"Kenapa aku bisa di sini?" Tidak berselang lama, Tirta siuman. Dia pun terkejut melihat situasi di sekitar.Pada saat yang sama, Tirta merasakan tubuhnya dipenuhi oleh energi dahsyat. Dia memeriksanya dengan mata tembus pandang dan tercengang dengan penglihatannya.Mutiara berwarna perak di dalam tubuhnya memiliki jejak seperti kilat. Selain itu, ada api merah menyelimuti mutiara tersebut.Tirta tidak mengerti apa yang terjadi. Dia mengamati ke sekeliling, tetapi tidak melihat jejak ular raksasa itu. "Di mana ular sialan itu?"Tiba-tiba, Tirta menemukan Susanti yang tidak sadarkan diri. Dia memanggil 2 kali, tetapi tidak ada respons apa pun sehingga buru-buru menghampiri untuk memeriksa."Dia nggak keracunan ataupun terluka. Dia cuma kelelahan. Syukurlah," ucap Tirta yang memeluk Susanti. Kemudian, dia mencoba membangunkan Susanti, tetapi tidak bisa karena tubuh Susanti terlalu lemah."Di sini nggak ada makanan apa pun. Sudahlah, kasih dia minum darahku saja." Sesudah berpikir sejenak,
"Uhuk, uhuk .... Kalau begitu, kita cari cara untuk keluar." Tirta tak kuasa menelan ludah saat bertemu pandang dengan Susanti. Sejujurnya, Tirta memahami arti tatapan itu. Polisi wanita ini menyukai dirinya!Namun, Tirta tidak ingin melakukan apa pun untuk sekarang. Dia hanya bisa menahan hasrat dalam hatinya."Sepertinya ini pusat makam kuno. Coba kita keliling dulu, mungkin ada jalan keluar di sini," ucap Susanti sambil meraih tangan Tirta dan mulai mencari-cari di lapangan.Jalan yang mereka lewati sebelumnya lagi-lagi tertutup. Tempat ini sama dengan lapangan di luar, sama-sama terdapat 8 pintu batu dan semuanya tertutup rapat.Tirta mencoba meninju salah satu pintu batu itu, tetapi gagal. Pintu batu itu terlalu kokoh. Padahal, tinju Tirta bisa menghancurkan kaca anti peluru."Hais, apa gunanya membuat begitu banyak pintu batu. Nggak ada satu pun yang bisa dibuka," ujar Tirta yang mulai merasa putus asa. Dia pun terduduk di lantai dengan lelah."Seingatku, wanita itu menyentuh pin
Seketika, ketakutan kembali menyelimuti hati para anggota Black Gloves."Damon, tenang sedikit. Asalkan kita masih hidup, berarti masih ada harapan. Kalaupun monster itu datang, kamu tetap harus tenang. Angkat pistolmu dan tembak dia.""Nyawamu ada di tanganmu sendiri. Kita semua sama. Kita nggak seharusnya menyerah begitu saja!" ucap Alicia untuk menenangkan anggotanya.Tirta mengamati secara diam-diam. Dia merasa wanita ini sangat tenang dan rasional. Situasi sudah begitu kacau, tetapi wanita itu masih bisa menghibur para anggotanya. Dengan kata lain, wanita itu sangat menakutkan."Nona benar. Kita seharusnya melawan dan bukan cuma diam!" Kedua anggota wanita tampak dipenuhi antusiasme."Benar, kita harus melawan monster itu. Sekalipun mati, monster itu harus mati bersama kita!" Pria lainnya mengangkat pistol, mengisyaratkan akan berjuang hingga titik darah penghabisan."Damon, ayo semangat. Kami butuh bantuanmu," ujar Alicia saat melihat suasana hati anggotanya sudah stabil."Dasar
Hati manusia paling sulit diprediksi, terutama sekelompok orang yang sudah terbiasa melanggar hukum. Ketika dihadapkan dengan hidup dan mati, mereka tidak mungkin memikirkan moral lagi.Biasanya, mereka bersedia menuruti perintah Alicia demi kepentingan masing-masing. Namun, di situasi seperti ini, mereka kehilangan perikemanusiaan dan hanya ingin melampiaskan emosi masing-masing!Ketika melihat keempat pria itu mendekat sambil memegang pistol, Alicia dan kedua wanita itu pun memasang ekspresi masam."Mundur! Jangan mendekat atau kami akan menembak kalian!" ancam kedua wanita itu.Damon terkekeh-kekeh dan menimpali, "Sebaiknya kalian jangan melawan lagi. Kalian cuma kambing hitam di mata jalang ini. Dia bisa melihat anggota lain mati, berarti bisa melihat kalian mati juga! Letakkan pistol kalian dan bersenang-senanglah dengan kami!""Benar, Judith. Persetan dengan Black Gloves! Persetan dengan Alicia!" seru seorang pria bernama Jerry yang memperlihatkan tatapan gila."Apa kita perlu ke
"Aku merasa sangat bersalah atas kematian para anggota yang dibunuh monster. Aku juga baru terpikir akan hal ini," ujar Alicia.Ucapan Alicia sontak membuat ketiga pria itu terdiam. Kegilaan mereka telah mereda. Satu per satu menurunkan pistol. Jerry bertanya, "Kamu yakin?"Jelas, siapa yang tidak ingin meninggalkan tempat menyeramkan ini?"Tentu saja, untuk apa aku menipu kalian? Kita ini rekan hidup dan mati," sahut Alicia dengan tegas. Kemudian, dia meneruskan, "Aku bisa memaklumi perbuatan kalian. Setiap manusia akan kehilangan akal sehat di situasi genting. Aku nggak akan mempermasalahkannya.""Baiklah, kami akan menuruti perintahmu. Tolong bawa kami keluar," ujar Jerry setelah bertatapan dengan rekan-rekannya."Wanita ini ternyata tahu banyak hal. Dia bahkan tahu tentang Ramalan Surgaloka. Kalau dia berhasil membuka pintu kehidupan, kita bisa keluar." Tirta berdecak dengan kagum.Sementara itu, Damon yang dicampakkan berseru dengan enggan, "Dasar bodoh! Kalaupun dia tahu jalan ke
'Ternyata nggak ada pintu kehidupan. Wanita ini memang cantik dan postur tubuhnya bagus, tapi dia terlalu licik,' batin Tirta. Selain merasa kecewa, dia makin berwaspada terhadap Alicia.Susanti yang merasa tidak puas mencubit Tirta dan berkomentar, "Mereka itu pelaku kriminal. Kamu masih berharap dia bisa bicara jujur? Jangan tertipu oleh paras wanita yang cantik."Meskipun sudah melihat Alicia membunuh orang, Susanti juga tidak langsung bertindak. Semua orang yang dibunuh Alicia berasal dari Negara Martim. Mereka juga merupakan pelaku kriminal.Menurut Susanti, orang-orang ini pantas dibunuh. Namun, jika tadi Alicia membunuh orang dari Negara Darsia, Susanti pasti tidak akan terus bersembunyi di sini. Susanti akan menangkap Alicia.Melihat 2 wanita dari Negara Martim tampak putus asa, Alicia menghibur, "Nggak apa-apa. Setelah mendapatkan detektor yang hilang dan menemukan makam, kita pasti bisa keluar.""Tapi, Nona ...," ujar kedua wanita itu dengan ekspresi panik. Salah satu dari me
"Nona, ini hanya mitos. Nggak mungkin benar-benar ada," komentar salah satu wanita dari Negara Darsia. Mereka tidak setuju dengan pemikiran Alicia.Alicia menyanggah, "Sebelumnya kalian juga lihat monster itu, 'kan? Itu duyung dari mitos Negara Darsia. Monster itu pun bisa hidup, jadi cerita wanita bertanduk naga itu pasti bukan mitos.""Hanya saja, aku nggak menyangka makam kuno ini begitu besar. Bahkan juga dijaga duyung dan ular raksasa. Takutnya kita nggak bisa menemukan wanita bertanduk naga," lanjut Alicia.Alicia menambahkan, "Sekarang kita cari cara untuk keluar dulu. Kelak kita baru pikirkan cara untuk mencari wanita bertanduk naga."Kedua wanita dari Negara Martim juga tidak terlalu antusias sesudah mengetahui kebenarannya. Saat ini, mereka hanya memikirkan bagaimana caranya menemukan detektor dan keluar dari tempat ini dengan selamat.Hanya saja, mereka sangat kelelahan karena dikejar monster di makam terlalu lama. Mereka yang baru saja duduk untuk beristirahat mulai mengant
"Baik, Nona!"Kedua wanita Negara Martim itu segera mengacungkan pistol, lalu melangkah menuju tempat persembunyian Tirta dengan raut waspada. Alicia mengikuti langkah keduanya dengan ekspresi yang tak kalah serius."Kalau dibiarkan, cepat atau lambat mereka akan menemukan kita. Sebelum mereka membunuh kita, gimana kalau kita serang dan bunuh mereka duluan?" ujar Tirta dengan dingin.Wanita itu membunuh orang tanpa belas kasihan. Tirta tidak berani membiarkannya hidup."Nggak bisa, hanya mereka penjahat yang tersisa. Mereka harus ditangkap hidup-hidup," ujar Susanti dengan keras kepala."Tangkap hidup-hidup? Gimana kalau dalam keadaan separuh mati? Aku bisa patahkan dua tangan dan dua kakinya dulu, gimana? Mengasihani penjahat sama saja dengan menzalimi diri sendiri! Kamu ini polisi, bukan malaikat!" balas Tirta tanpa daya."Oke, deh. Tapi, jangan sampai bahayakan nyawa mereka," kata Susanti sambil mengernyit.Ketika Tirta dan Susanti sedang bicara, kedua wanita Negara Martim di depan
"Memangnya apa yang bisa terjadi padaku, Bella? Jangan pikir yang aneh-aneh. Kamu sudah bekerja seharian. Pasti capek, 'kan? Mau aku pijat bahumu atau kakimu?"Merasa diperhatikan oleh Bella, Tirta tidak bisa menahan senyuman. Dia menarik Bella duduk di atas tempat tidur, menunjukkan sikap manisnya."Hah, seharian ke sana ke sini, bahkan makan pun nggak tenang. Menurutmu, aku capek nggak? Untung kamu masih punya hati, bisa peduli padaku. Pijatnya yang pelan ya. Aku takut kamu meremukkan bahuku." Bella bercanda sambil membalikkan badan membelakangi Tirta."Hehehe, tenang saja. Aku janji bakal pelan-pelan!" Tirta berlari ke kamar mandi untuk mencuci tangan, lalu segera kembali.Tangannya diletakkan di atas bahu Bella, lalu perlahan-lahan turun ke kerah bajunya. Merasakan kulitnya begitu lembut, Tirta langsung menyelinapkan tangannya masuk, memijat, meremas, dan menggoda dengan nakal.Bella sampai mengeluarkan erangan manja. "Mmmh ... dasar kamu ini! Aku sudah capek setengah mati, tapi ka
"Bisa, semua ini cuma perkara kecil. Kami berdua pasti bisa menyelesaikannya," ucap Kurnia menangkupkan tangannya. Bahkan, Kimmy yang keras kepala tadi juga berubah sekarang. Dia mengangguk dengan rendah hati."Kalian berdua kembali dulu ke hotel. Tunggu sampai besok pagi. Aku akan langsung ke turnamen bela diri. Kalau butuh bantuan, aku akan mencari kalian lagi."Di dalam hati, Tirta merasa takjub dengan kehebatan Janji Darah. Dia melambaikan tangannya, memberi isyarat agar Kurnia dan Kimmy pergi.Tepat pada saat itu, terdengar suara langkah kaki yang tergesa-gesa. Yusril dan Chiko ternyata mengejar mereka.Mereka melihat Tirta baik-baik saja, sementara Kurnia yang hendak pergi justru kehilangan satu lengannya dan tampak jauh lebih tua. Bahkan, Kimmy yang berjalan di belakangnya terlihat lesu seperti kehilangan jiwanya. Ayah dan anak itu terkejut bukan main!"Dik, apa benar ... kamu mengalahkan Kurnia sendiri?" Yusril terperanjat dan begitu terkejut hingga beberapa helai janggutnya ik
Kimmy mulai panik. Dia tidak bisa membuat keputusan. Kimmy berkata kepada Kurnia seraya menangis, "Kakek, apa yang harus kita lakukan? Aku masih muda, aku nggak ingin mati. Kak Azhar masih menungguku."Kimmy menambahkan, "Tapi Kakek, kalau suruh aku jadi budaknya, lebih baik aku mati."Sementara itu, Kurnia juga baru menerobos ke tingkat semi abadi. Umurnya sudah bertambah 50 tahun lebih. Ke depannya, mungkin Kurnia bisa menerobos ke tingkat abadi. Tentu saja dia tidak ingin mati.Setelah ragu-ragu sesaat, akhirnya Kurnia mendesah dan membujuk Kimmy, "Kimmy, aku nggak pernah dengar teknik yang dilancarkan orang ini. Jadi, sangat sulit dihadapi. Aku juga nggak ingin berkompromi, tapi kita harus bertahan hidup."Kurnia meneruskan, "Sebaiknya kita terima saja. Paling-paling ke depannya kita cari kesempatan untuk kembali ke dunia misterius dan jangan kembali ke dunia fana selamanya."Tirta tidak keberatan setelah mendengar percakapan Kurnia dan Kimmy dengan jelas. Dia berujar, "Karena kali
Kurnia memutuskan untuk meminta ampun kepada Tirta, tetapi Tirta tidak berniat melepaskan mereka. Tirta tahu dia pasti celaka jika orang lain tahu teknik rahasianya.Hanya saja, Tirta tidak suka membunuh. Dia memang tidak sanggup membunuh Kurnia dan Kimmy. Akhirnya, Tirta mendesah dan berkata kepada Genta, 'Kak, kamu serap energi di dalam tubuh Kurnia saja. Nanti aku suruh Pak Mauri penjarakan mereka seumur hidup.'Genta menanggapi, "Nggak usah, kamu yang mengalahkan orang ini. Suruh dia jadi budakmu saja. Kalau ke depannya masih ada pesilat kuno yang kuat, aku baru serap energinya."Genta menambahkan, "Lagi pula, kamu bisa memerintahkan Kurnia untuk mencari batu dan obat spiritual di dunia misterius setelah mengendalikannya. Dengan begitu, kamu bisa memenuhi perjanjian di antara kita lebih cepat."Tirta tidak menyangka Genta akan berbicara seperti ini. Bahkan, Genta juga terdengar sedikit bangga.Tirta membalas, 'Suruh Kurnia jadi budakku? Mereka berdua nggak seperti Yusril dan Chiko
Kurnia merasa gusar dan juga takut. Hal ini karena dia tidak pernah melihat teknik yang dilancarkan Tirta.Kimmy juga kaget melihat kejadian yang mendadak ini. Dia segera mengingatkan, "Kakek, cepat lepaskan bajumu untuk memadamkan apinya!""Nggak usah, aku punya cara," timpal Kurnia. Dia memasukkan energi ke lengannya yang terbakar, lalu meninju tanah.Namun, api itu tidak padam sedikit pun setelah Kurnia menarik lengannya. Kurnia segera melepaskan bajunya. Api terus membakar lengan Kurnia. Sepertinya sebentar lagi lengan Kurnia akan gosong.Kurnia terpaksa menahan rasa sakit. Dia mengayunkan tangan kirinya dan memotong lengan kanannya. Kalau api merambat ke seluruh tubuhnya, Kurnia pasti akan mati terbakar.Kurnia memegang luka di lengannya yang patah sambil berteriak, "Sialan! Dasar berengsek! Kalau berani, cepat keluar! Aku pasti akan mencincangmu!"Tirta membalas, "Dasar pria tua sialan! Terus teriak saja! Bagaimanapun, aku juga nggak akan keluar!"Tirta yang bersembunyi di dekat
Sekarang sudah pukul 8 malam. Hari ini tidak terlihat bulan di langit, hanya terlihat bintang-bintang. Daerah pegunungan sangat gelap.Namun, Tirta tidak mengurangi kecepatannya. Dia bisa menghindari bebatuan. Mata tembus pandang Tirta bisa membuatnya bergerak dengan mudah dalam kegelapan.Tirta berbalik dan melihat kecepatan Kurnia mulai berkurang. Dia tahu ini bukan karena Kurnia kehabisan tenaga, melainkan karena penglihatan Kurnia terpengaruh saat malam hari. Sementara itu, Yusril dan Chiko sudah ketinggalan.Tirta sengaja mengurangi kecepatannya, lalu menyindir Kurnia, "Kurnia, kamu itu sudah mencapai tingkat semi abadi. Kenapa kamu masih seperti kura-kura? Kalau kamu lebih lambat lagi, aku akan ketiduran saking bosannya. Kamu mau membunuhku dengan kecepatan seperti ini? Jangan harap!"Kurnia juga merasa malu karena tidak bisa mengejar Tirta yang baru mencapai energi internal tahap puncak. Dia membalas, "Hei, kamu nggak akan bisa bangga terlalu lama. Biarpun aku lebih lambat darim
Tirta sering memandangi pemandangan gunung dari kamar Bella. Dia memutuskan untuk memancing Kurnia ke daerah pegunungan yang belum dikembangkan. Tirta akan melawannya di tempat itu.Tirta berseru, "Kurnia, aku ini orang yang kamu cari! Kalau kamu ingin tahu rahasiaku, ikut aku!"Tirta segera berpesan kepada Yusril dan Chiko, "Kalian berdua pulang ke kediaman Keluarga Purnomo dulu. Aku akan segera cari kalian."Selesai bicara, Tirta tidak peduli Yusril dan Chiko mengikuti arahannya atau tidak. Dia sudah mengerahkan Teknik Pengendali Angin dan pergi ke daerah pegunungan di dekat sana.Teknik Pengendali Angin bisa menambah kecepatan gerakan Tirta. Saat berlari, Tirta seperti didorong oleh angin. Bukan hanya kecepatannya meningkat, Tirta juga tidak merasa lelah sedikit pun. Dalam sekejap, Tirta sudah berlari sejauh belasan meter.Kurnia berujar, "Apa? Ternyata dia itu orang yang membunuh Naushad! Pantas saja! Aku nggak boleh biarkan dia kabur."Kurnia terbelalak. Melihat Tirta pergi, dia l
Kedua serangan yang dahsyat beradu dan menimbulkan suara dentuman. Aliran energi yang kuat menyebar di sekeliling gazebo sehingga suasananya terasa mencekam.Dengan Tirta dan Kurnia yang berada di tengah sebagai pusat, angin berembus hingga membuat pepohonan di sekitar gazebo bergemeresik. Kedua telapak tangan mereka beradu hanya sekejap, lalu kembali terpisah.Tirta mundur beberapa langkah. Lengannya sedikit kebas. Dia menceletuk, "Sialan!"Kurnia yang diam-diam menyerang Tirta juga mundur. Dia mengamati Tirta dan berkomentar sembari mengernyit, "Orang ini ... nggak sederhana!"Sudah jelas Kurnia tidak menyangka Tirta bisa melawan serangannya. Bahkan, Tirta terlihat baik-baik saja.Kimmy tidak melihat kejadian yang diperkirakannya. Dia berteriak, "Apa? Serangan Kakek nggak membuatnya mati? Dia juga nggak terluka ... ini nggak mungkin!""Tirta, kamu nggak apa-apa, 'kan?" tanya Yusril. Dia dan Chiko segera menghampiri Tirta. Mereka juga tidak memperkirakan hasil seperti ini.Tirta makin
Yusril menceletuk, "Suaranya begitu keras. Setidaknya dia sudah mencapai tingkat semi abadi!"Chiko menimpali, "Gawat! Apa Kurnia benar-benar datang?"Ekspresi Yusril dan Chiko berubah drastis. Mereka melihat sekeliling dengan waswas, lalu melindungi Tirta. Namun, mereka tidak menemukan keberadaan Kurnia.Yusril dan Chiko makin cemas karena tidak melihat Kurnia. Jika Kurnia tiba-tiba melancarkan serangan saat mereka lengah, mereka bukan hanya tidak bisa melindungi Tirta. Bahkan, mereka berdua akan mati."Ternyata Kurnia datang," ucap Tirta yang terkejut. Dia segera memanggil Genta. Tirta memang sudah mencapai tingkat pembentukan energi tahap ketiga, tetapi dia tidak berani melawan Kurnia hanya dengan mengandalkan kekuatannya sendiri.Sebelum menjadi benar-benar hebat, sebaiknya Tirta memikirkan keselamatannya. Tidak disangka, Genta malah mengancam Tirta pada saat-saat seperti ini, "Aku bisa bantu kamu lawan dia, tapi kamu harus mengakui kesalahanmu padaku dulu."Tirta mengeluh, 'Kak, a