"Anya, apa kamu baik-baik saja?" Suara Jason menyita kembali perhatian Alicia. Ia pun mengangkat wajahnya, menatap pria itu dan mengangguk tipis. “Benarkah?” Jason masih menatap Alicia dengan penuh kekhawatiran. Sejak tadi ia memperhatikan Alicia tidak berkonsentrasi dengan dansa mereka seolah ada sesuatu hal yang dipikirkannya. Alicia tersenyum simpul, berusaha menyembunyikan kegelisahannya di balik wajah yang tenang. “Ya, aku baik-baik saja,” jawabnya, meski di dalam hati, meski dalam hatinya ia sudah ingin mengakhiri dansa tersebut. Jason masih menatapnya dengan penuh perhatian. “Kalau kamu merasa tidak enak badan, kita bisa istirahat sejenak,” sarannya, sesuatu yang sangat diharapkan Alicia. “Baiklah,” sahut Alicia dengan cepat. Mendengar tanggapan wanita itu, Jason pun tersenyum nakal. “Padahal tidak ada salahnya kalau kamu meminta berhenti tadi,” godanya. Alicia pun tersenyum kikuk. Tanpa mengatakan apa pun, ia mengikuti Jason melangkah meninggalkan lantai dansa. Akan tet
“Anya, bertahanlah. Kita hampir sampai.”Kekhawatiran terlukis jelas di wajah Reinhard. Pria itu tidak melepaskan pandangannya dari wajah pucat istrinya tersebut sejak mereka meninggalkan hotel. Kedua tangannya terus menggenggam tangan Alicia dengan erat.Ingatan tiga tahun lalu akan kehilangan sosok wanita yang begitu berarti baginya kembali mengusik pikiran Reinhard, membuatnya merasakan ketakutan akan kehilangan lagi.Melihat reaksi yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya dari pria itu, Alicia hanya bisa tersenyum lemah. Walaupun ia tidak dapat melihat jelas wajah suaminya tersebut, tetapi ia dapat merasakan perhatian tulus dari pria itu“Rein, aku ….”“Berhentilah bicara. Kamu pasti akan baik-baik saja,” ucap Reinhard seraya memeluk tubuh istrinya dengan perasaan yang berkecamuk hebat di dalam hatinya.“Aku tidak akan membiarkanmu pergi kali ini. Tidak akan,” gumam Reinhard lebih lanjut, ada guncangan emosi yang terdengar dari suaranya.Alicia yang mulai kehilangan kesadaran han
“Kalau memang dia adalah wanita itu, apa yang akan kamu lakukan, Rein? Dan kalaupun bukan, apa yang akan kamu lakukan kepada Anya?”Dua pertanyaan yang dilontarkan Austin, membuat Reinhard terdiam lebih lama. Ia menatap kosong ke arah lantai, bergelut dengan perasaannya yang campur aduk.“Ini tidak adil bagi Anya, Rein.”Satu kalimat terakhir yang ditinggalkan Austin setelah istrinya dipindahkan ke ruang rawat inap, masih terngiang di dalam benak Reinhard. Ia tahu Austin benar—apa pun kenyataannya, Anya adalah istrinya saat ini.Namun, bayang-bayang Alicia masih menghantui pikirannya dan ia telah terjebak di dalam perasaannya. Tidak mudah baginya untuk mengabaikan hal itu.“Apa yang aku lakukan seandainya dia memang adalah Alicia?”Pertanyaan serupa seperti itu berulang kali menggema di dalam pikiran Reinhard. Ia menyadari jika ia juga tidak memiliki jawaban pasti akan hal tersebut.Satu hal yang terlintas di dalam benak Reinhard hany
“Kamu … sudah sadar rupanya,” gumam pria itu dengan suara serak setelah terbangun.“Y-ya,” sahut Alicia seraya mengangguk pelan.Kening Reinhard mengernyit saat mendengar nada suara Alicia yang masih terdengar lemah. Ia pun bergegas bangkit dari sofa dan menghampirinya.“Apa kamu masih merasa ada yang tidak nyaman?” tanya Reinhard, khawatir.Namun, Alicia hanya menggeleng. Ia masih memunggungi pria itu, berharap Reinhard tidak melihat wajahnya yang masih basah oleh jejak air mata. Ia mengigit bibir bawahnya kuat-kuat, khawatir suara isak tangisnya lolos tanpa terkendali.Keheningan menyelimuti ruangan selama beberapa detik hingga terdengar suara dehaman keras dari Reinhard yang berusaha melegakan tenggorokannya yang kering. Reinhard merasa ada yang salah dengan istrinya.Wanita itu masih berdiri mematung di tempatnya. Melihat punggung dingin istrinya itu, ia pun berjalan lebih dekat, mengulurkan tangannya, lalu menyentuh pundaknya dengan lembut.Tindakan Reinhard membuat Alicia tersen
Dulu Alicia memang selalu mencari cara untuk menarik perhatian Reinhard, tetapi tidak pernah berhasil. Namun, sekarang tiba-tiba saja pria itu peduli padanya setelah ia tidak lagi berminat untuk menaruh perasaan padanya.Alicia tidak tahu harus memasang wajah apa untuk menanggapi sikap suaminya saat ini. Namun, jauh di dalam lubuk hatinya, ia sangat senang karena Reinhard akhirnya menunjukkan perhatian yang selama ini ia harapkan.Hanya saja, di balik perasaan senangnya, ada kebingungan besar yang menghantui Alicia. Mengapa Reinhard tiba-tiba berubah? Apa yang sebenarnya pria itu inginkan? Apakah ini nyata dan tulus?Kedua tangan Alicia terkepal erat, menahan perasaan yang sedang membuncah di dalam dadanya. Dengan sorot mata tertuju dalam kepada Reinhard, ia pun memberanikan diri untuk bertanya, “Apa kamu … marah karena cemburu, Rein?”Ketegangan di sekeliling ruangan pun meningkat karena pertanyaan itu. Reinhard juga terdiam selama beb
“Aku hanya kebetulan bertemu Iris di depan hotel dan dia kebetulan juga diundang ke acara itu. Dari awal aku tidak berpikir untuk membawa pasangan karena aku ke sana hanya untuk bersosialisasi saja. Bukan untuk memamerkan kemesraan dengan siapa pun.”Alicia mendengarkan penjelasan Reinhard dalam diam. Ia pun menyadari jika semua hanyalah kesalahpahaman yang terjadi akibat ketidakpercayaannya terhadap Reinhard. Kecemburuannya yang telah menguasai pikirannya dan membuatnya bertindak tanpa berpikir panjang.Meskipun Alicia kini menyadari bahwa kecemburuannya mungkin berlebihan, perasaan itu masih melekat kuat di dalam hatinya.Pemandangan Reinhard dan Iris yang bersama di pesta masih membayang di benaknya, terutama bagaimana mereka terlihat begitu cocok berdampingan membuatnya sulit untuk percaya jika Reinhard tidak pernah tertarik sedikit pun kepada wanita itu."Padahal aku pikir tidak perlu menjelaskan masalah seperti ini," lanjut Reinhard, kini menatap Alicia dengan tatapan yang lebih
Alicia pun menceritakan awal pertemuannya dengan Jason dan alasan kedatangannya semalam ke hotel kepada Reinhard. Tidak ada lagi yang Alicia tutupi mengenai hal tersebut agar kesalahpahaman mereka benar-benar terselesaikan.Selama mendengarkan ceritanya, raut wajah Reinhard berubah sangat dingin. Pria itu merasa ada sesuatu hal yang mencurigakan dari sosok Jason Hughes tersebut. Firasatnya sebagai seorang lelaki mengatakan jika Jason memang memiliki ketertarikan terhadap istrinya. “Nyalimu benar-benar besar, Anya. Bisa-bisanya kamu menerima tawaran orang asing," ucap Reinhard, berusaha menahan diri untuk menjaga kestabilan emosinya dalam berhadapan dengan wanita itu.“Kamu lupa? Aku juga menerima tawaranmu untuk menikah?” Alicia membalas, tidak ingin disalahkan.“Hal itu dan hal ini adalah dua hal yang berbeda, Anya,” jawab Reinhard.“Tapi, dia baik kok walau sempat menyebalkan di awal.” Alicia masih membela pria itu.Mendengarnya saja, telinga Reinhard terasa panas. “Tidak ada orang
“Apa Divine dan Helios sudah menjalin kontrak kerja sama?”Reinhard mengangkat satu alis, matanya memperhatikan gerak-gerik Alicia dengan penuh curiga saat mendengar pertanyaannya yang mendadak dilontarkan oleh istrinya tersebut. “Ada apa? Kenapa tiba-tiba kamu tertarik dengan masalah seperti ini?” tanyanyaAlicia merasa sedikit terpojok oleh tatapan tajam Reinhard, tetapi ia mencoba bersikap santai dengan berdeham pelan. “Tidak. Aku hanya menebak kalau kamu datang ke acara itu karena ingin menjadikan Helios sebagai mitra kerja Divine.”Melihat Reinhard tetap diam, Alicia menyadari jika dirinya mungkin sudah bertanya terlalu jauh. Padahal ia hanya ingin memastikan hubungan antara Divine dan Helios, tetapi sepertinya Reinhard menangkap sesuatu yang lain dari pertanyaannya.Setelah keheningan beberapa saat, Reinhard akhirnya berbicara lagi, tetapi kali ini dengan nada yang lebih tajam dan penuh selidik. “Bukan karena kamu tertarik dengan si gondrong itu?” tanyanya dengan curiga.Alicia
Reinhard terlihat kesal. Sebenarnya ia ingin sekali turun tangan sendiri untuk menangani Ken. Akan tetapi, karena ia harus menjalani pemulihan di rumah sakit, Reinhard meminta para bawahan Dark Wolf untuk menggantikannya memberikan pelajaran kepada pria itu.Dalam kondisi terluka parah dan faktor usia yang tak lagi muda, Ken meregang nyawa lebih cepat setelah mengalami berbagai penyiksaan yang diperintahkan Reinhard.Meskipun menyesal tidak dapat menanganinya sendiri, tetapi Reinhard merasakan kelegaan yang luar biasa dengan kematian pria itu. Satu ancaman bagi Alicia telah lenyap, dan Reinhard bisa memenuhi janjinya kepada Regis.“Kamu sudah mengirimkan hasilnya kepada Regis?” tanya Reinhard.Ia memang meminta Austin menyelesaikan tugas itu sebagai bagian dari syarat yang diberikan Regis. Untuk memastikan mayat itu benar-benar Ken Stewart, Reinhard sengaja meminta otopsi. Ia tidak ingin tertipu seperti Alexei dulu, yang sempat terkecoh oleh kematian palsu Ken.“Tenanglah. Aku sudah m
Dua minggu sudah Reinhard dirawat di rumah sakit. Hari ini akhirnya ia sudah diperbolehkan pulang setelah selama seminggu ini ia mengajukan protes dan keluhannya terhadap dokter yang menanganinya. Bahkan ia tak segan-segan mengancam pimpinan rumah sakit.Apa yang terjadi? Kenapa Reinhard melakukannya?Jawabannya sangat sederhana. Reinhard sudah tidak betah berada di rumah sakit itu.Seperti yang diputuskannya dua minggu lalu, ia dan Alicia akhirnya berbagi kamar rawat bersama agar bisa menjalani masa pemulihan bersama.Akan tetapi, Alicia sudah diperbolehkan keluar dari rumah sakit minggu lalu karena kondisinya sudah lebih membaik. Meski demikian, ia tetap diwajibkan menjalani bedrest di rumah hingga benar-benar pulih sepenuhnya.Karena itulah, Reinhard merasa sangat kesepian berada di dalam kamar rawat itu sekarang. Ia berulang kali mengajukan permohonan untuk pulang, tetapi ditolak karena luka-lukanya masih memerlukan perawatan intensif.Hari ini, setelah berbagai protes dan ancama
“Apa yang kamu lamunkan, hum?” Reinhard mengetuk pelan kening Alicia, mengalihkan kembali perhatian wanita itu padanya.Alicia tersentak kecil. Ia menggeleng cepat, lalu memasang senyum lebar seolah tidak ada apa-apa.Reinhard menghela napas pelan. “Aku tahu … meskipun kamu tahu kamu hamil sekalipun, pasti kamu tetap akan mengikutiku, bukan?” terkanya, mengira Alicia masih memikirkan tentang hal yang terjadi sebelumnya.Alicia terkekeh kecil. “Kamu sangat mengenalku dengan baik, Suamiku,” ucapnya, tidak menyangkal sedikit pun tuduhan Reinhard.Saat itu, Alicia memang tidak berpikir panjang. Satu-satunya hal yang dipedulikannya hanyalah keselamatan pria itu.Reinhard mendesah berat, tetapi ada kehangatan dalam sorot matanya. “Sayang, kamu tahu kan kalau aku mencintaimu?”Alicia mengangguk.“Mulai sekarang ada nyawa lain yang harus kamu jaga. Tapi, di atas semua itu, kamu yang menjadi prioritasku. Karena itu, jangan pernah berbuat nekat seperti tadi lagi dan jangan pernah berpikir untuk
“Ah, ya ampun. Turunkan aku, Xavier. Aku pusing,” seru Alicia histeris.Reinhard segera menghentikan putarannya dan menurunkan Alicia dengan hati-hati di atas ranjang. Wajahnya menyiratkan kekhawatiran yang mendalam.“Maafkan aku, Sayang. Aku sampai lupa diri karena terlalu bahagia mendengar kabar ini,” ucap Reinhard seraya menangkup wajah Alicia dengan kedua tangannya, menatapnya seolah-olah wanita itu adalah seluruh dunianya.“Tidak apa-apa. Aku hanya sedikit pusing saja,” timpal Alicia berusaha menunjukkan senyuman meyakinkan, meskipun kepalanya masih sedikit berdenyut.“Kamu yakin?” Reinhard menatapnya lekat-lekat, seolah mencari tanda-tanda ketidaknyamanan yang mungkin disembunyikan Alicia. “Mau aku panggilkan dokter saja?”Alicia tertawa kecil, menggeleng pelan. “Aku baik-baik saja, Xavier. Serius. Jangan berlebihan.”Reinhard mendesah lega, tetapi tidak sepenuhnya puas. Ia duduk di tepi ranjang, menggenggam tangan Alicia dengan lembut.Raut wajah Reinhard berubah sendu dan dipen
Selang beberapa waktu, ciuman mereka semakin dalam, membuat Alicia cukup kewalahan untuk mengikuti liarnya gairah yang diberikan Reinhard melalui ciuman tersebut.“Ummph─”Deru napas Alicia terasa semakin pendek. Ia pun bergegas melepaskan tautan bibir mereka lebih dulu agar bisa menghirup udara secepatnya. Tanpa sengaja ia mendorong dada Reinhard terlalu kuat hingga pria itu meringis perih karena luka di bahunya terasa kembali berdenyut.Mata Alicia pun membelalak panik. “Ah, astaga!”Alicia pun bergegas memeriksa luka pria itu, membuka beberapa kancing baju pasien yang dikenakan Reinhard. Melihat bercak darah yang merembes pada perban di bahu pria itu, rasa bersalah pun menggelayuti hati Alicia. Ia menggigit bibir bawahnya dan menatap Reinhard dengan sorot mata berkaca-kaca.“Maafkan aku … aku─”Sebelum Alicia sempat menyelesaikan ucapannya, Reinhard telah menarik lengannya dan membawanya jatuh ke dalam pelukannya lagi.“Xavier ….” Alicia mengerjap dengan bingung. Ia berniat mendoron
Alicia masih terdiam. Ia berusaha mencerna ucapan yang dilontarkan Reinhard. Kata-kata itu meskipun terdengar sederhana, tetapi entah kenapa Alicia merasa tidak asing seakan menyiratkan sesuatu seperti penolakan.Tiba-tiba hati Alicia terasa teremas. Ia diingatkan kembali dengan kenangan menyakitkan yang dialaminya dulu terkait dengan sikap dingin Reinhard di masa lalu.Cairan bening telah menggenang di pelupuk mata Alicia membuat Reinhard tersentak. “A-Alicia, kamu … kenapa?” tanyanya, panik.Namun, wanita itu tidak menjawab dan malah balik bertanya dengan suara bergetar yang terdengar seperti bisikan yang rapuh, “Tadi kamu bilang ... tidak ingin aku mengejarmu lagi? Maksudmu ... kamu ingin berpisah denganku?”Reinhard menatap wanita itu dengan penuh kebingungan. Namun, seulas senyuman merekah di bibirnya setelah mencerna prasangka buruk yang dilontarkan wanita itu atas ucapannya tadi.Dengan penuh kelembutan, Reinhard mengusap air mata yang hampir tumpah di sudut mata wanita itu. “D
“Memangnya ada hal yang tidak kuketahui?” Regis menyeringai kecil, nada angkuhnya begitu kentara.Reinhard hanya mendesah, menatap pria itu dengan tatapan lelah. "Tentu saja. Tuan Muda Lorenzo selalu tahu segalanya."Regis tertawa pelan, lalu mulai berbicara tanpa niat memancing pertengkaran. Ia pun menceritakan mengenai hal yang didengarnya dua hari lalu—tentang insiden yang menimpa Alicia sebelum mengalami kecelakaan tiga tahun lalu. Cerita yang secara tak sengaja Regis dengar ketika Alicia menceritakannya kepada ayah mereka.Reinhard terdiam mendengarkan cerita tersebut. Amarah di dalam dadanya mulai membara seiring dengan setiap kata yang keluar dari mulut Regis. Rahangnya mengeras, sementara tangan terkepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih.“Jadi … tiga tahun lalu, kecelakaan itu memang bukan hanya sekadar kecelakaan?” gumam Reinhard berbisik pelan seiring dengan getaran emosi yang dirasakannya.Sebelumnya Reinhard memang telah mendengar pengakuan dari Edwin Stein mengenai p
Reinhard telah sampai di depan pintu kamar Alicia. Koridor di depan ruangan itu sangat sepi. Sebelum masuk, ia menoleh sejenak ke arah Hans yang menemaninya hingga ke tempat itu.“Cukup antar sampai di sini saja. Saya bisa sendiri, Tuan Miller,” ucap Reinhard dengan tegas.Meskipun Hans merasa ragu dan khawatir, tetapi ia tidak dapat menolak permintaan Reinhard. Akhirnya, dengan sedikit bimbang, Hans menundukkan kepalanya dan beranjak pergi, meninggalkan Reinhard sendirian di depan pintu.Setelah Hans pergi, Reinhard pun menggeser pintu di depannya, lalu memutar kursi rodanya masuk ke dalam ruangan itu. Di tengah keheningan itu, hanya terdengar suara roda yang berputar dengan deru napas yang teratur saja.Ia berhenti sejenak. Dari balik tirai tipis yang mengelilingi ranjang, ia bisa melihat sosok Alicia yang terlelap. Dengan pelan, Reinhard berdiri dari kursinya, berjalan mendekat agar bisa melihat wajah istrinya lebih jelas di tengah penerangan temaram dalam ruangan itu.Namun, langk
“Mau ke mana?”Nada suara Reagan yang datar dan tajam, memecahkan keheningan yang terjadi di antara dirinya dan Reinhard. Mata ambernya menilik sikap putranya yang dipenuhi kewaspadaan padanya.Perlahan sudut bibirnya membentuk lengkungan tipis, mencairkan ketegangan di antara mereka. “Mencari Alicia?” tanyanya lebih lanjut.Reinhard mengangguk cepat. “Aku ingin memastikan keadaannya,” jawabnya.Melihat raut wajah putranya yang pucat, Reagan pun tersenyum mencibir, “Aku rasa dibandingkan dia, kondisimu jauh lebih mengkhawatirkan, Rein.”Sejenak, ruangan kembali menjadi sunyi. Nada suara Reagan yang terdengar tajam tersebut membuat Reinhard berpikir ayahnya itu akan menghalangi keinginannya seperti yang biasa dia lakukan.Akan tetapi, Reinhard tidak menyangka sang ayah malah berkata, “Pergilah. Tapi, perhatikan juga kondisimu. Jangan terlalu memaksakan diri.”Mata Reinhard terbelalak, tak percaya dengan pendengarannya tersebut. “Papa ….”“Kenapa? Tidak jadi?” Reagan menaikkan satu ali