Taruhan yang disepakati Saga dan anak IPA tadi pagi menambah daya tarik penduduk Tribakti untuk menonton pertandingan basket. Terbukti, sore ini, setelah kegiatan belajar mengajar usai ara siswa berbondong-bondong memenuhi pinggir lapangan basket. Seolah ada pertandingan internasional yang sebentar lagi akan digelar.
Para pendukung Marchel sudah meneriakkan namanya dengan heboh. Semakin menggila teriakan mereka ketika dua pemain yang akan bertanding head to head memasuki lapangan. Seorang wasit masuk bersama mereka, melempar koin untuk menentukan bola akan dikuasai lebih dahulu oleh siapa.
Koin menunjukkan sisi gambar, yang berarti Marchellah pemegang bola pertama. Peluit wasit dibunyikan, bola dilempar dan permainan pun dimulai. Sorak sorai semakin nyaring terdengar—meramaikan.
"Marchel! Marchel! Marchel! Ayooo Marchel, kalahkan si Sampah cupu!"
"Go Marchel go Marchel go!"
Euforia pendukung Marchel bukan main hebohnya. Memb
“Tyana minggir dong, kita mau ketemu Saga!” “Iya, resek banget sih jadi orang, sok ngatur banget emang situ siapa? Larang-larang kita ketemu Sagara.” Mata Tyana membeliak, ia berkacak pinggang di depan kelasnya dan menatap satu persatu siswi yang menutupi akses keluar dari kelasnya. “Lo semua pada gila? Gue nyuruh kalian minggir karena anak-anak kelas gue pada enggak bisa keluar gara-gara kalian.” “Salah kamu sendiri yang menghalangi kami ketemu, Saga, coba kalau dari tadi diizinin, pasti kerumunannya enggak akan sebanyak ini.” Ingin rasanya Tyana berteriak sekarang, kalau saja Damian tidak muncul mungkin orang-orang itu sudah kena semprot Tyana. “Sagara mana?” tanya Damian, belum sempat Tyana menjawab, orang yang ditanyakan sudah muncul dari belakang gadis itu. “Saya di sini, ada apa?” balas Saga langsung menghadap Damian dengan berani. “Saya sudah dengar kemenangan kamu saat melawan Marchel kemarin sore. Sesuai kesepa
“Saga bakalan baik-baik aja kan, Tya?” gumam Omen dengan suara yang masih bergetar.“Semoga dia enggak kenapa-napa,” sahut Tyana berusaha tetap berpikir positif.Sagara sudah menjadi sosok yang kuat, dia pandai bertarung. Seharusnya mengalahkan lima orang anak STM bukan masalah besar buatnya bukan?“Kaki saya gemetar, mereka itu siapa sebenarnya? Kenapa menyerang kita tiba-tiba?”“Dilihat dari atribut sekolahnya mereka dari STM Gunar.”“Guna Dharma?” Omen mengonfirmasi.“Mm, perseteruan Gunar dan Gapus kembali memanas setelah pagi ini salah satu siswa Gunar meninggal dunia karena dianiaya anak Garuda Pustaka. Tidak ada yang tahu apa alasannya, yang jelas gencatan senjata yang pernah dideklarasikan para senior mereka kini sudah dicabut. Mereka kembali menjadi musuh bebuyutan.”“Kamu tahu dari mana kabar itu?”“Topik itu sedang trending pagi
Sagara tenggelam dalam lamunan, kilat pertarungannya dengan lima anak STM itu menyapa benaknya dengan sangat jelas. Mereka lawan yang cukup kuat apalagi dilengkapi dengan senjata tajam. Meski pada akhirnya tetap Sagara yang menang, sejujurnya Saga belum puas untuk berurusan dengan anak-anak itu. Ada sesuatu yang ingin ia tahu dari mereka.Saat Sagara menyentuh salah seorang anak STM Gunar itu, mendadak tubuh Saga seperti tersengat listrik. Ada arus yang mengalir menuju otaknya sampai terputarlah adegan yang sama persis dengan bayangan yang muncul saat Saga di lapangan basket kemarin. Adegan ketika Saga disiksa di bawah derasnya hujan, ingatan yang muncul hari ini jauh lebih jelas dari kemarin. Saga bahkan bisa memastikan bahwa pria yang ditemuinya hari ini ada dalam potongan ingatan misterius itu.“Semakin lama kepingan puzzle ini semakin membingungkan,” gumam lelaki itu sambil mendesah berat.“Ah!” pekik Saga ketika ada seseorang yang is
"Aku sangat yakin klinik itu ada di jalan ini," kata Saga sambil memandangi sebuah bangunan yang jauh berbeda dengan ingatannya. Malam itu saat ia membawa si Kucing ke sana, bangunan tersebut adalah klinik hewan tapi sekarang tempat yanh sedang Sagara pandangi adalah salon kecantikan. "Kau ini bicara apa Sagara? Aku tidak mengerti." "Kucing, kamu pasti tahu alasan mengapa tempat ini bisa tiba-tiba berubah. Ke mana hilangnya klinik hewan itu?" Si Kucing sedang dalam pangkuan Sagara, ia sengaja mengajak kucing ajaib itu ke sana untuk menanyakan sesuatu. "Aku tidak tahu apa-apa." "Jangan bohong! Mustahil klinik itu bisa menghilang dalam waktu singkat. Apa dokter yang waktu itu kutemui ada hubungannya denganmu?" "Teruslah mengoceh hal aneh Sagara, semakin hari kau semakin bodoh!" "Aku tid
“Kucing, kalau kau benar-benar mengenalku berarti insiden malam itu hanya pura-pura? Itu bagian dari tipuanmu?” Setelah menyerah mencari informasi klinik misterius malam itu, Sagara pun lanjut mengunjungi pasar untuk mencari perlengkapan yang akan dia bawa di hari perekrutan OSIS nanti. Dia sudah terdaftar sebagai peserta pelatihan dan akan menghabiskan waktu selama tiga hari tiga malam untuk resmi diterima menjadi anggota OSIS sampai proses pelantikan. “Katakanlah begitu, aku menemuimu bukan tanpa alasan sayangnya aku belum bisa mengatakan alasan kehadiranku sebelum kamu mengingat jadi dirimu yang sebenarnya.” “Kenapa harus begitu? Mungkin dengan kau memberitahuku aku akan ingat siapa diriku dengan lebih cepat.” Lelaki itu menaiki tangga menuju toko peralatan kemah, Sagara diminta untuk membeli tambang, gunting, kain warna hijau, dan barang-barang lain plus persediaan makanan juga. Sagara harus belanja sendiri karena kedua temannya memutuskan untuk t
Malam hilangnya Sagara ... Malam itu seperti akan turun hujan, Sagara sedang dalam perjalanan menuju tempat makanan yang dia mau. Pemuda itu berencana membeli seblak tulang dengan tingkat kepedasan level 10, cuaca seperti mendukung niatannya malam ini. Menikmati seblak pedas di tengah rintik hujan yang menyebarkan sensasi dingin, ah pasti nikmat sekali. Di pertigaan sebelum tiba di tempat seblak, Saga mendengar riuh orang-orang yang sedang bercengkerama. Awalnya Saga ingin mengabaikan mereka, hanya saja ketika nama SMA Tribakti disebutkan, hati Sagara tertarik untuk mengetahui siapa saja yang ada di sana dan apa yang sedang dibicarakan orang-orang itu. “Kalian yakin anak-anak Gunar tidak akan menyerang Tribakti karena masalah ini?” tanya seseorang yang entah siapa, Saga melihat sebagian dari mereka masih mengenakan seragam sekolah sedangkan sisanya tidak terlalu jelas mengenakan apa karena Sagara mengintip dari jarak yang cukup jauh. Ia bersemb
“Terima kasih anak muda, kalau tidak ada kamu Ibu tidak tahu lagi harus berbuat apa,” ungkap ibu pemilik tas tadi setelah kembali mendapatkan barangnya. “Sama-sama Bu, lain kali tolong hati-hati. Jangan bepergian sendiri apalagi ke tempat yang rawan penjambretan seperti ini. Ajak anaknya atau siapa saja untuk menemani Ibu.” “Iya, Ibu akan mengingat pesanmu. Ah, wajahmu terluka, kamu pasti dipukuli penjambret tadi bukan? Kamu mau Ibu antar ke dokter?” “Tidak usah, saya baik-baik saja. Hanya sedikit kena tonjok nanti juga sembuh sendiri.” Wanita itu tersenyum lalu mengeluarkan beberapa lembar rupiah, ia mengepalkannya pada Sagara dan anak itu langsung menolak. “Jangan Bu, saya ikhlas menolong Ibu. Ah, itu dia taksinya sudah datang,” ungkap Saga lagi melihat taksi online pesanannya tiba di pinggir jalan—tempatnya dan ibu itu menunggu. “Kamu anak baik. Siapa namamu?” “Sagara.”
Pagi ini semua peserta LDK OSIS sudah berkumpul di lapangan lengkap dengan perlengkapan yang mereka siapkan. Panitia membariskan peserta sesuai dengan tinggi badan mereka agar terlihat lebih rapi. Sagara berada di penjuru paling kanan, ia menyimpan ranselnya di depan kemudian didatangi salah seorang panitia yang hendak memeriksa barang bawaannya.“Maaf kami terlambat!” ungkap seseorang dengan napas terengah-engah, Sagara membulatkan mata mengetahui orang yang baru datang itu adalah Tyana dan tak lama kemudian muncul Omen.“Kenapa kalian terlambat?” todong Damian yang paling tidak suka pada anggota kurang disiplin.“Maaf Kak, tadi angkot yang kami tumpangi bannya bocor jadi kami terpaksa mencari angkot lain dan itu memerlukan waktu yang cukup lama,” jelas Tyana apa adanya.“Alasan klise, kedisiplinan adalah salah satu syarat mutlak untuk menjadi anggota OSIS. Jika sejak awal sudah lalai bagaimana bisa kalian mengab
Meja makan menjadi ramai oleh tawa, Gara dan para penghuni kediaman pendekar Karsayasa sedang sarapan. Di ruangan itu terdapat meja panjang dengan kursi-kursi yang mengelilinginya. Istri pendekar Karsayasa sengaja menyiapkan sajian istimewa untuk menjamu para tamunya yang sebentar lagi akan meninggalkan Purwodadi. Waktu singgah Gara di kerajaan itu memang jauh lebih singkat dari dugaan.Di satu sisi dia bersyukur karena dengan begitu ia bisa mempersingkat waktu uji kehebatan. Targetnya adalah menyelesaikan tujuh tahapan uji kehebatan sebelum purnama kedua belas. Setiap hari, pria itu selalu dilanda khawatir—takut upayanya melebihi batas waktu yang ditentukan. Kembali saat semua keraguan dan kewaswasan menyerangnya, Gara terus menerus menggumamkan bahwa tugasnya hanyalah berusaha sebaik mungkin. Perkara hasil, biarkan itu menjadi ketetapan Yang Maha Mengetahui.“Ahh, ini makanan terenak yang aku makan setelah kurang lebih empat hari terombang-ambing di laut lepas,” ungkap Kumbara yang
Baru saja tiba di pulau, Gara disambut oleh sekelompok orang asing bersenjata yang lagi dan lagi membuat ketiganya siaga.“Belum genap satu jam kita melewati badai aneh, sekarang ujian apa lagi ini ya Allah?” tukas Kumbara tak habis pikir.Sesulit ini perjuangan mereka untuk mengantarkan Gara menjadi pendekar terhebat.“Sepertinya mereka penduduk setempat,” kata Larasati memindai penampilan para prajurit yang menghadang mereka.Sebenarnya barisan prajurit itu tidak benar-benar menghadang. Mereka hanya berdiri tegap dengan persenjataan lengkap seraya membentuk pagar seolah tengah menanti kehadiran seseorang.“Kau tahu dari mana?” tanya Gara.“Lihatlah tanda pengenal yang menggantung di masing-masing sabuk mereka. Semuanya menunjukkan lambang kerajaan Purwodadi, bisa dipastikan mereka adalah utusan kerajaan.”Beberapa orang membuka barisan bersamaan dengan bunyi tapak kuda yang kian mendekat. Seorang pria gagah berambut panjang melompat turun dari kuda yang ditungganginya. Pria itu men
Kemunculan Gara dari pusaran air tak melemahkan amarah monster laut damai. Ia terus memukul-mukul permukaan air melalui tentakel raksasanya. Situasi di sana kacau sekali. Tiba-tiba saja, awan mendung berkumpul membentuk formasi yang menyeramkan. Kilat petir menyambar dan bermunculan di langit gelap. Angin bertiup dengan kecepatan tinggi, menciptakan gulungan ombak besar dan membuat laut bergelombang hebat.Gara baru menyadari keberadaan monster itu, dia pun terkejut karena kini dirinya tengah melayang di udara dengan tameng air yang mengelilinginya. Sungguh di luar nalar, ia merasa seluruh tubuhnya kembali bugar. Persis seperti yang pernah dialaminya ketika melawan pendekar Galasakti sebelumnya.Padahal tadi banyak luka yang diperoleh akibat pertempuran sengitnya dengan panglima Arash. Sagara ingat, dirinya nyaris hilang kesadaran akibat kobaran api yang hampir membakar seluruh tubuhnya. Lantas apa yang terjadi sekarang? Makhluk aneh apa yang ada di depannya itu?
“Besar juga keberanianmu, pendekar Gara. Kukira kau akan melarikan diri seperti kedua temanmu tadi,” kata Panglima Arash, pria bertopeng yang akhirnya kini mendarat di kapal nelayan.Panglima Arash sengaja melarang pasukannya untuk turun tangan kali ini. Dia ingin head to head, atau menghabisi musuh bebuyutannya ini dengan tangannya sendiri. Kali ini, Arash ingin memastikan bahwa urat nadi pendekar Gara benar-benar terputus dengan tebasan tangannya. Arash sudah berjanji pada dirinya sendiri bahwa dia akan menghadiahkan penggalan kepala Gara kepada yang mulia Batara. Calon pemimpin Ambarwangi dari fraksi Barat.“Untuk apa aku melarikan diri di saat aku ingin sekali bertemu denganmu, Panglima Arash,” kata Gara berani sekali. Dia juga gamblang menyebutkan nama Arash dan itu cukup membuat sang panglima terkejut.“Rupanya kau sudah tahu siapa aku,” kata Arash mengakui ketelikan Gara kali ini.“Tentu saja, aku
Menjelang tengah malam, Gara masih belum memejamkan mata sama sekali. Entah mengapa rasa kantuk serta merta hilang dan tak terasa barang sedikit. Dia sudah berusaha mengubah posisi—menghadap kanan, kiri, telentang, tengkurap. Semua sudah ia coba namun tetap tak mendapat titik nyaman. Dia sendiri tidak mengerti mengapa bisa mengalami hal itu. Di saat semua orang tertidur dengan pulasnya, Gara justru gelisah seorang diri.Merasa upayanya tidur tidak akan berhasil, pemuda itu pun memutuskan keluar ruangan. Lebih baik ia menghirup udara segar di luar, siapa tahu perasaannya bisa membaik. Derap langkah Gara terdengar begitu jelas, bersahutan dengan gemuruh angin dan suara ombak laut. Gara berjalan ke arah dek kapal. Ia berdiri di sana sambil matanya menyusuri sekitar. Pria itu yakin tak ada satu pun yang terjaga selain dirinya. Namun, Gara merasa seseorang tengah memperhatikan gerak-geriknya dari kejauhan.Pria itu menarik napas panjang, kemudian menahannya beberapa d
“Akhirnya, kita tiba,” kata Larasati bersamaan dengan senyum mengembang.Lega sekali rasanya bisa tiba di tempat tujuan dengan selamat setelah kurang lebih empat hari mengarungi hamparan laut mega luas dari kerajaan Kentamani ke kerajaan Purwodadi.“Kau tampak bahagia sekali, Laras, bahkan senyummu lebih lebar dibanding ketika aku berhasil mengalahkan pendekar Galasakti. Sejauh yang aku ingat, dalam perjalanan kali ini juga kau jauh lebih tenang,” kata Gara yang berdiri di samping perempuan itu.Mereka berdua sedang berdiri di bagian depan kapal, memandang laut dengan gradasi warna biru dan hijau yang terpadu indah, ditemani refleksi langit yang kini berubah menjelang jingga.“Entahlah, aku hanya menyukai perjalanan kali ini dibanding perjalanan sebelumnya. Apa kau tidak bisa merasakan ketenangan yang dibawa laut ini pada kita?”“Maksudmu?”“Sudah bukan rahasia lagi jika kerajaan Purwodadi terkenal dengan kawasan lautnya yang sangat luas. Selain terkenal dengan kekayaan maritimnya, l
Selepas menemui tuannya, panglima Arash meninggalkan area istana dan berkunjung ke markasnya. Ia meluapkan emosi dengan memanah, puluhan anak panah melesat kencang menembus sasaran yang jauh di depan sana. Tidak ada yang melenceng, semuanya menancap tepat di area merah. Kemampuannya dalam hal ini memang tidak perlu diragukan. Dia sangat mumpuni dalam bertarung, memanah, berkuda, dan merakit senjata tajam. Wajar jika kini dia menyandang gelar sebagai panglima perang yang paling disegani di fraksi barat. Fraksi yang menjadi dalang dari carut marutnya pemerintahan di kerajaan Ambarwangi dan yang telah mencelakai raja Majapati.Saat panglima Arash fokus meluapkan emosi, kedatangan seorang prajurit menghentikan kegiatan itu. Panglima Arash seperti sudah tahu maksud dan tujuan prajurit itu. Ya, memang sebelumnya dirinya yang meminta bawahannya itu untuk menyelidiki sesuatu. Panglima Arash menyimpan peralatan memanahnya, turun dari podium panah dan mengajak bawahannya itu untuk mengobrol di
Seorang prajurit berjalan tergesa melewati koridor kerajaan. Seorang penjaga mengabarkan kedatangannya pada sang ketua yang kini tengah menghuni sebuah ruangan yang dulu dihuni raja Majapati.“Panglima Arash memohon izin menghadap Yang Mulia,” pekik penjaga pintu itu, menyebut ketua mereka dengan sebutan “Yang Mulia” seakan orang itu benar-benar sudah resmi menyandang gelar tersebut.Setelah diperintahkan masuk, kemudian panglima Arash masuk ruangan tersebut. Membungkuk penuh hormat, kemudian dipersilakan duduk oleh sang ketua.“Bagaimana perkembangannya?” tanya sang ketua to the point, seperti sudah tahu hal apa yang akan diinformasikan oleh panglima Arash.“Saya sudah mengerahkan seluruh prajurit melakukan pencarian di hutan Ciwasari selama empat belas hari. Kami susuri semua pelosok hutan bahkan sampai ke gua-gua yang jarang dijamah manusia, namun tidak ditemukan tanda-tanda keberadaan raja Majapati, Tuan.”“Kesimpulannya kau dan pasukanmu gagal lagi?”Panglima Arash kembali tertun
“Mang Basir sudah lama menetap di Kentamani?” tanya Gara yang duduk tepat di samping pak kusir yang tengah berkuda. Sementara Kumbara dan Larasati duduk di kursi belakang bersama barang bawaan mereka.“Oh saya mah dari lahir di sini, Den. Warga asli.”“Berati Mang Basir tahu dong seluk beluk Kentamani ini.”“Ya jelas, Den, makanya mamang nawarin buat nganterin kalian ke perbatasan Kentamani-Purwodadu juga. Mang Basir tahu jalan tercepat menuju sana supaya aden dan teman-teman tidak kemalaman. Kentamani saat malam hari sangat tidak ramah untuk dijelajahi,” tutur mang Basir diselingi kekehan renyah namun mengingatkan ketiga orang itu pada tragedi awal mereka menginjakkan kaki di kerajaan Kentamani.“Ah, mamang bikin saya inget kenangan kelam. Lembah sawer horor banget Mang, sumpah. Itu isinya demit semua, ya?” timpal Kumbara.“Bisa dibilang begitu, Den. Sebenarnya dulu Lembah Sawer tidak semenyeramkan itu, namun setelah banyak oknum yang bersekutu dengan iblis untuk mendapat keuntungan