Di depan gedung Nexus, para wartawan berkerumun, berebut mengajukan pertanyaan kepada setiap karyawan yang melintas.Kamera dan mikrofon diarahkan tanpa henti, sementara petugas keamanan berusaha keras menjaga ketertiban agar kondisi menjadi lebih kondusif. Situasi ini telah berlangsung selama dua hari dan sangat mengganggu operasional perusahaan.Di dalam gedung, ketegangan tidak kalah terasa. Karyawan berbisik-bisik, membahas berita yang menyebar di berbagai media. Telepon di meja direksi berdering tanpa henti, menuntut kejelasan situasi yang terjadi.Reinhard sendiri berdiri di depan jendela ruangannya, menatap ke luar dengan ekspresi dingin. Ia sudah memperkirakan bahwa situasi ini akan meledak ke publik, tetapi tidak menyangka akan secepat ini.Pintu ruangannya terbuka, Owen masuk dengan membawa berkas laporan terbaru.“Tuan Muda, para media itu ternyata sudah disuap sebelumnya untuk memperburuk situasi. Sekarang para Dewan Direksi Hernandez Group juga mulai mempertanyakan stabil
“Kamu berhasil menangkap Brandon Evans?” Reinhard menatap Ethan dengan penuh selidik.Ethan mengangguk mantap. “Dia benar-benar ular tua yang licik. Ternyata dia sudah berencana kabur pagi ini. Telat selangkah saja, rencana kita akan kacau semua.”Sudah dua minggu ini Ethan menjalin kedekatan dengan Brandon Evans untuk mendapatkan bukti keterkaitan Brandon dengan Vega Tech. Namun, Brandon tidak semudah itu mempercayainya.Walaupun Ethan sudah berpura-pura berada di pihaknya, tetapi Brandon tetap saja berhati-hati dan enggan membuka mulut. Beruntung, pagi ini Ethan berhasil menjebaknya sebelum pria itu sempat menghilang.“Di mana dia?” tanya Owen.“Tenang saja. Dia sudah diamankan. Tidak akan ada yang bisa menemukan ataupun menyelamatkannya,” jawab Ethan seraya menepuk dadanya sendiri dengan bangga.Owen terkekeh geli dan menggelengkan kepalanya.Reinhard menyandarkan tubuhnya di kursi, menatap Ethan dengan sorot tajam.Ethan mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan rekaman suara. "Ta
“Sejak kapan kamu jadi pintar seperti ini, Pak Tua?” cibir Jason seraya memainkan tangkai gelas wine-nya.Ken berdecih kesal di ujung teleponnya. “Anggap saja aku tidak mengatakan apa pun tadi,” gerutunya dan berniat mengakhiri telepon tersebut.Namun, Jason dengan cepat menghentikannya dan berkata, “Jangan begitu. Terima kasih telah mengundangku ke acaramu. Aku pasti akan hadir.”Ken tidak menjawab. Ia hanya mendengus kasar, lalu menutup panggilan telepon tersebut.Jason pun terkekeh pelan dengan perubahan sikap Ken. Ia meletakkan ponselnya di meja, lalu tersenyum miring. “Ck, benar-benar tak bisa diajak bercanda.”Alih-alih kesal, Jason justru menyandarkan tubuhnya, memutar gelas minumannya dengan santai. Pandangannya tertuju pada majalah bisnis di atas meja. Senyum di wajahnya tidak luntur sedikit pun, justru semakin mengembang.“Jadi begini rasanya menikmati detik-detik kehancuran seseorang, ya, Reagan?” cibirnya seraya menyesap minumannya.Setelah menghabiskan minumannya, Jason p
Di sebuah ruangan interogasi di gedung penyidik, Reinhard yang dikabarkan sedang menjalani interogasi, malah terlihat sangat santai menikmati secangkir kopi hangat yang disuguhkan untuknya.Tidak ada sedikit pun ketegangan ataupun rasa frustrasi yang tergores di wajahnya, jauh dari kesan seorang tersangka yang tengah diperiksa ketat.Di seberangnya, seorang pria paruh baya berseragam resmi duduk dengan tenang dan penuh wibawa. Sorot matanya tajam, penuh analisis, tetapi bibirnya melengkung, membentuk senyuman tipis.“Kamu benar-benar menganggap tempat ini seperti rumahmu, hm?” cibir pria berseragam itu.Reinhard tersenyum. Sembari meletakkan cangkir kopinya, ia berkata, “Tenang saja. Aku akan membayar mahal kopi ini, Paman Steven. Apa kamu tidak percaya padaku?”Pria berseragam yang memiliki pangkat tertinggi di kota tersebut tertawa kecil. “Kalau orang-orang di luar sana melihatmu seperti ini, sepertinya mereka yang menanti kejatuhanmu pasti akan sangat kecewa.”Reinhard berpura-pura
Reinhard berjalan keluar dari gedung penyidik melalui pintu belakang gedung untuk menghindari kamera wartawan yang sejak tadi menunggunya di depan gedung.Demi mengantisipasi pengejaran para awak media tersebut, ia juga mengganti pakaiannya dengan setelan kasual dan topi yang telah dipersiapkannya sejak awal. Sebuah mobil telah menantinya di belakang gedung tersebut.Di saat yang hampir bersamaan, Alicia baru saja turun dari mobilnya dan tanpa sengaja melihat sosok pria yang baru saja memasuki mobil tersebut. Kedua alisnya bertaut saat mengenali wajah yang sudah lama dirindukannya.“Xavier?” gumamnya dengan penuh keceriaan.Refleks, ia melangkah lebih dekat untuk memastikan penglihatannya, tetapi mobil itu sudah lebih dulu melaju pergi.“Mau ke mana dia? Bukannya seharusnya dia ….”Melihat Reinhard pergi dengan terburu-buru, Alicia merasa ada sesuatu yang terjadi. Namun, ia menggelengkan kepalanya dengan kuat, mengesampingkan kecurigaannya terlebih dahulu. Tanpa mengulur waktu, ia kem
“Mark,” suara Alicia melembut. “Anggap aku memohon padamu. Kamu boleh melaporkanku pada kakak atau ayahku. Tapi, biarkan aku pergi.” Mark menghela napas frustrasi. “Nona─” “Aku mohon, Mark. Aku tidak bisa diam saja melihatnya menerobos bahaya sendiri,” pinta Alicia sekali lagi. Mark terdiam. Ia bisa merasakan ketulusan dan tekad besar dari nona mudanya. Seraya mengembuskan napasnya dengan kasar, ia bergumam pasrah, “Anda benar-benar tidak berubah. Masih saja menjadi nona yang keras kepala.” “Mark─” “Baiklah. Anda boleh pergi, tapi bersama kami,” potong Mark. Senyum lega merekah di wajah Alicia. “Terima kasih, Mark,” cicitnya dengan rasa haru. “Tapi, berjanjilah … kita harus melihat situasi dulu dan Anda jangan bertindak sendiri,” ucap Mark mengingatkan. Alicia mengangguk cepat. Mark menatapnya sejenak. Seketika hatinya dipenuhi keraguan yang sangat besar akan respon yang diberikan nona mudanya itu. Namun, ia tidak memiliki pilihan lain saat ini. Lagipula Regis telah
Di dalam vila, suasana terasa mencekam.Alexei berdiri tegak, matanya menatap tajam ke arah pria yang duduk dengan santai di sofa berlapis kulit. Aroma kayu tua bercampur asap cerutu mengisi udara, menambah kesan suram ruangan dengan pencahayaan temaram itu.“Mau sampai kapan kamu diam, Ken?” Suara Alexei menggema dan penuh amarah. “Di mana putraku?!”Sejak memasuki ruangan ini, Ken Stewart tidak menggubrisnya, seolah Alexei hanyalah seonggok patung tak bernilai. Baru ketika Alexei kehilangan kesabaran, pria itu mengangkat satu alisnya dan menyeringai sinis.“Ya ampun,” ujarnya dengan nada mengejek. “Ternyata hanya segini kesabaranmu, Alexei. Padahal dulu, aku ingat kamu pernah mendiamkanku sehari penuh hanya karena kesalahan kecil.”“Kenapa? Kamu tidak ingat?” cibir Ken saat melihat Alexei yang tidak merespon ucapannya. “Ternyata otakmu sekecil otak udang. Cepat sekali melupakan masa-masa indah kita.”“Ken!” Alexei mengepalkan tangannya dengan erat. Sindiran halus itu cukup untuk mem
Ken mendengus. “Kamu pikir kamu masih punya hak untuk bernegosiasi denganku, huh?”Alexei tidak menjawab. Ia hanya memberikan tatapan tajam kepada Ken.Namun, pada akhirnya Ken pun menyalakan layar monitor di dalam ruangan itu dan memperlihatkan situasi di ruangan penyekapan Nicholas.Alexei tercengang. Hampir saja ia tidak mengenal sosok putranya tersebut. Kondisi Nicholas yang terikat di sebuah kursi terlihat sangat mengenaskan, pucat dan sangat kurus seperti seseorang yang kekurangan gizi dalam waktu yang lama.Mata cekungnya tampak kosong, tulang pipinya menonjol, dan luka-luka menghiasi kulitnya—beberapa masih segar, sementara yang lain belum sepenuhnya mengering.“Air … berikan aku air ….”Hati Alexei terasa teremas mendengar permintaan putranya yang lemah dan nyaris tak terdengar tersebut. Rasa sakit di tubuhnya bukan lagi masalah, karena pemandangan di hadapannya jauh lebih
Reinhard terlihat kesal. Sebenarnya ia ingin sekali turun tangan sendiri untuk menangani Ken. Akan tetapi, karena ia harus menjalani pemulihan di rumah sakit, Reinhard meminta para bawahan Dark Wolf untuk menggantikannya memberikan pelajaran kepada pria itu.Dalam kondisi terluka parah dan faktor usia yang tak lagi muda, Ken meregang nyawa lebih cepat setelah mengalami berbagai penyiksaan yang diperintahkan Reinhard.Meskipun menyesal tidak dapat menanganinya sendiri, tetapi Reinhard merasakan kelegaan yang luar biasa dengan kematian pria itu. Satu ancaman bagi Alicia telah lenyap, dan Reinhard bisa memenuhi janjinya kepada Regis.“Kamu sudah mengirimkan hasilnya kepada Regis?” tanya Reinhard.Ia memang meminta Austin menyelesaikan tugas itu sebagai bagian dari syarat yang diberikan Regis. Untuk memastikan mayat itu benar-benar Ken Stewart, Reinhard sengaja meminta otopsi. Ia tidak ingin tertipu seperti Alexei dulu, yang sempat terkecoh oleh kematian palsu Ken.“Tenanglah. Aku sudah m
Dua minggu sudah Reinhard dirawat di rumah sakit. Hari ini akhirnya ia sudah diperbolehkan pulang setelah selama seminggu ini ia mengajukan protes dan keluhannya terhadap dokter yang menanganinya. Bahkan ia tak segan-segan mengancam pimpinan rumah sakit.Apa yang terjadi? Kenapa Reinhard melakukannya?Jawabannya sangat sederhana. Reinhard sudah tidak betah berada di rumah sakit itu.Seperti yang diputuskannya dua minggu lalu, ia dan Alicia akhirnya berbagi kamar rawat bersama agar bisa menjalani masa pemulihan bersama.Akan tetapi, Alicia sudah diperbolehkan keluar dari rumah sakit minggu lalu karena kondisinya sudah lebih membaik. Meski demikian, ia tetap diwajibkan menjalani bedrest di rumah hingga benar-benar pulih sepenuhnya.Karena itulah, Reinhard merasa sangat kesepian berada di dalam kamar rawat itu sekarang. Ia berulang kali mengajukan permohonan untuk pulang, tetapi ditolak karena luka-lukanya masih memerlukan perawatan intensif.Hari ini, setelah berbagai protes dan ancama
“Apa yang kamu lamunkan, hum?” Reinhard mengetuk pelan kening Alicia, mengalihkan kembali perhatian wanita itu padanya.Alicia tersentak kecil. Ia menggeleng cepat, lalu memasang senyum lebar seolah tidak ada apa-apa.Reinhard menghela napas pelan. “Aku tahu … meskipun kamu tahu kamu hamil sekalipun, pasti kamu tetap akan mengikutiku, bukan?” terkanya, mengira Alicia masih memikirkan tentang hal yang terjadi sebelumnya.Alicia terkekeh kecil. “Kamu sangat mengenalku dengan baik, Suamiku,” ucapnya, tidak menyangkal sedikit pun tuduhan Reinhard.Saat itu, Alicia memang tidak berpikir panjang. Satu-satunya hal yang dipedulikannya hanyalah keselamatan pria itu.Reinhard mendesah berat, tetapi ada kehangatan dalam sorot matanya. “Sayang, kamu tahu kan kalau aku mencintaimu?”Alicia mengangguk.“Mulai sekarang ada nyawa lain yang harus kamu jaga. Tapi, di atas semua itu, kamu yang menjadi prioritasku. Karena itu, jangan pernah berbuat nekat seperti tadi lagi dan jangan pernah berpikir untuk
“Ah, ya ampun. Turunkan aku, Xavier. Aku pusing,” seru Alicia histeris.Reinhard segera menghentikan putarannya dan menurunkan Alicia dengan hati-hati di atas ranjang. Wajahnya menyiratkan kekhawatiran yang mendalam.“Maafkan aku, Sayang. Aku sampai lupa diri karena terlalu bahagia mendengar kabar ini,” ucap Reinhard seraya menangkup wajah Alicia dengan kedua tangannya, menatapnya seolah-olah wanita itu adalah seluruh dunianya.“Tidak apa-apa. Aku hanya sedikit pusing saja,” timpal Alicia berusaha menunjukkan senyuman meyakinkan, meskipun kepalanya masih sedikit berdenyut.“Kamu yakin?” Reinhard menatapnya lekat-lekat, seolah mencari tanda-tanda ketidaknyamanan yang mungkin disembunyikan Alicia. “Mau aku panggilkan dokter saja?”Alicia tertawa kecil, menggeleng pelan. “Aku baik-baik saja, Xavier. Serius. Jangan berlebihan.”Reinhard mendesah lega, tetapi tidak sepenuhnya puas. Ia duduk di tepi ranjang, menggenggam tangan Alicia dengan lembut.Raut wajah Reinhard berubah sendu dan dipen
Selang beberapa waktu, ciuman mereka semakin dalam, membuat Alicia cukup kewalahan untuk mengikuti liarnya gairah yang diberikan Reinhard melalui ciuman tersebut.“Ummph─”Deru napas Alicia terasa semakin pendek. Ia pun bergegas melepaskan tautan bibir mereka lebih dulu agar bisa menghirup udara secepatnya. Tanpa sengaja ia mendorong dada Reinhard terlalu kuat hingga pria itu meringis perih karena luka di bahunya terasa kembali berdenyut.Mata Alicia pun membelalak panik. “Ah, astaga!”Alicia pun bergegas memeriksa luka pria itu, membuka beberapa kancing baju pasien yang dikenakan Reinhard. Melihat bercak darah yang merembes pada perban di bahu pria itu, rasa bersalah pun menggelayuti hati Alicia. Ia menggigit bibir bawahnya dan menatap Reinhard dengan sorot mata berkaca-kaca.“Maafkan aku … aku─”Sebelum Alicia sempat menyelesaikan ucapannya, Reinhard telah menarik lengannya dan membawanya jatuh ke dalam pelukannya lagi.“Xavier ….” Alicia mengerjap dengan bingung. Ia berniat mendoron
Alicia masih terdiam. Ia berusaha mencerna ucapan yang dilontarkan Reinhard. Kata-kata itu meskipun terdengar sederhana, tetapi entah kenapa Alicia merasa tidak asing seakan menyiratkan sesuatu seperti penolakan.Tiba-tiba hati Alicia terasa teremas. Ia diingatkan kembali dengan kenangan menyakitkan yang dialaminya dulu terkait dengan sikap dingin Reinhard di masa lalu.Cairan bening telah menggenang di pelupuk mata Alicia membuat Reinhard tersentak. “A-Alicia, kamu … kenapa?” tanyanya, panik.Namun, wanita itu tidak menjawab dan malah balik bertanya dengan suara bergetar yang terdengar seperti bisikan yang rapuh, “Tadi kamu bilang ... tidak ingin aku mengejarmu lagi? Maksudmu ... kamu ingin berpisah denganku?”Reinhard menatap wanita itu dengan penuh kebingungan. Namun, seulas senyuman merekah di bibirnya setelah mencerna prasangka buruk yang dilontarkan wanita itu atas ucapannya tadi.Dengan penuh kelembutan, Reinhard mengusap air mata yang hampir tumpah di sudut mata wanita itu. “D
“Memangnya ada hal yang tidak kuketahui?” Regis menyeringai kecil, nada angkuhnya begitu kentara.Reinhard hanya mendesah, menatap pria itu dengan tatapan lelah. "Tentu saja. Tuan Muda Lorenzo selalu tahu segalanya."Regis tertawa pelan, lalu mulai berbicara tanpa niat memancing pertengkaran. Ia pun menceritakan mengenai hal yang didengarnya dua hari lalu—tentang insiden yang menimpa Alicia sebelum mengalami kecelakaan tiga tahun lalu. Cerita yang secara tak sengaja Regis dengar ketika Alicia menceritakannya kepada ayah mereka.Reinhard terdiam mendengarkan cerita tersebut. Amarah di dalam dadanya mulai membara seiring dengan setiap kata yang keluar dari mulut Regis. Rahangnya mengeras, sementara tangan terkepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih.“Jadi … tiga tahun lalu, kecelakaan itu memang bukan hanya sekadar kecelakaan?” gumam Reinhard berbisik pelan seiring dengan getaran emosi yang dirasakannya.Sebelumnya Reinhard memang telah mendengar pengakuan dari Edwin Stein mengenai p
Reinhard telah sampai di depan pintu kamar Alicia. Koridor di depan ruangan itu sangat sepi. Sebelum masuk, ia menoleh sejenak ke arah Hans yang menemaninya hingga ke tempat itu.“Cukup antar sampai di sini saja. Saya bisa sendiri, Tuan Miller,” ucap Reinhard dengan tegas.Meskipun Hans merasa ragu dan khawatir, tetapi ia tidak dapat menolak permintaan Reinhard. Akhirnya, dengan sedikit bimbang, Hans menundukkan kepalanya dan beranjak pergi, meninggalkan Reinhard sendirian di depan pintu.Setelah Hans pergi, Reinhard pun menggeser pintu di depannya, lalu memutar kursi rodanya masuk ke dalam ruangan itu. Di tengah keheningan itu, hanya terdengar suara roda yang berputar dengan deru napas yang teratur saja.Ia berhenti sejenak. Dari balik tirai tipis yang mengelilingi ranjang, ia bisa melihat sosok Alicia yang terlelap. Dengan pelan, Reinhard berdiri dari kursinya, berjalan mendekat agar bisa melihat wajah istrinya lebih jelas di tengah penerangan temaram dalam ruangan itu.Namun, langk
“Mau ke mana?”Nada suara Reagan yang datar dan tajam, memecahkan keheningan yang terjadi di antara dirinya dan Reinhard. Mata ambernya menilik sikap putranya yang dipenuhi kewaspadaan padanya.Perlahan sudut bibirnya membentuk lengkungan tipis, mencairkan ketegangan di antara mereka. “Mencari Alicia?” tanyanya lebih lanjut.Reinhard mengangguk cepat. “Aku ingin memastikan keadaannya,” jawabnya.Melihat raut wajah putranya yang pucat, Reagan pun tersenyum mencibir, “Aku rasa dibandingkan dia, kondisimu jauh lebih mengkhawatirkan, Rein.”Sejenak, ruangan kembali menjadi sunyi. Nada suara Reagan yang terdengar tajam tersebut membuat Reinhard berpikir ayahnya itu akan menghalangi keinginannya seperti yang biasa dia lakukan.Akan tetapi, Reinhard tidak menyangka sang ayah malah berkata, “Pergilah. Tapi, perhatikan juga kondisimu. Jangan terlalu memaksakan diri.”Mata Reinhard terbelalak, tak percaya dengan pendengarannya tersebut. “Papa ….”“Kenapa? Tidak jadi?” Reagan menaikkan satu ali