Share

Bab 119

last update Huling Na-update: 2025-02-27 13:02:08

Udara di dalam lorong terasa lebih berat daripada ruangan sebelumnya. Dindingnya terbuat dari batu hitam yang tampak berusia ribuan tahun, dan di sepanjang jalannya, lilin biru berkelap-kelip seperti mata yang mengawasi mereka. Setiap langkah yang mereka ambil menggema, seakan ada sesuatu yang berjalan bersama mereka di dalam kegelapan.

Elyse menghela napas dalam-dalam, mencoba mengendalikan kegugupan yang mulai merayap. “Aku tidak suka tempat ini.”

Rainer menatap ke depan dengan mata tajam. “Aku juga tidak, tapi kita tidak punya pilihan.”

Di ujung lorong, pintu besar berukir lambang yang sama dengan yang mereka lihat sebelumnya berdiri kokoh. Ada sesuatu yang terasa berbeda—seperti ada sesuatu yang menunggu di baliknya.

Rainer menempelkan telapak tangannya pada ukiran di tengah pintu. Seketika, cahaya biru menyala terang, membentuk pola rumit yang bergerak seperti aliran air.

Tiba-tiba, suara lirih terdengar di sekeliling mereka.

"Siapa yang berani menginjakkan kaki di tanah terlaran
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Kaugnay na kabanata

  • Dunia yang Terlupakan: Jalan Sang Jenius   Bab 120

    Langkah kaki menggema di lorong yang gelap. Rainer dan Elyse saling bertukar pandang, insting mereka segera menegang. Suara langkah itu tidak tergesa-gesa, tapi ada ketenangan berbahaya di dalamnya—seperti seorang pemburu yang sudah yakin bahwa mangsanya tidak bisa melarikan diri.Elyse mencengkeram belatinya lebih erat. "Kurasa kita baru saja masuk ke dalam daftar buronan paling dicari."Rainer menyelipkan buku kuno itu ke dalam mantelnya. "Lebih cepat dari yang kuduga. Kita harus keluar dari sini sebelum mereka menutup semua jalan keluar."Tiba-tiba, suara langkah itu berhenti. Hening.Elyse menahan napas, matanya menatap tajam ke ujung lorong. "Kenapa mereka berhenti?"Rainer juga merasakan keanehan yang sama. Kalau ini penyergapan, mereka seharusnya sudah menyerang.Detik berikutnya, udara di sekitar mereka berubah. Suhu turun drastis, seolah sesuatu menyerap semua panas di ruangan. Dinding batu yang sebelumnya gelap kini berkilauan tipis, seperti tertutup lapisan es.Rainer menyi

    Huling Na-update : 2025-02-28
  • Dunia yang Terlupakan: Jalan Sang Jenius   Bab 121

    Denyut jantung Rainer berdetak kencang saat langkah kakinya beradu dengan lantai batu. Udara di sekelilingnya masih terasa dingin akibat sihir pembekuan dari pria berambut putih tadi, namun mereka tidak punya waktu untuk memikirkan itu. Mereka harus keluar dari tempat ini sebelum semuanya runtuh.Di sampingnya, Elyse berlari dengan lincah, matanya awas mengamati setiap persimpangan lorong. Nafasnya terdengar berat, tetapi semangat bertahan hidup terpancar jelas dari sorot matanya."Arah mana?" tanya Elyse cepat.Rainer melirik ke sekeliling. Lorong-lorong ini seperti labirin yang bisa menyesatkan siapa saja yang tidak tahu jalan. Namun, dengan ingatan tajamnya, ia segera menemukan pola yang sesuai dengan peta yang ia baca sebelumnya."Kiri, lalu turun ke bawah. Harusnya ada jalan keluar di sana," jawabnya tegas.Tanpa ragu, mereka berbelok dan menuruni tangga spiral sempit. Dinding batu di sekitar mereka mulai bergetar—pertarungan di atas semakin intensif, dan dampaknya mulai merusak

    Huling Na-update : 2025-02-28
  • Dunia yang Terlupakan: Jalan Sang Jenius   Bab 122

    Cahaya terang menyelimuti mereka.Rainer, Elyse, dan pria misterius itu merasakan tubuh mereka ditarik oleh kekuatan tak terlihat. Sensasi melayang membuat napas mereka tercekat, seperti jatuh ke dalam kehampaan yang tak berujung.Lalu, seketika, semuanya kembali nyata.Brak!Rainer terjatuh ke tanah keras dengan suara dentuman, disusul Elyse yang langsung menggertakkan giginya saat tubuhnya menghantam rerumputan kasar. Pria berambut hitam mendarat dengan lebih luwes, matanya segera menyapu sekeliling mereka.Mereka berada di tempat yang benar-benar berbeda.Langit di atas mereka berwarna ungu gelap, dengan kilatan petir biru samar-samar di kejauhan. Udara terasa tebal, seolah mengandung energi yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya. Pepohonan besar menjulang tinggi, dengan daun-daun hitam yang berkilauan seperti kristal.Elyse mengusap lengannya dan bangkit. "Dimana kita...?"Rainer berdiri perlahan, matanya masih menyesuaikan diri dengan pemandangan baru ini. Satu hal yang past

    Huling Na-update : 2025-03-01
  • Dunia yang Terlupakan: Jalan Sang Jenius   Bab 123

    Cahaya biru menyelimuti tubuh mereka.Rainer merasakan tekanan kuat di sekelilingnya. Rasanya seperti ditarik ke dalam pusaran energi yang tak terlihat. Elyse berusaha meraih lengannya, tetapi sebelum jari mereka bersentuhan, cahaya semakin menyilaukan—dan semuanya menghilang.Ketika Rainer membuka matanya, ia tidak lagi berada di dalam ruangan bawah tanah itu. Sebaliknya, ia berdiri di sebuah tanah luas yang berwarna hitam pekat. Langit di atasnya kosong, tanpa matahari ataupun bulan. Udara terasa dingin dan kering, seakan-akan tidak ada kehidupan di tempat ini.Ia menoleh. Elyse berdiri di dekatnya, matanya waspada."Di mana kita sekarang?" bisiknya.Rainer menggertakkan giginya. "Aku tidak tahu. Tapi ini pasti bagian dari 'ujian' yang disebutkan pria itu."Tiba-tiba, suara langkah berat menggema di kejauhan.Elyse langsung bersiap, tangannya meraih gagang pedangnya. Rainer menajamkan tatapannya ke depan. Dari kegelapan, sosok humanoid raksasa dengan mata merah menyala perlahan mend

    Huling Na-update : 2025-03-01
  • Dunia yang Terlupakan: Jalan Sang Jenius   Bab 124

    Cahaya keemasan dari gerbang besar itu berpendar pelan. Rainer berdiri diam, matanya meneliti ukiran kuno yang terukir di permukaannya. "Hanya mereka yang memiliki kekuatan pikiran dan hati yang sejati yang dapat melangkah lebih jauh."Elyse meliriknya. "Apa menurutmu kita sudah memenuhi syarat?"Rainer menghela napas. "Tidak ada pilihan lain kecuali mencobanya."Perlahan, ia mengulurkan tangan dan menyentuh permukaan gerbang. Begitu jari-jarinya menyentuh ukiran itu, sebuah arus energi mengalir ke dalam tubuhnya. Rainer tersentak, otaknya dipenuhi gambaran yang tidak familiar—pemandangan kota-kota yang runtuh, pertempuran besar, dan sosok-sosok misterius yang berdiri di atas reruntuhan."Rainer!" suara Elyse terdengar jauh, seperti berasal dari balik kabut.Ia merasakan tubuhnya tertarik ke dalam pusaran waktu, didorong ke dalam ingatan yang bukan miliknya.Dalam penglihatannya, ia melihat seorang pria bertudung berdiri di atas puncak menara. Di bawahnya, ribuan prajurit bertempur me

    Huling Na-update : 2025-03-02
  • Dunia yang Terlupakan: Jalan Sang Jenius   Bab 125

    Dinding-dinding kristal yang sebelumnya bersinar kini dipenuhi retakan gelap. Energi hitam merembes keluar seperti racun yang mengalir, memenuhi udara dengan tekanan yang menyesakkan. Sosok berbayang itu melangkah maju, matanya yang merah menyala menatap tajam ke arah Rainer dan Elyse."Aku tidak menyangka ada yang cukup bodoh untuk mencapai tempat ini." Suaranya dingin, penuh kepastian.Elyse langsung mengangkat pedangnya, bersiap menghadapi ancaman yang jelas terlihat. Rainer, di sisi lain, tetap diam, otaknya bekerja cepat, mencoba memahami situasi.Aedric melangkah maju, berdiri di antara mereka dan bayangan itu. "Mereka telah melewati ujian dan berhak mengetahui kebenaran."Bayangan itu tertawa kecil. "Kebenaran? Tidak ada yang butuh kebenaran di dunia ini. Yang mereka butuhkan hanyalah menerima kenyataan yang ada."Rainer mengerutkan dahi. "Jadi kau memang bagian dari sistem ini."Sosok itu menatapnya. "Aku bukan bagian dari sistem ini. Aku adalah penjaganya."Suasana semakin te

    Huling Na-update : 2025-03-02
  • Dunia yang Terlupakan: Jalan Sang Jenius   Bab 126

    Ruangan yang sebelumnya dipenuhi oleh bayangan dan kegelapan kini berangsur-angsur mereda. Cahaya biru samar dari kitab hitam yang kini berubah bentuk berpendar di tengah altar, menciptakan bayangan panjang di wajah Rainer, Elyse, dan Aedric.Keheningan yang terjadi terasa begitu berat. Rainer menatap kitab itu dengan ekspresi penuh waspada. Ia tahu, kemenangan ini bukan akhir dari segalanya—sebaliknya, ini hanyalah awal dari misteri yang lebih dalam."Kitab ini... telah berubah," Elyse berbisik, masih memegang erat pedangnya.Aedric melangkah mendekat, meneliti kitab dengan hati-hati. "Tulisan di sampulnya... ini bahasa kuno. Tidak seharusnya bisa berubah seperti ini."Rainer mengulurkan tangannya, merasakan energi aneh yang mengalir dari kitab itu. Ada sesuatu yang berbeda—tidak sekadar perubahan bentuk, tetapi juga aura yang dipancarkannya."Kita tidak bisa mengabaikan ini," Rainer berkata dengan suara rendah. "Apa pun yang ada di dalamnya, mungkin ini adalah jawaban yang kita cari

    Huling Na-update : 2025-03-03
  • Dunia yang Terlupakan: Jalan Sang Jenius   Bab 127

    Angin dingin menyapu reruntuhan Kota Yang Terlupakan, membawa aroma debu dan kenangan yang telah lama terkubur. Langit kelam semakin bergejolak, seperti merespons kehadiran Rainer dan kelompoknya. Di kejauhan, bayangan besar yang sebelumnya hanya samar kini semakin jelas—sebuah entitas gelap dengan mata bersinar merah, menatap mereka dari ketinggian.Rainer menggenggam kitab hitam di tangannya lebih erat. "Mereka benar-benar tidak membuang waktu," gumamnya.Elyse berdiri tegak di sisinya, pedang terhunus. "Apa itu salah satu dari Pengawas?"Caelum, yang berdiri beberapa langkah di depan mereka, menggeleng. "Bukan. Itu hanya pelayan mereka—salah satu dari banyak penjaga yang dikirim untuk menghalangi orang-orang seperti kalian."Aedric menarik napas dalam, kedua tangannya mulai membentuk formasi sihir. "Kalau begitu, kita harus menyingkirkan penghalang ini sebelum bisa bergerak lebih jauh."Makhluk itu mengeluarkan suara geraman rendah, lalu melesat ke arah mereka dengan kecepatan luar

    Huling Na-update : 2025-03-03

Pinakabagong kabanata

  • Dunia yang Terlupakan: Jalan Sang Jenius   Bab 160

    Angin malam berembus kencang di atas benteng barat, membawa hawa peperangan yang semakin dekat. Dari kejauhan, cahaya obor berkedip-kedip di sepanjang dataran selatan, menandakan bahwa pasukan Lionel Drakos telah mulai bergerak.Rainer berdiri di atas menara pengawas, matanya tajam mengamati pergerakan musuh. Elyse berdiri di sampingnya, ekspresinya tegang."Kita tidak bisa menunggu lebih lama," katanya. "Jika mereka sampai ke desa-desa di perbatasan, kita akan kehilangan banyak pendukung."Rainer mengangguk, lalu berbalik ke arah Marcus dan para penasihat militernya yang sudah berkumpul di bawah menara."Kita akan melancarkan serangan sebelum mereka siap," Rainer berkata dengan suara mantap. "Tapi kita tidak akan bertindak seperti biasa. Kita akan membuat mereka berpikir bahwa kita lebih lemah dari yang sebenarnya."Marcus mengangkat alisnya. "Kau ingin menjebak mereka?"Rainer tersenyum tipis. "Bukan hanya menjebak. Aku ingin mereka percay

  • Dunia yang Terlupakan: Jalan Sang Jenius   Bab 159

    Langit masih gelap ketika suara derap langkah tergesa-gesa menggema di lorong-lorong benteng. Salah satu mata-mata yang ditugaskan Rainer untuk menyusup ke ibu kota Vildoria baru saja kembali, napasnya tersengal seolah ia telah berlari sepanjang malam.Rainer menunggu di ruang taktik, tangannya terlipat di depan dada, sementara Elyse dan Marcus berdiri di sampingnya."Ada berita?" tanya Rainer tanpa basa-basi.Mata-mata itu mengangguk, lalu mengeluarkan sebuah gulungan perkamen yang tampak lusuh dan berdebu."Ada pergerakan di dalam ibu kota Vildoria, tapi bukan hanya dari pihak kerajaan," lapor mata-mata itu. "Kelompok yang disebut 'Tangan Hitam' mulai bergerak, dan mereka bukan sekadar bayangan.""Tangan Hitam?" Elyse mengulang nama itu dengan alis berkerut.Rainer mengambil perkamen itu, membuka isinya, dan membaca dengan saksama."Mereka adalah kelompok yang bergerak di belakang layar," jelas mata-mata itu. "Mereka bukan bagian da

  • Dunia yang Terlupakan: Jalan Sang Jenius   Bab 158

    Malam di benteng utama terasa lebih hening dari biasanya. Meskipun pasukan Rainer telah meraih kemenangan besar melawan pasukan Vildoria, ia tahu bahwa kemenangan ini bukanlah akhir. Vildoria bukan satu-satunya ancaman yang harus ia hadapi.Di dalam ruang strateginya, Rainer menatap peta yang terbentang di atas meja. Di sekelilingnya, Elyse, Marcus, dan beberapa komandan utama berdiri menunggu arahannya."Apa yang akan kita lakukan selanjutnya?" tanya Marcus, matanya menatap Rainer dengan penuh harapan."Kita tidak bisa hanya bertahan," jawab Rainer. "Jika kita hanya menunggu serangan selanjutnya, cepat atau lambat mereka akan menemukan cara untuk menjatuhkan kita. Kita harus bergerak lebih dulu."Elyse mengangguk. "Kau ingin menyerang mereka langsung?""Bukan serangan langsung," kata Rainer sambil menggeser bidak-bidak di peta. "Kita akan melemahkan mereka dari dalam."Para komandan saling berpandangan, mencoba memahami maksud Rainer.

  • Dunia yang Terlupakan: Jalan Sang Jenius   Bab 157

    Malam setelah kemenangan di perbatasan barat, Rainer berdiri di dalam tendanya, menatap peta yang dipenuhi tanda-tanda strategis. Di satu sisi, ia merasa puas karena berhasil mengalahkan Lionel Drakos tanpa kehilangan terlalu banyak pasukan. Namun, jauh di dalam benaknya, ia tahu bahwa perang ini belum berakhir.Elyse masuk ke dalam tenda, membawa segulung laporan terbaru. "Kabar dari utara," katanya dengan suara tegang. "Gerakan militer mulai terlihat di perbatasan kerajaan Vildoria."Rainer mengangkat alisnya. "Vildoria akhirnya bergerak?""Sepertinya begitu," jawab Elyse. "Mereka mungkin melihat kelemahan kita setelah perang ini dan berpikir bahwa ini saat yang tepat untuk menyerang."Marcus, yang baru saja memasuki tenda, mendengus. "Mereka salah besar. Justru setelah kemenangan ini, moral pasukan kita sedang berada di puncaknya. Jika mereka berpikir kita lemah, mereka akan menyesalinya."Rainer berpikir sejenak. "Kita harus mengonfirmasi niat

  • Dunia yang Terlupakan: Jalan Sang Jenius   Bab 160

    Malam masih gelap saat beberapa bayangan bergerak cepat di gang-gang ibu kota Vildoria. Lima sosok berpakaian gelap, masing-masing dengan simbol kecil berbentuk mata di pergelangan tangan mereka, menyelinap melalui lorong-lorong sempit menuju sebuah gudang tua yang tersembunyi di antara bangunan usang.Di dalam, beberapa pria dan wanita bertopeng sudah berkumpul di sekitar meja panjang, peta dan dokumen tersebar di atasnya. Mereka adalah anggota Tangan Hitam—organisasi rahasia yang beroperasi di balik layar, mengendalikan informasi dan kekuatan dengan cara yang hanya mereka yang berkepentingan bisa pahami.Seorang pria bertopeng duduk di tengah, jari-jarinya mengetuk meja dengan ritme yang lambat. "Rainer mulai bergerak," katanya dengan suara tenang namun tajam.Salah satu anggota lain mengangguk. "Ya, dan dia sudah mengetahui keberadaan kita. Tidak lama lagi dia akan mencari cara untuk menghancurkan kita dari dalam."Pria bertopeng itu menghela napas. "Maka kita harus bergerak lebih

  • Dunia yang Terlupakan: Jalan Sang Jenius   Bab 155

    Malam berhembus dingin saat Rainer berdiri di atas menara pengawas, menatap ke arah selatan. Dalam kegelapan, titik-titik api kecil terlihat di kejauhan—kemah pasukan yang mulai berkumpul di wilayah perbatasan. Jika laporan itu benar, seseorang dari keturunan keluarga kerajaan lama sedang membangun kekuatan di sana.Elyse melangkah mendekat, mantel tebal melilit tubuhnya. "Kau tampak gelisah."Rainer tersenyum tipis. "Gelisah bukan kata yang tepat. Lebih ke... mengantisipasi."Elyse bersandar di pagar batu. "Jika benar ada keturunan kerajaan lama yang tersisa, itu bisa menjadi masalah besar. Rakyat yang masih setia pada monarki pasti akan berkumpul di bawah panji mereka.""Dan itulah yang membuat ini menarik," Rainer menjawab. "Orang-orang selalu mencari simbol. Jika seseorang bisa meyakinkan mereka bahwa kerajaan lama bisa bangkit kembali, maka kita akan menghadapi perang yang lebih besar dari sebelumnya."Marcus datang membawa sebotol anggur, wajahnya tetap santai meskipun situasi s

  • Dunia yang Terlupakan: Jalan Sang Jenius   Bab 154

    Langit di atas wilayah barat masih dipenuhi asap, sisa dari pertempuran yang baru saja berakhir. Kastil milik Count Reinhardt kini berdiri dalam kehancuran, simbol kejatuhan para bangsawan yang menolak tunduk pada perubahan.Di dalam ruang pertemuan yang dulu penuh dengan kemewahan, kini hanya ada aroma debu dan darah. Rainer berdiri di tengah ruangan, menatap peta besar yang terbentang di atas meja. Wilayah barat telah mereka taklukkan, tetapi peperangan belum selesai.Elyse masuk ke ruangan, wajahnya tenang namun penuh ketegasan. “Beberapa pasukan kita masih sibuk mengamankan desa-desa sekitar. Sebagian besar rakyat di sini tidak berani melawan, tetapi ada kelompok kecil yang masih setia pada Reinhardt.”Rainer mengangguk. “Itu sudah kuduga. Reinhardt mungkin sudah tiada, tapi jejaknya masih ada dalam pikiran orang-orang yang dulu hidup di bawah perlindungannya.”Marcus, yang duduk di sudut ruangan dengan cangkir anggur di tangannya, mendengus. “Orang-orang bodoh. Mereka tidak sadar

  • Dunia yang Terlupakan: Jalan Sang Jenius   Bab 153

    Rainer berdiri di puncak menara istana, menatap ke kejauhan. Kota yang dulunya diperintah dengan tangan besi oleh Duke Alistair kini dalam transisi menuju era baru. Cahaya fajar mulai menyinari bangunan-bangunan yang masih dipenuhi bekas pertempuran. Jalanan yang tadinya berlumuran darah perlahan dibersihkan, meski bau asap dan kematian masih terasa.Di bawahnya, rakyat berkumpul di alun-alun utama, menunggu pengumuman berikutnya.Elyse melangkah mendekat. “Mereka menunggu pidatomu.”Rainer mengangguk, tetapi matanya tetap tertuju ke kejauhan. “Perjuangan ini belum berakhir. Kota ini masih bisa jatuh ke dalam kekacauan jika kita tidak segera bertindak.”Elyse menatapnya dengan penuh perhatian. “Aku tahu. Tapi untuk saat ini, kita telah memberi mereka harapan.”Rainer akhirnya mengalihkan pandangannya ke Elyse. Dalam beberapa bulan terakhir, gadis itu telah menjadi orang yang paling ia percaya. Dengan kecerdasan dan tekadnya, Elyse selalu menjadi suara rasional yang menyeimbangkan pemi

  • Dunia yang Terlupakan: Jalan Sang Jenius   Bab 152

    Suara ledakan menggema di seluruh kota. Api berkobar di beberapa sudut distrik, dan jeritan pertempuran bercampur dengan dentingan senjata yang saling beradu. Kekacauan telah mencapai puncaknya—tanda bahwa rencana Rainer berjalan sesuai yang diharapkan.Di dalam istana Duke Alistair, sang penguasa berdiri dengan pedang terhunus. Wajahnya yang biasanya penuh percaya diri kini dipenuhi amarah dan kegelisahan. Di hadapannya, Rainer berdiri tenang, sementara Elyse dan Marcus bersiaga di sisinya.“Aku sudah memperhitungkan segalanya, Alistair,” kata Rainer dengan nada datar. “Hari ini, kekuasaanmu berakhir.”Alistair menyipitkan mata. “Kau pikir hanya dengan beberapa pemberontak rendahan bisa menjatuhkanku?”Senyum tipis tersungging di bibir Rainer. Ia tidak menjawab, tetapi menatap keluar jendela, melihat pasukan perlawanan yang semakin mendekati istana.“Kota ini bukan milikmu lagi,” lanjut Rainer. “Setengah pasukanmu sudah pergi ke timur. Para bangsa

Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status