Sean sudah memperingatkan bahwa jika Tiffany tetap membawa anak-anaknya menginap di hotel, dia akan memerintahkan Chaplin dan beberapa pengawal untuk berjaga di depan hotel, bahkan melakukan pemeriksaan keamanan terhadap tamu-tamu lain. Alasannya adalah karena dia khawatir ada orang yang akan menyakiti anak-anaknya.Bagaimanapun, status Sean di Kota Aven telah membuatnya memiliki banyak musuh.Tiffany tidak ingin ribet. Itulah alasannya dia setuju untuk tinggal di rumah Keluarga Tanuwijaya untuk sementara waktu. Namun, dilihat dari kondisinya sekarang ....Arlene menatap Tiffany dengan mata membelalak. "Mama, bukannya kita tinggal di rumah Paman Ganteng?"Tiffany tersenyum tipis dan menggendong Arlene dengan santai. "Pacarnya Paman Ganteng nggak akan setuju." Setelah berkata demikian, dia melirik ke arah Arlo.Arlo langsung mengerti maksud Tiffany. Dia buru-buru melompat turun dari kursi dan mengambil tas Tiffany. "Mama, ayo pergi!"Sean mengerutkan alisnya, lalu mengangkat tangannya u
Tiffany mengerutkan alisnya dan segera berusaha melepaskan diri dari pelukan Sean. "Pulang ke mana?"Di Kota Aven, dia sudah lama tidak punya rumah lagi. Namun, tenaganya jelas tidak sebanding dengan Sean. Pria itu tetap memeluknya erat dan membujuk dengan penuh kesabaran."Tiffany, kamu sudah lima tahun nggak kembali. Kak Rika dan yang lainnya rindu sekali sama kamu. Apa kamu benar-benar nggak mau pulang dan melihat mereka? Lalu, pohon yang dulu kamu tanam di halaman dan ...."Tatapan Sean beralih ke kedua anak mereka. "Anak-anak juga belum pernah melihat tempat di mana kita dulu tinggal bersama."Tiffany tetap terperangkap dalam pelukannya. Usahanya untuk melepaskan diri berakhir sia-sia dan pada akhirnya, dia hanya bisa menatap Sean dengan tatapan kesal."Aku sudah bilang, selesaikan dulu masalah sama penyelamat hidupmu sebelum datang mencariku!""Nggak ada yang perlu diselesaikan." Mata Sean yang hitam pekat, menatap Tiffany dengan erat. "Kami nggak ada hubungan apa pun. Kenapa dia
Melihat Sean seperti ini, Tiffany tidak bisa lagi mengucapkan kata-kata yang lebih ketus. Pada akhirnya, dia hanya bisa menghela napas pelan."Baiklah. Tapi aku mau kamu segera menyelesaikan semuanya dengannya. Tadi adik orang itu menerobos ruangan sampai ngagetin anak-anak. Aku nggak mau lihat kejadian seperti hari ini terulang lagi."Sean mengatupkan bibirnya dan mengangguk tegas. "Aku janji."Mendengar jawaban yang meyakinkan darinya, Tiffany akhirnya menghela napas panjang, lalu tanpa sadar menyandarkan kepalanya ke bahu Sean. "Aku capek sekali."Tiffany benar-benar merasa lelah. Bukan hanya karena perjalanan panjang hari ini, tetapi juga karena beban emosional yang terus menghimpitnya. Setiap hari yang dia habiskan bersama Sean selalu penuh tekanan dan kecemasan.Untuk saat ini, Zara masih bisa mengurus Keluarga Japardi di Elupa. Namun, bagaimana jika suatu hari nanti para pemegang saham mengetahui bahwa dia dan Sean masih berhubungan baik? Apa reaksi mereka?Tiffany tahu dia tida
Rumah Keluarga Tanuwijaya masih tampak sama seperti sebelumnya. Begitu Genta menghentikan mobil di depan pintu utama, Sean langsung turun dengan Tiffany dalam gendongannya.Sementara itu, Arlo duduk di kursinya dengan frustrasi sambil memeluk Arlene yang tertidur nyenyak di pundaknya dan bahkan sampai mengences. Dia ingin sekali menggendong adiknya turun dari mobil secara langsung agar tidak mengganggu istirahatnya.Akan tetapi, dia baru berusia lima tahun!Adiknya juga lima tahun!Meskipun Arlene sedikit lebih kecil darinya, Arlo tetap saja tidak punya tenaga untuk menggendongnya. Arlo awalnya berpikir bahwa Sean akan kembali ke mobil setelah mengantar Tiffany ke kamar dan membantunya membawa Arlene.Namun, setelah menunggu sekian lama, Sean tidak juga muncul kembali. Saat itulah Arlo menyadari bahwa Arlene dan dirinya tidak mendapat perlakuan yang sama dengan ibu mereka!Dasar pria kejam!Bukankah katanya seorang pria yang sudah punya anak biasanya akan mulai mengabaikan istrinya? Ke
Setelah memastikan semuanya, Sean tetap duduk di tepi tempat tidur sambil menatap Tiffany yang terlelap. Dia tidak bergerak sedikit pun atau menunjukkan tanda-tanda bosan. Seperti seorang anak kecil yang tengah menatap mainan favoritnya.Melihat punggung Sean seperti itu, hati Arlo juga ikut merasa lega. Sepertinya, hanya orang yang benar-benar menyayangi seseorang yang bisa duduk diam dan menatapnya seperti itu, 'kan?Lagi pula, kalau dia disuruh menatap Arlene dalam waktu lama, dia pasti sudah bosan sejak tadi.Tiffany tidur sangat nyenyak. Dari luar pintu, Arlo bahkan masih bisa mendengar napas ibunya yang teratur dan tenang. Arlo menggelengkan kepalanya pelan.Di mata orang lain, ibunya adalah sosok dokter yang tegas, dingin, dan sulit didekati. Namun, hanya di depan orang-orang terdekatnya, Tiffany berubah menjadi seseorang yang ceroboh, tidak terlalu peduli dengan penampilannya, dan sering kali bertingkah konyol.Itulah keunikannya, sekaligus kelemahannya.Tiffany hanya menunjukk
"Kak!"Lena mendorong pintu kamar rumah sakit dengan kesal dan langsung duduk di tepi tempat tidur Vivi dengan wajah cemberut."Kak! Aku sudah bilang dari dulu kalau Sean itu nggak bisa diandalkan! Seharusnya kamu langsung memastikan hubungan kalian tiga tahun lalu! Tapi kamu malah menolaknya! Sekarang lihat hasilnya! Dia bukan cuma bawa mantan istrinya kembali, tapi juga bawa dua anaknya!"Lena mengangkat tangannya dan menunjukkan tinggi anak-anak itu dengan gerakan dramatis. "Dua anak itu sudah sebesar ini!""Kalau kamu benar-benar menikah sama dia sekarang, kamu harus jadi ibu tiri!""Harusnya tiga tahun lalu kamu menikah sama dia, lalu melahirkan anak untuknya juga! Dengan begitu, nggak ada yang perlu jadi ibu tiri bagi siapa pun!"Ketika mengingat ekspresi dingin Sean saat di restoran tadi, Lena merasa semakin marah dan cemas."Kak, sekarang mantan istrinya sudah kembali! Dia pasti nggak akan memperlakukan kita seperti dulu lagi! Dia nggak akan memberikan uang untuk biaya perawata
Keesokan harinya setelah tiba di Kota Aven, Tiffany langsung menghubungi dokter yang direkomendasikan Direktur Rumah Sakit Kintan kepadanya."Dokter Tiffany ya?" Dokter di ujung telepon terdengar sangat antusias. "Akhirnya kamu menghubungi kami!""Kami dari lembaga penelitian Kota Aven. Saat Pak Morgan merekomendasikanmu kepada kami, kami sangat senang! Kami nggak nyangka kamu benar-benar menghubungi kami!"Tiffany sedikit terkejut. "Kamu bilang dari ... lembaga penelitian Kota Aven?""Ya!"Suara dokter di telepon terdengar sangat ramah. "Apa kamu punya waktu untuk datang dan wawancara? Kalau kamu sedang berada di luar kota, kami bisa menunggu kok ....""Nggak perlu." Tiffany menarik napas dalam, suaranya mengandung kegembiraan yang sulit disembunyikan. "Aku bisa datang sore ini."Tepat pukul 2 siang, Tiffany tiba di depan gedung lembaga penelitian. Direktur mereka, Edwin, langsung menyambutnya dengan antusias. "Dok Tiff, aku sudah sering mendengar tentang pencapaian dan pengalaman ker
Tiffany menghentikan langkahnya. Dia tentu ingat gadis bernama Lena ini.Bukan hanya karena gadis ini kemarin menerobos masuk ke ruang privat tempat dia dan anak-anak makan, tetapi juga karena kesombongannya di bandara.Dengan tenang, Tiffany mengangkat pandangannya dan menatap Lena yang duduk di dalam Porsche merah. Tatapannya jernih dan datar. "Siapa kakakmu?"Lena tertawa dingin. "Kamu nggak tahu?"Tiffany mengangguk santai. "Memang nggak tahu.""Heh." Lena tertawa ringan. "Kakakku adalah penyelamat nyawa mantan suamimu!""Kalau bukan karena kakakku yang mempertaruhkan nyawanya waktu itu, kamu nggak akan bisa bertemu Sean lagi, apalagi berpikir untuk memperbaiki hubungan dengannya!"Tiffany hanya bergumam pelan. "Begitu ya. Baiklah, sampaikan kepada kakakmu, aku nggak ingin menemuinya."Setelah berkata demikian, Tiffany mengangkat tangannya yang menjinjing tas, lalu berbalik pergi dengan anggun.Lena membelalakkan mata. Dia segera menginjak pedal gas untuk mengejar Tiffany. "Tiffany
Tiffany mengerutkan alisnya. Vivi datang?"Kami nggak boleh datang?" Segera, suara arogan Lena terdengar dari arah pintu. "Di mana Tiffany? Dia nggak mau ikut denganku ke rumah sakit untuk menemui kakakku, jadi aku membawa kakakku ke sini untuk menemuinya. Boleh, 'kan?""Lena." Begitu gadis itu selesai berbicara, suara lembut pun terdengar. "Jangan seperti ini."Kemudian, Vivi berbalik menatap Rika. "Aku datang untuk minta maaf kepada Bu Tiffany. Apa dia ada di rumah?""Eee ...." Rika terlihat ragu.Hari ini, paman dan bibi Tiffany ada di sini. Kurang pantas jika mengizinkan Vivi dan Lena masuk. Akan tetapi ...."Aku di sini." Sebelum Rika bisa memikirkan cara untuk menolak, Tiffany sudah melepaskan celemeknya dan berjalan mendekat dengan tenang. "Jadi, ini Bu Vivi?"Dia mengangkat alisnya, tatapannya dingin saat mengamati wanita di depannya. Wanita itu duduk di kursi roda, dengan selimut tipis menutupi kakinya. Dari bagian bawah selimut, Tiffany bisa melihat kedua kakinya digips.Dia
Mereka tiba sekitar pukul 3 sore. Tiffany sebenarnya ingin bertemu mereka di luar, tetapi karena Arlene merasa kurang enak badan dan terus merengek tidak ingin keluar, Tiffany memutuskan untuk menjamu mereka di rumah Keluarga Tanuwijaya."Ini juga nenek dan kakek kalian," ucap Tiffany.Arlo dan Arlene bersandar di sisi Kendra dengan manja, terus memintanya menceritakan kisah masa kecil Tiffany.Kendra sangat menyukai kedua bocah kecil itu. Dia menggendong Arlene, menggenggam tangan Arlo, dan mulai bercerita tentang berbagai hal menarik yang dilakukan Tiffany saat masih kecil di desa."Paman masih sama seperti dulu, nggak berubah sedikit pun." Di dapur, Tiffany sibuk menyiapkan makan malam. Dia merasa emosional mendengar cerita masa kecilnya."Apaan? Aku sudah tua begini, masa kamu nggak bisa melihatnya?" timpal Kendra.Indira tertawa sambil membersihkan sayuran. "Tiff, kamu sudah pulang. Nggak pergi lagi, 'kan?"Tangan Tiffany yang sedang mencuci sayuran membeku sesaat. "Belum pasti, B
Tiffany menghentikan langkahnya. Dia tentu ingat gadis bernama Lena ini.Bukan hanya karena gadis ini kemarin menerobos masuk ke ruang privat tempat dia dan anak-anak makan, tetapi juga karena kesombongannya di bandara.Dengan tenang, Tiffany mengangkat pandangannya dan menatap Lena yang duduk di dalam Porsche merah. Tatapannya jernih dan datar. "Siapa kakakmu?"Lena tertawa dingin. "Kamu nggak tahu?"Tiffany mengangguk santai. "Memang nggak tahu.""Heh." Lena tertawa ringan. "Kakakku adalah penyelamat nyawa mantan suamimu!""Kalau bukan karena kakakku yang mempertaruhkan nyawanya waktu itu, kamu nggak akan bisa bertemu Sean lagi, apalagi berpikir untuk memperbaiki hubungan dengannya!"Tiffany hanya bergumam pelan. "Begitu ya. Baiklah, sampaikan kepada kakakmu, aku nggak ingin menemuinya."Setelah berkata demikian, Tiffany mengangkat tangannya yang menjinjing tas, lalu berbalik pergi dengan anggun.Lena membelalakkan mata. Dia segera menginjak pedal gas untuk mengejar Tiffany. "Tiffany
Keesokan harinya setelah tiba di Kota Aven, Tiffany langsung menghubungi dokter yang direkomendasikan Direktur Rumah Sakit Kintan kepadanya."Dokter Tiffany ya?" Dokter di ujung telepon terdengar sangat antusias. "Akhirnya kamu menghubungi kami!""Kami dari lembaga penelitian Kota Aven. Saat Pak Morgan merekomendasikanmu kepada kami, kami sangat senang! Kami nggak nyangka kamu benar-benar menghubungi kami!"Tiffany sedikit terkejut. "Kamu bilang dari ... lembaga penelitian Kota Aven?""Ya!"Suara dokter di telepon terdengar sangat ramah. "Apa kamu punya waktu untuk datang dan wawancara? Kalau kamu sedang berada di luar kota, kami bisa menunggu kok ....""Nggak perlu." Tiffany menarik napas dalam, suaranya mengandung kegembiraan yang sulit disembunyikan. "Aku bisa datang sore ini."Tepat pukul 2 siang, Tiffany tiba di depan gedung lembaga penelitian. Direktur mereka, Edwin, langsung menyambutnya dengan antusias. "Dok Tiff, aku sudah sering mendengar tentang pencapaian dan pengalaman ker
"Kak!"Lena mendorong pintu kamar rumah sakit dengan kesal dan langsung duduk di tepi tempat tidur Vivi dengan wajah cemberut."Kak! Aku sudah bilang dari dulu kalau Sean itu nggak bisa diandalkan! Seharusnya kamu langsung memastikan hubungan kalian tiga tahun lalu! Tapi kamu malah menolaknya! Sekarang lihat hasilnya! Dia bukan cuma bawa mantan istrinya kembali, tapi juga bawa dua anaknya!"Lena mengangkat tangannya dan menunjukkan tinggi anak-anak itu dengan gerakan dramatis. "Dua anak itu sudah sebesar ini!""Kalau kamu benar-benar menikah sama dia sekarang, kamu harus jadi ibu tiri!""Harusnya tiga tahun lalu kamu menikah sama dia, lalu melahirkan anak untuknya juga! Dengan begitu, nggak ada yang perlu jadi ibu tiri bagi siapa pun!"Ketika mengingat ekspresi dingin Sean saat di restoran tadi, Lena merasa semakin marah dan cemas."Kak, sekarang mantan istrinya sudah kembali! Dia pasti nggak akan memperlakukan kita seperti dulu lagi! Dia nggak akan memberikan uang untuk biaya perawata
Setelah memastikan semuanya, Sean tetap duduk di tepi tempat tidur sambil menatap Tiffany yang terlelap. Dia tidak bergerak sedikit pun atau menunjukkan tanda-tanda bosan. Seperti seorang anak kecil yang tengah menatap mainan favoritnya.Melihat punggung Sean seperti itu, hati Arlo juga ikut merasa lega. Sepertinya, hanya orang yang benar-benar menyayangi seseorang yang bisa duduk diam dan menatapnya seperti itu, 'kan?Lagi pula, kalau dia disuruh menatap Arlene dalam waktu lama, dia pasti sudah bosan sejak tadi.Tiffany tidur sangat nyenyak. Dari luar pintu, Arlo bahkan masih bisa mendengar napas ibunya yang teratur dan tenang. Arlo menggelengkan kepalanya pelan.Di mata orang lain, ibunya adalah sosok dokter yang tegas, dingin, dan sulit didekati. Namun, hanya di depan orang-orang terdekatnya, Tiffany berubah menjadi seseorang yang ceroboh, tidak terlalu peduli dengan penampilannya, dan sering kali bertingkah konyol.Itulah keunikannya, sekaligus kelemahannya.Tiffany hanya menunjukk
Rumah Keluarga Tanuwijaya masih tampak sama seperti sebelumnya. Begitu Genta menghentikan mobil di depan pintu utama, Sean langsung turun dengan Tiffany dalam gendongannya.Sementara itu, Arlo duduk di kursinya dengan frustrasi sambil memeluk Arlene yang tertidur nyenyak di pundaknya dan bahkan sampai mengences. Dia ingin sekali menggendong adiknya turun dari mobil secara langsung agar tidak mengganggu istirahatnya.Akan tetapi, dia baru berusia lima tahun!Adiknya juga lima tahun!Meskipun Arlene sedikit lebih kecil darinya, Arlo tetap saja tidak punya tenaga untuk menggendongnya. Arlo awalnya berpikir bahwa Sean akan kembali ke mobil setelah mengantar Tiffany ke kamar dan membantunya membawa Arlene.Namun, setelah menunggu sekian lama, Sean tidak juga muncul kembali. Saat itulah Arlo menyadari bahwa Arlene dan dirinya tidak mendapat perlakuan yang sama dengan ibu mereka!Dasar pria kejam!Bukankah katanya seorang pria yang sudah punya anak biasanya akan mulai mengabaikan istrinya? Ke
Melihat Sean seperti ini, Tiffany tidak bisa lagi mengucapkan kata-kata yang lebih ketus. Pada akhirnya, dia hanya bisa menghela napas pelan."Baiklah. Tapi aku mau kamu segera menyelesaikan semuanya dengannya. Tadi adik orang itu menerobos ruangan sampai ngagetin anak-anak. Aku nggak mau lihat kejadian seperti hari ini terulang lagi."Sean mengatupkan bibirnya dan mengangguk tegas. "Aku janji."Mendengar jawaban yang meyakinkan darinya, Tiffany akhirnya menghela napas panjang, lalu tanpa sadar menyandarkan kepalanya ke bahu Sean. "Aku capek sekali."Tiffany benar-benar merasa lelah. Bukan hanya karena perjalanan panjang hari ini, tetapi juga karena beban emosional yang terus menghimpitnya. Setiap hari yang dia habiskan bersama Sean selalu penuh tekanan dan kecemasan.Untuk saat ini, Zara masih bisa mengurus Keluarga Japardi di Elupa. Namun, bagaimana jika suatu hari nanti para pemegang saham mengetahui bahwa dia dan Sean masih berhubungan baik? Apa reaksi mereka?Tiffany tahu dia tida
Tiffany mengerutkan alisnya dan segera berusaha melepaskan diri dari pelukan Sean. "Pulang ke mana?"Di Kota Aven, dia sudah lama tidak punya rumah lagi. Namun, tenaganya jelas tidak sebanding dengan Sean. Pria itu tetap memeluknya erat dan membujuk dengan penuh kesabaran."Tiffany, kamu sudah lima tahun nggak kembali. Kak Rika dan yang lainnya rindu sekali sama kamu. Apa kamu benar-benar nggak mau pulang dan melihat mereka? Lalu, pohon yang dulu kamu tanam di halaman dan ...."Tatapan Sean beralih ke kedua anak mereka. "Anak-anak juga belum pernah melihat tempat di mana kita dulu tinggal bersama."Tiffany tetap terperangkap dalam pelukannya. Usahanya untuk melepaskan diri berakhir sia-sia dan pada akhirnya, dia hanya bisa menatap Sean dengan tatapan kesal."Aku sudah bilang, selesaikan dulu masalah sama penyelamat hidupmu sebelum datang mencariku!""Nggak ada yang perlu diselesaikan." Mata Sean yang hitam pekat, menatap Tiffany dengan erat. "Kami nggak ada hubungan apa pun. Kenapa dia