimpan beban dalam pikirannya untuk bisa segera hamil. Semoga ka
Selena dan William berdiri berdampingan menghadap kepada Robert dan juga Charles yang tengah duduk memperhatikan mereka. Dua buah koper besar berada di sisi mereka, di dalam koper itu berisi barang-barang Selena. Setelah satu minggu memikirkan matang-matang, akhirnya Selena pun menuruti kemauan Suaminya. Karna merasa tak nyaman di tatap tajam oleh Robert, Selena menundukkan kepalanya, sedangkan William menatap Kakek dan Ayahnya dengan tatapan 'berani' tanpa merasa gentar sedikitpun. "Mulai hari ini, Selena akan tinggal di rumah ini, Wil harap Kakek dan Ayah bisa memperlakukan Selena dengan baik," ucap William dengan nada tegasnya. Robert terkekeh mendengar ucapan sang cucu. "Zaman sekarang orangtua yang harus mengikuti permintaan anak muda. Kakek bisa apa jika kamu sudah memaksa?" "Lagi pula jika Kakek menolak kamu membawa gadis itu, apakah kamu akan mendengarkan?" Robert bertanya sinis. "Baguslah kalau begitu, jadi kedepannya tidak akan ada masalah lagi," William
"Lalu kamu akan melakukan apa agar William benar-benar meninggalkan wanita asing itu dan menikahi putriku, Brenda." Mark berkata dengan santai tetapi tegas pada lawan bicaranya, Robert. Di restoran mewah itu, Mark meminta untuk bertemu dengan Robert dan bertanya bagaimana kelanjutan nasib anak dan cucu mereka. Mark menyulut rokoknya di hadapan Robert, seolah tanpa takut menantang Robert. Kekuasaan mereka hampir sama, sama-sama kuat dan berpengaruh. Oleh karena itu, Mark berani bersikap angkuh di hadapan Robert, walau Robert lebih tua, bagi Mark tidak ada kata menghormati yang lebih tua jika sudah menyangkut masalah Brenda, putri semata wayang yang begitu dia cintai dalam kehidupan ini. "Beri William sedikit waktu, paling tidak satu tahun agar mereka bisa berpisah," Jawab Robert juga tampak santai tetapi tegas. "Setahun? Bukankah itu terlalu lama?" Mark kembali menghisap rokoknya lalu menghembuskan asapnya tepat di hadapan Robert. "Kamu kira putriku itu apa, hah!"
Di dalam kamar hotel yang mewah, di bawah selimut yang sama, Selena dan William tengah saling berpelukan setelah berbagi peluh beberapa saat yang lalu. Selena bersandar di dada bidang William yang dipenuhi otot kekar nan gagah, jemari lentik gadis itu bermain manja di atasnya. Sedangkan William menatap ke langit-langit kamar hotel dengan menindih tangan kanannya di kepala, berbagai pikiran mulai datang berkecamuk. Dia selalu berpikir, jika cintanya telah habis untuk mendiang istrinya, Sofia. Namun ternyata kini dia bisa merasakan cinta untuk seorang gadis muda bernama Selena. Seulas senyum terukir di wajah tampan William kala teringat penyatuan panas mereka yang sangat bergelora, saat di dalam mobil maupun di kamar hotel beberapa saat yang lalu. "Mas," Selena memanggil William sambil terus memainkan jemari lentiknya di dada bidang William
"Kita harus menuntaskan ini di Hotel, Baby." Nafas William sudah memburu, gairahnya sudah begitu ingin di puaskan. Gadis cantik di dekapannya tersenyum lalu menganggukkan kepala, tanda menyetujui permintaan William. Selena lalu berbisik pada William. "Sepertinya malam ini akan menjadi malam yang panas dan penuh gairah." "Benar, kamu akan berada di bawah kendaliku sepanjang malam." balas William tak kalah penuh gairah. Tak mau membuang waktu lagi, William segera membayar argo taksi yang Selena naiki, setelah selesei dengan langkah cepat William mengajak Selena untuk masuk ke dalam mobilnya. "Kita ke hotel sekarang." "Iya mas." William melirik Selena lalu langsung injak gas untuk ke hotel bintang 5 yang terdekat. Sepanjang perjalanan ke hotel, William sama sekali tidak melepaskan genggaman tangannya, bahkan sesekali mengecup punggung tangan Selena dengan begitu bergairah. Wangi Berries dan lavender khas milik Selena langsung memenuhi indra penciuman William.
Mobil Mercedes Maybach hitam itu melaju cepat mengejar taksi yang membawa Selena, beruntung lalu lintas malam itu tidak terlalu banyak kendaraan. Dengan cepat, William bisa mendekati taksi Selena, berusaha membunyikan klakson agar taksi tersebut mau berhenti sejenak di pinggir jalan tempat pemberhentian. "Nona, apakah yang di mobil hitam itu mengenal Anda? Sepertinya dia meminta kita untuk berhenti." Selena tercenung mendengar apa yang diucapkan oleh supir taksi, lalu melihat ke arah belakang mobil. Benar saja, mobil hitam yang sangat Selena kenal sedang mengikutinya. "Jalan terus pak, kalau bisa Bapak ngebut saja, itu orang jahat!" pinta Selena agar supir taksi itu segera menginjak gas dan berlalu menjauh. "Baik Nona," Supir taksi yang tidak tahu apa-apa mengikuti perintah Selena yang menjadi penumpangnya. Pikirnya jika itu benar, pria asing itu sedang menguntit gadis tersebut. Taksi itu melaju semakin cepat dan sedikit membuat William kerepotan. Bukannya berhen
Robert memerintahkan anak buahnya untuk membubarkan pesta yang bahkan belum di mulai dengan alasan kesehatannya yang menurun. Pria paruh baya itu melakukan hal itu karena belum siap jika semuanya tahu akan keberadaan Selena. Hatinya belum bisa menerima wanita asing yang tidak jelas asal usulnya. Semua kolega bisnis yang begitu menghormati Robert, tanpa mengeluh apapun mau menuruti untuk pergi dari pesta tanpa bertanya apapun walau mereka ingin tahu siapa wanita yang di bawa oleh pewaris W&M group itu. Bukan level mereka untuk menggunjing masalah pribadi seseorang, terlebih Keluarga Robert bukanlah keluarga biasa. Selama hal itu tidak mengganggu Bisnis mereka, hal itu bukan masalah besar bagi mereka, hanya sekedar cukup tahu dan tidak akan membocorkan kepada media. "Maaf Bapak dan Ibu yang kami Hormati, pesta ulang tahun Pak Robert harus di sudahi sampai di sini karena kesehatan beliau yang tiba-tiba menurun," jelas juru bicara Robert pada kolega bisnis yang hadir di pesta
Situasi di pesta sudah begitu riuh karena William yang menggandeng Selena di tempat umum. Lebih tepatnya, semua tamu mengharapkan penjelasan tentang siapa wanita yang William gandeng serta statusnya di dalam keluarga Massimo. "Ayah, sebaiknya kita segera ke luar untuk menenangkan para tamu, mereka pasti ingin tahu siapa wanita yang di bawa oleh William," ucap Charles pada Robert yang masih berada di dalam ruangan kerjanya. Robert nampak sangat kesal. "Bodoh! Bagaimana kamu bisa memberikan usul seperti itu, hah!" Charles menunduk tidak berani menatap sang ayah mertua. "Saya.. saya hanya.." "Diamlah!" Robert segera menyela ucapan Charles yang belum selesei. "Biar Aku saja yang memikirkan jalan keluar untuk kekacauan yang dj buat oleh cucuku itu." Dengan berkacak pinggang, Robert memikirkan solusi, apa yang harus dia katakan kepada para koleganya tentang wanita asing yang William bawa tadi? Sedangkan Charles hanya terdiam tidak berani lagi untuk memberikan solusi pada A
Selena dengan langkah cepat dan menggandeng tangan William. Di perlakukan seperti itu membuat William kesal, seumur hidupnya belum pernah ada wanita menarik tubuhnya seperti itu. Dengan sedikit kasar William mengibaskan tangan Selena dan menghentikan langkah mereka di lorong rumah yang sangat besar itu. "Lepaskan! Jaga sikapmu kepadaku Selena, jangan seenaknya seperti ini, mengerti!" Selena menatap tajam kepada William, pria di hadapannya itu seolah tidak mengerti maksudnya menarik William seperti itu. "Apa Mas tidak sadar telah membuat kesalahan, hah?" "Kesalahan apa Selena? Aku hanya ingin memberitahukan kepada Kakek tentang dirimu." Selena berdecak kesal. "Kenapa Mas tidak mendiskusikan terlebih dahulu kepadaku tentang hal ini? Kenapa langsung memutuskan sendiri dengan gegabah seperti ini!"
Saat Brenda hendak memberitahukan siapa pria yang akan bertunangan dengannya, William datang mendekati Mereka berdua. "Brenda? Selena? sedang apa kalian?" Suara bariton William membuat dua wanita cantik itu sontak menengok bersamaan. Brenda nampak terkejut saat William tahu nama Selena, pria dingin yang sangat setia pada satu wanita itu jarang sekali ingin berkenalan dengan wanita lain jika sudah memiliki pasangan. "Kamu.. kamu kenal dengan Selena, Wil?" Brenda bertanya untuk memastikan kecurigaannya. "Benar, Aku kenal dengan Selena." William tanpa ragu lalu memegang tangan Selena di hadapan Brenda dan membawanya pergi begitu saja. Seolah tidak memberikan kesempatan Brenda untuk bertanya lebih banyak tentang Selena. Hal itu cukup membuat Brenda tercenung dan Selena juga bingung dengan situasi saat itu.