Dinding-dinding kristal yang sebelumnya bersinar kini dipenuhi retakan gelap. Energi hitam merembes keluar seperti racun yang mengalir, memenuhi udara dengan tekanan yang menyesakkan. Sosok berbayang itu melangkah maju, matanya yang merah menyala menatap tajam ke arah Rainer dan Elyse."Aku tidak menyangka ada yang cukup bodoh untuk mencapai tempat ini." Suaranya dingin, penuh kepastian.Elyse langsung mengangkat pedangnya, bersiap menghadapi ancaman yang jelas terlihat. Rainer, di sisi lain, tetap diam, otaknya bekerja cepat, mencoba memahami situasi.Aedric melangkah maju, berdiri di antara mereka dan bayangan itu. "Mereka telah melewati ujian dan berhak mengetahui kebenaran."Bayangan itu tertawa kecil. "Kebenaran? Tidak ada yang butuh kebenaran di dunia ini. Yang mereka butuhkan hanyalah menerima kenyataan yang ada."Rainer mengerutkan dahi. "Jadi kau memang bagian dari sistem ini."Sosok itu menatapnya. "Aku bukan bagian dari sistem ini. Aku adalah penjaganya."Suasana semakin te
Ruangan yang sebelumnya dipenuhi oleh bayangan dan kegelapan kini berangsur-angsur mereda. Cahaya biru samar dari kitab hitam yang kini berubah bentuk berpendar di tengah altar, menciptakan bayangan panjang di wajah Rainer, Elyse, dan Aedric.Keheningan yang terjadi terasa begitu berat. Rainer menatap kitab itu dengan ekspresi penuh waspada. Ia tahu, kemenangan ini bukan akhir dari segalanya—sebaliknya, ini hanyalah awal dari misteri yang lebih dalam."Kitab ini... telah berubah," Elyse berbisik, masih memegang erat pedangnya.Aedric melangkah mendekat, meneliti kitab dengan hati-hati. "Tulisan di sampulnya... ini bahasa kuno. Tidak seharusnya bisa berubah seperti ini."Rainer mengulurkan tangannya, merasakan energi aneh yang mengalir dari kitab itu. Ada sesuatu yang berbeda—tidak sekadar perubahan bentuk, tetapi juga aura yang dipancarkannya."Kita tidak bisa mengabaikan ini," Rainer berkata dengan suara rendah. "Apa pun yang ada di dalamnya, mungkin ini adalah jawaban yang kita cari
Angin dingin menyapu reruntuhan Kota Yang Terlupakan, membawa aroma debu dan kenangan yang telah lama terkubur. Langit kelam semakin bergejolak, seperti merespons kehadiran Rainer dan kelompoknya. Di kejauhan, bayangan besar yang sebelumnya hanya samar kini semakin jelas—sebuah entitas gelap dengan mata bersinar merah, menatap mereka dari ketinggian.Rainer menggenggam kitab hitam di tangannya lebih erat. "Mereka benar-benar tidak membuang waktu," gumamnya.Elyse berdiri tegak di sisinya, pedang terhunus. "Apa itu salah satu dari Pengawas?"Caelum, yang berdiri beberapa langkah di depan mereka, menggeleng. "Bukan. Itu hanya pelayan mereka—salah satu dari banyak penjaga yang dikirim untuk menghalangi orang-orang seperti kalian."Aedric menarik napas dalam, kedua tangannya mulai membentuk formasi sihir. "Kalau begitu, kita harus menyingkirkan penghalang ini sebelum bisa bergerak lebih jauh."Makhluk itu mengeluarkan suara geraman rendah, lalu melesat ke arah mereka dengan kecepatan luar
Malam mulai merayap di langit Benteng Langit. Cahaya lentera menggantung di sepanjang jalan utama, menciptakan bayangan panjang di antara bangunan berbatu yang menjulang tinggi. Suasana kota begitu hidup, tetapi di antara kerumunan, bahaya mengintai.Rainer dan kelompoknya berjalan mengikuti pria tua misterius yang mereka temui di kota luar. Mereka melewati gang-gang sempit yang dipenuhi aroma rempah dan kayu bakar."Jadi, siapa sebenarnya kau?" tanya Elyse dengan suara rendah, matanya tetap waspada terhadap sekitar.Pria itu terkekeh pelan. "Sebut saja aku Rowan," jawabnya. "Dulu aku seorang cendekiawan di Perpustakaan Agung. Sampai suatu hari, aku menemukan sesuatu yang tidak seharusnya kulihat."Aedric mengangkat alis. "Dan itu adalah...?"Rowan berhenti di depan sebuah pintu kayu tua yang hampir runtuh. Ia menoleh ke mereka sebelum mendorong pintu itu perlahan. "Kunci yang mengarah pada rahasia terbesar Benteng Langit."Begitu mereka masuk, cahaya obor menerangi ruangan sempit yan
Pintu besar terbuka perlahan, mengeluarkan suara decitan menyeramkan. Dari dalam kegelapan, sesuatu merangkak keluar—sesosok makhluk berbalut bayangan dengan mata merah menyala dan tubuh yang nyaris tak berbentuk.Udara di dalam ruangan menjadi berat, seperti ada tekanan tak terlihat yang menekan dada mereka. Elyse merasakan bulu kuduknya berdiri, sementara Aedric langsung mencengkeram gagang pedangnya dengan erat.Rainer tetap diam, mengamati dengan mata tajam. “Makhluk ini… bukan iblis biasa.”Grand Magus Eldric menyeringai tipis dari tempatnya berdiri. “Benar. Ini adalah Nokturnis, entitas yang lahir dari kegelapan dunia ini. Ia tak bisa dibunuh dengan sihir biasa.”Makhluk itu melangkah maju, bayangannya seperti kabut yang merayap di lantai. Dari tubuhnya, tentakel hitam melesat ke arah mereka dengan kecepatan luar biasa.“Bersebar!” seru Rainer.Mereka melompat ke berbagai arah tepat sebelum tentakel itu menghantam tempat mereka berdiri, menghancurkan lantai batu menjadi puing-pu
Ruangan perjamuan sunyi setelah kata-kata Rainer meluncur. Para bangsawan yang duduk di sekeliling meja menatapnya dengan berbagai ekspresi—ada yang penuh rasa ingin tahu, ada yang skeptis, dan beberapa terlihat tidak senang dengan kehadirannya.Duke Albrecht adalah orang pertama yang memecah kesunyian. Ia menyandarkan tubuhnya ke kursi dengan senyum tipis. “Kemenangan, katamu?”Rainer tetap tenang. “Benar. Aku tahu bahwa kalian semua di sini adalah tokoh-tokoh penting dalam sistem pemerintahan Benteng Langit. Tapi, dalam sistem yang kalian jalankan, kekuatan selalu menjadi penentu utama.”Count Regnier menyilangkan tangannya. “Dan kau pikir seorang pemuda tanpa nama besar bisa menawarkan sesuatu yang bahkan kami belum bisa capai?”Rainer tersenyum kecil. “Jika aku tidak bisa, aku tidak akan berdiri di sini.”Para bangsawan saling bertukar pandang. Elyse dan Aedric yang berdiri di belakang Rainer tetap waspada, mengamati setiap gerakan halus yang bisa menjadi ancaman.Akhirnya, Marqui
Lingkaran sihir di bawah pria berjas hitam terus berdenyut, memancarkan aura gelap yang semakin menyesakkan udara di sekitar mereka. Bayangan-bayangan yang sebelumnya melayang dengan liar kini bergerak dalam pola yang lebih terorganisir, seolah menunggu perintah dari tuannya.Rainer memperhatikan dengan saksama. Sesuatu tentang pria ini terasa berbeda. Tidak seperti para penyihir biasa, kekuatannya memiliki nuansa yang lebih kuno dan… berbahaya.Elyse menggertakkan giginya. “Kau merasa ini juga?”Rainer mengangguk. “Ini bukan sihir biasa. Ada sesuatu yang lebih dalam di sini.”Pria itu tersenyum, seolah memahami percakapan mereka. “Kalian cukup tajam.” Ia menatap Rainer dengan tatapan penuh arti. “Tapi ini bukan pertempuran yang bisa kalian menangkan.”Aedric mencengkeram pedangnya lebih erat. “Cukup bicara.”Dengan satu langkah cepat, Aedric menerjang ke depan, ayunan pedangnya menghasilkan gelombang energi yang menghantam ke arah pria itu. Namun, sebelum serangannya mencapai sasaran
Hembusan angin malam terasa dingin di kulit mereka. Setelah pertempuran sengit, distrik ini kini dipenuhi puing-puing, bekas pertempuran sihir dan serangan makhluk bayangan yang baru saja lenyap.Rainer berdiri diam di tengah reruntuhan, pikirannya masih terjebak dalam pertarungan yang baru saja mereka lalui. Pria berjas hitam itu telah pergi, tetapi rasa tidak nyaman masih menyelimuti dirinya.Elyse berjalan mendekatinya, menyentuh lengannya dengan lembut. “Rainer… kau baik-baik saja?”Ia menarik napas dalam-dalam sebelum mengangguk. “Ya… hanya saja, sesuatu terasa aneh. Seolah dia tidak benar-benar ingin menang, tapi hanya menguji kita.”Aedric menghunus pedangnya kembali ke sarungnya, mendengus. “Jika itu benar, berarti kita harus lebih berhati-hati. Lawan seperti dia tidak akan mundur begitu saja tanpa rencana lain.”Rainer mengangguk. “Itulah yang membuatku khawatir.”Tiba-tiba, dari sudut jalan yang gelap, muncul seorang pria tua dengan jubah lusuh. Rambutnya berantakan, dan mat
Angin malam berembus kencang di atas benteng barat, membawa hawa peperangan yang semakin dekat. Dari kejauhan, cahaya obor berkedip-kedip di sepanjang dataran selatan, menandakan bahwa pasukan Lionel Drakos telah mulai bergerak.Rainer berdiri di atas menara pengawas, matanya tajam mengamati pergerakan musuh. Elyse berdiri di sampingnya, ekspresinya tegang."Kita tidak bisa menunggu lebih lama," katanya. "Jika mereka sampai ke desa-desa di perbatasan, kita akan kehilangan banyak pendukung."Rainer mengangguk, lalu berbalik ke arah Marcus dan para penasihat militernya yang sudah berkumpul di bawah menara."Kita akan melancarkan serangan sebelum mereka siap," Rainer berkata dengan suara mantap. "Tapi kita tidak akan bertindak seperti biasa. Kita akan membuat mereka berpikir bahwa kita lebih lemah dari yang sebenarnya."Marcus mengangkat alisnya. "Kau ingin menjebak mereka?"Rainer tersenyum tipis. "Bukan hanya menjebak. Aku ingin mereka percay
Langit masih gelap ketika suara derap langkah tergesa-gesa menggema di lorong-lorong benteng. Salah satu mata-mata yang ditugaskan Rainer untuk menyusup ke ibu kota Vildoria baru saja kembali, napasnya tersengal seolah ia telah berlari sepanjang malam.Rainer menunggu di ruang taktik, tangannya terlipat di depan dada, sementara Elyse dan Marcus berdiri di sampingnya."Ada berita?" tanya Rainer tanpa basa-basi.Mata-mata itu mengangguk, lalu mengeluarkan sebuah gulungan perkamen yang tampak lusuh dan berdebu."Ada pergerakan di dalam ibu kota Vildoria, tapi bukan hanya dari pihak kerajaan," lapor mata-mata itu. "Kelompok yang disebut 'Tangan Hitam' mulai bergerak, dan mereka bukan sekadar bayangan.""Tangan Hitam?" Elyse mengulang nama itu dengan alis berkerut.Rainer mengambil perkamen itu, membuka isinya, dan membaca dengan saksama."Mereka adalah kelompok yang bergerak di belakang layar," jelas mata-mata itu. "Mereka bukan bagian da
Malam di benteng utama terasa lebih hening dari biasanya. Meskipun pasukan Rainer telah meraih kemenangan besar melawan pasukan Vildoria, ia tahu bahwa kemenangan ini bukanlah akhir. Vildoria bukan satu-satunya ancaman yang harus ia hadapi.Di dalam ruang strateginya, Rainer menatap peta yang terbentang di atas meja. Di sekelilingnya, Elyse, Marcus, dan beberapa komandan utama berdiri menunggu arahannya."Apa yang akan kita lakukan selanjutnya?" tanya Marcus, matanya menatap Rainer dengan penuh harapan."Kita tidak bisa hanya bertahan," jawab Rainer. "Jika kita hanya menunggu serangan selanjutnya, cepat atau lambat mereka akan menemukan cara untuk menjatuhkan kita. Kita harus bergerak lebih dulu."Elyse mengangguk. "Kau ingin menyerang mereka langsung?""Bukan serangan langsung," kata Rainer sambil menggeser bidak-bidak di peta. "Kita akan melemahkan mereka dari dalam."Para komandan saling berpandangan, mencoba memahami maksud Rainer.
Malam setelah kemenangan di perbatasan barat, Rainer berdiri di dalam tendanya, menatap peta yang dipenuhi tanda-tanda strategis. Di satu sisi, ia merasa puas karena berhasil mengalahkan Lionel Drakos tanpa kehilangan terlalu banyak pasukan. Namun, jauh di dalam benaknya, ia tahu bahwa perang ini belum berakhir.Elyse masuk ke dalam tenda, membawa segulung laporan terbaru. "Kabar dari utara," katanya dengan suara tegang. "Gerakan militer mulai terlihat di perbatasan kerajaan Vildoria."Rainer mengangkat alisnya. "Vildoria akhirnya bergerak?""Sepertinya begitu," jawab Elyse. "Mereka mungkin melihat kelemahan kita setelah perang ini dan berpikir bahwa ini saat yang tepat untuk menyerang."Marcus, yang baru saja memasuki tenda, mendengus. "Mereka salah besar. Justru setelah kemenangan ini, moral pasukan kita sedang berada di puncaknya. Jika mereka berpikir kita lemah, mereka akan menyesalinya."Rainer berpikir sejenak. "Kita harus mengonfirmasi niat
Malam masih gelap saat beberapa bayangan bergerak cepat di gang-gang ibu kota Vildoria. Lima sosok berpakaian gelap, masing-masing dengan simbol kecil berbentuk mata di pergelangan tangan mereka, menyelinap melalui lorong-lorong sempit menuju sebuah gudang tua yang tersembunyi di antara bangunan usang.Di dalam, beberapa pria dan wanita bertopeng sudah berkumpul di sekitar meja panjang, peta dan dokumen tersebar di atasnya. Mereka adalah anggota Tangan Hitam—organisasi rahasia yang beroperasi di balik layar, mengendalikan informasi dan kekuatan dengan cara yang hanya mereka yang berkepentingan bisa pahami.Seorang pria bertopeng duduk di tengah, jari-jarinya mengetuk meja dengan ritme yang lambat. "Rainer mulai bergerak," katanya dengan suara tenang namun tajam.Salah satu anggota lain mengangguk. "Ya, dan dia sudah mengetahui keberadaan kita. Tidak lama lagi dia akan mencari cara untuk menghancurkan kita dari dalam."Pria bertopeng itu menghela napas. "Maka kita harus bergerak lebih
Malam berhembus dingin saat Rainer berdiri di atas menara pengawas, menatap ke arah selatan. Dalam kegelapan, titik-titik api kecil terlihat di kejauhan—kemah pasukan yang mulai berkumpul di wilayah perbatasan. Jika laporan itu benar, seseorang dari keturunan keluarga kerajaan lama sedang membangun kekuatan di sana.Elyse melangkah mendekat, mantel tebal melilit tubuhnya. "Kau tampak gelisah."Rainer tersenyum tipis. "Gelisah bukan kata yang tepat. Lebih ke... mengantisipasi."Elyse bersandar di pagar batu. "Jika benar ada keturunan kerajaan lama yang tersisa, itu bisa menjadi masalah besar. Rakyat yang masih setia pada monarki pasti akan berkumpul di bawah panji mereka.""Dan itulah yang membuat ini menarik," Rainer menjawab. "Orang-orang selalu mencari simbol. Jika seseorang bisa meyakinkan mereka bahwa kerajaan lama bisa bangkit kembali, maka kita akan menghadapi perang yang lebih besar dari sebelumnya."Marcus datang membawa sebotol anggur, wajahnya tetap santai meskipun situasi s
Langit di atas wilayah barat masih dipenuhi asap, sisa dari pertempuran yang baru saja berakhir. Kastil milik Count Reinhardt kini berdiri dalam kehancuran, simbol kejatuhan para bangsawan yang menolak tunduk pada perubahan.Di dalam ruang pertemuan yang dulu penuh dengan kemewahan, kini hanya ada aroma debu dan darah. Rainer berdiri di tengah ruangan, menatap peta besar yang terbentang di atas meja. Wilayah barat telah mereka taklukkan, tetapi peperangan belum selesai.Elyse masuk ke ruangan, wajahnya tenang namun penuh ketegasan. “Beberapa pasukan kita masih sibuk mengamankan desa-desa sekitar. Sebagian besar rakyat di sini tidak berani melawan, tetapi ada kelompok kecil yang masih setia pada Reinhardt.”Rainer mengangguk. “Itu sudah kuduga. Reinhardt mungkin sudah tiada, tapi jejaknya masih ada dalam pikiran orang-orang yang dulu hidup di bawah perlindungannya.”Marcus, yang duduk di sudut ruangan dengan cangkir anggur di tangannya, mendengus. “Orang-orang bodoh. Mereka tidak sadar
Rainer berdiri di puncak menara istana, menatap ke kejauhan. Kota yang dulunya diperintah dengan tangan besi oleh Duke Alistair kini dalam transisi menuju era baru. Cahaya fajar mulai menyinari bangunan-bangunan yang masih dipenuhi bekas pertempuran. Jalanan yang tadinya berlumuran darah perlahan dibersihkan, meski bau asap dan kematian masih terasa.Di bawahnya, rakyat berkumpul di alun-alun utama, menunggu pengumuman berikutnya.Elyse melangkah mendekat. “Mereka menunggu pidatomu.”Rainer mengangguk, tetapi matanya tetap tertuju ke kejauhan. “Perjuangan ini belum berakhir. Kota ini masih bisa jatuh ke dalam kekacauan jika kita tidak segera bertindak.”Elyse menatapnya dengan penuh perhatian. “Aku tahu. Tapi untuk saat ini, kita telah memberi mereka harapan.”Rainer akhirnya mengalihkan pandangannya ke Elyse. Dalam beberapa bulan terakhir, gadis itu telah menjadi orang yang paling ia percaya. Dengan kecerdasan dan tekadnya, Elyse selalu menjadi suara rasional yang menyeimbangkan pemi
Suara ledakan menggema di seluruh kota. Api berkobar di beberapa sudut distrik, dan jeritan pertempuran bercampur dengan dentingan senjata yang saling beradu. Kekacauan telah mencapai puncaknya—tanda bahwa rencana Rainer berjalan sesuai yang diharapkan.Di dalam istana Duke Alistair, sang penguasa berdiri dengan pedang terhunus. Wajahnya yang biasanya penuh percaya diri kini dipenuhi amarah dan kegelisahan. Di hadapannya, Rainer berdiri tenang, sementara Elyse dan Marcus bersiaga di sisinya.“Aku sudah memperhitungkan segalanya, Alistair,” kata Rainer dengan nada datar. “Hari ini, kekuasaanmu berakhir.”Alistair menyipitkan mata. “Kau pikir hanya dengan beberapa pemberontak rendahan bisa menjatuhkanku?”Senyum tipis tersungging di bibir Rainer. Ia tidak menjawab, tetapi menatap keluar jendela, melihat pasukan perlawanan yang semakin mendekati istana.“Kota ini bukan milikmu lagi,” lanjut Rainer. “Setengah pasukanmu sudah pergi ke timur. Para bangsa