Pintu besar terbuka perlahan, mengeluarkan suara decitan menyeramkan. Dari dalam kegelapan, sesuatu merangkak keluar—sesosok makhluk berbalut bayangan dengan mata merah menyala dan tubuh yang nyaris tak berbentuk.Udara di dalam ruangan menjadi berat, seperti ada tekanan tak terlihat yang menekan dada mereka. Elyse merasakan bulu kuduknya berdiri, sementara Aedric langsung mencengkeram gagang pedangnya dengan erat.Rainer tetap diam, mengamati dengan mata tajam. “Makhluk ini… bukan iblis biasa.”Grand Magus Eldric menyeringai tipis dari tempatnya berdiri. “Benar. Ini adalah Nokturnis, entitas yang lahir dari kegelapan dunia ini. Ia tak bisa dibunuh dengan sihir biasa.”Makhluk itu melangkah maju, bayangannya seperti kabut yang merayap di lantai. Dari tubuhnya, tentakel hitam melesat ke arah mereka dengan kecepatan luar biasa.“Bersebar!” seru Rainer.Mereka melompat ke berbagai arah tepat sebelum tentakel itu menghantam tempat mereka berdiri, menghancurkan lantai batu menjadi puing-pu
Ruangan perjamuan sunyi setelah kata-kata Rainer meluncur. Para bangsawan yang duduk di sekeliling meja menatapnya dengan berbagai ekspresi—ada yang penuh rasa ingin tahu, ada yang skeptis, dan beberapa terlihat tidak senang dengan kehadirannya.Duke Albrecht adalah orang pertama yang memecah kesunyian. Ia menyandarkan tubuhnya ke kursi dengan senyum tipis. “Kemenangan, katamu?”Rainer tetap tenang. “Benar. Aku tahu bahwa kalian semua di sini adalah tokoh-tokoh penting dalam sistem pemerintahan Benteng Langit. Tapi, dalam sistem yang kalian jalankan, kekuatan selalu menjadi penentu utama.”Count Regnier menyilangkan tangannya. “Dan kau pikir seorang pemuda tanpa nama besar bisa menawarkan sesuatu yang bahkan kami belum bisa capai?”Rainer tersenyum kecil. “Jika aku tidak bisa, aku tidak akan berdiri di sini.”Para bangsawan saling bertukar pandang. Elyse dan Aedric yang berdiri di belakang Rainer tetap waspada, mengamati setiap gerakan halus yang bisa menjadi ancaman.Akhirnya, Marqui
Lingkaran sihir di bawah pria berjas hitam terus berdenyut, memancarkan aura gelap yang semakin menyesakkan udara di sekitar mereka. Bayangan-bayangan yang sebelumnya melayang dengan liar kini bergerak dalam pola yang lebih terorganisir, seolah menunggu perintah dari tuannya.Rainer memperhatikan dengan saksama. Sesuatu tentang pria ini terasa berbeda. Tidak seperti para penyihir biasa, kekuatannya memiliki nuansa yang lebih kuno dan… berbahaya.Elyse menggertakkan giginya. “Kau merasa ini juga?”Rainer mengangguk. “Ini bukan sihir biasa. Ada sesuatu yang lebih dalam di sini.”Pria itu tersenyum, seolah memahami percakapan mereka. “Kalian cukup tajam.” Ia menatap Rainer dengan tatapan penuh arti. “Tapi ini bukan pertempuran yang bisa kalian menangkan.”Aedric mencengkeram pedangnya lebih erat. “Cukup bicara.”Dengan satu langkah cepat, Aedric menerjang ke depan, ayunan pedangnya menghasilkan gelombang energi yang menghantam ke arah pria itu. Namun, sebelum serangannya mencapai sasaran
Hembusan angin malam terasa dingin di kulit mereka. Setelah pertempuran sengit, distrik ini kini dipenuhi puing-puing, bekas pertempuran sihir dan serangan makhluk bayangan yang baru saja lenyap.Rainer berdiri diam di tengah reruntuhan, pikirannya masih terjebak dalam pertarungan yang baru saja mereka lalui. Pria berjas hitam itu telah pergi, tetapi rasa tidak nyaman masih menyelimuti dirinya.Elyse berjalan mendekatinya, menyentuh lengannya dengan lembut. “Rainer… kau baik-baik saja?”Ia menarik napas dalam-dalam sebelum mengangguk. “Ya… hanya saja, sesuatu terasa aneh. Seolah dia tidak benar-benar ingin menang, tapi hanya menguji kita.”Aedric menghunus pedangnya kembali ke sarungnya, mendengus. “Jika itu benar, berarti kita harus lebih berhati-hati. Lawan seperti dia tidak akan mundur begitu saja tanpa rencana lain.”Rainer mengangguk. “Itulah yang membuatku khawatir.”Tiba-tiba, dari sudut jalan yang gelap, muncul seorang pria tua dengan jubah lusuh. Rambutnya berantakan, dan mat
Malam itu, mereka meninggalkan distrik yang hancur dengan hati penuh kewaspadaan. Bayangan pertempuran sebelumnya masih membekas, tetapi sekarang ada tujuan yang lebih besar di depan mereka—Kunci Sang Pencipta.Dengan petunjuk dari pria tua itu, mereka menyiapkan perjalanan menuju Pegunungan Gelis. Lokasi itu jauh di perbatasan kerajaan, dikenal sebagai tempat yang hampir mustahil untuk ditembus karena cuacanya yang ekstrem dan makhluk buas yang berkeliaran.Rainer menatap peta yang terbuka di hadapannya. “Jika kita mengambil jalur utama, kita bisa sampai dalam dua minggu. Tapi jika kita mengambil jalan pintas melalui hutan sebelah timur, kita bisa memangkas waktu hingga setengahnya.”Elyse duduk di seberangnya, matanya memperhatikan jalur yang ditunjukkan Rainer. “Tapi hutan itu berbahaya. Banyak laporan tentang orang-orang yang hilang dan tidak pernah kembali.”Aedric yang tengah membersihkan pedangnya hanya mendengus. “Tidak ada jalur yang benar-benar aman. Jika kita menunggu terla
Angin berhembus kencang di antara reruntuhan kuil, membawa serta aroma tanah basah dan keheningan yang mencekam. Di bawah sinar bulan yang samar, Rainer, Elyse, dan Aedric berdiri tegak, menatap musuh mereka—Lazar, seorang pemimpin dari Ordo Maledicta, yang kini berdiri dengan senyum penuh kemenangan.Di sekeliling mereka, para mayat hidup yang dikendalikan oleh necromancy mulai bergerak, mengitari mereka dengan langkah tersendat namun pasti.Rainer menyipitkan matanya. “Berapa banyak makhluk seperti ini yang bisa kau kendalikan?”Lazar terkekeh. “Sebanyak yang kubutuhkan untuk memastikan kalian mati di sini.”Aedric menggenggam pedangnya lebih erat. “Kalau begitu, ayo kita lihat seberapa kuat mereka.”Seolah mendapat perintah yang tidak terdengar, makhluk-makhluk itu langsung menyerbu.Aedric menjadi yang pertama bergerak. Dengan satu tebasan cepat, ia memotong salah satu makhluk di tengah tubuhnya. Namun, seperti sebelumnya, luka itu menutup kembali dalam hitungan detik.“Jangan bua
Suasana kuil yang semula mencekam kini dipenuhi keheningan yang aneh. Setelah Lazar dikalahkan dan pilar batu dihancurkan, sisa-sisa sihir gelap yang menguasai tempat itu perlahan menghilang. Namun, aura misterius masih terasa di udara, terutama dari balik pintu batu yang kini terbuka.Rainer mengatur napasnya, lalu melangkah mendekati pintu tersebut. Di baliknya, sebuah lorong gelap terbentang, seakan menunggu mereka untuk masuk.Elyse menelan ludah. “Apakah kita benar-benar harus masuk?”Aedric mengangguk sambil menyarungkan pedangnya. “Kita sudah sejauh ini. Tidak ada alasan untuk mundur.”Rainer menoleh ke arah Elyse. “Jika kau butuh istirahat, kau bisa menunggu di sini.”Elyse mendengus kecil, lalu melangkah maju. “Aku bukan tipe yang menyerah di tengah jalan.”Senyum tipis muncul di wajah Rainer sebelum ia akhirnya melangkah masuk ke dalam lorong, diikuti Elyse dan Aedric.Lorong itu dingin dan lembap. Cahaya redup dari kristal yang tertanam di dinding memberi penerangan secukup
Perjalanan menuju ibukota tidak akan mudah. Setelah menemukan kitab hitam dan mengetahui adanya kelompok bernama Pendiri Dunia, Rainer, Elyse, dan Aedric menyadari bahwa mereka menghadapi musuh yang jauh lebih besar dari yang mereka bayangkan.Mereka sekarang berada di sebuah desa kecil di tepi hutan, beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan ke ibukota. Matahari hampir tenggelam, dan langit berwarna jingga keemasan. Di dalam penginapan sederhana, mereka duduk di sudut ruangan, membahas langkah selanjutnya.Aedric menyilangkan tangannya, ekspresinya serius. “Jadi kau yakin kitab itu mengarah ke ibukota?”Rainer mengangguk sambil menatap buku hitam di atas meja. “Ya. Kitab ini menyebutkan bahwa banyak catatan sejarah yang dihapus dari peredaran dan hanya tersimpan di Perpustakaan Kerajaan.”Elyse bersandar ke kursinya. “Jadi, kita harus menyusup ke perpustakaan terbesar di kerajaan? Terdengar seperti rencana yang sulit.”Rainer tersenyum tipis. “S
Angin malam berembus kencang di atas benteng barat, membawa hawa peperangan yang semakin dekat. Dari kejauhan, cahaya obor berkedip-kedip di sepanjang dataran selatan, menandakan bahwa pasukan Lionel Drakos telah mulai bergerak.Rainer berdiri di atas menara pengawas, matanya tajam mengamati pergerakan musuh. Elyse berdiri di sampingnya, ekspresinya tegang."Kita tidak bisa menunggu lebih lama," katanya. "Jika mereka sampai ke desa-desa di perbatasan, kita akan kehilangan banyak pendukung."Rainer mengangguk, lalu berbalik ke arah Marcus dan para penasihat militernya yang sudah berkumpul di bawah menara."Kita akan melancarkan serangan sebelum mereka siap," Rainer berkata dengan suara mantap. "Tapi kita tidak akan bertindak seperti biasa. Kita akan membuat mereka berpikir bahwa kita lebih lemah dari yang sebenarnya."Marcus mengangkat alisnya. "Kau ingin menjebak mereka?"Rainer tersenyum tipis. "Bukan hanya menjebak. Aku ingin mereka percay
Langit masih gelap ketika suara derap langkah tergesa-gesa menggema di lorong-lorong benteng. Salah satu mata-mata yang ditugaskan Rainer untuk menyusup ke ibu kota Vildoria baru saja kembali, napasnya tersengal seolah ia telah berlari sepanjang malam.Rainer menunggu di ruang taktik, tangannya terlipat di depan dada, sementara Elyse dan Marcus berdiri di sampingnya."Ada berita?" tanya Rainer tanpa basa-basi.Mata-mata itu mengangguk, lalu mengeluarkan sebuah gulungan perkamen yang tampak lusuh dan berdebu."Ada pergerakan di dalam ibu kota Vildoria, tapi bukan hanya dari pihak kerajaan," lapor mata-mata itu. "Kelompok yang disebut 'Tangan Hitam' mulai bergerak, dan mereka bukan sekadar bayangan.""Tangan Hitam?" Elyse mengulang nama itu dengan alis berkerut.Rainer mengambil perkamen itu, membuka isinya, dan membaca dengan saksama."Mereka adalah kelompok yang bergerak di belakang layar," jelas mata-mata itu. "Mereka bukan bagian da
Malam di benteng utama terasa lebih hening dari biasanya. Meskipun pasukan Rainer telah meraih kemenangan besar melawan pasukan Vildoria, ia tahu bahwa kemenangan ini bukanlah akhir. Vildoria bukan satu-satunya ancaman yang harus ia hadapi.Di dalam ruang strateginya, Rainer menatap peta yang terbentang di atas meja. Di sekelilingnya, Elyse, Marcus, dan beberapa komandan utama berdiri menunggu arahannya."Apa yang akan kita lakukan selanjutnya?" tanya Marcus, matanya menatap Rainer dengan penuh harapan."Kita tidak bisa hanya bertahan," jawab Rainer. "Jika kita hanya menunggu serangan selanjutnya, cepat atau lambat mereka akan menemukan cara untuk menjatuhkan kita. Kita harus bergerak lebih dulu."Elyse mengangguk. "Kau ingin menyerang mereka langsung?""Bukan serangan langsung," kata Rainer sambil menggeser bidak-bidak di peta. "Kita akan melemahkan mereka dari dalam."Para komandan saling berpandangan, mencoba memahami maksud Rainer.
Malam setelah kemenangan di perbatasan barat, Rainer berdiri di dalam tendanya, menatap peta yang dipenuhi tanda-tanda strategis. Di satu sisi, ia merasa puas karena berhasil mengalahkan Lionel Drakos tanpa kehilangan terlalu banyak pasukan. Namun, jauh di dalam benaknya, ia tahu bahwa perang ini belum berakhir.Elyse masuk ke dalam tenda, membawa segulung laporan terbaru. "Kabar dari utara," katanya dengan suara tegang. "Gerakan militer mulai terlihat di perbatasan kerajaan Vildoria."Rainer mengangkat alisnya. "Vildoria akhirnya bergerak?""Sepertinya begitu," jawab Elyse. "Mereka mungkin melihat kelemahan kita setelah perang ini dan berpikir bahwa ini saat yang tepat untuk menyerang."Marcus, yang baru saja memasuki tenda, mendengus. "Mereka salah besar. Justru setelah kemenangan ini, moral pasukan kita sedang berada di puncaknya. Jika mereka berpikir kita lemah, mereka akan menyesalinya."Rainer berpikir sejenak. "Kita harus mengonfirmasi niat
Malam masih gelap saat beberapa bayangan bergerak cepat di gang-gang ibu kota Vildoria. Lima sosok berpakaian gelap, masing-masing dengan simbol kecil berbentuk mata di pergelangan tangan mereka, menyelinap melalui lorong-lorong sempit menuju sebuah gudang tua yang tersembunyi di antara bangunan usang.Di dalam, beberapa pria dan wanita bertopeng sudah berkumpul di sekitar meja panjang, peta dan dokumen tersebar di atasnya. Mereka adalah anggota Tangan Hitam—organisasi rahasia yang beroperasi di balik layar, mengendalikan informasi dan kekuatan dengan cara yang hanya mereka yang berkepentingan bisa pahami.Seorang pria bertopeng duduk di tengah, jari-jarinya mengetuk meja dengan ritme yang lambat. "Rainer mulai bergerak," katanya dengan suara tenang namun tajam.Salah satu anggota lain mengangguk. "Ya, dan dia sudah mengetahui keberadaan kita. Tidak lama lagi dia akan mencari cara untuk menghancurkan kita dari dalam."Pria bertopeng itu menghela napas. "Maka kita harus bergerak lebih
Malam berhembus dingin saat Rainer berdiri di atas menara pengawas, menatap ke arah selatan. Dalam kegelapan, titik-titik api kecil terlihat di kejauhan—kemah pasukan yang mulai berkumpul di wilayah perbatasan. Jika laporan itu benar, seseorang dari keturunan keluarga kerajaan lama sedang membangun kekuatan di sana.Elyse melangkah mendekat, mantel tebal melilit tubuhnya. "Kau tampak gelisah."Rainer tersenyum tipis. "Gelisah bukan kata yang tepat. Lebih ke... mengantisipasi."Elyse bersandar di pagar batu. "Jika benar ada keturunan kerajaan lama yang tersisa, itu bisa menjadi masalah besar. Rakyat yang masih setia pada monarki pasti akan berkumpul di bawah panji mereka.""Dan itulah yang membuat ini menarik," Rainer menjawab. "Orang-orang selalu mencari simbol. Jika seseorang bisa meyakinkan mereka bahwa kerajaan lama bisa bangkit kembali, maka kita akan menghadapi perang yang lebih besar dari sebelumnya."Marcus datang membawa sebotol anggur, wajahnya tetap santai meskipun situasi s
Langit di atas wilayah barat masih dipenuhi asap, sisa dari pertempuran yang baru saja berakhir. Kastil milik Count Reinhardt kini berdiri dalam kehancuran, simbol kejatuhan para bangsawan yang menolak tunduk pada perubahan.Di dalam ruang pertemuan yang dulu penuh dengan kemewahan, kini hanya ada aroma debu dan darah. Rainer berdiri di tengah ruangan, menatap peta besar yang terbentang di atas meja. Wilayah barat telah mereka taklukkan, tetapi peperangan belum selesai.Elyse masuk ke ruangan, wajahnya tenang namun penuh ketegasan. “Beberapa pasukan kita masih sibuk mengamankan desa-desa sekitar. Sebagian besar rakyat di sini tidak berani melawan, tetapi ada kelompok kecil yang masih setia pada Reinhardt.”Rainer mengangguk. “Itu sudah kuduga. Reinhardt mungkin sudah tiada, tapi jejaknya masih ada dalam pikiran orang-orang yang dulu hidup di bawah perlindungannya.”Marcus, yang duduk di sudut ruangan dengan cangkir anggur di tangannya, mendengus. “Orang-orang bodoh. Mereka tidak sadar
Rainer berdiri di puncak menara istana, menatap ke kejauhan. Kota yang dulunya diperintah dengan tangan besi oleh Duke Alistair kini dalam transisi menuju era baru. Cahaya fajar mulai menyinari bangunan-bangunan yang masih dipenuhi bekas pertempuran. Jalanan yang tadinya berlumuran darah perlahan dibersihkan, meski bau asap dan kematian masih terasa.Di bawahnya, rakyat berkumpul di alun-alun utama, menunggu pengumuman berikutnya.Elyse melangkah mendekat. “Mereka menunggu pidatomu.”Rainer mengangguk, tetapi matanya tetap tertuju ke kejauhan. “Perjuangan ini belum berakhir. Kota ini masih bisa jatuh ke dalam kekacauan jika kita tidak segera bertindak.”Elyse menatapnya dengan penuh perhatian. “Aku tahu. Tapi untuk saat ini, kita telah memberi mereka harapan.”Rainer akhirnya mengalihkan pandangannya ke Elyse. Dalam beberapa bulan terakhir, gadis itu telah menjadi orang yang paling ia percaya. Dengan kecerdasan dan tekadnya, Elyse selalu menjadi suara rasional yang menyeimbangkan pemi
Suara ledakan menggema di seluruh kota. Api berkobar di beberapa sudut distrik, dan jeritan pertempuran bercampur dengan dentingan senjata yang saling beradu. Kekacauan telah mencapai puncaknya—tanda bahwa rencana Rainer berjalan sesuai yang diharapkan.Di dalam istana Duke Alistair, sang penguasa berdiri dengan pedang terhunus. Wajahnya yang biasanya penuh percaya diri kini dipenuhi amarah dan kegelisahan. Di hadapannya, Rainer berdiri tenang, sementara Elyse dan Marcus bersiaga di sisinya.“Aku sudah memperhitungkan segalanya, Alistair,” kata Rainer dengan nada datar. “Hari ini, kekuasaanmu berakhir.”Alistair menyipitkan mata. “Kau pikir hanya dengan beberapa pemberontak rendahan bisa menjatuhkanku?”Senyum tipis tersungging di bibir Rainer. Ia tidak menjawab, tetapi menatap keluar jendela, melihat pasukan perlawanan yang semakin mendekati istana.“Kota ini bukan milikmu lagi,” lanjut Rainer. “Setengah pasukanmu sudah pergi ke timur. Para bangsa